
Dua malam setelah tergoresnya paha Arsen.
Pagi kembali tiba, Asya dan yang lainnya akan kembali ke sekolah. Arsen memaksakan dirinya untuk ikut sekolah.
Arsen benar-benar tidak bisa meninggalkan Asya setelah kejadian itu. Bahkan kemarin selama masih di rawat, ketika Asya menjenguknya, ia akan menahan Asya selama mungkin untuk terus berada disisinya.
Jika Asya pulang, Arsen juga membayar bodyguard lain untuk menjaga Asya. Tentunya atas perizinan Aska.
"Lu beneran gapapa, Sen?" Tanya Haikal.
Mereka sudah berada di sekolah.
"Kagak apa-apaa, luka kecil doangg."
"Kecil palalu petak." Arsen tertawa melihat Asya mengomel, memang dari tadi Asya ngomel gara-gara Arsen yang ngeyel.
"Masih mager sekolah guee." Keluh Azril.
"Ya samaa, otak gue nolakk bangett." Kata Dino.
"Serasa eneg terima berbagai macam materi," sahut Racksa.
"Dihh, lebay lu pada. Tenang ajaa, bentar lagi juga tamat kok." Ujar Haikal.
"Iyaa, Cal, tamat. Tapikan bakal lanjut lagii ke kuliahhh," jawab Azril.
"Kagak usah kuliah kalau gitu," sahut Ara.
"Di jadiin ayam geprek gue." Mereka tertawa.
"Itu Tara, kan?"
"Wait, kok dia.. keliatan cantik?" Tanya Dino.
'Fake nerd beneran, anjj! Jangan bilang dia juga anggota Darren, teruss Fauzi juga?!' Arsen berfikir keras untuk memecahkan teori di otaknya.
"Taraa!!"
"Ehh, Asyaa. Lu gapapa kan kemarenn?"
"Lu kemana tiba-tiba ngilang?!" Tanya Haikal.
"Oh itu, gue mo muntah liat gituan. Jadi langsung keluarr, ketemu taksi langsung pergi." Mereka berohria.
"Ada yang anehh," Asya tersadar.
"Lu dulu ngomong aku-kamu. Kenapa sekarang..?"
"Gue curiga lu dalang dari semua ini." Ujar Ara blak-blakan.
"Hah? Guee? Oh jelas bukanlah. Gue ke kelas dulu," Tara pergi.
"Tar, kelas lu kan..."
"Gue pindahh, ke IPA dua."
Mereka terus memandang Tara yang pergi.
"Fake nerd, anj!" Umpat Asya kesal.
"Sumpah demi apapun, gue nyesel baik sama cewek sekarang."
Ara mendekati Asya, "gue?"
Asya menatap Ara yang sedang menatapnya dengan tatapan melas.
"Pengecualian buat lu sama Yuna peak."
"Oiyaa, Yuna mana?"
"Agak telat diaa, kecapekan atau kesiangan maybe." Jawab Dino.
"Lohh, kesiangan kenapa?" Tanya Azril.
"Abis tempat nenek katanya tadi malem."
"Cieeee.. yang tau apapun tentang Yunaaa."
"Berisik lu padaa! Skip tentang gue ama Yuna, kejadian semalem beneran Tara pelakunya??"
"Feeling gue mengatakan begitu. Tapi gue gak yakin juga lahh," jawab Haikal.
"Gue udah ngerasa gak enak dari awal sebenarnya, cuma ya gimanaaa kan? Dia temen cewek pertama Asya di SMA." Sahut Azril.
"Sen, lu mikirin apa? Lu bicara serius sama daddy, bicarain apaa?" Tanya Azril.
"Bisnis."
"Dia juga sedikit mencurigakan. Ada yang lu sembunyiin, ya?!" Tanya Dino curiga, Arsen membalasnya dengan gelengan kepala.
"Dari awal dia deketin Asya juga gue curiga karena dia jarang buat nyamperin cewek duluann."
"Kenapa gue b aja pas di deketin?" Tanya Asya heran.
"Insting lu ilang."
Asya langsung menatap datar Ara yang cengengesan.
"Dahlah, males bekawan juga gue lama-lamaa."
"Heh jangan lahh, gue mau bekawan lagi karena ada lu loh ini." Asya tersenyum menggoda menatap Ara.
"Gelayy!" Asya terkekeh.
"Gue ke kelas dulu deh gaiss," pamit Asya.
"Jangan ngulah lagi kau, wahai manusia!" Asya mengangguk sambil cengengesan.
