Barbar Generation

Barbar Generation
What happened?


__ADS_3

Makasih banyak untuk kalian yang masih stay disiniii--♡


Makasih syudaa jadi semangat hidup saya, wkwkwkk.


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


"Pin, gue laper."


"Itu ada roti boy di belakang."


Alex mengambil kantong kreseknya.


"Woilah anjimmm, cuma setengah?!" Tanya Alex kesal.


"Itu juga gue makannya tadi sore," Alvin cengengesan.


"Anak ngendors."


Alex mencampakkannya ke belakang lagi.


"Lu laper banget emang?"


Alex mengangguk.


Alvin memindahkan tangannya ke perut Alex.


"Yang sabar ya, nak. Papa cari makan dulu."


"NAJIS GOBLOKKK. Gua tampar juga ntar lu," Alvin terkekeh.


"Tampar menampar selalu mengingatkan gue sama kejadian tadi. Sumpah ye, Arsen macho bangett."


"Satu fakta yang gue bener-bener tau tentang Arsen, dia itu gak pernah main-main sama ucapannya."


"Example?"


"Di SMA kan gue kebanyakan slek sama dia, beberapa kali berantem cuma karena masalah sepele gituu. Teruss, Arsen tu pernah ngancem gue, kalau sampe gue ngeganggu pacar dia (yang sekarang mantannya) dia bakal matahin tulang gue. Dan itu beneran terjadii!"


"Tulang lu di patahin benerannn?!"


Alex mengangguk.


"Tulang tangan, ini tu udah pernah patah tapi banyak yang gak sadar kan?"


"Gue baru tau njirrrr."


"Udah lama jugaaa, tangan gue di patahin sama Arsen sampe tulangnya itu nonjol. Sumpah si, sakitnya tuh sampe ubun-ubun."


"Lu betingkah cari gara-gara. Cewek yang dipacarin Arsen gimanaa?"


"Di putusin, wakakakaa."


"Lah anjrr?"


"Iyaa, diputusin. Arsen kan bosenan orangnya, udah gitu ni cewek juga mengkeknya setengah mati. Makanya di lepas sama Arsen." Alvin mengangguk-angguk.


"Arsen gampang bosenan??"


"Bangettt. Tapi itu dulu, waktu otaknya belum di riset Asya."


"Emang sekarang kagak kah??"


"Begoo banget Alpiin, sumpah dah, begooo. Kalau Arsen bosen ya dari dulu dia jauhi Asyaa, berarti kan kagak bosenn. Sangking gak bosennya si Arsen sekarang, tiap hari dia main sama Asya."


"True sih, kok bisa berubah gitu ya?"


"Semua memang bisa berubah ketika lu nemuin orang yang cocok atau orang yang tepat di mata dan hati lu."


"Anjaaiii, quotes from Alex dua ribu dua puluh satu."


Alex tertawa.


"Eh, lu rindu gak sih sama Adinda?"


"Rindu sama orang yang gak punya hati gitu? Mikirnya aja ogah gue. Malah gue bersyukur, tikus berlipstik menghilang dari hidup gue."


"Hahaha, berlipstik gatuuu."


☰ ☱ ☲ ☳☴ ☵ ☶ ☷


Pagi telah tiba.


Jika kemarin Asya menginap di rumah Arsen, kini Arsen yang menginap di rumah Asya. Eh, dirumah Aska.


Mereka tiba tengah malam kemarin, jadi Aska menyuruh Arsen untuk menginap. Arsen tidur di kamar tamu, tapi kamar tamu spesial untuknya.


Saat ini, mereka sedang sarapan bersama. Seperti biasa, penuh keheningan. Tak banyak yang bicara, termasuk Asya.


"YUHUU, ASSALAMU'ALAIKUM!"


Mereka menoleh, "ck, anak gaib datang."


Asya, Azril, Arsen dan Zia tertawa mendengar perkataan Aska. Yang datang itu Alvin, dia tidak sendiri, Alex bersama dengannya.


"Lu bedua sering banget beduaan, abis jadian?"


"Abis berplok-plok ria juga."


