
"Om.. omm.."
"Enghh?"
"Bangunn, sholat subuh." Darren membuka mata lalu meregangkan tubuhnya.
"Encok ya tidur disofa?"
"Maklum sih, faktor u." Ledek Asya sambil berjalan pergi, Darren yang kesal menarik tangannya.
Asya terjatuh dipangkuan Darren.
"Ngomong apa tadi?"
"Faktor u!"
"U apa?"
"Undang-undang." Darren tertawa.
"Lepasinnn! Bukan mahram."
"Mau di mahramin?"
Asya memberontak, ia berhasil keluar.
"Ngomong apaan siii? Ngelindurr??"
Darren menggeleng sambil tertawa. "Tadi katanya bukan mahram, jadi mau di mahramin? Kalau udah mahram kan bisa—"
"Stop! Bisa zina pikirann. Sudahi halumu cepat mandi dan sholat subuh!" Asya langsung pergi meninggalkan Darren.
Darren sendiri menatap kepergian Asya dengan senyuman. "Makin kesini makin pengen halalin kamu, Syaa."
◕◕
06.38, rumah utama.
Berjam-jam sudah terlewati.
Aska, Arsen dan yang lain tidak ada yang tenang karena belum menemukan kabar Asya.
Mereka sudah mencoba untuk tidur, tapi ketika bangun, mereka masih tidak tenang.
"Gimanaa kabar Asya, Ka?" Zean dan Zai datang.
"Masih gak ada kabar, bangg." Jawab Aska lesu.
"Udah coba lacakk??"
"Udahh, handphone Asya ketemu di area pantai. Tempatnya udah di gerebek, Asya tetap gak ada disana."
"Check cctv area pantai, udah bang?" Tanya Zai gantian.
"Udahh. Tanda-tanda Asya disana juga gak adaa."
"Nyari ke tempat fav nya Asyaa?"
Mereka hanya mengangguk.
"Dah, diem. Gak usah banyak tanyaa!" Omel Febby yang keluar mengambil minum.
"Zia mana, dek?" Tanya Zean pada sangat istri.
"Zia istirahat."
"Kak Zia ngedrop??"
Febby menggeleng.
"Cuma kurang vitamin sama kurang semangat ajaa."
"AGHHH!!" Aska frustasi.
"Ka, tenangg."
"Gimanaa Aska bisa tenangg, bangg, gimanaaa?! Kalau gini terus, Zia bisa ngedrop benerann."
"Pikirin pake kepala dingin. Gak usah emosi gitu! Mau abang jedutin ke dinding kepala mu biar tenang?" Aska terdiam.
"Siapa musuh musuh mu?" Tanya Zean.
"Banyakk."
"Yang paling berani bertindak?"
"Musuh dari Jepang."
Arsen menoleh ke arah Aska.
"Musuh dari Jepang?"
"Whyy?" Tanya Azril.
"Om Aska punya nomornya??"
"Keknya Rafael punya. Kenapa, Sen??" Tanya Aska gantian.
"Kalau misalnya kita telpon, kan bisa dilacak keberadaannya. Kita belum coba itu tadii."
"Okee, ayok test!"
◕◕◕
"Selamat pagiii, kakak cantikk!!"
"Pagi juga, Dave gantengg."
Dave tersenyum senang mendengarnya.
"Dave pengen peluk kakak cantikk, boleh gakk?" Asya jongkok lalu merentangkan tangannya.
Dave langsung berhambur ke pelukan Asya.
"Kakak cantik jangan pergi dulu, yaa! Tunggu Dave pulang sekolah baru boleh pergii!!"
"Lohh? Gak boleh gitu, Davee. Kakak cantik udah dicariin tauu." Sahut Darren.
"Ishh, tapii.. Dave gak mauu kakak cantik pulangg, paaa!"
"Kakak cantik pulang duluu, nanti kalau kangen kakak cantik kita samperin, okee?"
"Iyaa, okee. Tapii sekarang jangan pulang duluuuuu. Tunggu Dave pulang sekolah, yaaa? Yaaa, kak, yaaaaa?" Mata Dave berkaca-kaca.
Jujur, Asya tidak tega melihatnya. Terlebih lagi, Dave menggemaskan saat ini.
