
"Mom, Asya baik baik aja lah. Gak usah lebay jugaaa"
"Asya, kamu mau mommy tampol?? LEBAY DARIMANA SIHH?! LIAT INI TANGAN KAMU KEGORES MANA PANJANG BANGET LAGI KAMU PIKIR MOMMY GAK KHAWATIR KALAU KAMU KENAPA KENAPA INI GIMANAAAAA MOMMY TAKUT KAMU KENAPA KENAPAA APA LAGI ITU DEKAT URAT NADI KAMU!!"
"Emak gua nge-rap kan, mampuss dah lu." cibir Azril, Febby yang mengobati Asya tertawa ngakak mendengarnya. Sedangkan Racksa, Haikal dan Dino langsung terdiam.
Seketika Asya pun ikut diam. "Mom, daddy tau?"
"Gak mungkin daddy mu gak tau, toh juga kalau bukan mommy yang bilang bodyguard daddy yang bilang."
"Hah tenggelam kan aku."
"Sabar, makanya jangan petakilan. Kamu sama mommy kamu itu sebelas dua belas emang."
"Dia lebih parah dari Zia kak" Asya cengengesan.
"Eh iya Zril, Arsen mana?"
"Gue disini" Arsen datang dengan buah di tangannya.
"Lo--"
"Gak baik-baik aja"
"Saya tau kamu belom dapat perawatan medis, jadi kamu tunggu disini biar saya suruh perawat pindahin kamu ke kamar ini juga" ujar Febby.
"Kak ipeb debes, lop sekebon"
Febby cengengesan, "Asya udah di obatin nih. Ini di jahit ya, Asya. Untuk sementara jangan petakilan dulu."
"Iya ontyy cangtipp"
Bruk!!
"Gak bisa pelan Aska? Kasian pintunya!"
Aska cengengesan, ia langsung mengarah ke Zia.
"Sayang, kamu gak apa-apa?"
"Ini... bapak gue kenapa sii? Yang sakit kan Asya kenapa yang disamperin mommy?!" tanya Azril heran.
"Oh iya" Aska langsung berpindah mendekat ke Asya.
"Kamu kenapa hm? Siapa yang ngapain kamu? Kenapa kamu jatuh dari lantai tiga?!"
"Emm.."
"Dia?" Aska menunjuk Arsen, hanya Arsen yang ia rasa asing disana.
"Istighfar daddy, daddy mah fitnah."
"Cerita ke daddy, dalam waktu dua puluh lima menit"
"Bengekk"
"Jadi gini...."
--Flashback
"Mel, jangann gitu! Aku takut Asya jatuhh" pinta Tara.
Meli tetap mendorong bahu Asya, "jatoh?"
"Aaaaaaaaaahhhhhh!!!"
"ASYAAAA!!!!"
Kaki Asya terpeleset, bahunya terus di dorong membuat tangannya tak sempat menopang. Asya terjatuh dari lantai tiga dengan posisi sangat tidak aesthetic.
Kepalanya duluan yang akan menghantam kerasnya tanah.
Seperti di slow motion, Asya jatuh perlahan dan tangan kanannya tergores besi yang ada di pagar depan kelas.
Asya pasrah, ia menutup matanya sambil menahan perih goresan yang ada di tangan. Asya berdoa masih bisa bernafas, ia masih ingin hidup.
Dan ternyata, Allah mengabulkan do'anya, Arsen di bawah menangkap Asya dengan tangan kosong. Asya memang tidak tertangkap, namun Asya jatuh tepat di atas tubuh Arsen.
"Syukurlah, gue lega lu gapapa."
Asya masih mencerna kejadian tadi sambil menatap Arsen yang ngos-ngosan.
"Syaa!!"
Asya tersadar, dia bangkit dari atas tubuh Arsen sambil menutupi tangannya.
"M-mommy?"
"Mommy?" beo beberapa siswa-siswi.
"Ini maksudnya gimana?? Selebgram cantik dan pengusaha sukses, Zia Amanda Hitler, mommy nya Asyaa?"
"Anjirrr gila sih, pantesan Asya secakep ituu"
"Tunggu berarti papanya mereka...."
"Mampusss pelakunya!!"
Zia mengabaikan bisik-bisik dari para siswa-siswi, ia berlari menghampiri anaknya. Untungnya Zia memakai sepatu putihnya, bukan high heels.
Eh tunggu, emang Zia suka high heels??
"Mom? Mommy kok bisa disiniii?"
__ADS_1
"Ssstt, diem kamuuuuu!" Zia panik.
"AZRILLL!!!"
Azril berlari mendekat ke Asya, menggendong Asya lalu membawanya masuk ke mobil limited edition Zia.
