
13.24, Asz group.
"Astaghfirullah Askaaa!! Lu tuh yaaa, sumpah kesel gue liat lu!" Omel Rafael setibanya Aska di Asz Group.
Setelah beberapa hari libur, ia baru masuk lagi siang ini. Sebenarnya tidak ada masalah bagi Rafael, tapi ada pertemuan penting yang selalu Aska tunda.
"Gue baru nyampe, jangan berisik!" Protes Aska sambil membuka jas berwarna navy blue yang ia kenakan.
"Hihh, lu tu yaa, kan udah dari Seninn gue bilang client pengen ketemu tapi kenapa di tunda muluuu? Harusnya tadi pagi juga kenapa lu malah telat datanggg??"
"Ketiduran," Aska cengengesan.
"Seenak jidatnya aja ahh!" Aska tertawa kecil.
"Lagi pula kemaren gue suruh lu buat dateng, kenapa masih nyuruh gue? Kan lu tau gue tu jarang qtime sama anak-anak. Sesekali qtime lu ganggu mulu setannn!"
"Iyaa iyaaa, lu jarang qtime sama anak-anak. Lu jarang libur juga. Tapii lu sering nyuruh gue yang temuin clienttttt! Ini yang bos sape sii?"
"Sini deket, gue bisikin!" Pinta Aska.
"Apa lagi astaghfirullah!" Rafael mendekatkan telinganya.
"Bos nya ASKA GANTENG!"
"Anjj, budeg telinga gue sialan!" Aska terkekeh puas.
"Males tauuu ketemu client, ribettt. Toh juga pembahasannya mau kerja sama doang." Jawab Aska santai sambil duduk di kursinya.
"Kerja sama yang menghasilkan uang, lagian kan gak mungkin gue-gue mulu yang ketemu client! Lu kagak takut apa gue bohong?"
Aska menggeleng, "gue percaya sama lu. Makanya gue suruh lu. Jadi tolong, jangan sesekali nya lu berkhianat, tolong jangan."
"Iyee iyeee, cari mati apa gue ngehianatin lu. Tapi client kali ini pengennya ketemu langsung sama lu."
"Kapan?"
"Dua jam lagi, jam.. setengah tiga kalau gak salah."
"Itu mah gak sampe dua jam, oon." Rafael cengengesan.
"Dimanaa?"
"Restoran ala Korea."
Aska menatap Rafael serius, "siapa client nya?"
"Gue gak tau, dia minta pertemuan melalui sekretaris nya. Emang kenapa??"
"Tuan Kim gak? Yang kita tolak beberapa kali ituuu."
"Eh iya bisa jadii!"
Aska berfikir apa yang bisa ia fikir kemudian memencet tombol untuk memanggil leader bodyguard nya.
Leader Asz BG datang.
"Kenapa, bos??"
Aska tidak menjawab, ia mendekat ke arah leader itu. Ia mengelilingi nya kemudian mengambil pistol yang tersembunyi di bagian belakang.
Aska mengecek peluru dan ternyata banyak, "saya pinjem ini." Leader itu mengangguk.
"Suruh ketua tim perketat keamanan, ntah itu di rumah abu-abu, di sekeliling anak saya ataupun di rumah utama."
"Oke siap, bos!"
"Kamu boleh pergi." Leader itu membungkuk sedikit lalu pergi.
"Buat apaan?"
"You know lah, tuan Kim gimana?"
"Kalau misalnya emang tuan Kim, lu tolak lagi?"
"Tergantung sikapnya."
Aska memperhatikan dengan detail pistol yang ia pegang. Dengan gerakan tiba-tiba Aska menodong Rafael.
"L-lu kenapa?"
Aska tersenyum smirk, "jujur sama gue. Lu pernah khianatin gue atau nggak?!"
Rafael mengangkat kedua tangannya, "boro-boro khianatin lu, nyelundupin uang kembalian seribu aja takut gue."
Aska terkekeh, ia kembali menarik pistolnya.
"Sumpah ya, lu serem anjirr megang pistol!"
"Gue tau, makanya gak pernah pegang pistol depan anak istri." Jawab Aska sambil mengelus pistol itu.
"Btw, kemaren anak gue ketemu sama Asya, Azril sama yang lain di kafe."
"Lah kapan??" Tanya Aska heran.
