Barbar Generation

Barbar Generation
Kafee


__ADS_3

Dua setengah tahun kemudian..


Semua berjalan mulus tanpa suatu hambatan, meski ada saja batu kecil menghalangi.


Walaupun begitu hari-hari Asya dan Azril berjalan sebagaimana semestinya. Mereka sudah di kelas dua belas sekarang, tepat di semester akhir.


Orang-orang yang mengganggu Asya dua tahun yang lalu sudah adem tentram sejahtera. Ntah kalau hanya sementara. Yang jelas, Laila sudah tamat.


Masalah percintaan?? Asya dan Azril sama-sama masih sendiri. Mereka tidak ingin terlihat dalam urusan percintaan.


Arsen dan Fauzi jelas masih mengejar cintanya Asya. Tapi untuk Darren, dia menghilang tanpa kabar setelah pertemuan di gang.


Sore ini, Asya ada sparing volly dan Azril ada sparing futsal di sekolah. Racksa juga ikut dalam sparing futsal.


Mereka sedang bersiap-siap di rumah.


"Hehh, lu pikir cakep pake baju futsal begitu? YA JELASS CAKEPP LAHH!"


Azril dan Racksa tertawa melihat Asya, "kumat sakit jiwa lu?" tanya Azril.


"Mungkin" jawab Asya cengengesan.


"Gue denger dari Tara, pak Fauzi bakal dateng ntar liatin lu sparing," kata Racksa.


"Iyaa gue tau. Ahhhh, gugup asuuww. Padahal gue cuma sparing doanggg" keluh Asya sambil menjatuhkan tubuhnya di sofa.


"Asya.. lu pasti bisa, fighting!"


"Pertanyaan gue sekarang gini, kenapa lu gugup??" tanya Azril.


"Eh iya juga, kenapa gue gugup?"


"Nah kan.." Asya cengengesan.


Ting.. Ting.. Ting..


...biaaawak π“†Œ...


...online...


haii bby


semangatt sparing nya


sorry gue gak bisa dateng buat nyemangatin langsung, gue ada urusan di AM.


^^^no problem, sebagai gantinya^^^


^^^traktir saya makanan lezat kalau menang.^^^


deal!!


semangatt pokoknya!! ehh jangan sampe kecapekann


^^^iyeee bacott^^^


dihhh, untung gue sayang


Asya tersenyum membacanya, chat sederhana ini seperti moodboster baginya.


"Ngapa lu senyum-senyum??"


"Kagapapa. Udahh kann? Ayoo" Asya keluar rumah duluan lalu di susul Racksa dan Azril.


❀❀


"Wahh.. gilaaa! Azril berdamage banget!"


"Dia pake apa ajaa tetep berdamage anjirrr"


"Gantengg bangettt woii jodoh oranggg"


"Pengenn bangetttt gue jadiin bapak nya anak-anakk gueee"


"Ngaluu bangett lu"


"Hehe"


"Btw, si Racksa jugaa gantenggg anjirr. Sumpahh, cool bangettt diaa!"


"Ahhh dua cool boy bersatu!"


Racksa dan Azril yang di puji sedemikian rupa hanya diam tidak merespon. Tatapan mereka bertiga fokus ke arah parkiran.


Mereka mau pulang, sparing udah selesai. SMA Super pemenang kedua cabang olahraga itu.


"Kenapa rame banget si anjjjj?! Kan cuma sparinggg" protes Asya kesal.


"Mo liat orang ganteng, jadinya rame" bisik Azril.


"Najiss, pede banget lu gila" Azril cengengesan.


"Nyatanya kami emang ganteng Asyaa, gak denger tadi? Pulang pergi di pujiii teross," sahut Racksa.


"Iyain iyainnn, mata mereka kurang bersahabat makanya ngatain lu bedua ganteng."


"Mata lu yang kurang bersahabat maemunahh!"


"Tampol mampusss kauu!" Azril dan Racksa terkekeh.


"Azrill" Serentak mereka berhenti lalu berbalik.


"Ehh Dinda lu disini jugaa?" Adinda mengangguk sambil tersenyum.


"Kenapaa manggil?" tanya Azril.


"Emm.. inii buat lu. Lu belum ada minum tadii" Adinda memberikan Azril sebotol air mineral. Azril menerimanya, "thank you."


