
05.30, minggu.
"Astaghfirullahalazim, udah tengah enam" Asya langsung bangun dari tidurnya. Ia mengambil air wudhu lalu sholat subuh sendirian di kamar.
Setelah sholat Asya mengganti baju, semalam Arsen mengajaknya joging. Sebenarnya, tiap minggu pagi mereka joging. Bukan hanya berdua, Azril dan Racksa ikut.
"Azrilll, bangunnnn!!"
"Apaann nunaaa, ntaran yaa"
"Lu udah sholat subuh?"
"Ini jam berapa?"
"Hampir jam enam."
"Eehhh annjjj, kenapa gak bilanggg" Azril salto lalu lari menuju kamar mandi, ia mengambil air wudhu.
"Keluar"
"Lah???"
"Kalau lu disini gue sholat nya kagak khusyu, lu kan setann"
"Syalann!" Azril terkekeh, Asya pun keluar kamar Azril.
Ia menuju kamar Racksa, "assalamualaikum abang gantengg" Racksa tidak merespon.
"Woii bangun!!"
"Masihh jam berapaaa inii tuu, ntaran dulu yaa. Kan minggu" jawab Racksa sambil memunggungi Asya.
"Apakah anda sudah sholat subuh, tuan Racksa?"
"Oiyaaaaa!" Racksa langsung bangun dari tidurnya menuju kamar mandi untuk wudhu.
"Keluar sono lu," suruh Racksa ketika selesai wudhu.
"Kenapaaa?"
"Gue mau ganti baju maymunahh. Ya kali gue sholat pake kaos doang."
"Oh oke," Asya keluar dari kamar Racksa kembali masuk ke kamar Azril.
Azril kembali tidur ternyata.
"Heh bangun!" Asya menggeplak tangan Azril.
"Emang ni anak, gak ada akhlak!"
"Hehe, ayo joging!!"
"Lu aja deh, gue ngantuk bangett" jawab Azril dengan matanya masih tertutup.
"Lu begadang yaa tadi malem?? Ngegame lagii??"
"Hmm"
"Iii goblokksss, gila begadang aja kerjaan mu! Ayook joginggg!"
"Mingdep oke, gue mingdep ajaa. Lu sono sama Racksa, gue gak ikut. Dah ya, jangan ganggu, sono pergi!"
"Ingin mengumpatt, tapi ini masih pagii. Baiklah!!" Asya menutup muka Azril dengan selimut lalu pergi.
Ia kembali ke kamar sebelah.
"Haiii bapakk, ayokk joging!"
"Gak, gue mau tidurr"
"Tidur siap subuh tu gak baik, ayok joging!"
"Sesekalii. Lu aja sono sama Azrill"
"Azril juga gak mauuu"
"Yaudah sendirii. Ehh, kan ada Arsen juga. Udah lu bedua aja sana"
"Aihh.. ayolahh!"
"Lu bedua aja sana, kali ini di restui bedua. Dah dah go! Jangan ganggu gue tidur!!"
Asya menatap sinis Racksa yang masih memejamkan mata, "yodala."
Asya pun menuju pintu kamar, "ehh syaa" Asya senyum ia berbalik.
"Anda berubah pikiran?"
"Nggak. Gue cuma mo bilang, joging-joging aja jangan sampe nyimpang! Oh ya, pintu nya lu kunci, kunci nya lu bawa. Tapi kunci serep jangan di bawa!"
"Udah gitu aja, sanaaa pergi. Jangan lupa jaga jarak, bukan muhrim!"
Asya mengedipkan matanya dua kali, "salut gue. Mata tepejam mulut membacot." Asya pun keluar dari kamar Racksa.
Ia mengambil ponsel di kamar lalu menuju dapur, niatnya mau buat susu.
Drrrt... Drtd..
...biaaawak π...
π "Assalamu'alaikum, udah bangun?"
^^^"Waalaikumsalam, udahhh"^^^
π "Gue di jalann, lima menit lagi nyampeee"
^^^"Emang mau kemanaa?"^^^
π "Mendadak amnesia ya, buk?"
Asya cengengesan sambil meminum susunya.
Ting.. Tong..
π "Buka pintu"
^^^"Katanya lima menittt, bentarrr!"^^^
Asya langsung mematikan panggilannya.
Ia meneguk susu vanilla yang di buat, perlahan tapi pasti susu itu pun habis. Asya mengambil sepatu di kamar lalu membawanya keluar rumah.
