Barbar Generation

Barbar Generation
Rumah sakit


__ADS_3

08.30, big home haraboji.


"Syaa. Lu sama bang Zap mau kemana?" tanya Keja.


"Main laaa, refreshing. Kenapa? Mau ikut lu?" tanya Asya gantian.


"Ngga deh. Gak bakal di anggep gue ntar," ujar Keja sembari lanjut makan. Mereka sedang sarapan.


"Hahaha, adek pungut!"


"As-ughh!"


Asya cengengesan.


"Tunggu dulu.. Keja kenapa manggil Asya gak pake embel-embel kak? Gak sopan gitu, Jaa," omel haraboji.


"Asya nya gak mau Keja panggil kakakk, haraboji. Dia kan tua yang sok muda," jawab Keja.


"Ck! Tapi kan emang gue yang paling muda disinii. Mukanya."


"Mukanya doang. Umur lu tua njem," ledek Upi.


"Berisik lu, upil gajah!" Upi mengelus dada melihat kedzoliman Asya. Asya sendiri malah nyengir.


"Kejaa, walaupun Asya gak mau di panggil kak kamu harus tetep panggil kakak," kata halmoni.


"Halmonii, kalau misalnya Keja panggil Asya kakak tu ntar jadinya formal bangett. Gak bisa santai gituuu. Jadi mending panggil nama ajaa, lagian jarak umurnya gak terlalu jauh juga," ujar Asya kalem.


"Oohh. Maunya gitu?"


"Iya, halmonii."


"Yaudah kalau maunya gitu. Tapi tau tempat, tau situasi yaaa."


"Amann. Halmoni tenang aja, Keja sangat profesional anaknya," jawab Keja.


"Sok iya bangett. Geli liatnya!"


"Berisik lu, Sya!"


Asya cengengesan lagi.


"Asya sama Zafran jangan pergi dulu, baru siap makan ini."


"Iya, ma."


"Iya, onty."


Asya dan para sepupunya pun pergi menuju ruang keluarga. Hari minggu waktunya nyantai kan? Hehe.


"Bang, lu sama Asya mau kemana?" tanya Frizy.


"Main. Mau nyenengin adek abang dulu sebelum nikah," jawab Zafran.


"Kalau gitu gue ikut dongg," kata Frizy dengan mata berbinar. Zafran hanya mengangkat satu alisnya.


"Bang, gue adek lu jugaaa."


"Adek ku cuma Asya, kamu siapa?"


"Astaghfirullahalazim.... mau musnahin Asya aja dah jadinya!" Zafran tertawa.


"Frizy kan udah sering abang jajanin, gantian sama Asya lah."


"Gue bang, guee. Gue belum pernahh," ujar Upi sambil mengangkat tangan.


"Gue juga belum, bang."


"Gue jugaa."


Azril dan Keja menyusul.


"Gak, nggakk. Ntar kalau mau jajan abang transfer aja, hari ini khusus sama Asya."


"Waahhhh!! Pilih kasih nih, parah. Transfernya berapa, bang??" tanya Upi si mata duitan.


"Berapa mau?"


"Sejuta?"


"Abang transfer satu setengah juta."


"DEAL! Asoyy, top up juga gue," kata Upi girang.


"Huuu pada mata duitan!" cibir Asya.


"Mending lu diem dari pada gue jual."


"Abaanggg, Upi jahattt~" adu Asya manja pada Zafran.


"Nanti gak abang transfer dia."


"Loh loh???! Gak acikkkk! Transfer juga lah, bangg."


"Seribu?"


"Allahu Akbar. Ya gak segitu juga, bangg."


Zafran tertawa kecil.


"Makanya jangan main-main sama Asya. Gak dapet jajan kapokk luuu," kata Asya sombong.


"Ck. Gue telen juga ntar lu!"


◕◕◕


"Bangg, sesuai janji abang tadi malam yaa! Kita ke mall, ke bioskop, ke zoo, terus nginepnya di villa."


