
"Zril.. lu ngapa bengong??" tanya Adinda menghampirinya. Mereka baru saja selesai praktek olahraga.
"Ehh, Dinda. Gapapa, gue cuma khawatir sama Asya"
Adinda duduk di sebelah Azril, "Asya kenapa? Dia kemana? Gue gak liat dia hari ini"
"Sakit, di rumah anaknyaa. Gue cemas aja gitu kalau gak barengan sama dia. Naluri anak kembar kek nya" Adinda tersenyum mendengarnya.
"Kek ada yang kurang kan yaa?" Azril mengangguk.
"Btw, Asya sakit apaa?? Terus di rumah sama siapa?"
"Nggak tau juga, tadi belum di periksa gue tinggal sekolah. Di rumah sama Arsen"
"Arsenn?? Arsenn yang sekelas sama Asya?"
"Iya, kenapa??"
"Sejak kapann Arsen mau ngurus orang sakit?" tanya Adinda meremehkan.
"Lah gak pernah?? Sama pacar-pacarnya?"
"Iya gak pernah. Dulu Arsen sering curhat sama gue sebagai temen gituu, kebanyakan gue sih yang curhat. Jadi tiap gue mau curhat gue selalu manggil dia."
"Kadang tu Arsen juga curhat sama gue. Pernah duluu Arsen pacaran sama temen gue yang sekarang udah pindah. Nahh waktu itu temen gue sakitt tuh, sakit demam"
"Temen gue ngechat Arsen dan bilang kalau dia sakit. Dan lu tau reaksi nya apa?? Arsen bilang dia mau ke luar kota. Padahall dia nya lagi di depan guee"
"Gue tanya kenapa dia jawab gitu, dan dia bilang dia males karena cewek kalau sakit manjaa. Gituu katanya"
"Seriuss? Tapi tadi dia nawarin diriii tauu, bahkan dia beliin bubur juga untuk Asya" ujar Azril.
"Wah.. kerenn sih. Beneran tobat jadi buayaa dia" Azril tertawa mendengarnya.
"Asya pake pelet apa ya?? Kok bisaa dia naklukin buaya?" Adinda malah tertawa kecil.
"Alex mana?"
"Hm? Dia? Dia sibukk, bahkan hari ini dia bolos demi ngurus perusahaan. Gak tau ahh biarin aja"
Azril tersenyum miring, "lu nya kenapa deket gue? Gue khawatir lu kenapa-kenapa ntar"
"Gapapa santai ajaa. Yang lain mana? Haikal, Dino?"
"Nggak tau, nyari doi maybe. Mereka juga calon-calon pakboyy" Adinda tersenyum miring.
"Lu? Lu gak jadi calon pakboyy?"
"Gue? Gue manusia setia, sekali nya sayang gak bakal gue lepas"
Adinda menghela nafas, "wanita beruntung mana yang nantinya dapetin lu" Azril tersenyum sekilas mendengarnya.
"Lu keliatan ada masalah gitu, kenapa?"
"Nggakk, akhir-akhir ini sedikit stress ajaa. Gue juga gak sengaja nyiduk Alex selingkuh sama client nya" Azril langsung menatap Adinda.
"Kenapa diem aja? Gak mau lawann?"
"Gue bakal di buang kalau ngelawan dia"
Azril menatap lekat Adinda yang menunduk, "dia pria terbodoh karena selingkuh dari cewek secantik lu."
"Paan sihh"
"Gue seriuss" Mereka berdua bertatapan.
Adinda langsung memutus tatapan karena salah tingkah, "mau main game biar gak frustasi?" tawar Azril.
"Ayoo" mereka berdua mengeluarkan ponsel.
"Azrill"
Azril menoleh, "oh lu. Mau apa?"
"Asya mana??"
"Mau apa lagi Laila?!" tanya Azril sinis.
"G-gue cuma mau minta maaf. Inii buat Asyaa" Laila memberikan sekotak donat.
"Asya gak suka donat, buat lu aja. Untuk permintaan maaf, nanti gue sampein"
"Azril!!!" Azril melihat sumber suara.
"Di tunggu, lapangan futsal!" Azril mengangguk.
"Dinda, next time ya."
"Okeyy"
"Gue duluan" Azril pun pergi.
"Gue mau ke kelas. Permisi, kak!"