"HEHH!"


Alvin tertawa kecil.


"Om, Om Aska kan baik, numpang sarapan yaa."


"Satu butir beras sejuta. Gimana?"


"Deal," Alvin dan Alex langsung duduk dan mengambil sendiri makanannya.


"Alex sayang, kamu mau makan apa?"


"NAJIS, ALLAHU AKBARR!" Alvin terkekeh geli, benar-benar ngakak melihat ekspresi mereka.


"Becanda suerrr, Alvin masih normal."


"Gak gak, keknya kamu perlu di bawa ke psikiater." Kata Aska was-was.


"Arsen sih yakin, Alvin ketularan gilanya Alex."


"KEBALEK BLOONN, yang ada Alex ketularan gilanya Apin." Protes Azril.


"Gue gak gila njem. Astaghfirullahalazim," mereka gantian tertawa melihat muka melasnya Alvin.


"Lu bedua darimana?"


"Keliling, tante. Dari tadi malam gak ada tidur gara-gara ngerjain tugas kuliah," jawab Alvin.


"Segitunya?"


"Emang sekalian sosial eksperimen sih, nyari setan."


"Goblokk emangg, betulan goblokk."


Alvin dan Alex cengengesan.


Ting tong.


"Siapa lagi itu?" Tanya Aska.


Azril yang sepertinya paham itu siapa langsung berjalan menuju pintu. Kalian tau siapa?


Yes! Itu Naina, bucinnya Azril.


"Naik apa??"


"Dianterin abang."


Azril berohria, "ayok masuk." Naina pun jalan berdampingan dengan Azril.


"Seperti melihat mereka jalan di altar."


"KOK ALTAR ANJEMMM?!"


"Huh! Pin, cukup. Jangan sampe gue lempar pala lu," Alvin senyum meledek.


"Assalamu'alaikum, om, tante."


"Wa'alaikumsalam, Nainaa. Gimana kabarnya?" Tanya Zia sambil tersenyum.


"Alhamdulillah baik, tante. Ini Naina bawa hasil karya Naina untuk tante," Naina memberikan paper bag pada Zia.


Zia menerimanya dan langsung membuka disitu.


"Wahhh, kamu beneran bikin gaun ini?"


Naina mengangguk, "awalnya Nai bingung mau kasih apa. Terus teringat kalau tante kan orang penting, pasti butuh gaun. Makanya Nai buatin gaun," jelas Naina.


"Ini bagus bangettt, tante sukaa! Makasih yaa," Naina membalas dengan senyuman.


"Cuma tante doang? Om nggak?" Tanya Aska berharap.


"Gue juga nggakk?" Asya menyahuti.


"Om Aska soon deh, kalau Asya kagak. Bahannya gak mau," jawab Naina.


"Kamprett!"


Naina cengengesan.


Ting tong.


"Siapa lagi, astaghfirullah!"


"Racksaa?" Tanya Asya heran.


"Dia kan demen nyelonong, bukan Racksa keknya."


Ting tong.


"Biii, bukain pintu dong," pinta Zia.


Art-nya pun membukakan.


Tamu langsung masuk setelah mengucap terima kasih. "Yahahaha, assalamu'alaikum gaissssss."


"ICAL? DINOO?" Haikal merentangkan tangannya, Asya pun berlari dan memeluk Dino.


"Yang rentangkan tangan siapa, yang dipeluk siapa." Cibir Aska, mereka menggelengkan kepala melihat Asya.


"Dino apa kabarr? Ih, kok makin gemoy sii? Pasti kebanyakan makan samyang." Dino malah tertawa mendengar ocehan temannya.


"Syaa? Gue gimanaa?? Lu gak meluk gue???"


"Lu siapa?"


"ANJEEEMMM, NUSUK SAMPE USUS BUNTU."


Tawa meledek memenuhi ruangan, Haikal mengelus dadanya sambil beristighfar.


"Lu beneran gak mo peluk gue?" Tanya Haikal lagi.


"Gak mauuu, gue cewek, gue bisa ngerti perasaannya Ara."


