Barbar Generation

Barbar Generation
Pencarian 2


__ADS_3

Author POV.


πŸ“ž "Assalamu'alaikum. Lu dimanaaa?!"


^^^"Wa'alaikumussalam.^^^


^^^Gue di sini, kenapa? Ada masalah?"^^^


πŸ“ž "Itu, bini lu..."


^^^"Hah?! Kenapa? Zia kenapaaa?!"^^^


πŸ“ž "Ziaa pergi dari rumah, dia bilang mau cari Asya."


^^^"IVAN ASW."^^^


πŸ“ž "Astaghfirullahalazim, kenapaaa?!"


^^^"Lu yang kenapa?! Kenapa pake nada panik?^^^


^^^Jadi nakut-nakutin gueee, tlolll."^^^


πŸ“ž "Ohh, lu kagak panik??"


^^^"Gue udah tau itu tadii. Bodyguard yang bilangg."^^^


πŸ“ž "Terusss, kok gak lu larang begeee?!"


^^^"Lu berteman sama Zia sejak dia lahir, kan? Pasti lu tau gimana ngeyelnya Ziaa. Mau lu larang dia sampe nangis darah juga gak bakal nurutt kalau udah teguh sama pilihannya. Lagi pula ini tentang Asya, gimana bisa dia diem?"^^^


πŸ“ž "Bener sii. Tapii ya gimanaa anying?! Ntar kenapa-kenapa gimana?"


^^^"Gue tauu lu pada panik. Tenang aja, Zia bisa segalanya, Zia juga bisa ngontrol diri kok. Gue juga udah nyuruh beberapa bodyguard buat jaga dia."^^^


πŸ“ž "Lu gak khawatir gitu?"


^^^"Pertanyaan macam apa sih ini? Ya jelas khawatir lahh! Tapi mau gimana lagi, dia di larang juga susaahh."^^^


πŸ“ž "Hmm. Terus sekarang lu dimana?"


^^^"Di sini. Lu pada masih di rumah gue?"^^^


πŸ“ž "Iya."


^^^"Ada Samuel, kan? Kasih hp lu ke dia dong."^^^


πŸ“ž "Bentar."


πŸ“ž "........"


πŸ“ž "Gue Sam, ngapee?"


^^^"Lu, Qiara sama Shaka lanjutin perjalanan ke Amerika aja gih. Masalah ini biar gue yang urus."^^^


πŸ“ž "Gak bisaa, Ka. Shaka gak bakal mau di ajak dan gue juga gak mau pergi sebelum tau kabar Asya. Asya tu udah gue anggep ponakan gue sendiri."


^^^Aska tertegun.^^^


^^^"Yaudah kalau gitu, lu bawa anak-anak pulang aja. Istirahat dulu."^^^


πŸ“ž "Ntar."


^^^"Ojo bandel di bilangin, bawa anak-anak pulang.^^^


^^^Gue gak mau mereka kecapekan."^^^


πŸ“ž "Bawel kek emak-emak komplek. Btw, istri luuβ€”"


^^^"I know."^^^


^^^"Udah yyy. Lu bawa anak-anak istirahat, harus istirahat. Di rumah gue juga gapapa yang penting istirahat!"^^^


πŸ“ž "Iyaa."


^^^"Yaudah gue matiin. Assalamu'alaikum."^^^


Setelah mendengar jawaban salam Samuel, Aska mematikan panggilannya.


Kini Aska menoleh ke arah Arsen yang memucat. Terlihat seperti orang kelelahan.


"Sen, kamu balik sana."


"Nggak deh, om."


"Kenapa gak mau nurut sih? Kamu tu udah pucet bangett. Pulang, yaa. Om sama bodyguard bakal keliling di sekitar sini."


"Arsen gapapa kokk. Ayok keliling, Arsen ikut."


Arsen berusaha terlihat ceria di mata Aska.


Aska gak bisa berkata-kata lagi, mau tak mau dia membiarkan Arsen ikut keliling.


Aska pergi menghampiri bodyguardnya.


