Barbar Generation

Barbar Generation
Sapii putihh


__ADS_3

Hari ini, hari Rabu.


Hari yang sangat disukai Asya. Because, dia bisa leluasa rebahan.


Wahahaa, padahal tiap hari lebaran. Ehhh, maksudnya rebahan:`


"Yang bersihh, Saa. Istrimu brewokan mampusss."


"Gak ngotak kadang!" Asya cengengesan.


"Sejak kapan cewek brewokan anjirrr?" Tanya Azril.


"Gak ada yang bisa, tapi kalau Asya bisa. Dia kan seteng–"


"Pecah pala kau nanti ku buat." Racksa cengengesan.


"Assalamu'alaikum, permisiiii."


"Wa'alaikumsalamm."


"Anjerrrr. Gue belum siap bebersihhh, kenapa udah pada datanggg?!" Racksa auto kesal.


Mereka langsung masuk, melewati Racksa yang sedang menyapu.


"Sabarr. Racksa penyabar kokk." Mereka tertawa mendengarnya.


"Jadii?" Asya berdehem.


"Jam berapa??"


"Tunggu konfirmasi dari Alex."


"Oooooooo."


"Assalamu'alaikum, Cilll."


"Waalaikumsalam." Arsen langsung duduk di sebelah Asya.


"Lu ngapain deket Asya? Kan udah di blacklist." Ledek Haikal.


"Manaa mau Om Aska ngeblacklist guee."


"Dihhh pede banget pula ngomongnyaa. Semalam kan lu di blacklist." Arsen terdiam.


"Beneran di blacklist?" Tanya Yuna, bukannya menjawab mereka malah cengengesan.


"Cill, aku di blacklist beneran?" Arsen menatap Asya dengan tatapan yang susah diutarakan.


Asya mengangguk, "kata mommy juga gak boleh deket kamu." Arsen menghela nafas, antara percaya dan tidak.


Semalam, setelah pembicaraan blacklist, Aska dan Zia pergi karena ada urusan yang harus diurus.


"Liat liat, mukanyaa si bucinn."


"Leesu banget gilaaa. Duhh, sedboiii." Ledek Alvin, mereka tertawa lagi.


"Nggaak lohh. Gak di blacklist," ujar Asya menenangkan.


"Seriuss?" Asya mengangguk.


Arsen langsung tersenyum senang, "ahhh syukurlahh." Ia merebahkan tubuhnya, menjadikan paha Asya sebagai bantal.


Arsen juga menendang yang lain untuk meluruskan kakinya.


"Emang peaaa banget anak satu ini!" Arsen tertawa.


"Cill, tadi malem Om Mikko datang ke apart kuu."


"Lah, ngapain?"


"Ngasii kerjaann. Gegara Om Mikko, aku gajadi tidurr. Ehhh tidur dengg, tapi jam tiga pas selesai sholat tahajjud."


"Bangun jam berapa??"


"Jam lima."


"Subuhan di masjid?" Arsen mengangguk.


"Teruss, kenapa kesini? Bagus tidur di apartt." Ujar Asya sambil menepuk jidat Arsen.


Arsen menarik tangan Asya lalu meletakkannya di dada. "Ngapain di apartt, kan kamunya disini."


"Modusss lu gembell." Asya menutup mata Arsen sambil tertawa. Arsen menarik tangannya lagi dan ikut tertawa.


"TEROSS TEROSSS. LANJUT AJA TEROSSS."


"SUKA GAK MIKERR KADANGG. MACEM DUNIA PUNYA BEDUA AJAA."


Alvin dan Racksa auto ngamuk, Asya terkekeh melihatnya.


"Gak usah ngamuk gitulah, joness."


"Tandaiii lu, Senn. Bakal di blacklist beneran lu, mampussss. Doa gue biasanya manjurr," kata Alvin menyombong.


"Sianjirrr." Alvin tersenyum songong.


"Sudah cukup meresahkan melihat Asya dan Arsen. Kini lihat lah Ara dan Haikal yang sedang asik sendiri sambil bisik bisik."


"Lihat juga, Dino yang selalu push rank duluan. Tangannya malah asik menggenggam tangan Yuna."


