Barbar Generation

Barbar Generation
Chapter 101


__ADS_3

Arsen bangun lebih awal dari yang lain.


Mereka tidur disalah satu rumah sewa yang ada didekat villa. Kamarnya cukup luas jadi mereka tidur dalam satu kamar itu terkecuali para wanita.


Wanita berada dikamar yang lain.


Setelah minum air putih segelas, Arsen pergi ke kamar mandi. Ia mencuci muka, sikat gigi dan sekalian ganti baju. Niatnya mau joging didaerah situ.


Arsen keluar dari kamar.


"Mau kemanaa?"


"Joging. Ikut ngga, Cill?"


Asya menggeleng, "masih ngantukkk."


"Terus, ngapain bangun?"


"Ausss. Tiatii, byee!" Asya berjalan ke kamarnya.


"Yaudahh, jangan bangun kelamaan." Asya berdehem.


"Cewek sekitaran sini pasti cakep cakepp, ahh auto semangatt."


Asya yang mendengarnya langsung berbalik dan menatap sinis Arsen.


Arsen tau itu, "kenapaa?"


"Gak!" Asya masuk dan menutup pintu lumayan keras.


Arsen tertawa kecil melihatnya, "gemoiii bangett kalau ngamukk."


Arsen berjalan keluar rumah kemudian memakai sepatu di salah satu kursi. Tiba tiba ada yang datang dan melempar sepatunya. Oknumnya adalah, nona muda Kusuma.


"Astaghfirullahalazim, Cill. Ngapainn dilemparrr?"


"Gapapaaa." Asya masuk lagi ke villa, Arsen hanya bisa mengelus dada melihat ulah Asya.


Arsen mengambil sepatunya tadi dan duduk di tempatnya semula. Asya datang kembali, menarik tali sepatu yang baru Arsen ikat.


"Ya Allah. Sayang kenapa sii?" Asya tidak menjawab, dia beranjak pergi.


Arsen menahan tangannya. "Kenapa? Ada apaa? Bilang dulu baru pergii."


"Gak. Lepasinnn, aku ngantukk!" Arsen melepasnya, Asya pun pergi.


Melihat Asya sempoyongan, Arsen melepas sepatu dan kembali masuk sembari mengikuti Asya. Asya tidur disofa ruang keluarga.


Arsen pergi ke kamar pria untuk mengambil selimut, lalu mendekati Asya yang tidur. Usai menyelimuti Asya, Arsen mengangkat kepala Asya agar tidur dipahanya.


Asya terbangun.


"Katanya mau joging. Mau liat cewek cewekk, ngapain disini?!"


Arsen tertawa, "cemburuu gitu ceritanya?" Tanya Arsen sambil mengusap pipi Asya.


"Ngga sii, b ajaa."


"Nggi sii, b ijii. Boong mulu kerjaaann kamuu."


"Bodoamat, aku ngantuk!" Asya kembali memejamkan mata.


Arsen sendiri menatapnya dengan senyuman yang merekah. Saat ini ketakutan terbesar baginya adalah kehilangan Asya.


"Senn—"


"Sst!!" Haikal mengintip.


"Tidur?" Arsen mengangguk, tanpa menjawab lagi Haikal pergi ke dapur.


"Kok tidur disinii??" Tanya Haikal berbisik, ia sudah kembali dari dapur.


"Karena gak dikamarr."


"Taiii, lu mau kemana? Joging ga si?"


"Tadinya mau gituu, tapi gak jadii."


"Why?"


"Kepo lu. Dah diem!"


"Sianjyngg. Dasar bucin!"


"Yailahh, kagak mirror lu setan? Apakah pegangan tangann berjam-jam selama acara itu tidak bucin?!"


"Lu liat njirr?"


"Lu kate gue buta? Ya kagakk! Gue liat lu pegangaaaann mulu sama Ara, makan pun masih pegangan." Haikal terdiam, ia kalah berdebat.


Benar yang dikatakan Arsen, sepanjang acara tadi malam Haikal terus menggenggam tangan Ara. Semenit pun Haikal tidak ingin melepasnya.


"Pak Caka gak liat, kann?"


"Mana gue tau, tapi agaknya nggak sii."


"Yang bener ngapa sihh ahh!!"


