Barbar Generation

Barbar Generation
Chapter 145


__ADS_3

"Saha?" tanya Haikal.


"Unknown."


πŸ“ž "Halo. Assalamu'alaikum?"


^^^"Wa'alaikumsalam.^^^


^^^Dengan siapa, di mana?"^^^


πŸ“ž "Emm anuu, ini benar temannya Arsen?"


^^^"Iyaa benarr, saya temannya Arsen Shafwan.^^^


^^^Anda siapa ya?"^^^


πŸ“ž "Alhamdulillah gue gak salah nomor.


Ini gue cugg, Arsen. Hp gue mati jadi


minjem hp orang. Lu lagi sama Asya kan?


Bilang ke Asyaa, si abubu mati."


^^^"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."^^^


^^^"Kapan??"^^^


πŸ“ž "Tadi. Abubu kelindes mobil jirrr, kasiann.


Ntar lu ngomong ke Asya pelan-pelan


biar ga shock."


^^^"Lu jemput deh anyingg. Buruan ye!"^^^


πŸ“ž "Okey. Di tempat nongkrong tadi kan?


Gue udah deket ini."


^^^"Iyaa. Hati-hati lu!"^^^


Panggilan langsung terputus.


"Kenapaa, Ka? Siapa yang meninggal?" tanya Glacia panik.


"Abubu mati."


"Abubu?"


Mereka masih belum konek.


"MAKSUD LU ABUBU...?"


Shaka mengangguk pelan.


"Y-yang benerr?"


"Iyaa. Arsen tadi yang bilang, abubu kelindes truk."


Asya auto lemes mendengarnya. Untung disamping Asya ada Azril, jadi Azril menahan tubuhnya agar tidak jatuh.


"Arsen bakal jemput, kita tunggu disini aja bentar," mereka mengangguk setuju.


"Nanti kita cari abubu versi baru ya," kata Ara menenangkan Asya. Asya hanya diam dipelukan kembarannya.


"Iya bener tu. Ntar gue beliin abubu versi London," sahut Dino ikut menenangkan. Asya sendiri masih tetap diam.


"Wait wait. Gue masih bingunggg, abubu teh sahaa?" tanya Glacia kebingungan.


"Abubu itu kucing kesayangannya Asya."


β—•β—•β—•


Selepas nguburin abubu di belakang rumah, Asya malas bicara. Dirinya hanya menempel pada Arsen.


Arsen sama sekali tidak risih dengan kelakuan Asya, ia cuma agak kesal karena pergerakannya terhambat. Tapi takpa karena Asya seperti ini lima tahun sekali pun belum tentu. Wkwk.


"Sayang, makan dulu yok. Kamu belum makan," ajak Arsen sembari mengelus rambutnya.


"Nggaakk," jawab Asya lesu. Saat ini ia berada diatas paha Arsen, menyembunyikan wajahnya didekat perut Arsen. "Jangan nyari penyakit deh. Ayok makan sekarang," kata Azril tegas.


"Nggaa. Kalau mo makan yaudah sanaa, gak usah ngajak!"


"Makan rame-rame loh enak. Anyway, masak seblak yok? Gue udah lama nih pengen masak seblak," kata Ara menggoda.


Oh ternyata Asya benar tergoda!


Ia langsung putar balik badan menatap Ara.


"Seblak itu yang... mana?" tanya Glacia bingung.


"Ituu, yang pake krupuk gitulah pokoknya. Ayok kita buat biar lu tau. Gue rasa dirumah gedenya om Aska semua bahannya ada," kata Ara bersemangat.


"Keknya iya sih ada. Bakso jelas ada, sosis juga, telor apalagi, ayam juga pasti ada. Ayoklah buat," sahut Naina ikut bersemangat.


"Ayok!! Gue ikuttt!" Asya bangun dari rebahannya, perlahan Asya mulai kembali ceria.


"Kalau seblak aja langsung cepet bangunnya," ledek Arsen. Asya cengengesan.


"Lu masih lama lagi, Sya? Biar gue tinggal aja ni."


