Barbar Generation

Barbar Generation
Gentlemen!


__ADS_3

"Long time no see, Asya."


Asya tersenyum canggung.


"Kamu kenapa bisa disini? Siapa yang sakit?"


"Ahh.. ituu, Arsen."


"Arsen? Ooo, masih lengket ya kalian berdua. Makin jauh aja peluang saya."


"Peluang apaan, pak?"


"Hm? Nggak, bukan apa-apaa."


"Pak Fauzi sendiri kenapa bisa disini? Siapa yang sakit?"


"Junior sa.. ehm.. maksudnya temen saya. Kemarin kecelakaan." Asya berohria.


"Btw, saya butuh pertanggungjawaban lohh."


Asya tertawa kecil, "saya gak ngapa-ngapainn bapak lahh."


"Kamu nabrak saya tadii. Tanggungjawab atau saya pidanain nih?"


Asya tertawa lagi, "yaudah nih Asya tanggungjawab kok. Mau diobatin? Tapikan bapak gak lukaaa."


"Saya mau diobatin, tapi bukan nyembuhin lukaa."


"Jadi apa??"


"Buat nyembuhin rindu. Saya kangen sama kamu, Sya."


"Sa ae bapak mahh."


"Saya seriuss. Ayok cari kafe buat ngobrol."


Asya menoleh sekilas kebelakang. Arsen berdiri disana sambil berkacak pinggang.


Asya masih kesal, ini waktunya pembalasan.


"Boleh, pak. Ayok."


Fauzi sendiri tersenyum mendengarnya. Mereka berdua pun pergi meninggalkan rumah sakit.


"Hubungan kamu sama Arsen apa??"


"Cuma temen kok, pak."


"Seriuss?" Asya mengangguk santai.


"Masih ada peluang juga ternyataa."


"Apaann dah peluang muluu?? Bapak sendiri udah nikah atau belum?" Tanya Asya.


"Gimana saya mau nikah, move on dari kamu aja belum. Padahal kita gak pernah jadian yaa." Asya tertawa kecil.


"Bu polwan kan cantik-cantik, pakk."


Fauzi berdehem pelan.


"Tapi gak ada yang seabsurd kamu."


"Oiya, kenapa kamu sering manggil saya pak sekarang? Dulu manggil kak."


"Biar sopan, pakkk."


"Tapi sekarang gak usah pak lagi. Panggil mass."


"Om aja gimanaa?" Tanya Asya meledek.


"Jangan dongg. Mas ajaa."


"Oke deh. Mas Fauzi?"


"Dalem sayang."


'Jncokk! Malah digombalinkan.' Batin Asya.


"Berubah jadi buaya ya, pak??"


Fauzi tertawa.


"Kamu mau minum apa biar saya pesan."


"Emm.. apa aja deh pak."


"Pak lagi?"


"Om aja kalau gitu." Fauzi menatap Asya sinis, Asya cengengesan dengan tatapan polosnya.


"Yaudah, saya pesan sebentar."


Fauzi pergi.


Beberapa menit kemudian kembali dengan senyuman yang merekah.


"Saya lupa tanya. Gimana kabar kamu?"


"Alhamdulillah, baik kok. Sendirinya gimana?"


"Baik juga, alhamdulillah. Saya pikir kamu gak akan mau bicara sama saya lagi karena masalah Tara waktu itu."


Asya tersenyum tipis, "masalahnya ada di Tara bukan di Mas Fauzi. Ngomongin Tara, dia apa kabar? Baik-baik aja, kan??"


"Mungkin. Setelah saya cuekin kemaren gara-gara lukain kamu, dia minta izin buat ke Korea dan kuliah disana."


"Maaf kalau menyinggung, biayanya..?"


"Dibayarin sama saudara angkat saya."


Asya mengerutkan dahi, "maksudnya.. Om Darren?"


"Loh? Kamu kenal?"


"Yaa kenal nggak kenall, waktu itu Om Darren yang tolongin Asya." Fauzi berohria.


