
"Enak banget weeii. Tapi kurang guee." Keluh Dino.
"Apa yang gak kurang samamu, Dinnn?? Semua pun kurangg."
"Khawatir gue sama si Yuna. Ntar kalau dia jadi istri Dino tertekan pulaa. Sama abang aja mau gak?" Goda Alvin.
"Si Alpin bener benerr yee. Pakboy bangett!!" Alvin tertawa kecil.
"Keknya dia tipe manusia yang tidak cukup dengan satu wanita. Perlu kita musnahkan!" Ujar Asya setelah mengunyah baksonya.
"Betulll! Gue lebih kasian ntar sama bini nya Alpin yang dimadu teross." Cibir Naina.
"Astaghfirullahalazim kalian ga bole su'udzon. Ga bakal gue madu paling ntar gue poligamiin."
"Sianjj!" Alvin cengengesan.
"Btw, gue baru sadar." Mereka menatap Shaka.
"Sadar apa??"
"Mug Arsen sama Asya tu sama. Cuma bedanya di warna."
"Lah iyaa wee. Sejak kapan Asya mau pake pinkk?!" Asya tertawa mendengarnya.
"Herann gue herann. Pasti di jampi-jampi sama Arsen." Arsen gantian tertawa.
"Tapi kyut tauu Asya pake pinkk." Puji Ara.
"Jangan lu puji, ntar ngefly. Udah cosplay jadi jamet si Asyaa."
"Matamuuiii!" Dino terkekeh.
"Lu beli kapan?"
"Pas di supermarket tadii."
"Kok lu mau pake pinkk?"
"Karena gemoyy. Sama gemoynya kea guee."
"Nahh kan, kepedean." Asya mengswagg jutsu.
"Gelang mereka juga couple anjirrtt. Waahhh waahh! Sejak kapan?" Tanya Haikal.
"Ini tuu gelang dari dua taun lalu begeeo. Kenapa baru sadar sekarangg?"
"Lu gak pernah makee yaa!"
"Mau make suka kelupaann."
"Parah sii. Padahal Arsen make terus tu, pas meeting juga dipakenya." Ujar Alex.
"Tau darimana lu?!"
"Ngintip guee."
"Bahayaa Alex ni. Selain jadi kang tenda, kang cilok, dia juga kang ngintip." Mereka terkekeh mendengarnya.
"Ehh, yang foto lambe turah gimana?"
"Aiyaa! Baru ingatt!" Arsen mengambil laptopnya.
"Bisa kan lu?" Tanya Azril.
"Bantu guee."
Azril pun mendekat. Arsen dan Azril pun sibuk melacak akun yang menyebarkannya. Yang lain ikut mengintip mereka berdua.
Sampai akhirnya mereka menemukan nama dan alamat orang itu.
"Wait wait.. dia post dii sini atau asalnya disini?" Tanya Alvin.
"Gak tau juga guee. Pokoknya disini."
"Alamatnya gak as... INI APARTEMEN ADINDA WEHH!" Alex heboh setelah mengingatnya.
"Serius luu?" Alex mengangguk.
"Iyaa, ini apart Adinda."
"Syaland tu anak. Perlu dikasi pelajaran," Azril sedikit emosi karena Dinda.
"Waitt, Dinda siapa?"
"Pacarnya Alex. Cuma manfaatin Alex doang bisanya, udah gitu dia jadi sugar baby dibelakang Alex. Gila kan?"
"Ya Allah.. jauhkanlah hamba-Mu ini dari manusia manusia seperti ituu. Aamiin."
"Aamiin." Jawab mereka bersamaan.
"Keknya harus dijeburin ke danau dehh." Kata Ara sedikit kesal.
"Ehh btw, Lex, gapapa kali ya gue jeburin ke danau?"
"Monggooo. Mau lu bakar juga gak masalah bagi gue."
"Okee, kita atur cara ajaa ntar biar dia terruqyah."
Asya yang merupakan korban hanya diam, tapi perlahan smirknya muncul.
"Salah lawan agaknyaa."
Arsen yang didekat Asya mengelus lembut rambutnya. "Nanti kita hantam rame ramee."
Tiba tiba tiga mobil serba hitam datang.
"Saha eta?"
Pemilik mobil pun keluar. "Lohh, daddy??"
"Arsen mana?"
"Kenapa, om?" Tanya Arsen sambil memunculkan kepalanya.
"Ikut om bentar. Yang lain disini aja. Asya, jangan nguping!" Asya langsung terdiam.
Aska, Zia dan Arsen masuk ke rumah.
