
07.00
"Syaa, lu pucett, lu gapapa??" tanya Alvin khawatir. Mereka sudah tiba di rumah abu-abu.
"Gue gapapa, kalau pagi emang pucettt" jawab Asya ngeles.
"Tapi lu--" Omongan Alvin terhenti karena ponselnya berbunyi, ia sedikit menjauh untuk mengangkat telepon.
Dua menit kemudian dia kembali, "bokap gue nelepon nyuruh pulangg"
"Yaudinn sonooo pada balikkk, gue gapapaa beneran"
"Beneran gapapa??" tanya Shaka, Asya mengangguk sambil tersenyum.
"Gue balik yaa"
"Iyee, kalau balik ke luar negeri kabarinnn!!" Mereka berdua mengangguk kemudian masuk ke mobil.
"Kalau lu kenapa-kenapa kabarinnn, jangan ngeprank gak jelas!!" Asya mengangguk sambil tertawa.
"Byee!!" Mereka melambaikan tangan, mobil Alvin pun perlahan menjauh.
"Lu sakit kann?" tanya Azril sinis.
"Dikittt"
Hatcimm.. Hatcim..
"Izin sakit aja yaa, gak usah sekolahh" suruh Haikal sambil memapah Asya masuk ke rumah.
"Teruss lu pada ngapain malahh ikut nyantaii?" tanya Asya.
"Lu sakit, yakali di tinggal sendirii" jawab Dino.
"Gue gapapaa tauuu, udah buruan sekolah sanaaa!"
Azril, Dino dan Haikal saling pandang.
"Gue tau lu pada ada pengambilan nilai olahragaa, ada ulangan kimia juga kann? Tenang, ada gue yang jagain Asya" kata Racksa.
"Kan nanti juga ada latihan futsal" ujar Azril.
"Gak masuk denda kann? Udahh masuk sono lu padaaa, gue sendiri gapapaaa"
"Gue gak tenang kalau lu sendirian" Azril mendekat pada Asya, ia memegang kening Asya dan memang terasa panas.
"Bilang dari tadi gapapa gapapa, jidat lu aja panas kek ginii" omel Azril.
"Ntar juga sembuhh" jawab Asya sambil merebahkan tubuhnya di sofa.
Azril membuka jaket lalu memberikan ke Asya, "mana bisa gue pergi kalau kakak gue sakit kek giniii."
"Tapi lu nanti ulangann"
"Tetep ajaa gak bakal fokusss"
"Gue aja yang nemenin Asyaa, lu pada sekolah sanaa" Arsen datang, ia sudah mandi dan berganti pakaian.
"Lu gak futsal?" tanya Racksa.
"Gue keluarr, gue ngutamain basket daripada futsall" Mereka berohria.
"Serius nih? Lu yang jagain Asya??" Arsen mengangguk.
"Yaudahh kalau gitu, gue balikk duluan" pamit Haikal, ia mendekat ke Asya mencubit pipinya.
"Iss sakit!!"
"Heheh, cepet sembuh ya, cantikkk. Gue pulang dulu" Asya mengangguk.
"Lu mau apa ntar gue bawain pulang sekolah"
"Em.. gak mau apa apaa"
"Okeee, gue bawain seblakk. Gue balik, bye" Haikal langsung keluar pintu.
"Ga jelas bangettt emang tu anakk" ujar Asya cengengesan.
"Yaudahh, gue juga balikk. Ntar kalau mau apa-apa telepon guee, paling gue bawain baju kotor semalem" Dino pun berjalan keluar rumah.
"Geblekkk siamahh"
Dino tertawa, "cepett sembuhhh tuan putriii" Asya melambaikan tangannya sambil tersenyum.
"Lu bedua buruan siap-siap, bentar lagi di tutup noh gerbang." Racksa dan Azril masuk ke kamar masing-masing.
Asya masih duduk di sofa depan televisi.
