
"Lama gak berjumpa ya, tuan Prawara."
"I-iya, tuan. Silakan duduk, tuan Kusuma."
Aska tersenyum miring lalu duduk di sofa ruangan Angela. "Sen, duduk sini."
"Hehe nggak deh, om. Om ajaa," jawab Arsen dengan senyuman tipisnya.
"Tuan kenal Arsen?"
"Siapa yang gak kenal tuan muda William? Pengusaha muda yang sukses dan tampan." Arsen sedikit salting mendengar perkataan Aska.
"Sa ae, bapak camerrr."
Aska tersenyum.
"By the way, Arsen ngapain di sini?"
"Mau bayar hutang mama yang 350jt, om."
"Mending gak usah. Sayang duit kamu," ujar Aska.
"Kalau gak Arsen bayar nanti Arsen gak bisa lepas dari perjodohan, om." Aska hanya menganggukkan kepalanya, "gitu toh? Pengen cepet lepas ya?"
"Iya, om. Udah capek berdampingan sama benalu." Aska tertawa kecil.
Angela dan papanya hanya bisa terdiam walaupun sedang tersinggung. Keduanya juga masih bingung, karena Arsen memanggil Aska 'bapak camer'.
"Ehm.. tuan Kusuma, sedang apa di sini?"
"Saya mau ngurus kekacauan, yang anak saya perbuat. Yaa sekalian silaturahmi."
Semua mata langsung tertuju ke Aska.
"Maksudnya, Asya...?"
"Iyaaa, Sen. Ini ulah Asya," ujar Aska.
"Whatt?! Asya... anak Anda?" tanya Angela.
"Iyaaa. Orang yang kamu ganggu selama ini anak saya." Angela dan papanya benar-benar terkejut mendengar fakta ini.
"Asya nya baik-baik aja kan, om?" Aska mengangguk, "baik-baik aja kok, walaupun ada lecetnya dikit."
"Hadehhh..." Aska tertawa kecil kemudian menatap ke arah papanya Angela.
"Kita mulai perhitungan ganti ruginya sekarang. Sebelum itu, mari kita kembali ke beberapa tahun yang lalu."
'Dari awal udah nebak, pasti bahas hutang. Gugup banget sial,' batin papa Angela gak tenang.
"Saya ingat betul, tuan Prawara meminjam uang ke saya sebesar 500jt karena waktu itu hampir bangkrut. Benar kan?"
"Iya benar, tuan."
"Kalau Anda bilang salah, saya tembak sekarang. Selanjutnya, Anda ngutang lagi ke saya dengan nominal yang sama. Jadi kalau di hitung semuanya udah satu miliar. Benar begitu?"
"Benar, tuan."
"Di tambah lagi hutang Anda waktu itu ngerusakin mobil dan beberapa properti saya. Itu tidak terhitung jumlahny—"
"Maaf, kenapa Anda membahas utang papa saya?"
"Karena hutangnya belum di bayar sampe sekarang."
Angela terdiam, begitupun dengan papanya.
"Saya gak pernah kasih bunga di setiap hutang Anda, tuan Prawara. Tapi karena Anda ngasih bunga ke hutangnya Pak Mikko, apa saya harus membungakan hutang Anda juga? Jika di bungakan mungkin bisa lebih dari lima miliar yang Anda tagih-tagih ke calon menantu saya."
Tidak ada respon dari pihak manapun.
"Maaf. Urusan hutang saya ke Anda dengan hutang mamanya Arsen ke saya itu berbeda, tuan," papanya Angela buka suara setelah beberapa menit berfikir.
"I know, but, segala sesuatu yang mengganggu hubungan anak saya dan calon menantu saya menjadi urusan saya juga sekarang. Bukan karena calon menantu saya gak bisa mengurusnya, tapi memang saya yang ingin ikut campur."
'Beruntung banget ya guee. Tapi ntah kenapaa, gue jadi ngerasa ga cocok sama Asyaa' pikir Arsen.
"Kenapa Anda baru menagih utang papa saya sekarang?" tanya Angela.
