Barbar Generation

Barbar Generation
Baju erayaa


__ADS_3

Terpanjang, moga gak bosenin gaiss ')


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


20.21, di rumah abu-abu. Mereka sholat tarawih di mushola komplek perumahan abu-abu dan baru balik sekarang.


"Gaiss, sebelum pulang.. gue mau ngomong sesuatuu."


"Tentang??"


"Yang gue tutupin waktu itu." Mereka langsung menatap serius Arsen.


"Ini bersangkutpaut sama Alex."


"Sebenernya, Alex orang baik. Bahkan teramat sangat baik. Dia jadi jahat selama ini karena kondisi dan keadaannya."


Mereka mengerutkan dahi, "maksud lu gimana? Kondisi apa?" Tanya Haikal heran.


"Dia kebanyakan konsumsi alkohol, taukan gimana efek kebanyakan minum alkohol? Dia juga bukan orang yang kasar, bukann."


Mereka terheran-heran.


"Gue tau lu pada orang berpendidikan dan pasti gak asal percaya informasi apapun tanpa ada bukti. So, gue bakal nunjukin inii." Arsen memutar suara rekaman dari ponselnya.


Siapa sangka Arsen memiliki rekaman suara ini?? Rekaman suara saat perdebatan Alex dan Adinda di rooftop. Mereka mendengar semua rekaman dari awal hingga akhir.


"Whatt the f– inii benerannn?" Arsen mengangguk.


"Gue juga baru tau. Rekaman ini gue ambil di rooftop, hari yang sama ketika kita ngonser di lapangan volly beberapa minggu lalu. Waktu itu gue izin ke toilett ke lu pada."


"Kenapaa baru bilang sekaraaaanggg?!" Tanya Racksa ngegas.


"Banyak yang mau gue pastikann. Gue cari-carii bukti dan emang setiap malem di manapun Alex, dia selalu minum amer."


"Gilaa, demi apaa gue gak nyangka banget!!"


Arsen menatap Asya, "Syaa, gue yakin lu terfokus sama satu hal."


Asya yang dari tadi terdiam mengangguk, "Adinda fake!"


"Bingoo!"


"Dia memperkeruh suasana."


"Jadi dia selama ini terlalu menjelek-jelekkan Alex? Biar kita benci ke Alex?" Sahut Ara.


Arsen menganggukkan kepala, "Adinda cuma jadiin Alex mesin uang. Kalau kalian kira dia pendiam, nyatanya nggak. Dia suka shopping ke mall, dan suka ke barr buat diskoann."


"Gue juga cari cari tentang Adinda, nyatanyaa bener. Adinda jadi baby sugar."


"Anjirrr! Seriusss lu, saaattt?!" Arsen mengangguk.


"Gue bersyukur bangett lu gak jadi deket sama tu anak, Zrill!!" Azril sujud syukur.


"Alhamdulillah, Ya Allahh."


"Gue sama Alex dulu bener-bener deket, kita sahabatan. Tapi tiba-tiba menjauh karena nyokap Alex yang jadi orang ketiga di hubungan nyokap."


"Gue kira selama ini Alex bangga tentang itu, tapi nyatanya nggakk. Alex tertekan, dia butuh temen curhattt."


"Di rekaman tadi juga dia bilang, dia pengen bantuin lu tapi gak bisa karena nyokapnya." Kata Haikal.


"Dia nyerang gue waktu itu karena cemburu Adinda deket ke gue." Sahut Azril.


"Alex pemeran protagonis, yang dipaksa untuk menjadi antagonis." Mereka terdiam.


"Kita terlalu berburuk sangka selama inii. Bener ternyataa kalau yang buruk gak selamanya buruk, dan yang baik gak selamanya baikk."


"Gue jadi gak enakk nampol dia waktu itu. Tapi dia cocok si di tampoll," ujar Ara.


"Goblougg siamahh!" Mereka tertawa sekilas.


