
Setelah mendapatkan izin Arsen, Asya benar-benar pergi kuliah pagi ini. Asya diantar Azril sampai ke kelas. Ia tidak terlambat karena memang kelasnya jam sembilan.
Azril sendiri langsung kembali ke kantor setelah mengantarkan Asya. Setibanya di dekat ruangan, ia melihat Arsen yang sedang disibukkan dengan pekerjaannya.
Berlagak sopan, Azril mengetuk pintu.
"Masuk."
"Sumpahh, gak heran Asya jatuh cinta sama lu. Gak heran juga Asya sering ngikutin lu ke kantor. Lu seganteng ini ternyata bro kalau lagi serius."
Arsen tertawa. "Gak usah banyak bacott dahh, pake muji duluu. Lu butuh apa?" tanya Arsen mengabaikan berkasnya.
"Gini, tolong bantu gue, Sen."
"Iyaaa. Apa kenapaa?" tanya Arsen lagi mengangkat sebelah alisnya. "Gue butuh duit, Sen. Butuh banget. Gue gak di rumah lagi, semacam diusir sama mommy daddy tapi bukan diusir."
Arsen menatap iparnya serius lalu berpindah mendekat. "Ini serius lu? Terus sekarang tinggal di manaa??"
"Apartment. Gue juga cuma dibolehin bawa motor satu doang sama daddy. Sisanya disita," jawab Azril. Arsen sedikit heran, "Lu abis buat salah, kan? Gak mungkin mommy daddy ngusir tanpa sebab?"
"Iyaa, gue salah. Pas tadi malem berduaan sama Naina, gue kurang ajar mau cium dia dan itu ketauan mommy daddy."
Bugh! Arsen memukul kepala Azril dengan bantal sofa. "Sudah ku dugong, pasti kau yang gak beres!" katanya kesal.
"Khilaf cokk, sumpahh!"
"Taii kucing. Belum sah udah nyosor mulutt lu. Terus itu si Naina gimana?"
"Naina gakpapa. Baik-baik aja kok dia, yaa tetep di rumah. Sorry gue datang pas ada butuhnya doang, tapi kali ini gue beneran butuh bantuan lu, Sen. Gue gak minjem uang, tapi tolong kasih gue kerjaan. Apapun itu."
"Lagi gak ada pula posisi yang beneran kosong. Tapi kalau lu mau jadi tangan kanan gue atau pengganti gue pas gue gak ada, bisa?"
"Ya gak itu juga. Jangan gila dah. Hancur perusahaan lu ntar kalau gitu caranya. Gue belum terlalu paham sistem perkantoran ini, Sen."
"Belajarlah, anggep aja ini magang lu. Gue ajarin juga kok ntarr," kata Arsen berbaik hati. "Sumpah, kalau untuk itu gue beneran takuttt. Perusahaan lu bisa hancur sekejap doang gara-gara gue ntar."
"Kalau lu gak ada niatan buat ngancurin perusahaan gue, gue rasa itu gak bakal terjadi. Gue yakin lu pasti bisa dan gak sampe ngancurin perusahaan gue, Zril. Sedikit banyaknya gue tau kemampuan lu." Azril terdiam.
"Gak usah mikir kelamaann, lu ada plan lain selain ini apa?" tanya Arsen heran. "Nggak ada sebetulnya. Ini lu beneran yakin?"
"Gue percaya sama lu, Azril. Nanti bakal gue ajari juga sekalian lu belajar biar bisa bikin perusahaan sendiri."
"Makasih banyak, Sen. Gue gak tau lagi mau gimana kalau gak ada lu," kata Azril memeluk Arsen. Arsen tersenyum, rasa hatinya senang bila dapat membantu orang lain. Apalagi saudara iparnya sendiri. "Santai aja, santai."
Azril melepas pelukan. "Gue gak tau lagi, kalau lu gak ada gue bakal luntang-lantung di jalan kayaknya."
"Gue yakin mommy daddy ga sejahat itu ngebiarin lu begitu. Btw, gaji lu mau dibayar perhari atau perbulan? Lu maunya berapa?" Azril menatap heran Arsen, "Bisa request? Gue mau perminggu aja boleh gak?"
"Bisaa. Itungannya sesuai jam lu masuk ya, terserah mau datang jam berapa karena lu kuliah juga kan. Yang terpenting jangan malem. Dan kalau bisa lu harus siap siaga nanti gantiin gue tanpa ditunda-tunda. Deal?"
"Deal!"