Asya menatap Azril sembari menaikkan satu alisnya. Azril membalas dengan gelengan kepala. Ngerti ga maksud mereka berdua? Ya ngertilah, kan readers gue pinter semwaa.
Di dalam rumah, Aska menatap serius Arsen.
"Ada.. apa, om? Arsen buat salah?"
Aska menggeleng, "kamu tadi pagi supermarket?"
"Iya, om."
"Ketemu sama orang asing?" Arsen mengangguk, Arsen pun cerita tentang yang terjadi disupermarket.
"Emang itu orang siapa, om?"
"Musuh om. Dia dari Jepang."
"Jadi om larang kami karena...."
"Iyaa, sebenernya biar gak ketemu sama tu orang. Tapi nyatanya malah ketemu di Indonesia."
"Kalau Arsen boleh tau, masalah apa om?"
"Tu orang korupsii. Masuk penjara, tapi bisa keluar lagii dalam kurun waktu yang terbilang cepat."
"Dia dendam sama calon papa mertua kamu. Jadi nya gituu," Zia gantian menjawab.
Mendengar kaya 'papa mertua kamu' Arsen auto salting.
"Om takut hal yang nggak nggak terjadi. Oleh karena itu, bodyguard yang om bawa tadi harus ada disini juga. Mereka udah bawa tenda sama makanan sendiri, jadi gak perlu khawatir."
Arsen mengangguk paham, "berapa orang om?"
"Sekitar... enam orang."
"Eebusett, raameee."
"Yaaa setidaknya perorang jaga dua anak."
"Udah malamm, ayo pulang." Ajak Zia.
"Aku suruh tinggal gak mau tadi. Udah ngantukkann?"
"Yaa kalau kamu tinggal, kamunya gak bakal balikk! Malah ikutan nginep disinii." Aska cengengesan.
"Om sama tante cuma tanya itu aja tadi. Jaga Asya yaa, om percaya banget sama kamu, jadi jangan kecewain om."
"Om tenang aja, tanpa om minta Arsen bakal jagain Asya."
Aska tersenyum mendengarnya. Mereka berdua pun keluar dari rumah.
"Anak anak.. enam bodyguard ini ikut sama kalian sampe selesai liburan. Mereka gak bakal ganggu kok, enjoy ajaa. Nikmati liburannya."
"Oke, om. Tenang ajaaa."
"Kalian jangan tidur kemaleman, jangan lupa pake selimut, jangan lupa pake lotion anti nyamukkk. Om sama tante pulang duluu."
"Tatataaaa!" Asya dan Azril melambaikan tangan.
"Oh iya Asya, tentang foto mu di lambe turah. Mau daddy yang urus ata–"
"Daddy tauuu??"
"Gak ada alasan untuk gak tau."
"Biar Asya aja yang urus."
"Oke okeee. Inget jangan begadang!" Asya mengangguk.
Aska dan Zia pun kembali ke mobilnya lalu pergi dari sana.
"Daddy bicarain apa?" Tanya Asya.
"Rahasia lahh. Urusan antara mertua dan mantunya."
"Ceilehhh. Gayanyaaa!" Arsen tertawa.
"Yaudaa yok tidurr." Mereka kembali masuk ke tenda dan tidur dengan nyenyak.
Berbeda dengan yang lain, Arsen tidak bisa tidur. Ia keluar dari tenda dan melihat jelas tiga pria berseragam itu sibuk berjaga-jaga.
Arsen melihat sekeliling. Sangat senyap.
__ADS_1
Arsen mengingat tentang musuh Aska tadi. Ia akan lebih waspada sekarang. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk menjaga wanitanya lebih ketat.
Arsen tidak ingin kehilangan wanita yang ia cintai untuk kedua kalinya. Ia tidak akan sanggup bila itu terjadi lagi. Arsen pun menuju tenda Asya untuk memantaunya.
Asya tidur dengan nyenyak dengan memakai selimut bunga-bunga. Arsen masuk ke sana dan membenahi selimut Asya.
"Nice dream, sayangg."
Melihat Asya tidur benar benar nyenyak, Arsen pun keluar dari sana agar tidak mengganggu. Ia kembali ke tenda dan tidur lagi.
Ternyata Arsen baru bisa tidur ketika melihat Asya tidur dengan lelap.
◕◕◕
09.36
Ntah mengapa bisa terjadi, mereka semua kesiangan!
"Kalau ada mak guee, pasti udah kena siram air." Kata Ara sambil meregangkan otot.
"Gue telat bangun auto diteriakinn." Ujar Naina.
"Samaa, kak. Gue kadang di teriakin gituu tuu, mama pasti ngomel teruss kalau telat bangun." Sahut Yuna.
