Barbar Generation

Barbar Generation
Chapter 135


__ADS_3

"Gimana om, setuju?"


"EYYY NDAK NDAK NDAK. Jangan sekarang ya, daddyyy. Asya penurut kok, Arsen aja ni yang bohong!"


Arsen menatap datar Asya, "kok aku pula yang bohong? Kamu beneran gak mau di atur tadi."


"Ishh! Mau di atur akuu, mauu. Ni aku tidur sekarang, aku pejemin mata." Asya benar-benar melakukan apa yang dikatakannya.


๐Ÿ“ž "Kalian kok jadi berantem??"


Arsen cengengesan.


๐Ÿ“ž "Bandel gimana emang Asya? Lagian


kenapa kamu suruh tidur, ini masih pagi."


^^^"Tadi tu Asya mimisan, om. Arsen ^^^


^^^yakin karena kecapean, mana tadi malam ^^^


^^^begadang kan dia jadinya kurang tidurr."^^^


๐Ÿ“ž "Emang bandel anak satu itu."


๐Ÿ“ž "Nanti malam nikโ€”"


^^^"NGGAK ISH, jangan sekarang^^^


^^^dong daddyyyy!!"^^^


Asya bisa mendengar ucapan Aska karena panggilannya di loudspeaker tadi.


๐Ÿ“ž "Kenapa rupanyaa kalau sekarang?"


^^^"Asya masih mau nyari cogan."^^^


Arsen auto menatap sinis Asya.


^^^"Liatlah, om. Nakal banget kan emang!"^^^


๐Ÿ“ž "Ruqiyah coba, Sen. Kalau gak mau


di ruqiyah, buang aja ke got."


Arsen tertawa kecil mendengarnya. Asya sendiri kesal, ia mengabaikan Arsen.


๐Ÿ“ž "Nanti aja kita bicarain tentang nikahnya


yaa, om mau lanjut dulu."


^^^"Oke, om. Maaf ganggu^^^


^^^waktunya, hehe."^^^


๐Ÿ“ž "Gak ngeganggu lah, malah seneng


jadi hiburan. Yaudah om matiin teleponnya, assalamu'alaikum."


^^^"Wa'alaikumsalam. ^^^


^^^Semangat calon mertuaa!"^^^


๐Ÿ“ž "Hahaha."


Panggilan terputus.


Kini pandangan Arsen mengarah ke Asya yang sedang menutup dirinya dengan selimut.


Arsen duduk di pinggiran kasur, "ga bisa nafas kalau di tutup semua." Kata Arsen sambil menarik selimut Asya.


"Nyebelin!"


Asya kembali bersembunyi di balik selimut.


"Kamunya nurut, aku gak nyebelin."


"Aku udah penuruutt!"


"Kalau gitu, buka selimut kamu."


"Gak!"


"Katanya penurut."


Asya berdecak kesal, ia pun membukanya lagi.


"Nah gini kan keliatan cantiknya." Arsen mengecup kening Asya sekilas lalu merapikan rambut Asya.


"Aku tu gak mau kamu sakit," kata Arsen kalem.


"Yaa terus kenapa jadi dihubungkan ke nikah tadii?"


"Biar gampang dong ngancemnya. Waktu kamu gak mau nurut, aku langsung ancem, 'nurut atau aku cium?' gampang kan?"


"Biasanya juga tinggal ngancem kamunya," dumel Asya.


"Bawel banget sih kamuu. Udah tidur buruan!"


"Selain tidur, ada pilihan apa?"


"Gak ada. Sekarang tidur, nanti malam cari seblak!"


"Seblak doang nih?" Tanya Asya.


"Maunya apalagi?"


"Topokki, ramyeon, sushi, jjangโ€”"


"Seblak aja," Arsen langsung menghentikan ucapan Asya.


"Aaaa pelit!"


"Bodoamat, dari pada kamu sakit."


"Tapโ€”"


Arsen auto bingung.


"Kenapa tiba-tiba diem?"


"Aku denger suara di luar." Mereka berdua pun sama-sama diam dan mendengar lebih jelas suara dari luar.


Itu Mikko!


"Ini apartmentnya Arsen ya, maybe bentar lagi Arsen pulang. Kamu bisa istirahat di kamarnya."


"Kamar Arsen yang mana, om?"


"Sini om tunjukkan."


Seketika itu juga, Asya menarik Arsen. Arsen yang kaget tidak bisa berbuat banyak setelah sadar kalau bibirnya menyatu dengan bibir Asya.


Keduanya diam dan saling bertatapan.


"Ini kamโ€” loh Arsen?!"


