
...HAI BESTIII, AKU BALIK!...
...Minal aidzin walfaidzin yak hehee ᕕ( ՞ ᗜ ՞ )ᕗ...
...----------------...
Arsen keluar dari kamar mandi dan langsung menuju ke dapur. Padahal masih mengenakan handuk, itupun hanya dibagian bawahnya saja. Bagian atas tubuh Arsen terekspos dengan jelas.
"Pake baju dulu napaa siii. Kek gak punya baju aja lah kamu," dumel Asya masih menulis listnya. Arsen menoleh sekilas, "Aku haus makanya langsung keluar. Gimana listnya, sayang?"
"Udah kelar nih."
Arsen mendekat untuk melihat list Asya. Arsen membacanya satu persatu sambil menganggukkan kepala. "Sederhana semua? Mau yang mana dulu, sayang?"
"Kalau bisa yang sederhana, ngapain harus yang mewah? Untuk sekarang, aku mau mandi biar kita penuhi list yang nomor tujuh." Asya mencubit pelan hidung Arsen lalu pergi.
Arsen membiarkan Asya dan terus membaca list Asya. Memang sederhana, tapi banyak isi listnya. Arsen sampai terheran-heran. "Ini kemauan dia dari tahun kapan ya? Kok banyak amat."
...◕◕◕ ᕕ( ՞ ᗜ ՞ )ᕗ ◕◕◕...
Sesuai daftar list nomor tujuh, pergi ke tempat pertama kali jalan berdua.
Seingat Asya dan Arsen tempat itu adalah pasar tradisional yang dahulu pernah mereka datangi. Mereka datang lagi kesitu hari ini menggunakan CRF yang baru tadi pagi datang.
Tiba di parkiran, Asya turun. Arsen ikut turun lalu membantu Asya melepas helm.
"Wah... keknya pasar makin sepi yaaa?" tanya Asya cemberut. "Mungkin iya karena sekarang banyak yang beralih ke supermarket."
"Sedih bangettt. Kita sering-sering belanja bahan makanan di sini aja deh, Mas!" ajak Asya girang. "Terserah kamu, selagi kamu yang masak pasti aku makan."
Asya tersenyum lalu menarik tangan Arsen. Kini keduanya mulai memasuki pasar tradisional itu. Pasarnya masih sama, dan memang tidak serame dulu.
Sesuai dengan memori ingatan, mereka mampir ke warung nasi yang ada di pasar. Memesan lauk yang sama yaitu ayam bakar dan es jeruk.
"Masih penjual yang sama ya, sayang."
Asya mengangguk. "Tapi mungkin ibunya gak kenal akuu," kata Asya berbisik. "Pembelinya kan banyak, ya masa harus dia kenali satu persatu."
"Benerr jugaa yeu. Gapapa deh dilupain budhe warung nasi, yang penting gak dilupain kamuuu."
Arsen tertawa lalu berdiri sejenak untuk mengecup bibir Asya sekilas. "Never forget u, baby."
"Sstt! Ini diluarrrr."
"Kalau di apart, boleh?"
"No."
"Hiii dasar!" Percakapan terhenti karena pesanan datang. Mereka makan dengan tenang. Namun karena tadi sudah makan, Asya cepat kenyang.
Sisa makanannya Asya oper ke Arsen. Arsen langsung memakan ayam bakarnya tanpa protes. Daripada nanti berantem gitu ekan, jadi mending Arsen telen aja semuanya.
Seusai bayar di warung makan, sepasang kekasih itu naik ke lantai atas. Ke tempat ibu-ibu penjual aksesoris. Dulu mereka beli dua cincin dan dua gelang di sana.
Setibanya di tempat yang sama, mood Asya berubah. Ibu penjual aksesoris tidak lagi jualan. Melihat reaksi Asya itu, Arsen merangkul pundaknya.
"Ahh, padahal aku penasaran banget. Ibunya inget dak yo sama aku. Tapi malah ibunya dak jualan lagii," keluh Asya.
"Mungkin ibunya udah kaya, jadi dia malas jualan. Udah ayo ke tempat selanjutnya. Kafe atas kan?" Asya menggeleng.
"Ini masih pagiii, kalau ke kafe atas gak seru. Ayok cari bahan makanan aja!" Kini Asya menggeret Arsen ke tempat jualan ikan.
Asya membeli dua jenis ikan laut dengan jumlah yang sedikit. Sesudah membeli ikan, Asya membeli cabai, bawang dan kawan-kawannya.
Asya terlihat lihai dalam memilih semuanya. Arsen sendiri diam sambil membawa barang belanjaan.
Sebelum pergi dari pasar itu, mereka membeli jajanan tradisional. Asya memakannya di jalan ke arah menuju parkiran.
