Barbar Generation

Barbar Generation
Chapter 133


__ADS_3

"A-Arsen, i-i'm sorryy..."


Bisa tebak apa yang terjadi? Sesuatu mengalir dari perutnya dan itu... berwarna merah.


Ya benar! Darah.


Tanpa Arsen sadari sebelumnya, Asya sedang mengelap pisau yang hampir ia gunakan untuk menyiksa Angela tadi.


Dan ketika Asya di tarik, pisau langsung tertancap ke perut Arsen. Dalam kondisi setengah sadar, Asya menyabut pisau dan membuangnya.


"A-Arsen..? Bertahan bentar yaa."


"Mbak mbak, tolong panggilkan ambulance!!"


Beberapa orang yang menonton pun memanggil ambulance sesuai permintaan Asya.


"Arsen, ma-maafin akuu.. aku.. aku..."


Arsen yang kesakitan tersenyum tipis, satu tangannya yang nganggur kini memegang pipi Asya.


"J-jangan n-nyalahin diri k-kamu kalau a-aku mati, ini b-bukan s-salah kamu..."


"Jangan ngomong gituu!!"


Asya menangis.


"K-kalau aku m-mati, aku bakal t-tetep j-jagain kamu d-dari sana. C-cari cowok la-lain yang lebih ng-ngertiin k-kamu."


"No.. no Arsen, no!! Jangan pergii!"


Pletak!


"Woi! Sadarr lu!!"


Asya tersadar dari lamunannya.


"Lu mikir apaan si ajg? Mana tiba-tiba nangis, kerasukan hantu apa luuu?"


"Hantu apaan? Gak ada!"


"Bacrit bah. Luu mikir apaan? Tadi juga lu dengerin apaaa?"


"Em.. itu.. anu.."


Ceklek!


"Asya, Azril, kalian nguping??"


Asya melihat Aska, Zia dan Arsen keluar ruangan. Asya menghampiri Arsen kemudian memeluknya erat.


Semua kebingungan melihat ulah Asya.


"Kamu kenapa, sayang?" Tanya Aska.


Asya diam dan tetap memeluk Arsen, Arsen pun membalas pelukan Asya dengan tujuan menenangkannya.


Cukup lama mereka pelukan, sampai akhirnya Asya melepas sendiri pelukan itu. Arsen merapikan rambut Asya yang sempat berantakan.


"Arsen."


"Iya? Kenapa, hm?"


"Angela siapa?"


Arsen auto tatap Aska, Aska malah menatap Azril.


"Azril sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi kalah cepat. Mon maap lahir batin, Azril cabut dulu. Bye!" Azril kembali ke dapurnya menggoreng nugget.


"Mom, dad, jawab pertanyaan Asya. Angela siapaaa?!!"


"Anak cantiknya mommy tenang dulu ya, sayang. Kita duduk dulu, kita bicarain baik-baik, bicarain pelan-pelan dan bicarain dari hati ke hati."


Mereka menuju ke sofa.


"Jadi tadi kamu nguping kan?" Asya menganggukkan kepala.


"Tadi Azril bilang lagi bicarain pernikahan, jadi Asya nguping. Jelaskan ke Asya, siapa Angela?" Tanya Asya masih santai dan agak mellow.


Aska menghela nafas, ia menatap Arsen dan meminta Arsen yang jelaskan.


"Angela adalah cewek yang mau di jodohin sama aku."


"What?"


"I'm sorry. Aku juga gak bakal terima perjodohan itu kok, aku bakal berusaha buat batalin. Perjodohan itu juga dilakukan untuk bayar hutang mama."


"Kenapa harus di bayar dengan perjodohan?!"


"Aku juga gak tau."


"Asya, kamu tau kan aku sayang sama kamu? Aku gak bakal terima perjodohan itu."


Asya tersenyum tipis, "aku tau kok."


"Ehem ehem.. ini nugget yang Azril goreng Azril kasih ke kalian. Maap rada hangus," kata Azril cengengesan.


"Apinya tu jangan gede-gedee, Azril." Omel Zia.


"Udah kecil mom, kalau apinya gede rumah kita kebakaran."