Arsen menarik diri dan menoleh ke arah pintu.


"Kamu ngapain disinii??" Tanya Mikko.


"Bukannya saya yang harus nanya, om ngapain disini?"


"Om cuma anterin Angela. Kamu kenapa di kamar berduaan sama Asya? Tadi ngapain? Ciuman?"


Asya menatap Arsen dengan senyuman.


"Asya sakit, Arsen tadi cuma ngecup keningnya. Gara-gara om datang mendadak, Asya jadi kebangun."


"Asya siapa, om?" Tanya Angela.


"Tunangan gue. Besok jadi istri gue," Asya lumayan terkejut. Hampir saja dirinya menampol tangan Arsen.

__ADS_1


"Terus gue gimanaaa?"


"I don't care. Sekarang keluar dari sini!"


"Sen..."


"Apa, om? Om emang gak mau Arsen bahagia ya?"


Asya memegang lengan Arsen, mengisyaratkan Arsen agar bisa mengontrol ucapan.


"Ga boleh gitu tau kamu ngomongnyaaa," kata Asya mengingatkan. Arsen menghela nafasnya lalu mengelus rambut Asya, "iya iyaa nggak lagii."


"Dia siapa?" Tanya Asya sambil menunjuk Angela, pura-puranya gak tau gituu.


"Angela."


"Oooo, kamu yang ngintilin tunangan sayaa?"


"Tunangan lu yang lebih dulu deketin gue!"


Arsen tertawa remeh, "deketin lu? Geli gue!"


"Arsen..."


"Gak usah ngancurin hubungan gue deh, pergi sana lu!" Usir Arsen tegas.


Hatcim!


Tiba-tiba Asya bersin.


"Tuhkan, sakit beneran kamu. Udah istirahat sekarang, aku tungguin disini kok," ujar Arsen sambil membenahi selimut Asya.


"Kemarin gue sakit lu cuekin! Kenapa sekarang dia yang sakit lu malah pengertian banget ke diaa?!" Protes Angela.


"Sekali lagi gue kasih tau ke lu, Asya tunangan gue dan kemungkinan besok bakal jadi istri gue. Lu itu bukan siapa-siapa, jadi gak usah ngarep gue perhatiin! Perhatian gue ke lu gak bakal terjadi sampe kapan pun!" Kata Arsen penuh penekanan.


"Lu punya gue, Sen! Lu gak bakal bisa lepas dari gue! Hutang lu tu banyak di bokap gue!!"


"Hiss. Bawel banget si janda! Gue pusing dengernyaaa," dumel Asya kesal.


Arsen tidak menduga Asya akan mengatakan itu. Dirinya menatap Asya lalu tertawa. Melihat itu, perlahan-lahan Asya keluar dari selimut lalu duduk.


"Lu gak boleh ngelawan hukum alam, Arsen tu punya gue bukan punya lu!!"


"Keknya lu gak tau siapa gue," Angela sombong.


"Gue emang gak tau, dan gak mau tau lu siapa."


"Asya, Arsen itu gak modal, dia tukang ngutang! Hutang dia di bokap gue banyakk!" Ujar Angela songong.


"Terus? Gue harus bilang wow gitu?" Tanya Asya meremehkan.


"Lu... aghhhh!! Lu bakal nyesel udah ngusik hidup gue sama Arsen."


"Nahh, tebalik. Lu yang bakal nyesel karena udah ngusik hidup gue sama calon suami gue."


Angela terdiam. Ia menatap kesal, menatap penuh dendam ke arah Asya.


Semenit kemudian ia mendekat dan menarik Arsen pergi. Reflek, Asya ikut menarik Arsen.


Karena tenaga Asya lumayan gede, Arsen tertarik ke arah Asya. Seketika itu juga Asya langsung memeluk erat Arsen. "Arsen punya Asya, kan?"


Arsen tertawa kecil lalu membalas pelukan. "Iyaaa. Arsen punya Asya, Asya punya Arsen."


"Bener yaa? Arsen gak akan sama kucing iblis itu, kann?"


Angela bergerak lagi ingin menampar Asya, tapi Mikko menahannya.


"Arsen gak mau sama kucing, Arsen sukanya singaa." Asya tertawa kecil dan mengeratkan pelukan.


Mikko dan Angela tidak bisa berkata-kata lagi. Mereka memutuskan untuk pergi dari sana.


"Mereka udah pergi," bisik Arsen.


Asya diam, tidak merespon.


"Sya?"


"Sayang, kamu kenapa diem aja?"


Arsen melepas pelukan kemudian menatap muka Asya yang sedang kesakitan.


