
"Kak Fauzi?"
"Loh, Asya?"
"Kebetulan banget ya"
"Iya kak hehe"
"Mau makan apa?"
"Ini" Asya menunjuk menu makanan di buku menu.
"Kita sehati" Asya cengengesan. Fauzi memanggil pelayan lalu memesan makanan yang dipesan Asya.
"Apa gue nyamuk disini?" tanya Zafran.
"Lu bedua saling kenal?" tanya temen Zafran, Iwan.
"Ya.. kenal gitu aja" jawab Asya santai.
"Gitu aja gimana?"
"Wah parah sih, gue ditikung sama Fauzi" teman Zafran yang lain menyahuti, Reza.
"Macem betull aja si Reja ni. Emang ni cewek cakep demen sama lu? Gue sih gak yakin" sahut Iwan.
"Wan, setidaknya lo semangatin gue gitu bukan jatuhin!"
"Gapapa jatuh diawal daripada terpuruk diakhir"
"Asekkkk, babang Japraann"
"Minta ditabok emang" protes Zafran. Mereka tertawa bersama.
"Cantik banget lo kalau ketawa. Kenalan dong, gue Reza" Reza mengulurkan tangannya.
"Asya" jawab Asya tanpa mengulurkan tangan.
"Tangan gue saliman sama angin"
"Ngenes kali liat Reza, sabar ja"
"Hahaha"
"Ntar malem gua santet one by one lu pada" mereka kembali tertawa.
Tak lama kemudian makanan datang. Iwan, Reza, Fauzi, Asya dan Zafran menikmati makanan dengan tenang.
"Jujur sama abang, kamu ada hubungan apa sama Fauzi?" tanya Zafran.
"Lu juga jik, ada hubungan apa sama masdep gue?" sahut Reza.
"Ja, lo buaya banget, parah"
"Buaya ndasmu" Iwan terkekeh.
"Gue sama Asya temenan, dia temen adek gue" "Asya sama kak Fauzi sebatas temen, kak Fauzi kakak temen Asya"
Jawab mereka berdua serentak.
"Serius temen?" Fauzi dan Asya mengangguk.
"Alhamdulillah, ada kesempatan. Emang rezeki Reza ini mah"
"Pedean tingkat tinggi, kasian adek gue punya laki kayak lu" ledek Zafran.
"Astaghfirullah japrans, kamu jarang ngomong tapi sekali ngomong minta di tabok" Zafran tertawa ngakak, diikuti yang lain.
Ketawa fake terpancar dari Fauzi. Hatinya bergejolak seolah merasakan sakit karena sesuatu. 'kakak temen Asya, gak ada yang salah sih sebenernya. tapi kenapa jadi broken heart gua?' batin Fauzi.
"Eh jik, sya. Lu bedua nggak pacaran kan?"
"Nggak" "Belum"
Kompak lagi.
Jawaban belum dari pihak Fauzi.
"Fauzi sedang berjuang ternyata"
"Kita bersaing ya, jik? Kalau gue menang dapet moge lu"
"Heh! Lu kata adek gua apaan?! Ngapa lu jadiin taruhan?!!"
"Astaghfirullah lupa! Maafin mas ya, sayang"
__ADS_1
"Gue najis dengernya"
▪▪
"Jik, lo kenapa dah? Aneh banget mukanya?" tanya Iwan.
Mereka berlima sedang di eskalator menuju lantai atas mall untuk bermain permainan bocil.
"Hah? Gue? Gue gak apa-apa" jawab Fauzi.
"Jujur jik, lu lagi broken heart kan, karna Asya pilih gue"
"Bang, sebenernya temen abang yang satu ini kenapa sih?" tanya Asya menunjuk Reza.
"Otaknya ngacak, Sya. Maklumin" jawab Iwan.
"Kamprett" mereka tertawa bersama.
Saat di jalan ponsel Asya bergetar ada chat masuk dari Azril. Azril nitip susu kotak favoritnya.
Karena gak fokus, tanpa sengaja Asya menabrak seseorang. "Maaf"
"Ehhh"
Asya berbalik.
Dia melihat Laila bersama dengan Arsen. "Asya kan?" tanya Laila.
'tumben gak marah??'
"Oh iya, lu yang kemaren kan? Kak...."
"Laila"
Laila tersenyum lebar. 'ni anak kenapa mendadak sok ramah gini? oke, fine, gue ikuti alurnya' ujar Asya dalam hati.
"Nah iya kak Laila" jawab Asya sambil membalas senyumnya Laila.
Melihat Asya tertinggal, Zafran berbalik. "Kenapa?" tanya Zafran.
"Gapapa, bang. Ini tadi gasengaja nabrak kakel" jawab Asya.
"Kamunya gapapa?" tanya Zafran khawatir.
"Asya gapapa" jawab Asya sambil tersenyum.