"Iyyaa, Asya, iyaa. Abang ingat janji kok. Sekarang kita ke tempat pencucian mobil dulu biar mobilnya kinclong kek muka kamu," jawab Zafran santai.


"Gak usah ngeledek! Asya lagi breakout di katain kinclong!"


Zafran tertawa kecil, "tapi tetep gemoii sii. Pantesan aja Arsen demen setengah mampuss ke kamu. Kamu pelet Arsen kan?"


"Oiya dong!! Asya pake pelet kuda."


Zafran tertawa lagi.


"Btw, mau abang temenin ke klinik kecantikan gak atau mungkin kamu mau spaa?"


"Abang bayar?"


"Iya, abang bayar. Kan kemaren udah abang bilang, abang mau nyenengin adek abang sebelum nikah."


"Uwiiii. Emang bang Zap tu paling romantisss dah ahhh. Gak ada yang bisa nandingin!"


"Yekk moduss."


Asya cengengesan.


"Jadi kita ke doorsmeer dulu ya? Ehh bangg, ituu ada doorsmeer." Setelah melihatnya, Zafran langsung membelokkan mobilnya.


Asya dan Zafran keluar mobil.


Kini mereka menunggu mobil selesai di cuci.


"Kenapa abang gak cuci mobilnya tempat halmoni aja?"


"Kalau mau nyuci di sana Asya bantu?"


"Nggak laahhhh. Mending Asya tidur!"


"Dasarr kamu tukang tidurr."


Asya nyengir kuda.


"Oiya. Calon abang yang mana sih? Asya gak pernah liat deh keknyaa."


"Masa gak pernah liat? Waktu vote kemaren gak liat?" tanya Zafran.


"Asya sama Azril kemaren langsung ngevote setelah daddy kasih penjelasan, ga liat-liat dulu mukanya gimanaa," jawab Asya.


"Kamu sering liat dia juga sebenernya. Gak sering sih, pasti beberapa kali pernah. Kamu mau ketemu? Rumahnya deket sini."


"Rumahnya deket sini? Eiihh? Jangan bilang mau mainnya barengan sama kakak itu?"


Zafran tertawa kecil, "ndak doo. Kan bisa kita betamu aja."


"Besok aja ah, pas udah nikah juga kan Asya tau."


"Iya iyaa. Terserah Asya maunya gimana," ujar Zafran kalem. Asya membalas dengan senyuman.


"Eh, hp kamu mana, dek?" tanya Zafran.


"Kan sama abanggg."


"Astaghfirullahalazim, abang lupaa!"


Asya tertawa, "masih muda padahal."


"Hehe. Hp kamu di rumah, gak abang bawa. Mau main hp gak?"


"Mau mauuuu, Asya mo bajak ig abang ajaa." Zafran pun mengeluarkan ponselnya dari saku lalu memberikannya pada Asya.


Asya menerima ponsel Zafran dengan senyuman, "makasih, abangg." Zafran ikut tersenyum.


Asya membuka instagram Zafran. Bukan liat yang aneh-aneh, Asya cuma foto-foto gak jelas di ponsel Zafran. Sesekali juga foto bersama Zafran.


Setelah itu, Asya mengepost fotonya di sg instagram Zafran. Yang Asya post adalah foto kocaknya bersama dengan Zap.


"Abangg rebutan ciwi-ciwi yaa," ledek Asya.


"Oh iya dong. Abang kamu ini kan keren!"

__ADS_1


Asya tertawa meledek.


"Iyain aja guys, iyain."


Ting!


Asya kembali menoleh ponsel.


"Abang, ini calon istri abang kah?" tanya Asya sembari menunjukkan chat.


"Iyaa. Reply sg?"


Asya mengangguk. "Balesnya gimana?"


"Yaa tinggal bales ajaa, gak bakal kenapa-kenapa kok. Dia kenal sama kamuu," ujar Zafran.