"Selama ini, hutang-hutang papa kamu tidak pernah saya tagih karena saya masih punya banyak uang. Bodohnya, papa kamu tidak pernah membayar sekalipun meski sudah sukses," jawab Aska.
"Saya minta maaf untuk itu," ujar papanya Angela.
"Kata maaf tidak melunaskan hutang Anda, tuan Prawara. Sekarang saya kasih dua pilihan. Pilihan pertama, lunaskan semua hutang mamanya Arsen sekaligus putuskan perjodohan antara Arsen dan Angela, maka hutang Anda juga lunas semuanya."
"Pilihan kedua, Anda bayar hutang Anda dengan jangka waktu dua hari. Dan semua jumlah hutang Anda saya samakan dengan jumlah hutang Arsen, lima miliar."
"Gak adil dong!! Masa cuma dua harii, om!" protes Angela.
"Om? Saya bukan oom kamu. Gak usah berlagak seolah-olah kita akrab!"
Angela tidak bisa protes lagi.
Tatapan Aska terlalu sinis!
"Kamu tidak terima karena di beri waktu hanya dua hari, lalu bagaimana dengan Arsen yang kalian suruh saat ini juga! Lebih baik saya kasih waktu dua hari atau saya minta sekarang?"
"Maaf atas perkataan anak saya tadi. Sebelum mengambil keputusan, biarkan saya merundingkannya dengan anak saya terlebih dahulu."
Aska mengangguk, "silakan. Jangan terlalu lama, saya kurang suka menunggu." Papanya Angela pun mendekati Angela, mereka berdua rundingan secara berbisik-bisik.
Aska sendiri duduk santai di sofa dan menunggu keputusan. "Pak Mikko, Arsen, ayo duduk sini. Gak capek berdiri terus?" tanya Aska.
"Capek sih, om, tapi males duduk. Takut ntar gatel-gatel kek Angela yang gatel," jawab Arsen santai. Aska terkekeh mendengarnya.
"Asya bener-bener gapapa kan, om? Lukanya di bagian mana, om? Parah nggak?"
"Sekhawatir itu kamu ke Asya?"
"Hehehe.. Arsen gak mau kehilangan Asya, gak mau lagi liat Asya tidur di brangkar rs."
Aska tersenyum, "Asya baik-baik aja kok, dia cuma luka ringan. Btw, kamu lagi di larang ketemu Asya kan?"
"Iya, om. Makanya pengen cepet-cepet selsein semuanya biar bisa ketemuu Asya."
"Sabar bentar lagi ketemu nih."
"Udah sabar banget Arsen, om. Katanya kan kalau orang sabar bokongnya lebar, nahh bokong Arsen udah lebar gara-gara sabar banget."
Aska terkekeh.
"Ehmm! Tuan Prawara, bagaimana keputusannya?"
"Saya pilih yang kedua."
Aska mengerutkan dahinya. "Yakin? Yaudah kalau gitu beri saya lima miliar sekarang."
"Tapi Anda bilang jangka waktu dua harii?!" protes Angela lagi.
"Jangka dua hari sebelum lu protes gak adil, Angela. Karena lu protes ya jadinya sekarang," sahut Arsen.
"Yes, that's alright."
"Oke, fine!" Aska melihat papanya Angela menelepon seseorang, dirinya terlihat santai.
Tapi lain halnya dengan Arsen yang gelisah. Jika papa Angela milih yang kedua, itu artinya perjodohan tetap berlangsung kan?
"Anda tunggu dua puluh menit."
"Sepuluh menit."
"Baik, sepuluh menit!" Papanya Angela kembali berbicara di telepon, ia meminta anggotanya untuk cepat datang.
Orang-orang sukses memang sering on-time.
Tepat sepuluh menit berlalu, dua orang pria suruhan papanya Angela datang sambil membawa koper.
"Tuan Kusuma, silakan check sendiri."
Aska tersenyum misterius. Dirinya berjalan mendekati koper itu dan membukanya. "Ini beneran lima miliar, tuan Prawara?"
"Iya. Apakah Anda belum pernah melihatnya?"
"Hahaha! Jelas pernah. Saya rasa ini masih terlalu sedikit untuk jumlah lima miliar. Tapi tidak masalah, saya males juga ngitungnya."
