Barbar Generation

Barbar Generation
Buat kuee


__ADS_3

Tok tok..


"Bentarrr."


Ceklek


"Darren samchon??"


"Haloo, Taxa."


"Samchon ngapain disini? Ran gak adaaa."


"Kamu gak suruh samchon masuk? Ran gak ada? Samchon gak cari Ran, tapi cari kamu."


"Y-yaudah masuk dulu, Samchon."


Darren pun masuk ke dalam apartemen.


"Samchon mau minum apa?"


"Gak perlu repot-repott. Apa aja yang kamu bikin samchon minum." Pria yang Darren panggil Taxa ini pergi menuju dapur.


Setelah lama berkutat di dapur, ia kembali.


"Karena masih pagi, Taxa kasih teh manis gapapa kan, yaa?"


"Gapapa." Darren meminumnya perlahan.


"Samchon ada perlu apa sama Taxa?"


"Samchon mau minta tolong, minta bantuan, yang sama kayak beberapa tahun lalu."


"Maksud samchonn..?"


"Iyaaa."


"Taxa gak bisa, Samchon. Taxa aparatur negara sekarang."


"Samchon udah bilang dulu jangan jadi abdi negara, kamunya sih ngeyel!"


"Cita-cita Taxa kan emang jadi abdi negara, Samchon."


"Samchon gak mau tau, pokoknya kamu harus bantuin Samchon."


"Tapi sam–"


"Gak ada tapi-tapian, jangan lupakan siapa yang menolong mu saat kamu benar-benar terpuruk dan jatuh."


❀❀❀


08.18


"Anak-anakkk sarapan!!"


"Bentarr mamiiii."


"Buruannn, keburu dinginnn. Daddyyy, ajakin anak-anak sarapaannn!"


Beberapa menit setelah Zia berkoar, mereka muncul di dapur.


"Sarapan nya agak telat ya, Mommy." Ujar Asya sambil cengengesan.


"Kan karena kalian. Ikut kalian begadang semalam, momm jadi kesiangan."


"Ato jangan-jangannn om sama tante buat adek untuk Asya Azril?" Lagi-lagi Dino berbicara dengan wajah polosnya.


"Mantap sekali, Nak Dino!" Puji Haikal cengengesan.


"Anaknya Dimas super mengadi-ngadiii. Kan kita semalem barengan di ruang tamuu." Eles Aska.


"Iya sih, Om."


"Okee, sabar Asya." Aska dan Zia tertawa melihatnya, mereka mulai makan dengan ten—


Mana bisa tenang kalau makan ada Asya. Asya hanya akan bisa diam ketika sedang sariawan, badmood, ngantuk dan sejenisnya. Kalau Asya diam tiba-tiba, itu bukan Asya.


"Oiya, kalian jadi bolos?" Tanya Aska seusai makan.


"Jadi, Om."


"Udah izin?" Tanya Zia gantian.


"Udah, Tante."


Zia berohria, "Azril belum izin. Kamu buruan siap-siap kesekolah!"


"Mom, udah telat. Lagi pula kann mom tauu kalau Azril mau bolosss."


"Coba izin ke daddy mu, bicara empat mata. Berani?"


"Daddy, tatap Azril." Aska menatap Azril.


Mereka terus bertatapan, seperti izin dengan kontak mata.


"Oke diizinin." Kata Aska.


"Wtf. Apa-apaaan?!" Tanya Asya heran.


"Agaknya di mata Azril ada surat izin," ceplos Arsen. Azril tertawa.


"Boleh loh, Momm."


"Mommy bilang bicara empat mata, kan ini masih banyak orang."


"Tapi, mom, kan tadi bicaranya empat mata. Mata daddy dua mata Azril dua."


"Azril tu sebelas dua belas sama kamu, mau di lawan debatnya? Sampe besok pun aku yakin ga siap." Kata Aska memisahkan.


Azril tertawa.


"Btw kan kata Om Aska gak boleh kemana-mana, harus di rumah abu-abu. Kami boleh nginep gak, Om??" Tanya Haikal.


"Em? Nginep?" Haikal dan yang lain mengangguk.


"Boleh aja. Kalian udah sama-sama remaja, sedikit banyaknya tau mana yang bener mana yang salah. Jadiii, jaga batasannya sama si singa betina ini, yaa." Aska menunjuk Asya.


"Siapp, Om. Pasti!" Aska tersenyum.


"Asya terverifikasi singa betina." Ledek Dino.


"Gapapa, singa betina cantik kokk." Mereka terkekeh.


"Mommy daddy kapan perginya?"


