
"Aaahhh.. gue dimana??"
"Hah? Kamarrr?"
Asya bangun dari tidurnya lalu pergi mandi. Setelah itu ia memakai hoodie dan celana jeans. Asya keluar kamar.
"Enakk?"
"Ehh, daddy udah pulang. Enak apanyaa??" Ia masih belum sadar tentang kelakuannya kemarin.
"Enak mabuk mabukannya?" Asya terhenti.
"Asya mabuk?"
"Isyi mibik? Ya mabuklah, masa enggak!" Jawab Zia sinis.
Asya menelan ludah mendengarnya. Ia mengedarkan pandangan, di dapur ada bapak JL dan yang lainnya sedang sarapan.
Melihat Asya sudah bangun, mereka yang sudah selesai makan kembali menuju ruang keluarga.
"Ngapain kalian betiga mabuk mabukan semalam?" Tanya Aska sinis juga.
"Gak sengajaaa, Uncle." Racksa mewakili.
"Iyaa, gak sengaja. Kami kira bukan alkoholl, kami cicip abistu keterusan minum itu. Teruss gak lama kemudian, Asya datang langsung serobot minumnyaa. Dia juga keterusan minumm," Azril menambahi jawaban Racksa.
"Abistuu, dihabiskan sampe sebotol? Katanya cuma nyicipp." Ujar Alvin.
"Kann dah dibilang keterusan minumm." Jawab Racksa.
"Kamu kenapa datang tiba-tiba nyerobot minum?" Tanya Aska kearah Asya.
"Em.. hauss, daddyy. Asya juga gak tau kalau itu alkoholl."
Aska dan Zia menghela nafas.
"Baru hari raya ketigaa, udah yang nggak nggakk aja kelakuan kalian."
"Dapat dari manaa itu alkoholnya?"
"Laci dapur dekat tteobokki."
"HAHH?"
Mereka terkejut melihat Aska terkejut.
"Kenapa, Om?" Tanya Arsen.
"Itu bukan punya omm."
Racksa, Asya, Azril menegang.
"Emang punya siapa, Om?" Tanya Haikal.
"Punya rekan bisnis om. Dia kemarin nitipp ke omm."
"Kamu sihh! Kan udah aku bilang kemaren jangan taro disituuu." Aska berusaha tenang.
"Beli lagi aja daddyyy." Suruh Asya sambil cengengesan.
"Itu bukan dari Indonesia, Asyaa."
"Jadi darimana, Om?" Tanya Shaka.
"Jepang. Itu Sake, alkohol Jepang."
Mereka terdiam, larut dalam pikiran masing-masing.
Tiba-tiba Asya menjentikkan jarinya.
"Dari Jepang kan, Daddy? Gimana kalau kami aja yang belii, kami ke Jepang sekalian liburann."
"Nahhh, ide baguss!" Sahut Azril.
"Yakin kalian mau ke Jepang?"
"Whyy.. not?"
Aska menatap teman-teman Asya.
"Daripada ntarr om yang dimusuhin karena gak tepat janjii, baguss kami aja yang pergi, Om." Bujuk Alvin.
"Iya, Om. Benerr tuhh. Kan bisa sekalian liburan ke Jepang. Masuk kuliah masih lama kok, Om." Dino menyahuti.
"Kalian punya pasport?" Tanya Aska.
"Punya, Om."
"Yuna? Ara?" Mereka berdua mengangguk.
Aska menggaruk kepalanya, "kalian izin dulu ke ortu. Jangan bohong tujuannya kemana, katakan aja yang sejujurnya. Kalau boleh bilang ke om, biar om yang buat visa kalian."
"Okeee, Omm!" Mereka bersemangat, masing-masing mengambil ponselnya.
"Izin langsung jangan dari telepon."
Mereka memasukkan kembali ponselnya ke saku lalu menghampiri Aska untuk bersalaman. Setelah salaman dan salam tempel mereka pulang ke rumah untuk izin.
