Barbar Generation

Barbar Generation
Parkiran


__ADS_3

"Heyoww, good morning" sapa Arsen tepat di depan meja Asya.


"Morning too, btw lu kenapaa?? Seneng banget kayaknya" tanya Asya.


"Em.. karenaaa seneng ajaaa masih bisa nafas dan masih bisa liat senyum lu yang indahh pagi-pagi" Asya tertawa.


"Modus bangett sumpahhh" Arsen ikut tertawa mendengarnya.


Asya akui sekarang!


Arsen ganteng, apalagi ketika ia tertawa.


"Oh iya, gue bawain susu vanilla favorit lu" Arsen mengeluarkan susu vanilla dari tas nya kemudian memberikan pada Asya.


"Thank you"


"You're welcome, baby."


"Wahhh.. Ada apaaaa ini?! Lu bedua baru jadiaann?" tanya Rafy yang masuk bersamaan dengan Irgi.


"Jadiaann your ndas! Mana adaa" bantah Asya.


"Jujur dehh, lu boong pajak jadian makin gedee" sahut Irgi.


"Ngacoo muluu" jawab Asya.


"Sa sa, mereka abis jadian?" tanya Rafy pada Racksa.


"I don't know"


"Wahh.. Racksa di suap biar gak jujur"


"Senn, traktir kamii cepatt!!" Arsen tertawa.


"Besok kalau udah nikah, gue traktirrr pake daging" ujar Arsen sambil berjalan menuju kursi nya.


"Kelamaan jancooo"


"Ehh, kaki lu gapapa senn?" tanya Irgi.


"Gapapa, udah mendingan juga. Nyokap lu gimana kabarnya??" tanya Arsen gantian.


"Yaa gituu, udah lumayan membaik juga"


"Kalau ada apa-apa jangan lupa kasih tau gue, gue siap bantu" ujar Arsen sambil menepuk pundak Irgi. Irgi mengangguk paham sambil tersenyum.


"Lu semalem acara apaaan?" tanya Irgi pada Rafy.


"Nah iyaa, acara apaa?"


"Abang gue nikaahh. Dan gue patah hatii" jawab Rafy dramatis.


"Patah hati? Kenapaa?"


"Kakak ipar guee cakepp bangett anjj, gak cocok sama abang dakjal guee," mereka tertawa.


"Cocoknya sama lu, gituu?" tanya Asya.


"Iyaa jelass lah, secara gue lebih cakepp dari abang guee"


"Pedeann luu!" ledek Irgi, mereka tertawa melihat ekspresi Rafy sekarang.


Tok tok..


"Permisi, gue di suruh pak Jarwo manggil Arsen sama Asya"


"Bedua doang?" tanya Irgi, temen seangkatan mereka menganggukkan kepala kemudian pergi.


"Masalah semalam kek nyaa" gumam Arsen. Arsen berdiri menghampiri Asya, "ayoo."


Mereka berdua pun pergi bersama menuju ruangan pak Jarwo.


"Couple goals banget ternyata mereka berduaa"


"Hiks.. iyaa, gue baru sadar."


"Nggak sih, Arsen gak cocok sama cewek berantakan kayak Asya!"


"Asya malah yang gak cocok pacaran sama Arsen yang kelakuannya gak kayak manusiaa"


"Apasih lu bedua, iri banget kayaknya"


Dan masih banyak cibiran dari siswa-siswi lain ketika melihat Asya dan Arsen jalan bersampingan.


"Sen"


"Eum?"


"Lu gak cocok sama cewek berantakan kayak guee" bisik Asya.


Arsen langsung menatap Asya sinis, "syaa."


"Hmm?"


"Lu gak cocok sama manusia yang gak kayak manusiaa" bisik Arsen gantian.


"Manusia yang gak kayak manusia itu cemana?" tanya Asya berbisik.


"Hantu maybe" Mereka berdua tertawa.


