
19.07, villa.
Mereka pulang setelah melihat sunset tadi.
"Aaaaa, capekk" keluh Asya sambil merebahkan dirinya di sofa.
"Gak terlalu gede kan ni villa, bokap gue emang bikin buat keluarga dan orang terdekat gitu. Jadi gak terlalu gedee" ujar Dino.
"Gak masalah sih, baguss. Gue sukaa, pemandangan pantai keliatann"
"Jadi pengen kesono lagii"
"Gak usah betingkahhh, sakit nanti lu kebanyakan di airr" Asya cengengesan.
"Coy coy coyyy, mau berbequ-an lohh jangan lupa beli bahannya" ujar Asya mengingatkan.
"Oiyaa, hampir telupaa" ujar Alvin.
"Biaya gimana?" tanya Dino.
"Patungan ajaaa patungan" usul Azril.
"Oke dealnya patungann"
"Patokan belanja berapa kira kira? Dua juta yaaa" ujar Racksa.
"Nahh bagus lebih dari pada kurang. Dua juta di bagi delapan berapaa?" tanya Haikal.
"Dua ratus lima puluh ribu" jawab Arsen.
"Nilai matematika lu tinggi ya, sen?" tanya Alvin, Arsen menggeleng sambil cengengesan.
"Dia pinter matematika, besok nyontek sama lu pokoknya" kata Dino.
"Geblekk, beda kelas!!"
"Oiyaa" Dino cengengesan.
"Back to topik"
"Dua ratus lima puluh ribu kan tadi? Berarti patungannya dua ratus lima puluh ribu, tf m-banking ke Asya ajaa" usul Alvin.
"Okeee, deall" mereka pun mentransfer uang nya pada Asya.
"Ntar sekalian beli minuman kaleng, cemilan dan sejenisnya yyaaa" ujar Shaka.
"Jangan lupakan cola!" mereka mengangguk.
"Supermarket yang tadi kita lewatin aja ya. Gak terlalu jauh, btw ini semuanya mau ikut?" tanya Dino.
"Setengah nya ajaa, setengah lagi siapin yang lainn" usul Racksa.
"Okee, gue ikut ke supermarket" sahut Haikal.
"Dino, Haikal, Asya sama Arsen. Deal!" Asya mengangkat jempol sebagai jawaban.
Ia langsung menuju ke luar, "syaaa!" Asya menoleh.
"Lu kagak ganti baju??" tanya Shaka.
"Nggakk, ngapain jugaa ribet" Asya melanjutkan jalannya.
"Udah biarin aja, yang penting baju tidur yang dia pake warna pink gambar hello kitty"
"Kek nya dia gak sadar make baju itu" ujar Haikal, mereka tertawa kecil.
"Gue sama yang lain pergi dulu" pamit Dino, yang lain mengangguk setuju. Haikal, Dino dan Arsen menyusul Asya keluar.
Ketika mereka keluar, Asya malah masuk kembali ke villa, Arsen mengejarnya. Mereka menunggu Asya keluar dari kamarnya.
"Eee busettt," Racksa terkejut melihat Asya keluar dengan rambutnya di gulung tanpa sisa lalu ditutup pakai topi, ia juga kacamata hitam.
Kemudian Asya dan Arsen menghampiri yang lain, "selamat malamm.. saya Asril pake s"
Mereka tertawa melihat ulah Asya, ini benar-benar bukan seperti Asya.
"Jangan banyak banyak s nya, nanti sakit"
"Okeee" Mereka tertawa lagi lalu pergi ke supermarket.
"Gaya jadi cowok tapi baju hello kitty."
❀❀
"Sya, bisa liat jalan gak?" tanya Dino.
"Remang-remang cokkk"
"Betingkah pula nyaa pake kacamata item. Gak pake kacamata aja nabrakk" ledek Haikal.
"Ssstt, aib suuu" Mereka terkekeh geli.
Asya mulai mengambil semua yang ia suka, di masukkan ke dalam ke ranjang yang di dorong Arsen.
Mereka berpencar, Haikal bersama Dino sedangkan Asya dan Arsen yang berdua. Mereka berdua bagian memilih makanan ringan dan minuman.