"Ehh tunggu. Izin lisan dan tertulis, yaa!"
"Jadi, nanti kalian buat surat izin tulis tangan beserta tanda tangan orang tua dan tangan tangan kalian."
"Pake materai juga, Om?" Tanya Dino.
"Kalau bisa pakee."
"Mengadi-ngadi bapak inii! Gak usah, gak usah pake materai segalaa. Tulis di kertas hvs, tanda tangan kalian sama ortu kalian udah. Kasih ntar ke om atau tante."
"Okee, Tantee. Kami pulang dulu, assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam." Mereka pun pulang bersamaan.
Dirumah utama tersisa Racksa, Asya, Azril, dan Arsen.
"Mommy.. daddy marah??" Tanya Asya ragu-ragu.
"Dibilang nggak marah ya marah, dibilang marah ya nggak marah."
"Agak memusingkan."
"Gak usah dipikirin. Besok besok jangan diulangi lagii!" Aska mengajak Zia pergi meninggalkan mereka.
"Agaknya daddy marahh." Ujar Azril.
"Bukan. Dari sepenglihatan guee, ada yang gak beres di Jepang. Makanya Om Aska agak susah ngasih izin."
"Bisa jadi sih, tadi Uncle Aska bilang rekan nya nitip berarti Uncle Aska abis kesana dan belii tu sake."
"Berarti daddy ke Jepang buat ngurusin suatu masalah gitu?"
"Yaaa, mungkin." Jawab Arsen.
"Heeemm~ gue mau cari anginn, bye!" Azril pergi begitu saja.
"Ikotttt."
"Sarapan lu sonooo, ngapa pulak ngintilin guee?!" Asya merengut, menatap kesal Azril yang tetap pergi sendirian.
"Gue mau luluran, jangan ganggu." Racksa masuk ke kamarnya.
Asya sendiri terlihat seperti orang cengo di ruang keluarga.
"Sarapan gih." Suruh Arsen lembut.
Asya hanya menatapnya sekilas lalu tidak memperdulikan Arsen. Arsen tersenyum meledek kemudian menarik tangan Asya menuju dapur.
"Mau gue masakin apaa?" Tanya Arsen sambil menjebak Asya dikursi.
"A-apaan sih?"
"Lu kan belum sarapan, gue bakal masakain. Lu mau makan apaa?"
Asya tidak menjawab, ia terus menatap Arsen yang juga menatapnya.
"Aku tau, aku ganteng. Liatin aku doang gak bakal kenyang, kamu mau makan apa biar aku masakin."
"Pedean dihh. Gak usahh, gue masak sendiri ajaa!" Asya mendorong Arsen untuk menjauh.
Asya mengambil telur lalu menyiapkan wajan.
"E-ehh, nona mudaa. Mau masak apa biar bude masakinn?"
"Nggak usah, Budee. Bude istirahat aja, masak telur doang Asya bisa kok."
"Ng-ngga papa nih?" Asya mengangguk sambil tersenyum.
"Kalau gitu bude tinggal, yaa." Asya membalas dengan senyuman, bude Jum—sang art—pergi meninggalkan Asya.
"Sama bude jawabnya lembut, giliran ke guee aja ketus bangett." Keluh Arsen, ia bersandar dimeja sembari menatap Asya yang memasak.
"Gak usahh sok kenal!" Arsen tertawa mendengarnya.
"Masihh ngambekk?"
"Ngambek apaann?! Dah gue bilang gak usah sok kenal!"
Arsen mengangguk paham dengan senyuman meledek. Ia membiarkan Asya selesai memasak.
Takutnya ntar ciprat-cipratan minyak kan romantis banget jadinya :v
Asya selesai memasak, ia mengambil nasi kemudian duduk dikursi yang jauh dari jangkauan Arsen.
Meskipun jauh, Arsen tetap menghampirinya.