"Dih anjirrr bangett."


"Wehh, apeni ribot ribot?!"


"Sssttt!"


Arsen dan Haikal kompak menyuruh Shaka diam. Shaka menatap mereka heran.


Haikal mengode kalau Asya sedang tidur, Shaka berohria.


"Kenapa tidur disinii?"


"Gak tau nohh, tanya bucinnya."


Shaka menatap Arsen.


"Panjang ceritanya, dari a ke b otewe ke x balik ke f."


"Suka ati kau lah, Sen!" Arsen cengengesan.


Shaka menghidupkan televisi, "nonton animee kuy. Mau kagak?" Tanya Shaka.


"Pake wifi lu, yaa?" Shaka mengangguk.


"Anime apaa?" Dino datang bersama dengan Alvin dan Azril.


"Tokyo Revengers?"


"Deall!"


"Pelanin suaranya ngapesiikk! Kebangun ntar ni anak."


Dino dan Alvin auto mingkem.


Shaka mulai menyetelnya di televisi. Mereka nonton bersama.


Mereka itu bisa diajak nonton apa ajaa. Nonton drakor? Mauu. Nonton dracin? Mauu. Nonton film barat? Mauu. Nonton anime pun juga mau.


Selagi yang ditonton seru dan gak ngebosenin, mereka bakal nonton. Tapi mereka gak fanatik, hanya sekedar menonton untuk mengisi waktu luang.


"Ehh, ada yang liat Asya nggak?"


"Ini, tidurrr."


"Sianjirrr, dicariin malah enak tidur disinii!"


"Emang lu pada nyariin kemana?"


"Udah ke kamar mandii, ke halaman belakang jugaa. Taunya disinii." Jawab Aryuna Keiji.


"Kenapa gak nanya kemaarii?"


"Kan berusaha nyari dulu baru nanya."


"Yaudah, yainn."


Ara melempar Dino bantal sofa.


"Lu pada nonton apaan?" Tanya Naina.


"Animee."


Naina menoleh ke televisi.


"Aaaa, Mikeyyy!"


"Lu tauuu?"


"Gue udah nonton sii."


"Lu wibu?"


"Kagak setan! Baru anime ini yang gue tonton." Mereka berohria.


"Ini yang namanya Mikey, Nai?" Tanya Ara, Naina mengangguk.


"Gantengg woilahhh!"


"Emang iyaa."


"Anjirrr anjirr, gue kalah sama yang dua dimensi." Keluh Azril, mereka tertawa.


"Makanya gantengg begooo!"


"Kurang ganteng apalagi guee? Udah ganteng gue mah."


"Njayyy, kepedean."


Azril pasang muka songongnya.


"Jadi pengen nampar."


Azril menatap sinis Alvin.


"Fucek u!" Mereka tertawa lagi.


Setelah beberapa menit menonton, akhirnya mereka berhenti karena bersambung.


"Btw, tumben Asya gak bangun-bangun. Padahal kita berisik banget tadii, biasanya telinga dia sensitif denger apa apa langsung bangun."


"Kecapekan diaa, makanya pules bangettt." Azril yang menjawab.


"Jelasslah kecapekan, pake high heels kemana-mana."


"Lu liatin serius amat, Sa. Liatin apa?" Tanya Haikal.


"Nggak, cuma mastiin Asya nafas apa nggak."


"Alhamdulillah-nya masih nafass."


"Nyaman pula dia tidur dipaha Arsen. Kagak pegel lu?" Shaka keheranan.


Arsen menjawab dengan gelengan kepala, "b ajaa."


"Bucin to the bone ya gitu."


Arsen tertawa.


"Kucing Asya mana?" Tanya Ara.


"Itu dikandangnya." Ara menghampiri dan mengeluarkan kucing itu dari kandangnya.


"Cute bangett kiww."


Disaat mereka asik mengobrol, bicarain hal hal random. Asya terbangun.


"Kok bangunn?" Tanya Arsen, ketika terbangun mata Arsen memang menatap Asya.


"Laperrr."


◕◕◕


Tok tok!


"Permisi, boss."


"Masuk."


"Bos Aska panggil saya kan tadi?" Aska mengangguk.


"Udah sarapan?"