"Senn, ini kok kea.."
"Ehhh, Asya astaghfirullah" Arsen langsung mengalihkan pandangan Asya.
Asya tertawa, "itu kok kek organ reproduksi sosisss nyaaa. Gedee bangett pula"
"Ya Allah malah di perjelass, geblekkk emangg. Nyebut buruuu" Asya cengengesan, ia beristighfar sambil mengelus dada.
"Beli gak ya? Sekalian percobaan besok kal--"
"Asyaaa hehh, lu bener benerr yee." Asya terus tertawa melihat ekspresi Arsen yang terlihat malu-malu.
"Skipp skipp, cari yang lain" Arsen mendorong Asya pelan.
"Tapi gue mau sosisss nyaa"
Arsen menahan tawa nya, "travelling nantii otak gue liat lu makan tu sosisss" Asya nyengir.
"Ambilllahh kalau lu mauu" Asya langsung memasukkannya ke troli. Ia berjalan masih sambil terkekeh.
"Capek gakkk? Mau naik troli?? Gue yang dorongg" Asya yang di tawarin langsung naik ke troli, ia duduk santai.
"Beratt??"
"Nggakk, beratan dosa gue" Asya cengengesan.
Mereka terus belanja, membeli apa saja yang mereka ingin kan. Benar-benar nikmat hidup menjadi mereka, apapun bisa di beli.
Selesai mengambil barang sampai dua troli penuh, mereka membayarnya. Tidak usah di perjelas, yang pasti total belanjaan mereka lebih dari satu juta.
Setelah selesai membayar mereka keluar lalu pulang. Hanya butuh waktu dua puluh lima menit, mereka sudah tiba di villa.
__ADS_1
"Assalamu'alaikum akhi"
"Ehh, cepet banget anjirrr"
"Masa iya? Perasaan gue lamaa" ujar Asya sambil menuju dapur.
"Bentar lagi deh yaa, gue capekk" mereka berempat pun duduk kembali di sofa sambil membawa cemilan.
"Btw guys, ini malam jumat"
"Time to story cerita horor" sahut Alvin.
"Eiii, jangannn! Bisa gak tidurr guee" keluh Azril.
Dino tertawa, "gue keinget dia dulu tidur berdiri gara-gara ketakutan."
"Ahh iyaa, anjirrr parahh sih. Penakut betulll" ujar Alvin ikut tertawa.
"Nggak takut sebenernya, tapi geli"
"Gilaa ni anak, geli darimananya samsul?!"
"Nah itu dia, gue juga gak tau" jawab Azril.
"Ayoo lempar diaa" Azril cengengesan.
"Ceritaa horor ajaa, asik mesti" kata Racksa.
"Gue ada cerita horor pas di Swiss.."
"Gue gak denger.. gue tutup kuping"
"Ehh gak acikkk" Haikal menarik headphone Asya.
"Gue gak beranti tidur nantii anjjj"
"Minta kelonin Arsen"
Plakk!!
"Begoonya makin makin kamu yaa" Dino cengengesan.
"Dah diem duluuu, biarin si Apin cerita"
Mereka menatap intens Alvin, "apaa?"
"Kan lu mau cerita"
"Gak jadi udah lupa" jawab Alvin santai dengan wajah tanpa dosa sambil memakan cemilan yang mereka beli tadi.
"Gue emosi bisa lenyap pala dia" geram Haikal, Alvin cengengesan.
"Yaudah, gue aja yang cerita! Jadi gini, bla bla bla bla jadi gitu"
"Sasaa.. gue emosian tauu, gue lempar ke pantai lu mampusss" Racksa nyengir kuda.
"Gak ada yang cerita, gue deh cerita" Haikal siap-siap untuk mengoceh.
"Jadi kan kemaren tuu gue balik latihan badminton sendiriann, di jalann gue dengerrr suara orang nangis. Gue kan bawa mobil tuhh, jadi gue noleh ke belakang sama kesamping, ehhh ternyata kosongg kagak ada siapa-siapa"
"Abistu gue coba tetep santaii di jalanan, gue diem. Tiba-tiba suara orang nangis tadi lama lama makin gedee. Jatuhnya kayak anak bayi nangis, ndoak-ndoakk"
"Teruss terusss" tanya Asya penasaran.