'oh ayolah, cemburu apaan? Laila lebih cakep dari Asya' batin Arsen.
"Maaf ya" Laila hanya tersenyum.
"Yaudah yuk, ditungguin tuh" ajak Zafran.
"Gue duluan, kak" Laila mengangguk. Asya tersenyum kecil lalu pergi bersama dengan Zafran.
Arsen makin panas. 'whats wrong with me?'
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Laila.
"Nggak, ayo balik" ajak Arsen.
"Hah? Bukannya tadi mau makan?"
"Gue kenyang"
Dengan wajah cemberut nya, Laila mengikuti kemauan Arsen.
Disisi lain, Asya dan keempat seniornya masih berjalan menuju tempat yang dituju.
"Tadi kenapa, Sya?" tanya Iwan.
"Oh, itu tadi gak sengaja nabrak, kak" jawab Asya.
"Ada yang sakit gak? Luka? Lecet? Tebanting gak kamu?" tanya Reza sok panik.
"Masih nafas kok, kak" jawab Asya cengengesan.
"Kenapa jawabannya melenceng ya?" tanya Reza. Asya cengengesan.
"Btw, panggil abang aja kenapa sih? Kayak lu manggil Zafran, kenapa panggil kakak?" tanya Iwan.
"Agak gimana gitu kalau Asya panggil orang asing abang"
"Ya gue kan bukan orang asing, Sya. Gue calon imam lu" jawab Reza.
"Ja, gue anterin ke kandang buaya ya? Lo keknya buaya yang lepas deh"
__ADS_1
"Taiii"
▪▪▪▪▪
"Gue kenapa ya?" gumam Fauzi yang di dengar Iwan.
Fauzi dan Iwan masih bersama di suatu kafe. Mereka berdua masih enggan untuk kembali kerumah karena hari belum terlalu larut.
Reza, Zafran, dan Asya langsung pulang ketika mereka keluar dari mall.
"Kenapa apanya?" tanya Iwan.
"Gak tau, janggal"
"Asya tadi gak sih?"
"Mungkin"
"Lo demen ya?" tanya Iwan.
"Hah? Nggak tau juga"
"Gue yakin sih lu demen sama dia. First meet gimana?"
"Gak gimana-gimana. Pertama ketemu di apartemen"
"Deketan?"
"Apartemen gue deket sama temennya"
"Oh terus terus?" tanya Iwan.
"Abistu gue ketemu di Sma pas gue sosialisasi"
"Nah terus terusss?"
"Ketemu terus beberapa kali, dan secara kebetulan ketemu disini"
"Bukan kebetulan, itu takdir"
"Ngaco lu, wan" kata Fauzi tak percaya.
"Ngeyel lo"
"Saran gue, kalau lu emang suka cepet garap. Keburu di ambil orang. Dari pandangan gue dia itu famous. Dan gue yakin, saingan lu banyak" kata Iwan.
"Iya, termasuk Reza"
〰〰〰
"Kamu sama Fauzi emang temen doang? Apa gimana?" tanya Zafran secara pribadi. Mereka berada di mobil menuju jalan pulang.
"Tanya itu mulu dah. Asya sama Kak Fauzi cuma temenan, gak temenan sih bang, kea adek kakak gitu ya sebatas itulah" jawab Asya.
"Kamu di deket dia kek mana?"
"Nggak kek mana-mana bang. Biasa aja, kenapa emang?"
"Nggak, tadi kek nya muka si Fauzi rada kecewa pas kamu jawab cuma temen"
"Asya liat sih"
"Tapikan kak Fauzi jawab gitu juga"
"Ya di pertanyaan berikutnya kamu jawab enggak, dia jawab belum. Ekspresi nya makin berubah"
"Emang Asya salah jawab bang?"
"Nggak salah jawab juga sih sebenernya. Oh iya, temen kamu yang nabrak tadi tuh, kok ekspresi nya lain pas liat abang? Cemburu kah? Temen atau Kakel? Kakel ya tadi?"
"Kalau yang cewek kakel, bang. Kalau yang cowok sekelas Asya. Terus tadi apa abang bilang? Cemburu?"
Masih mengemudi, Zafran melihat Asya sekilas lalu mengangguk. "Iya, cemburu kan?"
Asya malah tertawa. "Jelas nggak lah, bang. Dia itu rivalnya Asya. Musuh bebuyutan"
"Abang mah yakinnya gak gitu"
"Ahh.. adek abang udah gede ternyata. Banyak yang suka, ekstra jagain dong abang biar gak kemakan buaya" Zafran mengusap rambut Asya dengan satu tangannya.
"Hahaha.. makasih abang udah jagain Asya"
"Gak perlu bilang makasih, Asya ganteng" Asya menatap Zafran lalu tertawa bersama.
_________________________
__ADS_1
Dikelilingi cogan, dijagai kea ratu.
Enaknya jadi Asyaa~