"Lah ini? Perasaannya Keiji?" Alvin bingung.


"Emangnya gue siapanya Keiji?"


Pertanyaan Dino makin membuat bingung.


"Bukannya.. lu?"


Dino menggeleng.


"Udah ah, duduk sini. Kalian berdua pasti capek. Mau tante siapin makanan apa?" Tawar Zia.

__ADS_1


"Bakso ada gak, tante? Haikal kangen bakso Malang."


"Alahh siaaa, di London pasti gak ada? Makanyaa, gak usah betingkah ke luar negeriii!" Ledek Azril.


"Bacot lu! Gue tabok ntar,“ Azril terkekeh.


"Racksa manaa?" Tanya Dino.


"Racksa di rumahnya, jadi abang tampan yang menjaga adiknya."


"Lu bedua gak mau punya adek?" Alvin menatap Asya dan Azril dengan tatapan sok polosnya itu.


"Gak!"


Twins kompak.


"Ih kenapaaa? Mau aja dah, biar ada yang ngadain pesta. Gue bisa makan gratis," kata Alvin.


"Otak gratisan!! Tapi sama si, gue juga."


"BUANG DINO BUANGG!"


Dino cengengesan.


"Btw, kenapa pulang?"


"Ya suka-suka gue lah, gue yang pulang, pake duit bapak gue, kok lu yang repot?!" Jawab Haikal ngegas.


"Lu pulang jangan buat gue naik pitam ya anjj!"


Haikal auto senyuman menggoda.


"Gue sama Dino pulang karena pengen, udah gitu aja."


"Kenapa gak ngajak Ara sihh?" Tanya Asya sinis.


"Ara gak mau, dia masih belajar matematika sama Jerome Polin."


"Sa bodo teuing!!"


"Wakakakak."


"Ara juga balik kok, tiketnya udah gue beliin kemaren. Ntar kita jemput barengan aja di bandara, dia sampe nanti karena berangkatnya malam."


"Oh. Oke, deal!"


"Terus Shakaa?"


"Shaka gak bisa balik, lockdown."


"Ngaco njem!!"


Dino malah nyengir.


"Udah diskusinya ya, kalian sarapan dulu nih."


Zia memberikan nasi goreng spesial. Bukan cuma Haikal dan Dino, tapi juga semua. Terkecuali Asya, Azril, Arsen dan Aska. Mereka kan udah makan.


"Makasih banyak, tanteee." Zia mengangguk sambil tersenyum.


Di tengah menikmati makanan, Alvin dan Aska saling tatap. Ke arah Naina pun juga sesekali.


"Om Aska mau kerja yaa?"


Alvin basa-basi dulu sebelum mulai.


"Iyaa."


"Kadang bingung, Arsen sama Om Aska tu ngapain kerja? Kan udah banyak duit."


"Karena gabut aja sih."


Mereka berdua mendadak kompak.


"Mertua sama mantu sama ajaa, nyesel gue nanya."


Aska tersenyum smirk lalu mengangguk sekali.


"Ehm, Zrill, lu kenapa sih mau sama Naina? Rasa gue dia jauh banget di bawah lu. Kek gak banget gitu," kata Alvin tiba-tiba.


Azril yang tadinya lagi mengupas apel langsung berhenti dan menatap tajam Alvin.


"Maksud lu apa ngomong gitu? Mau gue tusuk perut lu pake pisau ini?"


"Loh, kenapa sih lu? Gue kan ngomong sesuai FAKTA."


Seketika Azril berdiri dari duduknya.


Naina di samping menahan tangan Azril dan menyuruhnya duduk kembali.


"Jangan emosi. Yang dibilang Alvin bener tau, kita beda jauh banget. Ibarat langit dan bumi," jawab Naina menunduk.


"Ngomong apa sih?"


"Kita beda, Zril. Kamu dari keluarga kaya banget, sedangkan aku? Orang yang biasa ajaa. Kita gak cocok," kata Naina lagi. Mereka yang di sana hanya menonton.