"Lagi-lagi gue liat mobil guee, gue liat kanan kiri depan belakang dan tetep kosong gak ada orang. Gue ngebuttt lahh biar cepet sampee"
"Lu pada tauu gakk, suaranya ituu berasa di sebelah guee. Di jalan gue bacain ayat kursi, bacain surat al-fatihah sama tiga qul itu. Suaranya perlahan ngilang"
"Asliii, gue gemeteran. Karena takut bokap ngamuk gak gue bales chat nya, gue ambil lagi hp nya. Itu suara orang nangis masih ada."
"Gue ambil hp tadii kan, eeehh pas gue deketin suaranya dari hp gue. Gue baru inget kalau nada dering panggilan gue kek gitu"
Bugh!!
Bugh!!
Bugh!!
"Tooolloolll"
"Ngeselinn sumpah"
"Pengen gue lempar ke sungai"
"Di celup-celupin kayak teh gini enak loh, call"
Haikal cengengesan mendengar perkataan teman-temannya.
Tiba-tiba suara orang nangis itu terdengar, Asya yang memang penakut langsung berlindung pada Arsen.
"Oooh ges, ternyata bokap gue nelpon" Haikal mengangkat panggilan.
"Iya waalaikumsalam, kenapa pa?" Haikal menjauh dari mereka.
Azril yang shock dengan suara tadi mengelus dadanya sambil beristighfar, "kok bisaa gue punya temen gak ngudel kayak Haikal"
Mereka tertawa lalu menoleh ke Asya yang masih berlindung. Twins bacot benar-benar penakut!
"Syaa, enak nyandarrr?" tanya Alvin menggoda. Asya tidak merespon.
"Kok gue takut di pingsan?" Mereka mendekat.
"Gue gapapa"
"Aaa!! Anjjsuuu, kagett guee" teriak Racksa.
Asya mengibaskan rambut nya santai, dia mengelus dada dan beristighfar.
"Lu pada kenapa?" tanya Haikal.
"Kenapa kenapa apaaanyaa gilaa?! Ganti nada dering lu!!" protes Alvin.
"Lah??"
"Shock annjir, bisa-bisanya punya nada dering gituuu" Haikal cengengesan.
"Kan unikk"
"Ganti call pliss, gue tiap denger jantungan anjirr"
"Twinss bacot penakut banget yaa" ledek Haikal sambil mengganti nada dering nya.
Tanpa aba-aba Asya langsung pergi menuju samping untuk barbeque-an. Yang lain pun mengikuti Asya.
"Syaa, bentarr" Asya berbalik, Alvin langsung menarik tangannya.
"Tangan mana kemaren?"
__ADS_1
"Hm?? Apanya??"
"Yang jatuh dari lantai berapa ituu, di sekolahh"
"Ohhh iyaa!" Shaka langsung mendekat ke Asya, ikut melihat goresannya.
"Tangan kanan, udah gapapa kok."
"Kesel gue sama lu, kagak cerita malah ngeprank gak jelass" Asya cengengesan.
"Lu pada kan sibukk bangett tuuu, jadi gak mau ganggu"
"Hey hey hello!! Sesibuk apapun gue, pasti gue gak bakal diem aja lu digituinnn" ujar Alvin.
"Yaa.. yaudah maap. Udah lewat juga kan, jangan ngamuk lagi, oke?!" Mereka berdua tidak merespon dan memilih kembali ke tempat.
"Dih ngambek"
"Ehhh, btw pin, lu serius yang cewek di parkiran kemaren??" tanya Arsen.
"Ahh itu.. mungkinnn besok dia udah minta maaf sama Asya"
"Wtfff, lu apain anjirr?!" tanya Asya terkejut.
"Ngasih pelajaran aja dikitttt"
"Waahhh, gilaa lu ya. Lu apain anak nya pinn?!"
"Zril, sa, din, call diapainnn?!"
"Besok juga lu bakal tauu. Dahh skip!" Asya menatap mereka kesal lalu membuka kaleng soda untuk di minum.