Asya pun membalasnya kemudian melihat bio instagram calon istri Zafran.


"Wait waitt. Mukanya kek gak asing deh," kata Asya heran.


"Kan udah abang bilang, kamu pasti pernah kenal."


Asya menajamkan matanya dan menatap serius foto calon istri Zafran.


"Lohh? Ini bu dosennya Asyaaa, bu Aisyah."


"Bingo!"


"Beneran abang sama bu Aisyah?"


"Iya. Kenapa? Gak setuju kamu?"


"Ya setuju bangett lahh! Ibu Aisyah baik banget bangg, udah gitu ibunya gak galakk. Ahh debess! Asya dukung ini seribu persen, kalau ada yang ganggu hubungan abang ntar Asya maju paling depan!"


Zafran terkekeh.


"Gemesh banget liat kamu ngoceh. Lagian mana ada yang mau ganggu hubungan abang, semisalnya ada bakal abang penggal kepalanya."


Asya ikut terkekeh.


"Cocok banget abang sama bu Aisyah. Abang kenal di mana? Kok bisa kenal? Kok bu Aisyah mau sama abang?"


"Abang juga bingung sebenernya, kok dia bisa mau sama abang? Mungkin karena abang terlalu tampan."


"Yekkk!! Kepedean!" Zafran nyengir. Pembicaraan mereka terputus ketika tau mobil sudah siap pakai. Zafran pun membayarnya lalu masuk ke mobil di susul Asya.


"Okeee, nyuci mobil sudahh. Mau kemana lagi kita sekarang?" tanya Zafran menatap Asya.


"Supermarket!! Asya hauss."


"Kirain gak haus kamunya. Kalau gitu ayo ke supermarket," Zafran mulai mengendarai mobil. Mereka mencari supermarket untuk membeli makanan ringan.


"Abangg, bu Aisyah pengen ikut kitaa."


"Kamunya gimana? Gapapa kalau Aisyah ikut?" tanya Zafran meminta persetujuan.


"Eum... gapapa sii gapapaa. Tapi Asya jangan di jadiin nyamuk yaaa?!"


"Iyaaa. Tanya Aisyah, dia nunggu di mana biar kita jemput." Sesuai suruhan Zafran, Asya menanyakannya pada Aisyah.


"Aisyah kalau di kampus gimana, dek?"


"Humble, pengertian, gak galak, gak sombong, cute, ahh banyak lagiii. Bu Aisyah mirip sama Asya," jawab Asya.


"Apanya yang mirip?"


"Akhlaknya dong!"


"Gak setuju abang, akhlak kamu kan lumayan minuss."


Asya auto menatap sinis Zafran.


"Tapi agak bener juga sii."


"Hahaha. Nggak kok, abang becanda tadi." Zafran mengelus rambut Asya pelan.


Zafran sama Asya itu pure adek kakak. Jadi jangan salah paham sama tingkah laku Zafran. Dari awal mau punya adek, Zafran memang request cewek. Tapi yang keluar malah si Frizy.


Yaa, Zafran gak masalah sih, yang penting punya. Alasan Zafran pengen punya adek biar ada yang di ajak berantem, dan ada yang di jadiin babu.


Mantap kan?


Hahaha.


"Bu Aisyah tau kapan kalau Asya adeknya bang Zap?"


"Dari awal deket juga udah tau, karena pertemuannya karena kamu."


"Dari Asya?"


"Iyaa. Ceritanya panjang, ntar minta Aisyah aja yang cerita."


"Okeeeeyy!"


Mobil terhenti tepat di parkiran supermarket. Keduanya turun bersamaan.


Wangi duit.


"Asya kalau mau apa-apa ambil aja, ntah itu jajan atau yang lain. Nanti abang yang bayar. Abang mau ke toilet dulu," pamit Zafran.


"Okeyy. Abang jangan lama-lama," jawab Asya.