❀❀
12.02
Arsen terbangun karena mendengar suara adzan dari ponselnya. Ia ketiduran di sofa ruang keluarga. Arsen pun bangun kemudian menuju ke kamar Asya.
"Panas lagi badan lu, syaa" Arsen kembali mengompres Asya.
"Asya.." Asya membuka matanya sebentar.
"Mau makan apaa? Gue beliin"
"Nggak mau apa apaa"
"Lu harus makan siangg, kan mau minum obat"
Tiba-tiba Asya bangun dari tidurnya, ia langsung berjalan menuju kamar mandi. Tapi karena seharian berbaring, kepala Asya pusing.
Arsen pun bergerak mendekatinya, "kalau ada apa-apa bilang. Kan bisa gue bantuu" ujar Arsen sambil memapah Asya.
Asya tidak menjawab, ia masuk ke kamar mandi sedangkan Arsen menunggunya di luar.
"Lu udah makann?" tanya Asya ketika keluar. Arsen mengangguk.
"Ayoo sholat" ajak Asya.
"Lu kuat?" Asya mengangguk.
"Yaudah ayoo" Asya mengambil air wudhu kemudian di susul Arsen.
Mereka berdua sholat dzuhur berjama'ah, Arsen yang menjadi imam nya.
Setelah selesai sholat, Asya keluar kamar. Ia menghidupkan televisi lalu duduk di sofa. Arsen menyusul.
"Mau makan apaa?"
"Gue gak mo makann"
"Lu harus makan biar ada asupan. Bilang mau makan apa, kalau bisa gue yang masak" Asya menatap Arsen.
"Seriously?" Arsen mengangguk.
__ADS_1
"Em.. mauu sup ayamm"
Arsen bangkit, ia menuju kulkas melihat bahan-bahan. Dan ternyata lengkap, kentang, wortel, ayam dan lainnya tersedia disana.
"Tunggu disana!"
Asya tersenyum menampakkan giginya, "seriusan luu? Ntar kebakaran gimanaa?" tanya Asya.
"Dihh sembarangannn. Gak bakall" Arsen pun memakai apron nya.
"Gemoyy" gumam Asya tanpa sadar ketika melihat Arsen memakai apron.
Arsen mulai membersihkan ayam nya, kemudian ia memotong wortel dan kentang di lanjut yang lain. Asya terus memperhatikan nya sambil tersenyum.
"Syaaa"
"Hmm?"
"Kok sabi ada ayam di kulkas?" tanya Arsen.
"Haa itulah, gue juga gak tau darimana. Ohh mungkin bodyguard daddy yang ngeletak disitu" Arsen berohria.
Asya bangkit, ia mendekat ke Arsen.
"Gue kan bilang tunggu disanaaa, kenapa datengg?"
"Aroma nya yang nyuruh gue samperin" Arsen tertawa kecil mendengarnya.
"Wahh.. keliatann enakk bangettt" Arsen menoleh ke arah Asya.
Tanpa aba-aba Arsen menggendong Asya lalu meletakkannya di meja makan.
"Diem disini, gue gugup kalau di liatin dari deket" Arsen kembali ke kompornya.
Asya yang jahil mendekat ke arah Arsen, "gue maunya liat dari dekettt"
"Nggak nggakk, dudukk lu buruan!" Asya tertawa melihat Arsen yang benar-benar gugup.
"Duduk Asyaaa"
"Okeee boss" Asya kembali ke kursi nya.
Arsen menghampiri Asya memberikannya susu dan cokelat yang tadi ia beli.
"Minum susu duluu"
"Gue pengen rasa cokelat" Arsen menuju kulkas, mengambil rasa cokelat lalu memberikannya pada Asya.
"Kok adaaa?"
"Strawberry juga ada, di kulkas" jawab Arsen kembali ke sup nya.
"Wahh, terharu sayaa melihatnya" Asya meminum dan memakan cokelat itu.
"Kenapa mau cokelat?" tanya Arsen.
"Lidah gue bermasalah kalau sakitt, semuanya gak enakk"
"Makanya gak mau makan?" Asya mengangguk sambil cengengesan.
"Jadii inii?? Sup nyaa?"
"Ya maulahhhh" Arsen tersenyum lebar mendengarnya.
Gak lama kemudian sup yang di buat Arsen matang. Ia meletakkan di mangkuk lalu memberikannya pada Asya.