"Oke, dengan ini hutang Anda lunas."
Papanya Angela dan Angela tersenyum sumringah.
Aska menutup kembali kopernya lalu mendekati Arsen. "Arsen, bayarkan hutang kamu dan hutang pak Mikko pake duit ini," titah Aska.
"Tapi...."
"Gak pake tapi-tapian. Mau om ajari gimana cara bayarkannya?" Arsen mengangguk pelan.
"Pertama, buka kopernya." Arsen membukakan koper yang Aska pegang.
"Setelah itu, lemparkan aja duitnya." Aska langsung melemparkan uang lima miliar itu ke arah papanya Angela. Aska melempar beserta koper-kopernya.
"Kurang ajarr!!"
Aska tersenyum smirk. "Jadi gimanaa rasanya mandi uang lima miliar, tuan Prawara?" tanya Aska.
"Anda... Anda menginginkan peperangan, tuan Kusuma?"
"Hahaha! Tentu tidak."
Aska berjalan keluar ruangan lalu masuk kembali.
"Kan sudah saya bilang di awal, saya mau silaturahmi bukan mau perang. Anyway, saya tambah lagi sepuluh juta untuk ganti rugi atas kelakuan anak saya." Aska memberikan amplop uang itu baik-baik.
__ADS_1
"Hutang pak Mikko dan Arsen sudah lunas, itu artinya perjodohan juga sudah putus."
"Saya peringkatkan kepada Anda dan anak Anda, jangan cari ulah lagi dengan anak saya, jangan dendam dengan anak saya, dan jangan ganggu hidup anak saya lagi."
"Jika Anda mengabaikan peringatan saya, bersiap-siap saja untuk menjadi gelandangan. Karena saya akan menjadikan rumah dan perusahaan Anda kembali rata tinggal tanah."
◕◕◕
"Asya mana? Masih di kamarnya?" tanya Febby.
"Iya, ma. Gak tau dah kenapa belum keluar sampe sekarang," jawab Zafran.
"Mungkin dia merasa bersalah? Mobil Bang Zap juga rusak cuyy gara-gara tadi," sahut Keja.
"Emang tadi tu ceritanya gimana??"
"Jadi kan kak Asya sama Angela mau balapan, lokasinya sama pula kea tempat Keja balapan..."
"Kamu pagi-pagi balapan, Ja?" tanya Zean.
"Tadi cumaa liat area kok, ongkel, sumpah dah. Keja gak balapan."
"Alasan itutu, paling juga mau balapan kalau bang Zap gak datang," cibir Upi.
"Diem dehh pill! Keja lanjut cerita. Abistu kan mereka berdua balapan tuh, Keja ngikutin dari belakang karena takut Asya kenapa-kenapa. Terus pas di jalan tu saling salip-menyalipp, tapi Angela juga licikk."
"Pasti nyenggol-nyenggol ke Asya?" tebak Azril.
"Yakk betol! Asya sampe nabrak-nabrak ke pinggir. Tapi untungnyaa Asya jago ngendaliin mobil, jadi dia gak jatoh."
"Nahh, pas abis balapan Asya keluar dari mobil dengan tampang emosinya. Ya gimana gak emosi, dia di tabrak mulu coyy sama si Angelaa."
"Terus terus gimanaa?" tanya Frizy kepo.
"Asya marah-marahlah, karena jauh gue sama bang Zap ga denger dia ngomong apa. Tadi juga Asya ada nampar Angela."
"Tapi tu awalnya Angela nampar duluu," ujar Zafran membenahi.
"Eh iyaa, Angela dulu baru di balas Asya. Kuat banget loh itu tamparan dari Asya, suaranya bener-bener kuat. Abistu kan, ntah kenapa si Angela masuk ke mobil. Asya pun juga masuk ke mobil bang Zap."
"Ngeliat si Angela mau kabur, Asya cegat dari depan terus nabrakin mobilnya ke mobil Angela. Di tabrak-tabrak terus pokoknya sampe mobil si Angela rusakk, kacanya pecah kena Angela."
