
"Mari awali pagi dengan senyuman, whahahaha!!"
"Senyuman kan bukan tawaan, lu ngapa malah ketawaa? Creepyyy!!" Cibir Azril kesal.
"Gapapa, merasa lucu saja. Kenapa makhluk bumi secantik, seimut, selucu, seunyuk gue ituu kudu di jahatin mulu gitu? Oh ya, pasti mereka iri dengan kecantikan paripurna seorang Asya."
Aska Zia geleng-geleng kepala melihat tingkah anak perempuannya itu. Ini masih pagi, udah kumat aja narsisnya.
"Duduk, sayang. Mending kamu makan dulu dari pada mikir yang kagak-kagak," Asya cengengesan lalu duduk di sebelah Azril.
Zia langsung membantunya menuangkan nasi.
"Kamu makan yang banyak, ya. Mommy lihat agak kurusan gitu kamunya."
"Masa iya, momm?"
Asya berdiri dari tempat duduk, ia menuju kaca yang ada di dekat dapur.
"IH IYAA! SIAPA YANG NGAMBIL BADAN ASYAAA?!"
"Gue, Sya, gue." Asya malah tertawa mendengarnya, ia kembali duduk dengan senyuman.
Ini jujur, Aska malah melihat keanehan pada Asya. Asya malah mencoba bahagia padahal di sorotan matanya terlihat ingin menangis.
"Syaa, kamu mau makan apa biar daddy beliin." Tawar Aska sambil tersenyum.
"Euumm... Asya tu gak pengen makan apa-apa daddy."
Aska yakin, Asya tidak minat makan.
"Daddy bakal beliin apapun buat kamu, tinggal bilang aja sekarang biar langsung di beli." Tawar Aska lagi.
Asya berfikir.
"Asya pengen... Rendang!"
Aska menganggukkan kepala, "mau yang asli dari Padang?" Asya mengangguk antusias.
"Makan di sana atau di rumah?"
"Diii rumah aja." Aska pun mengambil ponsel dan menyuruh pilot membawakan pesawat pribadinya.
"Daddy bakal ke Padang beliin rendang buat kamu. Sementara menunggu, kamu makan nasi gorengnya dulu ya." Asya tersenyum tipis lalu mengangguk.
Azril dan Zia yang menjadi penonton hanya diam, bingung dengan tingkah keduanya.
"Kalian lanjutkan makan dulu, daddy mau ke kamar ngambil sesuatu." Aska pergi ke kamar setelah mendapat persetujuan.
Tak lama setelah Aska pergi, Zia menyusul.
"Ada apa? Kok keliatan beda banget kamunya."
Aska menghela nafas.
"Asya depresi, ay."
"Hah? D-depresi?"
"Aku gak tau bener apa nggak, tapi tanda-tandanya nunjukin gituu."
"Pertama, tatapan mata Asya, dia keliatan ngerasa sedih. Kedua, biasanya malam hari Asya nonton kan? Nonton apapun itu. Tapi tadi malam nggak, dia tidur cepat. Ketiga, minat makan, berat badan Asya turun minat makannya juga turun."
"Merasa sedih, kehilangan semangat, perubahan minat makan, banyak tidur, itu gejala depresi."
Mata Zia berkaca-kaca.
"Terus gimana dong??"
"Kita butuh psikolog buat ngobatin Asya."
"Asya gak bakal mauu, ayy."
"Salah satunya cara ya ngeyakinin Asya, kalau nggak gitu bisa aja depresinya makin parah. Kamu mau itu terjadi?" Zia menggelengkan kepala.
"Nanti aku bakal cari psikolog terbaik untuk Asya, kamu tenang aja. Diem di rumah, liat gimana tingkah Asya terus laporin ke aku, oke?"
"Kamu jangan lama-lamaa."
Aska mengangguk, ia mengecup kening Zia.
"Jaga anak-anak."
"Ehh tunggu. Arsen di kasih tau??"
"Biar aku yang kasih tau." Sembari membawa tas kecilnya yang mahal, Aska keluar kamar diikuti Zia.
"Daddyy.. setelah di pikir-pikir Asya gak kepengen rendang," ujar Asya cengengesan.