"Kamu bulanan??" Tanya Arsen.


Asya menggelengkan kepalanya.


"Aku...."


"... aku laper lagi."


Arsen kesal.


"Ku makan juga ntar kamunya."


"Widii, jahatt banget mo makan aku!" Ledek Asya cengengesan.


"Aku tu panik banget tadii, dikirain kenapaa taunya laper. Perut karet banget ya inii?"


"Perut besiii!!"


Arsen tertawa.


"Terus kamu mau makan apa?" Tanya Arsen sembari mengusap rambut Asya.


"Eummm, di apartment kamu adanya apa??"


"Cuma ada mi. Aku jarang kesini, makanya gak ada stok makanan."


"Aku mau itu aku mauuu itu," ujar Asya antusias.


"Mau mi?"


"Yoaiii. Kamu yang masakk yaa?"


"Iya emang harus aku yang masak. Kalau bukan aku, kamu gak boleh makan mi," jawab Arsen.


"Posesif! Oiya, karena ada mereka berdua di luar, aku mau kasih kamu challenge."


"Challenge apa?"


"Masaknya sambil gendong aku, gendong belakang. Kuat?" Tantang Asya bersemangat.


"Kuatlah, kuat bangett!" Arsen berdiri dari duduknya lalu duduk lagi di samping kasur.


"Taro tangannya ke pundak aku sekarang." Asya menuruti Arsen dan meletakkan tangannya.


"Kakinya majuin sinii."


Asya mendekatkan kakinya.


"Pegangan ya, sayang." Setelah membaca basmallah Arsen menggendong Asya.


Arsen kuat? Ya jelas kuat!


Kan dia Arsen, bukan Alvin.


"Kamu kok kuat sii?" Bisik Asya.


"Makan batu batre ABC," jawab Arsen. Asya terkekeh. Arsen terus berjalan, mengabaikan Angela dan Mikko yang berada di ruang keluarga.


"Kamu kenapa gampang banget lapernya?? Udah berapa kali makan hari ini?"


"Ga tauu, keknya udah tiga kali deh sama ini. Di rumah sarapan, terus di kafe, abistu di sini jugaa. Wahww!! Aku rakus bangett yaa?"


Arsen tertawa kecil mendengarnya. "Nggak rakus itu namanya. Kamu lagi masa pertumbuhan," jawab Arsen sambil merebus air.


Asya benar-benar tidak turun!


"Kek bocil aja masa pertumbuhan," ledek Asya.


"Kamu kan emang bocil, sayangg."

__ADS_1


"Ihh gak ya!! Aku udah gedee," protes Asya kesal.


"Asya bocil."


"Nggaaaaa! Jahat Arsen mahh!"


Arsen terkekeh.


"Gemesin banget sii cantikkuuu."


Asya mengsalting!


Dirinya mengeratkan pelukan di leher Arsen.


"Susah gak aku gini?"


"Nggakk. Diem ajaa makanya, jangan gerakk!"


"Oke, boss!"


Asya benar-benar diam, tapi Arsen yang gak bisa diam. Dirinya malah menari-nari gak jelas sampai keduanya hampir terjatuh.


"Btw, sayang, aku mo baca mantra nii..."


"Gimana mantranya?" Tanya Arsen.


"Ehm... Arsen ganteng, punya Asya! Asya cantik, punya Arsen! Yang ngerebut tidur di kolong jembatan. Simsalabim, aamiin."


Arsen tertawa mendengar mantra ajaib Asya.


"Siapa yang ngajarin bikin mantra? Kok baguss?"


"Kan kamu terus yang ngajarin akuu," jawab Asya cengengesan.


"Yain aja deh iyainn. Sekarang kamu duduk di kursi, biar gampang nyuapinnya."


Setelah duduk di kursi, Asya menatap Arsen heran. "Aku punya tangan lah, gak perlu kamu suapinn."


"Gapapaa, biar aku suapinn."


Arsen duduk di depan kursi Asya lalu mulai menyuapi Asya. Asya pun hanya diam, mengunyah makanan dengan tenang.


"Kamu juga makan biar adill."


"Aku masih kenyangg," ujar Arsen.


"Satu suap aja, aku suapinn jugaa." Arsen menuruti kemauan Asya, dirinya ikut makan sesuap mi itu.


Tiba Arsen ingin menyuapi lagi, Asya yang udah mangap-mangap jadi kesal karena makanannya belum masuk ke mulut juga.


Arsen tertawa kecil melihat ekspresi Asya.


"Buruann ihh!" Kata Asya kesal.


"Iya iyaa, ini beneran ni."