"Semerdeka lu deh, Zril!"


Azril tertawa.


"Tadi lu bengong kan? Mikirin apa lu? Kenapa tiba-tiba nangiss?" Tanya Azril pada Asya.


"Ah itu... bayangan buruk."


"Bayangan? Bayangan apaa?" Tanya Aska heran.


"Cuma pemikiran bodoh Asya aja tadi. Lanjut ke Angelaa dehh."


Asya menatap Arsen.


"Mau lanjut apalagi? Kamu kan udah nguping, udah denger semuanya juga."


"Tapi ga semuaa karena tadi tiba-tiba mikir yang nggak-nggaakk," jawab Asya.


"Intinya begitu, kamu gak perlu tau lebih jauh biar nanti Arsen sama daddy yang urus." Kata Aska tegas.


"Azril gak diajak nichh??"


"Mau jadi tumbalnya?"


"Oh, tidak terima kasih."


Mereka tertawa melihat Azril.


"Udah ya, jangan nambah beban pikiran kamu. Mommy gak mau kamu kenapa-kenapa lagi," ujar Zia sambil mengelus rambut Asya.


"Iya, mommy. Gak bakal kepikiran kok kalau nantinya Asya terus dikasih tau."


"Iya nanti selalu ngasih tau kamu. Iyakan, daddy?" Aska mengangguk sambil tersenyum.


"Asya tetep pengen denger lengkapnya bolee?"


Aska menatap Arsen.


Arsen tersenyum tipis.


"Om sama tante kan keliatan cape banget, istirahat aja gapapa. Pertanyaannya Asya nanti Arsen yang jawab," kata Arsen tulus.


"Bener ni gapapa?"


"Iya gapapa, om."


"Yaudah kamu urusin nih ya, kucing galaknya. Nanti kalau bawel banget kamu sumpel whiskas aja."


Arsen tertawa kecil, "aman om, nanti di sumpel ikan."


Aska tersenyum kemudian mengajak Zia pergi ke kamar. Keduanya sama-sama masuk ke kamar.


Tersisa Asya, Azril dan Arsen di ruang keluarga. Tapi Azril di situ makan nugget dan malah asik nonton anime.


"Ehh, gue capee duduk meleyot, pengen rebahan. Lu berdua di tinggal bisakan?"


"Bisa kok bisa, santai aja."


"Inget, lu jangan macem-macem, Sen."


"Gila kali gue macem-macem. Gak bakal lah. Udah sono masuk lu!"


"Iye bawel."


Azril ikut pergi.


"Kamu cerita buruan," pinta Asya setelah melihat Azril masuk kamar.


"Mending kamu deh yang cerita, bayangan buruk apa tadi? Kenapa pas aku keluar tiba-tiba peluk aku, hm?"


"Em itu... harus cerita nii?"


"Harus! Gak ada yang boleh di tutup-tutupin."


Asya mengunyah cuilan nugget lalu menghadap ke Arsen setelah selesai.


"Jadi tadikan aku nguping tu, aku denger juga kalau Angela bebal gak mau jauhin kamu. Aku kesel dong, jadi aku masuk ke kamar ganti kostum blablabla dan cabut dari rumah."


"Terus pergi ke?"


"Ke apartemennya Angela."


"Nah abistu? Ngapain kamu di sana?" Tanya Arsen sambil menatap Asya.


"Aku jadi jahat karena nembakin banyak orang terus nembakin Angela jugaa. Mendadak jadi psychopath gituu karena seneng liat muka Angela kesakitann."


"Terus tu kamu datang ngajak aku pergi ke rumah makan buat makan. Di jalan mo nyebrang tu aku ngeyel banget di bilangin aku nuduh kamu selingkuh sama dia. Di situ aku ngeliat juga kamu emosi sama aku, tapi di tahann bangett emosinya."


"Dalam posisi masih ngeyel aku cabut ninggalin kamu, kamu tarik aku lagi dan gak sengaja perut kamu ke tusuk pisau yang aku elus-elus sebelum balik."


"Astaghfirullahalazim, sayang. Akunya matii?"