"Oke, nice."
"Nanti mampir ke apart ya, gue bakal kasih buku-buku yang lumayan bergunalah buat belajar." Azril mengangguk, "Aman. Tar gue mampir."
"Gue lupa belum dikasih minum, lu mau minum apaa?"
"Kagak usahh, gue mau balik ini. Banyak yang perlu gue siapin, mau ketemu Naina juga sekalian," jawab Azril beranjak dari duduknya.
Arsen ikut berdiri, "Okelah kalau gitu. Walaupun tindakan lu salah banget, tapi sebisa mungkin gue bakal bantu apapun yang lu butuhin."
"Anjayy, mashookk. Makasih banyak, abang ipar. Gue cabut dulu yaa." Arsen gantian mengangguk. Azril mengulurkan tangan sebelum pergi, Arsen pun membalas uluran tangannya. "Selamat bekerja sama."
"Siaapp. Thank you, broo!"
...◕◕◕...
Azril diam-diam mencari pekerjaan tambahan lainnya. Ia mendaftarkan diri menjadi barista karena yaa sedikit banyaknya Azril bisa, dirinya pernah iseng mencoba dulu sewaktu SMP.
Karena dulu sudah pernah mencoba mendaftar di sana dan kebetulan ada lowongan pekerjaan, alhamdulillah Azril diterima.
Saat ini ia duduk di salah satu meja sebagai pelanggan, kedua tangannya memegang kepala Azril yang menunduk. Sedikit pusing, Azril bingung membagi waktunya bagaimana nanti.
Tok tok!! Meja Azril diketok kala dirinya masih berpikir bagaimana cara mengatur waktu. Azril mendongak perlahan, kekasihnya datang.
"My sweetheart..."
"Butuh pelukan?" Azril mengangguk sedih. Naina membentang tangannya lebar, Azril pun langsung mendekat dan masuk ke pelukan Naina. "Kamu udah ngelakuin yang terbaik. Kerja baguss, sayangkuu."
Azril diam menikmati pelukan. Setelah puas, ia melepasnya. "Naik apa kamuu?"
"Ojeekk."
"Maaf gak bisa jemput ya, sayangg."
"It's okay, Azril," jawab Naina dengan senyuman. Azril ikut tersenyum. Pusingnya terasa hilang begitu melihat pacarnya yang ada di depan mata.
"Mommy daddy baik, kan?"
"Of course! Om sama tante itu baik, gak mungkin mereka nyakitin aku. Jangan bilang mereka gak baik atau bilang mereka gak sayang kamu ya!"
Azril tertawa. "Iya, sayang. Aku tau kok. Aku tau betul mereka baik, tujuan mereka sekarang juga baik. Aku sadaarrr, aku aja yang selama ini terlalu manja dan bergantung sama mommy daddy."
"Mo berubah jadi yang lebih baik, kan?"
"Of course, babee."
__ADS_1
"Pintarr. Aku temenin kamu sampai kapanpun," ujar Naina mengelus rambut Azril. "Terimakasih ya, sayangg. Maaf aku kurang ajar sama kamu semalam."
"Nda perlu di bahass. Aku hauss btww."
"Oiyaaa belum pesen hahahaha! Sebentar ya, sayangg." Azril pergi ke meja barista dan memesan apa yang biasanya Naina mau, setelahnya kembali.
"I love u, Azril."
"I love u moree, Nai. Jangan pernah berubah ya sayangnyaaa?"
"Nggak bakal, Azril. I still love u until the end."
...◕◕◕...
Sore hari hampir maghrib, Arsen pulang dari kantor. Ia terlihat amat sangat kelelahan.
Arsen masuk apartemen dan langsung menuju kamar. Terlihat Asya yang sedang rebahan sambil menonton televisi. Arsen mendekat dan membanting tubuhnya perlahan ke atas Asya.
"Wadoohh bayiii." Arsen diam tidak merespon, ia sedang menikmati posisinya. "Capek bangett ya, mas?"
"Bangettt."
"Ya sudah, istirahat aja duluu, jangan bobo tapii. Abistu nanti mandi, sholat, makan, baru aku pijitin. Okeyy?" Arsen mengangguk. Dapat di rasakan Asya di atas dadanya.
Asya diam membiarkan Arsen. Masih sambil menonton, tangan Asya aktif mengelus rambut dan punggung Arsen. Arsen merasa tenang.
"Biby kegencet gak kalau aku begini??" tanya Arsen tiba-tiba bangun. "Enggak sepertinya, masii kicikk juga ndapapa, sayang."