"Haikal, tolong bawain yang nolong Asya ya" Haikal mengangguk.
Zia berlari menuju mobilnya, mereka pun pergi menuju rumah sakit Hitler.
Flashback off--
"Anak siapa? Anak siapa yang ngeganggu kamu?!!" Asya memilih diam.
"Sebenernya dia bukan ganggu Asya, daddy. Dia ganggu temen Asya, Asya gak suka lah temen Asya di usik. Jadinya gituu"
"Temen kamu kemana?" tanya Zia.
"Kemana tadi, din?"
"I don't know, gue gak liat dia setelah lu jatuh tadi"
"Nama tukang bully-nya?"
"Meli, Asya gak tau nama lengkapnya daddy"
Aska langsung keluar ruangan, apa yang dilakukannya? Menelepon kepala sekolah!
Setelah selesai, Aska kembali masuk.
"Yang nolongin kamu mana?" Asya menunjuk Arsen dengan arahan matanya.
Arsen yang sadar langsung berdiri ingin menyalami Aska, "saya Arsen om."
"Oh ya, Arsen, maaf tadi saya berburuk sangka. Saya mau berterima kasih sama kamu. Kalau gak ada kamu mungkin otak anak saya makin gesrek. Makin pusing kepala saya liatnya"
"Bapak gua is debes, lop u daddy!" Aska tertawa.
"Saya bener-bener berterimakasih sama kamu, kamu mau apa? Saya bakal turuti."
"Ah gak usah om, saya ikhlas bantu Asya. Toh juga itu udah kewajiban saya untuk menolong sesama"
Aska tersenyum, "saya jamin kamu dapat pengobatan gratis disini."
"Duh makasih banyak, om. Gak perlu harusnya"
"Ada yang aneh disini"
Semua menatap Zia, "jarak antara kamu dan Asya tadi cukup jauh. Kenapa kamu sigap banget?"
"Hah? Eh itu.. tante..."
"Jadi gini mom, Arsen itu demen sama Asya. Pasti mommy tau lah ya, kalau namanya demen apapun bakal dilakuin gituu"
"Calon mantu ternyata.."
"Mom!!" Aska dan Zia tertawa meledek.
"Btw, tante kok bisa di SMA?"
Tok tok tok...
"Masuk" ujar Aska.
Pria berperawakan cukup tinggi masuk ke ruangan. Ia Mikko William, om nya Arsen.
"Om Mikko?"
"T-tuan Aska?"
"Tuan Mikko?" Mikko langsung mendekat ke Arsen. Ia memukul Arsen, "kamu buat masalah apalagii?! Om bisa maklum kalah musuh kamu orang lain, tapi ini investor perusahan kamu. Hajab lah Arsen...."
Aska tertawa mendengar bisikan Mikko, "tuan Mikko gak perlu marahin Arsen. Saya malah berterimakasih karena dia sudah menolong anak saya. Saya meminta wali Arsen kesini untuk memberitahukan tentang keadaan Arsen, agar tak berselisih paham."
Mikko menatap Aska, "se-serius tuan?"
Aska mengangguk, ia menundukkan badannya sebagai tanda hormat. "Terimakasih" Mikko membalasnya.
"Saya gak tau anda punya anak sepantaran sama anak saya"
"Ah ini keponakan saya, saya mah belom nemu jodoh." Aska menganggukkan kepalanya.
"Semoga cepat bertemu." Mikko membalasnya dengan tawaan kecil.
"Ini lampu hijau, sama sama friendly. Apakah ada perjodohan nantinya?!" tanya Dino berbisik.
"Ngaco lagi gue tabok lu"
Tok tok tok...
Ceklekk..
"Andre?"
"Mikko?"
Asya langsung menatap Arsen.
"Pak Andre kenal?"
"Beliau.. mantan abang ipar saya"
"Tunggu, berarti Arsen..."
__ADS_1
Arsen terlihat tidak peduli dengan kehadiran Andre.
"Arsen anak saya??"
Arsen mendongak, "bukan pak. Bukan, saya cuma anak Maria William bukan anak anda."
"Maria William nama mantan istri saya, kamu.. kamu anak saya, Ray." Andre mendekat ke Arsen.
"Pak, jangan ngadi-ngadi. Saya ngerasa papa saya udah gak ada."
"Tapi saya papa kamu!"
"Tuan, tuan Aska. Saya mau tanya, emang ada ya seorang papa ninggalin anak kandungnya demi anak tiri?" Aska terdiam.
"Saya rasa gak ada, tuan Aska juga pasti bakal jawab gak ada"
"So, saya tekankan pada anda kalau saya bukan anak anda, anak anda cuman Alex. Alexandrian Harrison, bukan saya!"
