
"Pagi ini aku mau kuliah, kamu mau kemana, mas?" tanya Asya sembari menyiapkan sarapan pagi. Arsen baru keluar kamar, ia merapikan bajunya lalu menatap Asya.
"Aku anter kamu dulu, habis itu nanti mau lihat tanah yang mau dibeli buat bangun rumah." Gerakan Asya terhenti, dirinya menatap Arsen serius. "Mau dibangun sekarang?"
"Mau cari tanah dulu, ntar makin di tunda makin mahal, yang ada uangnya habis buat beli tanah doang."
"Kalau gitu aku ikut kamu dulu dehh yaa, pengen tau jugaa dimanaa. Tapi nanti kalau emang udah setuju beli, mau bikin rumahnya kapan?"
"Kalau ada duit langsung buat juga bisa. Lagian rumah kita tu agak ribet, jadi agak lama juga waktu pembuatannya."
"Yaudah kalau gitu aku manut aja, terserah gimana kamu," Arsen tersenyum. Ia mendekati Asya lalu mengecup keningnya. Asya membalas kecupan di bibir Arsen.
Arsen yang merasa terpancing senyum-senyum menggoda lalu menyudutkan Asya dan memulai ciumannya. Tepat disaat mendengar suara notifikasi ponsel, Arsen berhenti.
Asya tersenyum kemudian mendorong Arsen dan mengambil ponselnya. "Short message from papa, kamu disuruh ketemu papa nanti siang."
"Ngapain, sayang?"
"Nggak tauu. Mungkin ada yang mau dibicarakan?"
"Bisa jadi tentang kerjaan sih ini. Kamu gak usah ikut yaa? Nanti bosen kamu dengerinnya." Asya mengangguk setuju.
"Ayo sarapan dulu, abistu anter kamu kuliah baru aku liat rumah," kata Arsen duduk di depan Asya. Asya membantu meletakkan nasi serta lauknya di piring Arsen. "Aku mau ikut liat tanah juga, ayang."
"Yaudah oke, sebentar aja ya biar kamu gak telat kuliahnya." Asya mengangguk. "Tapi tiba-tiba aku pengen lagii."
Arsen keheranan. "Pengen apa?" Asya mengode dengan memanyunkan sedikit bibirnya. "Gak usah mancing, ntar schedulenya batal semua."
"Ih tapi pengeennn." Arsen langsung berdiri, ia menghampiri Asya dan langsung menyambarnya. Entah mengapa yang kali ini lebih hot dari sebelumnya.
Beberapa menit kemudian, Arsen melepas dan menatap Asya. Arsen menatap mata Asya dan bibirnya secara bergantian. "Manis banget emang. Masih mau kamu, sayang?"
"Kalau aku bilang iya kayanya bisa kebablasan ya?"
"Maybe. Jadi mau gimana? Apa mau langsung di bawa ke kamarr?" Asya merapikan kancing baju Arsen sambil tersenyum. "Kamu udah rapi, nanti lagi deh kapan-kapan."
"Nanti malam dong yaa?"
"Nggak bisaa. Kan kemarin aku dah bilang sama kamu, mau ke rumah Ara nanti malam. Aku tau kok kamu harus lebih dipentingkan, tapi mereka juga penting. Mengerti yaaa? Gakpapa kan?"
Arsen tersenyum paksa dan mengangguk. "Hehehe," Asya mengecup pipi kanan kiri dan juga bibir Arsen. "Love you, sayang."
...◕◕◕ ( ͡°з ͡°) ◕◕◕...
Kini Asya dan Arsen baru saja tiba di kampus.
Masalah tanah tadi masih belum pasti. Asya kurang srek dengan lokasi tanahnya, jadi mereka belum membeli tanah itu. Arsen hanya mengikuti kemauan Asya, karena kenyamanan Asya lebih Arsen utamakan dari apapun.
"Kamu jangan pernah lupa ya, kalau ada apa-apa bilang sama aku biar aku tebas kepalanya."
Asya tertawa, "Iyaa iyaa. Kalau ada apa-apa aku bilang ke kamu. Tapi kamu jelas tau dong ya, tanpa bilang kamu juga aku bisa sendirii?"
"Iyaa tauuu. Kan lebih afdhol lagi kalau aku yang notabenenya suamimu ini ngehantam pengganggu itu."
