
...My expectation: up lancar, readers tambah banyak....
...Meanwhile reality: up nyendat-nyendat, readers menurun....
...🤦🏻♀️🙏🏼...
...----------------...
Asya berlari santai mengelilingi taman. Walaupun ramai, Asya tetap merasa kesepian karena tidak ada teman disisinya.
Lelah berlari, Asya berhenti sejenak dan meminum air mineral. Matanya melihat sekeliling dan menemukan punggung Arsen, ia sedang jalan berdampingan dengan seorang wanita.
Asya menatap mereka terus-menerus. Dengan kemampuan otaknya Asya tidak ingin berprasangka buruk. Mengingat, bagaimana sikap Arsen selama ini.
Tapi Asya jadi kepikiran, apa Arsen hanya pura-pura untuk menutupi perselingkuhan dan hanya ingin morotin harta orang tuanya Asya setelah menikah? Oh tidak, overthinking dimulai.
"Hai?"
Asya melihat ke samping. Seorang pria berperawakan tinggi, hidung mancung, kulit putih bersih penuh keringat dan lumayan wangi untuk saat ini.
"Gue boleh duduk di sebelah lu?"
"Kenapa.. harus di sebelah gue?"
"Pengen aja. Kalau gak boleh, gak apa-apa kok," kata pria itu sambil cengengesan. Asya merasa tidak enak, ia pun mempersilahkannya untuk duduk.
"Boleh kenalan? Gue Stevanus J Raiden, u can call me Stevan," kata Stevan mengulurkan tangan. Asya tersenyum dan ingin membalasnya, tapi tiba-tiba ada tangan yang menarik tangan Asya.
Iya benar, itu Arsen.
"Siapa tadi nama lu? Ste? Stevan? Nah itu pokoknya, sorry banget ya. Gue gak izinin tangan calon istri gue nyentuh tangan lu," Arsen tersenyum tipis lalu pergi menarik Asya.
Asya diam, masih mencerna situasi. Begitulah otak Asya, kadang lancar kadang lemot, seperti jaringan Smartfren.
Lumayan jauh dari tempat tadi, Asya menarik tangannya dari genggaman Arsen. "Apa-apaan sih kamu?"
"Apaan sih, apaa? Kamu marah karena gak bisa kenalan sama cowok seganteng dia?"
"Gak usah ngaco! Kamu juga abis jalan kan sama cewek!"
"Lhoh? Aku baru balik dari AM, sayang, selingkuh darimananyaaa? Kalau kamu gak percaya coba tanya om Mike gihh."
"Tapi tu tadi aku liat kamu lagi jalan sama cewek samping-sampingann," ujar Asya makin kesal.
"Aku baru sampe, cantik. Bener-bener baru sampe. Aku lihat kamu di deketi cowok, aku langsung samperin kamu. Kapan selingkuhahnya cobaa?"
"Kebanyakan nonton drama perselingkuhan gini nih kamu, jadi su'udzon mulu sama aku," dumel Arsen. "Aku beneran lihat kamu selingkuh, Arseennn! Jangan ngelak dehh."
Arsen menghela nafas, "kamu liat aku dimana?" Asya langsung mengedarkan pandangannya lagi lalu menunjuk tempat yang sama dengan sebelumnya.
Oh ternyata kesalahpahaman? Mereka melihat pria itu, pria yang punggungnya mirip Arsen sedang berjalan bersama dengan kekasihnya.
Asya nyengir lalu menatap Arsen.
"Hehehe, maaf, mass."
Arsen menggelengkan kepalanya melihat Asya. "Makanya kalau apa tu tanya dulu bener-bener, baruu ngomell."
"Iyaaa, iyaaa. Kan tadi udah minta maaf sama kamu," jawab Asya agak kesal.
"Terus, pertanyaan aku sekarang, kok kamu mau kenalan sama cowok tadi? Karena ganteng ya makanya mau??"
"Iyaaa. Siapa tau ntar bisa jadi suami kedua," kata Asya tersenyum. Arsen benar-benar kesal mendengarnya, "satu aja belum, udah mau dua. Emang kuat kamu ngeladenin dua suami?"
"Kuat dalam hal apa dulu ni?"
"Apapun itu, kuat emang?"