Asya mencampakkan sepatu itu, ia mengunci rumah dan mengantongi kuncinya kemudian memakai sepatu.
"Azril sama Racksa mana??"
"Kagak mau bangunn," jawab Asya.
Arsen mengulurkan tangannya ketika Asya selesai memakai sepatu. Asya menerima uluran tangan Arsen.
"Abis minum susu?"
"Kok tauuu?"
Arsen tersenyum, "masih ada sisanya." Arsen mendekat lalu membersihkan bekas nya dengan sapu tangan.
"Thanks," Arsen tersenyum.
"Ayok!" Mereka berdua pun berlari.
"Aneh gak sih?? Di umur delapan belas tahun masih suka minum susu?" tanya Asya sambil berlari kecil.
"Nggak, sama sekali nggak. Ibu hamil kan juga minum susu, nenek nenek juga."
Asya tidak merespon, ia hanya tersenyum mendengar jawaban Arsen. Mereka terus berlari kecil, arahnya menuju taman.
__ADS_1
Mereka berhenti di salah satu kursi taman, "duduk di bawah selonjorin kakii" ujar Arsen mengingatkan. Asya pun melakukan apa yang di suruh Arsen.
"Bentar, gue beli minum" Arsen langsung pergi membeli air mineral.
"Nahh," Asya menerima nya. Arsen duduk di sebelah Asya sambil meminum minuman miliknya.
"Racksa sama Azril kenapa gak ikut??" tanya Arsen lagi.
"Si Racksa katanya mau tidurr, si Arsen begadang diaaa jadinya kagak mau bangunn," jawab Asya sambil melihat ponselnya.
"Ck, jangan main hp kek. Kayak ada aja yang chatt."
"Banyak pakk," Asya menunjukkannya.
"Tapi gak di balesin ya? Sampe nyepam gitu."
"Iya gak gue balesinn. Malesss," Arsen senyum-senyum.
"Kenapa lu?"
"Gue prioritas kayaknya, cuma chat gue doang yang di bales," Asya tertawa.
"Kenapa anjirrr?"
"Muka lo lucu, gemoyyy!" Arsen malah ikut tertawa.
"Btw, lu tadi malem begadang jugaa kan?"
"Tau darimanaa?"
"Lah gue nanyaa, beneran begadang??" Arsen mengangguk sambil cengengesan.
"Gue ada tugass kantorr, demi masa depann."
"Tidur jam berapa??"
"Tiga pagi, kayaknya."
"Seriusss?? Teruss bangun jam berapaa?" tanya Asya lagi.
"Nggak liat jamm."
"Lu jam berapa lari dari apartemen??"
"Em... ntahh, gak liat jam juga. Pokoknya siap sholat gue langsung lari ke rumah lu."
Asya mendekat kan wajahnya ke Arsen, seketika Arsen salah tingkah. "L-lu ngapain?"
"Nggak adaa, cuma liatin doang."
"Kamprett!" Asya cengengesan, ia berhasil mengerjai Arsen.
"Tidur jam tiga, kalau bangun jam lima lu cuma tidur dua jam. Kenapa sii mauu jauh jauh dari apartemen lu ke rumah guee cuma untuk joging?"
"Hm.. alasannya cuma satu, gue cuma mau ketemu sama lu."
"Yekk modusss!"
"Ehh seriuss! Satu hari tanpa liat lu, hidup gue berasa hampa gitu."
"Bacooottt" ledek Asya.
Arsen tertawa, "salting ciee." Asya mengalihkan pandangan karena pipi nya merona.
"Gue heran deh, sen. Di sekolah kan luu di kata goblokk, rada rada gitu yaa. Terusss, kok bisaa gituu lu jadi calon CEO AM?"
Arsen tersenyum, "gue sebenernya pinterr sya, sumpah. Cumaaa gue gak mau sombong, gue juga gak mau pamer. Keliatan bodoh tuu enakk, gak di manfaatin"
"Seriuss, cuma pura-pura bodoh?" Arsen mengangguk.
"Lu tanya apapun tentang pelajaran, gue tau!"
"Iiiiii sombongg"
"Nggak, bukan gi--"
"Dassarr"
"Oh iya, diem aja loh ya. Anak SMA gak ada yang tau kalau gue jadi calon CEO. Yang tau cuma lu," kata Arsen.