"Ganass. Btw, kamu ada kelaskan? Nanti mam di rumah dulu ya baru ketemu papa, atau nggak nanti sekalian bawa makan siang aja ya buat papa mertua."
"Up to you, sayangkuu. Eh kalau hari ini kamu gak jadi pergi aku gas ya?" Asya berhenti, Arsen juga berhenti. Asya mendekati Arsen lalu berbisik, "Gas tanpa rem."
"Aduhh ahh, sekarang aja gimanaa?" Asya malah tertawa. "Dahlah aku tahan aja lagi, kamu suka php. Nanti kayak kemarinn," dumel Arsen manja.
"Kali ini aku serius."
"Bohong dosa lohh!"
"Iyaaa. Lagian nolak suami juga dosa," jawab Asya santai. "Alhamdulillah istriku tersadar ya Allah. Jadi gak boleh nolak suami lagi kan?"
"Yaaaa jangan ngelunjak juga dongg yaaa!" Arsen tertawa melihatnya. "Semoga gak jadii ya, sayang."
"No no, itu udah pasti jadi."
"Huu dasar php."
"Eh, Asya? Lama gak jumpaa?" Asya dan Arsen serentak menoleh ke samping. "Oh? Kak Stevan?" Arsen menghela nafas panjang, kesal karena harus diganggu orang lain.
"Mau perlu apa?" tanya Arsen kurang santai.
"Pengen ajak Asya makan siang bareng, bolehkan?"
"Boleh. Tapi besoknya lu mati gue bunuh." Asya tertawa sambil mengelus tangan Arsen. "Sabar toh, pak, santaii duluuu."
"Ya lagian ngadi-ngadi banget ngajak makan bini orang," kata Arsen ngedumel. "Oh jadi lu berdua suami istri ya? Tapi kok keliatan gak cocok."
"Berarti mata lu yang katarak. Udah jangan ganggu ya, kak. Bukan apa-apa, gue takutnya lu mati beneran. Laki gue ini kalau marah ngeri banget dia."
Stevan malah tertawa. "Gak takut gue, paling ngadu." Emosi Arsen sedikit terpancing, ia maju satu langkah, "Mau adu jotos dimana bro? Gue jabanin dah."
"Lapangan basket, jam sebelas!"
Asya menarik tangan Arsen lalu menggeleng, "Kamu harus ketemu papa, Sen." Arsen menatap Asya cukup lama. "Jadi mau kamu dia aku diemin aja gitu?" Asya mengangguk.
__ADS_1
"Forgot him."
"I can't. Dia perlu dikasih beberapa tinjuan." Asya memegang erat tangan Arsen sambil menatapnya sinis.
"Sadar. Tanggepin dia gak ada gunanya, gak ada untungnya, jadi mending sekarang kita aja yang pergi!" Asya langsung menarik tangan Arsen tanpa memperdulikan respon Arsen.
Arsen menghela nafas di sepanjang jalan. "Mau kemanaaa?" rengek Arsen sedikit manja. Tarikan Asya terhenti, mereka berdua di halaman belakang kampus. "Bisa gak, lebih dikontrol lagi emosinya?"
"Coba kamu diposisi aku, istri aku diajak makan cowok lain dan udah keliatan cowok itu suka sama istriku. Gimana? Mana bisa aku diem aja, sayang."
"Iyaa iyaa, tapi udahlah lupain. Sadar, sayang. Gak ada untungnya kamu temui dia nanti di lapangan basket, mending kamu ketemu papa. Lagipula kamu juga taukan kalau aku gak suka dia."
"Yaudah iyaaa. Gak bakal aku temuin dia," jawab Arsen mengalah sambil mepet memeluk Asya. Asya malah mencubit perutnya keras hingga Arsen kembali menjauh. "Kita ditempat sepi, nanti dikira mesum!"
"Tapi kita udah sah, wle. Mesum juga gak masalahkan? Ehemm." Asya tertawa lalu mendorong Arsen lagi. "Di mohon tau tempat yaa, pak!"
"Jadi pengen bawa pulang kamu sekarang deh."
...◕◕◕ ( ͡°з ͡°) ◕◕◕...
"Assalamu'alaikum, Pa. Arsen datang bawa makan siang buatan mantu papa," kata Arsen santai memasuki ruangan. Arsen yang tadinya fokus membawa makanan kini menoleh.
"Eh, ada bapak mertua juga."