"Kita bakal keliling di area hutan. Kalian mencar, cari ke seluruh hutan."


"Baik, boss."


Tiga bodyguard yang di bawa Aska langsung pergi ke hutan.


Aska sendiri kembali mendekati Arsen.


"Kamu beneran gapapa?"


"Iyaa, Arsen gapapa. Tapi om, om ada obat sakit kepala gak? Nggak tau kenapa Arsen pusing."


"Bentar."


Aska pergi ke mobilnya, mengambil obat sakit kepala sekalian membawa air mineral untuk Arsen.


"Inii."


"Makasih, om."


Arsen meminum obatnya.


"Alhamdulillah. Ayok cari lagi, om." Arsen mendahului Aska, ia masuk ke hutan. Aska pun menyusulnya.


Cukup lama berkeliling. Tanda-tanda apapun itu gak kelihatan. Tapi tiba-tiba, mereka melihat ada seorang wanita yang mirip Adinda lewat di depan.


"Omm."


"Ayok!"


Aska dan Arsen pergi mengikutinya.


"Dindaa. Woii, Dinda!" Teriak Arsen.


"Hey, Adinda!"


Piuuuu~


Suara aneh muncul ntah dari mana. Aska dan Arsen melihat sekeliling, namun tidak ada apa pun di sana. Sumber suara juga tidak jelas dari arah mana.


Tersadar akan wanita tadi, mereka berdua kembali melihat wanita itu. Dan ternyata, hilang.


"Itu tadi beneran Adinda?" Tanya Aska.


"Dari bentukannya mirip Adinda, om. Tapi gak tau juβ€”"


Dorr!


"Suara tembakan?"


Aska dan Arsen berlari ke sumber suara.


Tujuh menit berkeliling mencari, akhirnya mereka menemukan sumber suara itu.


Terlihat dua bodyguard Asz tergeletak di tanah penuh darah.


"Om..?" Aska menghela nafas.


Beberapa bodyguard yang terjun ke lapangan adalah bodyguard junior. Bodyguard yang baru Aska rekrut. Aska memaklumi mereka karena masih baru dan masih amatiran.


"Anggota satu lagi di manaa?!" Tanya Aska.


"S-satu lagi ngejar pelaku, boss."


"Arah mana??" Tanya Arsen gantian.


Bodyguard menunjuk arah utara.


"Sen, gak usah di susul."


"Kenβ€” itu dia."


"Maaf, boss. Saya kehilangan jejak." Katanya sambil menunduk.

__ADS_1


"Gak masalah. Bantu saya bawa dua rekan kamu."


Aska, Arsen dan satu bodyguard itu bantu memapah pria yang tertembak. Membawanya ke mobil lalu pergi ke rumah sakit terdekat atas suruhan Aska.


Aska dan Arsen masih tertinggal di sana.


"Sen, istirahat dulu kamu. Nanti kita lanjut carii." Perintah Aska.


"Iya, om." Arsen berjalan ke mobil nya.


Tepat di samping pintu mobil, Arsen merasakan ada sesuatu yang janggal.


Aska yang melihat Arsen berhenti, menatapnya keheranan. "Kenapa, Sen?"


Arsen tersenyum ke arah Aska.


"Kamu kenapa senyum-senyum sendirii?"


Arsen mendekati calon mertuanya. "Jauh di belakang om, tepatnya di arah jam dua belas Arsen rasa ada orang."


Mendengar itu, Aska tersenyum smirk.


"Pake pistol?"


"No nooo. Ada panah, om?"


"Ntar kalau yang kena panah dadanya gimana?"


"Ya mending kepalanya, kalau kepalanya apa nggak mantep?" Aska tertawa kecil.


Mereka berdua saling tatap tipis-tipis sambil tersenyum smirk. "Pake pistol aja, deal?"


"Sah."


Mereka berbincang basa-basi terlebih dahulu.


Dor!


Dor!


Tepat tiga menit setelahnya, peluru lepas landas.