"Iyaa iyaa, tenang ajaaa"
Arsen tersenyum, ia mengelus rambut Asya. "Good girl!"
"Yekk. Btw, Aryuna kemaren cantik kann senn?"
"Biasa ajaa," jawab Arsen sambil melihat sekeliling taman.
"Jujur jujuran aja dehhh, cantik kannn?"
"Semua manusia berjenis kelamin wanita itu cantik, sya. Termasuk lu. Tapii, kalau lu tu cantiknya gak manusiawii"
"Ha?? Gak manusiawii? Berarti gue bukan manusia gituu?" tanya Asya, Arsen mengangguk santai.
"Jadi apaan?"
"Bidadari."
ββ
"Dari sekian banyak sarapan pagi, kenapa maunya nasi goreng? Padahal lu bisa bikin sendiri di rumah," tanya Arsen heran.
Mereka sedang di warung sarapan pagi menikmati nasi goreng.
"Nggak tau kenapaa, suka ajaa makan nasi goreng pagi-pagi. Emang lu tadinya mau apa?" tanya Asya balik.
"Gue gak banyak maunya sih, apa aja bisa gue makan. Apalagi kalau masakan nya buatan lu."
"Modus muluuu, herannn."
"Gue seriuss dikata modus, herannn."
Asya tertawa mendengarnya.
Drrt... Drtt...
"Siapa?"
"Nggak tau, nomorr tidak di kenal."
"Angkat ajaa," Asya mengangkat panggilan itu.
π "Hello! Apa kabar, princess?!"
^^^"Sape lu? Sksd bangettt!"^^^
π "Astagaa, kamu lupa sama saya?? Saya Darren Kim."
^^^"Oh gak kenal, anda salah sambung!"^^^
Asya langsung mematikan panggilannya dan mengeblok nomor Darren.
"Kenapa jadi kesel gitu?? Siapa sih??" tanya Arsen heran.
"Om om yang waktu it--"
"Kenapa panggilan saya langsung dimatikan? Dan kenapa nomor saya dii blok??" Darren tiba-tiba muncul.
Asya terkejut, benar-benar terkejut. Setelah dua tahun menghilang, Darren muncul dengan ketampanannya meningkat.
Jika di samakan dengan aktor Korea, Darren sangat mirip dengan Kim Bum!
Asya menelan ludah melihat nya, oh ayolah Asya jangan tersepona.
"Anda siapa?" tanya Asya.
__ADS_1
"Astagaaa, kamu serius lupa sama saya??"
Asya mengangguk santai, "by ayo pulang. Aku udah kenyang."
"Tapi kamu-- yaudah ayoo," Arsen membayar nasi goreng yang mereka makan kemudian dengan santai nya Arsen menggandeng tangan Asya.
"Saya sama calon istri saya duluan ya, pak!" Pamit Arsen lalu pergi meninggalkan Darren.
"Calon istri? Mau nipu saya??"
ββ
"Thank you traktiran nya tadii."
"Santai ajaa, suatu saat itu jadi kewajiban gue."
"Bacottt! Oh ya, thank you juga tadii tu udah ngedrama."
"Itu suatu keharusan."
"Yek!!! Lu kagak mau mampir??" Arsen menggeleng.
"Gue ada urusan. Masuk lahh!"
"Yaudah gue masuk yaa, lu hati-hati di jalan" Arsen mengangguk sambil tersenyum.
Asya melambaikan tangannya lalu masuk ke rumah. Melihat Asya sudah di dalam rumah, Arsen pun pergi.
"Enak beduaan?"
"Momm? Daddd?? Kapan datengg?" tanya Asya sambil menyalami tangan kedua orang tua nya.
"Belum terlalu lama," jawab Aska.
"Enak beduaann? Joging beduaa? Teruss sosweet sosweet-an gituu? Enak?"
"Astaghfirullah mommy, ngomong apaan dah. Mana ada mesra-mesraann," jawab Asya sambil memasuki kamar.
"Bohong itu mom, paling tadi pegangan tangaann"
Bugh!!
Asya melempar Azril pakai boneka yang ada di kamarnya.
"Always headshot!!" Asya bangga.
"Momm, liat lah. Gimana coba Azril mau pinter, di lemparin muluuu. Mana kena kepalaa terusss," adu Arsen pada Zia.