"Mas mauu?" Arsen mangap, Asya memasukkan setengah dadar gulung ke mulut Arsen. "Kemanisan, tapi ini enakk..."
"Iya makanya aku kasih kamu, manis banget soalnya. Btw itu barang gimana bawanya ya, Mas?" Arsen memutar kepala sembilan puluh derajat. Muncul dua orang menghampiri.
Arsen memberikan belanjaannya. "Amankan ikannya dulu ya biar gak amis, setelah itu baru ikutin saya lagi."
"Siap, pak!" Dua orang itu pergi meninggalkan Asya dan Arsen. "Sejak kapan kamu punya bodyguard, Sen?"
"Udah lama. Kamu aja yang baru sadar," jawab Arsen santai sambil naik ke motornya. "Berarti selama ini aku diikuti banyak bodyguard yaa? Kek orang penting aja akuu."
"Ya emang orang penting kamu. Paling penting di hidup aku." Asya langsung menutup visor helm Arsen, padahal dirinya juga tau itu tidak cukup menahan saltingnya. "Aneh banget, udah sering dimodusin masih sering salting."
Arsen membuka visor helmnya ingin berbicara, tapi Asya langsung memotong tanpa pikir panjang. "Kita sekarang mau kemana, sayang?"
"Kamu maunya kemana?" tanya Arsen balik, kini tangannya bergerak memasangkan helm Asya. Asya membiarkan Arsen dan berpikir ingin kemana lagi setelah darisini.
"Akuu pengen jajann."
__ADS_1
"Jajan apatuh?"
"Seblak."
"Oke, seblak. Terus apalagi?"
"Eh tiba-tiba pengen semangka deh," Arsen langsung menatap Asya keheranan. "Aku belum ngapa-ngapain loh sayang, kok udah ngidam aja kamu?"
"Dih ngacooo! Oh iya, selain semangka aku juga pengen apel, pir, buah naga terus sama mangga. Aku mau bikin es buah sendiri di apartemen."
"Beli jadi aja ya? Ntar kamunya kecapean." Asya menggeleng, "Aku mo bikin sendiri buat nanti malam."
"Ada pula orang malam-malam bikin ess. Yaudah, mau beli seblak dulu atau buahnya dulu?"
"Beli buahnya aja dulu ke supermarket, barutu kita ke tukang seblak." Arsen mengangguk setuju lalu menyuruh Asya naik. Asya duduk di kursi belakang dengan kedua tangannya memeluk Arsen.
Sedikit jahil sebelum berangkat, Asya mengelus perut Arsen dari luar. "Roti kamu kok mendadak ilang???"
"Ada di dalem. Kalau mo liat jelas nanti malam aku tunjukkan," Asya mengabaikan perkataan Arsen dan terus mengelus perut Arsen. Gak tau biar apa.
Arsen yang di elus merasa sedikit kegelian, tapi mencoba untuk santai dan mulai mengemudi. Makin lama tangan Asya semakin nakal, Asya malah memasukkan tangannya itu ke dalam baju Arsen.
Tepat di lampu merah, Arsen berhenti dan memegangi tangan Asya membawanya keluar baju. Asya tertawa sekilas lalu memasukkan kembali tangannya. Arsen auto membuka visor helm dan menatap Asya.
"Mau check-in sekarang?"
"Ngacook!"
Asya menutup visor Arsen lalu mengubah pandangan Arsen kembali ke depan. Tangan Asya sudah keluar juga dan tidak berpegangan lagi. Merasa ada yang kurang, Arsen menariknya dan menyuruh Asya memeluknya.
"Perasaan tadi gak dibolehin deh."
"Masalahnya tangan kamu nakal, masuk-masuk ke dalam," Asya tertawa kecil mendengar perkataan Arsen tadi. Selang beberapa menit, motor kembali berjalan dan berhenti di supermarket.
Asya turun, Arsen juga turun.
Sebelum membuka helmnya, Arsen membukakan helm milik Asya. "Aku bisa sendiri, sayang."
"Kalau ada aku ngapain buka sendiri," Arsen tersenyum sambil merapikan rambut Asya yang sedikit berantakan.
Setelah itu, ia membuka helm dan merapikan rambutnya. "Gak usah dikibas juga! Aku gak mau ya kamu dikejar cewek-cewek lagii!"
Arsen menyetarakan tinggi dengan Asya lalu mengecup pipinya. "Jangan khawatir, tinggal pamer cincin aja udah kabur mereka. Yodah skip, ayok masuk."
"Jajan di apart masih ada ya? Masa tiba-tiba aku pengen jajan," kata Asya menatap Arsen. "Ambil aja kalau mau, buat stok. Lagian kamu kalau nonton drakor juga butuh banyak jajan kan?"