"But, disini kita bisa merasakan tidur sampe kesiangan. Wakakakak!"
Para pria geleng-geleng kepala mendengar curhatan mereka.
"Lu berempat kapanpun dimanapun tetep cantik yaa? Sumpah dehh. Cakep banget!"
"Benerr lu, Lex. Cantiknya natural. Bangun tidur aja cantik gitu. Gimana gak terpesona guee." Balas Alvin.
"Berisik lu pada. Jaga pandangan, jangan liat calon bini gua!" Amuk Dino kesal.
"Ahaaaa, dia cemburu gaisss. Yuna sama abang aja yuuu." Goda Alex.
"Gak mau, abang pakboyy!"
Dino dan yang lain tertawa puas mendengarnya. Alex sendiri mengelus dada, mencoba untuk bersabar.
"Ke pedesaan sana yuu. Siapa tau ada yang seruuu."
"Gak pake mandii?" Tanya Asya.
"Gak usahh." Jawab Haikal.
"Iya gak usahh. Mandi juga tetep begituu," sahut Shaka.
"Ntar kalau nunggu kalian mandi duluu, bisa bisa abis maghrib ke desanya." Kata Alvin ikut ikut.
"Astaghfirullahalazim! Gue tendang sampe Vietnam lu!" Alvin cengengesan.
"Dah yo!" Mereka bersiap siap kemudian pergi, para bodyguard juga ikut. Tapi jarak mereka jauh.
"Ada sarapan pagii." Racksa menunjuk warungnya.
"Pass bangett, gue laperr. Ayo makan!!" Asya langsung masuk dan memesan makanan.
Yang lain menyusul.
"Om om mau makan juga gakk?" Tanya Asya.
Mereka menggeleng, "kami udah sarapan, nonaa."
"Bangun jam berapaa, pak?" Tanya Naina gantian.
"Jam enam pagi, gantian jaga sama orang yang tadi malem." Mereka berohria.
"Kalah cepat kita gengs."
"No problem. Yang penting bisa bangun," ujar Racksa santai.
"Anak paokk."
Makanan mereka datang. Mereka makan dengan santai.
"Pelan makannyaa." Kata Arsen gemas melihat Asya.
Asya makan memang pelan, tapi selalu celemotan. Arsen yang berada disebelahnya mengelap celemotan Asya menggunakan tissue.
"Capek gue liat mereka berdua. Meresahkan luar biasa!" Keluh Racksa.
"Makanyaa, jangan ngegame mulu kerja lu. Cari cewek!"
"Gak penting."
Alvin dan Racksa bertosria.
"Gak penting? Gak usah nikah lu pada!" Cibir Naina.
"Baguss, Nai. Bagus bangett!"
Alvin dan Racksa malah menatap sinis Naina.
"Ehh, Nai, lu sering di gombalin Azril?"
"Gak sering, kenapaaa?"
"Gapapaaa, anti banting gombalan yaa. Biar gak baperr. Azril tu kadang suka menjelma jadi setan. Wani baperin ra wani macarin, ntar tiba-tiba ngeghosting."
"Alah siaaa. Nom nom-an taeee!" Mereka terkekeh.
"Buaya gue udah tobatt." Jawab Asya dengan bangganya.
"Yakin? Cek wa nya, semalam gue liat ada asrama cewek." Kata Alex menggoda.
"Sianjj! Gak adaa cill, sumpah, gak ada."
"Cal cill cal cill ndasmu!" Arsen cengengesan.
Arsen mengambil karet yang ada di meja lalu mengikatkan rambut Asya.
"So beautiful, babee."
Takk!
Asya menjitak jidatnya.
"Modus kali anda tiang pln!" Mereka terkekeh lagi.
Selesai makann, kedua belas manusia itu melanjutkan perjalanan.
Mereka bertemu dengan beberapa anak yang sedang bermain bola, ada anak perempuan yang bermain engklek. Ada juga ibu ibu yang sedang bergosip sambil memakan rujak.
Kedua belas orang yang terbagi jadi beberapa bagian menghampiri para warga dengan santai.
"Gaisss, abang tantang kaliann buatt masukin bola sambil tutup mata. Hadiahnya dapet duit dari Bang Alex sama Bang Azril."
Anak anak itu pun berlomba untuk menang. Beberapa anak yang menang diberi uang seratus ribu dari Alex dan Azril.
Di tim yang lain ada Shaka dan Racksa. Mereka ikut bermain lompat tali. Sedangkan Ara dan Haikal ikut bermain engklek.
Arsen, Asya, Dino dan Yuna malah sibuk bergibah dengan ibu ibu sambil ngerujak.
