Barbar Generation

Barbar Generation
New problem >.<


__ADS_3

Pagi yang cerah di Indonesia.


Arsen baru saja bangun dari tidurnya, kini ia menuju ke kamar mandi. Ya jelas untuk mandi. Arsen ada kelas pagi ini.


Btw, Arsen gak di rumah besarnya melainkan di apartemen kesayangannya.


"Begini nasib jadi bujangan."


"Eh ga bujangan si, gue kan punya tunangan."


Arsen melanjutkan acara mandinya.


Di kamar mandi selalu bernyanyi tanpa henti.


"Suara gue bagus banget, pasti Asya bersyukur kalau gue nyanyiin."


"YANG IYANYA ENEG DENGER KAMU NYANYI. CEPETAN MANDINYAA!"


"Bujug busett! Sejak kapan ada manusia lain di apartment ini? Om Mikko datang kapan?"


"Kemaren. Udah cepet bah!"


"Iye iyee sabar, om. Dikit lagi siap," jawab Arsen sambil mempercepat mandinya.


Selesai mandi, Arsen mengenakan bajunya kemudian pergi keluar kamar.


"Widii, ada gerangan apa Bapak Mikko yang terhormat datang ke kediaman saya?"


"Nagih utang."


"Hah? Utang apaa?! Mengaco ni om-om," ujar Arsen sinis.


"Ck, untung ponakan sendiri. Om cuma bawain sarapan untuk kamu, kamu pasti keseringan makan indomie sama telor pagi-pagi."


"Tau ajee, baik banget om-om inii. Jadi sugar daddy saya mau, om?" Tanya Arsen menggoda.


"Jangan sampe om bawa ke rumah sakit jiwa kamu, Sen!" Arsen terkekeh. Ia membuka bungkusan nasi yang di bawa Mikko.


"Masak sendiri?"


Mikko mengangguk, "makanlah. Makan pelan-pelan."


Arsen mulai memakan masakan Mikko, Mikko pun juga makan bersama Arsen. Tidak ada percakapan selama makan.


"Alhamdulillah kamu masih suka masakan om."


Arsen tersenyum, "masakan om enak. Kenapa pula Arsen ga suka?"


Mikko mengulurkan tangannya dan mengelus rambut Arsen, "Rayarrsen Harisson udah gede ya."


"Aish! Arsen Shafwan William, bukan Rayarrsen Harisson."


"Iya, iya. Arsen Shafwan William."


"Gitu dong," jawab Arsen kemudian meminum susu buatan Mikko.


"Dulu kamu gak suka susu, di kasih susu selalu nolak."


"Itu karena Alex ngasih serangga di susu Arsen, jadinya trauma. Tapi setelah ketemu Asya sih, traumanya hilang."


Mikko berohria sambil meledek.


"Dulu juga kamu sering banget jadi pemberontak, apa-apa di buat emosi. Sekarang berontaknya lebih parah tapi hampir gak pernah lagi ya."


Arsen tertawa kecil mengingatnya.


"Mengontrol emosi itu penting."


"Em.. ini, ada surat dari mama kamu. Mungkin semacam wasiat terakhirnya. Om baru inget mau ngasih, baru nemuin di berkas-berkas om."


"Surat apa, om?"


"Om belum buka, jadi kamu buka sendiri aja ya. Ini suratnya," kata Mikko sambil menyerahkan surat itu.


Melihat Arsen ingin membukanya sekarang, Mikko menghentikannya.


"Om pulang dulu, ada kerjaan."


"Loh, om gak mau denger Arsen baca isi suratnya?"


"Gak usah, itu buat kamu sendiri. Surat untuk om beda lagi."


Arsen mengangguk paham, "makasih sarapannya om. Hati-hati di jalan."


Mikko tersenyum.


"Jangan telat kelas! Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam."


Mikko pun pergi meninggalkan Arsen sendirian.


Arsen mencuci piring bekas makannya sekaligus mencuci tangannya kemudian kembali ke meja makan setelah mengelap tangan.


Arsen membuka surat dan membacanya dengan suara yang lumayan pelan.


"Assalamu'alaikum, Arsen anak gantengnya mama. Kalau kamu baca ini berarti mama udah gak di samping kamu ya, maafin mama gak bisa urus kamu dengan bener. Maafin mama karena mama bukan mama yang baik untuk kamu."


"Arsen jangan benci sama papa ya, jangan dendam sama papa. Gimana pun juga itu papa kamu, kalau gak ada papa juga kamu gak bakal lahir."


Arsen berfikir.