Dalam posisi seperti tadi, Arsen memancing Asya untuk mendekat kemudian...


Cup!


Arsen mengecup kening Asya.


Asya jadi mesem-mesem setelahnya. "Modus muluu kamu tuuu dari tadiii!"


"Wih wihh, gayanya marah padahal salting," ledek Arsen.


"Ye kan eceknya kesel gitu!" Mereka berdua tertawa lalu melanjutkan makan.


Di ruang tamu, Angela terlihat emosi. Dirinya iri, bahkan sangat-sangat iri melihat Asya-Arsen berduaan.


'Arsen ngetread Asya like a queen banget! Gue iri anjjj!' batin Angela.


Angela bertindak.


Dirinya menghampiri Asya dan Arsen.


"Sen, gue laper!"


"Lalu?" Tanya Arsen cuek.


"Masakin mi juga!"


"Punya tangan? Buat sendiri."


"Lu mau buatin Asya, buatin gue juga apa salahnya sih?!"


"Kalau lu mau gue buatin gue tambahin racun tikus," kata Arsen santai. Asya speechless! Begitu juga dengan Angela.


"Jadi? Lu mau gue buatin atau buat sendiri?"


Angela diam lalu menoleh ke sampingnya, ke arah Asya. "Dasar perusak hubungan!"


Asya jelas tersinggung dong, dia memilih diam. Diam-diam menghanyutkan.


"Arsen.. masa aku di bilang perusak hubungan," keluh Asya manja.


"Biarin aja. Nanti suruh Om Mikko beli kaca yang gede buat dia," jawab Arsen santai.


Angela makin kesal! Tangannya mendekati Asya lalu mencubitnya.


"A-aduh.. aa.. Arsen sakittt," rengek Asya.


"Kenapa sayang? Kenapaa? Kamu di apainn?"


"Aku di cubitt. Sakit banget huaaa!"


Angela kaget.


"Apaan? Nggakk! Gak usah fitnah deh lu!"


"Lu nyubit gueee ya. Ini berbekass," ujar Asya sambil menunjukkannya.


Benar-benar luka karena Angela nyubit pake kuku. Sebenernya sih gak sakit bagi Asya, Asya cuma mau lihat gimana reaksi Arsen kalau dirinya lagi manja.


"Arsen.. sakitt," keluh Asya lagi. Arsen yang sedari tadi di samping Asya menghembus-hembus lukanya.


Setelah itu, Arsen menatap sinis Angela. "Mau lu apa sih? Gak usah ganggu gue ga bisa ya?"


"Sen, gue tu gak mau punya gue di ganggu. Lu punya gue, Arsen, punya gue!"


"Mau gue tampar biar lu sadar?? Gue gak pernah suka sama lu, kucing iblis!!" Balas Arsen pedas.


"Apasih yang lu banggain dari dia? Cantik juga gue, seksi juga gue!! Dia tu cuma cewek manja yang bisanya repotin lu!" Protes Angela.


Arsen tertawa remeh. "Lu tau dari mana ha? Di lihat dari segimanapun Asya tetep lebih baik daripada lu. Dia lebih seksi dari lu, lebih cantik dari lu."


"Dan tadi apa? Manja? Asal lu tau ya, dia begini cuma di depan gue. Pas gak sama gue, di lempar gas elpiji 3kg juga kuat dia ngelempar balik."


"Saran gue, mending gak usah sok tau deh ya."


Angela terdiam.


Bingung harus menjawab apa.


"Gak usah ganggu gue lagi, gue capek sebulan lu ikutin! Geli gue, risih gue, jiji gue!"


"Arsen! Omongan kamu udah keterlaluan." Mikko tiba-tiba datang dan langsung merespon ucapan Arsen.


"Kelakuan om lebih keterlaluan."


Asya tersadar. Apa yang di katakan Mikko ada benarnya. Asya pun memegang tangan Arsen kemudian menggelengkan kepala.


Bermaksud untuk tidak melebihi batas.


"Om suka sama janda ini pasti kan, makanya tiap hari belain dia?!"


"Arsen, udah! Kenapa jadi jahat banget sih? Tadi kan bilangnya gak ngomong jahat lagi," kata Asya serius.


"Tau gitu aku gak bakal ngeluh sakit," ujar Asya lagi.


Arsen menghela nafas panjang, "terus mau kamu, aku diem aja denger kamu di jelek-jelekin kek tadi?"

__ADS_1


"Nggakk, tapi ya gak gitu jugaaa. Udah ah, beli es krim ayo! Aku bayarin deh setruk."


"Gak usah, biar aku aja yang bayarin, dua truk sekalian."


__ADS_2