
"Haiii! Assalamu'alaikum, kakak cantiiiikkkkk. Let's go picnicc!"
"Daveen?? Wa'alaikumsalam, anak baikkk. Kamu kemana aja, kok jarang banget main kerumah kakak?" tanya Asya sambil menyamaratakan tingginya dengan Dave.
Iya! Itu Dave anaknya Darren.
"Dave ndak dibolehin papaa katanya takut nyusahin kakak cantik, hehe. Dave emang nyusahin banget yaa, kakk?"
"Nggakkk! Siapa yang bilang Dave nyusahin? Kakak seneng malah ada Dave."
"Tapi papa bilang Dave nyusahinn."
"Mana sini papa kamu biar kakak ajak berantem!"
Suara tawa berdamage muncul. Mereka langsung menoleh ke sumber suara, ternyata Darren yang datang. "Emang berani ngajak berantem saya?"
"Why not?" tanya Asya menantang.
"Saya deh yang gak berani ngajak berantem kamuu. Takut ntar disembelih sama daddy-mu."
"Helehh. Alesannn!"
"Ehm! Bicara-bicara... Anda ngapain kemari?" tanya Shaka.
"Oh iya, ada kalian disini. Saya udah izin ke daddy-nya Asya, beliau mengizinkan saya. Sekarang giliran izin ke kalian deh. Jadi hari ini saya mau ajak Asya piknik. Ini atas permintaannya Dave."
Secara bersamaan, mereka menoleh ke arah Dave. "Boleh ya, abang-abang? Dave udah lamaaaaa banget pengen main sama kakak cantikk."
Kini mereka beralih menatap Asya. "Boleh yaa? Gue jarang banget main sama Davee."
"Karepp dahh. Lu izin noh sama Arsen, kami ga mau bantuu izinn," jawab Azril. Asya menghela nafas panjang, bisa ditebak Arsen tidak akan mengizinkan. Mengingat betapa posesifnya calon suaminya itu.
"Gak bisa juga gak masalah, Syaa. Nanti saya berdua aja sama Davee," ujar Darren menenangkan.
Mendengar hal itu, Asya melihat Dave. Dave sedang menatap Asya dengan puppy eyes-nya. Asya tidak tegaaa!
"Bentar ya, Dave. Kakak coba izin dulu ke abang ganteng," kata Asya pada Dave. Dave hanya mengangguk dengan senyuman. Asya pun mengambil ponsel lalu menghubungi Arsen.
Asya tidak me-loud-speaker panggilannya.
π "Assalamu'alaikum. Kenapa, sayang?
Udah kangenn?"
^^^"Wa'alaikumsalam. Ge-er bangetttt!^^^
^^^Tapi emang iya siiii."^^^
π "Hahahaha. Kenapa kamu telepon aku?
Mau nitip sesuatu nanti?"
^^^"Bukann.^^^
^^^Aku mau minta izin sama kamu."^^^
π "Izin? Kemana?"
^^^"Piknik sama Dave."^^^
π "Ada Darren?"
^^^"He'emm."^^^
Asya mendengar Arsen berdecak kesal.
^^^"Boleh yaa?^^^
^^^Aku pengen main juga sama Dave."^^^
π "Daddy izinin?"
^^^"Iyaa."^^^
π "Azril, Shaka sama yang lain juga izinin?"
^^^"Iyaa."^^^
Senyap...
Arsen tidak merespon apapun.
π "Yaudah-yaudahh, sana siap-siap.
Teleponnya jangan dimatikan, tapi
kasih sama om Darren."
^^^"Okayy!^^^
^^^Thank you, sayaangg."^^^
Asya tersenyum senang. Ia memberikan ponselnya pada Darren lalu pergi ke kamar untuk bersiap-siap. Darren sendiri menjauh dari ruang keluarga untuk berbicara dengan Arsen.
^^^"Assalamu'alaikum?^^^
^^^Ini saya, Darren."^^^
π "Wa'alaikumsalam.
Kemana aja agendanya?"