Aska mendekati Asya, "jadi kamu mau apa, sayang? Bilang sama daddy."
"Asya gak mau apa-apa kok."
Asya malah memeluk Aska.
Aska membalas pelukan anaknya erat. "Kalau mau nangis, jangan di tahan."
Air mata Asya mulai menetes.
"Asya... Asya capek, daddy."
Aska tidak menjawab perkataan Asya, ia membiarkan Asya menangis di pelukannya. Aska sendiri tidak perduli gimana basahnya baju karena tangisan Asya.
Yang terpenting baginya sekarang, Asya bisa tenang dan sedikit lega.
Zia dan Azril yang menonton hanya duduk di tangga sambil memperhatikan keduanya. Azril sudah bertanya pada Zia, dan Zia sudah menjelaskan semua.
Dari awal juga Azril merasa begitu, tapi ia tetap diam karena Asya bilang dia baik-baik saja. Melihat Asya berpelukan dengan Aska, Azril memilih bersandar di bahu Zia.
Zia membiarkan Azril, sesekali tangannya mengelus kepala Azril.
"Asyaa, duduk yuk. Nanti kamu kecapekan nangis sambil berdiri." Asya mengikuti perkataan Aska, mereka berdua menuju sofa ruang keluarga.
Azril dan Zia juga ikut, keduanya duduk di sofa yang berbeda.
"Sekarang, ceritakan semua unek-unek kamu ke daddy. Apapun itu. Mau kamu mengumpat atau mau nangis lagi, keluarkan sekarang."
Asya menghapus air matanya.
"Asya cuma capek, daddy. Kenapa Asya yang selalu kena? Kenapa Asya yang selalu di jahatin? Asya jahat banget emang? Asya.... Asya..."
"... Asya capek, daddyyy."
Aska tersenyum tipis kemudian memeluk Asya lagi.
"Maafin daddy ya sayang, daddy bukan yang terbaik buat kamu. Daddy gak bisa jagain kamu, gak becus jaga kamu. Maafin daddy," ujar Aska. Air mata Aska hampir menetes.
Azril sendiri sudah mengusap air matanya, gimana pun juga dia mengerti perasaan Asya. Bukan maksudnya cengeng!
Asya melepas pelukan setelah mendengar perkataan Aska tadi. Asya menghapus air matanya sendiri lalu menghapuskan air mata Aska yang baru menetes.
"Daddy gak salah kok, daddy selalu berusaha buat jagain Asya. Daddy gak perlu ngerasa bersalah karena ini seratus persen bukan salah daddy."
"Setelah Asya pikir-pikir tadi, Asya di jahatin terus karena Asya perfect! Asya lahir di keluarga superstar, lahir tanpa kekurangan."
"Asya dari kecil selalu senengg, dari kecil jarang nangis karena gak ada waktu untuk nangis. Pas gede ini, Asya lagi di uji sama Allah kan?? Hm, iya!"
Asya menghirup banyak udara lalu mengeluarkannya sambil tersenyum.
"Kita pasti bisa lewatin semuanya. Oke, ini tangisan terakhir. Terakhir pokoknya terakhir. Gak ada yang boleh nangis lagi!"
"Lu juga yee, jangan nangis. Paan lu jagoan nangis," ledek Asya.
"Lu sendiri? Princess kok nangis."
"Ye makanya gue bilang tangisan terakhir."
Azril mengusap kasar air matanya, "gue tandai lu! Awas aja lu nangis."
"Gue tandai juga lu, awas aja sampe lu nangis."
"Konsekuensinya apa?!" Tanya Azril menantang.
"Beliin helikopter!"
"DEAL."
Aska dan Zia tertawa kecil sembari menggelengkan kepala, terlihat mudah bagi Asya membalikkan situasi. Padahal Aska-Zia yakin itu berat.
"Kalau sampe beneran ada yang nangis, emang sanggup beli heli?"
"Gampang itu, daddyy. Nanti tinggal minta black card daddy."
Mereka tertawa lagi.
"Mommy daddy juga gak boleh nangis loh, beliin helikopter kalau sampe nangis!"