"Hantu kan jelas bukan manusiaa"


"Sebelum jadi hantu kan manusiaa" jawab Arsen.


"Wahh.. benerr lu"


Arsen tersenyum bangga, "gue gitu loh"


"Dihh najiss" Arsen tertawa kecil. Tak terasa mereka tiba di ruangan pak Jarwo.


Tok tok..


"Masuk!"


"Assalamu'alaikum, pak" ujar Asya dan Arsen bersamaan.


"Wa'alaikumsalam"


Mereka berdua langsung berdiri di depan meja pak Jarwo.

__ADS_1


"Ada apa, pak?" tanya Arsen.


"Hm.. saya sedikit kecewa sama kalian berdua"


"Saya dengar, kalian berkelahi semalam"


"Oh ituu.. itu saya doang pak, Asya nggak"


"Itu saya doang pak, beneran saya sendiri. Arsen nggak"


Arsen menatap Asya, begitupun sebaliknya. "Gue aja yang kenaa, lu gak usah!"


"Kan yang berantem beneran guee, bukan lu!"


"Aishj.. tapi itu awalnyaa ya dari guee"


Brak Brak Brak!!


Pak Jarwo memukul keras mejanya.


"Duhh pak, kasian meja nya kena tampol" ujar Asya, Arsen menahan tawa karena ucapan Asya.


Pak Jarwo menghela nafas, "saya panggil kalian bukan buat bertengkarr di ruangan sayaa!"


"Maaf, pak" ujar keduanya.


"Kalian berdua tu anggota OSIS, kalian panutan! Kenapa malah bertengkarr?!"


"Salah mereka pak, mancing emosi saya. Alex sengaja lukain Azril dan Ryan juga sengaja lukain Arsen. Saya marah karena gak terima, pak"


"Kronologi nya gini, pak. Semalam mereka datang ke kelas saya dan tiba-tiba buat keributan. Terus saya di tantang main basket pak, awalnya saya gak mau karena mager"


"Ehhh mereka malah ngomong yang nggak-nggak, pak. Karena saya emosii saya terima lah tantangannya"


"Pas di sela-sela main, mereka licik. Mereka sengaja buat lukain saya sama Azril."


"Saya manusia yang gak suka apabila orang terdekat saya kenapa-kenapa, pak. Itu sebabnya saya gantian melukai Alex dan Ryan," sahut Asya.


"Tetap saja kamu salah! Kamu harusnya bisa tahan emosi.."


"Mon maap ni pak, saya orangnya pendendam. Kalau saya balas di luar sekolah, bisaa aja Alex patah tulang dan Ryan jadi kidal," jawab Asya memotong ucapan pak Jarwo.


"Rada horror emang kamu yaa?!" Asya tersenyum sebagai jawaban.


"Yaa.. meskipun begitu kalian tetap akan dapat hukuman karena gagal jadi panutan"


"Fuckk!" gumam Arsen kesal. Asya yang mendengarnya malah tertawa.


"Saya tau kamu baru saja mengumpat, Arsen"


"Okee.. berhubung petugas kebersihan sekolah sedang sakit. Hukuman kalian berdua membersihkan toilet dan membersihkan sampah sampah di bawah pepohonan depan dan belakang halaman sekolah."


"Semua, pakk?" tanya Arsen.


"Iya, semuaa"


"Sett dahhh, bapak ngasih hukuman yang beneeer aja dong! Kami juga gak bakal beraksi kalau gak di ganggu pakk"


"Sudah saya tidak terima penolakan! Cepat kerjakan sekarang atau saya tambah lagi."


"Ingin rasanya mengumpat dengan aesthetic" ujar Asya sambil keluar tanpa salam, Arsen mengikutinya.


"Lu toilet, sen!"


"No noo, lu aja"


"Di mana-mana cewek bagiannya nyapu! Eh.. gak jadi, gue toilet aja"


"Eii?? Ga ga ga, lu nyapu ajaa"


"No! Lu aja yang nyapu yaa, byee! Semangattt" Asya langsung pergi menuju toilet.