^^^"Sepertinya cuma piknik, Sen,^^^
^^^tapi gak tau juga."^^^
π "Om Aska beneran ngizinin kan, om?"
^^^"Iyaa. Saya udah ke kantor pak Aska tadi,^^^
^^^beliau mengizinkan sayaa mengajak Asya^^^
^^^pergi. Kalau kamu tidak percaya,^^^
^^^telepon saja pak Aska. "^^^
π "Saya percaya. Saya kasih
batas waktu sampe jam sembilan.
Kalau jam sembilan Asya belum
tiba di rumah, saya bakal bogem muka
om sampai berdarah-darah."
^^^"Okee. Saya janji antar Asya^^^
^^^tidak lebih dari jam sembilan. Saya^^^
^^^pastikan, sebelum jam sembilan^^^
^^^Asya sudah santai dirumah."^^^
π "Baik, terimakasih.
Tolong jaga Asyaa."
^^^"Pasti saya jaga."^^^
"Papa udah belum telponnyaa?? Ayok berangkat!" ajak Dave yang muncul bersama Asya. Darren membalas dengan senyuman.
^^^"Saya berangkat dulu ya, Arsen."^^^
π "Hati-hati dijalan.
Jangan lupa kalau Asya punya saya."
Belum sempat Darren menjawab, panggilan sudah terputus. Arsen memang mengizinkan, tapi tetap saja dirinya super duper jealous.
"Udah, om? Arsen marah-marah sama om?" Darren menggeleng santai. "Dia bilang apa?"
"Dia bilang jangan pulang lama-lama. Btw, kamu udah siap?" Asya mengangguk. "Let's go!"
Darren menoleh ke arah Asya. Kini dirinya terpaku melihat riasan tipis yang Asya kenakan. Asya tampak lebih cantik dari biasanya. Darren terpukau. Tanpa sadar jantungnya berdegup lebih kencang.
"Omm? Jadi pergi nggak?"
"Ih, papa ngelamunin apa siii?"
"Papaaaaa!!"
"Hah? Oh, okee. Ayok berangkat," kata Darren menggandeng tangan Dave. Sebelum pergi, Darren kembali ke ruang keluarga untuk berpamitan lagi.
"Saya bawa Asya dulu yaa."
"Kalau ada segores luka di tubuh Asya, banyak peluru akan bersarang di tubuh Anda."
Darren mengangguk.
"Saya pergi, assalamu'alaikum."
Seusai mendengar jawaban salam, Darren pun pergi bersama Dave dan Asya. Tepat di samping kiri mobil, Darren membukakan pintu untuk Asya.
"Silahkan masukkk, tuan putri."
Asya tertawa kecil.
"Thank you, omm," Asya masuk dan duduk santai di mobil. Dirinya menoleh ke belakang, ternyata Dave duduk sendirian di sana.
"Dave sama kakak aja sini di depan."
"Emang boleh, kak?"
"Bolehh, sayangg. Siniiii," Dave pun masuk mobil dan duduk di depan Asya. Bukan dipangkuan Asya, tapi di depan Asya.
Setelah menutup pintu mobilnya Asya, Darren masuk ke bagian kemudi. "Udah siap nih, kan? Beneran gak ada lagi yang ketinggalan?"
"Enggak," jawab Asya dan Dave kompak.
"Okee, mari kita berangkatt." Darren mengucap basmallah lalu mulai mengemudi.
"Kakak, kakak, Dave ganteng ndak?"
"Ganteng dongg. Ganteng bangettt!"
"Ih, tapi papa bilang Dave jeleekkk." Asya melihat Darren cengengesan. "Papa kan pura-pura, nak. Masa iya anak papa jelek, papa aja ganteng gini."
"Pede bangett gantengg."
"Saya emang ganteng, Asyaa. Banyak noh janda yang mau sama saya," kata Darren curcol. Asya malah tertawa, "jandanya pasti rabun."
"Yehh iri kamu."
"Coba kakak tanya Dave dulu. Menurut Dave, papa ganteng ndak?"
"Ndak. Papa jelekk!"
Asya makin tertawa mendengarnya. "Anaknya sendiri lhoh yang bilang jelekk."
