
Di pagi hari yang cerah, sepasang kekasih yang tadi malam sibuk keringetan kini masih sama-sama tertidur. Keduanya saling berpelukan di balik selimut sampai akhirnya panggilan telepon mengganggu.
Arsen mengambil ponsel itu, tanpa melihat siapa penelpon, Arsen langsung mengangkat panggilan. Singkatnya, itu dari om Mikko yang sedang berada di ruangan Arsen dan ingin bertemu.
Perlahan-lahan, Arsen melepas pelukan Asya. Ia keluar dengan atasan kemeja dan bawahan boxer. Agak lain memang bos kita satu ini.
"Wahh, apa-apaan kamuu?" Arsen merebahkan tubuhnya di sofa dan membiarkan Mikko di kursinya. Arsen yang masih terpejam menjawab, "Apanya apa-apaan, om?"
"Tampilanmu ituloh, Pak CEO." Arsen malah nyengir mendengar perkataan Mikko. "Gak ada yang liat juga, cuma om Mike."
"Ckckc. Om denger dari Adam, kamu nginep? Bareng istri?" Arsen mengangguk. "Are you kidding me?"
"Lah ngapee?"
"Gakpapa, tapi MINIMAL HARGAIN OMNYA GITU LOHH." Arsen membuka mata dan tertawa, "Yang nyuruh jadi bujang lapuk juga siapa? Makanya jangan kerja teruss."
"Kok kamu yang jadi paling tua?"
"Ampunn," jawab Arsen cengengesan. "Ini ada apa btw? Tumben banget pagi-pagi."
"Bingung juga jadinya mo ngapain. Terkejut om liat kamu, ngadi-ngadi banget hidupnya. Kasian, honeymoon di kantor."
"Walah walaahhh, sepertinya belio ini lupa gess, belio penyebabnyaaa." Mikko gantian tertawa. "Udah kelar kok ini, oh iya, tawanan kamu meninggal beneran."
"Rill?! Beneran karena odgj?" Mikko mengangguk santai, "Berarti udah dijelasin, kan?"
"Iya udah, tapi Arsen masih gak percaya ajaa."
"Om juga ngerasa gitu, kek gak masuk akal. Tapi emang beneran meninggal, om liatin juga kemarin. Mungkin Allah sengaja itu biar kamu gak jadi tukang siksa." Arsen tertawa kecil, "Yaudah biar aja dia di siksa Allah."
"Arsen...." Mendengar suara pintu terbuka dan namanya dipanggil sang istri, Arsen buru-buru mendekati ruangan privatenya dan membawa Asya kembali masuk.
Tidak perduli dengan respon Mikko, Arsen hanya tidak ingin kondisi istrinya sekarang terlihat banyak orang. Termasuk Mikko.
Sebenernya cantik sih ya cantik, tapii, saaaaangat berantakan. Lehernya juga penuh dengan tanda yang Arsen buat. Asya direbahkan kembali ke kasur dan Arsen berada di atasnya dengan senyuman.
"Good morning, honey."
Dengan mata yang masih terkantuk-kantuk, Asya menatap Arsen. "Good morning too, babe," jawab Asya mengalungkan tangannya di leher Arsen.
Arsen mendekati bibir Asya dan mengecupnya sekilas. "Bahaya banget kamu tadi mendadak mo keluar."
"Kenapaaa?" tanya Asya sedikit bingung. "Itu ada om Mike di depan."
"RILL KAHH?!! Terus tadi akuu?"
"Tadi kamu apa? Oh maksudnya keliatan atau nggak gitu?" Asya mengangguk. "Nggak kok, sayang, om Mike pas lagi liat dokumen tadi."
Asya berohria dengan santai. Ia menatap heran Arsen yang terus menatapnya. "Masih pagi, Sen, jangan aneh-aneh!" Arsen malah tertawa. "Aku diem aja loh?"
"Tatapan kamu tu mencurigakann!" Arsen cengengesan. "Apakah aku bisa mendapatkan morning kiss hari ini?"
"Suree, babeee." Mendapat lampu hijau, Arsen langsung mulai tanpa pikir panjang.
Cukup lamaaa.
Melihat Arsen terhanyut dalam suasana dan takutnya malah mengulang yang tadi malem, Asya menepuk pundak Arsen menyuruh lepas. "Udah yaa? Om Mike nungguin tuu."
"Yaudah iyaa." Arsen bangun, ia mengutip baju yang berserakan di lantai. "Kamu mo mandi dulu atau gimana sekarang? Ada kamar mandi tuh kalau mau mandi."