"Teruss, selama ini Kak Fauzi dimana? Kok gak pernah kelihatan?"


"Saya sibuk kerjaa. Kan nikahin kamu pake uang bukan daun."


Asya tertawa, "makin jago gombal ya. Belajar dimana, pak?" Fauzi ikutan tertawa.


"Saya barusan ambil cuti beberapa hari. Boleh nggak kalau saya minta kamu yang temenin?"


Asya berfikir sejenak, bisakah ia mendapatkan izin dari teman-temannya yang overprotective itu?


'Gue juga mager anyingg!' batin Asya.


"Emang mau kemana?"


"Kemana-mana."


"Asya gak janjii, yaa. Hehe."


Fauzi tersenyum.


"Iya gapapaa."


"Saya tinggal sebentar gapapa kan, Sya?" Tanya Fauzi.


"Mau kemana emang??"


"Ke toilett." Asya mengangguk.


Fauzi mengambil tangan Asya lalu mengelus lembut tangannya. "Tunggu disini, jangan kemana-mana." Fauzi pun pergi.


"Ohemjiii, Pak Fauzi kok makin ganteng siii?!" Gumam Asya sambil menatap kepergian Fauzi.


"Bentar-bentar. Gue bayangin dulu, gimana nanti kalau gue jadi ibu bhayangkari. Asksksk. Gak-gak, kasian Pak Fauzi malu ntar karena tingkah gue."


"Aahh. Sadar Asya sadar! Jangan jadi cewek gila pria berseragam!"


Ting.. Ting..


Ponsel Asya bergetar, Asya mengambilnya dari saku.


biaaawak 𓆌


online


enak ngedate? aku di belakang tadi tetep diabaikan


"Lu juga ngabaikan gue tadi." Cibir Asya kesal, ia pun mengetik sesuatu di ponselnya.


biaaawak 𓆌


online


^^^idc.^^^


cill jangn gitu atuh ahh. makin ngedrop aku kalau kamunya gini


^^^macem betul ajaa. main game sono,^^^


^^^gak bakal ngedrop lu nya.^^^


apasih, astaghfirullah


tadi tuu login bentaran doangg karena gabuttt


^^^bacrit lu.^^^


^^^bilang aja lagi cek doi virtual lu.^^^


jangan ngaco gini, aku ga suka


^^^idc.^^^


aku samperin sekarang yaaa


aku tau loh kamu dimanaa


^^^oh tau ya? yaudahh mau pindah kafe^^^


sayaangg!


jangan pindah, disitu ajaa


Asya hanya membaca pesannya.


biaaawak 𓆌


online


cilll?


ngambek beneran ini?


heii


udah dong ngambeknyaa


aku gak ada doi di gameee. itu cuma login aja, suerrr


byy? bbyy?


Ya Allah, cuma di read


yaudah terserah terserah, males aku dh.


tapii..


AAH SAYAANGG, BALEESSSS


Drrttt.. Drtt..


Arsen menelepon, Asya langsung mereject panggilannya. Berkali-kali Arsen menelepon dan Asya selalu menolak panggilannya.


"Dari tadi ditolak mulu, kenapa nggak diangkat?"


"Ehh, kak, wkwk gapapa. Mengganggu yaa." Asya cengengesan.


"Angkat aja dulu, siapa tau penting."


Bukannya mengangkat panggilan Arsen, Asya malah mematikan ponselnya.


"Dahh, gak recok."


"Telepon dari siapa? Kenapa ditolak mulu?"


"Dari Arsen, kakk. Dia nyebelin bangett dari tadi, makanya maless."


Fauzi tertawa kecil, "direject karena gak mau ganggu waktu kita berduaan ya?"


◕◕◕

__ADS_1


Pagi yang cerah di bikini bottom.


Eh gak-gak! Salah serverr.


Pagi yang cerah di taman. Sambil mendengarkan lagu dangdut, Asya berlari memutari taman. Ia sendirian kali ini, karena males membangunkan yang lainnya.