"Iyaa." Zafran tersenyum sekilas lalu pergi. Asya sendiri mengambil troli dan mendorongnya sendiri.


Barang yang di ambil Asya gak jauh-jauh dari makanann ringan. Kebanyakan sih yang mengandung unsur coklat.


Beberapa menit Asya berjalan, tiba-tiba saja ada yang menabraknya dari depan. Asya gak kenapa-kenapa kok, cuma kejepit doang.


"Apaan sih lu nabrak guee?! Nyari ribut lu?!"


Asya mendongak, menatap cengo orang di depannya. "Emang kucing gila ya lu! Lu yang nabrak gue begooo!"


"Enak banget mulut lu ngatain gue gila! Lu tu yang gila, masih muda udah punya riwayat dep—"


Asya tidak dapat mendengarnya karena Zafran muncul dan menutup telinga Asya. Zafran yang berada di depannya tersenyum tipis sembari menggeleng, pertanda Asya gak boleh dengar.


"Ini siapa lu? Pacar lu yaa?! Lu selingkuh dari Arsen kan? Hahaha ternyata murahan ya lu. Udah punya Arsen masih cari yang lain."


"Ck, berisik banget! Ngatain orang murah, lu lebih murah goblokk! Gue beli harga diri lu juga bisa," ujar Zafran menohok.


"Apasih?! Udah deh, lu gak usah ikut campur, ini urusan gue sama pelakor itu!" Zafran menghela nafas panjang. Yang ada di pikirannya saat ini ialah membawa Asya pergi dari sini.


Zafran gak mau Asya kepikiran, gak mau Asya jadi badmood, dan Zafran sendiri gak mau emosi. Sebab kalau dirinya emosi ntah apa yang bakal terjadi.


Zafran menatap Asya dan menarik kembali tangannya. "Dek, kamu tau gak? Ada tiga jenis orang yang susah di lawan."


"Apa aja?" tanya Asya.


"Pertama orang kaya, kedua atasan, dan ketiga orang gila. Kamu tau kan dia tergolong yang mana?"


"Nomor tiga," jawab Asya.


"Pinter! Kalau gitu, lebih baik kita pergi dari pada ikutan gila. Kamu jalan duluan, abang ntar nyusul."


Asya tersenyum tipis lalu pergi.


Zafran berbalik menatap sinis Angela.


"Mau gue beli berapa harga diri lu? Sepuluh ribu aja keanya cukup, kan lu murahan." Zafran tersenyum smirk melihat Angela tidak bisa berkutik.


Tanpa sepatah kata lagi, Zafran pergi menyusul Asya.


"Asya mau beli apalagi?"


"Udahh."


"Bener ni?"


"Iya, abangg." Zafran pun membawa trolinya ke kasir. Usai membayar, mereka berdua kembali ke mobil.


"Abang, tadi dia bilang apa?" tanya Asya setibanya di mobil.


"Hm? Asya gak perlu denger apa yang dia bilang, gak usah di pikirin oke?" Asya mengangguk pelan.


"Asya mau kemana lagi sekarang?"


"Malllllll! Asya pengen main timezone."


"Otw, princess." Zafran lanjut mengendarai mobilnya dengan santai.


"Ehh abang. Asya yang nyetir boleh gakk? Asya udah lama gak nyetir mobil," pinta Asya sambil nyengir.


"Boleeeehh takkan tak boleh." Asya tertawa mendengar nada bicara Zafran.


"Kita berhenti di depan buat tukeran yaa?"


"Iyyaa."


Sesuai perkataan Zafran, mereka bertukar posisi.


"Kok macam nervous kamu?"


"Asya tu udah lama gak nyetir, kalau gak ada yang jemput pasti di suruh daddy bawa supir. Makanya jadi gugup." Zafran berohria lalu menginstruksikan Asya.


Bruk!


Bruk!