"Bentarr ya, gue tinggal"
Arsen keluar rumah kemudian masuk membawa seplastik cemilan yang isinya kebanyakan susu dan coklat kesukaan Asya.
"Nihh, minum susu nyaa" Asya menerima pemberian Arsen.
"Maaasyiii"
"Lu sekolah aja gihh, gue gapapa kok sendirian" Arsen menggeleng.
"Mana bisa gue ninggalin bidadari yang lagi sakitt"
"Yekk modusss" Arsen menanggapi nya dengan senyuman.
"Syaa, gue sekolah duluu yaa" Asya mengangguk.
Azril mengode Arsen menyuruhnya ke dapur.
"Gue harap lu bisa sabar selama Asya sakit," ujar Azril.
"Kenapa gitu?"
"Ntar lu tau sendiri. Btw, jangan lupaa kasih bubur tu anakk, bubur ayam wajib banget kalau dia sakit."
"Ohyaa nanti gue bakal hubungin tantee Febby buat dateng ngobatin Asya" Arsen mengangguk paham.
"Yaudahh, gue pergi dulu. Gue titip Asya" Arsen mengangguk lagi.
"Senn, ntar kalau kenapa-kenapa jangan lupa telepon" kata Racksa. Arsen mengangkat jempolnya.
Mereka kembali mendekat ke Asya, "adek ganteng mu sekolah dulu ya nunaa" Azril mengelus rambut Asya sebentar kemudian pergi disusul Racksa.
Tinggal Arsen dan Asya berdua di rumah, melihat Asya tidur Arsen menggendongnya lalu membawa Asya ke kamar.
"Pucet bangett" gumam Arsen.
Ia keluar kamar, mengambil air dan kain untuk mengompres Asya. Arsen mengompres Asya dengan telaten.
__ADS_1
Drrt... Drrtt...
Arsen meraih ponselnya, tertera di situ nama Irgi. Arsen keluar kamar Asya.
^^^"Kenapaa?"^^^
π "Assalamu'alaikum bambang"
^^^"Oiya, waalaikumsalam. Kenapaa??"^^^
π "Lu dimana?? Bolos lagi?"
^^^"Gue dii.. di rumahh, iya bolos lagi"^^^
π "Seperti ada kebohongan, anda gugup. Anda dimana?? Kenapa bolos??"
^^^"Nanti gue kasih tau, dah yaa bye!"^^^
Arsen langsung mematikan panggilannya, ia kembali masuk ke kamar Asya, pintunya di buka tidak di tutup.
Arsen kembali mengompres Asya, ntah sadar atau tidak Asya menahan tangan Arsen lalu meletakkannya di pipi.
Detik itu juga Arsen menatap lekat Asya, jempolnya bergerak mengelus pipi Asya.
"Gemoy bangett kalau sakitt" gumam Arsen.
Tok tok..
Arsen melihat pintu kamar.
"Oh, tantee.. tante Febby" Febby tersenyum lalu masuk.
"Tante sendirii?" tanya Arsen menghilangkan kecanggungan.
"Nggak, ada om Zean di depan" Arsen keluar.
"Uwihh, ada calonnya Asya. Bolos kamu?" tanya Zean.
Arsen mengangguk sambil cengengesan, "om Zean mau minum apa?" tanya Arsen.
"Nggak usah repot-repot, sen. Om cuma bentar doangg" Arsen berohria.
"Arsenn"
"Kenapa tante??"
"Asya udah makann?" Arsen menggeleng.
"Belum tantee, tadi mau beliin bubur ayam tapi ragu ninggalin Asya sendirii" jawab Arsen.
"Tuh kann, harusnya sekalian tadiii" ujar Febby pada Zean.
"Telupaa" balas Zean sambil nyengir.
"Kan ada om sama tante disini, jadi Arsen beliin dulu yaa. Assalamu'alaikum om, tante" Arsen langsung pergi keluar rumah.
