
"Arsen lupa ingatan???"
Mereka menatap Asya yang juga kebingungan.
"Sen, kamu gak kenal aku?" Tanya Asya, Arsen menggeleng.
"Dokter ada bilang dia bakal amnesia?" Haikal menatap teman-temannya.
"Nggak ada, njemm. Sama sekali nggak adaaa."
"Senn, lu beneran gak kenal Asya? Kenal kita kagak?" Arsen tetap menggeleng.
"Gue... Arsen?"
"Jumadi. Lu Jumadi," jawab Dino dengan senyuman.
"Jangan mengadi-ngadi kau, Samsul!" Dino cengengesan.
"Dia amnesia beneran weh!"
"Coba test lagi."
Shaka maju. "Sen, ini berapa?" Shaka menunjukkan jari telunjuk dan jari tengah.
"Woilah astaghfirullahalazim!!! Dia amnesia anjemm, bukan butaaa!" Shaka tersadar lalu tertawa.
"Keknya dia bergaul sama kuntilanak jaman now di kamar sebelah jadi auto gila." Cibir Haikal.
"Nggak sii, menurut gue dia kurang dapet jatah otak. Orang full dia setengah pun kurang."
Mereka terkekeh.
"Skip la anjemm, malah becanda." Kata Azril menahan tawanya. "Huah, I'm hungry." Dino menyomot buat di samping brankar dan memakannya.
"Ketularan Haikal ni anak."
"Y."
"Sen, luu Arsen?"
"Gue gak tau gue siapa," jawab Arsen.
"Sama sih, gue juga gak tau lu siapa. Pulang yok pulang," Alvin berjalan menuju pintu keluar.
"Woi!! Gara-gara kebanyakan melihara kegoblokan jadi goblokkk banget si Alvin." Alvin nyengir lalu berbalik.
"Udah diem toh, ngelawak mulu." Mereka auto tenang dan menatap Arsen.
Asya sendiri menghela nafas.
"Sen, kamu beneran gak inget apa-apa?"
Arsen memejamkan matanya sebentar lalu membuka kembali. "Gue inget sesuatu."
Mereka langsung antusias, "inget ape lu??"
"Gue punya banyak temen, gak ada yang beres satupun. Semuanya buaya tanpa terkecuali. Emmm gue juga punya cewek cantik dan bentar lagi mau tunangan dia galak macem singa sih tapi gue sayang banget sama tu singa. And singa itu di sebelah gue, yang megang tangan gue."
Seketika Asya mencampakkan tangan Arsen.
"Kan, beneran singa."
"BAKAAAAAAAA!!!" Mereka menarik selimut Arsen dan menutupinya sampai muka.
"Nipu lu anjemm! Pengen gue tendang keluar jendela jadinya." Arsen menarik selimutnya lalu terkekeh, "i'm sorry."
Asya yang kesal to the bone menatap datar Arsen. Arsen juga menatapnya, "i miss u." Kata Arsen dengan senyuman.
"I hate u!" Asya beranjak pergi, tapi gagal pergi karena Arsen menarik tangannya. Asya yang tertarik hampir terjatuh.
Satu tangannya di genggam Arsen dan satunya di atas dada Arsen. Jarak mereka? Sangat dekat!
Melihat Asya diam tanpa berkutik, Arsen sedikit memiringkan kepalanya lalu mengecup pipi Asya.
"Maaff ya, tadi cuma bercanda doang kok. Aku tu inget sama kamu, inget banget malah." Ujar Arsen sembari mengelus rambut Asya.
Asya sendiri menunduk kemudian berusaha menjauh dari Arsen. "Saya gak kenal kamu." Arsen tertawa.
Dia menarik tangan Asya lagi.
Dan tanpa di duga... bibir mereka bersatu.
Hanya sekilas, seperti kecupan di bibir.
"Gak kenal aku?" Tanya Arsen.
"Kyaaaa! What's wrong with u?! This is my first kisss!" Omel Asya kesal sambil berkacak pinggang.
Arsen tertawa lagi, ia berusaha duduk pelan-pelan. "Alhamdulillah, saya yang pertama. Mau saya kecup lagi?"
"No! I really hate u now!"
"But, I know. U really love me."
"Cih, it was just ur dream!"
"No, it wasn't my dream. In real life, u really-really love me."
Asya menatap sinis Arsen, Arsen menatapnya dengan senyuman misterius.
"I hate u."