"Gak usah liatin guee!"
"Emm, gimana yaa. Sayangg kalau cewek seimut lu dianggurinn, bagus gue liatin."
Asya menatapnya kesal lalu kembali makan.
"Karena ketemu gue dua kali sama cewek lain jadinya mabuk-mabukan, yaa?"
Uhuk uhuk!!
Asya keselek.
Arsen langsung mengisi gelas kosong dengan air putih kemudian memberikannya pada Asya.
"Pelan pelan makan tuu." Omel Arsen.
"Udahh pelann! Gara gara lu sihh, lu ngomong apa tadii? Hahaha jadi lu kira gue cemburu gitu?"
__ADS_1
"Nyatanya gitu."
"No, never!" Arsen tertawa meledek lagi.
"Mau tau gak ceweknya tu siapa?"
"Gakk!"
"Yakinn? Ntar nyeselll, ntar penasaraann."
"Gak peduliiii, kan gue gak kenal sama lu!"
"Auuuhhh, gemoyy banget sih luu!!" Arsen mencubit pipinya.
Asya yang kesal dengan Arsen menghempaskan tangannya.
"Don't touch mee!"
Arsen tertawa lagi.
"Itu client. Dua duanya client. Waktu itu di mall karena beliau minta ketemunya disana, katanya sekalian nemenin anaknya main. Tapi pas mau meeting, anaknya main berdua sama suaminya."
"Yang di taman? Itu juga client, lebih tepatnya orang yang cukup berpengaruh di AM. Beliau ngajak ketemu di taman karena lagi jogging soree."
"Masih cemburuu, gakk? Kurang penjelasannya?" Tanya Arsen menatap Asya.
"Gak ada cemburu di kamus guee!"
"Yaahaa, boong bangettt."
"Lagian lu tau dariman–"
"Tau darimana apanya? Lupa semalem mabuk bilang apaa?"
"Emang gue bilang apaaa?" Tanya Asya serius.
Takkk!
Arsen menyentil jidat Asya.
"Udah inget?"
"Inget kagaaa, sakit iya!!" Arsen tertawa kecil, ia terus memperhatikan Asya yang mengelus jidatnya.
"Sakit bangett?" Asya mengangguk pelan.
Arsen menghampirinya, ikut mengelus jidat Asya lalu mengecupnya secara tiba-tiba.
"Udah sembuh, kann?"
Disisi lain, Aska sedang memikirkan sesuatu di dalam pelukan sangat istri.
"Kamu kenapaa? Mikirin apa?" Tanya Zia.
Aska menghela nafas, "mikirin gimana caranya batalin mereka pergi ke Jepangg."
"Emang kenapaa? Mereka jarang liburan tauu."
"Iyaa jarangg. Kalau mau liburan ke tempat lain mah gak masalah, ay. Ini ke Jepang," protes Aska.
"Ada apa dengan Jepang?" Tanya Zia mendadak begoo.
"Sayangg, kan biang keroknya belum ketemuu. Dia masih jadi buronann kita disanaa. Aku takut anak anak diapa-apain."
"Gak boleh mikir yang nggak-nggakk! Kalau kamu ngomong gitu, sama aja kamu do'ain anak anak diapa-apain." Aska menghela nafas lagi.
"Yaudahh, besok gak usah pakein Kusuma di belakang nama anak anak biar aman. Teruss, bawain bodyguard yang banyak untuk mereka. Mereka jarang loh liburann, kalau sampe semua diizinin masa iya kamu batalinn?"
"Nahhh itu diaa, sekarang aku berharapnya mereka gak diizinin."
"Kalau mereka gak diizinin, titipan sake kamu gimana?"
"Urusan sake mah gampangg. Sekali jentikkan jari pun bisaa."
"Kamu kira, kamu jinn?"
"Bukan jin, tapi setan."
"Iyaaa setann, setan yang sering kesetanannn!"