"Jaga-jaga." Arsen bangun ia mengarah ke perut Asya, "Tenang-tenang dalam perut bundaa yaaa, bibyy."
"Ceilahh, bundaaa!" Arsen dan Asya tertawa. "Mandi sanaa," titah Asya. "Mandiin, sayang."
"Ngidee bangett jadi manusia. Nggak ada cerita dimandiin, mandi sendiri sanaaa." Arsen nyengir, dirinya berpindah melepas semua atribut di badan. Mulai dari jam tangan, dasi, kemeja dan segalanya hingga tersisa boxer.
"Taro bajunya di mesin cuci. Dibiasainn."
"Nggihh, ndorooo." Arsen memasukkannya ke dalam mesin cuci setelah itu mandi. Di kamar, Asya menyiapkan segala kebutuhan Arsen.
Selepas mandi, Arsen keluar hanya dengan handuk di pinggang. Asya tidak heboh lagi, kini mulai terbiasa melihat kelakuan suaminya. "Cariin sarung, sayang."
"Mau ke masjid?" Arsen berdehem. Asya pun kembali bangkit mengambilkan sarung. Arsen memakai baju kokonya, mengambil dan memakai sarungnya.
"Hati-hati di apart ya, sayang. Aku pergii dulu," pamit Arsen dengan senyuman. Asya mengangguk, ia mendekat untuk salam. Arsen menghindar, "Aku udah wudhu, sayangku."
Asya nyengir, "Sowwyy, tidak tahuu. Yaudah sanaa berangkat." Arsen memakai peci lalu pergi. Ia jalan kaki menuju masjid terdekat untuk sholat maghrib berjama'ah di sana.
Asya sendiri sholat maghrib di rumah. Sehabis sholat, ia menyiapkan makanan dan peralatan makan untuk sang suami. Sambil menunggu Arsen pulang, Asya duduk di sofa depan.
"Sayangg, aku pulang."
"Sudaaa. Kamu mau makan ndak? Aku udah siapin." Arsen melihat ke arah meja, semua tertata rapi. Arsen mengecup kening Asya dan tersenyum lagi. "Mau dongg, aku udah gak sabar mau makan semua masakan istriku. Tapi bentar dulu ya, aku mau ganti baju."
"Yasudaaa, aku tunggu di meja makann." Arsen pergi ke kamar mengganti baju yang memang sudah Asya sediakan. Asya sendiri pergi ke meja makan, menyiapkan apa yang kurang.
"Wuihh, enak bangett lauk hari inii," puji Arsen dengan senyuman senang. Ia sudah berganti baju dengan kaos dan celana pendek.
"Oh iyaa dongg. Biar mass Arsen betah di rumahh!" jawab Asya meletakkan nasi di piring Arsen. "Tiap hari di rumah juga betah akuu, sayangg. Asal ada kamu ajaa."
"Sok iyeee." Arsen nyengir, ia menerima piring dari Asya dan mulai makan. "MasyaAllah tabarakallah. Enak bangett. Terbaik kamu, Sayangg!"
"Asyaa gitulohh!!" Mereka mulai makan bersama. Hanya ada keheningan, karena keduanya sama-sama menikmati makanan.
Setelah beberapa kali tambah, Arsen merasa kenyang. Ia membawa piring ke wastafel dan mulai mencuci. Kemudian ia bergabung dengan Asya di sofa.
"Aku kenyang bangett, sayang. Ahh, enak banget punya istri. Udah cantikk, jago bikin seneng suami pulaa."
"Ada maunyaaa yaaa???! Jago bikin suami seneng tu part yang mananyaa?"
"Semua part, termasuk di ranjang."
"Hihh dasarr! Btw, mas jadi mau di pijit?"
"Boleh kalau kamu mau mijitin. Tapi ntaran dulu, belum turun nasinyaa. Kalau enggak nanti agak maleman aja dehh, pijat plus-plus ya, sayang." Asya menyipitkan mata menatap Arsen. "Apenih mangsud?"
Arsen cengengesan. "Udahh lama enggak, sayang. Bolehlah, yaa?" Asya menutup muka Arsen dengan bantal sofa lalu pergi ke kamar tanpa menjawab.
"Sayaangggg," rengek Arsen sembari mengejar. Asya menyandarkan kepalanya di headboard kasur sambil menghidupkan televisi. Arsen datang dan langsung memeluk Asya. "Arsen, beraatt."