"U love me? Yeah, I love u too."
"AAA AUK AH!" Arsen tertawa gemas melihat Asya. Ia menarik Asya dan memeluknya, meskipun menahan sakit.
"Kamu udah sehat?" Tanya Arsen.
Asya menggeleng, "sakit karena lu!"
"Lu? Paan lu-lu. Gak usah sok asik." Cibir Arsen sambil mengeratkan pelukannya.
Jujur, Asya makin kesal. Tapi ia membalas pelukan Arsen sama eratnya. "Aku ni bener-bener benci kamu lah!"
"Benci itu kepanjangan dari benar-benar cinta, kan?"
"Bukaaaannn!"
"Iya. Itu kepanjangannya," ujar Arsen.
"Bukan, Arsenn!"
"Iya, sayang."
"Bukaaannn!"
"ASTAGHFIRULLAHALAZIM, MAU DEBAT GITUAN AMPE KAPAN LU BERDUA HAH?!" Omel Haikal emosi.
"Gak usah ikut campur urusan rumah tangga." Jawab Arsen ketus.
"Seharusnya kita mengikuti perkataan Alvin tadi. Pulang yok pulang!!"
Arsen dan Asya melepas pelukan kemudian tertawa. "Aahh skip baperan!!"
◕◕◕
20.02
"Bisa-bisanya lu berdua couplean baju rs."
"Untuk sekarang, gue sama Asya couplean baju rs dulu. Ntar couplean baju batik untuk kondangan."
"Sialandd. Dasar bucin!" Arsen nyengir sambil menatap Asya yang duduk di brankarnya.
"Lu cocok tau tadi meranin akting lupa ingatan. Lu jadi aktor di Indos*ar aja. Judulnya aku pura-pura lupa tapi malah jadi koma."
"Anjemmm, goblokkk betul sii Dinonara ni." Dino tertawa ngakak, "keren lah."
"Aktingnya Arsen cuma pura-pura lupa aja gitu?" Tanya Asya.
"Nggak, ntar dia pura-pura lupa teruskan koma setelah koma dia bangun terus pingsan lagi karena di senggol. Kan mantap, debess ntar jadinya."
"Matamuii cokk! Gimana ceritanya pingsan lagi karena di senggol?" Protes Arsen.
"Anggep aja lu jadi alergi sentuhan orang."
"Dinonara cocok jadi prosedur."
"PRODUSER, ICAL!"
"Itu maksud gue." Haikal cengengesan.
"Bener ingatan gue kan. Punya temen gak ada yang beres satupun," ujar Arsen sambil mengupas apel.
"Lu juga gak beres peaa!" Arsen tidak memperdulikan mereka dan sibuk mengupas apel.
Asya tau, Arsen agak kesulitan.
Ia turun dari brankar lalu menghampiri Arsen.
"Kalau butuh apa-apa itu bilang," omel Asya.
"Iya, sayang, iyaa." Arsen tersenyum bahagia sambil menatap Asya. Selama sakit rambut Asya diikat, ia terlihat lebih cantik dari biasanya.
Sembari menunggu, Arsen menyingkirkan rambut-rambut kecil Asya yang menghalangi matanya.
Asya tersenyum lalu memberikan potongan apel. Arsen menerimanya dan memakan masih sambil tersenyum.
"Syaa, kamu kenapa cantik banget?"
"Karena dari bibit unggul."
Arsen tertawa mendengarnya, ia menarik kepala Asya pelan kemudian mengecup kening Asya penuh kasih sayang. Asya pun membalasnya dengan kecupan di pipi.
"Males gue males. Mau pulang, bye!" Mereka langsung pergi menuju pintu.
"Baperan banget, heran." Ledek Arsen.
"Diem lu kadal Afrika!" Arsen dan Asya tertawa.
"Liatlah, gak di cegah kita mo pulang. Tandai ya lu, nunaa." Kata Azril merajuk.
"Cuma mo bilang ttdj sajaa."
"Oasuuu, meresahkan!"
Pemimpin barisan pun membuka pintu.
"Hwaaa!" Alvin terkejut membuat yang lain pun terkejut.
"Ngapee anjimm?!" Tanya Asya.
"Terkejott. Om Mikko tiba-tiba muncul sama Om Aska juga Tante Zia." Alvin kembali duduk diikuti yang lain.
"Silakan masuk, om."
Ketiganya berjalan santai.
"Eh, udah bangun, Arsen?" Tanya Zia.