"Oiya, bener."


"Arsen anak baik, nurut sama Om Mikko. Jangan bandel, jangan ngeyel kalau di bilangin sama Om Mikko. Om Mikko bakal ada di samping kamu sampai kapanpun, jadi jangan jahat ke Om Mikko."


"Gak jahat, ma, paling sering di jahilin."


Arsen cengengesan lalu meletakkan satu kertas itu, di dalam surat ada satu surat lagi. Seharusnya terpisah, tapi Mikko menggabungkannya.


"Oke, next."


"Assalamu'alaikum, Arsen. Udah gede ya kamu nak? Pasti udah punya KTP, SIM, dan temen-temennya. Udah akrab sama papa kan? Jangan dendam-dendam lagi ya anak gantengnya mama."


Arsen tersenyum tipis, "iya ma."


"Mama buat surat ini sama seperti surat sebelumnya, tapi yang ini mama minta ke Om Mikko di kasih ke kamunya pas kamu udah gede. Kamu baca, berarti udah dewasa."


"Iya, ma, Arsen udah dewasa. Dan Arsen dewasa, sebelum waktunya."


Arsen meletakkan sebentar suratnya, ia menuju ke kulkas mengambil minuman kaleng lalu kembali ke ruang keluarga untuk lanjut baca surat.


"Ehm."


"Arsen, maafin mama lagi ya. Mama cuma tinggalin kamu masalah. Sebenernya, mama dulu punya perjanjian sama temen bisnis mama. Perjanjiannya, jikalau kamu udah gede kamu harus di jodohkan dengan anak temennya mama."


Pftt!


Arsen menyemburkan minumannya.


"Apa maksuddd?!"


"Kenapa isi suratnya cuma sampe sini?"


"Apaan juga jodoh-jodohan? Ahh, mamaaa."


Arsen mengambil jaket di kamarnya kemudian mengambil kunci motor.


Arsen pergi meninggalkan apartemen dan menuju kantor Mikko. Di jalan, Arsen salip sana-sini tanpa mikir panjang akibatnya.


Arsen marah? Ya, sedikit marah.


Arsen emosi? Ya, lumayan emosi.


Tapi ia mengesampingkan itu semua dan sibuk memikirkan bagaimana dengan Asya nantinya jika dia harus di jodohkan.


Tanpa terasa Arsen tiba di kantor, ia parkir sembarangan dan masuk ke dalam tanpa melepas helm. Bertepatan pula dengan Mikko yang baru mau keluar ruangan.


"Arsen?"


"Apa maksud semuanya tadi?"


Mikko diam sejenak.


"Ayo masuk ruangan om, jangan buat keributan disini."


Arsen menuruti Mikko, mereka berdua pun masuk ke ruangan.


Mikko mendekat setelah melihat Arsen sedang memejamkan mata untuk menetralkan emosi. Ia melepaskan helm Arsen.


"Hhm, denger penjelasan om bentar bisa?"


Arsen memutar badannya, menghadap Mikko.


"Apa yang mau di jelasin?"


Mikko menghela nafas panjang.


"Jadi waktu itu mama mu sempat salah ambil keputusan, dan kesalahannya itu menyebabkan perusahaan temennya rugi besar. Rugi yang benar-benar sangat merugikan. Kerugiannya bisa di taksir lima miliaran."


"Besar bangett!"


"Om juga sempat heran, om yakin sih itu di manipulasi. Tapi kan dulu belum kek sekarang, jadi mama kamu gak bisa buat apa-apa. Mama kamu diskusi sama CEO perusahaan itu dan berakhir dengan keputusan..."


"Keputusan?"


"Kalau gak sanggup bayar ganti kamu harus mau di jodohin sama anaknya yang punya kekurangan banyak. Dia pemabuk, kasar egois dan sejenisnya. Fisiknya? Maaf, dia kecil banget."


Arsen memegang keningnya. "Gak terlalu peduli tentang fisik, karena di jodohin sama Lisa Blackpink juga Arsen gak bakal mau."


"Why?"


"Arsen gak cinta sama itu orang!"


Mikko terdiam.


"Om lanjut ya, waktu kamu masih awal-awal kenal Asya orang itu datang dan nagih janjinya. Om yang tau kamu baru ngerasain kebahagiaan gak mau ganggu kamu."


"Om berusaha untuk janjikan hal yang lain, itu berhasil."


"Om ngapain??"


"Jual mobil buat dp bayar utangnya."


"OM MIKKO!"


"Arsen, itu satu-satunya cara! Mobil om yang itu bisa ke jual sampe satu setengah miliar. Dia juga bilang gak bakal nagih lagi."