"Selamat menikmatiii" Asya mengambil sendok lalu mencicipi sup buatan Arsen.
"Wah.. gue gak boong ini enakk!!"
"Makanlahh kalau enakk" Arsen pun duduk di depan kursi Asya.
"Kenapa bisa enakk bangett siii?!" tanya Asya heran.
"Ini sup ayam bertabur cintaa" Asya tertawa mendengarnya.
"Btw, kok lu bisa masakkk??"
"Sya, semenjak nyokap gue wafat gue tinggal di apartemen sendirian. Buat makann?? Gue masak sendiriii coy, gak mungkin kalau tiap hari gue mau makan harus beli."
Asya mengangguk setuju, "kenapa gak mungkin? Lu kan banyak duittt"
"Gue gak mau boross lah. Selagi gue bisa masak sendiri, ngapain gue beli? Mau ngayain orang? Bagus ngayain diri sendiri"
"Iya siii" Dalam hati Asya benar-benar salut dengan pria buaya ini, ia merasa tertampar karena selalu hidup boros.
"Oh iyaa, lu gak mau nyobaa?"
"Gue sering bikin ini, makan lah."
"Nggak nggak, gue gak mau makan sendirian"
"Aaaaa..." Asya ingin menyuapi Arsen.
"Makan sendirii ajaa, ntar lu gak kenyangg"
"Ishh, gue kan anak baikk sukanya berbagii." Asya menunjukkan senyuman manisnya.
Arsen tersenyum lalu menerima suapan Asya, "good boy."
Hatcim...
"Ahh geblekkk. Gue lupa kalau lagi bersinn, ntar lu ketularan gimana? Kan pake sendok yang samaaa"
"Gue keball, gak bakal ketularan"
"Yain" Asya memakan makanannya lagi.
Arsen menatap nya sambil tersenyum, "kebiasaann luuu ahh. Natapin gue muluu" omel Asya tanpa melihat Arsen.
Arsen tertawa, "bidadari secantik lu sayang kalau gak di liatt"
"Yekkk, gombal teross"
Arsen cengengesan, ia mendekat untuk mengelus rambut Asya.
"Makan yang banyak ya, princess."
❀❀
Asz Group.
"Assalamu'alaikum tuan Askaaa" Ivan dan Dimas datang.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh. Gue sibuk, cabut sono!"
"Astaghfirullah pakk, songong amattt" protes Ivan lalu duduk di sofa ruangan Aska.
Aska pun menyuruh office boy mengantar tiga kopi untuk mereka.
"Jimmy sama Sam mana??" tanya Aska.
"Jimmy kumpul keluarga, si Sam juga ke tempat mertuanya" Aska berohria.
"Teruss, lu pada ngapain di sini?" tanya Aska dengan ekspresi datar.
__ADS_1
"Ngajak main judii" jawab Dimas kesal. Aska cengengesan.
"Seriusslahh"
"Cuma main doang, astaghfirullah"
"Ooo, kirain ngajak bolos kerja"
"Skuylahh" ajak Ivan.
"Sianjj, kemanaa??" tanya Aska.
"Iya kemana yaa? Gak ada tempat enak. Udah lah disini ajaa"
"Banyak bacott kali lah sumpahh" Ivan dan Dimas cengengesan.
Tok tok..
"Masukk"
"Permisi, pak" Office boy dan kapten tim Asz BG datang.
Office boy itu meletakkan kopi yang di pesan Aska lalu keluar. Sedangkan kapten tim Asz masih di dekat Aska.
"Ada apa?" tanya Aska.
"Anak yang membully nona Asya di kafe kemaren sudah meminta maaf, tapi melalui tuan Azril boss. Dia kasih donat namun tuan Azril menolak, ia beralasan nona Asya gak suka donat"
Aska tersenyum miring, "Asya gak suka donat danau toba gue kuras. Ternyata waspada juga si Azril, takut tu donat ada racunnya."
"Btw kenapa dari Azril?" tanya Dimas.
"Nona Asya nggak masuk, lagi sakit"
"Sakit? Kok gak ada yang bilangg?!" tanya Aska terkejut.
"Maaf boss"
"Terus Asya di rumah sama siapa?" tanya Ivan.