"Paling pengertian kamu!" Asya mengecup pipi Arsen sekilas lalu mengambil beberapa jajan cokelat favoritnya dan lanjut berjalan lagi. Asya mengambil buah yang ia mau beserta keperluan yang lain.
Arsen mengikuti tanpa protes. Dan di bagian akhir, Arsen yang akan bayar semua belanjaan Asya.
Belanjaan tadi di berikan lagi ke bodyguard. Mereka yang bawa di mobil hitam. "Ay, aku kebanyakan jajan deh hari ini. Gak jadi beli seblak dehh."
"Kamu baru jajan di supermarket tadi, itu juga bukan buat dihabiskan hari ini."
"Tapi aku udah beli jajan tradisional di pasar. Pulang aja deh ya? Ntar biar sekalian masak makan siang di rumah. Kita udah terlalu banyak habisin uang hari ini."
"Aku cari duit buat foya-foya sama kamu loh, sayang. Mau ngabisin duit seberapapun juga gak masalah, nantikan aku bisa cari lagi."
"Iyaa, kamu cari lagi sampe lupa sama istri. Dah deh, daripada kebanyakan foya-foya, mendung kita tabung. Buat masa depan juga."
"Yaudah. Kalau gitu kita pulang nih sekarang?" Asya mengangguk. "Aku juga lagi pengen bobo siang sambil kelonan sama kamu."
"Oke langsung tancap gas sampe rumah!"
...◕◕◕ (´・ω・`) ◕◕◕...
Sesuai dengan perkataan Asya tadi siang, selesai sholat dan makan malam Asya mulai berkutik di dapur untuk membuat es buah.
Asya memotong-motong buah yang dia inginkan dan menyiapkan es buah itu hanya untuk satu gelas. Arsen takut masuk angin katanya, jadi nanti minta dikit aja dari Asya.
Selesai membuat es buah ala-ala, Asya mencobanya sedikit. "Eumm, enak! Kalau aku jualan es buah keknya... gak bakal laku sih."
Asya berjalan ke kamar menghampiri Arsen dengan es buah di tangannya. "Assalamu'alaikum, mamaasss!" Arsen menoleh, ia tersenyum melihat Asya sumringah.
"Wa'alaikumsalam, sayang. Enak es buahnya?" Asya memberikan esnya pada Arsen, "Kamu coba aja deh. Menurut aku enak."
"Not bad sih... enak kokk." Arsen memakan beberapa buahnya. Asya sendiri membiarkan Arsen dan mengintip ke laptop yang ada di meja. "Kamu ngapain? Design rumah?"
Arsen mengembalikan gelas Asya lalu mengangguk, "Mau bantu atau mau ngerequest sesuatu?" Asya ikutan mengangguk. Asya langsung duduk tepat di pangkuan Arsen dan melihat-lihat apa yang Arsen buat.
"Ini kerenn! I'm proud of you, honey!"
Arsen mengecup pipi Asya. "Thank you, babe. Mau request sesuatu gak kamu?" Asya meneliti gambar design itu dengan serius sambil mengunyah buah.
"Keknya untuk sekarang gak ada request, semuanya sesuai dengan yang aku mau. Lanjut dehh, aku liatin," kata Asya nyenyir. Arsen melanjutkannya dan membiarkan Asya tetap dipangkuan.
__ADS_1
"Aku mau buahnya lagi. Suapin dong, sayang," Asya berdiri lalu duduk kembali. Bedanya kali ini duduk menghadap ke arah Arsen. "Menggoda iman ya kamu?"
"Gak gituuuu. Kan ini jadi lebih enak suapin kamuu," Asya menyuapi buah mangga ke Arsen. Arsen sudah tidak fokus kerja lagi sekarang. "Dasar baperann."
"Kamunya yang mancing."
Asya tertawa. Melihat es buahnya sudah habis, Asya meletakkan di meja lalu duduk lagi dengan posisi yang sama. "Nonton drakor aja gih. Ini nanti kalau aku gak tahan bisa langsung aku makan kamu."
Asya jahil! Ia malah meletakkan tangannya di leher Arsen. "Drakornya belum tayang, besok baru tayang. Btw, karena kamu udah mau turutin aku beliin CRF, aku bakal turutin apa kemauan kamu. Jadi kamu tinggal sebutin aja maunya apa."
Arsen menutup laptopnya dan memfokuskan pandangannya pada Asya. "Pertama, kisss me." Asya menurut dan langsung mengecup bibir serta dua pipi Arsen.
"Aku bilangnya kisss, bukan kecup."
"Gak dulu. Oke terus, kamu maunya apalagi?"
"Yakin kamu mo kabulin? Aku minta kisss aja gak dikabulin," Asya langsung menarik tengkuk Arsen dan menuruti permintaan Arsen.