"Deal nih?" Zia mengulurkan tangannya.
"Deall."
Asya dan Zia berpelukan.
"Umhhh, anak cantiknya mommy udah gede banget yaa."
Asya tertawa kecil, matanya tu sedikit berkaca-kaca. Asya langsung mengelapnya, biar gak denda helikopter.
"Dah ni nangisnya?"
"Udah dong. Tadi malam Asya ngantuk makanya tidur cepat, gegara itu gak bisa liat pilm."
Seperti klarifikasi.
Aska-Zia saling bertatapan.
"Kalian nguping?"
"Tadi Azril pura-pura nanya doang berartii?"
Azril cengengesan.
"Kami kedengaran gak nguping."
"Alesan!"
Twins tertawa.
"Asya gak depresi kok, daddy. Soal berat badan, Asya cuma turun berapa ons doang." Asya menuju kulkas mengambil susu dan meminumnya.
__ADS_1
'Asya kuat, Asya kuat. Gak boleh murung lagi, gak boleh mellow lagi!' batin Asya.
"Mau makan sesuatu nggak? Mommy masakin."
"Makan daging Azril."
"Kanibal lu?!"
Asya tertawa kecil.
"Keknya kita butuh refreshing. Besok keluar negeri mau nggak??" Tanya Aska.
"Wahh, kemanaaa??"
"Kemana kamu mau?"
"Asya pengen ke..."
"AZRIL MO KE JEPANG!!"
"Jepang teros, Jepang teros, nyari apa di Jepang?" Tanya Zia heran.
"Gak nyari apa-apa, mommy. Tapi tu Azril pengen nyobain makanan Jepang." Aska dan Zia berohria.
"Asya mau kemana?"
"Denger Azril bilang pengen nyoba makanan Jepang, Asya jadi pengen nyobain cokelat panas tok Aba."
Mereka terkekeh.
"Agak lain yaa. Nyarinya di mana, sayang?"
"Nggak tau jugaa. Kalau gituu, Asya pengen ke Rusia aja deh."
"Jauh tu, mau ngapain?"
"Nyari cogan."
"Laporin Arsen nih ya, lapor. Gue laporin!!"
"AZRILLL BETINGKAHHHH! JANGAN HEHHH!!!"
"Sa bodo teuing, gue laporin."
Azril meraih ponselnya.
Asya berencana merampas.
Azril yang tau niat licik Asya langsung berlari menjauh.
"HEHH, AZRILLLL."
"Wle wle wle, tangkep gue sini."
"Lu ketangkep abis gue tabok yee!!"
"Tes tess!!"
Asya yang geram terus mengejar Azril.
Mereka berlari keliling rumah, naik-turun tangga, keluar-masuk rumah. Aska dan Zia tertawa sambil menggelengkan kepala melihat anak tercintanya.
"Kali ini, Asya beneran Asya."
◕◕◕
Dua jam setelahnya, Aska kini berada di gedung Asz Group. Ada rapat mendadak.
Tapi saat ini, Aska sudah di ruangannya melanjutkan kerjaan yang penting-penting. Persiapan untuk di tinggal agar tidak menimbulkan masalah baru.
"Lagi dan lagi ya, bang. Lu nutupin masalah lu dari kami semua. Hebat!"
Aska auto terkejut melihat kemunculan Zai, Luis dan Zean. Otaknya langsung berfikir, alasan apa yang bagus kali ini?
"Lu betiga tau dari mana??"
"Ck, malah nanya itu! Gak usah kepo lu kami tau dari mana. Sekarang jawab, Asya kenapa lagi?!!"
"Mau minum apa kalian?"
"Ka, jangan sampe gue bogem lagi muka lu!" Aska nyengir. Pukulan Luis kagak maen-maen sakitnya.
"Duduk duduk, gue bakal jelasin detailnya. Minum jus aja ya biar lu pada adem." Aska menyuruh OB membawakan jus ke ruangannya.
Setelah itu, Aska duduk di sofa bergabung dengan yang lain. "Anaknya Rafael, si Keiji itu pengkhianat."
Mereka mengerutkan dahi.