"Kaleng cola ke berapa nona Asya??" tanya Shaka, ia mengambil kalengnya.
"Colaa doang, kan gak buat mabuk. Lu padaa semalem minum alkohol sampe teparrr gue bolehinn yaaa" omel Asya.
"Lu cewek, kami cowokkk" sahut Alvin.
"Tapi kan ini colaa. Buruan siniiinnn cola nya atau gue laporinn!" Shaka pun langsung memberikan kalengnya.
"Nah gitu dong" Asya meminumnya dengan santai.
"Ngeri anak ini bah" gumam Haikal, Asya cengengesan.
"Lu pada mabuk semalam??" tanya Arsen.
"Iyaa, padahal cuma tiga botol"
"Tiga botol di kata cuma, kagak waras emang" cibir Asya.
"Ehh itu termasuk sedikit tauu, masih di bawah lima" pembelaan dari Dino.
"Lebih dari dua itu banyak" Dino auto diam.
"Mereka mabuk, lu juga??" Asya menggeleng.
"Teruss, lu kagak takutt?" tanya Arsen lagi.
"Gue kunci pintu sama tutup jendela rapet-rapett, kunci serep juga gue pegang jadi mereka gak bisa masuk" Arsen mengangguk paham.
"Btw, kemaren balik naik apaa dah?" tanya Racksa.
"Bodyguard Asz muncul"
Brush!!
Azril dan Haikal menyemburkan minumannya.
"Serius lu??" tanya Dino.
"Kalau begini, kagak mungkin bapack Ivan tidak tau saya mabuk" ujar Haikal.
"Bodyguard Asz gak bakal laporan kan yaa?" tanya Alvin dengan muka cemas.
"Mampusss, tamat riwayat guee" sahut Shaka sambil menopang dagu.
"Cemanaa jadinya kalau bokap nyokap gue tau?!" tanya Racksa frustasi.
"Rippp uang jajan" keluh Azril.
"Tapi kayaknya gue aman deh.. bokap tadi nelpon juga biasa ajaa" ujar Haikal.
"Emang tadi om Ivan nelpon bilang apa?" tanya Azril.
"Nanyaa mobil diman.. MATIII GUEEE, JANGAN BILANG FASILITAS GUE DIAMBIL?!"
Asya dan Arsen saling pandang sebentar lalu tertawa, "ngakak banget ekspresi nya" ledek Asya bahagia.
"Aish.. lu ngasih solusi kek daripada ngejekk" pinta Dino.
"Nggak usah kasih solusi, kasih alasan aja biar amann" sahut Haikal.
"Ohh gue tauu, kan semuanya gara-gara Alvin"
"Astaghfirullahalazim Azril, istighfar dulu cepatt!!" Azril cengengesan.
Tiingg..
Ting..
"Ini lagi hp gue bunyi ga berhenti dari tadiii" Alvin mengambil ponselnya.
Notifikasi instagram muncul, Alvin yang heran langsung membukanya.
"What theee... Asyaaa astaghfirullah!!!"
"Apaa? Apa salah guee?!" tanya Asya santai.
"Apa salah lu gimane siii, lu liat nii postingann ramee bangett woi. Mak bapak gue komen lagii" keluh Alvin.
"Postingan apaa?" Mereka pada membuka ponsel.
"Subhanallah, masyaallah muka gue cantik banget anjirr" puji Dino bangga.
"Muka gue macem pelakorrr cokk" sahut Haikal, mereka tertawa ngakak.
"Inii.. lu sempet sempet nya yaaa buat aibb begini" ujar Azril kesal.
Asya tersenyum manis, "itu hadiah terindah. Uwuuuu"
"Rip harga diri Alvin Jassen."
Lagi-lagi Asya tertawa ngakak tanpa rasa bersalah.
"Wahh.. enak yaaa, malemnya mabuk-mabukan, besok nya bolos, sekarang barbeque-an" mereka serentak menoleh.
"Daddy?? Mommy?!"
__ADS_1
"Papaa?? Mamaaa??!" Shaka dan Alvin ikut terkejut karena kedua orang tuanya juga berada disini.
"Fiks ini mah, ripp uang jajan!"