Barbar Generation

Barbar Generation
Chapter 134


__ADS_3

"Arsen, Pak Mikko dimana?" Tanya Aska setelah keluar dari kamar. Kini dirinya kembali mengenakan setelan kantor.


"Di rumah Arsen agaknya, om. Gak tau juga Arsen," jawab Arsen agak cuek. Jujur saja dirinya memiliki sedikit dendam pada Mikko.


"Masih belom ada ngabarin Pak Mikko?" Arsen menggelengkan kepala sambil cengengesan.


Asya yang melihat Arsen tidak mood membahas Mikko langsung mengganti topiknya.


"Whiskas abis tau, dad. Beliin dongg," kata Asya.


"Beli sendiri daddy kasih uangnya. Mau?"


"Okey, mana duitnya."


Asya menengadahkan tangan.


Bukan memberi uang cash, Aska malah memberikan salah satu kartu kreditnya.


"Whiskas doangg, ngapain pake kartu daddyyy?"


"Sekalian beli jajan buat di playground. Kemaren tu abis, daddy suruh bodyguard yang cemilin."


Asya berohria.


"Okee dehh. Daddy kasih jatah berapaa niii??"


"Apa pula jatah-jatah? Pake sepuas kamu, sayang. Sampe abis isinya juga gapapaa."


"Widi widi widiiii, ngeri emang bapak gue." Aska tertawa kecil mendengarnya.


"Masih banyak aja duit. Padahal om abis banyak kemaren kan pas liburan?" Tanya Arsen.


"Iya lumayan banyak juga. Gunanya om ngumpul duit kan untuk nyenengin anak bini," jawab Aska santai.


"Arsen juga ngumpul duit buat mantesin diri nih, biar cocok jadi mantunya Tuan Aska."


"Udah pantes. Kurang apalagi dah?" Tanya Zia.


"Masih kurang kaya, tantee."


"Cielaahh! Gak perlu kayaa yang penting bisa bikin Asya bahagia."


"Ahhayyy, lopyu icikiwir calon mertuaa!"


Aska dan Zia malah tertawa mendengarnya.


"Btw daddy mau ke kantor?" Tanya Asya.


"Iyaa. Kasian ongkel kamu tu udah daddy repotin sebulan lebih."


Asya berohria lagi sambil menganggukkan kepalanya.


"Yaudah kalau gitu daddy berangkat dulu."


"Ini mommy ikut??"


"Emangnya kapan mommy kamu gak ngikut kemanapun daddy pergi?"


Asya tertawa kecil, "iya pulaaa. Kan mommy ga bisa jauh dari daddy."


"Woiya dong! Mommy takut ntar daddy kamu di colong ulet."


◕◕◕


"Sayang."


"Iya, sayang. Kenapa? Jajannya kurang?" Tanya Arsen sambil mengemudi.


"Nggak. Bukan ituuu," jawab Asya.


"Jadi apa dong?"


"Aku mo nanya ajaa, kamu masih belum kasih kabar ke Om Mikko?"


"Belom," jawab Arsen singkat.


"Kenapa gitu?"


"Maless. Ngapain aku ngabari orang yang mau jual aku??"


"Pasti niat Om Mikko nggak gitu, sayang. Kamu gak boleh su'udzon tau," ujar Asya.


"Ini mau langsung ke kampus?"


Arsen mengalihkan topik.


Asya menoleh, "emm.. nyari bubur yuk."


"Bubur? Bubur apa?" Tanya Arsen.


"Bubur ayam."


"Masih laper kamu?"


Asya mengiyakannya sambil cengengesan.


"Yaudah yok cari bubur ayam."


"Aku kangen bubur ayam darii dua minggu yang laluu."


"Posisinya lagi dimana?"


"Kayaknya si dii Swiss," jawab Asya agak ragu.


"Oooo, jadii pas di Swiss kangennya bubur ayam doang?"


"Iyalah. Kalau kangen kamu, kamunya kan kangen Angela."


Arsen menatap kesal Asya sekilas.


"Mulai lagi, mulai. Angelaa terus Angelaaa terus, sampe kapan mau bahas Angela mulu hm?"


"Yaa ga tauu."


"Sampe kita punya anak keknya juga bakal kamu bahas terus si Angela."


Asya berfikir, "keknya sih iya. Tapi apa iya?"


"Apa iya gimana maksudnya??" Tanya Arsen heran.


"Apa iya kita jadi nikah?"


"Yang bilang gak jadi siapa?"


"Ya kali aja gak jadi, kamunya milih An—"


"Aku cium lagi nanti kamu bener deh, gak bohong aku."