"Ehh ya jangan dong. Tunggu bentar!" Asya mengambil tissue dan mengelap sisa-sisa air matanya. Setelah itu ia berdiri dan mendekati Ara, tapi sayangnya gagal karena tarikan Arsen.


"Ih, kenapaa?"


Cup~


"Semangatt!"


Cup~


"Jangan sampe kecapekan."


Cup~


"Jangan bikin pedes-pedes. Bisa dimengerti?"


Asya mengangguk sambil tertawa kecil. Ia mengecup pipi kanan Arsen sekilas lalu pergi duluan menuju dapur.


"Duo bucin akut," cibir Ara kemudian pergi begitu saja.


"Padahal dia juga bucin nih sama ikan sarden!" Haikal auto natap Arsen. "Ikan sarden yang lu maksud itu gue?" tanya Haikal sinis.


"Bukan lu, tapi pak Ivan."


"Anjβ€” astaghfirullahalazim. Jangan begitu ya lain kali, waterboom menn!" Mereka tertawa mendengarnya.


"Ehm. Jadi gimana, Asya udah keluar dari zona sedihnya?" Aska dan Zia muncul tiba-tiba.


"Udah kok, om. Gara-gara seblak."


Aska tertawa kecil. "Kirain Arsen yang berhasil bujukin, taunya seblak."


"Hehe. Kali ini levelnya susah, om, makanya si seblak turun tangan."


"Iya deh iyaa," jawab Aska tersenyum meledek.


"Om sama tante mau kemana? Rapi banget kek mo kondangan."


"Iya emang mau kondangan, Kal. Ngomong-ngomong papa mama kamu disini gak?" tanya Zia gantian.


"Kemaren disini, tante, tapi tadi malam udah balik lagi ke London. Katanya sih ada urusan." Zia dan Aska berohria panjang.


"Terus kalian selama ini tidurnya dimana?"


"Dii basecamp, om, rumah abu-abuu. Cewek cowoknya kami pisah," jawab Shaka mewakili.


"Ini si Racksa. Ikut dirumah abu-abu juga?" tanya Zia menunjuk Racksa. "Ndak dooo, auntyy. Racksa tidur diapart," jawab Racksa.


"Tumben berani?"


"Ya kan Racksa emang tampan pemberani."


"Kepedean kan jadinya!" Racksa tertawa kecil.


"Om sama tante mau berangkat dulu ya biar ntar pulangnya cepet," pamit Aska sambil menggenggam tangan Zia.


"Tapi tumben juga ya daddy sama mommy kondangan siang, biasanya malem," ujar Azril.


"Nanti malam ada acara lain."


"Orang sibuk emang bedaaaa."


Aska dan Zia cengengesan, "makanya belajar yang pinter biar jadi orang sibuk."


"Udah sibuk nih, om. Sibuk ngurusin orang." Mereka tertawa lagi mendengar perkataan Dino.


"Oiyaa, Sen, acara nanti malam kamu juga ikut. Datang ke rumah halmoni nya Asya."


Azril yang tadinya sedang minum langsung keselek. "Daddy? Jangan bilang....?"


"Iyaa, itu."


"Tapi cepet bangettt inii. Pesta bang Zap aja baru lewat."


"Lebih cepat lebih baik, daddy takut nanti gak bisa jadi wali nikahnya Asya." Seketika yang lain mengerti apa yang mereka bahas.


"Daddy kenapa ngomong gitu cobaa? Ah, Asya ga sukaa!" Aska menoleh ke sumber suara. Asya datang sembari membawa sutil ditangannya.


"Cuma persiapan, sayang. Lagian ini masih rapat keluarga. Daddy tu beneran takut ntar gak bisa liat kamu pake gaun cantik."


"Ishh, apaansi ngomongnya gitu? Daddy mo buat Asya nangis lagi?"


Aska tertawa kecil, "nggak kokk. Daddy cuma mikir titik terburuknya aja. Kematian gak ada yang tau kan?"


β—•β—•β—•


"Hssss.. gue jadi overthinking. Kenapa tiba-tiba om Aska ngomong gitu tadi?" tanya Alex ditengah menikmati makanan.