"Yaudah iyaa, kakak gak pulang. Kakak tunggu Dave pulang sekolah baru pulang kerumahh."
"Promisee?" Dave mengangkat kelingkingnya.
"Iya, promise." Asya menyatukan kelingkingnya dan kelingking Dave.
"Udahh ya, nakk. Sekarang sarapan duluu, nanti lagii."
Dave mengangguk patuh, dibantu Asya ia duduk di kursi lalu memakan masakan buatan Asya.
"Dave mau bawa bekal?"
"Kakak buatin Dave bekall?"
"Kalau kamu mau, kakak buatin."
"Mau mauuuuu."
Asya tersenyum mendengarnya.
"Duduk Asyaa, sarapan dulu kamu. Dave nanti nanti ajaa." Omel Darren.
"Asya udah sarapan tadi."
"Kapan? Saya gak mau kamu kecapekan terus sakit, yaa. Ntaran aja buatin Dave bekall, lagian belum tentu Dave makan."
"Papa kok gitu siii? Papa iri pastii!" Jawab Dave kesal.
"Iri darimanaa? Waktu kamu sekolah nanti papa bisa minta kakak cantik buat masak makanan. Wlee!"
"Ish, papaa liciikk!! Kakak cantik gak usah masakin papaa. Biarin aja papa makan nasi kucingg!"
"Loh, loh, kok gituu? Gak dikasih jajan, yaa?"
"Gapapaaa, nanti minta uncle."
"Yaudah, papa gak mau kasih jajan terus gak mau kasih susu teruss." Balas Dareen.
"Okee, gapapaa."
Asya tertawa melihat keduanya, "udah udahh. Sama sama makan atau kakak buang makanannya?"
"Kenapa dibuang??" Tanya Dave dan Darren kompak.
"Makanya akurrr dongg. Dave minta maaf sama papa, papa minta maaf sama Dave."
"Gak mauuu, kakkk. Papa licikk, biarin aja kasi nasi kucingg."
"Davee, gak boleh gitu tauu. Kalau Dave gak mau damai sama papa, kakak gak mau ketemu Dave lagi."
Dave langsung berdiri dan menghampiri papanya.
"Dave minta maaf ya, papa. Dave salah. Dave minta maaf."
Menggemaskannn!!
"Ikhlas gakk?" Tanya Darren.
"Ikhlass itu apa, paaa?"
"Ikhlas itu tuluss, Dave tuluss gak?" Tanya Asya gantian.
"Tulus itu apa, kak?"
Darren tertawa melihat Asya kebingungan.
"Tanya sama bu guru aja nanti, ya?"
"Iyaa, paa." Darren tersenyum.
"Papa gak minta maaf sama Dave?"
"Kan papa gak salah." Jawab Darren santai.
"Kakak cantikkkk, papa gak mau minta maaaffff." Adu Dave.
"Papa minta maaff." Titah Asya.
"Iya bunda iyaa."
What the—
'Ginian doang baperrrr ahh. Asya apaan siii?!' batin Asya memberontak.
"Papa minta maaff. Dave maafin papa?" Dave mengangguk.
"Yaudah kalau gituu ayok ke sekolahh." Ajak Darren.
"Bekalnya?" Tanya Asya.
"Gak usahh, Dave pulang cepet kok harini." Asya berohria.
"Dave mauu papa anterin atau dianterin uncle?"
"Uncle. Kalau dianterin papa nanti Dave mabokk!" Darren tertawa kecil.
"Pake tasnya, uncle udah nunggu didepan." Dave mengambil tas.
Tangan kanannya menggenggam tangan Asya dan tangan kirinya menggenggam tangan Darren. Dave mengajak keduanya keluar.
"Salam, paa." Dave menyalami tangan Darren dan Asya.
"Papa jangan macem-macem ya sama kakak cantik. Kalau macem-macem nanti Dave tembak!!" Darren tertawa sambil mengangguk.
"Bye bye, Davee!" Dave melambaikan tangan dari dalam mobil.
__ADS_1
"Kakak jangan pulang!!" Asya mengangguk.
"Hati-hati." Ceramah Darren pada sekretarisnya.
"Ne, hyungnim."
Sekretarisnya menghidupkan mobil.
"Eh iyaa, hyungnim sama Asya cocok tau. Saya doain segera nikah." Setelah berkata seperti itu sekretarisnya pergi.