Asya mengangguk.


"Darahnya banyaaaaaaaa—"


Arsen langsung memeluk Asya tanpa menunggu Asya selesai bicara. Pelukan yang menenangkan.


"Tau pelajaran dari bayangan buruk kamu apa??"


"Gak boleh bawa benda tajam," jawab Asya.


"Terus?"


"Gak boleh emosian."


"Terus?"


"Gak boleh asal tusuk."


"Lagi? Yang paling menonjol?"


"Gak boleh ngeyel di bilangin."


"Ada lagi yang harus banget di hindari?"


"Apaaa? Yang manaa?"


"Gak boleh gegabah."


Asya terdiam.


Arsen melepas pelukan. "Gak boleh banget gegabah. Kamu harus mikir dulu apa yang mau kamu lakukan, jangan asal gitu aja."


"Untungnya tadi cuma bayangan, coba kalau beneran di lakuin? Kamu bisa masuk penjara."


Asya pun memeluk Arsen lagi.

__ADS_1


"Kenapa peluk lagi?"


"Keinget yang terakhir, takut kamu beneran pergi ninggalin aku. Bisa aja kamu jadinya sama Ange—"


"Etss, ngomong apa sih sayang? Gak lah gak bakal. Aku sayang kamu, aku cinta kamu, aku gak mau sama orang lain kecuali kamu. Kamu tau betul hal itukan?"


Asya menganggukkan kepala.


"Inget ya, gak boleh..?"


"Gegabah."


"Juga gak boleh emosian."


"Kalau misalnya kamu mau balas dendam, ajak aku. Biar aku yang jadi tumbalnya nanti."


"Ih ga mauk!" Tolak Asya.


"Kenapa ga mauu?"


"Lebih baik gak balas dendam dari pada nanti kalau di balas aku jadi kehilangan kamu."


◕◕◕


Pukul 02.30


Asya dan Arsen masih melek di ruang keluarga.


Keduanya masih asik menonton drama China yang partnya banyak.


"Kamu gak capek hm? Kok gak mau istirahat?" Tanya Arsen sambil mengelus rambut Asya yang berada di pahanya.


"Eumm... udah tadii, kan kamu yang gendong aku ke kamar. Btww, aku berat gak siii?" Tanya Asya gantian.


"Beratan dosa ku deh agaknya."


Asya terkekeh.


"Kamu kenapa gak mau istirahat duluan? Aku yakin kamu juga kecapean."


"Gak ahh, aku gak mau. Ntar kamunya nonton sendiri," jawab Arsen kalem.


"Ya gapapaaa, aku beranii!"


"Iya iya aku tau kamu berani. Tapi aku yang gak berani biarin kamu sendirian."


Asya cengengesan mendengar hal itu.


Arsen yang posesif sangat menggemaskan!


"Oiya, kamu laper gak?"


"Kamu laper gak?" Tanya Arsen gantian.


"Laper dikit. Alcen mo makan apa biar Aca masakin?" Arsen tertawa sambil menyubit pipi Asya.


"Gemesshh bangett ih ngomongnya gituu!"


Asya nyengir. "Besok kalau jadi nikah aku manggil kamu apa ya? Alcen atau mas?"


"Papi aja, vibesnya unchhhhh!"


Asya tertawa.


"Unchh unchhh. Kamu mau makan apa jadinyaa?"


"Kamu mau apa?"


"Nggak tauuk. Bentar aku check ke dapur." Asya bangkit dari rebahannya lalu pergi menuju dapur. Arsen yang tidak tenang jika Asya sendiri pergi mengikutinya.


"Adaa pasta sama mie, kamu mau apa?"


"Kamu pengen yang mana, sayang?" Tanya Arsen.


"Ih kok tanya aku mulu coba? Kebiasaan, di tanya pasti tanya balik!"


"Aku menyesuaikan kesukaan calon istri."


Asya salting.


"Jadi, calon istriku maunya apa?"


"Diemm! Aku baperrrr!"


Arsen tertawa kecil melihatnya.


"Selain pasta sama mie ada apa lagi, sayang?" Tanya Arsen.