"Malam minggu kalau gak salah, sebelum lu qtime sama mereka. Pulang dari sono seneng banget anak gue."
"Si... Yuna, ya? Aryuna?" Rafael mengangguk.
"Emang dia kagak pernah ketemu Asya?" Aska bersandar di kursinya.
"Mana pernah, keluar rumah juga jarang."
"Strict parent lu?"
"Nggak juga, Yuna aja yang kagak minat keluar. Temen smp nya suka beda-bedain dia, pernah hampir di bully tu anak tapi gak jadi."
"Lah di bully kenapa? Anak lu kan cakep."
"Ya karena cakep ituu lah makanya kena bully."
"Kenapa gak bilang, kan bisa gue bales!"
"Karena itu gue gak mau bilang lu, malah ngerepotin lu nya." Jawab Rafael.
"Bacotnyaaa. Terus sekarang kelas berapa? Selisih berapa tahun sama Asya Azril? Gak pernah keluar rumah beneran?"
"Dua tahun, baru masuk sma. Ya baru-baru ini juga dia keluar rumah, tapi tetep aja sendirian." Jelas Rafael.
"Pindahin aja, barengan Asya Azril." Suruh Aska.
"Mana biss--" Rafael menoleh Aska.
__ADS_1
"Apa yang gak bisa, Rafael?"
"Lupaa gue kalau SMA Super punya lu."
"Eh suu, diem goblokkk." Rafael cengengesan.
"SMA Super punya lu, tanah nya lu yang beli, desainnya lu yang buat. Terus, yang belagu malah anaknya kepsek itu, padahal bisa aja yang belagu Asya apa nggak Azril."
"Emang terkadang gitu ya. Yang luar biasa bersikap b aja, yang b aja banyak tingkahnya." Aska tertawa.
"Btw, anak lu sering ngulah kagak si??"
"Oh ya jangan di tanyaa. Emak bapaknya aja tukang nyari ributtt."
"Terus kepsek nya gimana??"
"Gue ajak ketemu tuh kepsek nya, gue suruh aja keluarin dari SMA. Lah kepsek nya gak mau, katanya nanti sepi gak ada mereka."
Rafael tertawa, "bapak luar biasa. Malah nyuruh anaknya di drop out."
Aska ikut tertawa. "Dahh, pindahin aja si Yuna. Ntar gue suruh Asya Azril buat main bareng dia. Toh juga Asya butuh temen cewek, bosen dia mainnya sama cowok mulu."
ββ
"MEEEENGAPA SEMUA MENANGIS?!"
"BIASALAHH!"
"PADAAAHALL KU SELALU TERSENYUM."
"GAK NANYA!"
"Titisan setan," Azril cengengesan.
"Apa agenda hari ini?" Tanya Racksa baru keluar kamar.
"Gue mau nonton drama Korea, tidur siang, bangun, nonton drama China, tidur, bangun, nonton drama India. Uwaah gue sibuk!"
"Stresss ni anak! Sakit mata lu kebanyakan nonton goblokkkk." Omel Azril, Asya cengengesan.
"Au tuh. Dah masak aja sono lu buruann, laper gue!" Titah Racksa.
"Telor ceplok aja ya? Iya. Oke!"
"Asya kumat penyakit jiwanya, dia yang nanya dia juga yang jawab." Asya tertawa, ia pergi menuju dapur.
Ting tong..
"Lu buka, Zril!" Suruh Racksa.
"Lu aja sono. Gue lagi main game!"
"Lu belum main anjirr, bukain dulu sono! Sopan sama abangan!"
"Dih dihh, sementang gue paling mudaa." Azril menuju pintu utama.
"Sia-- Adinda??"
Adinda mendongak, ia tersenyum paksa sambil mengelap air matanya.
"Lu kenapa nangisss? Kok bisa disinii?? Masuk dulu, ayok!" Adinda pun mengikuti kemauan Azril, mereka berdua masuk ke rumah.
"G-gue.. gue liat Alex lagi gitu-gituan sama mantannya tadii."
"Hahh?? Siang bolong kek gini? Gilaaa tu manusia?" Tanya Racksa heran.
Asya pun mendekat ia memeluk Adinda dan mengelus pundaknya untuk menenangkan.
"Lu tenang dulu, yaa."