"Wtf." Zafran melihat ke belakang. Mobilnya sedang di tabrak-tabrak oleh mobil yang tidak di kenal.


"Siapa ini nyari ribut?!" tanya Zafran kesal masih melihat ke belakang.


"Iiihh gimanaa dong ini? Nanti mobil abang rusakk," ujar Asya panik.

__ADS_1


"Malah panik ke mobil. Mobil tu bisa di betuli, rusak parah bisa di ganti. Tapi kalau kamu kenapa-kenapa gak ada yang bisa gantii."


"Asya mo terbang bah dengernyaaaa!"


Zafran tertawa kecil, "ntar dulu terbangnya, kita urus benalu ini."


"Kamu coba bawa pelan, terus biarin dia nyalip. Nanti kita nyalip lagi," instruksi Zafran. Asya pun menuruti perkataan Zafran.


Mobil yang tadinya di belakang pun jadi di depan karena tadi menyalip Asya.


"Good girl!" Zafran mengambil ponsel lalu memfotokannya. Setelah itu Zafran mengecheck pemiliknya dengan aplikasi.


[ nb; aku gatau ini ada di dunia nyata apa ngga, ini cuma imajinasi akuu >.< ]


"Pemiliknya Angela. Yang tadi di supermarket kan, dek?" Asya menganggukkan kepalanya.


"Kenapa hobi banget cari ribut tu anakk?!"


Cittttt!


Hampir saja mereka bertabrakan.


"Gak ngotak emang Angela. Otaknya di dengkul!" cibir Asya emosi.


"Kita main cantik aja," ujar Zafran.


"Main cantik gimana, bang?"


Belum sempat Zafran bicara, jendela mereka di ketuk seseorang. Mereka melihatnya dan ternyata Angela.


"Keluar lu!!"


"Ck, apalagi si?! Lu ngefans banget sama gue sampe ngikutin gue? Iya?!"


"Najis. Buruan keluar lu!"


Asya menatap Zafran, Zafran pun mengangguk tanda ia mengizinkan. Asya keluar mobil bersama dengan Zafran.


"Abang jangan ikut campur dulu ya," kata Asya pada Zafran. Zafran pun berdehem dan memilih menyimak pembicaraan.


"Mau apa sih lu?!"


"Mobil depan gue rusak gara-gara mobil lu! Benerin sekarang!!"


"Dih? Gak waras beneran lu anjingg. LU YANG NGERUSAK KENAPA LU YANG NYURUH TANGGUNG JAWAB?!" bentak Asya emosi.


"L-lu yang kelamaan bawa mobilnyaa!!"


"Kalau gitu lu bisa ngerem, bisa jaga jarak!! Dari tadi lu yang nabrak ya setan. Gak usah cari ribut dah, gue males!"


"Halah lahhh, bilang aja lu gak berani lawan gue!"


Bugh!


Asya kepalang emosi, ia langsung meninju mukanya Angela. "Udah sadar belum lu? Masih perlu gue pukul?" tanya Asya murka.


Angela tersungkur


"Anj-- ing lu! Gue b-bakal tuntut lu!"


"Suree! Gue turutin apa mau lu, mau ke pengadilan? AYOK!"


Angela yang tadinya terjatuh karena pukulan Asya kembali bangun. "Sekarang gue mau balapan, lu pasti gak berani lawan gua!!"


"Yahahahaa! Lawan lu doang? Sambil pejem mata gue bisaa!" tantang Asya berani.


"Okee. Kalau lu kalah, Arsen buat gue! Deal?" Asya langsung membalas jabatan tangan dengan satu jari.


"Kalau gue yang menang, gue bakal mukul muka lu seratus kali, dan nabrak mobilu sampe ringsek!"


"G-gak adil dong anj!!!"


"Udah jabat tangan, artinya udah sah," sahut Zafran yang menjadi saksi.


"Finee. Gue pastikan lu kalah!" ujar Angela penuh percaya diri.