"Mereka benar-benar meresahkan."


"Jadi pengen masuk tengah."


Dino dan Haikal langsung menatap Alvin juga Shaka.


"Lu bedua mau di sepak sampe mana?" Alvin dan Shaka cengengesan.


"Btw, LEPAS TU TANGAN. BUKAN MUHRIM!" Dino langsung melepaskannya sambil mengangkat tangan.


"Ituu si Asya bolehh, pakk. Masa saya gak bolehh," keluh Dino.


"Itu cowok x cowok."


Pletakk!!


"Eumm, kenaaa tampol jugakhann." Ledek Racksa sambil tertawa. Shaka meringis kesakitan karena pukulan Asya.


"Parahh sih parah. Luu berdosa banget sama pakcak."


Asya nyengir tanpa rasa bersalah, "pakcak pas untuk mendapatkan tampolan itu."


"Asya cewek atau cowok siii? Sakit kalii kena tampoll."


"Gue dah lama gak nampol orangg, jadii gitu."


"Fckkkkkkk-!"


"Ekskyussmiii." Mereka menoleh kearah pintu, ternyata Alex datang.


"Udah?" Alex mengangguk.


Azril berlari ke kamar mengambil laptop lalu kembali. "Senn, ayoo!"


"Senn! Woilanjing." Arsen yang terngantuk-ngantuk berpindah ke sebelah Azril.


Apa yang mereka lakukan? Memindahkan isi kartu kredit Adinda ke kartu kredit Alex.


Tujuannya? Ya untuk balas dendam.


Balas dendam sederhana, start disini.


"Jangan sampe baku tumbuk ya, Syaa." Omel Shaka, Asya mengangguk.


"Bales tipis tipis aja nantii."


"Btw, si Adinda udah go?" Alex mengangguk.


"Sekitar dua jam lagi kita susul," kata Alvin memprediksi.


"Kalian bisa diem kagak? Galpokkk guee." Omel Azril kesal.


"Alah gayanya galfokk, yang ngotak-ngatik aja Arsenn." Cibir Ara.


"Gue bantu, seperempat."


"Jancokk." Azril cengengesan.


"Keknya punya doi mafia keren dehh." Ujar Asya sambil membaca wp.


"Warasnya kau? Macem iya pula pengen punya doi mafia." Cibir Dino.


"U know, mafia itu jahat. Gue kalau bisa gak mau berurusan sama yang gitu gitu." Sahut Ara.


"Iyaa tapi gue pengen jugaaa."


Arsen yang dari tadi mendengar pembicaraan mereka menghentikan gerakan jari lentiknya.


"Pengen apanya? Dari segi mananya kepengen? Jangan ngadi-ngadii kamu kalau ngomong."


"Lihh, kok gitu pula? Kan mafia kerenn, smartt."


"Calon laki mu ini juga kerenn, smart, berbakat pula. Apa aja bisa. Jadi hacker? Sabii. Jadii pengusaha? Sabiii. Jadi hot daddy? Sabiiii kali. Apa yang kurang?" Tanya Arsen, tangannya kembali mengutak-atik.


"Kurang kepastian, Bang Senn." Jawab Yuna.


"Ahahaa, bener bangett. Kepastian itu diperlukan bosskuu!" Cibir Alvin.


"Kepastian apaan? Kan gue sama Arsen just friend." Arsen menghentikan gerakannya lagi.


Arsen memindahkan laptop, ia mengambil sesuatu disaku celana lalu berlutut dihadapan Asya.


"Di bilang cuma temenn nyesekk. Tapi kita sama sama gak bisa pacaran, tunangan juga masih terlalu cepet. Apalagi nikah, masih kemudaan. Pokoknya mah, kamu punyakuu gak ada yang boleh ngambil!" Arsen membuka kotak yang ada ditangannya.


Ada cincin berlian yang harganya lumayan ehmm, mahal.


"Aku beli dua, jadii semacam cincin couple suami istri. Ini cuma tanda sih, tanda kalau kamu tu punya ku. Kamu mau make gak?" Tanya Arsen.


