
07.38
"Sampe sekarang, bapak gue belum balik. Nyari janda apa gimana ya?"
"Azril oon emang," Ia malah cengengesan.
"Gue penasaran inii tuu!! Om Aska kemana gak balik-balik??"
"Yang jelas bukan lagi open bo."
"Suka ati lu ah, Zril!"
Azril tertawa melihat ekspresi kesal temannya.
Mereka sudah sarapan dan sekarang sedang berkumpul di mini zoo. Tempat yang di request Asya dulu, yang ada ruangan game dan semacamnya, kini di sebut mini zoo.
Mereka lesehan di bawah pohon.
"Sya, lu kagak penasaran gitu?"
"Pou-in saja," jawab Asya santai.
Dirinya sedang tidur di paha Arsen.
"Pou terosss!"
"Semerdeka dia ajalah, dari pada ngamuk sendiri dia."
Senyap.
Tidak ada pembicaraan.
Mereka sibuk mengunyah cemilan.
"Gue laper lagi, nyari makanan yok!" Ajak Haikal.
"Mau makan apalagi? Jadi buncit mau lu?"
"Gue buncit lu suka nggak?"
"Ya nggak lah, yakali."
Haikal menatap kesal Ara lalu menggelitiki Ara.
"Hahaha geliii, Kall!!" Keluh Ara sambil tertawa.
Bukannya berhenti Haikal semakin menggelitiki Ara.
Tanpa sadar, Ara tertidur dan Haikal disampingnya terlihat sangat dekat, jaraknya juga lumayan dekat. Mereka berdua saling bertatapan.
"EKHM, keselek truk."
Haikal dan Ara tersadar dan kembali bangkit.
"Canggung yahaa, mampusss!" Ledek Dino puas.
Keduanya langsung menatap sinis Dino, "tanda muke lu."
"Unchh, kompak banget ziihh."
"Alvin jamet lebih menyeramkan!"
"Hahaha."
"Dahlah, ini jadi nggak? Mo nyari makanan??"
"Gue pengen gorengan deh, pisang goreng enak keknya." Kata Asya, ia melepaskan pandangan dari ponsel.
"Nahh bener, Sya. Bakwan juga enak nampaknya," sahut Naina bersemangat.
"Tapi nyari dimanaa?"
"Dii perumahan ujung sana itu ada kan? Dia jualan sarapan pagi gitu seinget gue," jawab Alex.
"Ayok kesanaaa!!"
"Jalan kaki?"
"Gak usah mengkek naik mobil mulu," cibir Ara ke arah Haikal.
"Lu sensi mulu sama gue anjj, gue nikahin juga lama-lama."
"Tes!!"
Haikal berdiri lalu menggendong Ara.
Gendongan yang tidak manusiawi, Haikal menggendongnya dari samping.
"HAIKAAALLL!!!!"
"Mau kemanaa hehh?!"
"KUA, nikahin lu."
Ara langsung mengigit tangan Haikal.
Haikal melepas gendongannya, Ara langsung terjatuh begitu saja. Tapi untungnya, Alvin menangkap.
"Alhamdulillah, gak terbanting. Makasih ya, Mas Alvin."
"Mas mas matamu, tak gaplok gelem po ra?!!" Tanya Haikal sensi, Ara dan yang lain terkekeh.
"Liat lu bedua gendong-gendongan, gue jadi keinget yang kemaren. Arsen gendong Asya sambil gelantungan. Gak berat, Sen?"
Mereka menatap Arsen menunggu jawaban.
Arsen yang di tatap malah jalan santai, tangannya bergandengan dengan Asya.
"Jangan sampe gue lempar sepatu lu baru jawab!!"
"Sennn, tuli lu??"
Arsen tertawa kecil.
"Pertanyaan lu tu nyusahin. Kalau gue bilang berat, Asya bakal sensi di katain berat, kalau gue bilang ringan, Asya pasti ngira gue bohong. Jadi serba salah kan? Bagus gue diem."
"Alahh! Tinggal jawab aja harusnya, gue nunggu lu bedua gelut gitu kan mantep." Kata Alex gak sabar.
"Gue ruqyah ntar lu."
__ADS_1
Alex nyengir.
Dino yang gemas melihat mereka berdua pegangan tangan langsung menghampiri dan memutuskan pegangan tangan mereka.
"Tolong, hargai saya. Sebagai mantan Asya," Dino menggandeng Asya gantian lalu berlari.
"HEHH!!" Dino melet, ia terus berlari menjauh. Asya yang di culik dari Arsen ikut berlari.
Ini sedikit menaikkan moodnya.