"Minta dipecat emang manusia satu itu!" Asya tertawa kecil, ia memilih masuk duluan.
"Asya bingung laaa, kenapa mansionnya ditengah hutan ginii. Jauh dari pemukiman wargaa pulaa."
"Saya gak suka keramaian." Jawab Darren sambil mengikuti Asya.
"Teruss, butuh berapa jam ke sekolah Dave?" Tanya Asya lagi.
"Sejam doang. Dave sekolah di pedesaan."
"Kenapa gak di kota?"
"Takutnya Dave kenapa-kenapa, musuh saya kan banyakk." Asya berohria.
"Dave gak kesepian, yaa? Asya masih disini beberapa jam aja udah ngerasain sepi."
"Dave mainnya sama anaknya bibi, sama sekretaris saya kadang juga main sama sayaa. Jadi dia gak terlalu kesepian." Asya mengangguk paham.
"Kamu beneran nunggu Dave pulang?"
"Iyalah, kan udah janji. Om gak kerja??"
"Om lagi om lagii. Tua banget emang muka saya??"
Asya tertawa, "nggak juga sii. Tapikan udah kebiasaan panggil om."
"Makanya dibiasain lagi manggil sayang. Kalau nggak, papa aja kek tadi."
"Apaan sii?" Dareen gantian tertawa melihatnya.
"Saya kerja dirumahh."
"Kenapa gitu?" Tanya Asya.
"Karenaa ada kamu lah. Yakali kamu saya tinggal sendiri disinii, kesepian yang ada." Asya berohria.
"Btw, makasih ya, om. Om udah tolongin Asya kemarinn." Darren mengangguk sambil tersenyum.
"Asya mau tanyaa sesuatu sama om."
"Tanya ajaa."
"Tunggu." Asya membawa piring ke wastafel.
"Gak usah dicuciii, biar saya aja nanti." Ujar Darren.
"Emang om bisa nyuci?"
"Bisaa lahh."
"Masa iyaaa?"
"Yaudah awas, biar saya cuci." Asya tertawa kecil.
"Kamu duduk aja sana, ini biar saya yang cuci."
Asya pun kembali ke tempat duduknya dan memperhatikan Darren yang sedang mencuci piring.
"Kamu mau nanya apa tadi?"
"Oh iyaa. Maaf lancang nanya beginii, tapi Asya penasaran."
"Tentang apa?"
"Ibunya Dave."
Gerakan tangan Darren berhenti.
"Ibunya Dave kemana? Asya gak ada liat dari semalam."
"Dave gak punya ibu."
Jawab Darren sambil melanjutkan cuciannya.
"Impossible, om. Setiap anak pasti punya ibuu."
"Pengecualian untuk Dave. Dave gak punya."
Asya terdiam, masih bingung dengan maksud Darren.
"Om ditinggal selingkuh ya, makanya sekesal itu sama mamanya Dave?"
Darren menoleh ke arah Asya lalu tertawa.
"Kenapa ketawa?"
Darren mencuci tangannya, ia mendekat dan mencubit pipi Asya. Setelahnya Darren keruang keluarga, "saya belum nikah, Asya. Dave bukan anak kandung saya."
"Hah???"
Asya menyusul Darren.
"Maksudnya gimana?? Jadi Dave anak siapa?"
"Saya juga gak tau Dave anak siapa. Saya temuin Dave di depan pintu mansion."
"Teruss??"
"Terus apalagi? Ya sayaa rawat Dave, saya jaga Dave, saya kasih nama dan marga keluarga saya."
"Om rawat sendiri, tanpa bantuan??"
"Sesekali mama saya kesini buat bantu."
"Ooo, gituu ternyataa."
"Jadi kamu fikir saya duda? Duda anak satu?"
"Iyaaa."
"Tapikan om udah tua. Hampir kepala tiga kann?"
"Masih dua puluh tujuh, Asyaa. Jangan ditambahh!" Asya tertawa.
"Om beneran gak tauu, Dave anak siapaa??"
"Kalau tau saya kasih Dave ke ibunya."
"Eumm.. iya juga sih. Eh, tapi mirip tau sama om. Bisa aja itu anak omm!"
"Darimana asalnya bisa jadi anak saya??"