Aska dan Arsen mengejar orang yang berusaha lari itu. Tapi ya sia-sia, dua tembakan tadi mengenai kaki dan tangannya.


Aska tertawa sinis.


"Mau kabur? Gak bakal bisaa!"


Pria itu diam, pasrah dengan keadaan.


"Mari kita eksekusiiiii!"


β—•β—•β—•


16.37, ruang bawah tanah Asz.


"Udah di tembak, di obati pulaa. Konsep lu begimane?" Tanya Zean mengsinis.


Aska tertawa kecil, "pake konsep yang asoy. Di obati sampe dia seneng, ntar ketika dia senang and bahagia langsung penggal kepalanya pake pedang. Ahhh, mantap. Nikmat Tuhan mana lagi yang kau dustakan?"


Seketika Zean dan Febby takut melihat iparnya.


"Kamu manusia kan, Aska?" Tanya Febby.


Aska tertawa lagi, "manusia normal."


"Assalamu'alaikum. Belum sadar?" Arsen masuk ke dalam ruangan itu.


"Eee busett, mantep asal nyelonong." Sindir Zean.


"Udah gue suruh masuk tadi. Kagak usah su'udzon lu!" Zean berohria.


"Oiya, wa'alaikumussalam. Peluru aja baru keluar, boro-boro sadar."


Arsen duduk di sebelah Aska.


"Ini orang kira-kira siapa ya, omm?"


"Mata-mata agaknya. Kalau nggak ngapain ngintip?" Tanya Aska balik.


"Tapi kalau menurut gue sih, ini salah satu anggota yang ngintipin lu." Kata Zean.


"Diam kau, bang, diam! Gak ada bedanya itu sama mata-mataa. Gue colok juga ntar mata lu!"


Zean cengengesan.


"Zia udah di rumah, kak. Abis gue gertak, alhamdulillah nurut."


"Gertak apaan lu?" Tanya Zean penasaran.


"Gue suruh diem di rumah aja atau ntar start jam delapan malem sampe subuh." Jawab Aska santai.


"Gilaa! Nyiksa adek gue ape gimana, goblokkk?!" Aska tertawa.


"Tapi keknya manjur ya, om. Besok Arsen cobain gitu deh," kata Arsen polos.


"Heh, ini hanya untuk makhluk yang berpengalaman."


Aska tertawa lagi mendengar perkataan Zean.


"Btw, Arsen agak pucet tuh." Kata Zean.


Febby langsung melihat Arsen, ternyata beneran pucat. "Arsen udah makan?"


"Udah, tante."


"Makan apa?"


"Rotiii."


"Bandelnya. Tadi kan om suruh makan nasi!" Omel Aska.


"Nanti Arsen makan nasi kalau laper banget, ommm."


Aska menghela nafas dengarnya.


"Sen..."


"Iyaa, tanβ€” te? Arsen makan sekarang. Makan nasi," Arsen pergi keluar untuk makan.


Febby, Zean dan Aska tertawa melihat ekspresi ketakutan Arsen ketika melihat Febby menunjukkan jarum suntik.


Arsen emang agak serem liat jarum suntik.


Ujungnya yang tajem.. terus ntar di tusukkan ke kulit. Aaa! Itu menakutkan.


Kurang lebih seperti ini yang Arsen pikirkan.


"Bang, lu bisa jaga di sini dulu? Bentaran ajaa."


"Lu mau kemana?" Tanya Zean.


"Pulang bentar. Mantau Ziaa, ntar dia malah cabutt. Sekalian mastiin Arsen makan."


"Hiya-hiyaaa. Papa mertua idaman niii. Calon mantu aja di perhatiin segitunya." Ledek Zean sambil tertawa.


Aska cengengesan, "dia bebal di bilangin. Ntar kalau gak makan malah sakit pula."


"Yaudah iya sanaa. Pastiin juga adek gue makan." Kata Zean.


"Itu dah pastilah. Oiya bang, lu jangan kasih tau papa mama ataupun papi mami, ya? Di keluarga cuma abang sama Kak Febby yang tau."