Arsen mengacak rambutnya frustasi.


"Terus? Udah gak perlu perjodohan kan?"


"Om pikir emang udah selesai, anak itu juga udah di nikahin sama cowok lain. Tapiiii pernikahan mereka gagal karena si cowok selingkuh karena gak betah sama sikap ceweknya, mereka berdua pun akhirnya bercerai."

__ADS_1


"Dan kemaren, orang itu datang lagi buat nagih janji. Dia juga bilang, mobil bisa di balikin lagi asalkan perjodohan masih di lanjut. Kalau gak mau perjodohan, ganti ruginya di kali lipat."


"Om setuju perjodohan?"


"Mau gimana lagi, Sen? Om juga bingung. Makanya sekarang om kasih tau kamu biar kita bisa diskusikan sama-sama. Nanti siang ada pertemuan antara kamu sama tu cewek, di kaf—"


"No! I don't like that."


"Seribu kali Arsen berfikir, Arsen gak bakal mau di jodohin. Apaan di jodohin? Kuno."


"Om tau kamu gak bakal suka, sebelumnya coba aja ketemu sama cewek itu."


"TERUS ASYA? Arsen gak mau nyakitin hati Asya, segores pun gak mau Arsen torehkan di hatinya. Plis lah, om, masa Arsen sama jandaaa?!!"


"Om bilang coba dulu, siapa tau dia nya juga gak mau."


"Arsen bilang nggak ya nggak!"


"Inget ya, inget. Arsen gak bakal mau nikah sama siapapun kecuali Asya. Kalaupun nyatanya Asya sama cowok lain, Arsen tetep gak akan nikah."


"Ars—"


"Cukup, om."


"Arsen mau kuliah."


◕◕◕


Di bujuk dengan seribu cara sampai harus mengancam banyak hal, Arsen akhirnya luluh. Arsen menemui wanita itu setelah dirinya selesai jam kelas di kampus.


Melihat wanita itu sedang duduk sembari bermain ponsel, Arsen langsung duduk tanpa berkata-kata.


"Gue Arsen, nama lu siapa?" Tanya Arsen cuek.


"Oh, lu Arsen? Kenalin gue Angela." Angela mengulurkan tangannya, tapi Arsen tidak membalas uluran tangannya sama sekali.


"Singkat aja, gue gak mau di jodohin."


"Why?"


"Gue gak bisa menjalin hubungan dengan orang yang bukan gue kenal, gue juga punya tunangan. Gue gak mau matahin hatinya," jawab Arsen tegas tanpa menatap mata Angela.


"Tapi nyokap lu udah buat perjanjian itu, cowok pantang melanggar janji kan?"


Arsen tersenyum smirk, "yang janji nyokap gue bukan gue. Nyokap gue juga cewek, bukan cowok."


Angela tertawa kecil.


"Lu beneran mau nolak cewek secantik gue?"


"Tujuh ribu kali gue bandingin, tetep aja tunangan gue lebih cantik dari lu."


Angela tidak bisa berkata-kata setelah mendengar jawaban Arsen. Baginya cukup menantang situasi ini.


"Gue udah mikirin dari tadi. Karena gue menolak keras perjodohan ini, gue bakal bayar hutang nyokap. Nanti gue transfer dua miliar, sisanya bulan depan."


Uang itu adalah uang tabungan Arsen, uang yang seharusnya untuk persiapan menikah dengan Asya terpaksa Arsen gunakan.


Dari pada di jodohin, lebih baik untuk menunda pernikahannya. Begitu kira-kira yang di pikirkan Arsen.


"Gue gak butuh duit lu, duit gue lebih banyak dari duit lu."


Arsen menatapnya sinis, "lu tau itu. Terus kenapa lu malah mau di jodohin sama gue?"


"Karena lu ganteng," jawab Angela.


"Banyak cowok ganteng di dunia."


"Tapi gue milih lu, gue maunya nikah sama lu dan punya banyak anak sama lu."


"Sorry, gue gak pengen punya anak dari lu, gue juga gak ***** liat lu." Balas Arsen langsung tanpa pikir panjang.


"Bahas ginian bikin gue eneg. Keputusan gue udah bulat, gue gak mau di jodohin sama lu. Gue janji bakal cari cara biar perjodohan bodoh ini batal."


"Gue bakal cegah biar gak batal!!"


◕◕◕


Prang!


"HARUSNYA OM MIKKO GAK PERLU PAKSA ARSEN BUAT KETEMU ORANG GILA MACAM DIA!"