"Ada nasi sih. Mau buat nasgor?"


"Gak usah, udah malem inii."


Asya melihat sekelilingnya dan menemukan kotak bawaan mereka tadi yang isinya oleh-oleh. Asya menghampiri kotak itu dan membukanya.


"Ada banyak makanan ringann, makan ini aja mauu?"


"Nah mending itu dari pada makan mie."


Arsen membantu Asya membawakan beberapa makanan, Asya sendiri bagian membawa minuman.


Mereka kembali nonton drama.


"Selama liburan, negara mana yang paling kamu suka, sayang?" Tanya Arsen.


"Semuaaaaanyaa aku suka. Tapi tetep aja Indonesia paling aku suka," jawab Asya bersemangat.


"Kenapa paling suka Indonesia?"


"Karena ada kamu di Indonesia."


Arsen gantian salting. Dirinya jadi mesem-mesem karena perkataan Asya.


"Pulang liburan jadi jago gombal ya, sayang?" Asya cengengesan.


"Belajar dimanaa hm??"


"Yekk! Udah berapa orang di gombalin?"


"Iii ngaco banget nanyanyaa, emang aku keliatan genit gitu sampe gombalin cowok lain?"


"Loh, ya kali aja kamunya iseng doang."


Asya menatap sinis Arsen sekilas.


"Ndak ndak ndakk."


"Bener?"


"Iyaaa benerr. Kamu tuu, palingan gombalin ke Angela terus makanya Angela ga pengen lepas kamuu!"


"Loh loh. Kenapa jadi ke Angela?"


"Ya karena emang gitu!"


Arsen menatap lekat Asya, ia juga mendekat. "Aku gak pernah gombalin Angela, sayang. Jangan su'udzon dehh."


"Eleh bongak! Mending jujur deh kamuu," kata Asya kesal.


"Iyain."


"Hah?? Ih kan bener! Genit bangett kamu jadi cowoooo!!!"


"Kamu maunya gimana toh? Aku bilang nggak kamunya gak percaya, aku bilang iya kamunya gini. Maunya gimana ayaang?"


Asya kesal.


"Tau ah! Kesel sama kamu!"


Asya beranjak pergi meninggalkan Arsen.


Melihat Asya sudah hampir jauh, Arsen mengejarnya. Ia menarik tangan Asya, Asya pun berbalik karena tarikan Arsen. Seketika itu juga Arsen memegang leher Asya lalu....


Mencium bibirnya.


Percaya lah, Arsen sadar dengan apa yang ia lakukan.


Asya yang di cium terdiam dengan mata yang membulat sempurna efek terkejut. Satu detik setelah tersadar Asya mendorong Arsen.


"Ih kam—"


"Sstt, nanti mommy daddy kamu bangun."


Asya mundur, agak menyeramkan melihat Arsen bertingkah seperti ini. Arsen sendiri malah berjalan maju sambil tertawa kecil.


Sampai akhirnya mentok di dinding.


Arsen mengepit Asya di dinding.


"A-Arsen..."


"Dengerin aku, aku gak pernah gombalin siapa pun semenjak ada kamu di hidup aku. Gak ada wanita mana pun yang bisa masuk ke hati aku setelah kamu ada di dalamnya."


"Kamu selalu ada di hati aku, gak pernah terganti dan gak akan terganti. Mau itu sekarang, besok dan selamanyaa."


"Sampe sini, Nyonya William paham?"


Asya diam dan salting lagi karena Arsen.


"Iyyya paham."


Arsen gemas! Ia mencubit pipi Asya.


"Tadi kamu mikir kemana hm? Pasti mikir yang nggak-nggak?"


"Yy-yya abisnya kamuu... EH IYAAAA FIR—"


"Mommy daddy kamu tidur, sayang. Jangan teriak-teriak atuh ah."


"Kamu sih! Enak banget nyosorrr!" Cibir Asya kesal.


Arsen cengengesan, "gemes aku tuu liatnya. Mana bibir kamu menggoda banget lagi!"


"Iiiiiii!" Asya mendorong Arsen.


"Nyeremin kamuu!! Nanti aku laporin ke daddy kapok!!"