Oh iya, semalam Asya pulang ditarik paksa oleh Azril. Kembarannya itu posesif kadang :/


"Aihh, abis pula minum gue." Keluh Asya.


Ia menoleh sekeliling dan akhirnya menemukan warung sembako.


"Ciw ciww. Sendirian enak nii minum sodaa." Asya menghampiri warung itu dengan senyum sumringahnya.


"Assalamu'alaikum, mbakk."


"Wa'alaikumussalam, mau beli apa teh?"


"Minuman soda ada?"


"Ini masih pagii, teteh udah mau minum soda?" Asya cengengesan. "Diminum nanti siang kok."


"Yang dingin, tehh?" Asya mengangguk. Pemilik warung itupun mengambilnya. Tapi ketika Asya ingin menariknya, ada tangan lain yang mengambil.


"Apasih, Arsenn?!"


Yaa! Arsen yang mengambil.


Arsen menatapnya sekilas. "Gak jadi soda, kasih air putih mbak. Tambah satu botol lagi, yaa."


"Oh iya, mas."


"Lu kalau mau minum air putih ya beli sendirii! Kenapa harus ganti soda guee?!"


Arsen menatap dingin Asya, "siapapun gak bakal ngizinin kamu minum soda."


"Tapi kann—"


Asya menghentikan ucapannya ketika melihat Arsen mendekat. Kini bibir Arsen berada di dekat telinga Asya, "kalau kamu ngebantah terus, bibir kita bakal silaturahmii."


Seketika Asya menutup bibirnya, Arsen sendiri kembali mundur sambil tersenyum smirk.


"Mas, ini air putihnya."


Arsen mengambilnya, "makasih mbakk."


"Ayok, sayang." Arsen menggenggam tangan Asya dan mengajaknya ke salah satu kursi taman.


"Ngapain sii?"


"Apa maksud?"


"Ngapain disiniii?!" Tanya Asya kesal.


"Pertanyaan apa ini? Ya jogging lah, nemenin kamu."


"Gak perlu ditemenin, sendiri juga bisa!" Jawab Asya sambil menoleh kearah lain.


"Nih minum, biar gak ngambek muluk." Asya menerimanya dan meneguk sedikit.


"Mana bisa aku biarin kamu sendirian, Asyaa."


"Bisa gak sih lu gak modus terus?"


Arsen tertawa, "siapa yang modus sih? Kamu kerasukan hantu dimana? Apa masih marah sama ku?"


"Ntah yaa, pikir sendiri!"


"Oke aku jelasin. Pertamaa, aku cuma login. Kedua, aku gak punya selingkuhan di game. Ketiga, balik lagi ke yang pertama."


"Bodoamattt!"


Arsen gemassss.


Arsen memberanikan diri untuk mendekati Asya.


Cup!


"I lop uuu." Ujar Arsen dengan senyuman tampannya.


Asya blushing, pipinya langsung memerah setelah mendapat kecupan dari Arsen.


Asya... kalah!


"Udahan ya ngambeknya? Tersiksa aku dikacangin teruss." Rengek Arsen manja.


"Lebayy!"


"Ishh, seriuss. Dah, jangan ngambek lagi!"


Asya berdehem.


Ia cosplay jadi cool girl, wkwkkk!


"Kenapa bisa kecelakaan sih? Kenapa berantem?"


"Pas anterin kamu pulang, aku ketemu sama gengnya Ryan. Ryan jadi tukang palak. Aku sama Ryan sempat adu mulut. Gak lama setelahnya dia ajak berantem, aku jabanin dan ku tantangannya by one. Tapi waktu aku jatuh karena tendangan Ryan, anak buahnya ikutan nyerang aku. Dan jadila gituu."


"Terus, kecelakaan kenapa?" Tanya Asya lagi.


"Posisi palak kan dipinggir jalan, jadi tu waktu aku mau kaburr, ada mobil lewat dan ya kenaa dehh. Untungnya tu mobil gak lajuu," jelas Arsen santai.