Azril meneguk minumannya, ia memang belum minum sedari tadi.


"Minum tu duduk samsudinn," protes Asya. Azril langsung duduk.


"Ya gak duduk di bawah jugaaaa" protes Asya.


"Serba salah ahhh," Asya cengengesan.


"Lu sama siapa disini, din??" tanya Asya.


"Itu.. samaaa sepupunya Alex," mereka berohria.


"Iyaudahh, guee samperin sepupunya Alex dulu ya" mereka mengangguk.


"Tiatii"


"Iyaa"


"Sekali lagi thanks buat minumnyaa," Adinda tersenyum lalu pergi.


"Wah.. gue curiga sih. Lu bedua ada hubungan yaa?" tanya Asya, ia menyipitkan matanya.


"Hubungan apa kamprett?!"


"Jujur dehh, adakan?" tanya Racksa gantian.


"Ngacoo ngacooo." Mereka berdua menyipitkan matanya, mencurigai Azril.


"Gak usah disipit-sipitin juga udah sipit lu beduaaa."


"Iyasii"


"Asyaaa" Asya menoleh ke sumber suara.


"Pak Fauzii"


Fauzi tersenyum melihat Asya, "kamu keren tadi."


"Hehe, bisa aja pak."

__ADS_1


"Bapak ngapain disini?" tanya Asya.


"Bapak??" Asya mengangguk santai.


"What's wrong with you, Asya? Biasanya kamu panggil saya kak. Kenapa sekarang pak?? Saya kan gak pake seragam"


"Em.. ngg--"


"Kan emang harusnya manggil pakk, udah cocok tau pak jadi bapak-bapak," Haikal tiba-tiba datang memotong pembicaraan mereka.


"Saya masih dua puluh dua tahunn, tua darimana?!" tanya Fauzi kesal.


"Udah kepala dua, pak. Udah tua tuu," jawab Haikal.


Fauzi mencoba untuk sabar, sampai saat ini dia bingung. Kenapa teman-teman Asya selalu sinis? Ia merasa di musuhi.


"Asya, saya mau ajak kamu keluar nanti malam."


"Em, maaf kakk. Asya udah ada janjii"


"Sama siapaa?"


"Saya," Mereka menoleh. Arsen berdiri santai di depan Lamborghini miliknya sambil memakai kacamata hitam.


"Sett dahhh, war lagi mestii" gumam Asya kesal.


"Berduaan itu gak baik, bukan? Saya ikut"


Arsen tersenyum miring, ia melepas kacamata hitamnya. "Bukannya bapak tadi ngajak Asya keluar? Berartii, berduaan juga kan?"


"Aaah.. adaaa aja war tiap kalian bedua ketemu jangan sampe saya buat acara tipi yang judulnya drama setiap pulang yaaa plisss Asya lelaaahhhhhh" Asya mengoceh tanpa titik dan koma.


"Kumat kumat," ledek Dino.


"Bodooo amattt"


"Dah yaa jangan ribut lagi. Arsen kembali ke habitat mu, nakk" Asya mendorong Arsen masuk ke mobil nya.


"Pak Fauzi, next time aja oke?" Asya ikut masuk ke mobil Arsen di bagian belakang.


"Lahh, dia ngapain masuk situ??"


Asya tersadar, "oh iya salah mobil."


Ia ingin keluar tapi tidak bisa karena Arsen sudah mengunci pintunya.


"Udah masuk gak boleh keluar, bby"


Asya membuka kaca mobil, "hyaaaa tolonggg Asya di culikkk."


Mereka malah terkekeh melihat ekspresi nya Asya, termasuk Arsen. Ia menghidupkan mobilnya.


Arsen memakai kacamata hitam nya lagi lalu mengeluarkan kepalanya lewat kaca.


"Saya duluan ya, pak Fauzi." Arsen tersenyum manis lalu pergi dari parkiran.


Fauzi menghela nafas, "banyak yang bilang polisi itu playboy. Tapi kenapa gue sadboy?!"


❀❀


17.47, rumah abu-abu.


"Dari dua tahun lalu sampe sekarang, gue masih herann kenapaaa tu polisi ngincerrr lu terusss?! Gue yakin bangett bu polwan tu pada cakep-cakeeppp" tanya Haikal heran.