"Gak mau mandi sekarang, dingin sepertinya."
"Jadi mau ganti baju aja? Pakai baju aku aja kalau iya," saran Arsen lagi. "Tidak mauuu. Baju kamu baju formal semuaaa."
"Iya jadi mau pakai apa sayangkuu?" Asya terlihat pura-pura berfikir. "Gak pakai baju aja dehh."
"Kebiasaann. Gak boleh nakal gitu ah." Asya tertawa melihat respon suaminya. "Kamu gak seneng?"
"Mau gak bisa jalan?"
"Ampunn!" kata Asya nyengir. "Aku laperr btww."
"Mau sarapan di kantor atau di luar?" tanya Arsen menatap Asya. "Mau makann di luar, tapi abis mandi. Jadii mo pulang duluu, mandinya di rumah ajaa."
"Mandi berdua?"
"Heyy!!"
"Hahaha. Yaudah, kamu siap-siap sana. Ganti dulu bajunya, terserah pake apa yang penting pake baju. Biar aku samperin om Mike dulu. Udah ngedumel kayaknya dia." Asya yang tadinya rebahan, kini mendekati Arsen.
Bukan bermaksud apa-apa, Asya memakaikan dasi untuk Arsen agar terlihat rapi meskipun belum mandi. Setelah itu, ia mengecup bibir suaminya.
Tidak hanya sekedar kecupan karena bukan Arsen namanya kalau tidak tergoda. Mereka malah berciuman kembali dan berhenti tepat di saat ada pesan masuk di ponsel Arsen. "Short massage from om Mike, isinya, Arsen om masih di sini..."
Asya tertawa melihat ekspresi Arsen yang sedikit kesal. "Rusuh betul ya, bujangan satu ituuuu."
"Gitu-gitu juga om kamu, sayangg."
...◕◕◕...
Mereka beneran mabar, mandi bareng. Arsen memintanya dengan alasan biar cepat selesai dan cepat sarapan, padahal itu modus. Kini keduanya sedang bersiap-siap mencari sarapan.
"Sen?" Arsen yang sedang bermain ponsel di kasur hanya berdehem. "Am i pretty?"
"Of course. Arsen wife always pretty."
"Enggak. Keknya aku makin jelek deh," keluh Asya sambil berkaca. "Jelek apanya? Cantik banget loh kamuu."
Asya cemberut. "Gak jadi makan di luar, aku gak pede." Arsen menghela nafas, sedikit kesal. Ia sudah menunggu istrinya dandan sampai hampir satu jam tapi malah tidak jadi. Rasanya seperti diphpin.
"Aku harus bilang apa sekarang?" Asya menatap Arsen bingung, "Maksudnyaa?"
__ADS_1
"Aku bilang kamu cantik, kamu gak percaya, tetep insecure. Ya kali aku bilang kamu jelek padahal kamu MasyaAllah banget cantiknya kayak bidadari. Terus ini aku harus gimana, sayang? Lagian kenapaa kamu tiba-tiba begitu?"
"Nggak tau... Gak mau makan di luar."
"Delivery?" Asya menggeleng. "Aku keliatan gendut, gak mau makan ajaa."
"Apa pulak. Mau jadi apa? Tinggal tulang? Biar apa coba kek gitu? Mau aku dimarahin mommy daddy, dibilang gak kasih kamu makan. Iya maunya gitu?" Asya menggeleng lagi. "Enggak gituuu, tapi aku gak pede, Arsen!!"
Arsen menghela nafas lagi, ia mengambil bantal dan selimut lalu tidur tengkurap dengan kepala ditimpa bantal. "Ngomong sama rumput aja sana kamunya, aku lagi kesel."
"Kamu mau makan apa emang?"
"Makan kamuuu."
Belum sempat Asya menjawab perkataan Arsen, bel apartemen mereka berbunyi. Asya beranjak pergi menghampiri. Arsen ikut menyusul.
"Hi, my twinss!" Terlihat Azril dan Naina berada di sana dengan senyuman merekah. "Gak terima tamu," kata Arsen ketus.
"Gue bawa naspad..."
"Silahkan masukk, massss," tawar Arsen dengan sumringah. Azril mendengus kesal. "Rodok bajingann kamu yaa!"
Azril dan Naina pun masuk bersamaan. Naina dan Asya menyiapkan makanannya ke piring sedangkan Arsen dan Azril diam menunggu di meja makan. "Btw, ini lu berdua abis berantem?"
"Nggak, kenapa?"