"Harusnya laju yekan?"


"Mau aku mati?" Asya tertawa.


"Sekarang aku tanya deh. Kenapa ngambek terus sih?"


"Kesel!"


Arsen tertawa kecil, "panik denger aku kecelakaan yaa pas sampe kamar akunya malah main game."


"Tu sadarr!"


"Abisnya suntuk bangett, sayangg. Nggak tau mau ngapainn, itu cuma main pou bentar."


"Kan bisa istirahat!" Omel Asya. "Ini juga kenapa sekarang udah keluar?! Sakit kawe!"


"Bukan gituuu. Lagipula ngapain lama-lama di rs kalau kamu aja gak ada dateng buat jagain. Malah asik ngedate pula tu sama Fauzii." Jawab Arsen kesal.


"Alahh siaa. Bawa-bawa mas ganteng juga kan jadinya."


"Apa? Ulang."


Arsen mengelus dada. Ia sadar, jodoh adalah cerminan diri. Arsen playboy jadi bisa aja Asya playgirl, kan jodoh! ╥‿╥


"Terserah kamu dah. Ayok pulang," ajak Arsen lembut.


"Nggak, lu kalau mau duluan mah silahkan."


"Lu? Apa sih lu lu-an lagii?"


"Emang salah? Kan dulu juga luu lu luuuu."


Ledek Asya sambil tertawa.


"Beneran aku cium, mau?"


Ekspresi Asya berubah datar, "ah gaa seruuu. Mainnya nyosorr." Cibir Asya.


"Makanya, jangan macem-macem."


"Bodoamattt, wleee!"


Asya berlari meninggalkan Arsen.


"Eiii!" Arsen menyusul Asya.


Asya yang merasa mereka sedang lomba lari langsung mempercepat langkahnya, sesekali menoleh ke belakang.


Tapi tidak semulus yang dibayangkan, Asya nabrak pembatas beberapa kali dan sekarang ia...


Bruk!


Menabrak orang.


"Awhh.." Keluh Asya karena lututnya terluka.


"Kamu gapapa?"


Asya mendongak, "Kak Fauzi?"


"Iya ini saya. Kamu gapapaa?"


"Gapapa kokk. Maaf ya tadi nabrak kakak." Asya sok kuat, ia berdiri santai padahal sedang menahan sakit.


Karena Asya berdiri, Fauzi jongkok untuk melihat lukanya. "Pasti sakit, ya?"


"Ikut saya ke apartemen yukk, saya obati disana."


"Hah? Nggak-nggak." Asya mundur.


"Jangan mikir aneh-anehh, saya cuma mau obatin. Sepuluh menit cukup kok."


Asya diam.


Fauzi yang tak tahan melihat darahnya mengalir, langsung menggendong Asya ala bridal style.


Asya tetap diam tidak bersuara. Ia ingin melihat ke belakang lagi tapi tidak nampak karena dada bidang Fauzi menutupi.


"S-sepuluh menit aja ya, kak."


"Iyaa, sepuluh menit cukup kokk."


Jauh di belakang Asya, Arsen menatap kesal keduanya. Ia tidak mau maju mengejar karena ia rasa akan percuma.


Arsen duduk kembali di salah satu kursi taman sambil meminum air mineral tadi. Dua botol itu habis karena dirinya merasa panas melihat adegan barusan.


"It's oke, Sen. Fauzi itu pelampiasannya Asya. Asya gak bakal ninggalin lu kok. Iya, nggak bakal." Arsen bermonolog seperti orang gila.


"Permisi, mass. Bisa gabung?"


"Silahkan."


Wanita itu duduk di sebelah Arsen, Arsen sendiri langsung pergi tanpa sepatah kata keluar dari mulutnya.


"Aghh, gak bisa dibiarin ini mahh!" Keluh Arsen. Ia masih terbayang-bayang adegan tadi.