"Kajja."
Asya, Arsen, dan Racksa pergi menuju kelasnya. Sedangkan Azril, Dino, Haikal, dan Ara masuk ke kelas mereka sendiri.
"Beneran dia pelakunya?" Tanya Dino masih heran. Mereka bersandar di mejanya Azril.
"Pasti di bantu orang kalau pun bener iya," jawab Haikal.
"Fauzi?"
"Motifnya apaan kalau emang iya?!" Tanya Haikal.
"Asya nolak dia coy, bisa aja kan?"
"Bener-bener. Tapi masa iya abdi negara ngelakuin hal kek gitu." Ujar Dino.
"Siapa Fauzi? Siapa abdi negara?" Tanya Ara.
"Ada dulu polisi yang demen sama Asyaa, tapi ya Asya tolak." Ara berohria.
"Assalamu'alaikum, selamat pagii!" Mereka menoleh.
"Wa'alaikumsalam, pagi jugaa."
__ADS_1
"Ehhh, haiii. Btw, Zrill, gue bawain ini buat lu."
Azril menerimanya, "apa ini?"
"Buka aja." Azril membukanya.
"Sarapan pagi, Din?"
Adinda mengangguk, "makanlah."
"Tapi gue udah makan. Ino inoo, mau kagak lu?"
"Gue masih kenyang. Kerasukan jin ni anak manggil gue Ino." Azril cengengesan.
"Yaudah ntar untuk makan siang ajaa."
"Oo gituu, okelah. Thank you yaa," Adinda mengangguk.
"Ngapain aja kalian selama bolos?"
"Ya biasalah, ada tugas gak selama kami bolos?" Tanya Azril gantian.
"Gak ada kokk." Mereka mengangguk paham.
Beberapa menit kemudian, Alex masuk seorang diri sambil bermain game.
"Alex?"
"Oh, hai." Sapa Alex sambil tersenyum.
Jarang banget Alex senyum!
Bukannya menghampiri Adinda, Alex malah menghampiri Ara.
"Siswi baru, ya?" Goda nya sambil duduk di meja Ara. Ara diam tidak menjawab.
"Heloo??"
Haikal hendak bergerak ketika Alex menyentuh pipi Ara, tetapi Dino menahannya.
"Go away!" Alex tertawa mendengarnya.
"Manis banget sih lu."
Plakk!!
Ara menampar Alex dengan teramat sangat keras.
"Lu tau apa yang gue benci di dunia ini?" Alex menatapnya tanpa menjawab.
"Manusia kayak lu." Ara menendang mejanya, Alex yang bersandar pun terjatuh.
Ara yang sekarang ditatap satu kelas memilih keluar. Meskipun didepannya tadi ada guru yang akan masuk, Ara tidak perduli, ia tetap pergi.
"Gue mau nyusul Ara, byee." Haikal berlari mengejarnya. Dino dan Azril pun juga ikut pergi.
Alex yang masih jatuh tersenyum. Ntah apa yang merasuki, ada rasa aneh dalam dirinya.
"Lexx." Alex menoleh ke arah Adinda yang mengulurkan tangan. Alex malah berdiri sendiri dan duduk di kursi sebelahnya Ara.
Ara yang keluar kelas, sekarang sedang berjalan santai menuju belakang sekolah. Tempatnya tenang tiap hari adalah kesunyian belakang sekolah.
"Ra, Ara?"
Haikal berhasil mengejar lalu menahan tangannya, "tenang tenang."
"Itu siapaaa sih? Kagak ada sopannya apa gimanaa?!"
"Merinding gue di sentuh diaa!"
"Dia sentuh apa? Pipi lu?" Ara mengangguk pelan, Haikal mendekat perlahan.
"L-lu mau ngapain?" Haikal tidak menjawab, ia mengelus pipi Ara lembut sambil tersenyum.
"Easssw, capek gue nyarinya ternyata disini!" Omel Azril kesal.
Seketika Ara menjauh dari Haikal. Ara salah tingkah hanya karena pipinya dipegang!
"Baru masuk mau bolos kah?" Tanya Dino.
"Kuylahh, paling juga udah di absen tadi." Ajak Azril.
"Lu bedua ngapain ikut?"
"Kita kan paket komplit, Cal. Lu pergi, gue sama Dino ikutan." Azril nyengir.
"Okee, karena bolos. Mari kita cabut ke kantin!" Dino menggandeng Azril dan pergi duluan ke kantin.
"Ayo, Ra."
"Oh, iyaaa." Ara mengikuti mereka bertiga.