"Emang dasarnya ogeb ya ogeb, zrill" sahut Racksa.
"Setuju!!!" teriak Asya di kamar.
"Astaghfirullah, kamu berdosa bangett!" Aska dan Zia tertawa.
"Berantem aja kerjaan kaliann," omel Aska.
"Btw, Racksa mau kemana??" tanya Zia.
"Mau ke rumah kakak nya mama, aunty."
"Loh gak ikut aunty sama uncle?" Racksa cengengesan sambil menggeleng.
"Aunty sama uncle nginep loh, sa."
"Racksa sekalian kerja kelompok, ntar nginep aja tempat temen."
"Tempat siapa?" tanya Asya yang keluar kamar sudah selesai mandi.
"Arsen."
"Yaudahh kalau maunya gitu, hati-hati!" Racksa mengangguk. Ia mengalami tangan Zia dan Aska.
"Racksa pergi dulu uncle, aun" Racksa pun meninggalkan rumah abu-abu.
"Kamu udah mandi?" tanya Aska, Asya mengangguk.
"Cepet bangettt, mandi bebek?" tanya Azril.
"Mandi kadal!" Jawab Asya kesal, Azril cengengesan.
"Mommy daddy tumben kesiniii" ujar Asya.
"Mau ngajakin holiday, udah lama kan gak bareng, kan?"
"Aaasoyyy, holidayyy!!! Muk kemana mom?" tanya Asya gembira.
"Kemana ajaaa yang penting kita holidayyy."
"Kalian berdua siap-siapp sana," suruh Aska. Asya pun masuk ke kamarnya, begitu pula dengan Azril.
Mereka kembali keluar setelah mengganti baju. Asya memakai hoodie warna pink dan celana jeans hitam, sedangkan Azril hoodie berwarna biru dan juga celana jeans hitam.
"Mommy mu pake hoodie putih, daddy pake hoodie item. Kalian juga pake hoodie. Ini kenapa pada pake hoodie sihh?" tanya Aska heran.
Asya dan Azril tertawa, "hoodie itu enakk di pake daddy" jawab mereka berdua.
"Yak betull, dahh ayoo!"
"Mobil mom sama dad mana? Asya gak liat tadi di depann."
"Tau mobil yang ada di Spongebob gak?"
"Ohhh, mobilnyaaa superhero itu kan mom? Siapa itu namanya lupaa," Zia mengangguk.
"Mobil daddy mu kek gitu, bisa ilang timbul" Asya dan Azril terkekeh mendengarnya.
"Tunggu bentarr, bodyguard kalian masih nugas ini," Aska memainkan ponselnya, ia menyuruh para bodyguard berkumpul.
Mereka pun keluar dari tempat persembunyian.
"Wah.. bodyguard Asz ganteng-gantengg," puji Asya.
"Soal cogan aja melek tu mata," ledek Zia.
"Ngeliat cogan ituu buat awet muda momm."
"Pantesan mommy mu awet mudaaa," sahut Aska.
"Emang kenapa, daddy?" tanya Azril.
"Kan sering liatin daddy."
"Pedeann sekali andaaa," kata Zia. Aska, Asya dan Azril tertawa.
"Udah ngumpul semua ini?" tanya Aska pada para bodyguard.
"Udah bos!" Jawab perwakilan mereka.
"Okeee, saya disini mau kasih pengumuman. Berhubung saya dan istri udah lama gak quality time bareng anak-anak, jadi kami mau holiday hari ini."
"Saya udah suruh ketua tim ganti anggota buat mantau selama holiday. Kalian yang bertugas hari ini bisa ambil libur, dua atau tiga hari."
"Uwah.. Makasih banyak, bos!!" Aska ikut tersenyum melihat senyum para bodyguard nya.
"Iya sama-sama, pergunakan untuk liburan sama keluarga juga ya. Kalau kalian kurang dana hubungi saya, saya siap bantu dana."
"Beneran bosss?"
"Iyaa benerr, hubungi aja bos kalian ini. Kalau di kasih cuma dikit, hubungi saya biar saya tambah." Sahut Zia.
"Kamu kira aku pelitt?" tanya Aska kesal.
"Kali ajaaa kann," Zia cengengesan.
Kedua anak mereka--Azril dan Asya--terpelongo melihat kedua orang tuanya yang sangat-sangat bermurah hati.
__ADS_1
"Emak bapak gue emang debesss!"