Mereka baru saja membeli menu baru McD, setelah memakan seblak yang dibuat tadi.


"Ck. Diem lu, Lexx. Gue dari tadi mo ngilangin pikiran itu, kenapa malah lu ingetin sii?!" ujar Asya kesal.


"InsyaAllah gak bakal terjadi apa-apa. Bisa aja om Aska menyegerakan biar Arsen gak ngelakuin hal yang diluar nalar," sahut Shaka berusaha positif thinking.


"Diluar nalar gimana maksud lu? Lu kira gue bakal ngelakuin hal goblokk kek gitu? Se-brengseknya gue, gue gak bakal ngelakuin hal sejauh itu, Ka."


"I know. Tapi bisa aja kan? Waktu itu aja lu nyium bibir Asya."


Arsen terdiam sejenak.


"Itu khilaf."


"HAHAHAHA! Ngeles banget dia."


Arsen diam lagi sambil menyembunyikan wajahnya di balik lengan Asya.


"Asya diem-diem pipinya merah ya," ledek Ara.

__ADS_1


"Huhh~ gue lempar burger juga ntar lu!"


Mereka tertawa lagi.


"Btw, gue mo nanya nih. Pertanyaannya cukup sensitif tapi gue beneran penasaran," kata Alvin sok serius.


"Nanya apaan?"


"Ntarr kalau lu bedua udah nikah, langsung mo punya baby?"


"Bujug busett. Pertanyaan lu udah jauh banget ye, Pin, padahal nikah juga belom."


"Ya kan gue penasaran aja gituu. Langsung mo punya atau nggak?" tanya Alvin lagi.


Arsen menatap Asya, Asya menatap Arsen.


"Nggak."


"Why why why??"


"Asya masih butuh pendidikan buat ngajar anak-anak gue nanti, dan gue juga masih butuh pendidikan buat nafkahin anak istri gue. Satu alasan lainnya, gue belom siap jadi ayah."


"Kenapa gak siap?"


"Takut gagal aja."


"Oke itu jawaban lu, Sen. Gue pengen tau jawabannya Asya."


Semua mata langsung terfokus ke Asya.


"Haruskah gue jawab juga?"


Mereka mengangguk.


"Em.. gue sii mau langsung."


Arsen langsung menatap serius Asya.


"Ngeriii juga si Asyaa. Kenapa lu mau langsung?"


"Biar ntar pas gue tua anak gue udah gede. Sama kek mommy daddy. Tapi semuanya terserah Arsen sih, hehe."


"Wahh.. Kamu serius nih jawabnya begini?" tanya Arsen.


"Iyaa serius. Kenapa emang?"


"Yaudah ayok buat sekarang yok."


"HEHH ANJIRRR!" Azril langsung protes mendengarnya. Arsen dan Asya malah tertawa.


"Ntar kalau lagi proses live streaming ya, buat edukasi," pinta Dino dengan muka polosnya.


"Edukasi pala lu peang jirr. Gue tabok juga nanti lu!" Dino nyengir.


"Jujurly gue boong doang tadi. Gue masih mo nikmatin masa muda juga," kata Asya meluruskan.


"Plin-plan banget lu jadi manusia."


Asya cengengesan mendengarnya.


"Sudah-sudah, itu urusan gue sama Asya nanti. Mari skip percakapan 18+ itu. Sekarang gue mo nanya gantian. Alvin, Alex, Racksa, Dino, kapan punya ayang?"


"Arsen anak ngen."


"Pertanyaan macam apa inihh?! Emosi aku, ganti-ganti!"


"Gimana yah jawabnya?"


"Gimana aku bisa jawab pertanyaan yang gak jelasss ini!"


"HAHAHAHA, SIALLANN. Ekspresinya Dino gitu banget jirrr," ledek Ara sambil terkekeh.


"Kek.. hahahahahaha! Emang cocok banget lu jadi jamet, Din," ledek Asya ikutan.


Dino diam, menghela nafas panjang dan mengelus dadanya. "Gue ganteng, gue sabar." Mereka tertawa untuk yang kesekian kalinya.


"Btw, lu pada kapan balik?" tanya Alvin mengalihkan perhatian.


