
Adzan subuh berkumandang, Almira bangun dari tidurnya, Ia melihat wajah Mas Azzam di samping nya, rasanya bahagia sekali bisa menatap wajah orang yang kita cintai setiap pagi.
Cup...
Almira mengecup pipi Mas Azzam, tapi Mas Azzam tak bergeming juga.
Cup...
Almira mengecup hidung Mas Azzam, tapi tetap tak bergerak.
Almira gemas, akhirnya mengecup bibir Mas Azzam.
Reihan tersenyum,Almira melihat Reihan tersenyum.
"Ih nakal"
Reihan tertawa, Andai saja badan nya tidak pegal-pegal, rasanya ingin menerkam Almira saat itu juga.
"Sayang, pijit dong"
"Hah,pijit?"
"Iya badan Mas pegal semua"
"Iya nanti ya setelah sholat subuh, yuk wudlu dulu Mas"
Reihan Berjalan ke kamar mandi dengan menahan rasa pegal di badan nya.
Mereka melaksanakan sholat subuh berjamaah di kamar.
Setelah selesai, Reihan meminta Almira memijat punggungnya.
"Mas, Ayo rebahan, nanti Mira pijat"
"Ada minyak urut tidak sayang"
"Tidak ada Mas"
"Terus mau pijat pakai minyak apa?"
"Pakai Minyak telon,Mira juga pakai ini setelah mandi, Wangi tau Mas, sedap gitu"
Reihan tertawa, "Sayang kamu sudah dewasa, masa masih pakai minyak bayi"
"Tapi Mira suka, baunya enak"
"Ya sudah pakai itu juga tidak apa-apa"
Almira mulai memijat Reihan.
"Mas badan mu keras sekali"
"Ya Masa lentur, nanti di kira eyke cowo apaan"
Almira tertawa mendengar Reihan yang berbicara seolah-olah seperti waria.
Almira kembali memijat Reihan dengan minyak telon nya.
Setelah memijat Almira membuatkan teh manis dan membawakan obat pegal-pegal untuk Reihan.
"Eh anak Mama sudah bangun" Ucap Mama.
"Sudah dari tadi Ma, Mas Azzam badan nya pegal-pegal jadi tapi pijitin Mas Azzam dulu"
"Pijit plus-plus dek" Celetuk Alisha.
"Ya ini plus teh Manis Kak" Ucap Almira.
Alisha tertawa.
Saat Almira membawakan teh manis nya ke kamar, Reihan malah ingin ke luar kamar, ia ingin duduk di taman depan rumah, menghirup udara segar, jika di kamar terus akan semakin bertambah sakit.
"Temani Mas di taman depan ya"
"Iya, Mira juga mau memberi makan ikan di kolam depan"
Mereka menuju taman depan, Reihan meminum teh manis hangatnya, Almira memberi makan ikan.
Matahari mulai terus naik, sudah banyak warga yang berlalu lalang, ada yang berangkat sekolah, berangkat kerja, dan banyak aktifitas lainnya lagi.
__ADS_1
"Pisang...pisang"
Seorang kakek-kakek menjual pisang terdengar suara nya dari gerbang.
"Mas Mira mau beli pisang dulu yah, Mira mau buat pisang krispi tabur cream coklat"
Reihan mengangguk, "Mas Ambil uang dulu ke kamar yah"
Almira mengangguk, lalu berjalan ke arah depan.
"Mbah...tumbas"
Kakek itu berhenti, lalu mendekat ke Almira.
"Mbah aku mau pisang kepok ini"
Reihan menghampiri Almira. Ia begitu kasihan melihat seorang Kakek Kakek yang masih harus bekerja keras di usia senja.
Almira sedang memilah milih pisang kepok.
Reihan membisikan sesuatu pada Almira.
"Kamu ingin mendapat pahala jika membeli pisang itu Humairah?"