"Yaa siapa taukan om nganu sama orang gituuu, terusss ya gituu."
Darren tertawa mendengarnya.
"Saya gak pernah main kuda sama siapapun."
"Seriously?"
"Hmm. Jujur, saya punya sugar baby dan niatnya untuk muasin nafsu saya. Tapi sampe sekarang juga saya belum ada main sama dia."
"Terus ngapain punya subyyy?! Pea kadang."
"Apaa?" Darren menatapnya sinis.
"Peaaa!"
"Heh dasarr!"
Darren mendekati Asya dan menggelitikinya.
Asya kegelian sambil tertawa kecil. "Ampunn, om, ampunnn. Ampun dahh." Darren berhenti.
"Main main sih sama sayaa." Asya cengengesan.
"Berartii om masih perjaka, yaa?"
"Iyaa, kenapa emang?"
"Asya gak yakin sihh. Masa iya masi perjaka? Impossible."
"Ngeyell. Saya gak pernah main sama jalanggg."
"Why?"
"Karena gak mau."
Asya menatap sinis Darren.
"Oke, skip."
"Walaupun bukan anak kandung saya, saya sayang banget sama Dave. Semenjak ada Dave waktu itu, hidup saya sedikit lebih berwarna."
"Alhamdulillah kalau gitu. Dave penolong om, om penolong Dave." Darren tersenyum mendengarnya.
"Dave gak tauu tentang ini?"
"Belum, mungkin nanti kalau Dave gede baru saya kasih tau." Asya berohria.
"Kamu jangan terlalu manjain Dave kek tadii. Takutnya Dave bakal ketergantungan sama kamu, ngelarang kamu pergi sampe minta yang aneh-aneh kea kemaren."
"Minta apa?"
"Minta kamu jadi bundanyaa. Emang kamu mauu? Kalau kamu mauu, ayook ke KUA."
"Ngaco bangettt." Darren cengengesan.
"Kalau Dave tanya bundanya kemana, om jawab apa?"
"Saya jawab, bunda kamu lagi didalam tanah dan gak bisa keluar lagi."
"Wahh, terus reaksi Dave?"
"Yaa dia sedihh dengernya, tapi setelah itu saya kasih susu yang dia suka."
"Dave cuma sekali itu tanya, abistu gak pernah tanya lagi."
"Sedih yaa, dia dibuang sama ibunya. Untung ketemu om yang baik. Walaupun Asya gak yakin om baik."
Darren tertawa kecil, "iyaa. Saya emang bukan orang yang terlalu baik. Jadi jangan macem-macem sama saya."
"Eeelehhh, kek betul ajaa." Mereka berdua tertawa.
"Dave punya temen disekolah?"
"Banyakk. Dave sering cerita dan sekretaris saya juga selalu bilang kalau Dave diperlakukan dengan baik. Jadi saya sedikit tenang kalau dia di sekolah."
"Dave tau nggak, kalau om punya subyy?"
"Tauu, Dave manggilnya tante."
"Udah tuaa?"
"Nggak juga sii."
"Siapaa emangg?"
"Penasaran kamu?" Asya mengangguk.
"Biasa saya panggil Gebby."
"Gebby??"
"ASSALAMU'ALAIKUM, OOMM DARREEEEENN."
Darren terpaku mendengar suara ini.
Asya sendiri merasa suara ini sedikit familiar.
"OM DIMANA? RUANG KELUARGA? OKE."
__ADS_1
Wanita itu pun muncul.
"A-Asya?"
"Adinda??"
Asya tersenyum smirk.
"Om, inii suby-nyaa?" Darren menatap Asya dengan senyuman kemudian mengangguk pelan.
"HAHAHAHA." Asya menghampiri Adinda.
"Ah iyaa yaa, Adinda Gebby Callista. Lawak pulaaa, lu dulu ngefitnah gue kalau gue sugar baby. Tapi nyatanya, lu yang jadi sugar baby. HAHAHAA."
Plak!!
Asya ditampar.
"APA APAAN KAMU GEBBY?!"
Darren bertindak.
"O-om kenapa belain diaa?!"
"Jadi? Saya harus belain iblis seperti kamu?" Adinda terdiam, ia tak bisa berkata-kata lagi.
"Sakit, Sya??"