"Besok."


"Serius besok? Cepet bangettt!"


"Ini juga udah kelamaan, Syaa. Harusnya kemaren. London ke Indonesia gak jauh kok," sahut Haikal.


"Gak jauh gundulmu! Jauh gitu dibilang gak jauh." Haikal tertawa kecil, "padahal emang gak jauh."


"Karepmu, Kal."


"Pas ada waktu luanglah kalian ke Jepang. Nanti bakal gue kenalin ke temen-temen gue yang ganteng, Sya."


"Araaa~"


"Araa!"


"Nyari penyakit si Ara."


Ara terkekeh melihat Arsen dan Haikal sedang menatapnya sinis. "Becanda doangg!"


"Beneran gapapa, Raa. Ganteng gak temen lu?"


"Asyaaa~"


Asya auto cengengesan.


"Ntar kalian berdua honeymoon ke New York aja, nyamperin gue sama Shaka," kata Glacia merayu.


"Ngga dulu. Gue mo ngajak Asya honeymoon ke pantai selatan," ujar Arsen santai.


"Ih bagus. Nanti kita nyelem ke pantai nya yyaa!"


Teman-teman Asya dan Arsen auto menatap mereka berdua sinis. "Memang jodoh ya lu bedua, sama-sama kurang seperempat otaknyaa."


β—•β—•β—•


19.12, dirumah Arsen.


Sudah jam segini dan Arsen masih bingung hendak mengenakan baju apa. Dirinya hanya punya waktu empat puluh delapan menit lagi sebelum rapat dimulai.


"Panik banget keknya, Sen."


Asya langsung menoleh ke depan pintu kamarnya. "Papa? Ngapain disini? Tumben."


"Papa dikasih tau om Mikko, kamu mau jumpa formal sama keluarganya Asya."


Arsen tersenyum tipis, "maaf yaa. Arsen gak bilang papa."


"Gak masalah. Ini kamu dari tadi masih milih baju?"


"Iyaaa, Arsen tu bingung. Pake hoodie aja, kemeja, atau pake tuxedo."


"Eemm.. acaranya formal banget gak sih?" tanya papa Arsen ikut berdiri di depan lemari.


"Iya keknya, pa. Tapi gatau juga deng, Arsen bingunggg."


"Menurut papa ini acaranya formal tapi ga formal gitu si. Mending kamu pake kemeja aja."


"Ini maksudnya formal tapi ga formal gimanaa coba?" Papa Arsen malah cengengesan melihat anaknya kebingungan.


"Udah, pakee kemeja aja. Nih papa beliin kemeja tadi." Arsen menerima plastik yang diberikan papanya.


"Uuuwww.. udah disediakan rupanya, pantesan suruh pake kemejaa."


Papa Arsen tersenyum. "Papa dulu juga pake kemeja pas lamar mama kamu, alhamdulillahnya langsung diterima."


"Wahh, mantap! Arsen takut gak diterima," keluh Arsen sembari membuka kaosnya dan mengenakan kemeja dari sang papa.


Papa nya pun mendekat dan merapikan kemeja Arsen. "InsyaAllah diterima. Anak papa kan hebat, wong papanya juga hebat."


"Wlee. Narsis sendiri! Papa keluar dulu gih, Arsen mo ganti celanaa."


"Kenapa papa harus keluar? Dulu yang mandiin kamu papa lhoo.."


"Itu dulu, pa, duluuu. Sekarang Arsen udah kepala duaa, masa papa mau lihat aset berharganya Arsen."


Papa Arsen tertawa lagi. "Yaudah, yaudah. Papa tunggu diluar." Ia langsung pergi meninggalkan Arsen sendiri di kamar.


Arsen sendiri mengambil salah satu celana jeans yang baru, lalu memakainya. Setelah itu, dirinya menyisir rambut, mengenakan jam dan mengenakan parfum mahal yang wanginya duit.


"Wiss... ponakan om ganteng bangettt," ledek Mikko melihat Arsen keluar dari kamar.


"Sorry la yaw, udah ganteng dari dulu Arsen mah."