"Udah, boss. Tadi pagi nyonya boss nganterin makanan." Aska berohria.

__ADS_1


"Kenapa manggil saya, boss?"


"Saya cuma mau tanya, ada hal aneh gak selama pesta kemaren?" Tanya Aska.


"Ada beberapa kali boss."


"Ceritain."


"Kemaren ada yang mau masuk, tapi gak punya undangannya. Dia terus nyolot pengen masukk sampe ngancem yang nggak nggakk."


"Teruss? Jadinya masuk?" Tanya Zia gantian.


"Nggak, nyonya bos. Dia gak jadi masuk karena ada Arsen yang gantian ngancemm."


"Kenapa gak kalian yang ngancem?


"Maaf, boss. Kami bingung mau ngancem apa." Aska dan Zia mengangguk paham.


"Abistu? Apalagii?"


"Waktu diarea kolamm yang deket sama nona Asyaa, ada cewek pake baju serba item sama masker gitu, boss."


Aska berfikir, "bisa jadi yang di eksekusi Asya kemaren. Terusss gimana?"


"Karena tim Asz BG liat dia mencurigakan, dia ditarik paksa keluar dari sana."


"Ada lagii, boss."


"Apa itu?" Tanya Aska.


"Perawakannya mirip sama musuh yang di Jepang. Dia gak masuk ataupun berontak masukk, tapi dia natap dari jauhh gituu."


"Siapa yang ditatap?" Zia penasaran.


"Nona Asya."


"Fu*kk. Dia ngincer anak anak teruss!" Umpat Aska.


"Asya kudu pergi dari sini gak sih, ayy? Gak Asya ajaa tapi semua anak anakk." Kata Zia.


"Ya kali kita usir merekaa? Kalau mereka masih mau disini gimana?"


"Yaudah tanyain aja duluu maunya gimanaa." Aska mengangguk setuju.


"Ketua tim, makasih jawabannya. Tim a bakal gantian jaga, jadi kalian bisa istirahat. Saya sama istri mau nyusul anak anakk, suruh beberapa bodyguard di tim a ngikutin."


"Siap, boss!"


Aska dan Zia masuk kamar untuk bersiap-siap. Setelahnya mereka keluar dari sana, keduanya masuk ke mobil lalu pergi menuju rumah sewa Asya dan yang lain.


Hanya beberapa menit, mereka pun tiba.


"Assalamu'alaikum, anak anakk."


"Wa'alaikumsalam om, tantee." "Wa'alaikumsalam mommy, daddy.


"Udah sarapan?"


"Udah, tantee. Barusan selesai," Ara mewakili.


Tok tok!!


"Haii gaiseuuu."


"Astaghfirullahalazim, anak ilang darimana inii?!"


"Om Rafael kok gantengg?" Tanya Azril.


"Kalau cantik itu guee." Kei yang menjawabnya.


"Kok pede bangettt." Ledek Rafael.


"Kan betul, paaa."


"Iyaa betulll. Siapa dulu yang buatt."


"Padahal muka lu pas pasan, Rap. Keijiii cantik karena Keiko."


"Oas— astaghfirullahalazim." Mereka tertawa melihat Rafael.


"Lu ngapain kesini?"


"Tadi joging, terus liat lu kemari ngintil dongg." Jawab Rafael dengan bangganya.


"Keii, ini bapak lu kan yaa? Agak gimana gituu," ledek Asya.


"Emang agak gimana gitu, kakk. Untung mak gue sabar," balas Kei santai.


"Anak siapa sih dia?"


"Anak lu begooo!"


"Oiyaa." Rafael cengengesan.


"Btw, lu ngapain disini?" Rafael menatap Aska dan Zia.


"Gapapaa, liatin anak anak aja."


"Kalian kapan mau pulang?" Tanya Aska to the point.


"Belum mau pulang sih, om. Masih pengen banget disini. Kenapaa, om?" Tanya Alvin gantian.


"Yaa, gapapaa, om nanya ajaa."


"Daddy mommy kapan pulangnya?" Azril gantian tanya.


"Belum tau jugaa."


"Usir suruh cepat pulang, Zril, Syaa. Kalau nggak, nanti kalian dikasih adekk." Rafael langsung pergi setelah berkata seperti itu.


"RAPP, GUA POTONG GAJI LU!"