◕◕◕
Di luar rumah, Azril benar-benar mencari udara segar. Ia berada di daerah yang lebat akan bunga dan pepohonan.
"Azrilll?"
Yang di panggil menoleh.
"Naina? Kok lu disinii?"
"Rumah nenek gue kan daerah sinii."
"Hm? Oiya, lupa guee."
"Lu sendiri ngapain disinii? Ada masalah?"
"Nggakk, gue cuma cari udara segar ajaa. Disini banyak pepohonan, banyak bungas, pasti udaranya enak. Dan ternyata beneran enakk." Naina berohria.
"Lu rapi banget, mau kemanaa?"
"Masa iya rapi bangett?"
"Iyaaa gitu, mau kemanaa?"
Azril menghadap Naina, "mau beli apa? Gue anterin mauu?"
"Eum.. bolehh."
"Tapi gue naik motorrr."
"Gapapaa. Naik apapun juga gak masalah kok, hehe." Azril tersenyum mendengarnya.
Ia mengambilkan helm cadangan lalu memberikannya pada Naina. Naina menerima helm itu kemudian memakainya. Azril yang sudah memakai helm, menunggu Naina naik.
"Pelan pelan, awas jatuh." Naina mengangguk, ia mulai menaiki motor.
"Udahh?"
"Iyaa, udahh."
"Bismillahirrahmanirrahim." Azril pun mulai berkendara.
Sepanjang jalan di penuhi keheningan, bicara diatas motor juga tidak akan nyambung nantinya.
Azril yang fokus jadi mendadak gak fokus setelah merasakan tangan Naina di pinggang.
Jujur, Azril sedang deg-degan sekarang.
'Zrill, ayo sadarrr! Dia punya cowok, milih masuk tengah bakal di tampol sama Ongkel Ze!' Azril bergelut dengan pikirannya.
Otaknya berkata begitu namun hatinya ingin mengejar cinta Naina. Bagaimana jadinya kalau tidak singkron begini??
"Azrilll!!"
"Ehh, iyaa??"
Azril meminggirkan motornya.
"Jadinya mau beli apaan??"
"Lahh, kan lu yang mau belii." Jawab Azril sambil menatap Naina.
"Iya yaa. Tapi gue bingung tauu mau beli apaaa." Keluh Naina.
Azril tidak menjawab, sedari tadi ia hanya menatap Naina yang berbicara. Tanpa sadar tangannya terulur untuk mengancing helm Naina, Naina tidak mengkancingkannya tadi.
"Untung gak terbang pala luu."
"Gue gak bisa ngancingnyaa tadii."
"Kenapa gak bilang? Kan ada guee." Naina cengengesan.
"Jadinya beli apaa?" Azril menoleh sekelilingnya, Naina pun melakukan hal yang sama.
"Haaa, ada amperaaa. Beli lauk disitu ajaa, ntar nasinya di rumahh."
"Eh tapii, ramee bangett." Keluh Naina lagi.
"Nenek lu udah laper banget??"
"Beliau udah makan nasi goreng tadi pagii, ini untuk makan siang."
"Lu nya udah makan?" Naina menggeleng sambil cengengesan.
"Yaudahh, kita makan dulu baru nanti bungkuss lagi buat makan siangg."
"Lu belum makann?"
Azril berfikir, ia melihat ke arah perut sixpack yang tertutup kaos.
'Laper kagak luuu? Muat lah yaaa sepiring nasi amperaa? Oke muatt.'
"Belum."
Naina berfikir sejenak.
"Nai??"
"Hah? Ehh? Ayokk."
"Lu mikir apaan?"
"Nggak, gapapa kokk."
'Keknya dia mikir harganya dehh. Roman romannya bakal di bayarin nihh.' Batin Azril lagi. Ia mulai menghidupkan motornya lalu menyebrang ke rumah makan ampera.
Mereka berdua turun.
Azril langsung membantu Naina membuka kancing helmnya.