"Iya-iyaa. Kamu ganteng juga karena oom ganteng," jawab Mikko songong.


"Pede bangett. Ehh, kamu memang ganteng sih tapi sayang gak nikah-nikah," cibir papa Arsen yang mengundang gelak tawa.


"Jangan bikin mental down ya, bang. Gak semua orang kwatt!" Arsen dan mama tirinya tertawa.


"Cepet nikah deh, Ko. Masa mau dilangkahin?"


"Gapapa. Ntar abis Arsen nikah aku nyusul," ujar Mikko dengan senyuman.


"Karepmu wess. Arsen udah siapp nih?"


"Udah, pa."


Mama tiri Arsen memberikan Syila pada papa Arsen kemudian mendekati Arsen. "Agak rapi dikit toh, Sen," kata bundanya sambil membenahi baju Arsen.


Arsen tidak menjawab, ia membiarkan bundanya merapikan pakaian yang ia kenakan.


"Jangan tegang gitu mukanya, santai aja santai. Percaya deh sama papa, kamu pasti diterima."


"Kalau nggak gimana?" tanya Arsen langsung.


"Belum apa-apa udah negatif thingking, gimana sih kamu?"


"Yaa kan.. kali aja nggak."


"Pasti iya! Ini bunda bawain cookies sama brownies. Nanti kasih ke mereka ya," bunda Arsen langsung memberikannya pada Arsen.


"Arsen beli martabak lagi gak ya?"


"Ada yang suka martabak nggak dikeluarganya Asya?" tanya papa Arsen.


"Emm.. keknya gak ada deh. Gak tau juga deng."


"Udah gak usah aja biar cepet. Mending kamu berangkat sekarang, takutnya nanti telat. Masa CEO gak on time," ujar bundanya Arsen.


"Oiyaa! Makasih bunda udah ngingetin."


Arsen menyalami tangan bunda, papa, dan oomnya secara bergantian. Syila? Lagi tidur.


Seusai salam tadi, Arsen langsung mengambil kunci mobil dan berjalan cepat menuju garasi.


Arsen pergi menuju rumah halmoni nya Asya mengendarai mobil kesayangannya. Sepanjang perjalanan ia diam dengan kegugupan yang meliputi.


Arsen mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi agar tidak terlambat. Untungnya tidak terjadi apapun selama di perjalanan sampai dia tiba.


"Akhirnya sampe," gumam Arsen setelah berada di depan pintu. Arsen menghela nafas panjang terlebih dahulu.

__ADS_1


Ting tong!


"Sebentar..."


ART halmoni Asya membukakan pintu.


"Den.. Arsen kan?"


"Iya budee, hehe."


"Masuk, den."


Keduanya masuk bersama.


"Tadi saya dapat pesan dari pak Zean, katanya den Arsen bisa langsung ke ruangan rapat aja."


Arsen menganggukkan kepala.


"Makasih infonya, budee."


"Sama-sama.. semangat ya, den Arsen." Arsen tersenyum lalu masuk ke lift. Tujuannya ke ruang bawah tempat rapat dimulai.


"Semuanya udah disana? Mampuss gue kalau gini ceritanya," gumam Arsen lagi di jalan.


Ting!


Arsen keluar lift.


Dirinya berjalan lagi lalu membuka pintu ruangan itu. Tentunya setelah tarik nafas panjang.


"Assalamu'alaikum.. maaf, Arsen agak telat ya?" Semua pandangan langsung menuju pada Arsen.


"Nggak kok, nggak telat. Kami yang kecepatan disini," ujar Febby sambil tersenyum.


"Iya, betul. Duduk sini, Sen." Arsen berjalan mendekati Asya dan duduk di sebelahnya.


"Oiya, ini Arsen bawain cookies sama brownies dari bunda." Upi mengambilnya dan membawa ke meja billiard.


"Di potong, Pil. Jangan lu makan ndiri!!!"


"Iya-iyaaa."


"Ngomong-ngomong, kok ganteng banget anak ini... rahasianya apa si?" tanya Frizy penasaran.


"Banyak sholat sama jarang nonton bokp aja, bang. Di jamin glowing," jawab Arsen santai.