"Aku gak perduli mau kamu kaya atau ngga, yang penting kamu Naina yang aku kenal. Kamu pinter, itu udah cukup buat didik anak kita kelak. Ntarr, kita juga bisa kaya bareng-bareng. Jadi udah ya, gak usah ngomong yang nggak-nggak."


"Kedepannya anak ku butuh pendidikan, bukan uang. Dan pendidikan itu pasti berawal dari ibunya. Kalau aku sih, lebih butuh ibunya untuk semangat hidup."


Naina mengsalting.


"Puft.. jauh banget otak lu mikir sampe mikir anaakkk," ledek Alvin.


"Lu diem deh, gara-gara lu ini bermula. Mending lu pilih sekarang, kanan atau kiri?"


"Bawah."


Azril berancang-ancang.


Alvin yang sadar langsung menutupi masa depannya.


"Jangan gitu bangkeee, gimana gue bikin anak sama Naina nanti."


Alvin terkekeh.


"Lu pasti gak tau kan, bakal direstuin apa nggak sama Om Aska?"


Azril langsung menatap Aska.


"Kalau sayang buktiin, jangan ngang ngong ngang ngong aja."


"OKE! Nai, besok kita ke KUA."


"Gak boleh langkahin gue woi!" Protes Asya kesal.


"Bodo amat, besok w ke KUA."


"HWAHWAHWAAA, HALU!"


"Asuu."


Mereka tertawa ngakak.


"Itu tadi cuma ngetes aja, lu serius nggak sama Naina. Udah di setting tadii, gue juga di bayar jadi aktor. Yakan, om?" Aska menganggukkan kepala.


"Daddy kira kamu pilih-pilih nyari bini, nyari yang hott gitu."


"Se-nakal-nakalnya pria pasti nyari wanita yang baik buat di jadiin istrinya."


"Azril mah gak perlu hot in publik, hot in private lebih beuhhh rasanya."


"HEH, PA MAKSUD?!"


Azril cengengesan.


"Kalay daddy beneran gak ngizinin gimana?" Tanya Aska menantang.


"Bujuk sampe ngizinin."


"Kalau tetep aja?"


"Azril iket daddy di pohon toge terus ngancem biar ngizinin. It is very easy," jawab Azril.


"Pe'a!!"


"Daddy tanya serius, Azril," kata Aska dengan muka seriusnya. Agak mendebarkan.


"Anu, Azril bakal terus minta daddy buat kasih restu sih. Kalau nggak yaaa, u know lah daddyy. Apa pun bakal Azril lakuin demi restu."


Aska tersenyum tipis.


"Congrats, Asz Group for u."


☰ ☱ ☲ ☳☴ ☵ ☶ ☷


Beberapa jam setelahnya, mereka sudah tiba di bandara. Mereka sudah turun dari mobil terkecuali Asya dan Arsen.


"Ayok turun," ajak Arsen.


Asya diam dan terpaku.


"Sayang?"


"Eum, sebenarnya, aku trauma bandara."


Arsen menarik tangan Asya dan menggenggamnya.


"Jangan lepasin tangan aku, aku bakal jagain kamu. Kejadian kemaren-kemaren, gak bakal terjadi lagi. Tenang yaa?"


Asya mengangguk pelan.


Arsen mendekat lalu memeluk Asya.


"Jangan takut, aku bakal selalu ada buat kamu."


Tok tok tok!!


"Keluar njemmm, lu bedua pain??"


Arsen melepas pelukan lalu membuka kaca.


"Besibuk banget jadi orang."


"Dih ngamuk. Buruan turun," titah Haikal. Arsen tidak menjawabnya dan langsung menutup kembali kaca mobil.


"Berani keluar nggak? Kalau nggak, kita gak usah keluar."


"Keluarr, pengen jemput Araa dari sana."


"Yaudah ayok. Ucap basmalah dulu ya, cantik." Kata Arsen sambil mengelus lembut kepalanya.


"Bismillahirrahmanirrahim. Ayok keluar," Arsen tersenyum. Asya pun keluar berbarengan dengan Arsen.


"Kenapa lama banget sih?" Tanya Alvin.


"Ck, bandara!!"