"Yakin lu? Mukanya..."
"Iya, mukanya keliatan kek orang baik banget kan? Nyatanya nggak. Dia tu iri sama Asya, dia suka ngomong yang nggak-nggak di belakang Asya. Bukan tentang Asya doang, tapi semuanya termasuk Dino dan Haikal."
"Kejadian yang waktu ituu, yang ngelibatin Adinda juga. Itu sebenernya Keiji ikut ambil bagian."
"Anjirr! Gak nyangka beneran sumpah dah, Keiji ponakan gua njemm." Kata Zai.
"Asya juga ponakan lu anjj."
Zai tersenyum menatap Zean, "iya bang iya, gue tau kok. Terus lanjutannya gimana?" Tanya Zai.
"Keiji ngelakuin apa ke Asya?"
"Kok bisaa?!"
"Keiji tendang Asya sampe ngelewatin batas kaca."
"Asya bisa selamat gara-gara Arsen yang sigap. Kalian tau lah, gimana sigapnya Arsen."
"Perfect husband Arsen. Si Keiji nya sekarang di mana? Gue pengen nusuk jantungnya pake pisau."
Semua langsung menatap Luis.
"Ngeri juga uwak ni."
"Jangan maen-maen, gue tusuk juga ntar jantung lu. Lanjut cerita! Keiji nya kemana?"
"Kuburan. Udah meninggal dia," jawab Aska santai.
"Lah?! Kenapa meninggal?!"
"Meninggal kenapa maksudnya."
"Dia, Rafael, Keiko kecelakaan besar. Keiji nya meninggal, Rap sama Keiko masih di rawat inap."
"Ortunya selamat, Keiji nya kok meninggal?"
"Gue di ceritain Rap, waktu itu mereka lagi berantem di mobil tepatnya di lampu merah. Yaa berantem nya besar, karena beberapa kali Keiji mukul Rap padahal Rap gak ada mukul dia samsek. Mau liat kamera dashboard?"
Mereka mengangguk.
Aska mengambil laptop dan menunjukkannya.
"Lagi di lampu merah, otomatis mobilnya berhenti. Karena berantem itu, tiba-tiba kaki Rafael nginjak gas. Mobilnya auto jalan."
"Nah tanpa sadar, dari area kanan ada mobil yang lagi laju selaju-lajunya. Mobil dari kanan mendadak gak bisa ngerem, dan pada akhirnya nabrak mobil Rafael."
"Tabrakannya itu bertepatan di bagiannya Keiji. Yang kehantam mobil paling keras, bagiannya Keiji. Maka dari itu, Keiji gak bisa di selamatkan karena kondisinya yang parah banget."
Ketiga pria itu melongo, "ini gue mo sedih tapi kok mo seneng gitu."
"Agak puas tapi kurang puas."
"Bang Rap sedih gak sih?"
"Ya sedihlah oon. Siapa sih yang gak sedih kehilangan anaknya? Tapii, Rafael sama Keiko sedih cuma bentar karena mereka pun muak sama tingkah lakunya Kei."
"Keiji mati dengan keadaan mengenaskan, gak ada yang sedih. Gue yakin semuanya mampuss-mampussin dia," kata Luis ngelawak dikit.
"Si Rap bakal lu pecat?"
"Mungkin nggak."
"Menurut gue, Ka. Mending gak usah, dia udah bantu lu ngerintis dari awal. Gue yakin seribu persen, dia gak bakal nyangka kejadian gini bakal terjadi. So, jangan pecat dia." Saran dari Zean.
Aska menganggukkan kepala.
"Niat gue juga nggak, bang."
"Pasti Rafael bakal produksi lagi."
"Jelas."
"Agak kasian juga gak sih liat Keiji?"
"Gue dikit doang, seupill. Anak gue sampe down gara-gara di khianati sama dia."
Zean, Zai, dan Luis langsung menatap Aska.
"Down maksud lu?"
"Mental nya kenaa. Udah berapa kali coba kejadian kek gini? Gue jadi dia juga gak bakal kuat."
"Gimana lagi caranya biar gak di jahatin mulu dia. Bodyguard yang jaga udah bejibun," kata Luis sedih.