"Gapapaa, laporin aja. Paling abistu kita langsung di suruh nikah. Kan asikk!"


"Wiiii, mengacooooooooo!!"


"Lagi pula nanti sebelum kamu lapor ke mereka, aku yang lapor duluan."


◕◕◕


05.15


"Liat lah mereka berdua, macem betulan gak bisa di pisah. Bisa-bisanya tidur berdua di sofa," ledek Zia.


Aska tertawa mendengarnya.


"Kayaknya mereka ketiduran."


"Kamu bangunin gih, biar aku ke dapur bikin sarapan."


"Kan ada pembantu. Gak usah nyape-nyapein badan, sayang."


"Kalau aku gak gerak nanti sekalinya gerak jadi encokkk."


"Wiww, padahal masih muda."


Zia menatap sinis Aska.


"Meledek banget! Udah ah, byeee."


Zia pun pergi ke dapur.


Aska menghampiri Arsen dan Asya. Sebelum membangunkan, Aska memfotokannya.

__ADS_1


"Ehm ehm, woi woiiii ada pesawat jett jatohhh!!"


"Hah?! Kaburrr kaburrr!"


Aska terkekeh melihat responnya Asya yang langsung berlari tak tentu arah. Sedangkan Arsen, ia diam masih mencoba ngumpulin nyawa.


"Ih manaaa pesawatnyaaa?! Daddy bongak!!" Aska cengengesan.


"Maaf ya cantiknya daddyy. Kalau gak gitu payah kamu bangunnya. Pada bangun gih, sholat mandii terus nanti sarapan."


"Iya, daddy."


"Iya, om."


"Azril udah bangun belom, dad?"


"Udah lahh. Emang lu ngebooo!"


Azril tiba-tiba muncul macam setan.


"Dih bacott."


"Udah ah sana sholat buruan."


Arsen menoleh ke arah Asya.


"Ape?"


"Mau di imamin gak?"


"Oh tidak, jangan sekarang. Saya tidak kuat."


Asya langsung pergi ke kamarnya meninggalkan Arsen. Mereka yang di ruang keluarga tertawa melihat Asya.


"Arsen mandi di kamar yang biasa yaa?"


"Iya, om. Arsen mau mandi dulu ya, om." Aska mengangguk.


Arsen pun pergi meninggalkan ruang keluarga.


"Daddy kok gak ngamok mereka tidur berduaann?!"


"Tidurnya di beda sofa, masih jaga jarak. Jadi masih aman," jawab Aska.


"Kalau di satu sofa berduaa?"


"Paling Arsen daddy gebukin."


Azril tertawa kecil.


"Daddy mau nyamperin mommy mu dulu ya. Kamu tolong beresin ini mejanya biar bersih dikit."


"Oke, daddyy."


Aska menuju dapur.


"Kenapa kek kebingungan gitu?"


"Ini makanan kok udah banyak kurangnya?"


"Mungkin Arsen sama Asya yang makan. Pasti begadang tuh mereka bedua."


"Kebiasaan bangett. Padahal udah sering di bilangin, begadang gak baik buat kesehatan."


"Kamu dulu gimana? Emang gak gitu?"


Zia berfikir sejenak.


"Nggak deh agaknya, aku kan anak baik."


"Iyain deh iyain."


Zia cengengesan.


"Aku bisa bantu apa ni?" Tanya Aska.


"Emm, potong-potong bawang gitu mau ay?"


"Apa aja bisa."


"Yaudah tuh potong-potonginn."


Aska mengambil pisau dan memotong-motong sesuai arahan Zia.


"Kasus Arsen gimana?" Tanya Zia.


"Paling nggak besok aku urus."


"Besok?"


"Iya, besok. Kalau sekarang gak bisa, mau urus perusahaan dulu. Kan kasian kalau Zai sama Bang Zean jadi kerepotan mulu."


Zia menganggukkan kepala setuju.


"Ntar aku ikut!"


"Ikut apa?"


"Ikutt urusss dong."


"Kamu di rumah ajaa udah, jangan macem-macem."