"Sen..."


Prang!


Prang!


"Arsen berhenti! Udah cukup mecahin piringnya!! Nanti tangan kamu yang luka."


Arsen mengatur nafasnya kemudian mencengkram kerah baju Mikko. "Saya gak mau di jodohin!"


"Saya bakal jual semua perusahaan dan satu tanah kosong saya untuk bayar semua hutang mama."


"Jangan bodoh! Dari mana sumber makan mu kalau di jual semua?"


Arsen diam sejenak kemudian melepas kasar cengkramannya.


"AAAAAGGHH! BANGST."


Lagi-lagi Arsen memecahkan piring di rumahnya.


Semua barang yang ada di dekat Arsen, Arsen banting.


Saat ini rumah Arsen bak kapal pecah.


Mikko yang melihatnya cuma bisa diam, mau ngelarang juga gak bisa karena Arsen yang keras kepala sudah kembali. Mikko bingung harus bagaimana sekarang?


"Om janji sama kamu, om bakal cari car—"


"Saya gak perlu janji, saya butuh bukti."


"Sen, ngertiin om juga bisa gak? Om juga bingung harus gimanaa!"


Arsen memejamkan matanya. Ia baru sadar, Mikko tidak seharusnya di jadikan bahan pelampiasan.


Drttt.. Drtt..


"Ponsel kamu bunyi."


"Arsen gak mau angkat."


"Ini dari Asya."


Arsen berdiri kemudian mengambil ponsel. Sebelum diangkat, Arsen mencoba mengatur nafas dan emosinya.


"Huh."


Muncullah muka Asya.


📞 "HAIII, assalamu'alaikum sayang!"


^^^"Wa'alaikumsalam."^^^


📞 "Aih? Kok singkat banget.


Kamu kenapa?"


^^^"Gak kenapa-kenapa,^^^


^^^emang aku kenapa?"^^^


Arsen melihat Asya sedang menatap matanya sambil tersipit-sipit. Menggemaskan, batin Arsen.


📞 "Kamu ada masalah ya?"


^^^"Nggak, sayang."^^^


📞 "Bohong dosa loh."


'Gak gak, yakali aku kasih tau kamu. Ini bakal selesai sebelum kamu pulang, jadi lebih baik kamu gak tau. Maaf Asya, aku bohong.'


^^^"Iyaa, aku gapapa beneran dah."^^^


Arsen berjalan menuju kamarnya.


Mikko yang melihat berhasil bernafas lega, "alhamdulillah pawangnya muncul disaat yang tepat."


Back to kamar Arsen.


📞 "Kamu tumben gak ada spam


aku hari ini, sibuk banget ya?"


^^^"Iya, sayang. Maaf yaa,^^^


^^^maaf bangett."^^^


📞 "No problem, no problem.


Yang penting kamunya baik-baik aja."


Arsen tersenyum melihat Asya tersenyum.


^^^"Di sana jam berapa?"^^^


📞 "Jam lima sore, di sana sekitar jam tiga kan?"


Arsen mengangguk.


^^^"Kamu ngapain aja?^^^


^^^Berburu cogan lagi?"^^^


📞 "Nggaakk, gak boleh sama daddy.


Tadi aja Azril jelalatan langsung di


geplak pelan matanya sama daddy."


^^^"Hahaha, kenapa di geplak?"^^^


📞 "Kata daddy gak boleh jelalatan, jodoh


tu kan cerminan diri sendiri. Jadi kalau misalnya


aku jelalatan nanti kamunya juga jelalatan."


^^^"Ooo, jadi gak jelalatan^^^


^^^lagi dong kamu?"^^^


📞 "Nggak dongg."

__ADS_1


^^^"Yakin gak jelalatan?"^^^


📞 "Hehee, dikit doangg.


Kamunya nggakkan?"


^^^"Nggak, aku kan setia."^^^


📞 "Iya deh iyaa. Maafin Asya ya Arsen,


jelalatannya gak di sengaja kok."


Arsen tersenyum lebar, dirinya gemes melihat ekspresi Asya saat minta maaf. Sejenak, Arsen bisa melupakan masalahnya.


^^^"Minta maaf betul gak tu?"^^^


📞 "Iyya, betul. Gak percaya potong leher Azril."


📞 "HEH!" - Azril.


📞 "Ih shutt diem! Biar Arsen percaya."


📞 "Udah pasti gak percaya,


nuna jelalatan akut!" - Azril.


📞 "Dih ngaco!! Nggak, sayang, nggak.