"Udah, tantee."
"Tante bawain bubur buat kamu sama Asya." Zia mengeluarkan paper bag yang isinya dua kotak bubur.
"Di makan nih."
"Ini buat kami apa ya, tante?" Tanya Haikal berharap.
"Jangan berharap untuk sesuatu yang gak pasti."
"Asoyyy. Om Aska korban yang gak pasti hahahaa!" Ledek Alvin bahagia.
Seketika Zia menatap Aska, "berharap apa kamu?"
"Azril rasa, berharap punya istri dua."
"Daddy lempar ke Jerman mau kamu?"
"Aaaaa mommyyy, daddy kejamm!" Zia malah tertawa melihat ekspresi anaknya.
Prok!
Prok!
__ADS_1
Dua bodyguard masuk.
"Bagiin."
"Baik, boss." Mereka memberikan satu persatu paper bag untuk teman-teman Asya.
"Uwauuww, mi ayam baksooo." Kata Haikal sumringah.
Mi ayam baksonya pake tempat gitu, jadi bisa langsung di makan.
"Sanggup ngabisin segitu?" Tanya Mikko.
"Wopp, selepe. InsyaAllah bisa, om." Haikal tersenyum.
"Dia dah jadi raja makan selama tidur di rumah sakit. Nampung sisa kami pun kuat dia, om." Sahut Alvin bangga.
"Ya nggak gitu jugaa!"
Aska dan yang lain tertawa melihat mereka.
"Ehm, mommy... daddy.. mereka makan mi kenapa Asya cuma di kasih bubur?" Tanya Asya dengan ekspresi sok sedih.
"Kamu belum sehat betul, jadi gak boleh makan mi." Asya tersenyum pasrah, ia pun memakannya dengan sedikit tidak ikhlas.
"Nuna, enaakk banget tau mi ayamnyaa."
"Iya, Sya. Enak."
"Ahshutt! Diam!" Mereka tertawa karena berhasil meledek Asya.
"Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam."
"Eh, papa." Andre senang melihat putranya sudah duduk sambil tersenyum.
Andre tidak sendiri ya, dia bersama istri dan Asyila.
"Asya udah sehat? Maaf tante baru bisa datang, kemaren nemenin om kamu ke luar kota."
"Hehe. Gapapa kok, tantee."
Andre dan istrinya mendekati Arsen.
"Kamu udah sehat? Ada yang sakit?" Tanya bundanya.
Arsen menggeleng, "Arsen gapapa kok, bunda. Cuma sakit dikit aja."
"Sakit apa? Papa panggil dokter ya?"
"Gak usah, pa. Obatnya Arsen cuma Asya."
"AHIYAAAA, MODUSSS!" Ledek Shaka sambil teriak, seisi ruangan tertawa mendengarnya.
"Gak aman ini, Pak Andre. Harus segera agaknya," kata Aska main-main.
"Iya, sepertinya harus disegerakan ini."
Asya mendadak dongo.
"Disegerakan apanya, daddy?"
"Anak kecil gak usah tau." Bukan daddy nya yang menjawab, tapi Haikal.
"Dihh, sok gede lu!"
"Emang gede. Mau liat?"
"HEH MELENCENG KEMANA OTAKMU?" Tanya Ara kesal. Haikal tertawa, "gede hati maksudnya tuu."
"Cem betul saja."
"Hahaha, udah cepat makan. Nanti mi nya dingin jadi gak enak." Mereka melanjutkan makan.
"Untung ruangannya lebar banget yaa, jadi muat nampung semua." Kata Andre.
"Rumah sakit keluarga, bang. Bukan main-main. Ini lantai teratas lagi, ruangan VVIP super. Apa gak keren kalii," puji Mikko.
"Alaahh, jangan begitu. Jadi ngefly nanti Aska, gak tau cara turun." Mikko dan Andre tertawa kecil.
"Arsen gak parah kan, om?" Tanyanya pada Aska. Aska menggeleng, "alhamdulillah nggak." Arsen tersenyum.
"Sen, sebenernya papa mau jujur sama kamu."
Tiba-tiba saja suasana menegang.
"About what?"
"Emm, sebenarnya... kamu bukan anak—"
"Arsen bukan anak papa? Maksud papa gimana? Arsen anak pungut?"
Plak!
Asya memukul lengan Arsen.
"Dengerin sampe abis baru ngoceh." Arsen nyengir sambil mengelus tangannya. Asya juga mengelus pelan.