"Dave lagi sakit mata itu, makanya bilang jelek," kata Darren ngeles. "Nggak lhoh, papaa, mata Dave sehat kokkk. Papa kan memang jelekk!"
"Bandel ih Davee. Gak papa beliin hot wheels lagi nih, yaaa?" ancam Darren kesal.
Dave langsung menatapnya, "papa ganteng banget lhohh. Bismillahirrahmanirrahim, dapat hot wheels."
__ADS_1
Asya tertawa lagi mendengar bujuk rayu Dave. Darren pun juga ikut tertawa melihat tingkah anaknya. Sangat-sangat menggemaskan memang!
"Papa.. beli hot wheels, kan?" tanya Dave ragu-ragu.
"Iyaaa, nanti papa beliin satuu."
"Tiga dong, paa."
"Satu aja, Davee. Kamu udah punya banyak di rumah," ujar Darren.
"Tapi kan Dave sengaja simpan untuk koleksii," jawab Dave bijak.
"Ya tapi kamu udah punya banyak, nak. Coba tanya kakak cantik, boleh beli berapa kamunyaa." Dave berdiri lalu menghadap Asya. "Boleh beli berapa, kakk?? Boleh tiga, kann?"
"Papa Dave bilang, Dave udah punya banyak. Beli satu aja, yaa? Kan banyak yang mau beli hot wheels juga, ntar dia gak kedapetan dong gara-gara Dave beli banyak. Jadi kita beli satu aja untuk bagi-bagi sama yang lain, okeee?"
"Em... oke dehhh. Kita beli satu aja ya, papaaa."
Darren mendengus kesal. 'Giliran dibujuk kakak cantiknya langsung nurut. Genit banget anak gue!'
...βββ Ν‘Β°Π· Ν‘Β° βββ...
Sepanjang perjalanan Asya dan Dave selalu berbincang-bincang. Darren sendiri hanya mendengar dan mengamati sambil mengemudi.
"Masih jauh, om? Dave ketiduran nih," ujar Asya sembari mengelus lembut kepala Dave.
"Enggak terlalu jauh kok ini."
"Memangnya mau piknik di mana? Masa dari tadi gak sampe-sampee," dumel Asya sedikit kesal.
"Mau piknik di tepi pantai. Dave yang minta itu kemarin, jadi salahin Dave aja, jangan salahin saya."
"Dave mulu ya andalannyaa."
"Karena beneran Dave. Lagipula kalau saya bilang ajakan saya, emang kamu mau pergi?"
"Ya nggak."
"Nah yaudah."
Asya menatap sinis Darren lalu kembali memandangi Dave. "Ehh tunggu-tungguuu, jadi ini ke pantai ajakan siapaa?"
"Dave, Asya. Dave minta piknik ke tepi pantai, sekalian liat sunset terakhir di tahun ini."
"Lhoh? Sunset terakhir tahun ini?"
Darren berdehem, "besok tahun baru."
"Oiyaa! Kalau gitu ntar pulangnya jangan lama-lama ya, om."
"Kenapa gitu?"
"Asya mau pergantian tahunnya bareng Arsen."
Degg!
Jantung Darren rasanya berhenti sedetik.
Dirinya menghela nafas panjang. 'Sadar, Darren, sadar! Sejak awal juga Asya bukan punya lu, lu cuma second lead di cerita ini,' batin Darren sambil mencoba tersenyum.
"Om, jangan senyum-senyum sendiri. Serem tau nggak?!" Darren jadi kesal mendengar perkataan Asya. "Emang kamu kira saya hantu?"
"Bukan begituuu, ahjussi. Serem aja la kalau gak ada angin gak ada hujan tiba-tiba senyummm."
"Saya senyum karena keinget senyum itu ibadahh," jawab Darren ngeles.
"Lahhh? Ya bener sii senyum itu ibadah. Tapikan gak tiba-tiba senyum juga dong, om!" Darren bingung harus jawab apalagi.