"Kenapa gak di kasih tau sama yang lain?" Tanya Febby.


"Nanti agak runyam, pada heboh. Lagi pula yang bantu nyari udah bejibun."


"Ooo begitu. Yaudah gak bakal di kasih tau. Tapi itu gak menutup kemungkinan mereka untuk tau, karena mereka juga punya utusan buat mantau."


"Iya. Gue tau ituu sii." Jawab Aska.


"Yaudah sanaa. Ntar kalau ni orang bangun gue kabarin lu."


Aska tersenyum tipis lalu pergi.


Udah ngucap salam juga yyy.


Di luar, Aska melihat Arsen yang sedang bermain ponsel. Aska mendatanginya, "heh heh! Om suruh makan nasi, kenapa malah main ponsel di sini?"


"Eh om. Ini tu Arsen lagi cari olahan nasi yang bisa di go food-in."


"Alah lamaa laah. Ayok ikut om!" Ajak Aska paksa sambil menarik tangan Arsen.


Arsen terikut.


"Lah mau kemana, om?? Itu yang di dalam?"


"Ada Om Ze sama Tante Febby, gak usah khawatir."

__ADS_1


Aska mendorong Arsen masuk mobil, setelah masuk, Aska pindah ke kursi pengemudi.


"Kamu mau makan apa?"


"Nasi.. goreng?"


"Yakin?" Arsen mengangguk.


"Okeee."


Aska mulai menjalankan mobil. Vibesnya beneran beda, ini berasa mertua dan mantunya yang kompak.


"Orang yang tadi tau Asya gak ya, om? Ntar kalau nyatanya dia gak tau gimana??"


"Alasan om manggil dokter buat ngobatin dia ya karena itu tadi. Kalau nyatanya emang gak tau kan, jelasnya om udah bayarin pengobatan. Om juga bakal kasih uang tunai lah buat ganti rugi."


"Widihhh, harus begitu om??"


"Gak juga, tapi ya kalau ada kejadian yang sama bakal gitu." Jawab Aska.


"Kerennn sii. Asya pasti bangga banget nih punya papa kece begini." Puji Arsen sambil tersenyum.


Aska sendiri tersenyum tipis.


"Mungkin nggak. Karena om, dia ngilang sekarang."


"Gak usah nyalahin di sendiri, om. Masih banyak yang bisa di salahkan kok. Example, stang bulat ituu."


Aska tertawa mendengarnya.


"Ntar om nyalahin baut aja deh." Arsen ikut tertawa.


"Ini dari tadi tukang nasi goreng tutup semua. Om masakin aja di rumah mau?"


"Om bisa masak?"


"Bisaa dongg."


"Hahayy, kirain nggak. Nanti biar Arsen aja yang masak, om. Arsen juga bisa masak kokkk."


"Alah gak usah. Biar om aja yang masak, kamu gabung sama yang lain."


"Pembantu aja kalau nggak, ommm."


"Om aja. Ntar sekalian masakin tante muu."


"Kalau gitu yaa terserah, Arsen manut."


"Okee, kita pulang. Om bakal masakin untuk calon mantu."


"Amboiii. Arsen ngefly!" Aska tertawa geli melihatnya.


Usai berbalik arah, Aska menancap gas mobilnya.


Hanya butuh waktu beberapa menit, mereka berdua tiba di rumah Aska.


"Assalamu'alaikum."


Kata Aska dan Arsen bersamaan.


"Wa'alaikumussalam. Gimana? Udah tau di mana Asya??" Tanya Zia langsung mendekati suaminya.


Bukannya menjawab, Aska malah memeluk erat Zia. Zia memberontak karena kesal.


"Jawab ishh!!" Omel Zia sambul melepas pelukan.


"Kamu udah makan? Mau aku buatin apa?"


"Askaa. Aku gak mau bercanda sekarang!!"


"Aku gak bercanda, sayang. Kan aku nanya kamu udah makan atau belum."


"Gak tay ah, maless." Zia menjauh dari Aska dan duduk di sofa.


