
"ASYAAA BANGONN!"
"ASYAAA, INI UDAH SENIN WOII. MAU UPACARA, CEPETAN BANGUN."
"Zril, lu teriak sampe bengek juga gak bakal bangun dia. Tu anak lagi mimpii indahh, sampe senyum senyum gitu."
Azril melihat ekspresi wajah Asya.
"Betul, Sa. Mimpi apa ni anak?"
"Ntahlah, tapi keknya.. mimpi yang—"
"Jangan bilang aneh aneh lu."
Racksa cengengesan, "buruan bangunin. Pake airrr!"
Azril mengambil air yang berada di atas nakas kemudian menyipratkannya pada Asya.
"Simsalabim abrakadabra!"
"Aishh.. basah kasur gueee!"
"Ampuh ternyataaa." Racksa tertawa melihat ekspresi kesal Asya dan ekspresi dongo Azril.
"Bangun lu, senin ini!" Omel Racksa.
"Minggu."
"Minggu semalem, nunaa. Buruan bangun dah luuu ahh, bisa-bisanye kesiangan."
"Aih.."
"Sarapan pake apa??"
"Ntar gue traktir ke kantin."
"Uwah, saranghaeyo oppaa!"
"Saranghaeyo hyunggg!"
"Geli goblokkk." Asya dan Azril terkekeh.
"Lu mimpi apa tadi??" Tanya Azril.
"Mimpi? Mimpi yang cakepp."
❀❀
07.05
"Pagi, cantikkuu."
"Pagi, gantengg."
"Aaww." Asya tertawa kecil.
"Azril mana??"
"Jemput Dinda, again."
"Lu beduaann doang berarti?" Racksa mengangguk.
"Cemburu lu?"
"Gila lu?" Racksa cengengesan.
Asya menoleh ke sekitarnya, semua siswa-siswi menatapnya dengan tatapan yang tidak menyenangkan.
Memang biasa Asya di tatap seperti itu, tapi hari ini tatapan mereka sangat-sangat tidak menyenangkan. Tentu Asya risih di tatap seperti itu.
Sampai akhirnya Asya tiba di depan adik kelas dan merampas ponselnya.
Asya terkejut.
"Kenapa coy?" Tanya Racksa, Asya menunjukkan nya pada Racksa dan Arsen.
"Wtf! Kita dikira ciuman pas di belakang kemaren?" Asya mengangguk.
"Siapa yang kirim?" Tanya Asya sinis.
"A-adminnya, kak."
"Ya adminnya siapaa?!" Tanya Arsen ikutan sinis.
"Ng-nggak tau, kak."
Racksa meraih ponselnya karena bergetar. Haikal menelepon.
📞 "Assalamu'alaikum, coy lu dimanaa?"
^^^"Waalaikumsalam, jalann arah kantin. Kenapa??"^^^
📞 "Asya sama lu?"
^^^"Iyaa."^^^
📞 "Gue, Dino, Yuna sama Ara nyusul."
Racksa mematikan panggilan, Asya kembali melanjutkan perjalanan menuju kantin diikuti Arsen dan Racksa.
"Syaa?"
"Hm? Kenapaa?"
"Lu gemoy!" Asya tertawa kecil mendengarnya, Arsen sedikit menambah moodnya.
"Syaaaa.." Haikal dan yang lain datang, termasuk Azril.
"Why??"
"Lu tauu hot news nyaa?" Tanya Dino, Asya berdehem kemudian berbalik.
"Siapa admin lambe turah SMA??"
"Adminnya gak tau siapaaa, tapi yang ngirim itu Jun."
"Jun?" Beo Arsen.
"Iyaa, Jun Artamana."
"Breng--"
"Sabarr ishh!" Arsen menahan amarahnya.
"Lu diem aja diginiin, Sya? Lu emang ciuman?" Tanya Ara.
"Gila lu? Bibir gue masih perawan!"
"Sejak kapan bibir perawan?" Tanya Azril geleng-geleng kepala.
Asya menghiraukan nya kemudian lanjut ke kantin.
"Ahaa, itu Jun." Gumam Asya.
Asya lari tiba-tiba, ketika dekat dengan Jun Asya menarik nya kemudian meninju wajahnya.
"Huh.." Asya tersenyum smirk melihat Jun tergeletak di lantai kantin. Ia melempar tas kemudian meregangkan tangannya.
Jun berdiri lagi, belum sempat ia bicara Asya sudah menonjok wajahnya untuk yang kedua kalinya.
"Woilahhh." Azril menarik Asya untuk menjauh, ia memeluk Asya.
"Tahan tahan.. tenang."
"Lu pada apa-apaan sih?!" Tanya Jun.