"Ya nggak lah. Dulu ngurusin Racksa sama Azril aja capee!"
"Ha itulah sok-sokan dua suami. Lagian istri tuh gak boleh punya dua suami, tapi kalau suami boleh punya dua istri atau lebih. Karena kan imam butuh banyak makmum."
"TAII MU, YANG! JANGAN MACAM-MACAM YA LOKHH!" Arsen tertawa keras mendengar perkataan dan mimik wajah Asya. Terlihat lumayan lucu.
"Mau lanjut jogging?" tanya Arsen mengubah topik.
"Terserahh. Tapi keknya gak usah deh, kamu aja masih pake jas gitu. Emang sengaja pake itu ya buat jogging?"
"Nggak lhoh, cantikk. Kan aku habis dari AM langsung kesini, mana sempat ganti bajuuu."
"Yaudah kalau gitu mari pulang!"
Asya jalan terlebih dahulu meninggalkan Arsen. Arsen menggelengkan kepala, setelah Asya menjauh baru dia mengejar lalu menggendong Asya.
"Rese banget biawak!"
"Biar ayangiee aku tidak kelelahan," Arsen meletakkan Asya di dalam dengan perlahan-lahan kemudian masuk ke bagian kemudi.
"Ehh, Acen, ada yang bilang kita lebay tauu."
"Iya biarin ajaa. Aku lebay cuma buat lucu-lucuan biar kamu ketawa, aslinya kan nggak lebay."
"Benerr sii.. lagian kan tadi di chat aku cuma lagi cosplay jadi mbak Kinann."
"Heeemm, aku tau kok. Kamu mau jadi mbak Kinan beneran gaa?"
"YA NGGAK LAH! NGAWUR BANGET KAMU LHOHHH!"
"Hahahaha, ayang lucuu! Emang gak ada yang bisa nandingin imutnya kamu pas lagi marah," kata Arsen gemas.
"Berusaha semaksimal mungkin terlihat galak, namun ternyata tetap terlihat kiyowo. Jadi sedih karena gak keliatan galak."
...◕◕◕ ╥﹏╥ ◕◕◕...
Di perjalanan pulang mengendarai mobil, Arsen merasa ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Arsen bingung, memikirkan apa yang membuatnya tidak nyaman saat ini.
Ternyata sedari tadi Asya memperhatikan Arsen. Ia diam karena tidak ingin mengganggu, tapi makin kesini rasa penasarannya semakin tinggi! Asya tidak bisa menahannya lagi.
"Kamu mikirin apa?"
"Hah? Ehmmm, itu... ada yang ngeganjel dihati aku tapi gak tau apa," jawab Arsen setelah menoleh sekilas.
"Coba inget apa yang bikin ngeganjel. Masalah kerjaan mungkin?"
"Bukan keknya.. ini tadi pas kamu habis jogging. Cowok yang ajak kamu kenalan itu mungkin yang bikin janggal, siapa nama cowoknya?"
"Ste.. Stevan? Keknya iya deh, Stevan."
__ADS_1
"Ohh, Stevan ya. EH? HAH?! STEVAN??!"
Asya mengelus dada karena terkejut mendengar teriakan Arsen. "Kenapaa sampe teriak begituu siii kamuuu?!"
"Aku baru sadarrr. Kamu inget tentang mimpi yang aku bilang waktu itu?? Mimpi.. mimpi apa itu aku lupa, kan waktu itu namanya St-St gitu, pasti itu Stevan."
"Yang kapan sih, Cenn?"
"Waktu kamu ketemu Doy beli salakk. Aku gak inget apa mimpinya yang jelas ada St-nyaaa," jawab Arsen agak nyolot.
"Aaaa inget-inget. Yang kamu tegang gara-gara aku duduk dipangkuan kamu kan?" Arsen auto menatap kesal Asya, "kenapa ingetnya bagian situ sih, sayaangg?"
Asya malah tertawa.
"Ya yang jelas itukan?"
"Iyaa, pokoknya di hari itu. Kamu bilang waktu itu mimpi cuma bunga tidur dan gak bakal jadi nyata, tapi ini jadi nyata, sayangg."
"Terus ini maksud kamu, aku bakal beneran selingkuh gitu? Kamu gak percaya sama aku kalau aku gak bakal selingkuh, iya kan?"