"Terus Asya gimana sekarang? Depresi?"
"Masih ringan agaknya, gue bakal bawa ke psikolog besok."
"Oiya, lu betiga ada yang nganggur gitu gak si? Yang kerjaannya gak banyak."
"Kenapa?" Tanya Zai.
"Gue mau nitip kantor. Rencananya mulai besok gue mau ngajakin anak-anak keluar negeri buat refreshing. Sekalian ngajakin ke psikolog."
"Ide bagus! Biar gue yang handle," kata Zean tanpa basa-basi.
"Yakin lu, bang?"
Zean menganggukkan kepala.
"Gue juga deh, gue bantu handle." Ujar Zai ikut-ikut.
"Gue gak bisa, Ka. Besok juga gue ke Turki," sahut Luis gak enak.
"Gapapa lah, Bang Zean sama Zai masih ada kok."
Luis tersenyum tipis.
__ADS_1
"Besok lu ajak kemana pun anak-anak mau, Zia juga suruh refreshing. Jangan sampe ya Asya kea Zia."
Aska tersenyum, "aman, bang."
"Kalau kurang duit, call me."
"Aska kekurangan duit? HAHAHA gak yakin sih gue. Black card ae bejibun," Aska tertawa kecil.
"Gak bejibun jugaaa."
"Btww, berapa lama?" Tanya Zai.
"Sebulan."
"Lama banget anjj."
◕◕◕
14.32
Di tengah teriknya matahari, Asya dan teman-temannya berada di kedai es krim. Mereka makan es krim lagi hari ini.
"Lu pada kalau main game ada turnamennya gitu kan?" Tanya Asya.
"Ada, kenapa?"
"Gue mau ikut."
"Emang lu bisa anjj?" Tanya Dino selepe.
"Bisalahh, pou."
"Beda server, jamilaaaa. Pengen gue botakin deh pala lu!" Asya tertawa.
"Mau ikut turnamen? Ntar gue cariin," tawar Ara.
"Gak gak gak."
"Why?"
"Ntar kasian mereka yang kalah, hadiahnya gue bawa semua."
"Pede amatt ye, pede!!"
Asya cengengesan lalu menoleh ke samping. Arsen di sebelahnya sedang tersenyum menatap Asya.
"Kamu kenapa?" Tanya Asya bingung.
"Gak kenapa-kenapa, cuma pengen natap kamu." Jawab Arsen sambil memainkan rambut Asya.
"Bongak iii. Ada masalah?" Arsen menggelengkan kepalanya.
"Yang itu udah diobati?" Arsen mengangguk.
Asya pun ingin memastikannya.
"Apa wehh?"
"Ish, gak usah kepo!! Sana luu, ini urusan rumah tangga!" Omel Asya.
"Gue lempar es krim ntar lu, Syaa."
"Sa bodo teuing. Jangan ngintip!!"
"Suka ati dia saja, oke."
Asya yang tertawa kecil kembali menoleh ke luka memar Arsen. Benar ternyata, sudah diobati.
"Sakit, Cen?"
"Lebih sakit liat kamu mellow."
"Yek moduss!"
Arsen cengengesan.
"Kamu udah siap makan es krim nya?"
Asya mengangguk.
"Ayok ikut aku."
"Woi, gue culik Asya dulu."
"Sejak kapan orang nyulik bilang-bilang?"
"Hahaha."
"Yodah sono. Jaga baik-baik, lecet gue putusin urat leher lu." Kata Azril sinis.
"Aman adek ipar. Santayy bae lu," Arsen menggandeng Asya lalu pergi.
Tujuh menit di dalam mobil.
Asya menatap heran Arsen yang tidak bicara sama sekali. Tangannya masih tergandeng.
Asya merasa itu menganggu kefokusan Arsen, ia menarik tangannya untuk menjauh. Tapi Arsen menariknya kembali.
Cup~
Arsen mengecup punggung tangannya.
"Gak boleh lepas, udah di segel!"
Asya tertawa kecil. "Ini ganggu kamu tauu!"
"Nggak. Asbun kamu tuu."