Asya menggeleng pelan. Ia sedikit terkejut melihat wajah Darren yang khawatir. Darren berdiri dan membantu Asya berdiri.
Plak!
Darren membalas tamparan.
"Puas? Keluar dari mansion saya sekarang!!"
"T-tapi, om.."
"Pergii!!"
"Pergi sendiri atau saya panggil security??!"
Tanpa sepatah kata Adinda beranjak pergi.
"Saya minta maaf, Asyaa. Pipi kamu merah karena tamparan Gebby. Pasti sakit, yaa?"
Ekspresi Darren benar-benar menunjukkan rasa bersalah. Ia mengelus wajah Asya habis ditampar.
"Ehm.. gapapa kok, om." Asya menjauhkan tangan Darren dan menjauhkan tubuhnya dari Darren.
"Saya minta maaff, benar-benar minta maaf."
Asya tersenyum tipis, "bukan salah om kok. Gak perlu minta maaf."
"Maaff, sekali lagi saya minta maaff." Darren membungkukkan badannya.
Asya mendekat dan menyuruh Darren menegakkan badannya. "Om gak salah. Om gak perlu minta maaf, udah yaaa."
Darren menatap Asya, "pasti sakit ya tamparannyaa? Pipi kamu merahh."
"Gapapa kok, omm. Gapapaaa. Btw, kok Adinda bisa jadi suby-nyaa, om?" Asya mengalihkan pembicaraan sambil kembali ke sofa.
"Panjang ceritanyaa, waktu itu dia yang menawarkan diri."
"Kata om tadi belum diapa-apain, kan? Teruss untuk apa jadi suby, om?" Asya masih bingung dengan situasinya.
"Yaa, setidaknya saya punya wanita untuk ngelakuin yang saya gak bisa. Tapi sekarang saya bosan karena dia cuma bisa minta uang."
"Kenapa sugar baby? Kan bisa ajaa carinya istrii."
"Ya mau gimana lagii? Saya nunggu kamu gedee dulu biar bisa dijadiin istrii."
"Apaan cobaa? Ngawurrr mulukkk!" Darren tertawa kecil.
"Kamu mau coklat? Saya beli kemaren, tapi saya sembunyikan dari Dave karena takut giginya sakit."
"Mana coklatnya?"
"Bentar, yaa." Darren pergi ke dapur dan mengambil coklat.
Ngomongin coklat, Asya jadi teringat dengan coklat pemberian teman-temannya. Coklat diatas kasur yang belum ia makan sama sekali.
Asya berfikir, pasti mereka teramat sangat khawatir karena belum bisa nemuin Asya sekarang.
"Syaa."
Darren datang sambil menyodorkan coklat, Asya menerimanya.
"Makasih, omm."
Darren tersenyum, ia mengacak pucuk rambut Asya karena gemas. "Sama-samaa."
"Ohiya, kamu harus hati-hati sama Gebby."
Asya menatap heran Darren.
"Kenapa, om??"
"Kemarinn, sebelum saya pulang ke mansion, saya ketemu sama Gebby di kafe. Gebby minta saya untuk balas dendam ke kamu karena kamu udah permalukan dia di muka umum."
"Jadii?? Om mau balasin dendamnya?"
"Saya cuma mengiyakan ajaa. Saya gak bakal mau balasin dendamnya."
"Whyy?"
"Gimana saya mau balas dendam, kalau korbannya itu kamu??"
"Memangnya kenapa kalau saya, om??"
"Eumm.. saya tanya balik deh, kamu bisa balas dendam ke orang yang kamu suka?"
◕◕◕
Tepat pukul setengah sebelas pagi, Darren mengantar Asya keluar dari zona markasnya. Dave juga ikut mengantar Asya.
Hanya tinggal sepuluh menit lagi, mereka akan tiba di rumah utama.
"Hyungnim siap? Bisa ajaa kekacauan terjadi nanti."
Darren tersenyum tipis, "kekacauan apapun bakal saya urus nanti."
Di sisi lain, Aska sudah benar-benar hampir gila karena kehilangan Asya. Begitu juga Arsen, bahkan ia belum ada makan karena terus memikirkan Asya.
"Coba ajaa bisa dilacakk keberadaan musuh Jepangnya, pasti Asya udah ketemuu." Ujar Alvin.