"Potong dua rebu. Makasi sama samaaaa!"


Mereka tertawa melihat keduanya.


Memang tidak pernah akur kalau Aska bertemu dengan Rafael.


"Kalian masih mau nginep, kann?"


Mereka mengangguk, "emang lu kagak, Sen?"


"Kagakk. Gue ada urusan, kudu balik duluan. Gapapa kan, yaa?"


"Bentar lagi."


"Gue ikuttttt!" Asya spontan berdiri.


Arsen menatapnya heran, "ngapain ikutt? Nggak mau liburan?"


"Nggak. Mau ikut luu!"


"Tapi–"


"Boleh kan, mommy? Daddy?"


Aska dan Zia saling tatap lalu kembali menoleh kearah Asya. "Bolehh, tapi sama Arsen terus jangan kemana-mana."


"Sama Arsen, jangan nyusahin. Jangan ngeribetin." Dilanjut Zia.


"Yeshh, bolehh!" Asya masuk ke kamarnya membereskan koper.


Yaa! Asya membawa koper karena ia beserta keluarga nginep lebih awal.


"Semangat banget tu anak. Macem ada yang aneh pulaa." Ujar Haikal terheran-heran.


"Kan sama pawangnyaa."


"Oiyaa pulakk."


"Selain Arsen Asya? Ada lagi yang mau pulang?" The Bacot Squad menggeleng.


"Yaudahh, ntar om suruh bodyguard buat antar makanan untuk cemilan."


"Makasih, omm." Kata mereka bersamaan, Aska menanggapinya dengan senyuman.


"Ayokk!" Asya keluar.


Arsen tersenyum sumringah melihat Asya begitu bersemangat.


"Ngapa semangat bangett?" Tanya Zia meledek.


"Gapapa, momm."


"Kenapa mau ikut Arsen?" Aska ikutan bertanya.


"Eneg liat muka mereka, dadd."


"Fuckkk!"


"Asya kamprett!"


"Njalok di smekdon opo pie ni bocah?!"


Asya terkekeh, "selo seloo. Mukanya gak nyantuuyy."


"Emang mau berangkat sekarang? Kenapa udah siap-siapp?"


Asya menatap Arsen.


Arsen melihat jam ditangannya.


"Iya, sekarang, om." Arsen mendekati Aska dan Zia untuk bersalaman, Asya pun melakukan hal yang sama.


"Hati hati, Senn. Kalau yang lainnya belum pada pulang, bawa aja ke apart kamuu. Tapi ingett, jangan diapa-apainnn."


"Tenang aja, omm. Mana berani Arsen ngapa ngapain Asyaa. Kalaupun nanti Asya nginep, Arsen suruh pembantu buat nginep."


Aska tersenyum, "mantap."


"Yaudah kalau gitu. Arsen sama Asya duluan yaa, om, tantee." Aska dan Zia mengangguk.


"Gue duluann." Arsen mengangkat tangan sejenak lalu menggeret koper Asya.


"Gue duluann. Jangan kangennn!" Asya melambaikan tangan sambil kisss bye.


"Geliii. Siapa mau kangen sama dia?"


"Jancooooooo!" Mereka terkekeh.


"Bye."


"Nunaaaa, jangan pergiiii!"


"Alay begooo!"


"Ehhh, jagain kucing gueee. Kalau sampe bulunya rontok sehelai ajaa, gue rontokin balik bulu yang ngerontokin!"


"Anjirrr, bulu apa yang bakal lu rontokin?" Tanya Alvin.


"Cabut cabutt sana, Sya! Cabutt!" Asya terkekeh melihatnya.


"Nama kucing dia siapa si sebenernya?"


"Arrrsyaaa!!"


◕◕◕


12.07, apartemen Arsen.


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


"Welcome to my apartment."


"Wauuwww, mayan gede yaa. Padahal lu sendiri," Arsen tertawa mendengarnya.


"Kalau kecil aku nya pusing, bingung mau apa apa sempit." Asya berohria.


"Koper kamu disini ya, sayaangg." Asya yang berada didapur mengangguk.


"Kok ada susuuu?"


"Tadii udah nyuruh bibi buat belii."


"Teruss, bibinya manaa?"