"Teruss, tadi dia ngajak ketemu lu mau ngapain?" Tanya Asya.


"Gue juga gak tau dia mau apa. Setelah gue ketemu dia terakhir kalinya, dia hilang tanpa kabar. Dan baru sekarangg muncul lagii."


"Lu udah pernah singgung masalah ini?"


Arsen mengangguk, "di rooftop juga."


"Gue rasa dia mau cerita," ujar Racksa.


"Bisa jadi sihhh."


Asya, Haikal, dan Azril terdiam sejenak.


"Masukin cirlce, deal?" Tanya Haikal setelah lama berfikir.


"DEAL!"


◕◕


22.02, apartemen Arsen.


Tingg tong..


Ceklek!


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam, telat banget lu? Jam segini baru datangg."


"Aelahh, Senn. Lu yang telat pulang, gue yang lu protesinn!" Arsen tertawa.


"CEO muda apartemennya kecill, yaa?!"


Arsen menatapnya sinis, "ngapain gede kalau cuma sendirii. Mau minum apa lu? Gue cuma punya soda, ini aja."


Arsen melempar satu kaleng soda dan ditangkap Alex. "Thank you!"


Arsen mengangguk, ia duduk di sebelah Alex.


"Mau ngapain lu kesini?"


Alex diam sejenak lalu menatap Arsen, "kenapaa anjrit?! Horor gue lu tatap ginii!" Keluh Arsen sedikit menjauh.


Alex malah tertawa kecil, "gue nyesel, Sen."


"Gue nyesel pernah jahat ke lu. Gue gak nyangka respon lu gini setelah sering gue jahatin. Gue bener-bener gak nyangka lu tetep mau berteman lagi sama gue walaupun bokap lu gue ambil."


Arsen tersenyum tipis, "gue juga minta maaf karena sering berprasangka buruk sama lu."


"Wajar lahh kalau lu su'udzon ke gue."


"Gue tau lu udah ngerti gimana alurnya. Lu mau gue ceritain lebih detail awal mula perselingkuhan gimanaa?!"


Arsen mengangguk, "silahkan kalau mau cerita."


"Butt, gue sahur disini?"


"Iyaa bawel!" Alex nyengir.


"Jangan di potong perkataan gue." Arsen berdehem.


"Semua berawal dari nyokap bokap lu yang deket sama nyokap gue."


"Semenjak itu nyokap gue terobsesi sama bokap lu karena hartanyaa, tanpa beliau sadari bokap gue juga gak kalah gantengg dan kaya."


"Nyokap terus cari cara biar bisa dapetin bokap lu. Jujur, gue capekk bangett liatnyaa. Gue mau lawan nyokap juga takutt dosaaa, jadinya gue biarin ajaa."


"Singkat cerita, nyokap gue bisa dapetin itu dan ngehancurin nyokap lu. Gue tau betapa hancurnya lu saat itu, tapi nyokap selalu bilang kalau lu tu sebenernya orang jahatt. Gue dihasut teruss biar jauh dari lu."


"Itu sebabnya gue ngilang dari lu. Demi keselamatan lu juga, biar lu gak terluka."


"Bertahun-tahun gue cari lu yang ngilang, sampe akhirnya ketemu di SMA Super. Gue bersyukur lu masih hidup, bersyukur liat lu masih bisa lanjutin hidup normal."


"Tapi lu nya yang gak normal karena kebanyakan minum amer." Alex cengengesan.


"Skip. Gue sama sekali gak cerita ke nyokap kalau gue nemuin lu di SMA. Sama sekali nggak. Bahkan, para bodyguard gue suruh tutup mulut biar lu tetep aman."


"Meskipun gue tutupii, nyokap tetep ketemu. Tapi sama om Mikko. Gue tau waktu itu om Mikko di serang, tujuannya buat nyari lu untuk di bunuh karena waktu itu warisan masih atas nama lu."