"Dave ganteng, kan? Mirip saya gantengnya," kata Darren mengalihkan topik. "Pede banget nih om-om. Gantengan Dave daripada om Darren," ujar Asya meledek.
"Halahh, bohong kamu tuh. Tinggal akui aja gitu, om Darren tampan, kan enak didenger."
"Asya gak mau akuii, karena om gak tampan." Darren menatap sinis Asya. "Ampun, om. Om ganteng kok!"
Darren langsung tertawa. Melihat Asya yang menggemaskan, Darren mengelus lembut kepalanya.
"Kamu lucuu, kamu cantik, kamu baik, kamu sempurna, kamu buat saya ngerasain jatuh cinta lagi setelah lama patah hati. Tapi sayangnya, kamu gak bisa saya miliki."
Asya menatap Darren. Tatapan Darren masih mengarah ke jalanan. Asya menarik tangan Darren kemudian meletakkannya di perut Dave.
"Cinta gak harus memiliki, om."
"Lagipula bakal aneh nantinya kalau Asya sama om Darren bersatu. Selisih umur kita juga jauh, om. Jadi tolong lupain Asya sebagai wanita pada umumnya, dan anggap Asya sebagai ponakan om aja, okee??"
"Okeee."
Darren melihat Asya sekilas lalu tersenyum tipis. 'Asya, kamu adalah penyembuh saya sekaligus luka baru untuk saya.'
...βββ Β΄ο½₯α΄ο½₯` βββ...
"Yeayy! Mataharinya udah tenggelam."
"Dave senang?" tanya Asya.
"Senang dongg, senang banget malah."
"Kenapa gituu?"
"Karena Dave bisa piknik bareng papa sama kakak cantik. Dave masi bisa liat sunset, Dave bisa main pasirr, bisa main air juga bareng papa. Pokoknya Dave seneng!"
Darren dan Asya sama-sama tersenyum. Mereka berdua juga ikut senang melihat Dave senang.
"Habis ini kita ke area wahana yuk, kak?"
"Gak bisa, Dave. Papa udah janji sama abang ganteng buat bawa pulang kakak cantik sebelum jam sembilan. Kalau kita main dulu ntar pulangnya lewat jam sembilan."
"Kalau gitu ya... papa izin lagi dong sama abang ganteng."
Asya menyetarakan tingginya dengan Dave. "Papa Dave tadi udah janji sama bang Arsen. Dave tau kan, janji gak boleh diingkari?" Dave mengangguk pelan.
"Next time, kita pergi lagi. Okayy?" Dave yang tadinya mellow kini mengangguk antusias.
"Lah emang kenapaa?"
Darren menghela nafas.
"Dave, masuk ke mobil duluan ya, nak. Papa mau bicara sama kakak cantik."
"Okay, papaaa."
Dave pun masuk ke mobil papanya sendirian.
"Kenapa, om?"
"Kok tanya kenapa. Kalau kita ketemu terus ntar saya susah lupain kamuuu, Asyaa."
Asya mengangguk paham. "Itu mah derita om, lagian kan Asya mau ketemu Dave bukan om," Asya tersenyum meledek kemudian pergi menyusul Dave ke dalam mobil.
"Nyebelin ya tu anak!" dumel Darren ikut masuk mobil. "Kita pulang ya, Dave?"
"Iya, papaa." Darren tersenyum kemudian mulai mengemudi lagi. Ketika Darren mengemudi, Asya dan Dave menonton kartun di ponsel Asya.
Tontonan mereka terhenti karena Arsen menelpon Asya. "Bentar ya, Dave, abang ganteng telepon."
"Okayy."
Asya mengangkat telepon tanpa me-loudspeaker-kan panggilan.
π "Assalamu'alaikum, sayangg.
Lagi dimanaaa?"
^^^"Wa'alaikumsalam. Lagi di jalan,^^^
^^^mo pulang. Kamu dimana??"^^^
π "Samaa. Aku juga lagi di jalan,
mau pulang ke rumah kamu. Btw,
kamu jangan lama-lama yaa.
Aku belum makan inii."