"Terus itu si Angela luka berat gak?" tanya Febby.
"Lumayan, onty. Dia banyak kena pecahan kaca dari dalam. Kalau si Asya di tangannya doang."
"Tangannya kenapa emang?"
"Kan kaca mobil bang Zap ada pecah juga, Asya tu genggam kacanya sambil ngeremes setang mobil. Yaa jadinya luka," jawab Keja.
"Goresannya dalam itu pastii. Ahh, Asya gak mo buka pintu lhoo," keluh Febby khawatir.
"Bentar coba Zap bujuk."
"Nggak usah. Biarin aja dulu Asya redain emosinya, papa yakin dia udah ngobatin lukanya di kamar."
Zafran pun kembali duduk tenang.
"Btw, mobil bang Zap gimana ya?"
"Rusak parah mobilnya Zap. Mau samchon ganti atau perbaiki aja, Zap?"
Mereka melihat sumber suara.
"Aska? Arsen?"
"Yooo haii! Assalamu'alaikum."
"Wa'alaikumsalam," jawab semuanya kompak.
"Kok lu ikut, Sen? Emang udah kelar?" tanya Azril sinis.
"Udah alhamdulillah. Asya manaa?"
"Asya di kamarnya, gak mau keluarr." Arsen duduk di sebelah Azril lalu menatap kamar Asya.
"Asya baik-baik aja kan?"
"Semoga baik-baik aja."
"Zapp, mobil kamu mau di ganti apa di perbaiki aja?" tanya Aska lagi.
"Alahh, urusan mobil ntar-ntar aja lah, samchonn. Mobil Zap yang lain masih ada kok," jawab Zafran.
"Yaa samchon jadinya gak enak, mobil kamu rusak banget itu."
"Gak usah lebay dah lu! Langsung beliin Lambo yang terbaru aja," sahut Zean.
"EHH APAAN? Gak usah, samchon, gak usah. Ntar kalau Zafran mau beli mobil lain baru bilang ke samchon."
"Okeee. Jangan segen-segen mintanya yaa?" Zafran mengangguk dengan senyuman.
"Dua jam keknya. Panggil toh, kakak khawatir luka Asya belom di obati," suruh Febby.
"Yaudah bentarr," Aska mengambil ponselnya untuk menghubungi Asya. "Oke tersambung."
📞 "Asalamu'alaikum, daddy."
^^^"Wa'alaikumsalam, sayang.^^^
^^^Kamu di mana?"^^^
📞 "Di kamar rumahnya halmoni, kenapa?"
^^^"Daddy bawa obat nih di lantai dasar.^^^
^^^Sini datang."^^^
📞 "Ngga ah, dad. Asya gak sakit kokk."
^^^"Keluar dulu sini.^^^
^^^Kenapa coba ngurung diri di kamar?"^^^
📞 "Ga enak sama bang Zap,
mobilnya rusak gara-gara Asyaa.."
Mereka tertawa kecil. Panggilannya Aska loudspeaker, oleh karena itu yang lain bisa mendengarnya.
^^^"Abang bisa beli mobil lagi, Syaa. Sini keluar,^^^
^^^nanti abang beliin seblak."^^^
📞 "Ihh, daddy loudspeaker!!
Gak mau kawan daddyyy!"
^^^"Hahaha!! Kok jahat banget gak mau kawan daddy?^^^
^^^Cepet sini lhoo, daddy udah bawain obat buat kamu."^^^
📞 "Asya gak sakit, daddyy."
Aska melirik Arsen.
^^^"Kalau kamu gak mau keluar juga, aku pulang ya?"^^^
📞 "Arsen??"
^^^"Turun sekarang, sayaangg.^^^
^^^Banyak yang khawatir sama kamuu."^^^
Tut.. Tut..
Panggilan terputus.
Terlihat Asya sudah keluar dari kamarnya. Kini sedang berlari menuju lantai dasar. Arsen yang takut Asya jatuh langsung berlari ke arah Asya. Keduanya bertemu di tengah-tengah tangga.
Tanpa sepatah kata, Asya memeluk Arsen. Arsen pun membalas pelukan sama eratnya dengan pelukan Asya.