"Entenggg akuuu. Bibyy gak kegencett kan yaa?" tanya Arsen tiba-tiba berpindah. Asya menggeleng, ia kembali menimpa tubuh istrinya. Asya sendiri diam membiarkan Arsen.
"Mom, mau susuu..."
"Kekk cabuul kamu begituuuuu."
"Cabull apaaapulaaa. Nda yaaa."
"Cabull. Skip, skip. Btw tadi Azril datang mo ngapain? Tumben-tumbenan belio ke kantor kamuu?" tanya Asya mengelus rambut Arsen. "Minta kerjaan. Abis diusir mommy daddy dia gara-gara mesum."
"Mesum gimanaa??"
"Mau nyosor ke Nainaa. Mommy daddy yang baru pulang mergokin, kenak hukumanlah jadinya." Asya geleng-geleng kepala. "Emang harusnya cepet-cepet nikah aja tu anak."
"Gak bisa harus cepet-cepet juga, sayang. Banyak yang perlu disiapin nikah tuu," jawab Arsen. "Ya iya, tapi kalau udah begitu apa tidak seramm. Terus tadi kamu kasih kerjaan apa, mas?"
"Jadii asisten aku gituu, pengganti juga kalau aku nggak masuk kantor." Asya berohria. "Jadi bisa bebas liburan dong kitaa???"
"Boleehh. Mau kemanaa?"
__ADS_1
"Alahh, gak mau berharap deh aku. Nanti gak jadi lagi, kek yang udah-udah." Arsen tertawa. "Kali ini enggak, kan udah ada Azril."
"Tidak yakin. Si Azril jadi tinggalnya di mana??"
"Di apartment dia. Fasilitasnya ditarik semua, cuma kesisa motor. Kebayang dah gimana susahnya adek ipar aku itu."
"Cukup memprihatinkan. Tapi pasti tu mommy daddy gak tega jugaa gituin Azril." Arsen mengangguk setuju, "Aku juga mikirnya gitu. Mungkin ini biar Arsen mandiri aja dulu, bisa cari duit sendiri gitu."
"Huum."
Arsen diam, tangannya diletakkan di balik badan Asya. Lalu tanpa aba-aba, Arsen berbalik. Kini gantian sang istri yang berada di atasnya. "Mulai, nakal."
Arsen nyengir. "Bumilku ngapain aja hari ini?" tanya Arsen mengelus rambut Asya yang sedang duduk. "Umm, aku belajar aja sih tadii. Sampeee sore jugaa, ngerjain tugas-tugas."
"Pintarnyaaa. Capek nda, sayang?"
"Ndaaa."
"Okesip mantap, udah pas posisinya ini."
"Ishhh! Apapula aku di atass??"
"Posisinya aman buat bumil, sayang."
"Kalau iyaaa? Kalau enggak??"
"Mau aku di atas? Kalau aku di atas yaaaaa gak nyantai sih." Asya menyipitkan matanya lagi. "Yaudah, gakpapa dehh, lagi mau dikasarin nich."
"Uhh, naughty." Asya tertawa melihat suaminya mulai tergoda. Berniat membuat suaminya senang malam ini, Asya memulai pertempuran. Namun setelah beberapa menit berciuman, terdengar ada tamu yang datang.
Asya mendengus kesal, begitupula dengan Arsen. "Siapaa coba yang datang malem-malem ginii?!" tanya Asya dengan muka masam sembari turun dari atas Arsen lalu berjalan ke luar.
"Bajunya ganti dulu kalau mau keluar, sayangku." Asya tersadar, ia berbalik dan tersenyum menghadap Arsen. "Forget, baby. Kamu bukain dulu kalau gitu."
Arsen mengangguk. Niat Arsen ingin nunggu 'adiknya' tidur lagi, tapi sepertinya akan kelamaan. Arsen terpaksa bangun dan membukakan pintu.
"Halo, abang ipar. Gue mauu ambil buku yang lu bilang tadii." Arsen menghela nafas panjang, "Kenapa harus sekarang lu dateng?!"
Azril mengedipkan matanya. "Emang kenapa? Eh? Hah??? Lu lagi jenguk ponakan gue kahh? Sumpahh? Jam segini cokkk? Ihh, ngerii."
"Bacottt. Masuk lu." Azril tertawa melihat muka Arsen yang kesal. Mereka berdua masuk bersama. "Asya manaa?"