Melihat Zia makin kesal, Aska menghampirinya dan berlutut di depan Zia.


"Apaa?!"


Aska senyum tipis.


Tapi lama kelamaan senyumnya berubah menjadi... senyuman misterius.


Aska langsung menggendong Zia layaknya karung beras. Tak perduli dengan pemberontakan Zia, Aska tetap menggendongnya menuju kamar.


Di ruang keluarga, para junior itu menutup mata. Kurang sanggup melihat romansa gelut Aska dan Zia.


"Edan. Btw, lu dari mana aja?" Tanya Alvin pada Arsen.


"Nyarii keliling. Zrill, plat mobil yang gue bilang gimana?"


"Palsu anjirrr."


Arsen menghela nafas panjang, "licik banget otaknya."


"Lu udah nyari dari semalam, mending lu istirahat." Titah Shaka.


"Bener kata Shaka, mending lu istirahat. Ntar kita yang lanjutin."


"Gue udah istirahat tadi. Tenang ajaa." Jawab Arsen santai, tangannya meraih buah yang ada di meja lalu memakannya.


"Tapi menurut gue gak gitu." Kata Ara mewakili.


Arsen melihat Ara, "gue udah istirahat."


"Kenapa lu se-gigih itu nyari Asya??"


Arsen menghentikan kunyahannya.


"Bagi gue, kehilangan Asya sama halnya seperti kehilangan diri gue sendiri."


β—•β—•β—•


Malam pun tiba.


Hampir dua puluh empat jam, Aska serombongan belum menemukan tanda-tanda keberadaan Asya.


Pria yang tertangkap tadi hanyalah pria yang tersesat. Ia dari desa dan lari ke kota demi menyelamatkan diri dari hutang.


Dan itu sudah terbukti benar.


Karena rasa bersalah Aska, Aska pun membantu pria itu melunaskan hutangnya dan membebaskan pria itu dari sandraannya.


"Demi apapun, gue bingung. Asya kemanaa sebenernya?!" Tanya Ivan sedikit depresot.


"Huft. Gue cuma berharap, gak ada setetes pun darah keluar dari tubuhnya."


"Udah hampir dua puluh empat jam, gak ada niat buat lapor polisi?" Tanya Samuel.


"Sam, teman-teman Asya sepuluh orang, terus gue sama lu pada laki bini sepuluh orang juga, di tambah bodyguard gue yang bejibun itu aja masih gak nemuin. Apalagi polisii?" Kata Aska.


"Bisa aja polisi punya trik tersendiri." Sahut Dimas.


"Lagi pula, bodyguard lu lembek semua. Macem pisang busuk," cibir Jimmy.


"Bener tu. Klemak-klemekk."


"Yaa mau gimana lagi anjiirr? Bodyguard yang di sini junior semuaa, yang senior lagi liburann. Ya kali gue ganggu waktu liburannya."


"Kerjaan tetap kerjaan."


"Gue sendiri tau gimana gak enaknya di panggil pas lagi liburan. Bener-bener gangguu. Toh juga mereka jarang liburann."


"Bener juga sii. Teruss ini gimanaa sekarang?! Masih gak mau manggil polisi?"


"Udah tenang dulu. Tadi gue udah nyuruh bodyguard buat mantau area yang gue sama Arsen datangi."


"Gue gak bisa tenang ya, syialann!"


"Apalagi gue, suuu. Gue bapaknya!"


Samuel auto terdiam.


"Hm. Jadi penasaran, apakah bapak-bapak di sini suka gelut waktu SMA?" Tanya Alvin mengalihkan topik.


"Gak suka berantem sama hewan, jadinya jarang berantem." Jawab Aska.


"Aska goblokkk!"


Mereka tertawa mendengarnya.


"Permisi, boss. Maaf mengganggu waktunya."


Bodyguard Aska datang.


"Ada berita apa?" Tanya Aska.


"Tim kami berhasil menggerebek rumah yang ada di tengah hutan itu. Dan ternyataa...β€”"

__ADS_1


__ADS_2