Racksa menoleh ke arah Azril, tangannya mengepal tanda ia sedang menahan amarahnya. Racksa yang sadar tentang itu langsung menepuk pundak Azril.
Azril menghela nafas, ia melepas kepalan tangannya. "Lu tau rumah ini dari mana?" Tanya Azril.
"Arsenn. Tadi gue ketemu Arsen di jalan pas mau balik, terus dia bilang mau ke sini. Oh iya, dia bawain burger untuk kalian." Adinda menunjuk barang yang ia bawa tadi.
"Terus, Arsen nya mana?" Tanya Asya.
"Gue nggak tauu, dia pergi setelah anterin gue ke sini. Dia suruh gue diem aja di sini."
"Emm.. mati matii, tamat riwayat si Alex tu nanti."
Asya mengambil ponselnya, ia menghubungi Arsen. Asya takut Arsen benar-benar lepas kendali dan membunuh Alex, Asya hanya tidak ingin pria itu masuk penjara.
...biaaawak π...
π "Assalamu'alaikum, kenapa?"
^^^"Waalaikumsalam, lu dimanaaa?!"^^^
π "Adinda udah cerita kan?"
^^^"Balik lu sekarang! Balik ke rumah gue atau kita gak bakal pernah ketemu!!"^^^
π "Tap--"
Asya langsung mematikan panggilannya, Arsen kembali menghubungi Asya tapi Asya tidak mengangkatnya.
Tingg..
biaaawak π
online
sya, jangan gituuu. gue harus kasih pelajaran sama Alex
^^^trsrh si, kalau emg gk mau ktmu lgi ya hjar aja sna.^^^
angkat dulu telepon gue
Drttt.. Drttt..
Asya mengangkatnya.
...biaaawak π...
π "Assalamu'alaikum, pliss yaa. Bentarr ajaa, satu tinjuan."
^^^"Wa'alaikumsalam, terserah. Pilihan ada di lu, tujuh menit lagi gue tunggu di rumah. Kalau gak muncul, anggap kita gak pernah kenal!"^^^
π "Gak bisa gitt--"
__ADS_1
Asya mematikan panggilannya lagi.
"Bentar gue ambilin lu minum." Asya pergi menuju dapur.
Asya jongkok di dekat meja makan, sebenarnya ia gugup. Ia takut Arsen memilih untuk gak ketemu lagi dengannya.
'Huh.. siapin mental sya!' Asya mengambil air putih kemudian memberikan pada Adinda.
"Kalau nyatanya, Arsen tetep milih buat ngehajar Alex gimana, sya? Yang lu bilang beneran atau cuma gertakan?" Tanya Racksa.
Asya berfikir, "beneran. Kalau dia milih itu, gue bakal telepon mommy buat minta pindah sekolah."
Mereka langsung menatap serius Asya, "gue aja yang pindah kalau lu gak mau." Ujar Asya pada Azril.
"Sorry.." Asya tersenyum.
"Gapapa kokk, santai ajaa. Gue ke kamar dulu." Asya pergi ke kamarnya.
Asya mempersiapkan diri untuk berpisah dengan Arsen. Asya bilang ia akan pergi karena ia ingin melupakan Arsen, ia ingin melupakan pria kasar yang tidak sabaran. Pria emosian yang bertindak gegabah.
Ting tong...
Racksa membuka pintu.
"Arsen??"
"Asya manaa?" Arsen menerobos masuk, ia mencari Asya. Tidak melihat Asya di ruang keluarga dan dapur, Arsen menuju kamar Asya.
Mata Asya berkedip tidak percaya, ia melihat Arsen di depan matanya. Seketika Arsen memeluk Asya erat.
"Gue gak telat kan?? Ini belum tujuh menit." Asya diam saja, ia tidak membalas pelukan Arsen sama sekali.
Arsen melepas pelukan, "jangan pergii. Jangan pindahh, plisss." Arsen ngos-ngosan, keringatnya bercucuran.
"L-lu balik lagi? G-gak jadi ninju Alex?"
Arsen menggeleng, "gue takut kehilangan lu." Ia kembali memeluk Asya.
Racksa, Adinda dan Azril terkejut melihat mereka berdua. Seserius itu Arsen pada Asya? Jadi, selama ini omongan Arsen bukan bualan belaka?
"Spectacular!"