"Apaann?" tanya Asya keluar kamar mengenakan baju tidur lengan panjang. "Kokk pada kesall siiieehh? Maaff gue gangguuu acaranya yaa. Lagian masih jam segini anjirrr, isya juga beloomm."
"Tidak usah banyak ceritaa. Skip. Gue denger dari Arsen, lu di usir?" Azril menoleh ke arah Arsen yang sedang minum dan bersandar di meja. "Apa? Bini gue nanya yakali gak gue jawab."
"Yew. Kan tadinya mau gue yang kasih tauuu cokk, biar gue ubah dikit ceritanya terus Asya bujukin daddy suruh gue balik."
"Kacau. Konslet otakmu ku tengok," cibir Asya geleng-geleng kepala. "Udah dari lahir gak sih, yangg??"
"Keliatannya begitu."
"Bangkee. Dasar manusia-manusia julid!"
...◕◕◕...
Pagi-pagi buta, pukul 4 pagi, Arsen terbangun dari tidurnya. Menunggu jam sholat subuh masuk, Arsen bebersih apartemen. Ia sengaja mengerjakan semuanya sendiri agar sang istri tidak kelelahan.
Semua Arsen kerjakan sampai benar-benar bersih. Tepat memasuki jam sholat subuh, Arsen berhenti. Ia membangunkan sang istri lebih dulu.
"Sayangg, bangun dulu yok?" panggil Arsen lemah lembut. Asya membuka matanya sekejap. "Capekk, mass."
"Sholat subuh duluu, sayangg."
"Nyusul ajaa ah akuu...." kata Asya kembali memejamkan mata. "Gak ada nyusul, gak boleh nunda sholat sayangku." Asya merengek.
"Cup cup cup, sayang.. sholat aja dulu yok? Nanti tidur lagi nggakapa, sayang." Asya bangun, duduk menahan kantuk. "Gendongg, mass," rengek Asya lagi sembari merentangkan tangan.
"Pake bajunya dulu, baru mas gendong." Asya melihat dirinya sendiri dalam selimut. Hanya mengenakan dalaman. Mereka jadi berolahraga tadi malam.
"Ishh, pegel mass. Kamu beneran kasar tadi malemm," dumel Asya. "Kamu yang mintaa. Fasterr, babee, fasterrr.. gitukan," ledek Arsen.
"ISHH, ARSENN!!" Pipi Asya memerah mengundang gelak tawa suaminya. "Lucunyaa. Udah bangun dulu, pake bajunya, ambil wudhu, aku tunggu di kamar sebelah. Okeeyy?" Asya mengangguk.
Arsen pun pergi ke kamar sebelah sekalian mengambil air wudhu. Asya datang menyusul. Setelahnya, mereka sholat berjama'ah bersama.
"Kerja apa kuliah, sayang?" tanya Asya sehabis sholat. Arsen yang sedang melipat sajadah menoleh. "Kelonan."
"Ngadi-ngadiii. Kelonan ma siapa luu?!" tanya Asya lagi dengan tatapan sinis. "Ya kalau bukan sama kamu, sama siapa lagi, sayang? Istriku cuma satu."
"Tapi nanti aku mau kuliah."
"Tumben rajin?"
"Biar cepat wisudaa. Toh juga kamu senang gak aku ikutin ke kantor." Arsen berdehem, tidak menjawab dengan perkataan karena tidak mau salah bicara. "Tapi kan ya...."
Arsen menoleh. "Kenapa, sayang?"
"Mau nurutin aku ndak?? Ini... sepertinya kemauan bibyy..." Arsen mendengus. "Maunya bibyy apa kamuu. Mau apaa emang? Kalau masih dalam batas wajar aku turutin."
"Gak aneh-aneh kok... mau berangkat kampus naik crf doang, bolehkan?" Arsen langsung menggeleng. "Itu aneh. Gak usah macem-macem, minta yang lain aku turutin kecuali itu."
"Hih! Yaudah aku gak jadi kuliah, mau ikut kamu ke kantor!!" Arsen mengangguk-angguk. "Oke deal. Siap-siap gih kamunya, aku ada rapat pagi banget hari inii."
Masih sambil misuh dan merajuk gak jelas, Asya mempersiapkan diri. Sampai akhirnya mereka tiba di kantor, Asya masih merajuk. Arsen sendiri tidak ingin membujuknya, ia tidak akan luluh.
Tepat di saat menginjakkan kaki di ruangan Arsen. Akhirnya Asya bersuara. "Kamu udah gak sayang aku lagi ya, Sen?"
__ADS_1