Mereka kebingungan.


"One year ago."


"AAAAAA IYAA! I'm so sorry, Asya."


Alvin memelas.


"It's okayy."


"Lu pasti trauma banget ya? Tenang tenang, ada Din—"


Arsen menghempas tangan Dino, "ada gue tunangannya." Arsen langsung menggenggam erat tangan Asya.


"Wih ngeri ngeriii."

__ADS_1


Arsen tersenyum smirk.


"Udah ah, ayok!"


Mereka pun jalan bersama memasuki bandara. Baru saja masuk, mereka sudah melihat Ara sedang menggeret kopernya.


"WOI!"


Ara menoleh.


"Lohh? Dijemput ramee-rameee??" Haikal membalas dengan senyuman lalu merentangkan kedua tangannya.


Masih sambil menggeret koper, Ara berlari menghampiri kumpulan mereka.


"Aaaa, rinduuu!"


"Eeungg, rindu jugaaa," jawab Asya sembari mengelus punggung Ara.


Yeaahh.


Ara memeluk Asya dan Naina, bukan Haikal.


"Ra, gue udah rentangkan tangan anjj. Kenapa gak peluk guee?!" Tanya Haikal kesal.


"Lu bau jengkol, males."


Haikal menatap sinis Ara, Ara malah tertawa.


"Sad banget si Haikal, dua kali rentangkan tangan yang di peluk orang lain." Ledek Alvin puas.


"Diem lu anjj!"


Mereka tertawa bersama.


"Lu capekk?"


Ara menggelengkan kepala, "gak capek sih liat lu pada."


"Lebih tepatnya karena liat gue," sahut Haikal.


"Dia pulang dari London jadi pede banget njirrrr! Makan apa sih dia?"


"Batu London keknya."


Mereka terkekeh lagi.


"Ah, anjrrt bengekk!!"


"Gue tu laper njemm, makan yuk!" Ajak Ara setelah puas tertawa.


"Kuy kuy, mau makan apaa?" Tanya Dino.


"Inget yang waktu itu kita kee kafe mall gak? Gue pengen makan itu!"


"Yang manaa?"


Arsen bingung.


"Yang ku teror di watsap kamu."


"Oooooohhh, itu. Ayok!!"


Mereka berjalan menuju mobil.


Asya dan Arsen masih bergandengan tangan.


Arsen menggenggam paling erat.


Ntah kenapa, mata Asya mengarah ke tempat penyiksaannya waktu itu. Seketika Asya terpaku, mengingat hal itu benar-benar membuatnya trauma.


Arsen sadar perubahan Asya, ia langsung menggendong Asya ala bridal style.


"Jangan liat ke sana, sama aja kamu liat masa lalu. Liat ke depan coba, siapa tau kamu bisa liat kita jalan berdua barengan sama anak-anak yang happy karena mau liburan."


Asya pun menyembunyikan kesaltingannya di balik dada bidang Arsen. Jelas Arsen tau.


Arsen mengecup kening Asya.


"Jadi gak sabar deh buatnya."


Plak!


"Keep halal brother!!" Arsen cengengesan.


Tiba di mobil, Arsen memasukkan Asya perlahan ke mobil lalu beranjak pergi mengikuti yang lain.


"Senn."


"Hm? Kenapa, sayang?"


"Mau kiko."


Arsen terkekeh, "kurang kerjaan banget kamu. Gak boleh ah, nanti batuk!"


"Kiko gak di kasihh, padahal pengen buat menuhin kulkas."


"Yang lain kan bisa, sayang."


"Emm.. kalau aku mintaaaa susu seee kulkas boleh gakk?"


"Bolehh bangett kalau itu. Terus apalagi? Jajan? Coklat?? Mau berapa kulkas? Lima?"


Asya menanggapinya dengan tertawa.


"Banyak banget ituu mah."


"Yaa dari pada isinya soda sama kiko."


"Tapi kan di kulkas rumah kamu emang banyaknya sodaa!!"


"Itu karena Om Mikko, bukan aku."


"Cih, nyalahin Om Mikko. Btw, Om Mikko masih single?"