"Bosenn tau ah di rumah muluu. Kalau gak boleh ikut kamu aku ke ZiCF."


"Ikut aku aja mendingan, oke, ikut aku."


"Nah gitu dong!"


Zia tersenyum menggoda.


"Pinter banget ngebujuk."


Keduanya masih sibuk berkutat di dapur, tapi gak lama kemudian Aska terganti dengan Asya. Aska auto bergabung dengan para pria muda.


Sejam kurang terlewati, menu sarapan pun siap.


"Makaaaaaaaaaannnnnnnn."


"Tuman betul Asya ni!"


Asya nyengir.


"Mari makan pemirsah."


Aska, Azril dan Arsen datang ke meja makan. Zia dan Asya membantu mereka meletakkan nasi dan lauknya ke piring. Setelah itu mereka makan bersama.


"Kalian bertiga kuliah nanti?" Tanya Aska di sela-sela sarapan.


"Kuliah, daddy."


"Kuliah, om."


"Barengan?"


"Azril sama Nai."


"Udah rindu berat agaknya si Azril," ledek Arsen.


"Beuhh, berat bangett."


"Alay lu bucin!" Cibir Asya.


"Suka gak mirror dia, minta di tampar."


Asya nyengir lagi.


"Asya, Arsen, kalian berdua tadi malam begadangkan?" Tanya Zia sinis.


"Hehe iya, tante. Gak bisa tidur."


"Pasti Asya yang ajak begadang?"


"Iy—"


"Nggak kok, tante. Arsen yang ngajak," kata Arsen memotong jawaban Asya.


"Haaa, Arsen bongak! Impasnya gini mommy, kami bedua sama-sama minat begadang. Kan sesekali gapapaaa, momm."


"Nanti keterusan, sayang. Udah! Jangan diulangi."


"Siappp, bosss."


Mereka lanjut makan.


"Oiya, om, tantee."


"Iya kenapa?"


"Emm anuu.. sebelumnya mon maap lahir batin ya inii."


"Kenapa? Ada apa?" Tanya Aska heran.


"Arsen ngelakuinnya sangat sadar kok, jadi kalau mau marahin Arsen sampe mampusss, Arsen gapapa."


Asya auto menatap Arsen.


'Bujug busett! Beneran lapor duluaaannn."


"Ada apa, Arsen? Jangan bikin om penasaran," kata Aska gak sabar.


"Arsen semalam nyium bibir Asya."


Uhuk uhuk!


Zia yang baru saja beres minum jadi tersedak.


"Kapaann?" Tanya Zia.


"Tadi malam, tante."


Aska dan Zia melipat tangan di dada dan menatap Arsen tajam.


"E.. em.. seperti yang Arsen bilang tadi, mau di marahin sampe mampusss juga gapapaa. Ttapi jangan natap gitu, Arsen jadi gemetaran."


Asya dan Azril hampir saja tertawa mendengar kalimat terakhir, untungnya bisa di tahan.


"Om? Tante?"


"Marahin aja gapapa sumpah, tapi jangan sampe nyuruh Arsen jauhin Asya apalagi suruh putus tunangan. Arsen beneran gak ma—"


"Yang nyuruh putus siapaa?" Tanya Aska menghentikan ucapan Arsen.


"Eng.. nggak ada sih, om. Hehe."


"Reaksi Asya kemaren gimana?" Tanya Zia gantian.


"Asya diem aja, tante."


Aska dan Zia pun saling tatap lima menit.


Setelah itu mereka berdua mengangguk.


'Apa maksud nieee?!' pikir Asya curiga.


"Gak ada pilihan lain sih... besok nikah."


"ALLAHU AKBAR!! SERIOUSLY, MOMMY, DADDYY???" Asya terkejut, sangat-sangat terkejut.


Melihat mommy daddy nya diam, Asya menatap Arsen. Arsen tersenyum senang.


"Kan apa ku bilang besok kita nikaaahhh!"


"Tau ginii dari kemaren aku cium kamuuu."


"Om smekdon nanti kamu, Sen."


"Hehehehe, becanda om becanda."

__ADS_1


__ADS_2