"Kamu Rayarrsen Harisson, anak saya!!"
"Sudah saya bilang bukan!! Saya ARSEN SHAFWAN WILLIAM BUKAN RAYARRSEN HARISSON!"
"Maaf membuat keributan, saya permisi tuan, nona."
Arsen pergi meninggalkan ruangan.
"Timingnya aneh, apa yang terjadi sebenarnya?"
"Mommy, daddy, Asya samperin Arsen dulu ya?" Keduanya mengangguk. Asya pun pergi mengejar Arsen.
"Azril, Dino, Haikal, kalian pulang ke rumah ya. Ini udah sore"
"Azril juga mom?" Zia mengangguk.
"Sayang" Zia melihat ke Aska.
"Kamu ajakin anak-anak ke rumah. Aku mau beresin urusan sama tuan Mikko dan pak Andre"
"Asya??"
"Bodyguard udah ikutin dia."
"Yaudah kalau gitu, aku pulang dulu. Kamu jangan pulang kemalaman" Aska mengangguk santai, ia mengecup kening Zia sekilas.
"Tuan Mikko, pak Andre ikut saya" Aska pergi bersama kedua pria tadi.
"Dino ni bingung lah tante, tante kok bisa di SMA terus tragedi ini kok bisa-bisanya om Aska langsung panggil pak Andre?"
"Mama juga kenapa bisa enak banget keluar masuk jadi guru, ada udang di balik batu kan, tante?" tanya Haikal.
"Ada jagung di balik bakwan! Udah ayok pulang."
❇▫❇▫❇
Aska membawa kedua pria tadi menuju ruangan VIP ZiCF.
"Pesan apa yang pak Andre dan tuan Mikko mau, saya yang bayar" Pak Andre langsung memesan makanan yang ia mau, makanan utama.
Sedangkan Mikko masih bingung ingin memilih apa, ia juga kurang enak dengan Aska.
"Tuan Mikko pilih aja terserah anda mau yang mana." Mikko diam pura-pura mikir.
"Ya udah kita pesan yang sama" Aska membacakan menu khususnya VIP.
"Sekarang, saya mau tanya sama pak Andre." Andre menundukkan kepalanya.
"Kenapa bisa ada pembullyan di sekolah?!"
"Saya gak tau pak Aska, maaf. Saya benar-benar tidak tau"
"Bisa-bisanya anda tidak tau, apa sih yang anda tau?" Andre terdiam.
"Saya wajibkan, anda beri konsekuensi untuk kejadian ini. Saya tidak suka ada pembullyan di sekolah! Buat pembully jera dan berfikir apa kesalahannya!" Andre mengangguk takut-takut.
"Dan lagi, tadi, maksud semuanya apa? Nona Maria, anda, tuan Mikko dan Arsen, apa yang terjadi?!"
"Kita bisa bicara non-formal disini, silahkan jelaskan"
"Andre adalah mantan suami adek saya, Maria."
"Seperti yang anda ketahui, penyebab majunya perusahaan William karena bantuan anda dan juga karena kerja keras Maria. Tapi dibalik itu semua, Maria sedang mencoba untuk bangkit dari keterpurukan"
"Maria di fitnah oleh suaminya sendiri, eh nggak, ia di fitnah sahabatnya sendiri dan suaminya lebih percaya sama selingkuhan yang notabene nya sahabat Maria. Maria di ceraikan, Andre menikah dengan selingkuhannya."
"Dan di saat Maria bangkit, dengan teganya selingkuhan Andre menabrak Maria. Maria sempat koma kemudian meninggal dunia."
Andre langsung menoleh dengan mata terbelalak.
"Kenapa kasus itu gak di laporkan?"
"Kurang bukti dan saksi, satu-satunya saksi asli hanya Arsen tapi waktu itu dia masih kecil. Anda bayangkan gimana sakitnya Arsen yang ditinggalkan ibunya dan di lupakan ayahnya."
"Selama bertahun-tahun dia hidup sendiri dan selalu terbiasa sendiri. Salah satu sumber kehidupannya adalah A.M William Company yang saya bantu kelola."
"Berarti, anak yang anda rawat dan anda jaga bukan anak kandung anda, pak Andre?" Andre menggeleng pelan.
"Saya gak nyangka anda lebih memilih anak tiri dari pada anak kandung. Apa yang ada dipikiran anda selama bertahun-tahun gak ketemu anak kandung?"
"Gak habis pikir saya, benar-benar luar biasa."
"Saya mengaku, saya salah."
Aska tersenyum smirk, "yaa.. memang seharusnya anda mengaku salah. Karena kalau anda mengelak, saya rasa anda bukan manusia."
__ADS_1