"Gak biasanya diem-diem, hawanya juga beda. Slek kan lu berdua?! Jujurrrrr!" kata Azril memaksa. "Ini urusan rumah tangga gue Ajil, lu yang masih gantungin anak orang diem saja."
"Mau ngomong bajingann, tapi takut dosa." Mereka tertawa serempak melihat Azril. "Kembaran gue baikkan, Sen?"
"Iyaa, baik. Cuma akhir-akhir ini ngeselinnya na'udzubillah. Lu tau, gue belum makan gegara nunggu dia siap-siap, giliran udah siap bilangnya gak mau pergi karena insecure. Gimana cobaa??"
"Hum... sulit dimengerti, sepertinya ini sifat baru." Azril menatap kembarannya. "Apaa?!" tanya Asya galak.
"Wah, Sen, harus siaga sih lu. Serem dia nih."
"Gue pukul ya lu, Zril?!"
Azril cengengesan. "Lagian kenapa sih? Gak biasanya lu insecure, kek bukan Asya." Asya berdiri di samping meja. "Lihatlah, gue keliatan gemuukk. Bb gue udah naikk jauh bangettt!"
"Itu karena pupuknya cocok."
"Nai, gak usah mau sama dia ya, plis. Lu deserve better, Nai. Dia tu kek setan, gak cocok sama lu," kata Asya menatap Naina. "Gue gebuk meninggal lu, Sya."
"Lagian wajar tau bb lu nambah, kan bentar lagi juga gue punya ponakann." Arsen yang tadinya sedang mengunyah terpaksa berhenti dan menginjak kaki Azril. "Aaaaasuu sakit banget setann!!"
"Jangan ceplas-ceplos sembarangan," kata Arsen tegas tidak ingin dibantah. "Lah emangnya enggak?"
Arsen pun menggeleng. "Ud—"
"Gak usah banyak tanya." Melihat ekspresi Arsen membuat Azril sedikit takut. "Sorry, sorry."
"Kata gue mending cek dokter. Sekali lagi, bukan mau gimana-gimana, tapi nanti kalau nyatanya emang iya terus lu lasak sana-sini sampe kecapean malah jadinya berdampak buruk." Asya auto menatap Arsen yang sedang makan naspad.
"Lu mau ngapain ke sini, Zril?" Arsen malah mengalihkan topik. "Gue mau minta bantuan sama lu, bantuin ajarin gue masalah perusahaan."
"Tumben?"
"Pengen cepet nikah."
"Sok iyaa, tapi bagus sih. Yaudah kalau lu serius, dateng aja ke perusahaan tiap abis kuliah. Tar gue ajarin." Azril tersenyum senang, "Thank you brokk!"
...◕◕◕...
Arsen tidak ke kantor hari ini karena Asya terlihat sangat uring-uringan di kasur. Keduanya tidak ada yang berbicara sedari tadi karena Asya menolak bicara. "Mau jadi bisu sampe kapan?" tanya Arsen mulai tidak sabar.
"Aku tanyain daritadi kamu kenapa, kamu mau apa, gak ada dijawab sama sekali. Aku ngomong sama patung atau manusia? Nikah sama manusia atau apa ini?" Asya tersadar, ia datang menghampiri Arsen yang ada di sudut kamar.
Dengan santainya Asya duduk di meja menghalangi apa yang Arsen kerjakan. "Ngapain? Kenapa di situ?"
"Biar kamu liatin aku." Arsen benar-benar melihat ke arah Asya terus-menerus. "Gak mungkin kan ya?"
"What?"
"I am pregnant?"
"I don't know, babe. Gak usah dipikirin, aku gak mau kamu stress." Asya memanyunkan bibirnya. "Tapi aku gampang pegel banget sekarang. Kek iyaa, tapi kek enggaaa."
"Jadi mau ke dokter?"
"Tapikan kemarin udah coba dari yang kamu beli. Menurut kamu sendiri gimanaaa?"
"Katanya itu belum tentu akurat. Ngeliat kamu akhir-akhir ini jadi moodyan banget, aku ngerasanya iya. Tapi ya aku diem aja daripada kamu ngiranya aku maksa."
"Ih tapikan, masa aku gak ada muall gituuu?" Arsen tertawa. "Seneng dong harusnyaaa?"
"Iyaa tapikan.... Gak tau ahh." Arsen membentang tangannya, menyuruh Asya peluk. Asya menurut dan langsung memeluk Arsen. Arsen menggendongnya dan membawanya ke kasur.