"Arsen, pak. Arsen yang jagain nona Asya"
"Ajibbb bangettt weii, rela bolos tuh demi Asya" Aska tersenyum mendengarnya.
"Tapi ya bahaya jugaa, kan cuma beduaann" Aska mengambil ponsel nya untuk menghubungi Febby.
...Kakk pebiii...
^^^"Halo, assalamu'alaikum kak pebb"^^^
📞 "Wa'alaikumsalam Aska, kenapa??"
^^^"Bisa ke rumah abu-abu gak kak?? Asya sakitt"^^^
📞 "Udah kesana tadi pagi, Asya cuma demam biasa"
^^^"Loh udahh? Siapa yang telepon?"^^^
📞 "Azril tadii. Asya di rumah sama Arsenn, Zean
udah nyuruh jangan macem-macem kok. Tenang aja kamu."
^^^"Oh gituu, oke deh kak.^^^
^^^Makasihh yapp, nanti Aska transfer"^^^
📞 "Apaan lebayy. Asya kan
ponakan kakak, nggak perlu bayar"
^^^"Ya gak bis--"^^^
📞 "Nggak usah Aska, udah yaa kakak sibuk. Assalamu'alaikum"
^^^"Ahh iyaudah makasih kak, wa'alaikumsalam"^^^
Aska mematikan panggilannya.
"Ini la gak enak nya berobat sama kak Febby, gak mau di bayar" ujar Aska.
"Gue jadi kak Febby pun gak bakal mau" jawab Dimas.
"Ya tapi kan dia tu kerja gitu, nyari duit jugaa"
"Laki dia jugaa beduitt Askaa. Mandi nya pun duit itu tiap harii, gaji dokter kan gede" ujar Ivan.
"Iya si"
"Kamu bisa keluar, pantau terus Asya ya. Dia cuma berduaan, bukan su'udzon tapi tau sendirii gimanaa."
"Iya siap boss. Kalau begitu saya permisi dulu ya bos" Aska mengangguk, kepala tim Asz BG pun keluar ruangan.
"Siapa itu tadi namanya?? Laila??" Aska mengangguk.
"Anak siapaa?" tanya Dimas.
"Bian"
"Seriously?!! Tapi dia kakak kelas nya Asyaaa. Jelass yang hamil duluan Ziaa dongg, ehh iyakann?" tanya Ivan.
"Mungkinn. Bodyguard Asz udah ngecheck dan sebenarnya mereka kecelakaan di bar."
"Bian tu cuma tanggung jawab nikahin Lindi. Pura-pura bahagia doang depan media."
"Kalau pun iyaa paling nggak sebaya lahh, ya gak sii?" tanya Dimas.
"Iyaa emang harus nya sebaya, tapi Bian ngeloncatin Laila. Laila gak masuk ke taman kanak-kanak."
"Acik gituu?" Aska mengangkat satu alisnya.
"Terus maksud nya Laila itu apaa? Balesin dendam emak bapaknya?" tanya Dimas.
"Dia gak pernah tau apa yang terjadi antara gue, Zia, Bian sama Lindi. Dia bully Asya karena iri."
"Gak jauh beda sama emaknya yang irian. Teruss gimana?" tanya Ivan lagi.
"Ketika gue tau semalem Asya di bully, gue langsung ngirim paket misterius, semacam teror singkat."
"Bian nya sayang gak sih sama Laila?"
"Mana gue tauuu samsulll, sayang laahh kan anaknya"
"Bisa ajaaa nggakk" sahut Dimas.
"Bian gak pernah ekspos anaknya ke media" ujar Ivan.
"I don't knoww. Gak mau ekspos biar musuh gak tau maybe, gue kan pake strategi itu"
"Lu kan pernahh beberapa kalii ekspos Asya sama Azril. Sedangkan Bian kagakkk pernah ekspos Laila Laila ituu"
"Ehh setau guee, Bian gak di Indonesia"
"Emang nggak, Lindi sama Laila doang yang di Indonesia" ujar Aska.
"Gue baru sadar, sama sama L" kata Dimas.
__ADS_1
"Yang penting dia udah minta maaf. Karena kelakuan dia juga belum keterlaluan bangett, masih ada ampunan lahhh"
"Tapi, kalau dia ngulah lagi, yaa... siap siap ajaaa berurusan sama gue. You know lah, berurusan sama tuan Aska gak secepat mengedipkan mata."