"Pura-pura begoo ya? Oh lupa, emang begoo." Cibir Haikal. Arsen yang kadung naik pitam membawa Jun pergi.
"Zril, lepas."
"Diem lu diem. Masih pagi, tahan!" Asya berdecak kesal, ia berusaha tenang.
"Woii, time to upacaraa."
Merasa Asya tenang, Azril melepaskan pelukan.
"Maafkan Asya pak pahlawan, Asya bolos upacara."
Asya langsung lari meninggalkan kantin, ia juga meninggalkan tas nya dan tidak perduli panggilan teman-temannya.
"Asya emang gitu, ya??" Tanya Ara.
"Bisa lebih parah."
Di tempat lain, Arsen membawa Jun ke rooftop.
"Apa maksud lu sebarin foto fitnah kayak gitu, hah?!"
"Apaann? Gak ada woi!!"
__ADS_1
Bugh!
Bugh!
Arsen meninju dan membanting Jun lalu mengambil ponsel Jun. Ia menarik paksa tangan Jun untuk membuka kuncinya.
Setelah terbuka, Arsen melihat grup lambe turah di Line.
"Gak usah pura-pura bodoh! Ini apa maksudnya?"
"Hah?? Gue gak tau, Sen, sumpah!! Gue gak tau ada foto itu di hape guee!"
"Jujur atau gue patahin kaki lu."
"Aahh.. jangan. Gue di suruh sama orangg, karena gue juga mau rebut Asya dari lu makanya gue mau!"
"Hah?"
"Gue suka sama Asya! Gue up biar dia benci sama lu, karena lu dia kena fitnah kayak gini."
"Hahaa, bodoh! Bukannya benci Arsen, gue malah benci sama lu!" Asya muncul bersama yang lain.
"Sejak kapan—"
"Sejak lu tinju dia."
Asya mendekat, ia menginjak dada Jun. "Siapa yang nyuruh lu?!"
"Sorry, sya."
"SIAPA YANG NYURUH LU?!"
"Bu Rifa, uhuk uhuk..."
"Hah?? Bu Rifa? Guru baru itu??" Tanya Azril.
"Iyaa! Gue kerja sama biar mereka bedua pisah. Bu Rifa demen sama Arsen."
"Wahh.. spectacular!" Asya menjentikkan jari, "Zril.."
"Jangan gila lu!"
"Izinkan gue, untuk terakhir kalinya." Asya tersenyum smirk, ia mendekati Azril mengambil kunci mobil lalu pergi.
"ASYAAA! Ah belegug siaa."
"Dia mau apaa??" Tanya Haikal.
"I don't know. Yang jelas, dia mau ngebales."
"Lu pada upacara aja, gue yang kejar Asya." Mereka mengangguk.
Bugh!
Arsen memukul Jun lagi.
"Penutupan."
❀❀
Asya kembali ke sekolah tepat jam istirahat. Ia berjalan santai menuju kelas sambil meminum susu.
Arsen yang selalu kalah cepat berlari mengejarnya, "Asyaa."
"Hah? Lu kejer gue?"
"Lu cepet bangett sii!" Asya cengengesan.
"Sorrryyy." Arsen menarik susu di tangan Asya lalu meminumnya sampai habis.
"Tuman bangett."
"Bodo amatt, lu dari manaa?"
"Ada dehh.."
"Jangan yang nggak-nggak. Lu nyuruh gue jangan emosi tapi lu nya emosiann."
"Ck, ini bukan emosian. Ini namanyaa, pembalasann."
"Ya karena emosi."
"Gak. Dah diem, ini gak emosi pokoknyaaa." Arsen menggelengkan kepala mendengarnya.
"Syaaa, lu DARIMANAA?!" Ara mengejutkannya.
"Jalan-jalannn," jawab Asya santai.
"Sekelas sama Haikal."
"Makin modus tu anak."
"WOII DARIMANAA AJA LU?!" Azril datang langsung rusuh.
"Maenn," Ia melanjutkan jalannya.
"Gak nganeh nganeh kan lu, sya?" Tanya Dino.
"Kagakkk."
"Lu pada liat bu Rifa gak?"
"Tadi sih ada pas upacaraa." Asya menganggukkan kepala lalu melihat sekeliling.
"Ahaa.. ku menemukannya." Gumam Asya sangat pelan, ia mengambil mercon kecil dari saku nya.
Asya hidupkan dengan korek kemudian melempar ke arah Bu Rifa.
Derr!
Mercon itu meledak mengagetkan Bu Rifa. Asya tersenyum senang melihatnya.
"Again again.." Diam-diam Asya menghidupkannya kemudian melemparkan kembali. Mercon meledak lagi di dekat Bu Rifa.
Arsen yang memperhatikan Asya geleng-geleng kepala, ia mendekat ke Asya.