"Kamu lagi nyeti—"


Asya auto diam, wajah Arsen sudah mendekat. "Beneran mau aku cium? Kalau iya ntar gak cuma semenit loh."


Asya tetap terdiam. Dirinya menoleh ke luar jendela, mobil masih terus jalan lurus tanpa oleng sana-sini.


Melihat Asya mengalihkan tatapan, Arsen memencet hidungnya sekejap. Asya kembali melihat Arsen.


Cup.


Arsen mengecup bibir Asya dan kembali ke tempat semula. Asya sendiri memegang bibirnya lalu menatap sinis Arsen.


"KAMUU MEESUUMMM!"


"Loh loh? Apa maksud?"


"Apa maksud, apaaa?! Ishhh. Kerasukan apa kamu hah? Selama aku tinggal ngapain ajaa kok jadi mesum bangett? Jangan-jangan kamu suka check-in sama cewek lain."


"Astaghfirullahalazim, sayang. Aku masih perjaka lah, mana pernah main-mainnn."


"Bohong dosa!"


"Kalau bohong dapat pahala tiap hari aku bohong."


Asya auto mingkem.


"Ngeraguin aku mulu ih, heran. Aku gak pernah selingkuh, sayang," kata Arsen tegas.


"Buktinya?"

__ADS_1


"Mo ku buktiin gimana?"


"Ya gak tauuu."


"Tapi aku yakin seratus persen, kamu pasti pernah!"


"Pernah apa? Check-in?"


Asya mengangguk.


"Ya emang pernah, buat istirahat. Kalau aku ke luar kota kan tidurnya di hotel."


"Yaudahh, berarti aku gak salah. Kamu suka check-in!"


"Tap— iya sayang iyaaa. Aku yang salah iyaaa, aku yang salah kok, aku."


Asya terkekeh melihat ekspresinya.


"Gak ada bubur deh keknya jam segini. Gak usah cari bubur lagi deh," kata Asya.


"Jadi makan apa? Nanti kamu gak fokus karena kelaparan."


"Eum.. ke kafe aja gimana?"


"Kamu gak boleh ngopi," ujar Arsen tak mau di bantah.


"Iya iyaa nggak beli kopi, aku beli yang lain ntar."


"Okeyy."


Tepat ada kafe di depan, Arsen membelokkan mobilnya.


"Kek kenal deh mobilnyaa."


"Mobil Alvin gak sii?"


"Bisa jadii. Ayok masuk," sembari menggenggam tangan Asya, keduanya masuk ke kafe.


Sesuai dugaan Asya, ternyata ada Alvin dan Alex di dalam. Ternyata Azril dan Naina juga ada di situ.


"Wihh parah sii, main nggak ngajak!" Cibir Asya langsung.


"Bacott nyaaa. Lu aja pergi sama Arsen mulu njemmm!" Jawab Alvin gak terima.


"Halahhh! Lu ga ada ngajak juga anjirr!"


"Gak mau ganggu gue. Lagian gue juga ngedate ama Alex," ujar Alvin sambil mengedipkan mata ke arah Alex.


Pletak!


"Aku lanang, mass!!"


Mereka terkekeh melihatnya.


"Duduk loh, Sya. Ngapain lu berdiri mulu?" Kata Naina. Asya tersenyum sekilas lalu duduk di depan Azril.


Azril sama Naina duduk berdampingan, Asya dan Arsen berada di depannya, sedangkan Alvin juga Alex duduk di samping kanan dan kiri.


"Hai, Azril."


"Ape lu?!"


Kedua twins itu saling bertatapan sinis.


"Kenalin, ini calon suami gue."


"Kenalin juga, ini calon istri gue."


Arsen menatap Asya sambil tersipu, begitupun dengan Naina menatap Azril.


"Nai, lu gak mau terbang?" Tanya Arsen.


"Udah terbang sampe Amsterdam sih, lu gimana?"


"Mau terbang ni, menuju langit ke tujuh."


Asya dan Azril malah tertawa.


"Oiya, Nai, ini calon maminya anak-anak gue."


"Kalau ini sih calon ayahnya anak-anak gue."


"Ahh! Gak kreatip!" Ledek keduanya.


"Salting salting ajaa, gak usah protes!"


"Anj!" Arsen cengengesan.


Cup.


Arsen mengecup pipi Asya.


"Allahu Akbar! Udahhh napaaa udahhh, capeee gue anjirr. Masa gue juga ikutan bilang, kenalin Alex calon uke gue. Kan gak mungkin."


"Oasuu, gue warass!"


"Ya makanyaaa gue bilang gak mungkin tolill!"


"Oh iya ya."


"Ih iyi yi. Gue ruqiyah juga ntar lu!"