Sudah lumayan menjauh mereka berhenti, Arsen juga berhenti berlari.
Dino yang berdua dengan Asya, kini menatap Asya.
"Lu kenapa? Muka lu murung."
Asya menoleh, "gue gapapa."
"Sya, dari kita lahir kita udah barengan. Gue jelas tau lah lu pasti kenapa-kenapa!"
Asya menghela nafas. "Gue nginget kejadian kemaren, rasanya tu kek sakit hati banget dikhianati. Lebih sakit ini dari pada disakiti Adinda."
"Gue jadi bener-bener mikir sekarang, apa selama ini gue jahat banget?? Kenapa gue di jahatin muluu?!"
Dino tersenyum menatap Asya.
"Lu gak jahat kok. Lu tau kan, kita barengan udah bertahun-tahun, jelas gue tau gimana lu hidup. Lu bukan orang yang berkepribadian buruk kek yang di bilang sama si muna itu. So, gak usah di pikirin."
"Jangan mikirin sesuatu yang gak penting. Itu cuma menuh-menuhi isi otak lu."
Asya memeluk Dino.
"Lu pasti lebih sakit hati kan?"
"No, i'm fine. Gue malah cukup seneng karena bisa tau sikap buruk cewek yang hampir gue jadiin istri, tau kemunafikannya ini bisa buat gue cari cewek yang lebih baik dari pada dia. Right?"
Asya mengangguk, ia sudah melepas pelukan.
"Tau kemunafikannya juga kita bisa menjauh dari temen kek gitu. Kita juga bisa dapet pelajaran dari kejadian ini. Pelajarannya itu, kita harus lebih cermat lagi dalam milih temen. Jangan gampang percaya sama orang lain, sekalipun orang terdekat lu."
"Karena, orang yang paling berpotensi mengkhianati lu adalah orang yang begitu dekat dengan lu."
"Eh, jl squad gak gitu loh ya." Asya tertawa mendengarnya, "gue juga gak berfikir jls bakal ngelakuin itu."
Dino ikut tertawa lalu mengacak rambut Asya.
"Udah ya, gak usah sakit hati lagi. Lu masih punya Arsen, Azril, Gue, Haikal, Shaka, Racksa, Ara, Alvin, Alex juga Naina yang pastinya gak bakal khianati lu."
Asya menatap ke arah temannya yang di belakang. Mereka semua juga menatapnya sembari mengangkat jempol.
Ntah ngapain.
"WOII!" Teriak Asya.
"Apee?!" Tanya Alvin sinis.
"Saranghaaeeeeee!!!"
"HAHAHA, KAYANG DULU BARU KAMI BALAS SARANGHAE JUGAA."
"GUE KAYANG BAYAR SEJUTAAA!!!"
"DI BAYAR SEPULUH JUTA SAMA ARSEN."
"Lu kan rich man, hehe."
◕◕◕
Setelah selesai makan cilok, gorengan, bakso bakar dan ice cream, Asya kembali ribut seperti semula.
Emang makanan tu naikin mood bangett!
Saat ini, mereka sudah berada di mini zoo.
Kembali lesehan di bawah pohon.
"Sayang," panggil Arsen.
Asya berdehem.
"Sayang."
"Hm?"
"Sayangg."
"Iyaa, kenapaa?" Tanya Asya menatap heran Arsen.
"Besok ke psikolog yok."
"Ngapain? Gak ah gak mau!!"
"Syaa, lu butuh itu. Udah kesekian kalinya yang beginian terjadi, kita takut mental lu kena." Sahut Alvin.
"Gak gak! Gue gak mau."
"Sya, ini demi kebaikan lu. Gue sama yang lain gak mau mental lu kenapa-kenapaa," kata Azril ikut membujuk.
"Gue tetep gak mauu. Di giniin doang kok, gue b aja. Gue kebal, gue kuat."
"Bandel banget emang lu ya! Nurut gitu loh, kita bakal temenin lu juga kok kesana. Bakal ada di samping lu dan bakal support lu teruss," ujar Naina.
Asya menggelengkan kepala.
"No. Ada bokap-nyokap gue, ada Azril, ada Arsen, ada kalian juga, itu udah cukup buat bangkitkan gue dari keterpurukan ini."
"Fine, terserah lu. Tapi sekalinya lu jadi diem kek tadi, tanpa persetujuan lu, kami bakal bawa lu ke psikolog." Kata Ara tegas.
"Iya iyaaa."
"Oke skip, nyokap bokap kemana siii?! Mereka ke RS apa ke luar negeri?!" Tanya Azril heran.
Tin tin!!
Serentak menoleh.