"Wa'alaikumsalam. Itu buatan Asya? Bawa banyak gak kamu?" tanya Aska mengambil alih tempat bekal Arsen. "Gak banyak karena kiranya cuma ada papa. Papa gak bilang ada bapak mertua," dumel Arsen.
"Lupa. Lagian datangnya tanpa konfirmasi kaya setan," ujar Pak Andre sedikit kesal. Aska yang sedang mencicipi makanan menikmati setiap kunyahannya. "Anak sama maknye sama aja, jarang masak tapi sekalinya masak enak terus."
"Bakat terpendam."
Andre yang penasaran pun ikut mencicipi masakan buatan Asya. Ia menganggguk-anggukkan kepala, "Enakk. Pantesan Arsen rada gemukan gitu, tiap hari makannya enak terusss. Ini Asya emang jago diajarin bu Zia?"
Aska menggeleng. "Otodidak kayanya, saya jarang liat mereka berdua masak bareng. Tapi gak tau juga deng, mungkin pas saya pergi," kata Aska masih makan.
"Asya kalau masuk master chef Indonesia pasti menang." Aska menggeleng lagi, "Yang iyanya pasti ditendang."
Mereka tertawa. "Di mana-mana bapak muji anaknya, bapak satu ini memang bedaa. Btw, papa ngapain suruh Arsen kesini?"
Papa Arsen berhenti makan sejenak. "Ada undangan acara perusahaan di tempat client, kamu datang ya wakilin papa? Om Mike di luar negeri, papa juga mau pergi ke tempat lain nanti. Bisakan?"
Arsen terdiam.
"Ajak Asya kalau gak mau sendiri, Sen," saran Aska. Arsen menggelengkan kepala. "Asya kok diajak acara formal, mana mau, Daddy."
"Ya masa dia gak mau nemenin suaminya? Daddy aja deh yang suruh dia ikut kamu," ujar Aska memaksa. Belum sempat Arsen menjawab, Aska sudah menghubungi Asya.
^^^"Kek gembel kamu, Sya!"^^^
📞 "Bodoamat, Daddy. Asya ngantuk. Kenapa vidcall? Tumben?" Asya berusaha memejamkan matanya lagi.
^^^"Melek, melek! Nanti malam temenin Arsen kamu ya, ada acara perusahaan diaaa."^^^
📞 "Mwaless. Penak turuu. Lagian Arsen udah chat barusan, gak usah gakpapa sayang, katanya gitu."
Aska menatap kesal Arsen. Arsen cengengesan santai. "Sendiri juga gak masalah, Daddy."
^^^"Ya ntar kalau yang lain pada bawa istri, terus kamu sendirian aja gitu? Gak masalah sih. Tapi Asya yakin biarin cowok ganteng ini pergi sendiri? Gak takut diculik?"^^^
📞 "Nggakk. Nanti yang culik Arsen, Asya lempar ke kolam biawak. Asya juga nanti malam mau keluar tempat Ara makanya gak bisa ikut Arsen. Udah ya, daddy, Asya ngantuk. Byeee, assalamu'alaikum."
"A— yailah udah dimatiin. Emang kampret anak satu ini," dumel Aska kesal. Arsen dan Andre tertawa melihatnya. "Sendiri juga gakpapa, Daddy. Arsen mah santai."
"Karepmu wes. Oiyaa, mumpung kamu di sini juga daddy mau sekalian bilang. Kemarin bodyguard laporan ke daddy, katanya ada cowok yang suka banget ikutin kalian berdua."
"Bukan bodyguard Arsen?"
"Bukan, Sen. Mereka juga gak tau siapa karena suka ilang timbul gitu. Daddy kasih tau biar kamu jaga-jaga aja. Jangan sampe kenapa-kenapa lagi, udah cukup deh selama ini duit kita abis ke rumah sakit doang."
Arsen tersenyum tipis. "Arsen usahain gak bakal terjadi lagi untuk kesekian kalinya."
...◕◕◕ (^ω^) ◕◕◕...
Arsen benar-benar pergi sendirian malam ini. Istrinya tadi masih sibuk memilih baju saat Arsen tinggal.
Saat ini, Arsen sedang berjalan masuk. Dirinya banyak disapa beberapa tamu undangan yang lain. Arsen hanya membalas dengan senyuman sambil memegang segelas wine yang diberikan pelayan.