Asya terdiam, ia malu-malu. Yang lain hanya menatap mereka berdua tanpa berkata apapun.


"Sayangg, mau make nggak?"


Asya dug-dugunnn.


Panggilan sayang meresahkan baginya.


"Diem berarti mau." Arsen menarik cincin yang sebelumnya beli di pasar lalu memasukkan cincin yang baru.


"Beautiful like u."


◕◕◕


14.36, kafe mall.


"Syaaa." Arsen merengek pada pawangnya.


Ia baru saja berantem hanya karena masalah parkir.


Jadi tadi Arsen parkirin mobilnya, tapi ternyata mobil yang lain nyerobot mau masuk. Arsen berusaha sabar, tapi pemilik mobil satunya malah marah.

__ADS_1


Arsen yang emosi pun membogemnya. Yaa terjadilah baku hantam. Lukanya ada di sudut bibir Arsen, ada juga di pelipis karena tadi kena batu.


"Cill, perihh."


"Siapa suruh berantem? Gak ada kan?!"


"Ya maaff, lagian tadi dia yang salahh." Asya tidak merespon lagi.


"Cill."


"Sayangg."


"Ahh, kamu mahh." Asya benar-benar mengabaikan Arsen, ia sibuk main ponsel sambil memakan cemilan.


Arsen pantang menyerah, ia terus menganggu Asya. Menarik pipinya, mencubit hidungnya, kadang mengacak-acak rambutnya.


"Arseennn." Arsen cengengesan.


"Makanyaa kamuu tu jangan ngacangin akuu."


Asya menatap lekat Arsen. Terlihat jelas sudut bibir dan pelipisnya yang berdarah.


"Mana kunci mobil?" Tanya Asya pada Azril, Azril memberikannya.


"Mau kemana lu? Bentar lagi keluar dari bioskop tu oranggg." Ujar Shaka. Tanpa menjawab Asya pergi.


"Marah betull singaku." Gumam Arsen. Arsen mengejar Asya dan menarik tangannya.


"Maafff ishh. Ngga bakal diulang lagii, seriuss."


"Promise?"


"InsyaAllah."


"Yaudahh, tunggu disana bentarr."


"Kamu mau kemana?"


"Bentar doangg."


"Aku ikuttt."


"Nggausahh, tunggu sama yang lain aja. Bentaran doangg kok."


"Sepuluh menit!" Arsen langsung kembali ke tempatnya. Asya pun pergi menuju mobil Azril.


Tujuh menit kemudian, Asya kembali dengan kotak P3K ditangan. Asya duduk tepat di samping Arsen yang sedang bermain game.


"Senn."


"Hm?"


"Liat sini dulu bentarrr." Arsen langsung mengalihkan tatapannya. Asya mulai mengobati bibir dan pelipis Arsen.


"Aduhh.. duhh, pelaann."


"Udah pelann inii. Makanya jangan berantemm!" Arsen terdiam, ia menatap Asya yang telaten mengobatinya.


"Keknya enak deh kalau sakit, kamu perhatiin muluu." Asya menatapnya kesal, "senang pula sakit. Orang mah maunya sehat sehat terusss."


"Yaa kan orang."


"Kamu bukan orang?"


Arsen menggeleng, "aku–"


"Ibliss."


Asya tertawa mendengar Dino memotong ucapannya.


"Menggoblokk."


"Lu bedua bisa gak, gak usah mesra mesraan disinii?!" Tanya Alvin kesal.


"Why??" Tanya Arsen balik.


"Iri guaaa anjerrr. Masa iyaa gue jual mata dulu biar gak liatt."


Mereka terkekeh.


"Sabar Bang Alvin. Mungkin belum waktunya."


"Iya, Yunaa, iyaa. Tunggu waktu yang tepat baru bisa nikung kamu sama Dino."


"Gua sepak pala lu!" Alvin cengengesan.


"Minuman panasnya datangg." Ujar Ara sambil melihat pelayan berjalan ke arah meja mereka. Setelah diletakkan pelayan pergi.


"Panas banget nih pastii." Kata Racksa.