"Panjang umur. Baru di bilangin udah balik," kata Azril dengan senyuman.
Mereka melihat Aska dan Zia menghampiri setelah memarkirkan mobil.
__ADS_1
"Kok lama banget, om?? Apa yang terjadi?"
"Tadi sekalian nguburin orang," jawab Aska.
Asya dan Azril terkejut lebih dari temannya.
"Om Rafael meninggall? Tante Keiko meninggal?" Aska menggelengkan kepala.
"Keiji meninggal."
Hening again.
Sedetik kemudian....
"HAHAHAHAHA, KARMAA."
"Asya, gak boleh gitu. Kalau Om Rafael tau dia bakal sakit hati dengarnya," omel Zia.
"Lohh, kenapa sakit hati? Pasti dia berpikiran sama kea Asya. Lagian, Om Rafael masih muda, masih bisa buat lagi."
Mereka menatap sinis Asya.
"Ada kurang-kurangnya anak satu ini."
"Semisal, anak lu di gituin orang. Lu gak bakal sakit hati?" Tanya Alvin.
"Ntah, gak mau mikir. Yang jelas nanti anak gue gak bakal begitu!"
"Karep lu, Sya. Jadi Keiji udah di kubur, om?"
Aska mengangguk.
"Kalian kalau mau kesana ya kesana aja, nanti di kasih tau sama bodyguard jalannya."
"Oke, otw."
Asya bangkit kemudian menuju garasi mobil.
"Ck! Lu gak sendiri, Asya. Turun," omel Haikal.
"Jadi ber-berapa?"
"Banyak! Udah cepetan turun."
Asya keluar dari mobil lalu masuk lagi di bagian belakang, tentunya dengan Arsen.
"Kami pergi dulu, om, tante."
"Assalamu'alaikum, momm, daddd."
"Wa'alaikumsalam. Hati-hati di jalan!"
Di mobil semuanya hening karena setiap orang sedang bergelut dengan pikiran masing-masing. Oh iya, mereka pake dua mobil lagi dengan driver yang sama seperti tadi malam.
"Tetiba pengen beli seblak," gumam Asya.
"Lu ngidam? Anak Arsen?"
Bugh!
Tanpa perasaan Asya memukul lengan Haikal.
"Apakah kau minta di ruqyah?"
Haikal cengengesan, ia mengelus tangannya yang sakit.
"Sorry, bro. Singa gue lagi jadi singa," kata Arsen sambil menarik kepala Asya ke keteknya.
"AAAA, ARSEENNN!!"
"Ssttt, diem. Nanti beli siomay."
Asya diam sejenak kemudian menyikut perut Arsen.
Arsen pun melepasnya. Melihat Arsen sedang menahan sakit, Asya auto panik. Ia langsung mengangkat baju Arsen.
"Memar?? Dari kapann?!"
"Kemaren keknya, kena tali mungkin."
"Kenapa gak bilang siii?! Sakit ya?"
Arsen menggeleng sambil tertawa kecil.
"Gak ada P3K?"
"Lupa bawa gue," jawab Haikal sesekali menoleh.
"Udah, gapapa. Kemaren udah diobatin juga." Asya pun mengelus luka Arsen dengan tangannya, Asya juga meniup-niup.
Gak tau biar apa.
"Masih sakit?"
Arsen menggeleng, "udah kamu sembuhin."
"JIAKHHH! MERESAHKAN."
Arsen tertawa.
Tanpa terasa mereka tiba di tempat pemakaman. Bodyguard yang menunjukkan jalan juga menunjukkan mereka dimana letak makam Keiji.
Awalnya mereka hanya diam, menatap gundukan tanah itu tanpa bersuara.
"Mau do'a?" Tanya Arsen. Asya menganggukkan kepala.
Arsen pun memimpin do'a-nya.
Usai berdo'a mereka jongkok di samping makam.
Asya sendiri memegangi gundukan tanah itu.
"Hmm, kok lu wafat sih?"
"Harusnya lu gue kuliti dulu atau nggak gue putusin jari-jari lu. Kurang puas deng, sekalian tusuk-tusuk badan lu juga asik keknya. Tapi sayang, lu nya udah di dalam tanah ya."
Seketika teman-teman Asya merinding mendengarnya. Asya sendiri diam sejenak dan mengelus pelan kuburan Keiji.
"Eeuummm.. kalau lu minta maaf, udah gue maafiin kok. Sekarang, lu tenang aja di sana. Oiya, selamat menikmati panasnya api neraka ya, penghianat."
__ADS_1
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
Saya triple up nih, kalian jangan like komen di satu bab aja yyaa. See u next chapter! 😠💖