Barbar Generation

Barbar Generation
Suho or Seojun


__ADS_3

"For you information. Gue gak bohong tentang apa yang gue bicarakan tadi"


Asya menatap lekat Arsen yang mengemudi, "sakit lu ya??"


"Astaghfirullah" Asya terkekeh.


"Asya itu anti banting, kalau lu pake kacamata sepuluh dimensi lu bakal liat dinding tebell banget yang ngebentengin diri gue biar gak baper"


"Gue bakal runtuhin tuh dinding"


"Pakboy cap biawak emang"


"Gue udah tobatt, syaaa"


Di belakang mobil mereka, Racksa menyetir dengan santai.


"Zril, menurut lu Asya bagus sama Arsen atau sama kakaknya Tara?"


"Gue gak bisa milih, gue gak bisa ngeship. Mana yang buat Asya bahagia ya gue dukung, tapi kalau ada yang buat Asya ngeluarin setetes air mata ataupun setetes darah gue gak bakal tinggal diam"


"Wow, aku jadi ragu kamu yang adekan" sahut Tara di belakang.


"Bener, tar. Gue juga gak yakin dia adekan" Azril terkekeh pelan.


"Gue emang adekan tapi gue berperan sebagai abangan"


"Wagilasiii, jadi pengen punya adek gue"


"Suruh tante bikin"


"Gakk lah, gue aja yang bikin besok"


"Anjirrr lo" Racksa tertawa.


"Menurut lo gimana? Asya sama siapa?"


"Gue lempar pertanyaan ke Tara, menurut lu cocok sama siapa, tar?"


"Menurut aku sih Asya cocok sama siapa aja, Asya cantik banget sih jadinya rebutan"


"Cantik doang kelakuan kayak singa" Racksa dan Tara tertawa.


"Kalau kamu gimana, sa?"


"Gue sih sebenernya ngeship Asya sama abang lo, Asya yang kayak gitu butuh pendamping yang dewasa dan tegas menurut gue. Kalau sama Arsen, gue malah takut dia cuma dijadiin korbannya Arsen doang"


"Gue juga takut itu sih, kalau nyatanya beneran cuma korbannya Arsen gue gak bakal tinggal diam. Dan gue yakin Arsen gak bakal tenang karena jadi buronan gue, Dino, Haikal, Alvin sama Shaka"


"Bener-bener dijaga kayak ratu dia"


"Heemm, keknya enak banget jadi tu anak" jawab Azril.


"Kamu tukeran aja gih sama Asya" sahut Tara.


"Azril jadi transgender"


"Auto di geplak bokap nyokap gue" Mereka terkekeh.


Satu menit setelahnya mereka tiba di sekolah. Tentunya jadi pusat perhatian karena dua mobil elite masuk bersamaan.


Tidak, bukan cuma dua tapi tiga. Satunya mobil Alex, dia keluar bersama dengan Adinda.


Arsen menatap Adinda, tak bisa dipungkiri dia merindukan Adinda. Rindu segala waktunya dengan Adinda.


Yeahh, mereka menjauh setelah Adinda menolak mereka satu tim.


"Zrill, ayok!" Ajak Tara. Azril tersadar lalu keluar dari mobil Racksa.


Azril melihat Arsen membukakan pintu untuk Asya. Dia tertawa geli melihat tatapan yang diberikan Asya untuk Arsen.


Asya menghampiri mereka, "lu ngapa ketawa?"


"Lucu liat lu natap Arsen, sinis banget"


"Gue serem semobil sama dia, feel nya horor" Racksa dan Azril tertawa.


"Nyokap lu ngidam apa sih, Zril? Kenapa kembaran lo gini?"


"Bokap bilang ngidam sate padang"


"Gak ada yang salah sama sate padang, gak usah disalahin" cibir Asya.


"Iye iyee"


"Duhh, mendadak pengen sate padang"

__ADS_1


"Lu ngidam, sya?"


"Anjiiirrrr pengen ditabokkk, ngidam darimana begoooo"


"Kali aja, kan"


"Au ahh, lu pada stresss. Ayok ta duluan, gue gak mau ketularan gila" Asya dan Tara pergi.


Racksa, Azril dan Arsen menggelengkan kepala sambil tertawa. "Kocak banget tu anak"


"Lu beneran demen sama Asya?" tanya Azril.


"Hmm??"


"Oh iya, gue lupa bilang. Ntar kita rapat osis" Arsen pergi.


"Gue nanya dikacanginn"


"Ah cemenn!! Btw, gue sama lu kan beda kelas, jadi gue duluan. Kelas gue lebih jauh" Azril mengangguk, Racksa pun pergi menyusul Arsen.


Azril melanjutkan jalannya menuju kelas. Ia masuk kelas dengan santai, rutinitasnya setiap pagi adalah melihat Adinda sebelum duduk ke tempatnya.


Alex tentunya tau, bahkan tiap hari dia sadar kalau sang kekasih ditatap pria lain. Alex diam, tapi kali ini, Alex tidak akan tinggal diam.


Dia bangkit dari duduk nya lalu menendang kursi Azril, Azril melihat Alex dengan tatapan dingin. Lebih dingin dari tatapan Alex.


Sisi lain Azril yang hangat adalah ini. Jika kegiatannya terganggu, tatapan dan aura yang terpancar akan sangat berbeda.


Dan dia baru saja di ganggu sekarang, "lu mau apa?!"


"Gue yang harusnya nanya, lo mau apa? Kenapa tiap hari liatin pacar gue, lo cari ribut" Azril tersenyum smirk.


Dia bangkit dari duduknya, tanpa babibu Arsen menghadiahkan pukulan ke wajah Alex. Alex terjatuh hanya karena satu pukulan Arsen.


"Azrill!!"