"Coba minum duluu." Suruh Shaka, Dino mencicipinya.


"Panas cokk, sumpahh."


"Dii campur air dingin gak sih? Nanti kulit dia melepuh pula."


Mereka langsung menatap Asya.


"Kenapa??"


"Lu udah dijahatin begoo, masih aja mikirin melepuh." Omel Alex.


"Benerrr tuh kata Alexx!"


"Gue bukan mikir apa apaa, nanti kalau melepuh kita juga yang disuruh bayar ganti rugii."


"Bener juga sihh, yaudah di mixxx." Mereka pun mencampurkannya.


"Ehh, itukan orangnyaa?" Tanya Alvin, yang lain menoleh perlahan lalu mengangguk.


"Let's start!!"


Asya, Arsen dan Alvin membawa tiga air campuran tadi. Mereka berpencar dari segala arah.


Ketiganya saling bertatapan kemudian mengangguk. Alvin maju terlebih dahulu dan menumpahkan air yang panas itu di rok Adinda.


"Aduh.. maaf ya, mbakk. Saya gak sengajaa," Alvin pura pura merasa bersalah.


"Iya gapap–"


Byurr!


Arsen juga menumpahkan air panasnya, kali ini mengenai leher Adinda.


Adinda menjerit karena kepanasan.


"Arsen?"


"Duhhh, sorry sorry. Lu nya sih ngalangin jalan gueee," kata Arsen. Tatapannya benar benar tidak merasa bersalah.


Dua teman Adinda sibuk membantu rok dan bajunya. Tapi tiba-tiba Adinda berbalik dan langsung bertubrukan dengan Asya yang juga membawa air yang sama.


Air yang lumayan panas itu mengenai mukanya. Adinda gelagapan karena kepanasan.


The last.


Byurrrr!!


Ara menumpahkan minuman coklat panas dan mengenai badan Adinda.


"S-sorry."


Adinda makin gelagapan, ia berlari menuju toilet disusul kedua temannya.


"Wahh, gak kebayang panasnya." Ujar Shaka bergidik ngeri.


"Makanya gue suruh mixx. Kalau nggak ya mampussss dia."


"Mari kita ikutiii!"


Secara bersamaan, mereka menuju toilet yang Adinda datangi.


"Dinn, gimanaa?" Tanya Asya.


"Panasss. Lu pada kenapaa nyiram air panas ke guaa?!"


"Dih, kok lu nuduh sih?!" Asya ngegas.


"Gue gak nuduhh, tapi nyatanya lu nyiram secara sengaja kann?!"


"Apaan sih, gak jelas bangett. Dibilang nggak sengaja ya nggak sengajaa!" Bentak Asya.


Adinda tidak merespon lagi, ia keluar dari sana dan mencari toko baju. Beberapa dari mereka tetap mengikuti.


Adinda masuk ke salah satu toko dengan brand termahal. Ia memilih baju lalu menggantinya di ruang ganti.


Tiba waktu membayar.


"Pake ini aja, mbak." Adinda memberikan kredit cardnya.


"Baik, mbak."


"Mohon maaf, mbak. Kartunya gak ada isi."


"Hah? Ada kok, mbakk. Tadi baru diisi pacar sayaa."


Mbak kasih mencobanya lagi. "Nggak ada, mbakk." Adinda menoleh ke belakang, ia menghampiri Arsen.


"Pinjem duit."


"Dompet gue dibawa Asya, Asya pergi ke timezone."


"Terus lu ngapain di sini?"


"Liatin lu sengsara."


Adinda mengerutkan dahi, "maksud lo?" Arsen mengangkat bahunya sambil tersenyum miring.


Dari kejauhan Adinda melihat Alex, Azril dan Asya. Adinda menghampiri Alex.


"Lexx, kenapa kartu aku kosong??"


"Ya ngga tauu, kan tadi udah ku kasih bukti transfer." Adinda terdiam.


"Sejak kapan kamu main sama mereka berdua? Bukannya kamu gak suka main sama mereka?"


"Kapan aku bilang? Ah waktu itu? Itu khilaf doang. Yakali orang kaya mainnya sama orang yang suka ngabisin uang."