Asya tertawa meledek. "Gue saranin untuk gak usah terlalu yakin, lu belum tau pasti gue siapa."


◕◕◕


Asz Group.


^^^"APAAA?!"^^^


^^^"ASYA BALAPAN?!"^^^


📞 "Iya, pak. Nona muda balapan,


tapi endingnya dia yang menang."


Aska mengelus dada, mencoba tenang.


^^^"Lawan siapa dia?"^^^


📞 "Angela, pak."


^^^"Wahh. Lalu bagaimana?^^^


^^^Mereka berdua ada yang luka?"^^^


📞 "Cuma Angela, pak. Mobilnya Angela


di tabrak nona muda sampe rusak, dan


tadi posisinya Angela sedang di dalam mobil."


'Emang anak gue gak ada obat kalau marah,' batin Aska mengelus dada.


^^^"Masi pagi udah ngulah. Tapi gapapa dah.^^^


^^^Angela perlu di kasih pelajaran.^^^


^^^Asya beneran gak ada luka kan?"^^^


📞 "Luka kecil doang, pak. Sudah diobati."


^^^"Oke. Urusin dulu yang lain, masalah Angela ^^^


^^^biar saya yang handle. Pantau terus Asya!"^^^


📞 "Baik, pak."


^^^"Sayaa akhiri, assalamu'alaikum."^^^


📞 "Waalaikumsalam."


Aska mematikan panggilannya.


"Waktunya bergerak kalau begini kan?" Aska memakai jasnya.


Tok tok!!


"Masuk."


"Assalamu'alaikum, bosss!"


"Loh? Rafael?"


Di sisi lain.


Arsen baru saja tiba di area rumah sakit. Tadinya sih hendak ke kantor, tapi setelah mendengar kabar Angela masuk rumah sakit Arsen memilih ke rumah sakit.


Jangan salah paham!


Arsen ke sana bersama dengan Mikko dan membawa satu kresek berwarna hitam yang isinya uang.


Arsen gak punya koper uang gituu, jadi pake kresek.


Wkwk.


Oiyaa! Arsen sudah tau semuanya yaa, Mikko sudah cerita. Uang yang Arsen bawa adalah uang yang digunakan untuk membayar hutang mamanya.


Hutangnya Mikko? Ntar belakangan.


"Btw, Sen, kamu tau siapa yang nyelakain Angela?"


"Nggak tau. Ntar aja om kasih tau, Arsen lagi menyusun kata aesthetic biar keren."


"Hahaha! Ada-ada aja kamu."


Arsen tersenyum tipis. "Ini kamarnya, yakan?" Mikko mengangguk. Tanpa pikir panjang Arsen membuka pintu dan masuk.


"Assalamu'alaikum," sapa Mikko.


"Waalaikumsalam... yeyyy, Arsen datangg!! Kamu pasti khawatir sama aku kan? Ak—"


"Gak usah sok di imut-imutin suara lu. Jijik gue dengernya!" Angela auto terdiam.


"Arsen! Kamu kenapa kasar sama calon istri sendiri," omel papanya Angela.


"Calon istri? Cuih! Saya kesini buat bayar hutang mama, gak bakal ada lagi hubungan antara saya dan Angela!"


"Kamu mana punya lima miliar!"


"Hutang mama saya cuma 350jt, bukan lima miliar. Untuk hutang-hutangnya om Mikko, saya juga akan bayar tapi tidak sekarang."


Papanya Angela diam sejenak.


"Kalau mau bebas dari perjodohan, lima miliar harus ada sekarang!" ujar papanya.


"Hahahaha! Gaya-gayaan minta lima miliar langsung cash, nanti di tampar pake duit lima miliar auto kejang-kejang."


Secara bersamaan, mereka semua menoleh ke arah pintu kamar Angela.

__ADS_1


"Om Aska?" "Pak Aska?"


"T-tuan Kusuma?"


__ADS_2