"Nggak, bukan gitu maksud aku.Aku percaya kamu gak bakal selingkuh, tapi itu ntar Stevan pasti bakal ganggu ketentraman hidup kitaa. Aku takut dia ngelak—"
"Sen, itu cuma ketakutan kamu, belum tentu terjadi."
"Dan kalau misalnya terjadi gimana?" tanya Arsen khawatir. Asya terdiam sejenak, "kita skip aja ya. Aku gak mau berantem cuma gara-gara kamu curiga sama cowok yang baru ngajak aku kenalan tadi."
"Secara tidak langsung kamu mengatakan kalau aku overprotective yaa."
"Kenyataannya gitu kan?"
"Udah aku bilang kan tadi, aku cuma tak—"
"Aku juga udah bilang tadi, itu cuma ketakutan kamu doang, Arsen!"
Arsen diam mengontrol emosinya. Iyaa, Arsen tau itu belum tentu terjadi, tapi tetap saja dirinya takut itu terjadi. Arsen takut, miliknya direbut orang.
"Ya udah iya, skip aja," kata Arsen setelah agak tenang. Asya sendiri diam sembari melihat keluar jendela.
Hening.
Itu yang terjadi di dalam mobil.
Arsen mengerutkan dahinya ketika mendengar suara sesenggukan setelah lima menit berlalu. Asya sedang menangis?
Arsen menarik pelan pundak Asya, "kok nangis sih, sayaangg?" tanya Arsen bingung. "Ya abisnya kamu nyebelin bangett! Kan da—" perkataan Asya terhenti karena Arsen memeluknya.
Sebelum itu tadi, Arsen memarkirkan mobilnya di pinggir jalan. "Aku minta maaf sama kamu. Bukan aku gak percaya kamu, tapi aku sedang benar-benar takut kehilangan kamu."
"Hal yang paling aku takutkan adalah kehilangan kamu, sayang. Maaf kalau aku terlalu posesif sama kamu, suka ngekang kamu ini itu. Maafin aku juga karena udah buat kamu nangis," kata Arsen mengelus punggung Asya.
Asya mengangguk perlahan, "aku juga minta maaf sama kamuuu, aku cuma nangis pura-pura."
Arsen langsung melepas pelukan dan menatap Asya, "tapi mata kamu beneran merah kek abis nangiss. Tadi juga kamu sesenggukan."
"Mata aku tu kelilipan, terus pas kamu fokus banget sama jalan aku kasih obat tetes mata. Kalau sesenggukan kan bisa dibuat-buatt," jawab Asya santai sambil cengengesan.
Arsen menghela nafas panjang sembari menutup mata. "Mau aku makan gak kamuuuuu?!" Asya terkekeh.
"Maaf yaa, sayaangg. Tapi tadi kamu beneran nyebelin tau, makanya aku isengin sebagai maksud untuk balas dendam."
"Ahh ayang jahatt!!"
"Iya deh iyaa."
"Senyum dulu dong biar gantengg!" Arsen menatap Asya dan tersenyum paksa. Asya malah gemas melihat Arsen senyum seperti ini.
"Yaudah ah skip, ayo lanjut pulang."
Arsen melanjutkan perjalanannya dengan satu tangan, karena tangannya yang satu lagi asik menggenggam erat tangan Asya.
"Sesayang itu toh kamu sama aku?"
"Ya menurut nganaa?" Asya nyengir lalu mengecup sekilas pipi Arsen. "I love you, my honey!"
"I love you moree, babyy."
Keduanya saling melempar senyuman. Asya yang terus menatap Arsen jadi salting karena senyumannya terlalu manis. Asya membuang muka untuk menahan pipi merahnya.
"Ayang, menurut kamu mobil yang bagus mobil apa?" tanya Arsen mengganti topik. "Ndak tau. Kamu mau ganti mobil?" Arsen mengangguk.
"Aku bosen banget pake mobil ini, pengen ganti yang lain," Asya menatapnya heran. "Mobil kamu banyak loh, kalau bosen pake ini ya pake yang lainnn. Kapan kita nikah kalau kamu boros banget?"
Arsen senyum-senyum menggoda, "jadi kamu ngebet lagi nikah nihh?"