"Hehh lu bedua lepas gandengan napaa, geli banget liatnya anying." Dino dan Azril terkekeh.
"Iri bilangg bro, hahahaaa!"
"Mereng semua ya mereka?!" Tanya Haikal kesal, Ara tertawa mendengarnya.
Di kantin, mereka membeli makanan ringan seperti ciki-ciki. Kantin sekolah memang menyediakan banyak makanan termasuk makanan ringan.
"Makin kesini makin aneh gasi?" Tanya Dino tiba-tiba. Mereka menoleh ke Dino.
"Aneh apanya?" Tanya Ara.
"Tara, tadi pagi tiba-tiba berubah. Alex juga, kenapa dia malah samperin Ara bukannya Adinda?"
"Gue juga bingung si itu. Kenapa gak samperin Adinda? Biasanya dia samperin Dinda buat kecup kening atau apalah itu. Dan tadi jugaa, Alex senyum. Jarang kan dia senyum?" Mereka mengangguk.
"Jarang bangett. Kalau sama Dinda mungkin sering."
"Alex Alex itu pacarnya Dinda?" Mereka mengangguk.
Beberapa jam kemudian..
Ini waktunya istirahat.
"Wegeeeee, lu pada boloskan tadi? Tega banget kagak ngajakkk!" Cibir Racksa. Ia datang bersama dengan Arsen dan Asya.
"Ngapain ngajak, rusuh ada lu pada." Jawab Dino.
"Anak ngendorse!" Mereka terkekeh.
"Kami bolos ngikutin Ara."
"Ngikutin Ara??" Beo Arsen.
"Ara tadi digodain Alex."
"HAHH?! Mau dibanting berapa kali tu anak?!" Asya beranjak pergi, Haikal dan Ara langsung memegang tangannya bersamaan.
Ara menatap tangan Haikal yang berada di atas tangannya. Jujur, Ara degdegan sekarang.
__ADS_1
"Udah dihajar Ara tadii, duduk aja lu. Jangan cari ribut lagi."
"Iyakah? Daebak!"
"Kalian bedua emang di takdirkan bersama. Sama sama gilaknyaa, sama sama barbarnyaaa, sama sama nothep akhlak." Ujar Azril.
"Yu bacot!" Azril malah tersenyum lebar.
"Kronologi nya gimana?" Tanya Arsen sambil mengambil alih jajan dari tangan Azril.
Azril langsung menatap sinis Arsen. Arsen pura-pura gak tau.
"Tadi Alex masuk langsung nyamperin Ara, ngegoda Ara. Abitu Ara ngamuk, Alex di tampar dengan kekuatan singa abistu tempat sandaran Alex di tendang. Alexnya jatuh abistu Ara pergi kami ikuti." Jelas Dino.
"Abistu, abistuuu, macem anak teka yang jelasinn." Cibir Haikal.
"Gue emang masi teka."
"Ayo pulangkan Dino! Dia tersesat!" Mereka ingin mengangkat Dino.
"Ehh no no, jangannn asuk. Ntar kalyan keilangan makhluk tertamvan seantero SMA Super."
"Najiss bangett anying." Dino terkekeh.
"Jadi tiba-tiba Alex langsung nyamperin Ara?" Mereka mengangguk.
Asya menatap heran Arsen, "why?"
"Alex baru masuk kan ya? Dia gak se-friendly itu sama cewek yang belum dikenal. Menurut gue, agak aneh aja kalau dia tiba-tiba godain Ara."
"Makin aneh gak si? Tara aneh, Alex juga."
"Jangan jangann...."
"Gue pergi, bye!" Mereka menatap Asya.
"Hehhh, lu mau kemanaaa?!"
"Sholat dhuha, takut tiba-tiba matii." Jawab Asya sambil teriak.
"Astaghfirullah."
"Ayo sholat juga!!"
Di sisi lain, Alex sedang menikmati udara dari rooftop.
"Lex." Alex menoleh sekilas lalu kembali menatap awan.
"Lex, kamu kenapa tiba-tiba samperin Ara gituu?!"
Alex diam tidak menjawab.
"Lex, jawabb akuu."
"Diem, Dinda!" Adinda terdiam.
"Apa rasanya liat gue sama Ara berduaan? Sakit kan?"
"Gitu juga sama gue. Sakit woiii!"
"Lu pikir selama ini gue gak tau kalau lu sering keluar apartemen nemuin cowok diem-diem. Gue maklumi kalau lu ketemu Asya Azril, tapi lu bukan nemuin mereka!"