^^^"Loh kok betingkah banget kamu^^^
^^^belum makan jam segini? Mau sakit?^^^
^^^Pengen sakit, iyaa? Kamu sakit aku^^^
^^^gak mau ngurusin yaaa!"^^^
π "HAHAHA!! Lucu banget lhoh kamu
kalau lagi bawel. Sebenernya tadi aku
udah makan, tapi cuma dikit. Aku gak
selera makan karena belum liat
kamu dari siang sampe sekarang."
^^^"Aku iyain aja deh ya, kasian,^^^
^^^takutnya nangiss."^^^
π "Aku ngap juga ntar kamu!!"
Asya gantian tertawa.
π "Pergantian tahunnya sama aku ya,
jangan sama Dave."
^^^"Iyaa, sayang, iyaaa."^^^
π "Yaudah buruan pulaangg."
^^^"Ya sabaaarrrrrr.^^^
^^^Kamu pengen aku telen idup-idup??"^^^
π "Hahahaa, ucuuu bangett
suaranyaa kalau ngamukkk."
^^^"Gak usah begitu dongg.^^^
^^^Kalau orang marah kan nyeremin siii."^^^
π "Kamu aja bukan orang, sayaang."
^^^"Bukan orang? Jadi apa?"^^^
π "Bidadari."
Asya salting!
Super duper mega salting!!
π "Halo? Bidadarinya Arsen lagi salting yaa?"
^^^"Berisikkk!"^^^
π "Gemesss!! Buruan deh sampeee,
__ADS_1
gak sabar aku tu mau unyel-unyel pipi kamu."
^^^"Gak ah. Gak boleh. Ntar skincare^^^
^^^ku ilang karena tangan kamu."^^^
π "Kalau ilang ya dipakein lagi."
^^^"Males ntar cepet abisnya."^^^
π "Aku yang beliin. Mau berapa truk, sayang?"
^^^"Aku tau kamu banyak duit,^^^
^^^tapi gak gitu juga, Aceennn. Ih udah deh ya,^^^
^^^aku matiin aja. Dave nya ketiduran lagi inii."^^^
π "Yaudah-yaudah. Suruh Darren
hati-hati bawa mobilnya."
^^^"Heumm. Assalamu'alaikum."^^^
π "Wa'alaikumsalam, sayang."
Panggilan terputus.
"Kok gampang banget Dave tidur?" tanya Asya heran.
"Dave gampang bosen. Kalau udah bosen ya dia milih tidurr," jawab Darren. Asya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Arsen udah nunggu kamu ya?"
"Iya, om, hehee."
"Keliatannya dia sayang banget sama kamu," ujar Darren santai. "Banget-bangett malahh. Arsen lebih sering mentingin Asya daripada dirinya sendiri."
"Keliatan juga kalau kamu sama sayangnya seperti dia." Asya cengengesan, "iyaa. Menurut Asya, Arsen itu pria terhebat setelah papa. Asya juga bahagia banget kalau di samping Arsen."
Darren tersenyum.
"Saya ikut bahagia, kalau kamu bahagia."
Asya kembali menatap Darren yang sedang menatap jalanan. Dirinya merasakan tidak enak mendengar perkataan Darren barusan.
Apa yang dikatakan Darren terlihat berbeda dengan apa yang dirasakan. Darren seperti terluka, namun berusaha untuk baik-baik saja. Bukankah itu menyakitkan?
...βββ β₯οΉβ₯ βββ...
20.47, Asya baru tiba di rumah utama.
"Kakak cantik, makasih yah udah mau main sama Dave," kata Dave sambil tersenyum manis di samping mobil.
Asya ikut tersenyum lalu jongkok di depan Dave. "Kapan-kapan kita main lagi, oke? Kamu gak boleh ilang lagi!!" Dave tertawa lalu memeluk Asya. Darren hanya bisa menatap interaksi keduanya, ia tidak ingin mengganggu.
"Oiya! Kakak juga berterimakasih yaa, karena tadi udah dibayarin," Dave melepas pelukan. "Kakak cantik bilang makasihnya ke papa ajaa, kan papa yang bayarin."
"Haruskah?"