"Yokk!" Mereka masuk bersamaan.
"Lu lauk apa?" Tanya Naina.
"Lu apa?" Tanya Azril gantian.
"Ayam.. bakarr, luu?"
"Ikan nila bakarr."
Naina pun memesannya. Setelah itu mereka pergi menuju salah satu meja yang disediakan.
__ADS_1
Melihat ada beberapa orang yang berjalan ke arah mereka, Azril menarik tangan Naina lalu memojokkannya agar tidak mereka senggol.
Naina yang di kepit Azril hanya menatap matanya.
"Huhh, untung gak kena. Ayok kesitu, disitu kosong." Azril menggenggam tangan Naina kemudian berjalan menuju tempat yang dikatakannya tadi.
"Rame banget, yaa?" Tanya Azril sambil membuka jaketnya.
"Hm? Iyaa."
"Lu mikirin apa dari tadi??"
"Nggak kokk, nggak adaa."
"Ketara bongaknya. Btw, lu kok sendirian tadi?? Cowok lu mana?"
Naina mengerutkan dahi, "cowok?"
"Yang sering sama lu."
Naina tertawa, "jadi lu ngira dia cowok gue?"
"Iyyyakann?"
"Big no, Azrill! Dia abang gue, abang kandung."
"Seriusss? Tapi keliatannya pacar luu!"
"Bukann, lu sih pergi duluan kemarinnn."
"Yaa kita ketemu berapa kali? Gue sering liat lu sama dia ya jadi gue kira tu orang pacar luu."
Naina tertawa mendengarnya.
"Itu abang gue, namanya Bang Nathaniel. Dia baru balik dari luar kota."
"Kerjaa?" Naina berdehem.
"Muda banget mukanyaa."
"Muka dia emang baby face bangett, gue aja iri kadang liat dia gak tua tuaa. Padahal umurnya sekarang dua puluh sembilan tahunnn, dah mau nikah jugaa."
"Wahhh, coba tanyain rahasianya apaa?"
"Kalau di tanya, jawabnya always karena air wudhu lahh. Gitu muluu," jawab Naina dengan nada kesal.
"Pasti dia merahasiakan rahasianya."
"Sepertinya begituu."
"Waktu itu gue denger dia manggil lu...."
"Hira?"
"Nah iya, Hira."
"Itu karena nama gue, Naina Syahira Almayra. Dia ambil bagian kedua, Hira."
"Ooo, gituuu. Gue kira panggilan sayangg."
"Bukann lahh, yakali Bang Nathan manggil panggilan sayangg. Lagi pula dia panggil gue Hira kalau di luar rumah doang."
"Kalau dalam rumah?"
"Paokerrrss." Azril tertawa ngakak.
"Kalau dia nyariin gue pasti manggilnya, oyy paook paokkerrrs paoookk. Gituuuu mulu sampe akhirnya gue muncul. Dan bodohnya, gue biasa aja dipanggil begitu."
"Bisa bisanyaaa. Terus lu manggil dia apa?"
"Predator gilaa. Dia tu pakboy kelas ikan teri, kalau nyelir ketahuan mulu."
"Tapi lu bilang mau nikah tadii."
"Ya karena udah tobat jadi predator makanya mo nikahh." Azril berohria.
"Lu tinggal cuma sama nenek?"
"Iyaa."
"Ortu.. ah gak gak usah dijawab."
"Gue tau lu penasaran." Azril menatap Naina.
"Gue anak brokenhome. Ortu gue masih hidup, mereka hidup di negara masing-masing."
"Maksud lu?"
"Papa dari China, mama asli Indonesia."
"Berarti lu..."
"Iyaa, blasteran."
"Nyokap lu asli Indonesia, berarti dia di Indonesia, kann?"
"Iyaa, tapi dia jauhh banget dari gue. Dia deketnya sama Bang Nathan."
"Why?"