"Percuma selama ini gue gak ngerespon cewek lain kalau lu nya aja GATEL banget sama cowok lain!"
Adinda masih terdiam.
"Tentang hari itu? Hari dimana lu ciduk gue? Itu gue sengaja, gue gak berbuat sejauh itu lah sama orang yang udah pernah gue buang!"
"Gue izinin lu keluar waktu itu bukan karena takut di laporin, gue cuma pura-pura takut. Awalnya gue emang izinin lu buat pergi karena gue juga bakal pergi."
"Sengaja.. sengaja kenapaa? Kamu gak tau sakitnya gimana?"
Masih sambil berpegangan di pembatas rooftop, Alex tersenyum miring. "Jangan merasa sok paling tersakiti disini."
"Lu cerita sama orang-orang buruknya gue doang. Lu gak pernah cerita sama orang-orang tentang kebaikan gue. Lo lupa? Siapa yang biayain pengobatan ortu lu? Siapa yang bayarin sekolah lu? SIAPAAA?? LO LUPA, KANN?!!"
"Bukan gue mau ngungkit apa yang gue lakuin. Tapi kek.. makin lama lu makin giring opini orang kalau gue beneran sejahat ituu."
"Ngomongin gimana sakitnya?"
"Helloww, lu sering nemuin cowok lain bahkan sampe nginep. Sedangkan gue? Gue tiap hari berusaha jaga jarak sama cewek lain.. DEMI NGEHARGAIN LU SEBAGAI PASANGAN GUAAA!"
"Jadii, kamu balas dendam dengan cara deket sama Ara?"
Alex tersenyum smirk, "why? Gak suka? Mau gue kasih tau hal yang lain?"
"Asya, dia cantik. Bahkan, sangat-sangat cantik. Meskipun suka buat ulah dia tanggung jawab atas ulahnya."
"Yuna, Aryuna. Dia juga cantik, dia punya tata krama yang bagus. Ara? Dia manisss, bahkan sangatt manisss. Tatapan matanya ngad–"
"Cukup, Lex!"
"Kenapaa? Gue belum siap."
"Cukup! Kamu udah banyak nyakitin aku!"
"Kapan? Kapan gue nyakitin lu?" Tanya Alex sambil tertawa receh.
"Jangan pura-pura lupaa."
"Apa pernah gue main tangan? Nggakkan? Lu pernah ngobatin lukaa di depan Arsen karenaa lu di gebukin sama jallang di bar, teruss yang lu salahin siapa? Ya jelas gue."
"Iyakan? Gue juga tau itu, setiap lu berantem dan ada luka lebam yang di kambing hitamkan selalu guee." Alex terdiam sejenak.
"Gue suka sama lu serius, tapi keliatannya lu cuma jadiin gue sumber uang doang."
"Gue yang harusnya protagonis, jadi kebagian antagonis karena banyak yang salah paham."
"Masalah posesif? Gue emang posesif dalam segala hal."
"Gue jadi antagonis juga karena emosian. Gue selalu bertengkar sama Arsen karena emosi gue yang susah buat dikendalikan. Gue jahat ke Asya Azril juga karena gue cemburuuu lu deket banget sama Azril!"
"Gue merasa lebih jahat dan lebih emosian semenjak nyokap gila jadi pelakor. Lu kira selama ini gue bangga jadi anak pelakor?"
"Nggak anjirrr nggak! Gue juga seorang anak. Jelas selama ini gue tau gimana susahnya Arsen hidup tanpa ayah tanpa ibu. Susah."
"Gue mo nolong Arsen tapi nyokap gue, nyokap gue larang keras. Yang selama ini nyakitin Arsen itu nyokap gue, bukan gue."
"Gue mau memperbaiki hubungan sama Arsen jadi gabisaa karena nyokap gue, karena emosi gue dan karena lu juga yang selalu cerita keburukan gue."
"Oiyaa, masalah keperdulian. Gue peduli banget sama lu, Dinda. Sangatt peduli. Cuma kesibukan gue buat nyari duit selama inii jadi bikin gue gak bisa ada terus di samping lu."
"Gue tau, disaat gue sibuk lu juga sibuk. Sibuk jadi sugar baby."
"Ngg–"
"Orang jahat bisa aja awalnya memang jahat. Orang jahat juga bisa orang baik yang dipaksa untuk jahat. Dan gue jadi jahat, karena alasan kedua."
"Garis bawahi, gue jahat karena dipaksa untuk jahat."
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
__ADS_1
Suatu plot twist >_<