"Sebenernya, kamu bukan anak Mikko."
"Allahu Akbar. Dari paud juga Arsen tauuu, Arsen bukan anak Om Mikko. Dahlah, Arsen pensiun jadi manusia."
Tawa menggelegar memenuhi ruangan.
Setelah itu Aska, Andre dan Mikko asik sendiri cerita-cerita di luar ruangan. Begitupun dengan Zia dan Mama Alex.
"Arsen gak usah mikir keras, kita tau kok kejadian kamu gimana. Kamu gak perlu jelasin," ujar Aska setelah masuk lagi.
Dugaan Aska di kantor itu benar.
Itu yang terjadi dengan Arsen. Sekarang, tugas mereka menemukan pelakunya.
"Hehe, tau aja, om."
"Udah, gak perlu di pikirin. Nanti biar om, Om Mikko sama papa kamu yang cari dalangnya." Arsen membalas dengan anggukan dan senyuman.
"Ahh ngantukk." Keluh Dino sambil meletakkan ponsel.
"Nggak ngitung, tante."
"Pulang aja gih. Kasian pinggangnya, capek duduk. Asya sama Arsen biar disini aja."
"Emang berduaan gapapaa, tante?" Tanya Ara.
"Ada bodyguard di depan, jadi yaa tenang aja." Mereka berohria.
"Azril mau ikut mommy daddy." Pinta Azril.
"Ayok."
"Arsen, jaga-jaga ya. Om Tante pulang dulu." Arsen mengangguk patuh. Aska Zia pun keluar duluan disusul Mikko dan keluarga Andre.
"Okelahh, gue pulang dulu. Byee nuna, muachh!"
"Najiesss." Azril tertawa lalu pergi.
Teman-teman Asya yang lain masih diam di tempat.
"Lu pada nginep lagi?"
"Gak makasih, gue encok." Jawab Alvin dengan senyuman.
"Hahaha, mamposss."
"Asww. Dahla yuk pulangg."
Mereka berdiri bersamaan.
"Senn, lu jaga Asya. Jangan lu apa-apain!" Omel Shaka seperti biasa.
"Aman. Santai aja lu."
◕◕◕
Ini hampir jam setengah sebelas malam.
Asya yang berada di brankarnya berusaha untuk tidur tapi tetap tidak bisa tidur.
Asya berbalik.
Ternyata Arsen sedang sibuk dengan laptopnya.
"Cen, ngapain?"
Arsen menoleh, "kok udah bangun, sayang?"
"Tidur aja belumm. Kamu ngapain?"
"Ini lagi bikin persiapan buat meeting zoom besok. Kamu kenapa, gak bisa tidur? Hm?"
"Udah merem tetep gak bisa."
"Nonton tv mau? Nonton tv aja yok, siapa tau ngantuk nanti." Arsen mematikan laptopnya lalu menggeser brankar mendekati brankar Asya.
Arsen mengambil remote televisi lalu menghidupkannya. "Mau nonton apa nii?"
"Nonton ini ajaa, jodoh wasiat itu."
Arsen mengubah salurannya sesuai keinginan Asya.
Melihat Asya menonton, Arsen mengambil tangan Asya untuk di genggam. Sesekali Arsen mengecupnya. Asya juga melakukan hal yang sama pada tangan Arsen.
Ingat. Mereka cuma beda brankar tapi bukan beda perasaan. Wanjay! ╥﹏╥
"Ih laper la." Keluh Arsen setelah beberapa menit menonton.
"Cen, makan diluar yuk." Ajak Asya sumringah.
"Kan ada bodyguard di depan, mana bisa."
"Bisaa!!"
"Yaudah nanti kalau gak bisa kita sogok aja." Asya tertawa. Mereka berdua pun turun dari brankar, Arsen menuju ke sofa dan mencari dompet.
"Kok gak ada?" Gumam Arsen heran.
"Cari apa?"
"Dompet aku. Ada disini gak sih, sayang?"
"Lah gak tauu. Terakhir kali kamu taro mana?"
"Ya di saku celana, bareng sama hp kok. Gak di bawa Om Mikko keknya. Itu yang dikasih cuma laptop sama hp kerjaa." Ujar Arsen.
"Terus gimanaa?? Aku gak punya duit, Cen. Seribu pun gak punya," jawab Asya mellow.
Arsen menoleh meja di samping brankar.