"Kebiasaan kamu!"
"Aku suka encok duduk terus, jadi harus rebahan sambil cuddle biar gak encok." Arsen memeluk Asya, jadi posisinya Arsen berada di atas Asya. Asya diam membiarkan Arsen sambil mengelus rambutnya.
"Aku gak mau kamunya sedih. Gak usah periksa aja deh ya?" kata Arsen tiba-tiba. "Tapi kalau iya, terus nanti yang di bilang Nai kejadian gimanaa?"
"Iyaa betul sih. Ini kamu kenapa wangi banget btw?" tanya Arsen mengalihkan topik. "Biar kamu gak berpaling."
"Mana bisa aku berpaling."
"Halahh, ntuttt. Jadii gimana ini menurut kamuu?" Arsen tidak menjawab, ia sibuk mengendus-endus wangi Asya yang sangat disukainya. "Arsennn."
"Hm?" tanya Arsen dengan nada mulai berat. Asya mendengus kesal, "Kamu tu bisa gak jangan baperan?"
__ADS_1
"Baperan gimanaa? Coba kasih tau aku, gimana caranya gak bangun kalau ngelihat cewek seseksi kamu?"
"Initu kamunya ajaa yang mesumm! Bobo samping aja gih, jangan di atas aku biar gak bangunnn." Arsen menolak dan tetap diposisinya.
"Aku gak tanggung."
Sepersekian detik berikutnya, Arsen menopang tubuh dengan kedua tangannya. "Sekarang aku tanya, kamu maunya periksa atau nggak?" Asya berpikir. "Aku mau, tapi gak mau."
"Jawaban pasti yang aku butuh, kalau iya ayok sekarang. Kalau nggak, ya terserah kamu, aku gak bakal maksa." Asya mengalungkan tangannya di leher Arsen, "Kiss mee right now..."
Tanpa menolak, mereka mulai berciuman kembali. Hanya beberapa menit, setelah itu Asya menatap Arsen yang sedang serius melihatnya. "Kamu maunya gimana?"
"Jangan tanya aku balik, ini keputusan di kamu." Asya terdiam untuk beberapa saat. "Yaudahh, ayok periksa aja. Biar aku juga bisa kontrol sifat atau kelakuan akuu." Arsen mendekat, mencium pipi kanan dan kiri Asya.
"Kalau gitu siap-siaplah, kita berangkat sekarang." Arsen bangun dari posisinya, membiarkan Asya siap-siap dan dirinya juga mempersiapkan diri.
Selesai bersiap-siap, mereka keluar apartemen bersama sembari bergandeng tangan. Memulai perjalanan dengan keheningan.
Bahkan sepanjang jalan di mobil tetap hening tanpa ada interaksi kali ini. Asya tampak bergulat dengan pikirannya dan Arsen sendiri sibuk mengemudi.
Tanpa sadar mereka tiba di tempat tujuan. Arsen melepas seat belt. Melihat sang istri bengong, Arsen mendekat dan melepaskan seat beltnya.
"Jangan terlalu diambil pusing. Denger aku ya, sayang, aku udah bilang ini berkali-kali. Gimanapun hasilnya, iya atau enggak, aku gak masalah. Ada kamu aja itu udah lebih dari cukup. Kita mas—"
"Kita masih muda, masih banyak waktu untuk mencoba. Udah hafal akuu," Arsen tersenyum. "Kalau udah hafal jangan ngedown nanti."
"Iyaa, sayang. Ada kamu aku gak bakal ngedown," jawab Asya dengan senyuman. Arsen ikut tersenyum lalu mengecup bibir Asya sekilas. "Aku selalu ada disamping kamu kok. Yaudah, ayoo dehh."
Keduanya turun dari mobil dan masuk bersamaan sambil tetap bergandeng tangan. Sebelumnya Arsen sudah membuat janji menemui dokter kandungannya.
"Permisi, dokk," sapa Arsen memasuki ruangan. Dokter itu tersenyum, "Masuk, Arsennn."
Seketika Asya menatap heran suaminya. "Kamu kenall??" Arsen mengangguk santai. "Dulu nganterin bunda ya, Arsen, sekarang nganterin istri."
Arsen tersenyum bangga. "Gak mungkin nganterin bunda terus, dokk. Btw ini hasil usaha saya loh, dok," kata Arsen pura-pura berbisik.
Bu dokter itu malah tertawa, sedangkan Asya membuang muka. Dalam hatinya berkata, 'gak kenal gue ama ni orang. Kok blio ini tidak maluukkk?!' Hahaha! Asya isin.