"Iyaa. Cariin janda gitu lohh, kasian dia. Masa udah tua malah ngefangirl," ledek Arsen santai.


"Berdosa bangettt kamuuu, astaghfirullah!!"


Arsen cengengesan.


"Comblangin gitu kek," pinta Arsen.


"Aku adaa pilihan."


Arsen menatap Asya, "siapa??"


Asya tidak jadi menjawabnya karena mereka tiba di mall. Memang gak jauh dari bandara. Keduanya turun lalu berjalan mengikuti yang lain.


"Siapa pilihan kamu, sayang?"


"Nih nih bentarrr."


Asya meraih ponselnya lalu menunjukkan pada Arsen.


"Goo Hye Sun."


"MasyaAllah, cakepp banget. Tapi Mbak Hye Sun-nya gak bakal mau sama Om Mikko," jawab Arsen.


"Ish ish, ponakan durhakaa!"


Arsen cengengesan lagi.


"Ada pilihan kedua sih, ininii."


"Namanya Song Hye-kyo, janda kaya rayaa."


Arsen menyipitkan mata melihatnya, "bagusan kasih Alvin dah dari pada Om Mikko. Alvin suka janda. Ntar kasian Mbak Hye-kyo tertekan kalau sama Om Mikko."


Asya terkekeh puas.


"Parah banget kamuu, Om Mikko diledekin muluuu."


"Bukan gimana-gimana, Om Mikko kan jelek."


"Sok ganteng bangett!!"


"Aku emang ganteng." Asya geleng-geleng kepala sambil tersenyum melihat kepedean Arsen.


"Macem Lucas tingkat pedenya, tapi masih gantengan Lucas."


Arsen menatap sinis Asya, "ku makan juga ntar kamu!!" Asya nyengir kuda sambil senyum-senyum.


"Lu bedua asik sendiri anjritt, ngomongin apaaann?!" Tanya Azril kesal.


"Sedang mencari janda untuk Om Mikko."


"Buat gue aja dah ah, Om Mikko suruh cari sendiri!!" Sahut Alvin antusias mendekat.


"Nah kan apa ku bilang, Alvin suka janda."


"Kalau pemain badminton namanya Kevin Sukamuljo, kalau si Alvin sukajanda."


"Hahahaa!!!"


☰ ☱ ☲ ☳☴ ☵ ☶ ☷


20.32, rumah Aska.


"Hih woii, untungnya Asya gapapaaa! Bayangin aja kalau sampe itu beneran terjadiii!"


"Stop, Din. Lu ngomong begitu udah lima ribu dua ratus lima puluh koma tujuh kali."


"Pake koma pulakk! Ada goblokknya Alex."


"Hehehe."


"Gue heran sebenernya, kenapa Asya mulu yang kenaa?"


"Anak baik ya selalu jadi tumbal."


Asya mengelus dada mendengar jawaban daddy nya.


"Btw, daddy bakal musuhan sama Om Rap??"


Aska berfikir sejenak.


"Belum tau jugaa, yang salah bukan dia."


"Tapi bisa aja gak sih, kalau itu ajaran Om Rap? Karena kan anak itu gitu karena di ajar ortunya."


"Gak semua gitu, Zril. Daddy mommy ngajarin buat gak boros, tapi kalian boros banget. Itu tu termasuk ke personality orangnya. Kalau Rap gitu, dari duluuuuu dia udah jahat ke daddy."


Azril mengangguk setuju.


"Gue jadi pengen mutilasi dia deh."


"Om Aska kok kelihatan gak marah?" Tanya Haikal bingung.


"Om gak marah, cuma udah murka. Lagi coba nahan aja biar gak nakutin kalian, lagipula ada tante kalian yang nyuruh buat sabar."


"Memang the power of woman."


Drrt... drtt...


Aska menjawab telepon.


^^^"HAHH?!"^^^


^^^"Ya, saya kesana sekarang."^^^


Panggilan terputus.


"Kenapa, daddyy?"

__ADS_1


"Om Rafael kecelakaan sekeluarga."


__ADS_2