"Bukan gitoooooo!!" Arsen gantian tertawa melihat Asya tersipu maloeee.
"Gini lhoh, ayang, aku belum nikahin kamu dari kemarin-kemarin itu bukan karena aku gak punya uang, tapi karena ngerasa belum waktunya ajaa. Kalau kamu mau aku nikahin secepatnyaa, yaaa ayoooo gass ke KUA bulan depan."
Asya menyipitkan mata, "bulan depan?"
"Iya, bulan depan. Gimanaa? Kamunya siap gak?" tanya Arsen menggoda.
"Siap-siap aja siii."
"Oke kalau gitu nanti malam aja mau gak?"
"HEH NGACOOOO!"
...◕◕◕ (´・ω・`) ◕◕◕...
Malam ini Asya, Arsen dan beberapa temannya yang lain sedang berada di rumah pak Andre untuk membantu Arsen dan Alex menjaga adiknya.
Bukan berarti bunda Arsen tidak becus menjaga, tapi karena bunda dan papanya harus ke rumah sakit untuk menjenguk neneknya Alex.
"Asyilaa mau jajan??" tanya Ara.
"Ndak mauu. Cila maunya jalan-jalannn," jawab Asyila sedikit memanyunkan bibir.
"Cila mau jalan-jalannya sama siapa? Sama abang Azril, abang Arsen, abang Alex atau sama yang mana?" tanya Azril gantian.
"Mau sama semuanyaa."
"Fix ini, dia penerus abangnya di sekte biawak versi wanita," mereka tertawa mendengar perkataan Dino.
"Cila mau jalan-jalan kan? Ayok kita jalan-jalan," ajak Arsen sembari merentangkan tangan. Asyila mendekat, Arsen pun menggendongnya.
"Ini aselik, gue jadi pengen punya adek," kata Azril tanpa sadar. "Jangan ngadi-ngadi kemauan lu ya! Bisa-bisanya pengen punya adek," dumel Asya kesal.
__ADS_1
"Ya apa salahnyaaa, nunaa? Lu gak pengen apa?"
"Gak."
"Padahal gue pengen banget. Minta mommy-daddy pasti dikasih," ujar Azril semakin menggoda Asya. "Lu macam-macam gue tabok pake guci maknya Alex ya!" Azril tertawa cengengesan.
"Lagian lu ngapa dah gak mau punya adek?" tanya Ara heran. "Males, ntar subsidi keuangan berkurang."
"Kampret, minta ditabok juga dia!" Asya tersenyum meledek. "Udah ntar lagi diskusinya, ayok jalan-jalan bareng Asyila dulu."
"Kuy!!"
Mereka semua berjalan keluar rumah untuk mengajak Asyila jalan-jalan. Jalan-jalan yang dimaksud disini bukan jalan-jalan menggunakan motor atau mobil, tapi benar-benar jalan menggunakan kaki.
Cukup lama mereka jalan-jalan sembari bercanda ria di jalan, sampai akhirnya menyadari kalau Asyila sudah tertidur di pundak Arsen. Arsen membenarkan posisi tubuh adiknya lalu membiarkan Asyila tidur.
"Cila sama gue aja sini, daritadi lu mulu yang gendong. Gue kan juga mau gendong Cila," pinta Haikal agak ngegas.
"Lu minta bikinin adek sono, Calll. Kalau gak bikin sendirii," sahut Alex meledek. "Ya maunya dengan pilihan opsi kedua, tapi calon ibunya masih belom dihalalin."
"Memangnya Ara haram ya?"
"Enggak begitu konsepnyaaaaa dinosaurus!!"
"Au dah, cape gue."
Sebelum kembali ke rumah papa Arsen, mereka mampir terlebih dahulu ke supermarket terdekat. Tujuannya ya untuk membeli beberapa cemilan.
"Ehh, masak mie bareng mau tidak?" usul Naina. "Kamu udah laper lagi, sayang?" Naina menganggukkan kepala.
"Yaudah ayo masak mie barengg."
"Mie, ramyeon atau samyang enaknya?"
"Mie aja udah. Jangan cari penyakit, biaya rumah sakit mahal," omel Arsen menatap Asya. Asya pun kembali meletakkan ramyeon dan samyang lalu mengambil beberapa mie.