"Lebih tepatnya gini. Coba aja kita gak lengah, Asya gak bakal ilang sampe sekarang." Sahut Arsen masih diliputi rasa bersalah.
"Masihh ngerasa kalau ini salah kamu?" Tanya Aska.
"Iya, om."
"Jangan salahin dirimu, salahin omm. Asya hilang karena musuh om, musuh om ada karena om. Jadi salahin om aja."
"Stopp nyalahin diri sendiri. Gak capek apa kalian beduaa?" Tanya Zean kesal. Aska dan Arsen terdiam.
"Aghh, gue butuh miras."
Zai berjalan keluar rumah.
"Minum miras gue tendang lu. Gue suruh Kinan cerein lu, pilih mana?" Tanya Zean sinis. Zai pun berbalik dan kembali duduk.
"Ahh, kalian berisik!" Omel Aska lalu keluar rumah.
"Padahal dia juga tadi."
Yang lain pun mengikuti Aska. Aska tergeletak merebahkan tubuhnya ke rerumputan disaat teriknya matahari.
"Mau jadi keling lu?" Zai sinis, Aska diam tidak merespon.
Tin tin..
Mereka serentak menoleh.
"Siapa itu?"
Pintu terbuka dan keluarlah Asya.
"Daddyyy!!" Asya berlari menuju Aska.
Aska bangun dari tidurnya lalu menghampiri Asya dan memeluk erat Asya. Tanpa disadari, air mata Aska keluar.
"Kamu baik-baik aja kan??" Asya mengangguk dengan senyuman.
"Mommy manaa?"
"Masih tidurr."
"Lu darimana aja, Asyaaa?! Lu kenapaaa?!" Tanya Alvin langsung tanpa basa-basi.
"Lu di anter sama siapa?" Shaka gantian tanya.
Asya menatap arah mobil. Darren pun turun dari mobil tapi tidak bersama Dave.
"Jadi... dia yang culik kamu?"
"Buk—"
BUGH!!
BUGH!!
BUGH!!
Tanpa menunggu penjelasan dari Asya, Aska langsung membogem Darren tanpa ampun.
"Daddyy. Daddyy salah pahamm!"
"Salah paham apaa?! Dia kan yang culik kamu?!"
BUGH!!
BUGH!!
Lagi dan lagi.
Darren pun terkapar di tanah.
"Asyaa.."
"Mom. Momm, hentiin daddy. Daddy salah paham."
Arsen yang melihat Asya mengkhawatirkan Darren langsung menarik Aska dibantu dengan Zean dan Zai.
"Lepass! Lepasin sayaa!!"
"Om, kita harus dengar penjelasan Asya. Kalaupun yang culik Asya itu Darren, kenapa Darren balikin Asyaa sendiri?" Aska mencerna ucapan Arsen.
"Kita dengerin dulu penjelasan Asya ya, om. Kita gak bisa menghakimi seseorang dengan spekulasi yang kita buat sendiri."
"Arsen bener, Ka. Tenang dulu, oke?"
Aska memberontak dari mereka. Ia menghampiri Darren, meninju Darren sekali lagi kemudian pergi ke kamar.
Zia menghela nafas melihatnya. "Bang Zee, Arsen, Zai sama yang lain, tolong urus dulu yaa. Zia mau nenangin Aska."
"Iyaa aman. Tenangin Aska pake rumus jatah." Zia menatap sinis Zean lalu pergi.
Mereka mengalihkan pandangan. Kini melihat Asya yang sedang membantu Darren berdiri.
Bagaimana dengan Arsen?
Hatinya remuk, hancur berkeping-keping. Matanya sedikit berkaca-kaca melihat Asya perduli kepada pria lain.
"Bawa Darren masuk." Titah Zean, ia langsung pergi duluan.
Zai menggeser Asya.
Dibantu yang lain, Zai memapah Darren dan membawanya ke dalam. Asya masih mencoba untuk membantu Darren disana.
Arsen yang kepalang cemburu menarik tangan Asya dan menggendongnya seperti karung beras.
__ADS_1
Asya sendiri malah tertawa, ia tau Arsen cemburu.
"Yailaahh, pakkk. Kalau cemburu normalan dikit napa? Gak bisa lebih elite apa gendongannyaa?"