"Kok lari-lari si tadi? Kalau jatuh gimana?" tanya Arsen setelah pelukan terlepas.
Asya cengengesan menatap Arsen, "kan ada kamu yang nangkep kalau aku jatuh."
"Ada aja jawabannya."
Arsen kembali memeluk Asya.
"Aku kangen bangett sama kamuuu," bisik Arsen.
"Aku jugaaa."
"EHM, WOI! TURUN SEKARANG!"
Arsen tersadar, ia melepas pelukannya lalu berbalik. "Ntar lanjut pelukan. Sekarang, taro tangan kamu di pundak aku." Asya tidak menjawab lagi, ia melakukannya sesuai permintaan Arsen.
Arsen menggendong Asya dari belakang. "Apaan coba ngobatin tangannya asal-asal," dumel Arsen.
"Yang penting diobatinn."
Arsen mendengus kesal. Dirinya menurunkan Asya di sofa setelah tiba di ruang keluarga.
"Hehe, hai daddyy."
"Haha hehe haha hehe. Semua orang khawatir ke lu, Syaa," ujar Upi kesal.
"Ahh lu mah gak ngertii. Gue gak enakk ketemu sama bang Zapp!"
__ADS_1
Zafran tertawa kecil, "kan udah abang bilang, mobil tu bisa di betuli, rusak parah bisa di ganti. Tapi kalau kamu kenapa-kenapa gak ada yang bisa gantii."
"Betul."
"Betul tu betull."
"Haaa betul betul betull."
"Yaa namanya juga kan segeenn siii."
"Segen segen, kek sama siapa ajaa."
Asya cengengesan.
"Btw, Arsen kok disini? Emang udah selesai masalahnya??"
"Udah. Siap-siap aja kamu, kita otw halal."
"Si kampret satu inii, mikirnya nikah mulu anjer!"
◕◕◕
Sore hari yang cerah.
Para sepupu itu pergi ke luar kota. Arsen, Naina dan juga calon istri Zafran --Aisyah-- ikut serta dalam perjalanan.
Tentunya dengan mobil yang terpisah-pisah. Arsen, Asya, Azril dan Naina berada di dalam satu mobil. Zafran, Aisyah, Frizy, Keja dan Upi berada di mobil yang lain.
Saat ini mereka berada di rumah makan ayam geprek. Mereka sudah selesai makan, dan sekarang sedang menunggu nasinya turun.
"Kak Aisyah kok mau sama bang Zap?" tanya Frizy dengan muka sok polos.
"Karena gak ada yang lain, makanya milih bang Zap."
"Oohh. Jadi gitu ya? Gituuu."
Mereka terkekeh melihat ekspresi Zafran.
"Batu es udah mencair yaa," goda Azril.
"Iyaa. Batu es yang itu udah mencair, tinggal gue belum. Naina, cairin gue dong..." ujar Keja caper.
"Gue cairin pake air panas mau?"
"Jahat!"
"Hahahahaha!"
Azril tertawa paling kencang.
"Lu mana bisa gombalin Naina. Dinding kokohnya cuma gue yang bisa ancurin," kata Azril songong.
"Sok iyaa! Gue pelet ntar si Naina mampuss luu."
"Parah sih... wahh parahh!"
Upi cengengesan.
"Kalian siap-siap, abisni jalan lagi. Abang bayar makannya dulu," Zafran pun pergi membayar.
"Bu eh kak, kakak gak marah apa kalau misalnya bang Zap sering belanjain kami?" tanya Asya.
"Nggaklah. Malah kakak seneng kalau Zafran mau belanjain kalian. Semisalnya Zafran gak mau jajanin kalian, bilang ke kakak ntar kakak yang jajanin."
"Ahayy! Enak banget punya kakak ipar royal beginii," kata Keja senang.
"Udah tau kakak iparnya royal jangan di porotin ya." Zafran tiba-tiba muncul.
"Hehehe, aman bang. Gak bakal di porotin kokk," jawab Keja cengengesan.
"Yaudah ayok lanjutt jalann."
Mereka kembali masuk ke mobil.