Almira mengangguk, "Jangan menawar yah, lihat Kakek itu kasihan harus bekerja keras di usia senja, pasti untung dagangan nya juga tidak seberapa, kita tolong dengan niatkan bersedekah"
Almira tersenyum, lalu mengangguk.
Si Kakek benar-benar merasa senang karena di berikan uang lebih juga dari Reihan.
Si Kakek mendoakan kebahagiaan rumah tangga Almira dan Reihan.
Almira begitu senang di doakan kakek itu.
Setelah itu mereka kembali ke taman.
"Aku bahagia sekali Mas membuat Kakek itu senang"
"Ya hakekat kebahagiaan yang sebenarnya ya saat kita bisa membahagiakan orang lain Humaira"
"Mas tapi kenapa tadi Mira tidak boleh menawar?"
Kita tahu, bahwa tawar menawar diperbolehkan, lalu saat kita melihat nenek-nenek, kakek-kakek, ataupun adik-adik yang menjual barang dagangannya dibawah terik matahari atau ditengah gelapnya malam, sempoyongan tidak laku-laku, atau kita melihat tetangga kita yang kurang mampu menawarkan barang dagangannya, lalu kita ingin menolong mereka dengan tidak menawar harga yang mereka minta, karena rasa iba yang ada dalam hati kita, maka niatan itu adalah niatan yang terpuji. Dan akan mendapatkan pahala dariAllah subhanahu wata’ala, karena setiap masing-masing amalan tergantung pada niatnya. Dan mungkin bisa dicatat sebagaisedekah karena niatan tersebut.
Apalagi jika berniat untuk membahagiakan orang-orang tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَأَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ
“(termasuk) Amalan yang paling dicintai Allah adalah kebahagiaan yang engkau masukan kedalam hati saudaramu”
(HR. At-Thabaroni dalam Mu’jam Al-Kabir no 13.646, dan dishahihkan oleh Al-Albanirahimahullah)
Ketika kita membeli barang dagangan tetangga kita mereka akan bahagia karenanya.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ
“amalan itu tergantung pada niatnya”
(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Sehingga jika memang niatnya adalah menolong, bersedekah, membahagiakan para pedangan kecil maka ia telah mendapatkan pahala niatnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
وَاللهُ فِي عَوْنِ الْعَبْدِ مَا كَانَ الْعَبْدُ فِي عَوْنِ أَخِيهِ
“dan Allah akan menolong seorang hamba, selama ia masih mau menolong saudaranya”
(HR. Muslim no. 2699)
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda tetang macam-macam cara untuk bersedekah:
كُلُّ سُلَامَى مِنَ النَّاسِ عَلَيْهِ صَدَقَةٌ، كُلَّ يَوْمٍ تَطْلُعُ فِيهِ الشَّمْسُ، تَعْدِلُ بَيْنَ الِاثْنَيْنِ صَدَقَةٌ، وَتُعِينُ الرَّجُلَ فِي دَابَّتِهِ فَتَحْمِلُهُ عَلَيْهَا، أَوْ تَرْفَعُ لَهُ عَلَيْهَا مَتَاعَهُ صَدَقَةٌ، وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ، وَكُلُّ خُطْوَةٍ تَمْشِيهَا إِلَى الصَّلَاةِ صَدَقَةٌ، وَتُمِيطُ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ صَدَقَةٌ
“setiap kali pagi menyingsing, ada kewajiban sedekah atas setiap persendian. Mendamaikan dua orang yang berselisih merupakan sedekah, menolong orang untuk menaiki kendaraan merupakan sedekah, mengangkatkan barang ke kendaraan mereka juga merupakan sedekah, berucap yang baik juga merupakan sedekah, setiap langkah menuju shalat juga merupakan sedekah, bahkan menyingkirkan gangguan di jalan juga merupakan sedekah”
(HR. Al-Bukahri dan Muslim, dan ini adalah lafaldz Imam Muslim no. 1009)
Dan bersedekah tidak terbatas pada itu semua, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam juga pernah bersabda:
__ADS_1
لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوفِ شَيْئًا، وَلَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ
“Jangan pernah sekalipun, engkau menyepelekan suatu kebaikan, walaupun hanya dengan bertemu saudara mu dengan wajah yang berseri-seri”
(HR. Muslim no. 2626)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda:
تَبَسُّمُكَ فِي وَجْهِ أَخِيكَ لَكَ صَدَقَةٌ
“Senyummu di wajah saudaramu merupakan sedekah untuk mu”
(HR. At-Tirmidzi no. 1956, dishahihkan Al-Albani)
Dan setiap maksud kita, selama itu adalah kebaikan yang diakui syariat, maka Allah akan membalasnya.