BWANJERR.


Adinda langsung keringat dingin mendengarnya.


"Kamu nyindir aku?"


"Lu kesindir?" Tanya Ara tiba-tiba datang.


"Lu gak usah ikut campur, ini bukan urusan lu!" Ara mengangguk paham.


"Lexx, pinjem kartu kamuu."

__ADS_1


"Aku gak bawa kartu sama sekalii karena hari ini di traktir sama Asya."


Hoax la anjirrr.


Yakali Asya traktir para human human ituitu:


"Sya, gue pinjem kartu Arsen."


"Apasih? Ngapain lu make kartu tunangan gue?!"


Adinda mengerutkan dahi, "kapan lu tunangan?! Bohong banget."


"Dihh, kenapa lu yang sotoyy?!"


"Udah dehh, gak usah sok. Gue lebih lama kenal Arsen daripada lu!"


"Apa hubungannya? Nggak nyambung banget tololl! Modal kenapa sih? Masa beli baju aja yang bayarin pacar gue." Cibir Asya.


"Haha, bacot banget sih lu. Lu aja beli apa apa dibayarin sugar daddy."


Asya dan yang lain tertawa keras, "bukannya lu yang punya sugar daddy?"


"Kadang suka gak mirror, hahahaaa!" Adinda terdiam. Ia memikirkan suatu.


Dengan gerakan tiba-tiba, Adinda menarik rambut Asya lalu mengambil dompet Arsen. Setelah itu pergi.


GILA EMANG!!


Asya berlari mengejarnya, ketika sudah dekat Asya langsung menendang punggungnya dengan dua kaki.


Adinda kejelungup.


Kalian tau kejelungup kan gaiseu? Ya, semacam itu.


"Ahh, kebuang sia sia keringet gue." Asya merebut kembali dompet Arsen dan memasukkannya ke saku.


Adinda menatap sinis Asya. Dia bangkit lalu kembali melakukan hal yang sama. Asya capek dah, dia angkat tangan.


Sebenernya dari tadi mereka jadi pusat perhatian di mall, tapi The Bacot Squad tidak perduli sama sekali.


Satpam aja menikmati pertunjukkan. Mereka juga disogok agar diam. Tapi yang nyogok bodyguard Aska:v


Back to Adinda. Ia memberikan dompet itu kepada mbak yang dikasir.


"Maaf, mbak. Ini dompetnya kosong."


The Bacot Squad auto ngakak.


"MAMPUSSS LU JINGANN!" Umpat Alvin.


Adinda maluu, sangat sangat malu. Kartu kredit gak ada isi, minta ke Alex, Alex gak bawa uang. Minta ke Arsen, dompet Arsen kosong.


Dia harus bayar pake apa sekaraanggg?


Adinda merenungi hal itu.


"Beli baju brand mahalll, tapii bayarnya nyolong dompet orangg. HAHAHAAAA, MALU GAK TU?"


"Gaya tinggi ekonomi sulit."


"Besok besok pake baju yang lima belas ribu aja yaa. Biar gak malu-maluin, masa udah makee gak bisa bayarr."


"DIAM LU ANJING!"


"Upsyyy. Ngamukkk?" Asya tersenyum smirk.


"Mau baku hantam disini? Ayooo! Gue jabanin. Dari kemaren tangan gue gatel banget pengen nampar muka lu. Bisa bisanya lu fitnah gue sama sugar daddy padahal itu bokap gue."


"Jelas jelas lu yang punya sugar daddy. Btw, dibayar berapa sejam?"


Adinda mendekati Asya.


Plak!!


Terdengar sangat sangat keras. Tamparan Adinda membuat pipi putih Asya memerah.


The Bacot Squad ingin membantu, tapi mereka tidak mau Asya ngambek tujuh hari tujuh tahun:'


"Jaga omongan lu, sialann!"


"Wahaaa..."


BUGH!


Gak main main balasannya. Asya langsung menendang perut Adinda.


"Request dulu dong sebelum mati. Kuburannya segitiga atau jajar genjang?"