"Bener-bener lu, yaa!" Asya tertawa kecil.
"SIAPA YANG LEMPAR MERCON KE ARAH SAYAA?!!"
Haikal mendekati Asya, "lu oknumnya kan?"
Asya tersenyum kemudian melambaikan tangan.
"Kurang gak, bu? Oke bentarr." Asya menghidupkan lagi kemudian melemparkannya.
Derr!
"KAMU GILA ASYAA?!"
"Eem.. mungkin," Asya tertawa lalu pergi ke kantin.
"Kumat lagi diaa!" Gumam Azril. Mereka mengejar Asya.
"Kak Asya kemana aja sih tadi??" Tanya Aryuna cemas, ia dan yang lain sudah di kantin.
"Gak kemana-mana, cuma jalan-jalannn. Nyari merconn susahh hehe."
"Sya, minggu depan ujian akhir. Lu jangan betingkah dehh, sayang kalau misalnya lu di drop out." Omel Haikal.
"Mingdep ujian??" Tanya Ara.
"Iya, mingdep ujian. Lu sih telat masuk," jawab Haikal.
"Mingdep ujian berarti sekitar beberapa minggu lagi kita tamatt!" Ujar Dino bangga.
"Ya kalo tamat," ledek Arsen.
"True sih."
"Lu pada tenang ajaa, ntar kalau gue kena masalah, gue gak bakal ajak kalian."
"Gak adil namanyaa. Lu kena, kita juga kenaa!" Kata Racksa.
"Nahh, betull sekalii." Sahut Dino.
"Terharu gue dengernya."
"Pengen nampol gue jadinya!" Asya tertawa.
Beberapa menit kemudian bel berbunyi, waktunya kembali ke kelas. Asya berlari duluan menuju kelasnya.
"Eh, Sya, lu darimana ajaa? Bolosss?" Asya mengangguk santai.
"Abis ini jam nya bu Rifa, kan?" Arif mengangguk.
"Sya, gue mo tanya. Tentang, kiss ituu." Asya menoleh ke arah Rafy.
"Lu percaya??" Rafy menggeleng.
__ADS_1
"Sama, gue juga. Yakali gue ciuman di sekolah coyy! Bagus di rumahh," jawab Asya. Ia mendekati kursi guru kemudian menuangkan sesuatu.
"Jadi Arsen—"
"Ya nggak lah tolilll, auto di penggal sama emak guee." Mereka berohria.
"Lu ngapain?" Arsen muncul.
Asya cengengesan, ia mengintip keluar kemudian menarik Arsen untuk duduk ke tempat duduk. Bu Rifa sedang otw ke kelasnya.
"Assalamu'alaikum an–"
Bu Rifa berhenti bicara ketika melihat Asya tidur di bahu Arsen. Dengan santai, Arsen mengelus rambutnya.
"Kenapa, buu?" Tanya Arsen.
"Itu Asya.. kenapa pindah?"
"Ngantuk katanya, bu. Mau tidur di dekat saya."
Bu Rifa menghampiri mereka kemudian memukul meja dengan tangan untuk membangunkan Asya.
Asya terpaksa bangun.
"Ini waktunya belajar, bukan tidur!"
"Iri? Bilangg bu!!" Arsen dan siswa-siswi lainnya menahan tawa mendengar jawaban Asya.
"Kembali ke tempat duduk kamu cepat! Kita mau mulai pelajaran!" Asya menghela nafas kesal.
"Aku pindah yaaa," ujar Asya sambil tersenyum.
"Kalau ngantuk ke sini, bahu aku siap nopangnya."
"Rada gelay saya dengarnyaa," Kata Asya. Mereka terkekeh. Asya pun berpindah ke sebelah Racksa.
"Lu numpahin apaan tadi?" Tanya Racksa berbisik.
"Lem."
"Sumpahh? Lu gila!"
"Terimakasih pujiannya."
"Uuu.. untung adek gue!"
"Sudahh! Kita mulai pelajaran, awali dengan doa." Bu Rifa sudah duduk di tempatnya.
Irgi memimpin untuk membaca doa, setelah itu proses belajar mengajar pun mulai.
Ketika bu Rifa ingin memberikan penjelasan ke papan tulis, ia tidak bisa berdiri.
Bu Rifa memaksakan untuk berdiri, tapi itu mengakibatkan rok nya terkoyak.
Asya dan Racksa yang tau itu menahan tawanya.
"Kenapa, bu?" Tanya Bayu.
"Ngg-nggak, gapapa. Sebentar ya anak-anak." Bu Rifa kembali mencoba berdiri dan akhirnya ia bisa berdiri.
Akan tetapi... kursi nya nyangkut di bokong Bu Rifa. Sontak mereka tertawa melihatnya.