"Kampreett emangg" Arsen pun pergi menuju kelasnya mengambil sapu.


Di sisi lain, Asya berjalan santai menuju toilet kelas sebelas. Ia memilih toilet karena toilet yang ada di sekolah tidak banyak.


"Mo kemanaa lu?" tanya Haikal menghentikan nya di jalan.


"Toilet, kena hukuman gara-gara kemaren"


"Sendiri?" tanya Dino gantian.


"Bedua sih sama Arsen, tapi beda tugas" Mereka berohria.


"Gak ada niat bantuin?"


"Na na na naa..." Mereka bertiga masuk ke kelas masing-masing.


"Laknat benerrr emangg"


Asya pun pergi menuju kelas sebelas melanjutkan kerjaannya.


"Semangattt woii!" Asya mengangkat pelnya sebagai balasan.


Tiba di kamar mandii, Asya memasang headphone nya. Ia mendengarkan musik dari ponsel.


Bruk!!


"Ehh ketemu lagi" Asya yang melihat ada musuh di depan melepas headphone nya.


"Lu tau kan kak gimana gue kalau marah? Gak usah buat gue emosi, mending sekarang lu pergi!"


"Hahaha, lu marah kek kemaren cuma pansos doang! Cuma pengen di puji puji, iya kann?!"


Asya tersenyum smirk, "gue gak haus pujian dan gak butuh pujian."


"Bacoott lu!"


"Mending sekarang lu pergi deh!"


"Hahahaa, lu pikir gue takut gitu sama lu? Lu cuma anak manja yang bisanya ngadu ke orang tua!"


Asya menghela nafas kemudian melanjutkan kerjaannya.


"Btw, lu cocok jadi pembantu" Laila menendang ember berisi air. Airnya tumpah mengenai sepatu Asya.


"Gue kalau marah dan pawang gue gak disini, lu bisa mati di tempat" ujar Asya menahan rasa geram nya.


"Dengerin gue baik-baik, masalah Meli kemaren itu karena nyokap gue tau kalau gue jatuh karena ulahnya. Gue gak ngadu sama sekali tentang kelakuan dia sebelum-sebelumnya!"

__ADS_1


"Gue tau, lu semalam di toko es krim duduk tepat di belakang Haikal.. lu liat baju gue yang udah ganti, lu tau darimana? Dari bodyguard bokap gue. Gue ngadu ataupun nggak, gue yakin beliau udah tau sekarang karena bodyguard nya bertebaran dimana-mana!"


"Dan.. gue yakin lu juga denger perbincangan gue sama yang lain, apa gue ada bilang kalau itu karena ulah lu? Nggak kan?! Kenapa gue gak jujur? Karena gue gak mau lu jadi sasaran amukan mereka!"


"Gue masih baik sekarang sama lu, gue juga menghormati lu sebagai kakak kelas gue. Jadi mending lu pergi. Gue bener-bener gak mau cari ribut sama lu karena nanti yang bakal rugi itu lu, bukan gue!"


Laila terdiam mendengar celotehan Asya. Asya yang tau musuh nya terdiam kembali memakai headphone nya.


Laila geram, tangan nya bergerak ingin menjambak Asya. Namun ntah mengapa tertahan, Laila menoleh ke belakang.


"A-Arsen"


"Pergi. Jangan buat masalah lagi, gue gak tau lu bakal jadi apa kedepannya kalau lu masih berulah sekarang."


Laila menarik tangannya, ia menatap sinis Asya yang memunggunginya lalu pergi.


Tok tok..


Asya berbalik.


"Ehhh.. haii bapaak" sapa Asya sambil melepas headphone nya.


"Pinterrr banget lu yaa. Demen banget boongin orangg"


"Hah??"