"Besok atau nggak lusa. Keknya tunggu kalian selesai bolos." Jawab Zia.


"Kenapa gitu, Aun?" Tanya Racksa.


"Kalau kalian sekolah kan pasti kebanyakan di sekolah, lumayan aman. Kalau bolos ginii, kalian bisa bebas kemana-mana. Walaupun ada bodyguard kami berdua susah buat tenang."


Mereka berohria.


"Kalian tau kenapa kalian diizinin apapun itu kalau berurusan sama keluarga om?"


"Kenapa, Om?" Tanya Dino.


"Karena om bukan cuma mentingin anak om, tapi kalian jugaa. Dan alasan lainnya karena bodyguard om banyak, jadi setidaknya kalian bisa sedikit lebih aman." Mereka mengangguk paham.


"Ini larangan pas masih kecil, pasti sering di kasih tau. Jangan mau di ajak sama orang yang gak di kenal ataupun di ajak orang yang kenal tapi gak akrab, jangan mau." Larang Aska.


"Eh iya, Om, bodyguard om kan banyakk. Gimana bedainnyaa? Kalau ada yang nyamar gimana?" Tanya Arsen.


"Mereka pake baju hitam semua, disamping bagian lengan kiri ada nomor. Kalau ada satu yang mencurigakan nanti telepon om, kasih tau nomor di bajunya. Kalau emang bodyguard om pasti nomornya terdaftar."


"Oooo."


"Kalian semua udah izin kan, termasuk Azrill. Nahhh, Arsen, kamu belum izin sama tante."


Aska menatap Zia.


"Tante kan calon mertua kamu," Zia tersenyum sambil mengedipkan satu mata.

__ADS_1


"Ampun dahh." Asya cabut, Zia dan yang lain tertawa melihatnya.


"Arsen, nanti ke ruang kerja om ya. Ada yang mau om bicarain."


"Iya, Om."


❀❀❀


10.01, Asya dan yang lainnya tiba di rumah abu-abu.


Bertepatan dengan masuknya mobil mereka ke garasi, para bodyguard muncul.


"Mukanya creepy semua ya anying." Kata Asya.


"Kalau mukanya kek gue ntar penjahatnya malah ngeremehinn." Sahut Dino.


"Btw, muka lu juga creepy." Azril menjawabnya.


"Anjirr, anda kejujuran!" Mereka tertawa.


"Kakk Asyaaaaaaaa."


"Ehhh, Yunaa? Araa?"


"Lu lama banget balik. Gue kira gak bakal balikk," kata Ara.


"Lu bedua gak sekolahh?"


"Gue bolos, Yuna juga bolos. Dia tadi di rumah gue nungguin luu."


"Iwaww, bolos jugaa? Yuna diizinin?" Tanya Arsen.


"Diizinin bang, kata papa yang penting jangan jauh-jauh dari kak Asya."


"Oke mantap, ayo masukk!" Mereka masuk bersamaan.


"Lu baru masuk ke sekolah semalam lho, Ra. Beneran bolos??" Ara mengangguk.


"Otak gue butuh refreshing." Ia cengengesan.


"Kok diizinin sii lu pada?" Tanya Azril.


"Kau kalau di paksa kerja mau ga, Zril?" Tanya Haikal balik.


"Ya nggak lah, stress gue."


"Gitu juga sama otak lu." Azril berohria.


"Lu tau darimana gue bolosss?" Tanya Asya pada Yuna.


"Bang Dino."


"Agaknyaa beneran mabok asmara orang dua ni," ledek Arsen.


"Betulll!" Mereka tertawa.


"Di rumah gak ada makanaannn." Keluh Asya melesu.


"Buat aja yok. Mau ngga lu?" Tanya Ara.


"Lu bisa?" Ara mengangguk.


"Jangan ajak Asya. Ada dua kemungkinan tu kue gak bakal kami nikmatiii." Sahut Dino.


"Kemungkinan pertama?" Tanya Yuna.


"Kemungkinan pertama, pas baru jadi langsung di makan sama dia."


"Kemungkinan kedua?" Tanya Ara gantian.


"Kemungkinan kedua, kalau dia yang bikin gak bakal jadii."


"Aishhh!!! Dino ada dendam sama guee keknyaa!" Dino cengengesan.


"Mau bikin apa emang?" Tanya Racksa.


"Emm.. bunda gue pernah ngajarin bikin kue boluu." Jawab Ara.


"Nahh, buat bolu sama nutrijell aja tu." Titah Azril.


"Gak ada bahannya."


"Mau patungan apa gue bayarin??" Arsen mengeluarkan dompetnya.