Tanpa terasa, waktu makan siang tiba. Mereka harus kembali ke tenda.
"Hati-hati, ya dekk." Mereka tersenyum mendengar ucapan ibu ibu itu.
"Oh iyaa, ini jambu sama mangga untuk kalian."
"Wahh, makasih buuu."
"Kapan kapan kemari lagii." Mereka mengangguk.
"Kami pergi dulu, assalamu'alaikum."
"Waalaikumsalam."
Mereka pun pergi.
"Enaknya tinggal di desa gituu, orangnya ramah dan peduli. Beda lagi kalau di kota." Kata Ara.
"True sih. Di komplek rumah abu abu aja gak ada buibu ngegosip."
"Menjauhi dosa." Jawab Racksa.
"Btw, lu pada gibahhin apaa?" Tanya Naina heran.
"Ibu ibu itu gibahin gimana pertama kali ketemu suaminya. Terus yaaa, banyak lahhh."
"Asikk banget keknya."
"Lu pada juga gue liat keasikan."
"Sangking asiknya tadii, Shaka sampe jatoh maen lompat tali. Untung gak nyium tanah."
"Gue liat tadii. Astaghfirullah!! Malu gak, Ka?"
"Gue sengaja itu. Di setting jatohnya."
"Ciahh, pande amat lu ngeles!" Shaka cengengesan.
"Duit Dino sama Azril gue porotin, wakakakak." Alvin merasa bangga.
"Gapapa sumpah demi alek kaga apa apaa."
"Apaan bawa gue?!" Tanya Alex heran.
"Gapapa lekk. Sumpah demi alek kagapapa."
Mereka tertawa mendengarnya.
"Emmm, btww, makan apa kita siang iniii?!"
◕◕◕
20.35, mereka baru selesai sholat dan ngaji.
"Mabar, kuy?"
"Kuy, loginn!"
Asya yang berada disebelah Arsen malah menarik ponselnya.
"Lahh?"
"Apa passwordnya?" Tanya Asya.
"Kan kamu tauu."
__ADS_1
"Yaa kirain gantii!!" Asya pun membukanya. Matanya tertuju pada watsap.
Asya menatap Arsen.
"Buka aja kalau kamu mau buka."
"Lu kagak ikutt, Senn?!" Tanya Alvin.
"Hp gue di pegang Asyaa. Gak diijinin main agaknya."
"Nurut lu?"
"Gilaaa gilaa. Langka bangett, ada buaya sepenurut ini. Bener bener tobat ape gimana lu?!" Arsen tertawa kecil mendengar perkataan Shaka.
"Yodah, biarkan saja mereka. Mari kita mabarr." Beberapa dari mereka pun bermain dan sibuk dengan ponsel masing-masing.
Tapi untuk Alvin dan Dino, mereka sibuk konser. Ara, Naina dan Yuna sibuk menonton drakor.
Asya dan Arsen sibuk mengbucin beduaan. Bapak Caka lagi ngegame, jadi gak ngamok:v
"Laila masih hubungin lu?" Tanya Asya sinis.
"Kadangg. Tapi kan gak aku respon sama sekalii." Jawab Arsen sambil meletakkan kepalanya di pundak Asya.
"Inii? Meli?"
"Hmm. Itu juga gak aku respon."
"Kenapa gak diapusss cobaa?!"
"Yaa biar kamu tau kalau aku gak ngerespon orang lain. Kalau aku apus kan kamu gak tau."
"Yainn."
Asya membuka instagram, ia dan Arsen foto bersama.
"Jangan foto melett, kek anjingg tau?!" Asya auto senyum.
"Ishh, gausah senyum jugaa! Ntar orang suka sama kamuu!"
Asya pasang muka datar.
"Nahh, gitu aja." Arsen sendiri malah senyum menampilkan deretan giginya.
"Tak kaplok ndasmu yo!" Arsen cengengesan.
"Yaudah yokk, sama sama muka datar."
Benar benar datar~
Asya mengepostnya disnapgram. Gak berhenti disitu, Asya malah live di instagram Arsen.
"Haloo gaiss!"
Hanya itu yang terucap, Asya langsung menyudahi live.
"Gabut banget, bunda?" Tanya Arsen. Asya tertawa.
"Bunda bundaan. Gelayy!!" Arsen cengengesan.
"Ehh, ini Alex?" Foto Alex muncul di beranda Arsen.
"Iyaa, Alex tu."
"Iiihh, kok gantengg?!"
"Teruss, aku gak ganteng?" Arsen sinis.
"Ganteng kamu. Tapi kok gantengan Alex."
"Aihh!"
"Udah gue bilang, gantengan gue. Gak percaya sih lu!" Alex jadi songong.