"Kita mo kemana lagi?" tanya Naina.
"Ngga tau juga ni ha. Kita ikutin bandar duitnya ajaa." Mobil pun kembali di kemudikan Azril, ia mengikuti kemana mobil Zafran pergi.
"Tangan kamu sakit gak, sayang?" Asya menggelengkan kepalanya sembari menggenggam tangan Arsen.
"Dalam gak gadi lukanya?" tanya Naina lagi.
"Lumayan sih. Kek ujungnya nyucuk tangan Asya," jawab Arsen.
"Harusnya sakit. Kok Asya bilang gak sakit?"
"Kan di genggam Arsen, jadinya gak sakit."
"OWASUU, DASAR BUCIN!!"
Asya tertawa kecil.
Beberapa menit setelahnya, mobil berbelok ke arah pantai.
"Keknya kalau gue dapet masalah pasti ada aja yang ngajakin ke pantai," ujar Asya.
"Karena lu happy banget kalau ke pantai. Pantai juga kan tempat healing yang bagus, makanya suka di ajak kesini biar lu gak makin depresi."
Asya tersenyum senang. "Bersyukur banget punya keluarga yang pengertian."
"Lebih bersyukur dong lu punya kembaran pengertian banget kea gue."
"Diihh dihhhh!"
"Heh kamprett!"
Asya nyengir lalu keluar mobil.
"Yeay pantai!!"
"Suka??"
"Sukaaa! Tapi rame banget yaa, ada bule jugaa."
"Sengajaaa. Siapa tau ntar nyangkut satu," kata Zafran santai.
"Nyangkut satu apaan?" tanya Aisyah sinis.
"Nyangkut satu bulenya. Bukan buat aku tapi buat Kejaa gituuu."
"Alasan itu, kak. Seratus persen alasann!"
"Diem, Frizyy!" Frizy tertawa lalu berlari ke area pantai. Yang lain pun mengikutinya. Mereka bermain bersama dan tertawa bersama.
Termasuk Asya dan Arsen yang agak terpisah.
Keduanya berada cukup jauh dari yang lain.
"Wahhh, kamu jadi pusat perhatian banyak orang yaaa."
Asya menggoda Arsen, "jadi ceritanya kamu cemburu ya, sayang?"
"Sangat sangat sangat sangat sangat cemburu," Asya tertawa.
"Harusnya kamu bangga dong, calon istri kamu yang cantik ini jadi pusat perhatian"
"Gak gak gakk, aku gak bisa berbagi."
"Bisain dong, bisa yaa aku mau pedekate tuh sama bule ganteng."
"Jangan macem-macem!!"
Asya tertawa keras lalu menjauh, "jangan macem-macem, sayaaang!!"
Asya tidak mendengarnya dan terus berjalan mundur sambil tersenyum. "Asyaaa!"
Arsen berkacak pinggang sambil melihat Asya yang sedang tertawa. "Awas kamu ya kalau ketangkep aku makan hidup-hidup."
"Hahh?! Nggakk dengerrrrr!" teriak Asya.
"Terima hukuman kamuuu kalau aku tangkap nanti!!"
"Tessss!"
Arsen pun berlari mengejar Asya, keduanya jadi lari-larian di pantai. "Nah kan dapettt kamuu!" Asya dipeluk dari belakang. "Mau hukuman apa kamu, sayang?"
"Nggak mau hukuman apaapuunnn."
"Gak acikk dong."
"Isshh," Asya merajuk.
"Yaudah aku kasi hukuman ini aja."
Arsen mengecupi pipi Asya terus menerus, "hihihi gelii sayaaangg."
"Udah udaah yaa? Gak jadi mejeng kok, gak jadiiiiii."
Arsen berhenti.
"Nah gitu dong dari tadi."
Asya tersenyum, ia menyandarkan kepala di dada bidang Arsen. "Aku ngerasa dejavu dehh."
"Dejavu?"
"Iyaa, keknya aku tu pernah mimpi scene ini. Tapi waktu di mimpi muka kamunya di sensorrr, belum layak tayang."
"HAHAHAHA!"
__ADS_1