Dave mengangguk lucu.
"Oke dehhh."
Asya berdiri menghadap Darren.
"Makasih ya, om, tadi udah bayarin."
"Santaii ajaa. Apa si yang nggak buat ponakan," Asya tertawa kecil.
"Asyaaaaa!!" Asya berbalik badan. Ia melihat Arsen sedang melambaikan tangannya dengan senyuman selebar jalan tol. Asya tertawa lagi.
"Masuk gih, udah ditunggu tuhh."
"Hehe... Asya masuk dulu ya, om. Om sama Dave hati-hati di jalann. Jangan ngebut-ngebutt!" Darren menganggukkan kepala.
"Byee, omm. Bye, Davee!"
Darren dan Dave melambaikan tangan.
"Bye-byee, kakak cantik!!"
Asya membungkukkan badannya empat puluh lima derajat lalu masuk sambil berlari menghampiri Arsen.
"Awas jatuh, sayangg! Jangan lari-lariii!!" Asya tidak menuruti perkataan Arsen dan terus berlari. Sampai akhirnya ia mendarat di pelukan Arsen.
Arsen mengangkat tubuh Asya kemudian berputar-putar. Keduanya masih berpelukan, bahkan, kaki Asya melingkar di pinggang Arsen.
"Mereka kayak gak jumpa lima tahun anjirr. Cape banget gue liatnya," keluh Alvin dari playground. Arsen berhenti berputar lalu tertawa.
"Kangennnnnn!!"
"Aku si nggak," jawab Asya santai.
"Ngapain meluk kalau nggak? Turun!!" Asya cengengesan sambil mengeratkan pelukannya. "Baby koala ganti baju dulu yaa, aku anterin ke kamar."
"Okayy. Let's go!!"
"Arsen jangan lupaa kecap sama sosissnyaa di kulkaaassss!!" teriak Azril. Arsen mengangkat satu jempolnya sebagai jawaban.
"Jadi? Gimana tadi pikniknya? Seru?" tanya Arsen di jalan. "Yaaa lumayan serulahh."
"Pasti kamu lelah, letih, lesu menghadapi lincahnya tingkah Dave."
"Kokk tauu? Pasti kamu peramal!"
"Dari muka kamu tu keliatan capek, makanya aku gendong nih sampe ke lantai atas."
Asya pun menyandarkan kepalanya di dekat leher Arsen, "pengertian banget kamu. Makin sayang dehh!"
"Sayang mah sayangg, tapi jangan begini jugaaa!" Asya cengengesan lagi. Leher adalah titik tersensitif bagi Arsen.
"Acenn, menurut kamu aku bau nggak? Kalau aku bau, aku mau mandii sekarang."
"Ngapain mandi malam-malam? Gak usah, gak usah. Dingin."
"Kan ada air angett," jawab Asya ngeles.
"Gak usah, Cill. Nanti kamu kedinginan. Lagian kamu juga gak bau kok. Tapi kalau menurut kamu, kamu bau, mending pake parfum aja dari pada mandi."
Asya berpikir sejenak.
"Yaudah dehh, aku gak mandi."
Arsen menurunkan Asya tepat di atas kasurnya. "Dah, ganti baju gih."
"Terus kamu ngapain di dalam?"
"Mau liat."
"ACEENNN MESUM!!" Arsen tertawa ngakak lalu ngacir keluar kamar Asya. "Nanti kamu nyusul aku aja ya di playground. Jangan lama-lama ganti bajunyaa," kata Arsen dari depan pintu.
"Iya, iyaa."
Arsen kembali ke playground setelah membawa pesanan Azril. Ia duduk tepat di sebelah Shaka. Btw, mereka lagi masak barbeque daging sapi dan sosis di playground.
Aska bersama sang istri juga melakukan hal yang sama dengan teman-teman mereka. Namun, Aska dan yang lain kumpulnya di rumah Ivan.
Oke!
Back to Azril dan kawan-kawan.
"Senn, lu sama Asya tu gak jumpa sejak lu pergi dari sini sampe sekarang. Itu belum dua puluh empat jam njirr. Tapi kenapa tadi kekk gak jumpa bertahun-tahun?!!"