Arsen mengambil ponsel untuk menelpon seseorang. Tapi sayang, orang itu tidak mengangkatnya.


"Ahh kamprett. Sok sibuk betul manusia ini, perlu diomelin dulu sekali." Dumel Arsen pada ponselnya.


"Dah macam orang gila bahh. Aihss, kebanyakan minum jadi kebelet kencing!"


◕◕◕


10.45


"Tok tok, buka pintu atau Arsen bom!"


"Masok!"


Arsen masuk dengan gayanya yang sok cool.


"Om sibuk, Senn. Mau apaa?"


"Im sibik, Sinn. Mii ipiii? Gausah sok sibuk deh, Om! Tega banget ya Om Mikko ngacangin Arsen? Sakit hati Arsen!"


"Cocok jadi pemeran drama indo. LEBAY BANGET HEH!!" Arsen cengengesan.


"Ngapain kesini?"


"Arsen gabuttt."


"Tugas kantormu kerjakan."


Arsen rebahan di sofa ruangan Mikko, "gak punya mood buat ngerjain."


"Sok-sokan kalii. Kerjain project barumu tu lohh." Omel Mikko sambil mengerjakan pekerjaannya.


"Iyaa, besokk."


"Besak-besok terosss. Sen, kamu tu juga butuh sekretaris, bukan cuma tangan kanan doang."


"Nggak lah, maleess. Kan ada Om Mikkoo."


Mikko menatap Arsen, "om gak cuma ngurusin perusahaan kamu doang loh, Sen."


"Yo samaa. Arsen gak cuma ngurus satu perusahaan, omm."


"Astaghfirullahalazim, salah siapa buat banyak perusahaan?!"


"Om kan juga punya banyak perusahaan." Mikko terdiam.


"Cabut sana, daripada om tendang!" Arsen cengengesan tanpa rasa bersalah.

__ADS_1


"Tumben-tumbenan kamu gabut kesini, kok gak tempat Asyaa?"


"Mualesss. Asya lagi plesbekk sama mantan gebetannya." Jawab Arsen melesu.


"Lah? Siapa?"


"Polisi itu lohh, yang pernah Arsen bilang."


"Balik lagi ke tu polisii? Masa iyaa?"


"Yaa gak tauu juga balik ke polisi apa nggak. Intinya Asya deket lagi sama tu orang."


"Teruss? Kamu lesu gitu toh?"


"Dikitt. Overthinking om, lawan berseragam." Kata Arsen.


"Kamu juga pake seragam."


Arsen menatap Mikko, "seragam apa?"


"Tuxedo and jass. Lebih mahal seragam mu dari dia."


Arsen duduk, "astaghfirullahalazim, Om Mikko. Om gak boleh gituuu, itu namanya nyepelein pekerjaan orang!!"


"Oiya, astaghfirullahalazim~"


Mikko mengelus dadanya.


"Tapi bener juga si, om." Arsen kembali rebahan.


"Sini deh, Senn." Arsen geleng kepala, "nanti om tampoll." Ujar Arsen sambil nyengir kuda.


"Ohh, dah hapal yaa?! Sekarang Asya dimana?"


"Di kafe sama Fauzi."


"Tau darimanaa?"


"Arsen lacak tadi."


Mikko berohria. "Cemen juga kamu. Masaaa iya biarin doi main sama cowok lain. Gak gentle bangett!"


"Alah siaaaa boyyy. Macem betul kali Om Mikko, om aja gak gentlee."


"Gak gentle lambemuuu." Arsen ketawa kecil.


"Kalau gentle tu ditandaiii. Kebanyakan mikir sii."


Arsen mengerutkan dahi, "ditandai?" Mikko menganggukkan kepala.


"Aaaaaa, that's right! Nanti temenin Arsen!!"


Jam yang sama dilokasi yang berbeda.


"Syaa, Arsen tumben gak ngebucin ama lu?" Tanya Shaka.


"Auk dah, maybe capek liat gue." Jawab Asya santai.