Hanya beberapa menit, Asya melepasnya kembali. "Dah aku turutin. Cuma mo itukan kamu?"
Arsen menggeleng lalu menarik punggung Asya agar semakin mendekat. Asya sedikit terkejut, namun berusaha untuk tenang. "Kalau aku bilang, beneran mau di kabulin?"
"Selama masih waras, aku kabulin. Ayangnya Asya mau apa?" Asya meletakkan tangannya lagi di leher Arsen. Arsen tersenyum sumringah, ia sedikit menunduk untuk berbisik.
"Mau baby."
Asya auto kaku, ia langsung menatap mata Arsen heran. "Mabok nih kamuuuu. Kemaren yang bilang mo jangan punya dulu siapaaa?"
"Iyyaaa akuu, tapi tiba-tiba pengenn. Gimana dong?" Asya menyipitkan mata dan memanyunkan bibirnya. "Serius mau itu? Gak yang lain aja gitu? CR-V deh gapapa, ayo beli CR-V."
"Maunya baby, hehe."
Asya bingung harus bereaksi gimana. Ia belum siap coyy! Ini masih terlalu muda baginya, Asya juga takut tidak bisa mengurus dengan baik nanti.
"Gimana? Boleh?"
"Request yang lain deh... yaa?" Arsen menjatuhkan kepalanya di pundak Asya. Terlihat benar-benar manja!
"Nggak ada yang lain...." Asya memejamkan mata sejenak lalu membukanya kembali. Asya menghela nafas panjang, "Oke deh."
"Oke apaaa? Bolehh?" Asya mengangguk pelan-pelan. Arsen cengengesan melihat ekspresi Asya. "Gas sekarang?"
Asya diam. Perlahan-lahan Arsen mendekati bibirnya menuju bibir Asya. Tinggal beberapa senti lagi, tiba-tiba saja Asya mendorong Arsen dan lari ke kamar mandi.
"AH GAK JADI GAK JADI!"
"Maaf sayaaanng, aku belum siaappp jadi momm."
Arsen senyum tertekan di kursinya sambil memutar menatap kamar mandi. "Dasar php!"
...◕◕◕ ͡°з ͡° ◕◕◕...
Tepat pukul dua belas malam, Aska baru saja tiba di rumahnya. Ia habis perjalanan bisnis tapi kali ini tidak membawa Zia, Aska takut Zia kenapa-kenapa.
Setibanya di rumah, Aska langsung masuk ke kamar mencari sang istri. Tiga hari tak bertemu, membuat Aska sangat merindukan istrinya itu. Aska langsung mengecup pipi Zia perlahan-lahan.
Zia yang tertidur sedikit terganggu akibat ulahnya. Karena tidak ingin membangunkan Zia di jam segini, Aska memilih mandi dan keluar kembali.
Melihat ada orang di halaman belakang rumahnya, Aska datang menghampiri. "Ngopi, mas?"
"E-eh, boss... maaf bos, ini bukan jam ker—"
"Iya, saya tau. Santai ajaa." Aska duduk di sebelah ketua tim bodyguardnya. "Gak ada masalah kan selama saya pergi?"
"Alhamdulillah gak ada, boss."
"Sama anak-anak juga gak ada masalah kan? Asya atau Arsen ada berantem gitu?" Bodyguard berpikir sejenak lalu menggeleng, "Seingat saya gak ada, bos, berantem juga nggak. Tapi di beberapa kali kesempatan, saya lihat ada pria yang ngikutin nona Asya dan mas Arsen."
"Pria? Bukan bodyguardnya Arsen?"
"Sepertinya bukan, bos. Kalau bodyguardnya Arsen saya udah tanda dan tau yang mana aja. Memang pria ini gak sering ngikutin mereka, tapi beberapa kali saya pernah nampak. Sekitar tiga kali lebih saya nampak."
"Lumayan sering dong itu. Kenapa gak mas samperin?"
"Waktu itu pernah mau saya samperin, bos. Tapi pas di datengi orangnya tiba-tiba hilang. Apa dia bukan orang ya, bos?"
Aska tertawa. "Kalau bukan orang jadi apa, mas? Hantu?"
"Bisa aja, boss."
Aska menggelengkan kepalanya masih sambil tertawa. "Nggak mungkin, mas. Yaudah kalau gitu makasih infonya, mas. Semangat terus kerjanya ya biar saya bonus. Saya mau masuk dulu, mau istirahat."
"Siap, boss!" Aska menepuk pundak bodyguardnya lalu masuk berjalan sendirian sambil berpikir dengan rinci.
'Musuh siapa dan musuh yang mana lagi kali ini? Siapa yang dia incar? Arsen atau Asya?'
__ADS_1