"Ngadi-ngadi lu yak, Sen. Hati-hati lu, vote dari gue juga penting nihh."


Arsen diem sejenak. "Keknya gue salah jawab ya? Maaf ya, bang." Mereka langsung tertawa melihat Arsen.


"Udah becandanya. Ayo kita mulai biar cepet barbeque-an."


"Sebelum mulai, Arsen kasih minum dulu. Arsen mo minum apa?" tanya Febby.


"Gak usah repot-repot, tanβ€”"


"Iya, mii. Gak usah repot-repot. Air keran juga gapapa dia mahh," sahut Frizy dengan senyuman jokernya.


"Huhhh... sabar Arsen, sabarrr. Ntar dia ngancem voting lagi." Mereka tertawa mendengar perkataan Arsen.


"Arsen abang kasih air putih aja ya. Biar cepet mulai rapatnya. Abang mo bikin baby," kata Zafran sambil memberikan sebotol air mineral pada Arsen.


"Apasih kamu tu?!" amuk Aisyah kesal. Zafran malah tertawa melihat ekspresinya.


"Thank you, bangg."


"You're welcome."


"Yaudahh. Ini rapatnya ga formal-formal banget, tapi harus sopan ya!" kata Zean memperingati. Semua serentak menunjukkan jempolnya.


"Okee.. ini mulai darimana?" tanya Zai buka suara.


"Papa lah, masa dari lu."


"Santai aja keless, gak usah ngegas."


Zean menatap sinis Zai.


"Udah-udah! Ini papa gak mau nanya apa-apasi. Arsen udah cocok banget sama cucu papa," kata harabojinya Asya. Arsen menanggapinya dengan senyuman.


"Kalau halmoni sendiri cuma mau tanya, Arsen hafal surah Ar-Rahman?"


"Alhamdulillah hafal, halmonii."


"Alhamdulillah.. kalau surah Al-Kahfi hafal?"


"Hafal juga, halmoni," jawab Arsen santai.


"Alhamdulillah, mantap! Gak salah pilih Asya mah." Asya tersenyum senang.


"Bang Ze.. lu mo nanya kagak?" tanya Zai sekian lama menunggu Zean bersuara.


"Sabar. Diem dulu!"


Zai tidak menjawab secara terang-terangan, tapi dirinya mengumpat sejadi-jadinya dalam hati. Kesal cugg!


"Jujur, ongkel agak ragu dan agak gak setuju sama pilihan kamu, Sya."


"Ke.. napa, ongkel?"


"Dia punya pacar banyak dulu, banyak bangett malah. Om juga takut kamu diselingkuhin sama dia."


"Bang, kenapa jadi buruk sangka?" tanya Aska heran.


"Bukan buruk sangka. Kan udah gue bilang, gue takut ponakan gue diselingkuhin."


"Itu belum tentβ€”"


"Iyaa. Belum tentu terjadi memang, tapi gak menutup kemungkinan. Secara bapaknya aja tukang selingkuh sampe ibunya ditelantarin. Kalau Asya kek gitu juga gimana?"


Baru sampai di kata 'selingkuh' tadi, Asya langsung memutar kursi Arsen jadi menghadapnya dan langsung menutup telinganya.


Arsen menatap Asya sambil bertanya-tanya. Asya hanya menjawabnya dengan senyuman.


"Syaa. Kenapa kamu tutup telinga Arsen?" tanya Zean sinis. Asya tidak menjawab.


"Bang, gue rasa lu kelewatan deh sampe bahas kesana. Asya sengaja tutup telinga Arsen biar Arsen gak tersinggung denger ucapan lu."


"Emang gue nyinggung? Kan nggak. Gue nanya."


"Nanya? Nanya apaan lu, hah?! Lu gak nanya tapi nyinggung perasaan orang, Zean!!" bentak Zia.


"Lu bayain deh coba, lu bayangin kalau lu diposisinya Arsen. Itu masa lalu yang super duper kelam, dia berusaha bangkit dari masa lalu itu dan lu malah buat dia nginget kembali masa-masa itu. Lu sehat gak sih?" lanjutnya.