"Yang nyamperin kita tadikan bibii, Cill. Dia pulang bentarr mau ngambil anaknyaa yang dititipinn." Asya berohria lagi.


Ia mengambil satu susu dan meminumnya. "Minum tu dudukkk." Omel Arsen sambil menghampiri Asya. Asya langsung duduk dimeja.

__ADS_1


"Dikursi, cantikk. Kenapa dimejaa?" Asya cengengesan.


"Kamu mau kemana sii? Urusan apaan?"


"Ada salah satu calon karyawan yang mau presentasi tentang game yang mau dirilisnya."


"Kenapa hari mingguu?" Tanya Asya heran.


"Jadwalnya masuk minggu."


"Apa-apaan?! Masa iyaa bos nyuruhh masuk karyawannya hari mingguu?!"


"Sabtu minggu emang spesialis karyawan magangg, Cill. Mereka kerja cuma sabtu minggu. Biar keterima, dibuat beberapa tim. Dan per-timnya harus buat satu game yang menarik." Asya mengangguk paham.


"Presentasinya gak bisa senin?"


"Nggakk, ntar bentrokk."


"Jadi kamu mau ke kantor?" Arsen mengangguk.


"Mau ikut?"


"Disana aku ngapainn?"


"Dagang cendol aja, Cill." Asya menatap sinis Arsen.


"Yaa ngapain kekk. Ikut diskusi juga bisaa, kan kamu calon pewaris HzIn."


"Iyasii, tapi maless ish."


"Teruss, mau ikut stau diapartemen aja?"


"Eummm, ikuttt."


"Katanya maless."


"Daripada gabutt. Siapa tau bisa dagang cendol," Arsen tertawa mendengarnya.


"Mau sirup gak kamu?"


"Mau mau mauu."


"Kalau ess cepet banget, ya?" Asya cengengesan. Arsen membuat sirup marjan untuknya dan Asya.


Sirup marjan tidak diendorse _~


"Nahh." Asya menerimanya dengan senyuman yang merekah.


"Maaciiii."


Arsen tersenyum sambil mengacak pucuk rambut Asya.


Ia duduk disebelah Asya dan meminum sirupnya.


"Kok gak manis sih minumnya??"


"Oiya lupaa, gulanya di kamuu."


"YEKK, MODUSS!" Arsen terkekeh.


Drrttt... Drttt...


Arsen meraih ponselnya di saku.


"Siapa??"


"Papa."


...Papaa...


^^^"Assalamu'alaikum, pa, kenapa?"^^^


📞 "Arsen, ke RS sekarang!!!"


^^^"Hah?"^^^


📞 "Bunda mu melahirkann."


^^^"Hahh?? Oke okeee, Arsen kesanaaa."^^^


📞 "Iyaaa. Alamatnya papa sharelock."


^^^"Alex udah dikasih tau, pa??"^^^


📞 "Udah, dia lagi di jalan pulang."


^^^"Oke okee, Arsen kesana sekarang."^^^


Pak Andre mematikan panggilan.


"Whyy??"


"Bunda lahiran."


"Awww, yang punya adekk."


Arsen senyum-senyum.


"Kenapa senyum senyum gitu??"


"Bayangin kamu yang lahirin anak kita."


Asya terkekeh. "Aku mo siap siapp, mau ikut ketemu dedee bayii." Asya masuk ke kamar yang ditunjuk Arsen tadi.


Beberapa menit setelah bersiap, Asya mengintip Arsen yang sedang masak didapur. Bajunya sudah berganti.


"Ceennn." Arsen menoleh kebelakang.


"Mau minjemm jaket denim, bolehh?"


Arsen tersenyum sumringah melihat Asya sekarang. "Pake aja kalau mauu. Kamu sekalian mandi tadi?"


Asya pun keluar kamar, "iyaa."


"Cakepp bangettt cewekk guaa."


"Lebayy!" Ledek Asya sambil tertawa.


"Tapi beneran cantik mbaknyaa." Puji pembantu Arsen, Asya jadi malu-malu. "Xixii, makasi biii."


"Kamu masak apa?" Tanya Asya.


"Nggak adaa, cuma buat roti tawar goreng dicampur keju mozarella. Mauu?" Asya mengangguk.