Arsen melepas pelukannya lagi, "gue gak telat kan??" Asya menggeleng.
"Lu gak jadi pindah kan??"
"Lu tau darimana?"
"Racksa, tadi gue telepon Racksa. Waktu lu dateng, dia diem gak matiin telepon. Gue denger jelas jawaban lu tadi. Lu gak bakal pindah kan? Ya kann?"
Asya menelan ludah melihat kekhawatiran Arsen. "Nggak." Arsen langsung menjatuhkan tubuhnya.
"Syukurlah, gue lega dengernya." Ia tersenyum manis sambil menatap Asya.
"Keluar kamar lu bedua! Inget, bukan muhrim!!!" Arsen kembali berdiri, ia mengajak Asya keluar dari kamar menuju ruang keluarga.
"Cieee yang di prioritaskann," ledek Azril.
"Aaaghhh!!" Asya langsung jongkok.
"Kenapaa?" Tanya Arsen.
"Gue maluuuuu!" Mereka menahan tawa.
"Di luar dugaaannn! Gue kira lu bakal tetep nemuin Alexx!"
"Gue nemuin Alex terus kehilangan lu? No no, gue gak sanggup."
Asya menatap heran Arsen. Tiba-tiba ia berdiri dan menuju dapur untuk minum.
"Jujur deh lu, sya. Lu sebenernya juga takut kan kehilangan Arsen?!" Goda Azril.
"Diam!" Mereka tertawa. Arsen menyusul Asya, ia mengambil gelas bekas minum Asya. Menuangkan air dan meminumnya.
Asya menatap heran Arsen, "apa?"
"ITU BEKAS GUEEE!"
"Bodo amattt, toh juga besok bakal sepiring berdua."
"Mimpi aja sono lu!" Arsen tertawa, Asya pergi menuju ruang keluarga.
"Lu kenapa larang Arsen tadii?" Tanya Racksa.
"Gapapa, takut muka ganteng Alex ancur." Arsen menatap sinis Asya.
"Karena gue kembaran lu dan gue tau isi hati lu, jadi gue beberkan. Lu takut kannn Arsen luka-luka. Oh ngga, lu takut Arsen beneran bunuh terus dia masuk penjara? Atauu mungkinn.. lu gak mau Arsen jadi kasar, iyakann?"
"Diam!" Mereka terkekeh.
Arsen menatap lekat Asya, "love you."
"Fak u," Arsen tertawa mendengarnya.
"Lu udah sampe mana tadi, sen? Bisa-bisanya dalam lima menit langsung sampe sini."
"Ngeprank malaikat pasti."
Arsen cengengesan. "Gue dah jauh pokoknya, tapi sejauh apapun gue jabanin yang penting gak kehilangan Asya."
"Lu serius ya ternyata," ujar Azril.
"Gue kaget sumpahh."
"Gue juga gak nyangka lu balik lagiii," Adinda kini tidak menangis lagi. Arsen tidak menjawab, ia terfokus pada Asya yang masih terlihat bingung.
Arsen mengambilkan burger yang tadi ia beli, membuka bungkusan nya kemudian memberikan pada Asya. Asya menerima itu dan langsung memakannya.
"Kenapa lu larang gue? Kenapa lu pengen pindah? Emosi gue udah di ujung tanduk tadi, udah dikit lagi sampe apartemennya Alex tapi lu malah..."
"Terus, lu nyesel balik lagi?" Tanya Asya sinis. Azril, Adinda dan Racksa menjadi penonton sekarang.
"Nggak, gak sama sek--"
"Gue larang lu karena gak mau lu jadi orang kasar, gak mau lu jadi orang yang emosian dan gak sabaran, gak mau lu jadi orang yang gegabah dalam bertindak. Gue juga gak mau lu masuk penjara gara-gara ninju Alex. Yaaa, gue tau mungkin lu gak bakal ninju dia sampe mati. Tapi bisa aja Alex tuntut lu dalam kasus penyerangan."
"Dan gue bilang pengen pindah karena gue gak mau jatuh cinta lebih dalam sama orang yang kasar dan emosian."
Arsen menganggukkan kepala, sedetik kemudian ia tersadar. "Berarti lu cinta sama gue?"
Asya pun ikut tersadar, "gue ngomong apa tadi??"
__ADS_1