Azril menoleh sekilas kebelakang, ternyata Viona.


"Ssst.. jangan campuri urusan gue"


Viona tak bisa berkata-kata, Arsen melepas baju putihnya. "Ayok bangun. Lu cari ribut kan tadi?!"


Alex yang ditantang langsung bangun, ia ingin melayangkan pukulannya namun gagal.


"Apa-apaan kalian ini?! Masih pagi! Jangan bikin keributannn!!"


"Anda mau saya keluarkan?" Ica muncul.


Alex tersenyum sinis, "jangan ikut campur. Anda cuma guru biasa disini, mana bisa anda mengeluarkan saya dari sini"


Ica membalas senyum sinis Alex, "ohh gitu ya? Jadi mau saya buktikan sekarang?"


Alex menatap mata Ica, Ica membalas dengan tatapan menantang. "Jangan sok karena bokap lo kepsek disini, cuma kepsek broo. Bokap lo bisa dipecat kapan pun kalau lo berulah tiap hari"


Sedikit aneh, guru bicara dengan bahasa lo-gue? Sepertinya hanya Ica guru yang berbicara begitu pada muridnya.


Mendengar ucapan Ica Alex diam, dia mendekat ke Azril. "Urusan kita belum selesai" Alex pergi ke kursinya.


Azril tersenyum sinis, "ayok selesaikan sekarang!!"


"Azrill!!!"


▪▪▪


Sekarang jam istirahat, Asya sendirian di kantin karena Tara sedang ke kamar mandi.


Asya duduk santai sambil mendengar musik nya dari headphone. Asya baru beli headphone yang sama persis dengan punya Suho, True Beauty.


Tok tok..


Melihat ada tangan di depan matanya, Asya mendongak.


"Mau apaa?" Bukannya menjawab Arsen malah meletakkan susu kotak kesukaan Asya di meja.


"For you"


"Suap?"


"Suap apa? Suudzon"


"Aishh.. mau apa lu??"


"Tanding basket, gue di tantang sama Jun di lapangan" Asya menatap Arsen.


"Nggak usahh betingkah"

__ADS_1


Arsen duduk di meja sambil menatap Asya, "nggak betingkah. Cuma mau nunjukkin kalau lu bukan cewek pelampiasan"


"Gimana-gimana???" Arsen tidak menjawab, dia langsung pergi.


"Ya Allah, tu anak bener-bener"


"Arsen ditantang karena tadi Jun bilang Arsen cuma manfaatin lu atau mungkin cuma jadiin lu pelampiasan. Arsen mau buktiin kalau lo bukan pelampiasan dia"


Asya menatap Irgi, "Arsen beneran suka sama lu sya dia gak main-main kali ini"


"Aaaaa bodo amat bodo amattt, pergi!!"


"Astaga, galak benerr lu"


"Gue pergi deh ya"


"Ehh tungguu!" Irgi berbalik. Asya beranjak membeli minuman untuk Arsen.


"Nah, kasih Arsen. Gue gak mau disana, bilang ke dia jangan berantem dan jangan terluka. Jangan lupa buat rapat" Irgi tersenyum.


"Oke kakak ipar, gue pergi"


"Kakak ipar udel nya soek" Asya duduk lagi.


"Sedikit anehh, kenapa gue beliin minum tadi??"


"Ahhh bodo amattt"


"Syaaa!!" Asya kembali melepas headphone nya.


"Rapat jam berapa?" tanya Viona.


"Siap istirahat. Ohiya vi, si Azril--"


"Di hukum, dia ngebantah buk Ica tadi. Gue heran sih sumpah, buk Ica punya dekingan apa untuk ngelawan Alex? Setau gue guru cewek yang berani lawan Alex cuma ibu itu"


"Gue gak tau dekingan beliau siapa, tapi gue sedikit lega beliau disini"


"Berantas cah kegatelan mantep. Lu tau tadi pagi beliau balas omongan Alex pake bahasa lo-gue. Kece bangettt, baru nemu gue guru yang begitu" Asya tertawa kecil.


"Btw, kak Vernon kemaren nanya lo ada hubungan apa sama Arsen"


"Lo jawab apa?"


"Gue jawab aja gak ada hubungan, dan setelah itu dia kesenangan gitu, terus minta nomor watsap lu. Feeling gue dia demen sama lu"


'Tadi Arsen, sekarang Vernon. Gak usah di pikirin sya gak usah!!'


"Ah taii we" Viona terkekeh.


"Arsen, pak Fauzi, kak Vernon. Ketiganya sama sama gantengg njirr. Mantep bangett luu"


"Diem gue pusing"


"Kalau lu disuruh milih, bakal milih siapa sya?"


"Kagak tauu!"


"Oke ganti, lu nonton drakor Start up kan?" Asya mengangguk.


"Kenapa?"


"Han Ji-pyeong atau Nam Do-San?"


"Walaupun jadi sadboy, gue pilih Pak Han"


"Berarti lo pilih pak Fauzi daripada kak Vernon"


"Hah?!!!"


"Lu nonton True Beauty??" Asya mengangguk lagi.


"Suho atau Seojun?"


"Suhooo"


"Lo pilih Arsen"


"Lah anjirrr??"


"Pak Han dan Nam Do-San di drama lebih mapan pak Han, sama kek pak Fauzi. Sedangkan Suho lebih muda daripada Seojun di real life, berarti Seojun pak Fauzi kalau Suho itu Arsen"


"Nah tadi lo milih pak Fauzi abistu gue suruh pilih pak Fauzi atau Arsen lu milih Arsen"


"Teori macam apa ini?!"

__ADS_1


Viona berfikir, "jadinya lo milih siapa sih, sya?"


"Gak tauu gak tauuu, gue mau cari sugar daddy ajaa!!"


__ADS_2