Jika maksud kita ingin bersedekah, ingin menolong, ingin membahagiakan mereka dengan membeli barang dagangannya, maka kita juga akan mendapatkan pahala niatan tersebut.
Seorang yang membeli barang dagangan orang lain, dalam rangka ingin menolong mereka, ingin bersedekah kepada mereka, ingin membahagiakan mereka, maka Allah akan mencatat niatnya tersebut.
Dan barang siapa menawar dengan bijak, mencari harga termurah, untuk menghindari sifat boros, maka Allah juga akan mencatat niat tersebut, sebagai amal shalih.
Sehingga kita perlu untuk memasang niat dalam setiap amalan kita, agar memperoleh pahala dari Allah, baik saat kita menawar, ataupun saat kita tidak menawar.
"Hey kalian berdua sedang membicarakan apa," Tanya Alisha dan Hafiz ikut duduk bersama Almira dan Reihan.
"Sedang membahas pisang" Ucap Almira.
"Hah...pisang? kalian ini masih pagi sudah membahas pisang"
"Memang nya kenapa kak?"
"Ya nanti kalau malam saja"
"Kenapa harus malam Kak, aku beli pisangnya juga sekarang"
Alisha tertawa saat Almira menunjukan pisang yang Mira beli.
"Oh, Kakak kira pisang yang lain"
"Kalian berdua ini, selalu mengarah kesana" Ucap Reihan.
"Ya lah, kita kan sudah ya sayang" Ledek Hafiz.
"Nanti aku juga pasti gol, lihat saja nanti" Ucap Reihan.
"Kalian sedang membahas bola?" Tanya Almira.
Reihan mengangguk " Iya, Mas dan Hafiz suka bola"
Alisha kembali tertawa, "Ah sudah, Aku dah Mas Hafiz akan merencanakan bulan madu ke Eropa, kalian mau kemana?"
"Aku tidak mau jauh-jauh, aku mau ke pulau Maldives nya Indonesia saja" Ucap Almira.
"Dimana?"
"Di Gorontalo, di pulau cinta"
"Kenapa tidak ke Maldives nya saja sekalian Mir, uang Reihan banyak dan pastinya mampu" Ucap Alisha.
Reihan hanya terdiam ingin melihat jawaban istri kecilnya itu.
"Ah tidak, uang nya biar di tabung saja ya Mas, nanti kita bisa keliling Surabaya, cari kakek-kakek yang seperti tadi itu, uang nya bisa untuk mereka" Ucap Almira dengan polosnya.
"Kamu ke Maldives juga uang Reihan masih banyak Dek, tenang saja"
"Tidak, Aku maunya ke pulau cinta, itu cita-cita aku dulu dan teman-teman, tapi karena aku sudah menikah, jadi sama Mas Azzam saja"
Reihan tersenyum dan mengangguk.
"Oke, bisa kita ke gorontalo"
"Benarkah Mas?"
Reihan mengangguk.
Almira begitu kegirangan karena akan di ajak Reihan ke gorontalo.
Kamu semakin membuatku jatuh cinta Humiarahku, dengan hal sederhana saja mampu membuatmu bahagia, Batin Reihan.
__ADS_1