"Selain cakep, mereka good looking. Kenapaaa coba milih yang setengah-setengah kea Asyaa?!" tanya Azril gantian.


Asya yang berada di dapur menatap sinis Azril.


"Daripada bacott mulu, mending lu mandi deh zril. Kucel bangett kayak kucing mandi di got."


"Asuu!"


"Peace," Asya cengengesan. Ia menghampiri teman-temannya sambil membawa segelas es teh.


Haikal langsung menyerobotnya, "ical emang gak punya akhlakkkkk!!" Haikal nyengir.


"Lu pake pelet apa siii?" tanya Dino.


"Pelet ayamm," di sahut Haikal.


"Gile ajee lu pada, yakaliii gue melet orangg" protes Asya.


"Syaa, pelet sama melet beda." Asya menatap kesal Haikal.


"Mandii sonoo lu pada!! Bauuu keringett!"


"Bau keringet juga lu deketinn" cibir Azril. Ia pergi ke kamarnya, Racksa pun juga.


"Weee, pinjem baju. Gue males balikk, emak bapak gue mau buat adekk" ujar Dino.


"Anjirrr goblokksss bangett si dinding," Dino cengengesan.


"Nahh, gue pinjemin. Di kamar mandi deket dapur tu yaa lu mandii" ujar Racksa.


"Gue mandi di kamar tamu ajaa." Dino menerima bajunya lalu masuk ke kamar tamu.


"Gue jugaaa minjemmm," kata Haikal. Azril membuka pintu nya sambil menyodorkan baju.


Haikal tersenyum lalu mengambil baju itu, dia mandi di kamar mandi dekat dapur.


Asya menggelengkan kepala melihat mereka berempat, "kok bisaa gue berteman sama mereka?!"


Tingg.. Ting..


...biaaawak π“†Œ...


...online...


asyaaaa, lu pegi sama gue kan tar malemm??


bukan sama pak polisi tu kan??


^^^lah emang kita bedua mo pegi?^^^


astaghfirullah asyaaa


seriusss


^^^wkwk, iyaa sama lu^^^


akhirnyaaa gue tenang


tar malem gue jemput, jam tujuh yaa


^^^hmm^^^


yaudahh, mandi sana


jangan lupa sholat


^^^iyaa, lu juga^^^


lffyuu:^


^^^bacottt^^^


astaghfirullahh


terimakasih


aku jadi rajin istighfar karena kamu


Asya tertawa membacanya, ntah mengapa chat Arsen selalu jadi moodbooster. Padahal terlihat begitu sederhana.


"Syaa, ayo sholat maghrib!" Asya mengangguk. Ia mengambil air wudhu di kamar sekaligus memakai mukenah nya.


Mereka berlima sholat maghrib berjama'ah.

__ADS_1


"Gaisseuuu, makan apa malam inii?" tanya Azril seusai sholat.


"Lu masak ndiri, gue makan di luar sama Arsen"


"Wahhh.. gue ikut!" Pinta Haikal.


"Kenapa pulaa?" tanya Asya.


"Beduaan itu tidak baikk. Gue ikut pokoknya"


"Gue jugaa" sahut Dino, Racksa dan Azril.


"Aish.. sakkarepmu" Asya masuk ke kamar nya untuk mengganti baju.


"Berangkat jam berapaaa?? Syaa?" tanya Dino.


"Ngebet pakk?" tanya Racksa.


"Gue laperrr," jawab Dino cengengesan.


Asya keluar dari kamar, ia memakai baju dan celana hitam di tambah jaket levis agar tidak terlihat hitam semua. Ia juga memakai sepatu sneakers.


"Pantesan pak polisi demen sama ni anakk, visual nya gak maen-maennn" ujar Dino.


"Bacccott" cibir Asya.


"Sepertinya dia kesal karena dinnernya di ganggu" ledek Racksa.


"Matamuii, jadi ikut kan lu pada?" mereka mengangguk.


"Bentar lagi berangkatt"


Tingg..


...biaaawak π“†Œ...


...online...


gue di depan


"Udah dateng si Arsenn, ayoo" mereka berlima keluar rumah abu-abu.


Arsen melambaikan tangannya melihat Asya, Asya hanya tersenyum tipis.


"Because berduaan itu haram hukumnya, kami ikut ya, senn!" Arsen mengedipkan matanya dua kali.