"Disituu, gue beraniin diri buat speak up ke nyokap kalau gue capekk banget hidup pake kepura-puraan gini. Nyokap pun ngertiin gue, dia lupain untuk cari lu dan mulai ngurus gue sama nyokap lebih baik."


"And, you know?" Arsen mengangkat satu alisnya.


"Nyokap ngasih adek lagi."


"Wtfff!" Alex terkekeh.


"Seriously?" Alex mengangguk.


"Keknya enakk kalau lu, gue, bokap, nyokap, sama calon baby tinggal satu rumah."


Arsen menghela nafas, "gue gak bisa. Gimana perasaan nyokap gue disana? Pasti sakitlahh."


Alex tersenyum paham, ia mengerti.


"Bokap lu gimana?"


"Meninggal karenaa gugatan cerai nyokap." Arsen terheran mendengarnya.


"Bokap cinta mati sama nyokap. Daripada ngeliat nyokap bahagia sama orang lain, beliau milih pergi." Arsen mengangguk paham sambil menepuk pundak Alex.


"Terus lu kemana aja selama inii? Setelah gue singgung di rooftop, lu ilangg."


"Gue ngasingkan diri ke negeri orang bentarr. Pengen aja nafas tenangg, tanpa ada yang ribetin. Yaaa meskipun gue ujiannya dari sana."


"Lama disanaa, gue berhasil lepas amerr."


"Good boyyy! Baguss, pinterrr bangetttt!! Salut gue liatnyaa."


Alex tertawa mendengarnya, "bacot lu!"


"Yeee, ngeyel amat. Oh iyaa, about Adinda?"


"Gue.. gue masih bertahan."


"Tollollll!"


"Waitt, gue punya alasan!"


"Apaa?" Tanya Arsen sinis.

__ADS_1


"Balas dendam."


Arsen tersenyum tipis, "bagus sihh kalau alasannya itu."


"Gue udah tau kalau dia punya sugar daddy."


Alex tersenyum smirk, "gantengan gue. Tapi lebih banyak duit diaaa."


"Gak mau cerita tentang lu sama dia?"


"Gue capek ngoceh bangsttt!" Arsen tertawa.


"Mau makan apa lu? Gue masakin."


"Oke indomie goreng." Arsen menuju dapur, membiarkan Alex sendirian.


"Bangst betul ni anak!" Alex menghampiri Arsen.


"Gue ketemu Adinda di perkampungan. Bokapnya petani, nyokapnya ibu rumah tangga biasa. Gue yang lagi keliling desa, gak sengaja ketemu bokap nyokapnya yang lagi kesusahan bawaa barang. Alhasil, gue bantu deh."


"Gue bantuu sampe rumahnya, terus dikenalin ke Adinda."


"Beberapa hari itu gue sering ke kampung buat ngajakin gue main. Istilahnya pdkt lah."


"Nah terus?"


"Gue minta izin nyokap bokap buat ngajak gue ke kota. Awalnya mereka gak ngijinin, tapi setelah gue iming-iming uang, mereka kasih. Yaudah deh sampe sekarang gue yang bayarin semua kebutuhan diaa."


"Sampe sekarang?" Alex mengangguk.


"Terus bokap nyokap nyaa?"


"Udah meninggal beberapa tahun yang lalu. Ninggal di rumah sakit, dan waktu itu yang bayarin semua biayanya gue."


"Kerasukan apaan lu?! Kenapa gak pelit?!"


"Kapan gue pelitt?"


"Sama gue lu pelit anjriiit!" Alex tertawa kecil.


"Kan kita gak kenal!"


"Bacot." Arsen memberikan mienya, Alex memakan dengan santai.


"Bantu gue balas dendam, mau?"


"Bisaa bisaa. Mau lebih wah ajak Asya."


"Yakalii tim lu mau ketemu sama guee. Sadar gue mahh, dosa gue ke mereka segudangg." Arsen tertawa mendengarnya.