"Iya deh iyaa. Kita mau kemanaa?"
"Ntar kamu tau kemana," jawab Arsen cengengesan.
"Ngeselin kamu ah!"
Satu menit kemudian, Arsen memberhentikan mobilnya. "Udah sampe nih."
"Pantai? Kan kita baru ke pantai," kata Asya heran.
"Ayok turun dulu." Mereka berdua turun bersamaan. Arsen mendekat dan lagi-lagi menggenggam tangan Asya.
Arsen mengajaknya mendekati pantai.
"Shaka pernah bilang, kamu itu happy banget kalau di ajak ke pantai. Nah disini aku mau buat kamu happy."
Asya berhenti, "ak—"
"Jangan bilang kamu selalu bahagia, kemaren tu kamu murung banget. Aku sampe bingung, gimana caranya balikin cerianya calon istriku. Ku cari di google gitu," Asya tertawa.
"Google bilang apa?"
"Ajakin ke pantai katanya."
"Hahaha, ngaco bangett!!"
Arsen tersenyum tipis, ia menarik tangan Asya. Jarak mereka mendekat.
"Om Aska udah cerita tentang tadi pagi."
Asya sedikit menunduk, "emm..."
Cup~
Arsen mengecup keningnya.
"Sayang, jangan pendem masalah kamu sendiri ya. Aku bakal selalu ada buat kamu kok, dalam keadaan apapun itu. Kalau kamu lagi down, butuh sesuatu, kamu tinggal bilang ke aku aja."
"Semisal, aku lagi kerja kamunya di rumah. Kamu tinggal chat aku, bilang Arsen aku pengen cerita. Di detik itu juga aku bakal samperin kamu, sayang. Aku bakal dengerin semua keluh kesah kamu, bakal ngasih bahu aku untuk bersandar, bakal nenangin kamu sampe kamu bener-bener tenang."
Mata Asya berkaca-kaca lagi.
Dirinya merasa menjadi manusia terberuntung karena dikelilingi orang-orang yang peduli.
"Udah ya, gak ada alasan buat mendem semuanya sendiri. Kalau kamu gak mau cerita sama aku, cerita sama keluarga kamu. Kalau gak sama keluarga, sama temen yang lain juga bisa kan? Yang penting kamunya gak pendem sendiri rasa sakit itu."
"Ahh!! Aku nya nangis lagi, ntar air mata aku habis gimanaa?!" Rengek Asya sambil memeluk Arsen.
"Jangan nangis dong kalau gak mau abiss."
"Kamu yang buat abiss yaa! Tanggung jawabb," omel Asya.
"Nanti aku ganti air mata sedihnya."
Asya tidak melepaskan pelukan, ia hanya menjauhkan kepala agar bisa menatap Arsen.
"Ganti jadi apa?"
"Jadi air mata bahagia."
"Yekk, moduss!"
Keduanya tertawa lalu kembali berpelukan.
"Oh iya. Tadi Om Aska juga bilang, kalian bakal liburan. Kamu nikmati aja liburannya, jangan mikir apapun disini." Asya mengangguk.
"Aku gak bisa ikut sama kamu karena ada urusan," lanjut Arsen.
Sebenernya itu kebohongan.
Arsen cuma memberikan waktu pada Asya agar bisa menikmati waktu dengan keluarga.
"Masa kamu gak ikut sii??"
"Tugas aku bejibun, sayang. Kamu pergi aja sama keluarga,"
Asya agak mellow.
"Yaudah dehh, kamu di sini kabarin aku!"
"Pasti itu."
"Inget ya, nikmati liburannya. Nanti tiap jam delapan malam Waktu Indonesia Barat aku telepon kamu."
"Eh nggak, kamu aja telepon aku."
"Kenapa gitu?" Tanya Asya bingung.
"Ngetes kamu, inget gak sama aku. Aku yakin sih gak inget. Kamu pasti ngelirik sana-sini, nyari cogan yang lain."
__ADS_1
Asya tertawa kecil. "Bener itu bener! But, gak ada yang bisa gantiin kamu."
"AAHHH, LOPYU ICIKIWIRR!"