"Ini ada roti. Kita makan diluar aja, mauu? Sekalian gitaran. Di depan sana kan ada taman."
Asya sumringah, "KUYY!"
"Sstt, jangan kuat-kuat suaranya." Kata Arsen sambil menahan tawa.
"Terus gimana cara kita keluar?"
Keduanya sama-sama berfikir.
"Aku punya idee!"
Asya mendekat untuk berbisik.
"Oke, deal!"
Mereka berdua kembali ke brankar menyelimuti guling.
Kemudian, Arsen menarik tangan Asya pelan.
"Kamu jangan dekat kali, nanti kejepit." Asya mengangguk.
Arsen pun membiarkan Asya dibalik pintu lalu menuju ke kamar mandi. Arsen menjatuhkan gayung, "AADUHHH!"
Arsen langsung keluar dan berjalan ke samping Asya.
__ADS_1
Bodyguard yang siaga langsung masuk ke dalam ruangan, mereka menuju ke area kamar mandi.
Saat itu juga, Asya dan Arsen keluar ruangan secara mengendap-endap.
"Yesh berhasil!" Asya senang lalu bertosria bersama Arsen. Arsen tersenyum melihat Asya tersenyum.
Mereka berdua pun pergi menyebrang ke arah taman di luar rumah sakit lalu duduk di salah satu kursi taman.
"Modal roti o sama kamu aja bahagia banget aku." Kata Arsen sambil merapikan rambut Asya.
"Sebenernya bahagia itu sederhana. Tapi kadang, banyak manusia malah mengikuti kebahagiaan orang lain."
"Haha, that's true, sayang. Mana rotinya tadi?" Asya menunjukkannya pada Arsen.
Arsen mengambil keduanya lalu membukakan salah satu dan memberi pada Asya.
"Thank u, babyy."
"Ulangiii." Pinta Arsen.
"No."
"Ulangi, sayaaang."
"No."
"Ulangi cepett! Ulaang!"
Asya tertawa melihat ekspresi Arsen.
"Makan tu rotinya," suruh Asya sambil menggigit roti miliknya. Arsen pura-pura merajuk lalu memakan rotinya.
Asya menoleh ke samping.
"Ngambek ya, pak?"
"Gak tau ah, kesel sama kamu."
Asya tertawa lagi. Ia menegakkan badan lalu mengecup pipi Arsen sekilas. "Dasar baby kolott." Arsen senyum-senyum walaupun dikatain baby kolot.
"Baby kolot kesayangan kamu."
"Yainn."
"Aahh, pengen kayang!"
"Haha, random bangett kamu tu." Arsen tersenyum lebar. Benar nyatanya, bahagia itu sederhana.
"Malam ini langit cerah ya." Kata Asya sambil menyandarkan kepala di bahu Arsen.
Arsen menatap langit.
"Iya cerah, secerah masa depan kita."
"Diiwhhh moduss!" Arsen cengengesan.
"Keknya di antara bintang ada mama deh," ujar Arsen. "Maa, mama bahagia kan disana? Mana tau kan, Arsen juga bahagia disini. Arsen punya papa, punya Asya dan yang lain. Tapi bagi Arsen tetap nggak lengkap karena kurang mama."
"Arsen tetap bersyukur kok, karena masih ada yang peduli sama Arsen. Arsen juga bersyukur, ada Asya di samping Arsen."
Arsen menoleh ke arah Asya yang sedang tersenyum pada dirinya, Arsen ikut tersenyum.
"Mama kamu pasti seneng kok liat anaknya bahagia. Benerkan aku?" Arsen mengangguk kemudian mengecup kening Asya.
Setelahnya, Asya berniat mengalihkan pembicaraan.
"Aku bisa gambar bintang bagus tau."
"Sebagus apaaa emang? Kamu aja gak bisa gambar, sayang." Ledek Arsen.
"Bisaa. Nih aku tess!"
Asya mengambil ranting kayu lalu menggambar di bagian tengah taman yang ada pasirnya. Arsen sendiri duduk dan memperhatikan Asya.
Di saat asik menggambar, Asya di datangi orang. Orang itu memberikannya uang lima puluh ribu.
Asya terkejut.
"Bukk bukk!" Asya mengejarnya.
"Kenapaa?"
"Saya bukan pengemisss."
"Yaudah gapapa untuk kamu ajaa. Saya di challenge sama temen," jawab ibu itu lalu pergi.