"Ehhh Arsennn jangan beliin buat om sama tanteee" teriak Zean.
"Yakalii dia mau beliin" sahut Febby.
"Pasti di beliin, ya kali nggak" jawab Zean.
"Btw siagaa bangett tu anakk, oiyaaa, waalaikumsalam."
"Lohhh kamu? Kamu temennya Asya kaann?!" Arsen mendongak, ohh ternyata ada kakak nya Tara.
"Bukan pak. Saya bukan temennya Asya, saya masa depannya Asya"
"Hahaha.. halu sekali" Arsen tertawa renyah mendengar perkataan Fauzi.
"Gak sekolah kamu??"
"Keliatannya gimana pak? Apa saya lagi sekolah?" tanya Arsen kesal.
"Tukang boloss kamu ya, gimana mau sukses kalau sekolah aja sering bolos?!"
Arsen tersenyum sekilas, "mass ini bubur nyaa" Arsen langsung berdiri dari duduknya lalu membayar bubur yang ia beli.
Ia hendak menuju mobilnya tapi berhenti tepat di sebelah Fauzi.
"Pak, kesuksesan seseorang bukan berdasarkan dari nilai atau seberapa rajinnya ia kesekolah, tapi dari cara berfikir. Saya duluan" Arsen pun pergi meninggalkan Fauzi.
Di perjalanan, pikirannya mengarah pada Fauzi dan Asya.
"C'mon senn, Asya milih lu bukan Fauzi."
"Agh!!" Arsen kesal karena pikirannya ntah kemana-mana.
Drrtt... Drrtt...
Arsen meraih ponselnya.
...Azrill...
^^^"Halo, assalamu'alaikum"^^^
π "Waalaikumsalam, gimana Asyaa??
Tante Febby udah datang kann?"
^^^"Udahh, gue lagi di jalann"^^^
π "Darimanaa?"
^^^"Beliin buburr buat Asya"^^^
^^^Azril berohria.^^^
π "Gue rada pulang telat nanti"
^^^"Hmm"^^^
π "Yaudahhh, kalau gituuu gue
matiin panggilannyaa yaa"
^^^Arsen berdehem,^^^
^^^"keliatan gabut sekali anda."^^^
π "Gue gak tenangg kalau gak barengan
sama Asya. Oh iya jangan lupa--"
^^^"Iyaaaa iyaaaa, waalaikumsalam"^^^
__ADS_1
Arsen langsung mematikan panggilannya.
Setelah beberapa menit di perjalanan, ia pun tiba di rumah abu-abu.
"Gak lama kan omm?" tanya Arsen.
"Udah sebulan nunggunya, senn" Arsen cengengesan.
"Ngantri dulu tadii om, oh iya ini buat om sama tantee" Arsen memberikan dua bungkus untuk Zean dan Febby.
"Tadi om Ze teriak gak denger?"
"Nggak, emang ada tan??" tanya Arsen.
"Ada tadii, bilang jangan dibeliin. Ehh di beliin" Arsen nyengir, "Arsen gak denger."
"Om sama tante gak bisa lama-lama, jadii langsung pergi ajaa nih yaa" pamit Febby.
"Asya sakit apaa tantee? Obatnya??"
"Demam biasa, kecapekan kayaknya. Obat Asya di dapur, di minum selesai makan. Dari tadi Asya tidur, tante segen bangunin karena keliatan pules bangett, nanti kamu bangunin suruh makan yaa" Arsen mengangguk paham.
"Jangan lupa itu obat nya di minum, om sama tante pulang dulu" Arsen mengangguk lagi.
"Inii bubur nya bawa aja tantee"
"Oh iyaa hehe, makasih loh senn" Arsen tersenyum sebagai balasan.
"Om titip Asya sama kamu, tau kan kalau Asya tuan putri yang dilindungi banyak orang? Jangan sampe hal hal buruk terjadi, paham?"