"Sotoy sihh. Kata siapa gak mauuu?" Mereka keluar dari dua kamar apartemen Arsen.


"L-loh, Senn?"


"Mau masuk circle gak, broo?"


◕◕◕


17.05, keesokan sorenya di rumah abu-abu.


"Tereteteetettetttt tereteteetettetttt."


"Berisik gblok!"


Dino cengengesan, "hehe."


"Main skateboard yuuu. Saya sedang gabutt inii," ajak Haikal.


"Kuy kuyy! Gue, Azril sama Racksa punya skateboard." Sahut Asya.


"Gue juga punyaa, di mobill."


"Lahh, samaaa. Yaudah yokk cari lapangan." Mereka pun pergi bersama.


Ternyata di komplek perumahan abu-abu ada lapangan skateboard, tapi lapangan itu sepi karena jarang orang mau datang.


"Pantesan sepii gaiss." Mereka menatap Ara penuh tanya. Ara mengode, menyuruh mereka melihat ke area sebelah kanan.


Dan ternyataaaa, berada dekat kuburan!


"Mau cabut?"


"Lu takut, Lexx?" Tanya Haikal nada meledek.


"Kagakkk."


"Ngapain ngajak cabut?" Tanya Azril ikut meledek.


"Ngajak doanggg, siapa tau ada yang takut."


"Lu sendiri yang takut egeee." Sahut Arsen tertawa geli.


"Ngg–"


"Wahaaa, dia tidak mengakuinya gaiss." Mereka tertawa bersama melihat Alex kesal.


"Syaa, bisa main kagak?" Tanya Ara heran.


"Susahhh anjirrr main skateboard!"


"Keknya keahlian lu cuma cari ribut terus gelut dehh," kata Alex dengan nada serius.


"Benerr sih!" Alex tertawa mendengarnya.


"Mau gue ajarin, by??"


"Mau mau mauuu." Arsen pun membantu Asya bermain skateboard.


"Gapapa Asya noob, yang penting calon lakinya prooo!" Ledek Racksa.


"Tereteteetettetttt!" Mereka tertawa lagi.


"Coba lu sendiri, Sya. Bisa nggak?" Asya menatap gugup Arsen.


"Kamu pasti bisaa!" Asya pun berusaha untuk mencoba.


Percobaan pertamanya yang tanpa bantuan menghasilkan sebuah luka. Dia terjatuh dan kakinya tergores.


Dengan sigap Arsen mendekati Asya dan membereskan lukanya. Apa yang Arsen pakai? Bajunya sendiri!


Ia mengoyak bajunya sedemikian rupa lalu menjadikannya sebagai perban. Kaki Asya hanya tergores kecil, dan Arsen rela mengoyak bajunya.


Lihatlahh! Asya benar-benar istimewa dimata Arsenn.


"Masih sakit?" Asya menggeleng pelan.


"Siaga amat lu, bucinn!" Ledek Dino.


"Cinta mah butuh tindakan, bukan cuma omongan manis di bibir doangg." Jawab Arsen rada cuek.


"Aiiiii, mantapp sekalii pak Arseenn. Dino auto lemezzz." Arsen cengengesan.


Drrtt.. Drtt...


"Siapa?" Tanya Asya pada Azril.


"Bapakkk.. jeeel."


...cangkangg, apinsuuu...


^^^"Aaaa haiiii, assalamu'alaikum paakk jeeelll!"^^^


^^^Shaka tertawa darisana.^^^


📞 "Wa'alaikumsalam nona cantikk!"


^^^"Heh hehh! Apaaan lu!"^^^


📞 "Anjritt, pawangnya marah gaisss!"


Ledek Alvin, mereka tertawa.


📞 "Lu pada dimanaa?"


^^^"Lapangan skateboard, lu dimana?"^^^


^^^Tanya Haikal.^^^


📞 "Rumahh."


^^^"Lohh, njirr, kagak balik?"^^^


^^^Tanya Dino gantian.^^^


📞 "Lebaran kedua gue balikk."