Mereka menoleh ke arah Asya yang santai sambil mengubek-ubek minumannya.


"Capek kenapa?" Tanya Alvin gantian.


"Yaa gituu. Dah dah diemm!" Omel Asya kesal.


"Agaknya dia galau karena gak dibucinin." Ledek Naina, mereka tertawa mendengarnya.


"Iya deh iyaaa, yang sekarang dibucinin jugaa jadinya ngeledek gituu."


Naina cengengesan.


Yoaii! Naina sudah memiliki pawang, saat ini pawangnya sedang manja di pundak Naina.


Kalian tau lah siapa.


"Azril mengkek, yaaa?! Biasanya juga duduk biasa ajanya dia, sekarang harus kali dempet ke Naina." Cibir Dino.


"Iri bilang babuuuu!"


"Janckk!" Azril tertawa lalu kembali duduk normal.


"Lu bedua pacaran apa gimana?" Tanya Asya.


"Nggak pacaran. Lu tau ndiri kan daddy gak ngizinin pacaran. Paling ntar langsung ke plaminann, yakan sayang."


"Asuu asuu. Mau nyari pacar lah gue di sopiii biar bisa pamer kek lu pada!"


Mereka terkekeh melihat Shaka panas.


"Assalamu'alaikum yaaa tukang bacott." Haikal datang bersama Ara.


"Wa'alaikumussalam, lu bedua darimanaa anj?!" Tanya Alvin ngegas.


"Kepo kali bah! Mejeng kami beduaa, kenapa?! Gak sorrr kau? Gelut kitaa."


"Sianjing. Datang-datang bacotnya na'udzubillah." Haikal cengengesan.


"Guee baru memenuhi keinginan my sweety baby honey Ara."


"Gelik anjjj, tolonggg. Aaaa!!" Haikal terkekeh.


"Sumpah, dia kerasukan hantu dimana sii?" Tanya Asya mengkesal.


"Mungkin ini efek dari baju pink yang dia pake." Jawab Racksa.


"Oiyaa, betul pula cokk! Pinky pinky ahahahaha!"


Mereka tertawa, meledek Haikal dengan baju pink-pinknya.


"Diamm." Mereka makin terkekeh.


"Ah sudahlah. Mengkesal saya."


"Lu kenapa bisa pake baju pink, anj?!" Tanya Azril.


"Tadi buru buruu, salah ambil kaosss."


"Nggak-nggak. Alesan itu gaiss, jadi tadi baju dia kotor kan. Abistuu ke toko beli baju dan ternyata toko khusus cowok tu tutupp jadi ke toko cewek. Dan adanya baju pink." Kata Ara menjelaskan.


"Dan lu pada tau nggak?"


"Apa?" Tanya mereka kompak.


"Sebenernya ini baju gambar barbie."


"HAHAHAHAAAA, ANJIRRR BANGETT WOIK. Kenapa lu balikkk bajunyaa?! Cepet buka terus ganti lagi!" Titah Shaka.


"Pak, cukup. Rusak image saya nanti." Jawab Haikal mellow.


"Lu cocok anjirrr pake pink. Udah deh, jadi uke gue aja gimana?" Tanya Alvin.


"Matamuu, cokk! Masih waras guee."


"Alasan kalii, lu kan ukenya Racksa."


"Makin ngawurrr anjrrrr!" Berontak Haikal.


"Loh tadii buktinyaaa? Sebelum lu pergi sama Ara kan lu cium pipi Racksa."


"Itu kesalahan teknis bodooo. Gue gak belokk," ujar Racksa kesal.


"Haleeeehh, alasannn."


"Mau ngomong kotor nanti dosaaa~" Mereka terkekeh.


"Btw, Arsen sama Alex mana?"


"Ada urusan sama pekerjaannya paling. Mereka kan orang penting, gak kek lu pada yang beban keluarga."


"Tolong belikkan kaca. Biar gue suruh dulu si makhluk punah ini ngaca."