Arsen menghampiri Asya yang menatap duitnya.
"Kenapa gitu mukanya?" Tanya Arsen.
"Aku macem pengemis kah tadi?"
Arsen terkekeh.
"Macem bidadari, sayang. Udah gak usah dipikirin, lumayan tauu lima puluh ribu."
"Beli apenii?" Tanya Asya.
"Ke supermarket aja yok, kita cari mii instan."
"KUY!"
Mereka menuju supermarket sekarang.
"Bodyguard masih nyariin kita pasti." Kata Arsen di jalan.
"Sepertinya begitu."
"Ntar kalau di marahin gimana, Cen??"
"Aku yang nanganin, santai aja kamu."
Asya sumringah lalu melepas gandengan dan masuk duluan ke supermarket. Arsen mengejar.
Lorong mi instan paling utama. Keduanya mengambil mi instan dengan rasa yang pedas.
"Iiii masaknya gimanaaa?" Tanya Asya bingung.
"Beli pop mie aja kalau gituu, kan di kamar ada air panas."
"Okee!" Mereka meletakkan yang sebelumnya lalu mengambil pop mie.
"Cenn, mau jajan."
"Yaudah sekalian ajaa." Asya mengambil satu macam tapi versi lumayan gede harganya juga murah karena diskon.
Ini adalah momen ketika orang kaya mendadak gak punya uang~
"Eh ada es krim."
Asya mengode Arsen.
"No, udah malam."
"Sekaliii aja."
"Nanti sakit, sayaangg."
"Nggaaakkk, aku keball."
"Yaudah ambil satu."
Asya mengambil yang ia suka.
Terakhir, Arsen mengambil minuman botol favorit. Setelahnya mereka bayar di kasir.
Duit yang dibawa pas-pasan:v
"Untung gak kurang." Kata Arsen sambil menenteng kreseknya.
"Hahayy. Kita kemana?"
"Balik ke rs ajaa."
"Okayyy."
"Mau aku gendong?"
"Jalan aja, lebih sweet."
Mereka berjalan bersama sesekali cerita hal-hal random tentunya dengan tawa yang menjadi bumbu pemanis.
"Astaghfirullah, nona sama Mas Arsen kemana aja sih? Kami panik nyarinya!" Omel bodyguard setibanya di kamar.
Asya Arsen tertawa.
"Maaf deh, om. Kami keluar bentar karena bosan di kamar mulu. Mau izin takutt."
"Kalau mau keluar izin aja gapapa, nona. Nanti kami kawal."
"Gak asik, om. Gak bisa beduaan," jawab Arsen mengedipkan mata lalu masuk bersama Asya.
Bodyguard senyum tertekan.
Bukan apa-apa, dia mengiri ingin bucin juga ╥﹏╥
Di dalam kamar, mereka berdua sudah menyeduh mi nya. Tinggal menunggu. Oh iya, mereka berada duduk berdampingan di dekat kaca.
"Kalau dipikir-pikir mantep juga kita bisa sakit barengan."
"Sehati banget kan," jawab Arsen.
"Hahaha, sehati bangettt."
"Eh ini, mi nya dah jadi."
Mereka menikmati pop mie itu sembari menatap langit lagi dari dalam kamar.
Usai makan mi, Asya meraih es krimnya.
"Emm, manisss."
"Kek kamuu."
Asya auto melting.
"Btw, kamu mauu?" Tanya Asya.
Arsen mengangakan mulutnya, Asya pun menyuapi Arsen.
"Manis kan?"
"Manisan kamu sih."
"Diwhh moduss!"
Arsen terkekeh. "Hp kamu mana, sayang?"
"Aku belum minta daddy. Kenapa?"
Tanya Asya sambil membuang bekas es krimnya.
"Mau liat ajaaa. Aku pengen foto berdua pake baju coupleee. HP kerja ku aja kali ya?" Asya mengangguk.
Arsen mengambil ponselnya, mereka foto bersama dengan berbagai macam gaya.
"Iiii kyut bangett akuu!" Puji Asya pada dirinya sendiri.
"Emang kyut. Baru sadar?"
"Buayaa memang!" Arsen nyengir.
Tiba-tiba..
Hatcim!
Arsen langsung menatap datar Asya.
"Katanya keball. Ngeyel sih di bilanginn, bersin kan jadinyaa!"
"Hehehe, kesalahan teknis."
"Halah prrett!"
__ADS_1