Asya mendekati Adinda dan menginjak perutnya, "tapi keknya bagusan lingkaran." Asya pun menekan keras kakinya.


Arsen yang tau Asya benar-benar ngamuk langsung menariknya untuk menjauh.


"Apaan sihh?!"


"Dendam boleh, tapi jangan sampe buat mati. Jangan gegabah."


Asya memberontak, "lepasin gueee!"


"Ck, DIEM ATAU AKU CIUM SEKARANG?!"


◕◕◕


Rumah abu abu.


"Kamu marah sama aku?" Asya tidak menjawab.


"Tadi udah gue peringatin buat gak baku tumbuk. Enggak baku tumbuk tapi hampir bikin mati anak orang. Waras kan lu?" Tanya Shaka sinis.


Asya tetap tidak menjawab.


"Kamu larang aku berantem, tapi kamu berantem tadi."


"Itu bedaa!" Asya baru bersuara.


"Apa bedanya, sayang? Hm? Apa bedanyaa?"


"Ya bedaa! Aku punya alasan sedangkan kamu nggak!"


"Aku juga punya alasan tadii. Tu orang juga nyerempet mobilku, makanya ku hajar."


"Tapi bedaaa!"


"Beda apanya lagii? Sama sama punya alasan kann?"


"Beda pokoknya bedaa!" Asya pergi ke dapur.


"Sini selesaiin, jangan pergi gitu aja."


"Mau ngambil minum!"


Arsen menunggu Asya kembali.


Sedari tadi yang lain hanya melihat mereka berdua tanpa mau ikut campur.


Asya kembali.


"Ngalah aja dah, Senn. Ingett, cewek selalu benarr."


"Gak ada cewek selalu benar, adanya cowok yang selalu ngalah." Alvin auto terdiam.


"That's true, Senn." Mereka menoleh kearah pintu.


"Daddy? Mommy?"


"Assalamu'alaikum."


"Wa'alaikumsalam." Mereka menyalami tangan Aska dan Zia.


"Seruuu berantemnya?" Asya menunduk.


"Yang Arsen bilang tadi bener. Dendam boleh, tapi jangan sampe buat mati anak orang."


"Daddy... liat?" Aska mengangguk.


"Live streaming."


"Kamu tu kalau dendam jangan langsung buat mati. Bagusnya bunuhnya secara perlahan-lahan."


Pletak!


"Jangan ngajarin anak anak jadi psycho!" Aska cengengesan.


"Tapi bales dendam terbaik tu ya gituu. Ngebunuh tapi gak sampe mati."


"Btw, thank you, Sen. Kalau nggak kamu tarik ni anak, bisa bener bener ngebunuh sampe mati."


"Nggak perlu bilang makasih, om. Itu kewajiban Arsen." Aska mengangguk setuju.


"Kenapa jadi kalem, Asya?"


"Takut daddy marah."


"Eii.. aaaaaaa!!"


Mereka menatap heran Aska, kecuali Asya.


"Apaaan astaghfirullah? Kenapa tiba-tiba teriak?" Tanya Zia keheranan.


"Ada yang gigitt." Aska langsung membuka bajunya.


"Semutt doang padahal." Kata Zia sambil membuang semut itu.


"Tapi sakittt."


Asya yang tadinya menunduk kini mendongak.


"Hihh, daddy kok gak kek bapak bapak siihh?!"


"Maksud kamu?"


"Daddy gak normalll."


"Gak normalll gimanaa?" Tanya Zia gantian sambil menahan tawa.


"Yaa ngga normalll. Bapak bapak kan perutnya gedee kea ibu hamill. Masa daddy nggak, malah punya delapan pack?"


Aska tertawa mendengarnya.


"Iya juga yaa. Daddy gak normal pastii," sahut Azril.


"Nahkann."


"Lu bedua peaaa apa gimana si? Heran banget gue liatnyaa."


"Aukk, harusnya bersyukur heh!" Sahut Haikal.


"Tapikan kalau daddy kea bapak bapak hamil kan jadinya comelll."


"Comell kagaaa, macem sapi putih iyaa."

__ADS_1


"Bener pula."


"HAHAHAHAAAA!"


__ADS_2