Seusai bercanda gurau, Asya di bawa untuk periksa sedangkan Arsen diam di sekitar ruangan. Beberapa menit berlalu, pemeriksaan selesai.
"Gimana, dokk?"
Dokter itu tersenyum, melihat senyumannya itu Arsen sudah bisa menebak. Ia menoleh ke sebelah, istrinya juga ikut tersenyum. "Yess!!" Arsen bersorak riang.
"Yes apaa? Kan belum ada di kasih tauuu," protes Asya. "Dari ekspresi kamu juga udah keliatan, sayang. Iyakan, dokk?"
Dokternya mengangguk. Arsen kembali bersorak riang, "Alhamdulillah, Ya Allah. Enaknya dipanggil apa ya, paduka raja Arsen atau apa kira-kira?"
Asya dan dokternya tertawa. "Kandungan Asya masih sangat muda ya, Arsen, dijaga baik-baik."
"Aman, dokter. Santai ajaa. Ngomong-ngomong, dokter ada cara buat transfer rasa sakit gak?" Dokter itu menatap Arsen bingung, "Transfer rasa sakit gimanaa?"
"Yaa buat transfer rasa sakit, dok, biar kalau Asya sakit nanti di pindah ke Arsen aja sakitnya."
"Hahaha. Mana ada, Arsen. Kamu kurangin aja rasa sakitnya, atau minimal jangan nyakitin. Bumil tu sensitif, jangan bikin istrimu banyak pikiran yaa."
"Syapp. Jenis kelaminnya apa, dok?"
"Arsen mau aku pukul, sayang?" Arsen terkekeh mendengar Asya bersuara. "Bercandaaa, aku juga tauu kok. Oh iya, dok, masih bisa 'ehm' kann?"
Asya mencubit pahanya, membuat Arsen meringis kesakitan sambil cengengesan. Asya malah tersenyum santai seolah tak berdosa. "Kamu kok banyak tanyaa yaaa? Pulang aja ayok..."
"Hehe, yaudah ayok. Makasih ya, dok."
"Iya, Arsen, sama-sama." Setelah beberapa penjelasan serta pesan disampaikan, Asya dan Arsen kembali ke mobil. Arsen tampak sangat senang mendapat kabar dirinya akan menjadi ayah.
Arsen mulai mengemudi kembali, ia menoleh sejenak ke arah Asya. Asya tampak diam sedikit nerenung. "Kamu gak seneng kah?"
"Bukan gituuu. Aku seneng banget malah, tapi aku takut gak bisaa jadi ibu yang baik..." keluh Asya mellow. "Bisa, sayang, kamu pasti bisa. Kita pasti bisa. Nanti kita urus bareng-bareng kok, ya, kan kita buatnya bareng-bareng."
"Hmm, kuliah aku gimana btw?"
"Gimana apanya? Nanti tugas-tugas kamu biar aku aja yang ngerjain kalau kamu males."
"Pas dah gede nanti aku kuliah dari apart aja yaa??" Arsen mengangguk. "Terserah kamu, dari sekarang juga gakpapaa."
"Gak mauu, nanti bosen."
"Semaunya kamu aja gimana. Inget kata dokter tadi, jangan banyak pikiran. Jangan mikirin yang gak penting, ada sesuatu yang gak ngenakin cerita ke aku, jangan dipendem. Oke?" Asya mengangguk dengan senyuman manisnya.
"Arsen?"
"Hm?"
"I love you..."
"I love you more, babe... I love you jugaa ya babyy, biar kamu gak iriii." Asya malah tertawa. "Kamu seneng banget ya sepertinya, aku juga ikut seneng."
Masih sambil mengemudi, Arsen menarik tangan Asya lalu mengecupnya. "Makasih ya, sayang."
"For what?"
"Everything. Kedepannya bakal sulit buat kamu ngelakuin apapun, tidur juga bisa kurang enak, apapun bisa gak enak. Dan mungkin kamu gak bisa bebas lagi setelahnya. Jadi kalau ada apa-apa jangan ragu buat nyusahin aku, aku seneng kamu susahin karena aku juga gak tau lagi harus bantu gimana selain itu."
"Ini kerjasama, jadi jangan ada individu."
Asya menatap suaminya dengan mata yang sudah berkaca-kaca. "Arsen, jangan bikin aku nangis dong, nanti luntur...." Arsen malah terkekeh. "Lucunaa istrikuuuu."
...****************...
...Ending? Yes or noo?...
__ADS_1