Arsen menyuapi satu roti untuk Asya, Asya mengambilnya lalu memakannya sendiri.


"Enakk?" Asya mengangguk.


"The bestt, pak cheff!"


"Sa aee. Udahh kan? Ayok ke RS." Arsen menggenggam satu tangan Asya.


"Pergi dulu, bi. Jaga apartemen." Bibi itu mengangguk, Asya dan Arsen pun pergi.


"Kamu gak jadi ke kantor dong ini??" Arsen menggeleng.


"Besok ajaa."


"Tapi katanya bentrokk."


"Ntar bisa diaturr." Asya berohria.


"Ehh, tadi Pak Andre nyuruh cepet gak sii?" Tanya Asya, mereka sudah didalam mobil.


"Iyaa, nyuruh cepet. Haruss cepet pokoknya. Tapi aku bodoamatt."


"Lahh?"


"Ada Alex. Lagipula yang lahiran mamanya dia."


"Dihhh, dasarr perhitungan!!"


Arsen cengengesan.


"Kalau ditanya telat jawabnya mah gampang, nungguin Asya pa kelamaan."


Plak!


"Aduduuhh.." Arsen meringis sambil tertawa.


"Nggak nggakk, ntar aku bilang kita telat karena mandi dulu, kan baru nyampe tadi."


◕◕◕


"Papa suruh cepet kenapa baru datanggg?!" Tanya Pak Andre kesal begitu melihat Arsen dan Asya tiba.


Arsen nyengir tanpa rasa bersalah, "tadi Arsen baru nyampeee jadi mandi dulu."


"Alesan itu, pa. Pasti mejeng dulu dia."


"Diam kau!" Alex terkekeh.


"Debaynya manaa?"


"Masih dibersihin sama suster." Arsen berohria.


Beberapa menit kemudian, bayi nya datang. Pak Andre mengadzaninya terlebih dahulu.


"Cewekkan, bunda?" Arsen memastikan, mama Alex mengangguk sambil tersenyum.


"Aaa, gemoii bangettt." Asya gemas ketika melihat bayinya sudah berada di samping mama Alex.


"Iyalah gemoyy, abangnya aja gemoyy." Ujar Alex bangga.


"Lu gemoy? Dihh, pede bangett."


"Syirik luuu?!"


"Najiss. Lebih gemoy gue."


"Mendadak mau muntah gue dengernya." Cibir Alex.


"Padahal daritadi gue yang mau muntah liat lu."


"Ahiss, bisa diem gasiii?!"


Keduanya auto mingkem mendengar Asya mengomel.


"Auto mingkem yaaa." Ledek Pak Andre sambil tertawa kecil.


"Nanti singa ngamok, beserak ini kamar, paa." Alex yang menjawabnya.


"Gue tendang sampe Amsterdam lu, Lex!" Alex nyengir tanpa rasa bersalah.


"Btww, namanya siapa, tantee?" Tanya Asya.


"Tanya papanya," jawab Mama Alex sambil menoleh Pak Andre.


"Asyila Harisson."


"Kenapa Asy?"


"Biar sama gemoii kek kakak iparnyaa, Asya."


"Sa ae, Pak Andre."


"Cieee malu-malu." Goda Arsen, Asya cengengesan.


"Ehh iya, kalian udah makan belum? Tadi baru nyampe, kann?" Tanya Mama Alex.


"Udah sarapan tadi, Ma."


"Sarapann kan pagiii, ini jamnya makan siang. Makan deh sana, nanti sakit pula telat makan." Omel Pak Andre.


"Iya iyaa. Bawel banget papa!"


Asya menyentil bibir Arsen, "enteng bangett bibirnya ngomong begituu!" Arsen nyengir.


"Minta diruqyah emang."


"Diem lu bacott!"


"Astaghfirullahalazim~"


"Yaudahh, karena Arsen eneg liat Alex. Arsen sama Asya pergi dulu, nanti balik lagi. Assalamu'alaikum," Arsen menarik Asya pergi.


Asya membungkuk sebentar lalu pergi dengan senyuman.


"Bisa bisanya Asya mau sama tu anak ajaib, bagus sama gue."


"Pede bangett. Muka pas pasan jugaa!"

__ADS_1


"Mama kokk jujur bangettt??"


__ADS_2