Mereka berohria.


^^^"Apinsuu?"^^^


📞 "Ya samaa!"


"Btww, gue juga mau ke London sihh. Eraya h plus dua baru balikk," kata Haikal tiba-tiba.


"Zrill, Saa, keknya kita balik ke rumah utama dehh. Icall ke London, Dino ke rumah kakeknyaa, Ara sama Yuna tempat neneknya. Terus si Arsenn sibuk sama ukenya, jadi tinggal kita betigaa."


Arsen menatap kesal Asya, "uke siapa?"


"Alexx."


"Dih dihhh!!" Asya terkekeh.


📞 "Temen lu nambah yaaaa, anjritt!"


Protes Alvin kesal.


📞 "Au dahh! Gak ngenalin ke kita, ngomong sendiri pulaa. Kita bedua dikacanginn, Pinn!"


^^^"Hahaha, bapak jl dan sang sinis iri ternyataaa!"^^^


^^^"Pakk jeeelll dan pak siniss. Nih kenalin, Araa, calonnya icall."^^^


^^^"Inii Alexx, saudara tiri Arsen."^^^

__ADS_1


^^^"Haii, gue Araa."^^^


^^^Sapa Ara sambil tersenyum.^^^


📞 "Emmm... haii! Araa, mau sama gue gak? Gue lebih ganteng dari Haikal!" Goda Alvin.


^^^"Dih dihh. Gak usah mau, Ra.^^^


^^^Dia emosiannn, ntar retak hubungan lu."^^^


^^^Cibir Azril.^^^


📞 "Parah lu, Zrill! Bukan belain dia, malah belain dia."


^^^"Tolong jelaskan apa maksudnya!"^^^


^^^Titah Dino kesal.^^^


📞 "Iq rendah, yaa?"


^^^"Suka ati kau ajalaaa, Pin. Ahhh!"^^^


^^^Alvin tertawa.^^^


📞 "Ehhh, itu Asya kenapaa?"


^^^"Jatoh dia."^^^


📞 "HAHH?! KOK BISAAA?!"


"Anjirrr ngegasss." Keluh Racksa.


📞 "Maaf maaf kaget!" Mereka berdua kompak.


^^^"Jatoh pas main skateboard. Gausah lebay deh lu pada!"^^^


📞 "Asya tu bener-bener pengen dismekdon keknya!"


📞 "Dia di peduliin salah, gak dipeduliin makin salah. Emang cewek serba salah!"


^^^"Eitss, anda yang salah. Cowok yang serba salah karena adanya itu mas-alahh, bukan mbak-alah."^^^


^^^Jawab Asya sambil tersenyum devil.^^^


📞 "Dah diem, Pin! Kalah kita lawan diaa!"


◕◕◕


09.45, pagi hari.


Tok tok..


"Assalamu'alaikum!!"


Asya berjalan menuju pintu, "wa'alaikumsalam. Ehhh, ganteng bangett anak orangg. Mau kemanaa?"


Terdengar seperti meledek, tapi kenyataannya Asya sedang terpukau dengan ketampanan Arsen.


Bagaimana tidak? Arsen mengenakan kemeja hitam dengan bagian lengan tergulung rapi. Di tambah celana jeans panjang warna hitam dan tatanan rambut ala badboy.


Yang gak terpesona... pasti psychopath!


Eh ngga, maaff, becandaa ಥ‿ಥ


"Calon laki lu emang gantengg, babyy!"


"Diww!" Arsen tertawa kecil.


"Yukk, temenin gue!"


"Ngapain?"


"Beli baju erayaa."


"Ishh, telat bangett Arsen pinterrr!" Arsen cengengesan.


"Buruan, gue tunggu."


"Tapi gue magerrr!"


"Ntar gue beliin es krim, susu sam–" Asya langsung menuju kamarnya.


Beberapa menit menunggu, Asya keluar dengan tampilan casual.