Demi Allah nggak."


^^^Arsen terkekeh.^^^


^^^"Iya nggak, nggak. Pasti nggak."^^^


📞 "Hihihii."


^^^"Om sama tante mana?"^^^


📞 "Nih, sibuk bucinnn."


Asya memberikan ponselnya pada Zia.


📞 "Kamu juga bucin.


Btw, heloo Arsen!"


^^^"Hai, tantee."^^^


📞 "Makin ganteng aja


calon mantuu." - Zia.


^^^Arsen tersipu.^^^


^^^"Sa ae tante mah, mana Om Aska, tan?"^^^


Zia memindahkan ponsel Asya.


📞 "Konnichiwa." - Aska.


^^^"Wiiii. Udah cocok^^^


^^^jadi orang Jepang, om."^^^


📞 "Om mah cocok jadi orang apa aja." - Aska.


📞 "Jadi urang-aring lebih cocok." - Zia.


📞 "Hahahaa!" - Asya, Azril.


📞 "HEH KETAWA? POTONG UANG JAJAN."


Arsen ikut tertawa melihat twins diam bersamaan.


📞 "Arsen jangan ketawa, nanti om


blacklist dari daftar calon mantu."


^^^"Ngerii-ngeriii."^^^


📞 "Hahaha. Kamu masih sering lembur?"


^^^"Ini di rumah, om."^^^


📞 "Jangan keseringan kerja, jaga kesehatan.


Ngapain kamu kerja rajin-rajin, untuk apa?"


^^^"Untuk memantaskan diri bersanding^^^


^^^dengan putri pengusaha ternama, om."^^^


📞 "KEREENNN. Ntar gue pinjem


kata-katanya, Sen." - Azril.


📞 "Gak kreatip lu, huu norak." - Asya.


📞 "Besibuk!" - Azril.


📞 "Berantem lagi?" - Aska.


📞 "Ndak og, daddy, ndak."


Arsen tertawa kecil.


📞 "Ntar kita bahas dirumah ya, Sen.


Agak menyedihkan virtual gini."


📞 "He astaghfirullahalazim,


yang virtualan nyesek."


Arsen melihat Aska tertawa.


📞 "Om kasih ke Asya lagi nih hpnya."


^^^"Iya, om."^^^


📞 "Hai, Asya comeback."


^^^"Petakilan banget ya, sayang?"^^^


📞 "Hhehe, kewajiban."


Arsen tidak menjawab perkataan Asya, dirinya memandangi Asya yang sedang masuk ke kamar sambil membawa banyak jajan. Asya juga sedang bernyanyi.


📞 "Arsen!"


^^^"Hm?"^^^


📞 "Kok bengong?"


^^^"Nggak lah, aku cuma liatin kamu aja."^^^


📞 "Kenapa-kenapa?


Aku makin cantikkan?"


^^^"Oh ya jelas, kan tunangan ku."^^^


📞 "Mengsalting."


📞 "Sayang, sayang."


^^^"Oiy, kenapa?"^^^


📞 "Mie, mie apa yang bikin seneng?"


^^^"Mie ayam?"^^^


📞 "Salahh."


^^^"Kamu kan demen mie ayam,^^^


^^^kalau bukan mie ayam apa dong?"^^^


📞 "Nyerah ni?"


^^^"Iya, apa?"^^^


📞 "Mie-kirin kamu."


Arsen gantian salting, dia senyum-senyum sambil menatap Asya yang tertawa.


^^^"Udah jago banget ya gombalnya,^^^


^^^belajar dimana hm? Kenapa pas deket^^^


^^^gak pernah ngegombal?"^^^


📞 "Aku yang salting nantii."


Arsen tertawa, ia kembali menatap Asya yang sibuk membuka jajan.


📞 "Kenapa siikk dari tadi liatin gitu?"


^^^"Gak kenapa-kenapa, cuma^^^


^^^bersyukur aja punya kamu."^^^


Asya tersenyum.


📞 "Ku juga begitu."


Mereka berdua saling bertatapan tanpa suara.


^^^"Sya."^^^


^^^"Kamu tau kan, aku cinta banget sama kamu?"^^^


📞 "Yes I know, why?"


^^^"Kamu tau juga kan, gak ada orang^^^


^^^lain di hati aku selain kamu?"^^^


📞 "Yes, I know. Kenapa sih kamu?"


^^^"Nggak kok, gapapa."^^^


^^^"I love u."^^^

__ADS_1


...ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ...


...Hello gaizzeuuu, siap dengan konflik baruu? 😍...


__ADS_2