"Paham. Om tenang aja, Arsen gakk mesuman kok, jarang liat pornografi jugaa bisa tahan nafsu"
"Baguss kalau gituu"
"Yaudahh, kalau ada apa-apa jangan lupa hubungin yaa?" Arsen mengangguk, ia mengantarkan Febby dan Zean ke depan pintu.
"Asya nya jangan lupa di suruh makann, di suruh minum obat nyaa"
"Iya tanteee, hati hatii omm tantee" Zean dan Febby tersenyum lalu pergi meninggalkan rumah abu-abu.
Arsen pun kembali masuk, ia membawa bubur ayam yang di beli ke kamar Asya.
"Sya, bangun. Makan duluu" Asya hanya bergerak sedikit.
"Asyaa, heyy, bangunnn" Arsen menggoyangkan tangan Asya.
"Heumm.."
"Bangunn yuk, makannn" ajak Arsen dengan senyuman.
"Nggak mauu" jawab Asya, matanya masih tertutup.
Arsen mengelus pipi Asya lembut, "bangunnn makaann biar bisa minum obattt"
"Nantiii aja yaaa"
"Sekarangg" Asya tidak merespon.
Arsen memencet hidungnya, Asya langsung membuka mata lalu menjauhkan tangan Arsen.
"Gak bisa nafas kan lu? Yaiyalahh kan fluu. Makan dulu, minum obattt, baru tidur lagii" Asya tidak merespon lagi.
Arsen mendekatkan bibirnya ke telinga Asya, "lu susah nafaass kan yaaaa. Kalau lu nggak bangun, gue kasih nafas buatan. Mauu?"
Seketika Asya membuka matanya lagi, ia menatap sinis Arsen.
"Ayoo makan, gue suapin" Asya pun duduk di bantu Arsen.
"Gue aja makan send--"
"Sstt, diem" Arsen menyuapi Asya perlahan-lahan.
"Lu beli obat tadii?" tanya Asya di sela-sela makan.
"Tante Febby yang kasih. Beliau sama om Ze dateng, ngecheck keadaan lu."
"Ooo, buburnya mereka yang beliin??"
"Gue yang belii" Asya berohria.
"Lu nya udah makann?"
"Belumm, gue belom laperr"
"Nyuruh orang makan tapi sendirinya belum makannn. Lu makann buruuu, gue makan send--"
"Lagi sakit juga tetep bawel yaa?" Asya cengengesan.
"Perasaan gue tiap sakit jadi kalem dehh" gumam Asya, Arsen tertawa kecil mendengarnya.
"Lu pucett bangettt," muka Arsen terlihat sangat-sangat khawatir.
Melihat itu Asya hanya tersenyum, "gue emang putih. Gak perlu khawatirrr, gue gapapa kok."
Arsen menghela nafas, "buburnya dah abiss. Bentarr, obat lu di dapurr" Arsen langsung lari keluar kamar mengambil obat Asya.
"Nihh, minumm"
"Ahh banyakk kaliii"
"Cumaa tigaa, Asyaa"
"Lebih dari dua itu banyakkk" protes Asya.
"Biar cepet sembuhh, buruan minum" Asya mengambilnya lalu meminum obat itu.
"Aahshsh pait"
"Padahal langsung ketelen gak di emutt" ledek Arsen. Asya menatap kesal Arsen lalu kembali tidur.
"Baru siap makan Asyaa, jangan langsung tidurr" Asya diam, matanya perlahan terpejam.
"Arsennn"
"Hmm?"
"Makann sanaaa, jangan liatin gue mulu"
"Haha, yang liatin lu siapaa?" tanya Arsen.
"Gue tauu kok, lu liatin guee teruss."
"Emang kalau gue liatin kenapaa?"
Asya membuka matanya menatap mata Arsen sebentar lalu memunggungi Arsen, "g-gue malu lahh."
__ADS_1