"Nyenye! Gantengan siapa, cill? Aku atau Alex?"
Asya menatap Arsen, Arsen sendiri menatapnya dengan wajah serius. Ntah mengapa terlihat sangat menggemaskan dimata Asya.
"Kamuu. Gantengan kamu kok."
Arsen yang salting langsung menutupi mukanya.
"Bohong Asya tu, gantengan juga gue."
"Pede amat lu setan!" Alex tertawa, ia lanjut mabar dengan yang lain.
Asya kembali menjelajahi ponsel Arsen. Ia membuka permainan Pou.
"Ishh, kasiann gak diuruss. Bapak macam apaaa anda?!" Arsen nyengir.
Asya memandikan Pou, memberinya makan lalu bermain game.
Kalian tau Pou kan gaiseu? Jelas tau lahh ekann.
"Itu sapinya ngapain disana?" Pertanyaan yang tidak berfaedah.
"Dagang cilok diaa." Jawaban yang sangat nyeleneh.
Asya dan Arsen sangat cocok ternyata! Begonya sama.
"Nahh kan jatohh."
Asya ganti game. Ia bermain tumble yang ada di Pou.
"Gak pusing apa dia muter muter?"
"Nggak. Dia kan gak punya otak, cemana bisa pusing?" Tanya Arsen gantian.
"Masa gak punya? Punya wehh!"
"Gak punya. Kalau punya otak cari duit sendiri dia buat beli makan. Gak perlu di mandiin jugaaa."
"Eh bener sih. Baju aja minta dibelinn." Jawab Asya.
"Dia cewek apa cowok coba??" Asya keheranan.
"Ya gak tauuu! Malah tanya aku."
"Liatlahh, percakapan mereka unfaedah!" Arsen dan Asya tidak perduli, mereka sibuk bermain Pou.
"Mau main kolor tap dehh."
"Bacanya ya nggak kolorr, pinterrr." Asya cengengesan.
Arsen bosan melihat Pou, ia mengambil ponsel Asya.
"Pin?"
"Dua belas dua belas."
"Apa ituu?"
"Terinspirasi dari sopii. Sopii dua belas dua belas big sel ada di sopii~"
"Hehh, bisa bisanyaaa!" Asya nyengir.
"Siapa ini?"
"Om om ituloh."
"Pilih om om cem duda gini apa bujangan?"
"Om om lah. Berpengalaman."
Takk!
Arsen menyentil jidatnya.
"Sakitt astaghfirullah! Kekerasan dalam–"
"Rumah tangga."
"Aihh!" Arsen tertawa pelan. Ia meletakkan kembali ponsel Asya lalu menghampiri Dino. Arsen mengambil alih gitarnya.
Mendengar suara petikan gitar Arsen, mereka auto menoleh.
"Bahagianya diriku telah milikimu. Tak pernah ku meragu. Tak lagi ku mencari cinta selainmu. Takkan kutinggalkan kamu. Jika ku dapat menata jalanku. Kuingin kau slamanya denganku."
"Engkau wanita tercantikku, kuingin kau tauu. Maukah kau jadi teman cintaku?"
Mleyott!
Arsen menyanyikan lagu itu sambil menatap Asya.
"Engkau wanita tercantikku, kuingin kau tau. Kau merubah warna hidupku."
"Dan aku jatuh cinta kepadamu. Tanpa batas waktu."
"Maukah kamu jadi teman cintakuu?"
Asya dan Arsen bertatapan, mengabaikan yang lainnya.
"Tengoklah ha. Tatap tatapan bedua, macem kita gak ada disini."
"Dunia hanya milik berdua bosquaah." Baca bosquahnya pake nada yang ditiktok gaiseuu.
"Tatapan terus njirrr. Gak ada yang kedippp. Parahhh parahhh."
"Btw, cowok kea Arsen ada gak di sopii?"
"Sold out mamenn!"
"Ekhm. Heh heh, udahhh zina mataanyaa!" Omel Shaka, Arsen dan Asya memutuskan tatapan mereka.
"Bentar, pakk."
"Gak gak. Sudahi bucinmu, cepat masok ke habitatmu!"
"Bapak kok galak?"
"Mending galak daripada bucin."
"Oppp, tandai kapan kau bucin ya, pakk!"
"Jangan pernah harapkan hal itu terjadikk! Astaghfirullahalazim, ga bole ngomong kasar tapi lu anjingg."
"Wakakakak. Kalau sampe bapak bucinnn, Lamborghini nya buat sayaa!" Arsen langsung masuk ke tenda.
"Agak sintingg jamet satu ituu!"
__ADS_1