Seusai membeli mie, mereka ke kasir. Siapa yang bayar kali ini? Ya siapa lagi kalau bukan sultan Arsen, si anak muda yang kaya nan royal.
"Sudah belanjanya mari kita kembali."
Mereka kembali berjalan.
"Btw, bapak Andre balik jam berapa?"
"Entah. Gue gak nanya tadi," jawab Alex.
"Udah, biarin aja. Paling mereka produksi adek lagi," ceplos Dino dengan wajah meledek. "Lu pengen gue smackdown!"
Setibanya di rumah pak Andre.
"Mobil lu banyak lecetnya ya, Sen. Gak ada niatan ganti?" tanya Azril. "Tadinya mau gitu, cuma ibu bos gue belum ngijinin ganti mobil. Kata bu bos, mending uangnya ditabung buat nikah."
"Anjay bu boss. Mending beli ajalah gapapa, buat berdua gitu kan bisa juga. Nikahnya ntaran aja dulu," usul Dino.
"Gue tau tujuan lu, Din. Lu pasti gak mau gue nikah dulu kan?!"
"Ya emang nggak, lagi usaha nih. Selagi janur kuning belum melengkung, kan gue masih bisa nikung."
Arsen tersenyum kesal, "gue potong kepala lu baru tau rasa. Jangan macem-macem dah lu ah!" Dino tersenyum santai membuat Arsen tambah kesal.
"Tapi yang dibilang Dino bener sih, kan bisa buat berdua," kata Asya berubah pikiran.
"Oh, jadi aku boleh dong ganti mobil? Menurut kamu, bagus beli Lamborghini atau CR-V? Lamborghini aku ada sih di rumah tapi malas pakenya, tapi kalau CR-V aku masih belum punya. Gimana kalau CR-V aja?"
"Mending CRF."
"Memang lain ku tengok si Asya ini. Bagus dia ditawarin mobil yang bisa melindungi dari hujan badai angin ribut, malah pilih motorrr," kata Alex setelah meletakkan Asyila di kamar.
"Yaaa daripada mobil lagi, lebih baik motor. Kebetulan pengen CRF."
"Mending gak usah deh, yang," Arsen langsung ke dapur mengambil minuman soda yang tadi dibeli. Asya mengekorinya untuk membujuk.
"CRF aja ya? CRF ya sayang yaa?"
"Dak mau."
"Aalaaaa, CRF ajaa yaa? Yaaaa??"
"CR-V aja deh, yaangg? Kalau gak CR-V kita beli kakaknya, HR-V."
"No, no. I want CRF," jawab Asya teguh pendirian. Arsen meminum minumannya sambil berjalan kembali menuju kumpulan teman-temannya. "Nek ora CR-V yo ra sido tuku, yang."
"Beli dua aja apa susahnya si anyingg?! Duit banyak juga, malah sibuk betengkar."
"Biarin aja mereka bertengkar, gue senang ni lihatnya."
"Din, gue bunuh beneran ya lu?!!" Dino tertawa cengengesan lagi. Disela-sela perebutan CRF dan CR-V, ponsel Asya berdering. Ada panggilan video masuk dari daddy nya.
📱 "Assalamu'alaikum anak cantikk daddyyyy."
^^^"Wa'alaikumussalam.^^^
^^^Ada apa nichh? Tumben banget vcall."^^^
"Siapaa?"
"Bapakku," Azril langsung mendekati Asya dan ikut masuk melihat bapaknya.
^^^"Daddy di rumah sakit yaa??"^^^
^^^tanya Azril.^^^
📱 "Ouww, keliatann rupanyaaa."
^^^"Haaa kaannn. Di rumah sakit gak bilang-bilangg,"^^^
^^^protes Azril dan Asya berbarengan.^^^
Aska malah tertawa.
^^^"Itu siapa yang sakit, dad??"^^^
📱 "Nggak ada yang sakit, nak.
Daddy sama mommy cuma check up aja."
^^^"Check up??"^^^
__ADS_1
📱 "Hehehe.. jadii gini anak-anak daddy yang cantik dan tampan, daddy vcall karena mau kasih tau kalau kalian bakal punya adek lagi."
^^^"APAAAA?!"^^^