"Yang bener aje??"


"Laiiyyaa, berduaan itu dosa senn. Nanti ada setan kan bahayaa" jawab Azril.


"Setan bilek, akuu teross yang kena" Mereka tertawa.


"Yaudah ayoo, berangkatt"


"Gue sama siapaa?" tanya Asya.


"Sama gue lahh, mereka berempat semobil" Asya menoleh ke arah Azril dan Haikal.


"Nyempit lu kalau di mobil gue."


"Anjjj!"


❀❀


Mereka tiba di kafe yang lumayan enak di pandang. Kafe nya cukup ramai karena desain nya cocok untuk berselfie.


Tidak dengan mereka berenam yang memilih makan daripada foto sana-sini.


"Lu pada bayar sendiri kan?" tanya Arsen.


"Emang Asya di bayarin?" Arsen mengangguk, "gue janji bayarin dia karena gak bisa liat main tadi."


"Uwuuu sekalii kalian berduaa, jadiii semangat untuk mengganggu," kata Dino sambil cengengesan.


"Permisi, ini bang Haikal kan yaa?" Haikal menoleh lalu mengangguk pelan, "luu.. siapa?"


"Aaa akhirnya bisa ketemu bang Haikal. Guee salah satu followers lu, bang" Haikal menganggukkan kepalanya sambil tersenyum.


"Gue Haikal," Haikal mengulurkan tangannya sambil tersenyum, wanita itu membalas uluran dan senyuman nya Haikal.


"Ini kak Asya, ya?" Asya mengangguk sambil tersenyum.


"Wah.. cantik bangett aslinya"


"Bisa aja, lu juga cantik kok"


"Btw, nama lu siapa?" tanya Dino.


"Yuna bang, Aryuna" mereka berohria.


"Gak nyangka bisa ketemu jeel disini, ini bang Dino, bang Azril sama bang Racksa kann?" mereka yang di tunjuk mengangguk sambil tersenyum manis.


"Iniii.. pacarnya kak Asya?"


"Iya, gue pacarnya Asya" jawab Arsen.


"Ngacooo bangett" ledek Asya, Arsen mengedipkan matanya satu sambil menatap Asya.


Asya tertawa ia mendorong muka Arsen, "genit banget lu samsudinn" Arsen ikut tertawa.


"Gabung bareng aja sini," Yuna mengangguk sambil tersenyum, "makasih kakk" Asya ikut tersenyum.


"Lu sama siapa?" tanya Haikal.


"Sendiri bang"


"Busetttt, beranii jugaa" ujar Dino.


"Kenapa juga gak berani?" tanya Asya.


"Dihh, emang lu berani?" tanya Racksa.


"Oh ya jelass"


"Gue kasih challenge lu sendirian kesini besok? Deall?" tantang Dino, Asya sebenarnya tidak terlalu suka keramaian jika dalam keadaan sendiri.


"Deall"


"No no no, gak boleh Asya. Ntar lu kenapa-kenapa gimana? Gak gak, gak boleh" protes Arsen sambil menatap Asya.


"Tuhkan, gue tuu beranii cuma gak diijini ajaa" kata Asya bangga.


"Gak diijini karena takut lu nya ngebanting semua orangg," ledek Racksa.


"Syalannn!" Mereka tertawa.


"Btw, lu kelas berapa??" tanya Azril pada Aryuna.


"Kelas sepuluh kak"


"Jomblo?" tanya Asya, Aryuna mengangguk cengengesan.


"Kenapa jomblo?"


"Kepo amat lu maemunahh"


"Ssstt, diemm!" Dino terdiam.


"Karena.. belum ada yang pas aja kak," jawab Aryuna.


"Berhenti cari yang sempurna, Yun. Cari aja anak tunggal kaya raya, contohnya Haikal, Dino sama Racksa"


"Anjaaayyanii" Asya tertawa kecil.


"Arsen gak masuk, sya?? Dia kan anak tunggal, kaya raya jugaa" tanya Haikal.


Arsen menatap Asya menunggu jawaban, Asya menatap Arsen sekilas. "Dia?? Oh tidak, tidak bisa"

__ADS_1


"Kenapaa? Takut di rebut orang?"


"Cieeee, yang takut Arsen di ambil oraaanggg."


__ADS_2