"Gile aje dikasih wine. Pengen minum, tapi takutnya ntar sholat aing di banned sama Allah." Pada akhirnya Arsen tidak jadi minum, ia meletakkannya di meja yang lain lalu mengambil donat dan memakannya.
Macem bujangan suami orang satu ini.
Di saat tengah menikmati donat, tiba-tiba datang pria dan gadis bersamaan. Yang Arsen ketahui, pria itu rekan kerja papanya dan merupakan penyelenggara acaranya. Tapi yang di sebelah, Arsen tidak tahu.
"Long time no see, anak kecil," sapanya ramah. Pria itu memang rekan papanya yang cukup dekat, mereka sudah menjalin kerjasama sejak Arsen masih kecil. Arsen tertawa kecil mendengar ucapan pria itu. "Udah gede, pak, gak kecil lagi inii."
"Tapi masih kebayang mungilnya, Sen. Oh iya kenalin, ini anak bapak. Sepantaran sama kamu, dia kuliah di LA. Ini pulang demi party katanya."
Arsen tersenyum tipis. Tiba-tiba gadis itu menyodorkan tangan, "Aku Clara." Arsen meletakkan tangannya di dada, ia membungkuk sedikit lalu kembali tegak, "Saya Arsen, anaknya Andre."
"Ohhh. Ini, Paa??" Rekan kerja papanya Arsen mengangguk dengan senyuman. "Kamu ganteng."
__ADS_1
"I know, thank you."
"Papa di panggil temen, kalian ngobrol aja dulu yaaa." Sang anak mengangguk. Setelah melihat papanya menjauh, ia sedikit mendekati Arsen.
"Kamu kok sendirian? Bukannya kemarin udah nikah? Istrinya kemanaa? Udah cerai? Atau dia terlalu jelek gitu makanya kamu gak mau bawa ke party papa?"
Arsen membalas dengan senyuman miring. "Saya belum cerai. Istri saya gak ikut karena lagi ada urusan. Lagian saya sudah terbiasa sendiri."
"Hahaha. Bilang aja malu, Arsen. Disini banyak pasangan dan nanti ada sesi dansa, aku bisa gantiin dia kalau kamu mau, nanti kita dansa berdua."
"Nggak dulu, makasih. Saya menjaga perasaan istri saya, dan maaf sebelumnya, saya sama sekali tidak tertarik dengan kamu karena istri saya jauh lebih cantik dari kamu."
"Aku gak yakin sihh."
Arsen diam. Ia sedikit haus karena makan donat tadi, tanpa disengaja Arsen meminum wine yang ada di meja. Fyi, Arsen tidak terlalu kuat minum alkohol. "Ayo sama aku aja, Arsen, nanti kita dansa bareng."
Melihat wanita itu menempel padanya, Arsen langsung mendorong pelan. "Saya gak mau merusak acara party papamu, Clara, jadi hentikan."
"Cihh. Kamu ini sok ju—"
"Sayangg!!"
Seketika semua pandangan terfokus pada sumber suara. Asya tiba-tiba muncul di sana mengenakan baju yang benar-benar seksi. Leher, pundak, dan sedikit belahannya terlihat.
Arsen terkejut, tapi dengan cepatnya tersadar dan bergegas menghampiri Asya. Ia melepas jas lalu memakaikannya pada Asya. "Kenapa tiba-tiba datang? Kenapa pake baju se-seksi ini? Mau godain cowok lain?" tanya Arsen berbisik dengan nada kesal.
"Ngawurr. Aku kesini tu ya biar kamu gak di culik, aku batalin ke rumah Ara demi kamu inii lhohh. Aku tu takut juga dengar omongan papa tadi, kan serem kalau kamu beneran di culik. Apalagi di culik jandaa," Arsen menggelengkan kepalanya.
"Terus ngapain bajunya kurang bahan begituu? Kamu kira bagus, Ay? Ya emang bagus sebenernya, tapi.... ah kamu mah. Aku gak suka punya aku dibagi-bagiii!"
"Ahahahaha, gemes banget suami akuuu."
"Ohh... Jadi ini istri kamu, Arsen?" Arsen berbalik lalu mengangguk. "Iya, dia istri saya. Cantikkan? Memang iya, dia lebih cantik dari kamu." Gadis itu terdiam, begitu juga dengan Asya.