Arsen nyengir, "kan biasanya gue ketemu Asya teruss siee. Makanya jadi kangen banget kalau jauh."
"Ini sih ya, bucinnya udah gak ketolong lagi. Gak bisa disembuhin!" kata Ara meledek.
Arsen cengengesan.
"Keknya gue harus lebih cepet nikah sama Asya. Biar kalau pagi gue udah liat Asya, siangnya liat Asya karena pulang makan, sorenya pulang kerja beneran dan liat Asya lagi, terus malamnya bikin keponakan Azril. Harus segera direalisasikan ini mah."
"Suka hati dia aja dah ya, suka hati diaaaaa! Halu mulu kerjaan dia mah," ledek Racksa.
"Gue mah mending. Karena yang gue haluin masih bisa di capai. Alvin sama Dino halunya gak bisa dicapai karena yang di haluin gepeng."
"Eh bener! HWAHAHAHAHAHAHAHA!"
"Dua, tiga, gunung berapi. Menurut gua, Arsen pengen mati."
Mereka semakin tertawa ngakak.
"Udah datang, anak bayikk?" tanya Racksa meledek setelah melihat Asya duduk di sebelah Arsen. "Anak bayik gundulmu!!" Haikal nyengir.
"Ini adalah contoh bayi yang tidak mengakui dirinya bayii," ledek Alvin gantian.
"Huft... ayo buka mata kalian selebar dunia, dan sadarlah, GUE TU UDAH KEPALA DUAAA!" Mereka malah tertawa lagi melihat Asya ngamuk.
"Udah, biarin aja. Toh yang mereka bilang bener, kamu bayi."
"Aceeennnn!" Arsen tersenyum menahan tawa lalu mengecup pipi Asya untuk menenangkannya.
"Btww, lu gak dibeliin apa-apa sama Darren?" tanya Ara mengalihkan topik. Karena kalau gak dialihkan ntar gak bakal siap broo.
"Gak ada sii. Tapi dari tadi, apa yang Darren mau, gue juga dibeliin."
"Example?"
"Ice cream."
"Yahh! Cuma es krim doang? Kaya gak kaya tu orang," kata Haikal menyepelekan.
"Gak usah banyak cerita deh. Dia punya perusahaan, lah lu punya apa? Kagak ada kan?!" sahut Ara.
"Anjirrr. Astaghfirullahalazim. Nyesekk! Eh tapi gue punya sesuatu tauu."
"Apaan?" tanya mereka kompak.
"Yang ku punya hanyalah hati yang setiaa, mencintai Araa~~~"
"YAHAAAAA, MODUS LU JAMAL!!"
Haikal terkekeh.
Mereka melanjutkan perbincangan, dan menikmati barbeque. Sesekali mereka tertawa dengan tingkah-tingkah yang di luar nalar.
Sampai tiba waktunya pergantian tahun. Mereka menghidupkan mercon dan tersenyum gembira sambil pelukan bersama.
"Semoga tahun ini gak ada masalah gede sampe baku tembak yaa," ujar Azril saat berpelukan.
"Aamiin!"
Pelukan terlepas.
Azril merangkul Naina, begitu juga dengan Haikal dan Ara, yang lainnya malah sibuk dengan petasan. Namun lain hal-nya dengan Asya dan Arsen yang sedang bertatapan dengan senyuman merekah.
"Mungkin kamu bosen dengernya, tapi aku tetep bakal bilang sih. I love you," ujar Arsen lalu mengecup sekilas kening Asya.
"Gak bakal bosen sih kalau kamu yang bilang. Btw, I love you too!" Asya membalas kecupannya dipipi. Arsen tertawa kecil menutupi salting.
"Ahh.... bulan depan nikah?" ajak Arsen serius.
"Kuyy gasss ngenggg~~~"
...----------------...
__ADS_1
...Happy new yearr, readerss!! β‘β‘β‘...
...Sorry bangett telattt, aku lupa publish πππΌππΌ...