"Beuhh, orang kaya satu ini luar biasa dermawannyaa!"


Arsen tersenyum songong, "bacot lu cal!" Haikal cengengesan.


"Lu bayarin ajaa."


Arsen mengambil tiga lembar uang seratus ribu.


"Cukup?"


"Lebih dari cukuppp."


"Cetakannya gak adaa." Keluh Asya.


"Di rumah gue ada. Ayoo temenin ambill, sekalian nanya bunda cara buat nutrijell. Oh iya, kemaren pas gue pindah itu ada yang jatuh main volly kan?"


"Gue, kenapa?" Tanya Racksa.


"Ayo sekalian ke sanaa, di periksa sama bunda. Takutnya lu kenapa-kenapaa. Bunda gue dokter kok, buka praktek juga di rumah."


"Yaudahh ayoo!"


"Gue kagak ikuttt." Izin Dino.


"Yasuda, Aryuna sama Dino disini aja." Mereka pergi menuju rumah Ara.


"Nona muda, mau kemanaaa?"


"Mau ke rumah situ sebentar, Pak."


"Bapak jangan ngikutinn, disini aja gapapa." Asya dan yang lain lanjut menuju rumah Ara.


"Assalamu'alaikum, bundaaaaa."


"Wa'alaikumsalam, kamu tu kebiasaan banget teriak. Kenapa?"


"Hehe. Bun, ini ada temen Ara yang Ara bilang jatoh kemarenn." Bundanya Ara mengajak Racksa ke ruangan prakteknya.


"Oiyaaa bunda, cetakan kue sama nutrijell bunda dimana?"


"Di dapurrr, kamu yang nyusun kemaren."


"Lohh, Ara lupa dimanaa."


"Kamu yang ngeletak Ara, cari duluu." Ara pergi menuju dapur.


"Gak ada rasa sakit, kan?" Tanya bundanya setelah memeriksa Racksa.


"Gak ada kok, tante."


"Gapapa kok kamu, gak ada yang parah."


"Kalian temen-temen barunya Ara? Yang rumahnya di depan?"


"Iya, Tante."


"Makasih loh yaa, Ara balik lagi karena kalian."


Mereka terheran-heran.


"Maksudnya tante?" Tanya Azril.


"Ara bilang dia pendiem kan? Emang iya, akhir-akhir ini dia jadi pendiem karena berkali-kali dikhianati temennya. Ara kemaren bilang gak bakal mau temenan dan lebih bagus jadi pendiem. Padahall sebelumnya kelakuan dia bikin geleng kepala."


"Tapii, waktu dia jadi pendiem gini tante malah ngerasa anehh."


"Itu bakal terjadi ntar kalau lu pendiem, Sya." Sahut Haikal.

__ADS_1


"But, suatu keajaiban seorang Asya bisa diam. Makan aja ngoceh dia," ledek Racksa.


"Buka kartu pulaa kelenn!" Mereka tertawa kecil, termasuk bundanya Ara.


"Terus lanjutin, tannn." Pinta Asya.


"Yaaa tante ngerasa aneh karena dia jadi pendiem. Tapi pas pindah dan ngeliat kalian di depan main volly sambil ketawa dia jadi pengen berteman lagii. Tante suruh lah dia buat anterin kue kesana dan tante liat dia bincang-bincang sama kalian."


"Malemnya kalian ajakin dia manggang bareng. Pulang dari sana dia seneng karena punya temen kek kalian. Tante bisa liat sih, cara kalian berteman itu gak ada drama-dramaan. Itu sebabnya Ara suka."


"Di hari itu juga dia bisa kembali lagi jadi Ara yang lasak."


"Btw, Ara di hianati kenapa, tan?" Haikal kepo bray:v


"Banyak alasan nya. Berkali-kali dia di khianati, tapi pengkhianatan yang terakhir buat dia ngerasa bener-bener capek jadi orang baik."


"Aah! Capek Ara nyariinnya bundaa." Ara muncul.


"Ketemu?" Ara berdehem.


"Ara cari ditempat Ara tarok tapi gak adaaa. Bunda pindahin, kan?"


"Iya keknya, bunda lupa."


"Racksa udah selse kan? Yaudah kuy!"


"Tapi mereka belum di tawarin minum, Ra."


"Gak bakal mau minum mereka, Bun. Lagi puasaa." Eles Ara.


"Iyakah?"


"Ya tante, puasa minum tapi makan." Jawab Racksa, mereka tertawa melihat wajah kesal bundanya Ara.


"Yaudah bun, Ara pergi lagi. Pinjem cetakannyaa," Ara menyalami tangan bundanya lalu pergi bersama yang lain.