"Ready, bby?" Asya mengangguk. Arsen pun menariknya menuju mobil yang ia bawa.


"Mau beli baju apaan cobaa? Sumpah telat bangett, bentar lagi lebarannn!" Protes Asya dijalan.


"Lu tau kan, gue sibuk pake banget? Keinget baju lebaran aja barusannn!"


"Lu baru balik dari AM?" Arsen mengangguk.


"Pasti capek, yaa?"


Arsen tertawa mendengarnya, "tadi capek. Setelah ketemu lu, jadinya nggak."


"Modusss bangett!!!"


"Seriuss, gak boong. Capek gue langsung ilang gitu. Apalagi kalau..." Arsen menggenggam tangan Asya kemudian mengecup punggungnya.


"Kalau lu selalu genggam tangan gue."


"Diw diww, modus bangetttt! Bukan muhrim, ntar puasa lu batall!" Asya menarik tangannya.


"Kode minta di halalin nihhh!"


"Ngacoooo!" Arsen tertawa lagi.


Beberapa menit kemudian, mereka tiba di mall.


"Inget ya, es krim!"


"Iya, cantikku, iyaaa." Arsen mengacak gemas pucuk rambut Asya. Asya yang geram menghempaskan tangan Arsen.


Bukannya marah, Arsen malah tertawa.


"Mau beli baju apaa?"


"Baju koko terutamaa."


"Mau beli berapa?"


"Tiga, maybe. Baju koko gue udah pada sering dipakeee, bosen jadinyaa."


"Lu pake kemana ajaa??"


"Lima waktu gue di masjid teruss, cantikk." Asya tersenyum tipis, senang mendengarnya.


"Yaudahhh, itu tokoo nya."


Arsen pun mengikuti Asya. Mereka memilih baju koko yang pas dengan ukuran tubuh Arsen.


"Baju koko aja nih?"


"Emm.. baju santai juga lahh."


Asya mendekat untuk berbisik, "toko sebelah aja. Ada yang bagusss!" Arsen mengangguk setuju.


"Pasutri nikah muda ya, mbak?" Tanya penjaga kasir.


Asya terpelongo, "ahh buk–"


"Baru mau nikah, mbak. Ini berapa semua?" Penjaga kasir menghitung dan Arsen pun membayar.


Setelah itu mereka pindah ke toko sebelah.


"Tumbenn nih, singa gak ngamuk?"


"Ntar lu ikut ngamuk. Bahayaa!" Arsen tertawa.


"Gak bakal ngamuk gue mah kalau berhadapan sama singa gemoy kea lu."


"Bacott diww!" Arsen cengengesan.


"Eraya mau kemana sihh lu?"


"Eumm.. kemana ya? Mungkin ngajakin lu liburann."


"Berdua doang?"


"Mau berdua? Ya hayuukk!"


"Di–"


"Sya? Asya, kan?"


"Eii? Kejaaa? Upiii?"


"Beneran Asya ternyataa. Aww, rinduuuuu!!" Yang Asya panggil Upii memeluknya.


"Eeuummm, rindu bangettttt!" Rengek Asya membalas pelukan.


"Btw, ini siaapa?" Tanya Upi.


"Ahh itu? Ituu temen guee kok." Upi dan Keja menatap heran Asya.


"Gue sih gak yakin." Mereka menoleh ke arah Arsen yang keliatan super duper badmood.


"Doi lu kann?!" Bisik Keja, Asya cengengesan.


"Lu pacarnya Asya?" Tanya Upi blak-blakan.


"Hem? Calon suaminya. Kenapa?"


"Uwooooww! Gila si gilaa."


"Fyi, Asya dijodohin sama gue lohh." Arsen menatap sinis Upi.


"Boong lu!"


Mereka bertiga tertawa.


Setelahnya, Upi menggandeng tangan Asya. "Syaa, yok cari cincin. Papi Aska udah nyuruh tadii."

__ADS_1


__ADS_2