"I don't know. Mungkin karena gue terlalu mirip sama papa makanya beliau gak suka. Tapi, walaupun dijauhin ginii mereka sering kasih biaya hidup kok."
"Syukurlah, setidaknya inget anak."
"Hhmm. Lu kenapa gak nanya cerai karena apa?"
"Karena gue tau itu privasi, hal yang seharusnya gak lu ceritain sama orang yang belum lu kenal deket. Kalau kita udah sah aja, baru lu cerita."
Naina tertawa mendengar kalimat terakhir Azril.
"Emang lu mau sama gue?"
"Kenapa nggak?"
"Mungkin lu bakal ilfeel kalau tau tentang gue."
"Coba ceritainn, biar gue tau tentang lu."
"Gantian, deal?"
"Deall." Tangan mereka bertautan.
"Ehh, makanannya masih lama datang?"
"Masih keknya, rame yang beli. Maklumin aja. Sambil nunggu mending lu ceritain tentang lu."
"Okee, guee Naina."
"Iyaa, gue tau lu Naina bukan Naila. Lanjut."
"Gue cewek."
"Yang bilang lu cowok siapaaa, maemunahh?!" Naina tertawa.
"Gue anak bungsu."
"Kita sama sama anak bungsu."
"Gue suka malu-maluin."
"Ya samaa, gue juga gitu."
"Eemm.. gue suka jajan jajanan yang kek inguss gitu." Azril tertawa mendengarnya.
"Jajan kek ingus apaaann?"
"Jellyyy. Kan kek inguss." Azril tertawa lagi, Naina pun ikut tertawa melihat Azril tertawa.
"Gue juga suka itu sihh. Lanjutt."
"Gue masih kekanak-kanakan."
"Gapapa, daripada masih bocil tapi sok dewasa."
"Gue tukang ngambekk!"
"Lu ngambek gue yang bujukinn."
"Gue bawell, gue cerewet!"
"Gue punya penangkalnya. Lanjutt."
"Yang terakhir dehh, gue yakin lu bakal ilfeel."
"Apa emang?" Tanya Azril serius.
"Gue jelek."
Azril mengerutkan dahinya.
"Kata siapa lu jelek?"
"Gue punya kaca di rumah, gedeee banget segede gaban. Jadi gue tau, gue jelek."
Azril tersenyum mendengarnya, "Naina. Lu tu cantik, cantik banget pula. Lu bukan cuma cantik di luar tapi juga di dalam. Gak usah insecure, okee?"
"Yaa tapii, nyatanya gue–"
"No noo, itu firasat lu doang! Itu pemikiran lu doang. Bagi gue lu cantik, bahkan sangatt sangat cantik."
Naina tersipu.
Makanan mereka datang.
"Makasih, Mbak." Ujar Azril, pelayan itu tersenyum laku pergi.
"Lu mau bikin gue ilfeel? Tapi sayangnya, gue gak bisa ilfeel, apalagi sama lu. Gue rasa lu yang bakal ilfeel sama gue."
Naina terus melihatnya, melihat Azril yang dengan santainya makan langsung dengan tangan tanpa bantuan sendok.
"Lu ilfeel?"
Naina menggeleng, "gue takjub. Ternyata adaa, cowok seganteng lu yang mau makan tanpa bantuan sendok."
"Jangan bikin gue salting. Mending lu makan sekarang." Naina juga mengikuti Azril, ia makan tanpa bantuan sendok.
"Gue pernah baca sesuatu di hapee." Azril menatapnya.
"Disitu tertulis kalauu sebenarnya seorang wanita itu akan cantik dimata orang yang tepat. Gue bertanya-tanya sekarang. Apakahh, lu orang yang tepat bagi gue?"
"Kenapa... lu tanya gitu??"
__ADS_1
"Karena gak ada satupun orang yang bilang gue cantik, selain lu."
"Gue yakin, mereka pasti katarak!"