"Jangan sampe gue tampol lu!"


Dino terkekeh, "kok ngamokk? Kan betol, beban keluarga~"


"Lu juga beban anjrrr."


"Oiyaa, lupa cokk."


"Ayoklah yokkk, ruqiyah Dino!!"


◕◕◕


20.00, rumah Aska.


Hampir setengah jam terlewati, Aska sekeluarga sibuk berbincang ria dengan keluarga inti Arsen --Pak Andre, bunda Arsen, Om Mikko, dan Asyila--. Mereka tampak akrab walaupun jarang berjumpa.


"Ehm. Jadi, kedatangan Arsen sambil bawa keluarga kemari bertujuan untuk menjadi saksi dari yang Arsen mau bicarain."


"Kamu mau bicarain apa?" Tanya Aska.


Arsen nervous!


"Bismillahirrahmanirrahim. Arsen mau lamar Asya, om."


"The real gentleman." Gumam Azril. Ia, Asya, dan Racksa auto kaget. Begitupun dengan Zia dan Aska, tapi mereka berdua mencoba tetap tenang.


"Kamu serius, Sen?" Tanya Zia.


"Iya, tantee. Arsen serius." Jawab Arsen dengan senyuman.


"Kenapa mau lamar Asya? Kamu punya apa?" Aska gantian tanya, Aska tau tapi ingin memastikan.


"Arsen punya beberapa perusahaan yang Insya Allah cukup untuk biaya hidup kami nanti. Selain itu, Arsen bakal jadi seorang imam yang Insya Allah bisa menuntun Asya ke surga-Nya."


Tolongg!!


Asya pengen kayang sekarangg!


"Maaf. Bukan maksud tante ngeraguin kamu, Sen. Tapi, kamu dulu sering gonta-ganti pacar, kan?"


Arsen tersenyum tipis, "iya, tante. Itu dulu."


"Biasanya, cowok sekalinya mendua akan terus mendua." Azril memprovokasi.


Biadabb emang:')


"Arsen gak akan mendua kok tante, sampai kapanpun gak bakal mendua."


"Kenapa?"


"Karena cuma tangan Asya yang bakal Arsen genggam dalam menggapai surga Allah, bersama Asya menapaki pahit manisnya kehidupan, sampai Arsen menghembuskan nafas terakhir."


Help!


Mental yupi Asya meleyottt! ಥ‿ಥ


Aska dan Zia saling tatap lalu tersenyum.


"Gimana, Asya."


"Hah? Gimana apanya? Asya mau kayang dulu boleh gak nii?" Mereka terkekeh mendengarnya perkataan Asya.


"Mommy daddy gimana?"


"Terserah di kamu."


"Asya sih yess."


"Plis, jawabannya enteng banget. Minta dilempar sepatu ni anak?!" Asya nyengir kuda.


"Kenapa lu lamar Asya sekarang, Sen?" Tanya Azril.


"Asya bandel, main sama cowok lain. Tadi pagi dia ke apartemen Fauzi."


Aska, Zia dan Azril menatap sinis Asya. "Buat ngobatin lukaaa, tadi Asya jatuh." Jawab Asya langsung.


Asya melihat Arsen meledek kearahnya. Bukannya emosi, Asya malah merasa gemas melihat Arsen.


"Btw, kecepatan gak sih nikah sekarang?" Tanya Mikko.


"Ya nggak sekarang, omm. Sekarang tunangan duluu, setidaknya ada tanda kalau Asya benar-benar punya Arsen." Jawab Arsen.


"Aaww. Rasa ingin melayang." Mereka tertawa lagi.


"Jadi kapan?" Tanya Aska.


"Setelah Arsen lulus S3 aja gimana?"


"Kelamaan, Senn! Kapan om nimang cucu?!"


"Ohh, kalau gitu cucunya aja dulu gimana?"


"Om black—"


"Ampun, om. Arsen bercanda doang kokkk."

__ADS_1


__ADS_2