"Bunda gue bongkar aib, yaa?"


"Wkwk iya. Manusia kuat lu, Ra." Puji Asya kagum.


"Keadaan yang buat gue terpaksa kuat."


"Tenang, Ra. Sekarang, kalau lu kenapa-kenapaa bisa lapor sama gue. Dua puluh empat per tujuh gue siap di samping lu."


Haikal modus lagiiii!


"Iyain aja, Ra. Biar seneng!" Haikal langsung menatap sinis Asya, Ara tertawa kecil melihat ekspresinya.


"Yang bakall beli bahan siapaa? Eh iyaaa wei, belum nanya bunda gueee." Mereka sudah tiba di rumah Asya padahal.


"Lah lupaa."


"Ntar gue chat aja dehh."


"Yang mau beli bahan nya siapa?" Tanya Ara sekali lagi.


"Asya, Arsen, lu sama Ical ajaa."


"Nahh, baguss. Sambil menunggu kalian saya akan tidur di dalam!" Azril masuk.


"Heeee!" Azril dan Racksa berbalik.


"Jaga Yuna, macem-macem gue tabok!"


❀❀❀


11.57, mereka kembali setelah dari supermarket.


"Capek??" Tanya Arsen menatap Asya yang berkeringat di kursi sebelah, Asya mengangguk.


Arsen mendekatkan tubuhnya ke Asya untuk mengelap keringatnya. Hanya tersisa mereka berdua di mobil.


Usai mengelap keringat Asya, Arsen turun dan beralih ke sisi sebelahnya. Ia membukakan pintu Asya.


"Mau digendong gakk?"


"Mauuu," Asya cengengesan.


"Gendong depan atau belakang? Atau mau di gendong koala?"


"Is mengadi-ngadi. Menang banyak ntar lu nyaaa!" Arsen tertawa.


Ia mendekat ke Asya lalu menggendongnya ala bridal style. Arsen membawa Asya ke dalam rumah.


Asya yang di gendongan Arsen terus menatapnya, "gue tau gue cakepp. Gue punya lu kok."


"Dih dihhh, pede amatt!" Arsen tertawa.


"Tu anak kenapaa? Pingsan? Abis ngapainnn?" Tanya Dino beruntut ketika melihat Asya.


"Capek diaa," jawab Arsen santai.


"Capek? Abis ngapain lu beduaaaa?!" Racksa memprovokasi gaiss.


"Jangan bilang...."


"Gila kali lu pada?!"


"Keknya otak kalian perlu di cuci pake baygon."


"Sejak kapan baygon buat nyuci otak?!" Tanya Haikal baru masuk bersamaan dengan Ara.


"Lohh, bukannya yang untuk pemutih itu?"


"Itu bayclin, pinterr!" Cibir Azril kesal.


"Oiya. Salah dikit, maap." Asya menyembunyikan mukanya di dada bidang Arsen.


"Lu mau gue turunin dimana?"


"Diii dapurrr." Arsen berjalan sangat pelan menuju dapur.


"Sepertinya ada kesengajaan." Arsen tertawa, ia kembali jalan normal menuju dapur lalu menurunkan Asya di kursi.


"Encokk?"


Arsen menggeleng, "cuma dari garasi ke dapur doang gak bakal encok lah. Dari sini sampe taman depan sana aja sanggup gue." Asya tertawa mendengarnya.


"Thank uu."


"Anything for you, baby."


Kan, di baperinn!


"Gue bantuin Haikal ngangkat barang dulu." Asya mengangguk, Arsen pergi menuju Haikal.


"Kak Asya telah terbukti sebagai ratu kalau di hadapan bang Arsen." Ujar Aryuna yang habis minum air mineral.


"Kok bisaa bucin sekali manusia itu??" Tanya Ara terheran-heran.


"Mana saya tau, saya kan Asya." Asya cengengesan.


"Cowok manapun bakal bucin kalau ketemu sama cewek yang tepat," Azril menyahut.


"Cewek yang tepat buat lu siapa bang?" Tanya Aryuna, bukannya jawab Azril malah pergi.


"Gak usah temen Azrilll, dia budekkk!!"


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


Obrolan out of topic.


Asya, "selamat berbuka gaiss. Berbuka dengan yang manis-manis yaaa!"


Arsen, "kalau berbuka dengan yang manis-manis gue natap lu udah cukup deh, Syaa."


Asya, "kenapa pula natap gue?"


Arsen, "ya karena lu manis. Melebihi gula."


Asya, "aaah ngefly kann!"

__ADS_1


__ADS_2