"Gue dengerin dari awal. Gue jugaa udah tau kalau lu bohong semalam, cuma gue diem aja dan pura-pura percaya"


"Sya.. lu bisa bohong sama yang lain, tapi please... jangan pernah bohong sama gue!"


Asya mengangguk ragu, "gue usahakan. Jangan bilang mereka lohh, yaaa?"


"Gue usahakan"


"Taiiii! Udah siap luu?"


"Ngupahh orang dongg"


"Gileeee luuuu, ntar di tambah lagi mampusss"


Arsen mendekat lalu berbisik, "bodo amatt."


❀❀


Jam pulang sekolah...


"Ehh cukk, lu udah ngucapin pibesde sama Apin?" tanya Dino.


"Kagaa, belum. Pura-pura lupa ajaaa" jawab Haikal.


"Auto ngamuk dia, langsung nyocot iyalah gue kan selalu di lupakan" sahut Azril.


Mereka tertawa, "unik sekali anaknya om Jimmy."


"Ehh, dia juga gak ada kasih kabarrr" ujar Dino.


"Gue abis mabar sama dia semalam, barengan juga sama Caka," balas Azril.


"Sianjyyng kaga ngajakkk!" Azril nyengir dengan wajah tanpa dosa. Mereka bertiga pun keluar dari kelas.


"Azril.." Yang di panggil menoleh.


"Kenapa, din?"


"B-boleh nebeng?" tanya Adinda gugup.


"Doi lu mana?" tanya Haikal gantian.


"Tadi pulang duluan.. katanya ada urusann gituu"


"Gue bareng sama Racksa sama Asya, kalau mau ayo"


"Okee" Adinda mengikuti mereka bertiga.


Mereka berjalan bersama menuju parkiran sambil membicarakan hal-hal yang cenderung tidak penting.


"Lama bangett kaliann, kek ceweeek!" protes Asya kesal.


"Lu nya gak sabaran" jawab Racksa.


"Btw, Adinda kok disini?" tanya Arsen keheranan.


"G-guee nebeng, Alex ada urusan katanya" Arsen langsung melihat tanggal di jam nya.


"Oiyaa, ada meeting proyek besar-besaran" gumam Arsen.


"Ayoo masukk ntarr dianterin" ajak Asya.


Ia berjalan duluan menuju mobilnya, tapi tiba-tiba ia terjatuh karena di tabrak Laila.


Arsen langsung mendekat dan menolong Asya, "kaki lu lukaa"


"Gapapa kok, nanti gue obatin di rumah" Asya berdiri pelan-pelan dengan bantuan Arsen. Tanpa memperdulikan Laila, ia menuju mobilnya.


"Hehh.. lu barusan nabrak gue dan gak ada bilang maaf sama sekali?" tanya Laila sambil menarik kuat tangan Asya.


Asya menghempas kan tangan Laila, "coba pikir baik-baik.. siapa yang nabrak duluan tadi!" Asya kembali berjalan menjauh dari Laila.


Laila malah merentangkan kakinya untuk menjegal Asya, Asya pun hampir terjatuh lagi jika tidak di tahan Arsen.


"Laila.. lu pengen punya masalah hidup?" tanya Azril sambil menarik bahu nya.


"Apaan sih lu!"


"Lu yang apa-apaaan?! Gak usah buat masalah kalau gak mau berurusan sama gue!!" sahut Haikal.


"Lu pada punya sopan santun gak sih?! Hormati gue!! Gue lebih tua dari kalian!"


"Ohhh, lu bangga ya jadi tua?" tanya Asya. Haikal dan yang tersenyum smirk karena Laila terdiam tidak bisa menjawab.


"Bacot banget sih lo!!"


"Lu yang banyak bac--"


"WOII!!"


"QUEEN GAK COCOK NGELAWAN BAWAHANN!"


Asya berbalik, melihat ke sumber suara. Dua pria ber-kacamata hitam berdiri tepat di depan mobil sport berwarna putih.

__ADS_1


"Cakaa? Apinn??"


__ADS_2