"Itu anaknya pak Aska, kan? She's so beautiful!! Tapi sayang sekali, dia istrinya Arsen. Saya irii!" gosip para tamu lainnya. "Ohh wahh, dua orang kaya bersatu. Anaknya akan mandi duit setiap hari, sangat nikmat hidupnya! Dan mereka juga perpaduan yang pas, pria tampan dan wanita yang cantik!"
"Setelah saya perhatikan, wanita itu sangat-sangat sexy ya. Proporsi tubuhnya yang ideal terlihat begitu sempurna...." Belum selesai Arsen mendengarkan ocehan orang-orang, dirinya sudah gerah sendiri.
Dengan tingkat keposesifan yang tinggi, Arsen mendekat. Ia langsung mengarah ke leher Asya dan membuat kissmarkk tanpa persetujuan Asya.
"A-Arsen..."
"You're only mine, Asya. Tutup rapat bahumu dan tunggu aku di sini." Arsen pergi menghampiri si pemilik party, ia berbincang sedikit lalu pergi lagi.
"Eh, Arsen? Kamu mau pulang?? Partynya kan masih lamaa," kata gadis tadi membujuk.
"Saya gak bisa lama-lama, saya harus pulang sekarang dan menghukum istri saya yang super duper nakal ini." Asya memanyunkan bibirnya, "Aku capek dandan, tapi kamunya malah mau cepet pulang. Gimana dahh?"
"Wahhh. Salah siapa bajunya kebuka banget begini? Gak ada penolakan, ayo kita pulang. Aku mau hukum kamu," bisik Arsen di bagian akhir. Asya yang mengerti maksud hukumannya jadi sedikit was-was.
"Saya pulang dulu, Clara. Terimakasih partynya."
Tidak ada protes, Asya mengikuti tarikan Arsen. Arsen masuk ke mobil Asya dan menyuruh supir untuk menjalankan mobilnya. Mobil Arsen sendiri akan dijemput supir yang lain nanti.
Selama perjalanan hanya ada keheningan di mobil. Asya berusaha memberanikan diri untuk bersuara.
"Em... Sa—" Tanpa aba-aba Arsen mencium bibir Asya dengan ganas. Asya sendiri diam sambil sedikit mengikuti. Ketika di lepas, Asya yang ngos-ngosan menatap intens mata Arsen. "Kamu ini..."
"Nggak denger tadi apa kata mereka? Semua pria normal pasti bakal turn on liat penampilan kamu sekarang. Kenapa harus keluar se-seksi ini? Mau aku larang pergi-pergi kamu?"
"Aaa jangan gituu. Aku pake ini tadi karena gak ada baju yang lain... hehehe."
"Baju selemari full di bilang gak ada. Di jual aja besok, biar gak ada baju dan gak perlu ke luar." Asya malah cengengesan dan membuka jas Arsen.
Refleks, Arsen mengalihkan pandangannya saat matanya tertuju ke belahan Asya. Wah, Arsen benar-benar sulit menahan nafsunya sekarang.
"Pak..."
"Iya, mas Arsen? Kenapa?"
"Cari hotel sekarang juga, hotel terdekat." Asya langsung menatap Arsen yang sedang diam memejamkan matanya. "Sen?"
"Kamu yang mancing duluan, dan aku udah ga kuat lagi sekarang." Arsen kembali mencium bibir istrinya. Akibat terlalu hanyut dalam suasana, tanpa disadari kini Asya sudah berada di pangkuan Arsen.
"Ar—" Arsen kembali menciumnya karena sadar Asya akan protes. Karena sedikit kesal, Arsen mengigit bibir Asya. Asya sekuat tenaga mendorong dada Arsen agar dirinya menjauh.
Begitu terlepas, Asya memegangi bibirnya yang sedikit luka. "Ganas banget sih!?"
"Belum itu. Tunggu sampe di hotel, baru kamu tau arti ganas yang sesungguhnya." Arsen menarik istrinya dan mengarahkan pandangan ke leher Asya.
"No! Arsen, tau tempat dong. Kita masih di mobil, ada pak itu juga..." kata Asya sedikit berbisik. "I don't care. I want to eat you right now!"
"Ck, kanibal!"
"Siap-siap. Hukuman mu beronde-ronde tanpa toleransi kali ini. Dan yang pasti, kamu gak bisa kabur dari aku."
"Kamu kea pemangsaaa!!"
"Iya emang, dan kamu mangsaku."
__ADS_1