Termasuk Asya. Ia tertawa paling kuat di antara yang lainnya.
"Asya! Ini ulah kamu kan!!"
"Cenayang ya ibu? Kok bisa tau sih?" Jawaban Asya membuat mereka geleng-geleng kepala.
"Syaaa." Asya menoleh ke belakang.
"Lu debes!" Asya terkekeh melihat Arsen mengacungkan jempol.
"Kalian kerjakan dulu soalnya, saya mau ngelepas ini."
"Baik, bu."
Bu Rifa berjalan keluar kelas.
Tiba-tiba..
Brukk!
Bu Rifa terjatuh. Asya terkekeh lagi melihatnya, padahal itu bukan bagian dari ulahnya.
Bu Rifa berdiri, ia menahan amarahnya kemudian pergi dengan terbungkuk-bungkuk.
"Sumpah ya, sya! Lu tuu.."
".. Ahh, gak bisa di jelaskan dengan kata-kata."
Asya terkekeh. "Pesan tersenyembunyinya, kalau emang gak suka bagus jujur. Gak usah sok baik di depan, ngefitnah di belakang atau sembunyi di belakang. Gue benci orang kek gitu, keliatan kayak sampah!"
❀❀
Jam pulang sekolah, Asya keluar kelas dengan senyuman yang merekah. Arsen dan Racksa jelas curiga dengannya.
"Ngulah tu anak?" Tanya Azril ketika bertemu di jalan menuju parkiran.
"Jelass lah. Gak dendam aja ngulah, apalagi ini." Jawab Racksa.
"Mau ngapain lagi manusia satu itu?" Mereka menggelengkan kepala dan terus menatap Asya.
Asya berlari menuju bagasi mobil, ia melihat sekelilingnya.
Tampak bu Rifa keluar dari ruang guru, Asya pun mengambil tongkat baseball kemudian berlari ke atas mobil Bu Rifa.
Asya bisa tiba di atas karena emang jago memanjat.
"Hello, Bu!" Sapa Asya sambil tersenyum.
"Mau ngapain kamu?"
"Coba tebak," Asya menurunkan tongkat baseballnya.
"Asya.. jangan.. main-main."
Asya tersenyum smirk, sekuat tenaganya ia memecahkan kaca depan, kaca samping kanan kiri dan kaca belakang mobil bu Rifa.
"KALAU SUKA SAMA ARSEN SEHARUSNYA GAK USAH FITNAH SAYAA!" Teriak Asya kesal.
"A-apa maksud kamu?"
"Gak usah sok polos deh, Bu! Saya lempar ni tongkat bisa masuk rumah sakit ibu." Bu Rifa diam.
Asya turun dari sana, "sebenarnya saya gak suka berantem kek gini cuma gara-gara cowok. Tapi ya gimanaa, ibu gak ngotak sih pake fitnah saya ciuman sama Arsen padahal bibir saya aja masih ting-ting."
"Fitnah apa, Asya?"
"Ailah!" Asya kembali naik ke atas mobil bu Rifa.
Di atas ia melompat-lompat, mobil bu Rifa sudah tidak seperti mobil. Banyak yang melihat ulahnya sedari tadi, bahkan para guru juga.
"Asya.. waras gak sih??"
"Kok ada yang suka sama diaa?"
"Cantik cantik.. gilaa!"
Asya di gosipin, tapi hanya itu yang ia dengar.
Asya berhenti, "gue waras ataupun gue gila yang penting gak MUNAFIK!!"
"Dan apa tadi?? Cantik-cantik gilaa? Gue gila aja cantikk, gimana warasnya? Terpesona lu."
"Eh iyaa ingat satu hall, ikan gak bakal di darat kalau gak di pancing." Asya kembali melompat.
"Woiii kasian mobilnyaaa!" Teriak Dino.
"Oiyaa, dahlah capekk..." Asya berhenti, ia mengambil ponsel nya kemudian memutar rekaman suara ucapan Jun di rooftop.
Setelah terputar semua, seluruh siswa-siswi melihat ke Bu Rifa yang berkeringat.
Asya turun, ia mendekati Bu Rifa. "Baik di depan busuk di belakang."
Asya mengambil dan membuka tas nya kemudian melempar uang ke arah Bu Rifa.
"Ini uang tabungan saya, Bu, bukan minta dari ortu saya. Uang ini saya ambil, buat bayar mulut ibu!" Bu Rifa tidak bisa berkata-kata.
"Ekhm.. Asyaa?"
Asya menoleh, "daddy? Mommy??"
'Wahh, tamat riwayat dikau Asyaa!' batin Asya was-was.
"Pak Askaa?"
"Bu Rifa dan Asya, silahkan ke ruangan kepsek!"
ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ
__ADS_1
⚠ Bukan untuk di tiru ⚠