"Gue cuma nanya, Zia! Gue gak mau Asya ngerasain hal itu! Lu pasti juga gak mau kan?!"


"Iya nggaklah! Siapa yang mau anaknya disakiti kek gitu. Dan gue jelasin lagi, lu gak nanya, lu cuma mau bikin Arsen down sama perkataan lu."


Situasi memanas.


Keluarga ini bagai terpecah-belah.


Haraboji, halmoni beserta para sepupu Asya hanya bisa diam karena takut kena semprot juga.


Arsen sendiri masih ditutup telinganya. Ia hanya menatap mata Asya yang terlihat sedikit berkaca-kaca.


"Asya, jauhkan tanganmu dari telinga Arsen."


"Nein."


(Tidak.)


"Lepas sekarang atau ongkel gak bakal pernah izinin kamu nikah sama dia." Arsen langsung menggeserkan tangan Asya perlahan. Asya melotot karena terkejut.


"Kamu.. dari tadi denger?" Arsen tersenyum tipis lalu kembali melihat Zean.


"Saya izin berbicara ya. Memang iya, papa saya sejahat itu dulu. Dia menelantarkan mama saya dan juga saya karena sibuk bersama selingkuhannya. Tapi saya berbeda, saya tidak akan mengikuti jejak papa sedikit pun."


"Iya saya banyak pacar dulu. Tolong digarisbawahi, itu dulu. Sekarang, saya berani sumpah kalau saya gak pernah suka sama cewek manapun setelah Asya masuk kedalam kehidupan saya."


"Saya gak bakal selingkuhan Asya karena itu sumpah saya sendiri sebelum meletakkan cincin tunangan ke jari Asya. Saya rela ditembak seratus peluru kalau sampai saya selingkuhin Asya."


"Seratus peluru? Kurang."


"BANG ZEAN!"


"Tante Zia tenang dulu. Saya gak bakal goyah kok. Mau sampe seribu peluru pun saya siap janjikan karena saya yakin itu gak bakal terjadi."


"Saya ulangi lagi ya, saya memang tukang selingkuh tapi itu dulu sebelum mengenal Asya."


"Oiya, menurut cerita yang Arsen dengar, om Zean juga gitu kan dulu? Dan sekarang gimana? Om Zean berubah, om Zean gak pernah lagi main cewek. Benerkan?"


Zean diam.


"Saya juga bakal gitu karena saya udah ketemu sama pujaan hati saya."


Hening sejenak.


"Hahahahaa... mantap!"


"Waw! Lu kenapa?!" tanya Zai sinis.


"Gue puas. Arsen, maaf kalau om keterlaluan tadi. Om cuma ngetes seberapa seriusnya kamu ke Asya."


"Anjirr lu, Zean!! Gue darah tinggi gara-gara lu ya!!!" Zean tertawa lagi melihat Zia mengamuk.


Arsen menghela nafas panjang lalu meminum air putihnya. "Parah banget si, om Ze. Jantung Arsen udah jedag-jedug dari tadi," keluh Arsen menatap Zean.


"Keliatan kok jedag-jedugnya. Maaf, yaa. Om emang sengaja, sekalian reuni gelut sama Zia."


"Kampret emang lu!"


Zean cengengesan.


"Ongkel.. jangan begitu ya lain kali. Waterproof men!!"


Mereka terkekeh bersamaan.


"Jadi ini tanya-tanya nya udah belom?"


"Udahh."


"Vote nya gimana?"


"Emm.. aku sih yes!"


...----------------...


...Haii readers sayaa yang baik hatiee, rajin menabung dan tidak sombong. Saya hiatus dulu boleh yaa? Pikiran saya lagi bercabang, bentar lagi juga ujian jadi bingung kalau fokusnya terbagi. Ini sengaja dikasih label end biar pihak nt ndak kasih peringatan....


...Tolong pengertiannya okay? Jangan pada unfavv....


...Nanti kalau ada ide dan kesempatan buat ngetik, InsyaAllah saya up....


...Kalian jaga ga kesehatan yya!...


...Byee~...


...----------------...

__ADS_1


__ADS_2