Mereka terkekeh kecuali Alvin dan Alex.


"Btw lu pada mesen apaa?"


"Kita udah tadi. Lu sama Asya aja yang belom," jawab Azril.


Arsen menghadap Asya, "mau pesen apa, sayang?"


"Terserah kamu."


"Bener ni terserah aku? Ntar kamunya gak sukaa pulaa."


"Pasti suka lahh. Kan yang mesen kamu," kata Asya sambil tersenyum.


"DAHLAH UDAH. GUE HANCURIN JUGA NTAR NI KAFEE!"


"Hahahaha!"


Usai ketawa, Arsen memanggil pelayan lalu memesan makanan untuknya dan Asya.


"Sebenernya ya, gue tu kasian sama Naina." Kata Alex setelah Arsen selesai memesan.


"Kasian kenapa?"


"Asya kan udah ada cincin melingkar di jarinya, sedangkan Naina gak adaaa. Dia masih di gantung," ledek Alex.


"Anjj u."


"True juga anjemm. Dari pada sama Azril mending sama gue deh, Nai, besok langsung ke KUA kita." Ujar Alvin menggoda.


"Ngga dulu deh. Ngapain nikah cepet kalau belum punya black card."


"Puft.. BHAHAHAHA!! Mampusss lu, di tolak secara halus!"


Azril tertawa paling kencang.


"Parah si, masa orang ganteng kek gue di tolak. Ngomongin black card, emang Azril punya?"


Naina menatap Azril.


Azril sendiri tersenyum lalu berdiri, tangannya mengambil dompet di saku dan ya... black cardnya di munculkan.


"ANJIRRR!! Sejak kapan lu punyaaaa?!!"


Bukannya menjawab, Azril malah tertawa.


"Ntar malem gue ke rumah lu deh ya, Zril. Gue mo nyolong black card biar bisa nikah sama Nai."


"GAK MODALL LUU ANYINGG!!"


◕◕◕


Sejam setelahnya, mereka semua baru tiba di parkiran kampus. Terkecuali Azril dan Nai, mereka duluan.


"Uwauw, Asya kambek."

__ADS_1


"Aaaa!! Abang Racksaaa~"


Racksa tertawa sembari memeluk Asya.


"Gimana liburannya?"


"Asik."


"Gak depresi lagi kan?"


"Nggak dong. Udah sembuh nih!"


Racksa tersenyum senang.


"Sial! Kenapa vibesnya kek pacaran anjirr?!" Tanya Arsen iri.


"Bener lu, Sen. Vibesnya kek manusia abis LDR-an," sahut Alvin.


"Mana Racksa berubah bangett sifatnyaa."


"Berubah gimana sih kawann?" Tanya Racksa tertawa kecil. Mereka sudah berjalan menuju kelas.


"Ah berubah pokoknya! Gue jadi bayangin ntar di masa depan Asya malah sama Racksa, bukan sama Arsen."


Arsen langsung menendang Alex.


"Jangan ngadi-ngadi lu!"


"Anjirr banget Arsen! Tendangan lu sakit banget goblokkkk!"


"Salah lu nyari ribut."


Alex berdiri.


"Gue cuma bayangin njemm. Masih mending gue bilang sama Racksa, dari pada gue bilang sama gue?"


"Impossible! Muka lu kek monyet."


"Bab— astaghfirullahalazim."


Mereka terkekeh melihat keduanya.


"Eh itu tali sepatu lu lepas ikatannya, Sya."


Racksa jongkok ingin mengikatkan tali sepatu Asya, tapi tiba-tiba Racksa di dorong dan kini Arsen menggantikan posisinya.


"Cemburuan banget manusia satu inii."


"Bacottt!"


"Wah wahh.. ada Asya bacot bacot mulu, pas gak ada Asya jadi pendiem lu. Bicara pun jarang," cibir Alvin.


"Masa iyaa? Arsen pendiem selama gue tinggal?" Tanya Asya.


"Pendiem banget anjrittt, kek bawa beban negara di pundaknya."


Asya menatap Arsen.


"Banyak masalah kantor," kata Arsen ngeles. Asya paham, Asya mengerti, ia menganggukkan kepalanya.


"Selingkuh gak dia?"


"Kagak. Kalau iya pasti gue aduin ke lu," jawab Alvin jujur.


"Gue anak baik-baik kok, ngapain selingkuh."


"Yain aja udah yain. Gue mau ke kelas dulu, bentar lagi masuk. Bye!" Alvin pun pergi bersama dengan Alex.


Racksa juga masuk ke kelasnya sendiri.


Kini tersisa Arsen dan Asya.


Mereka berdua beda fakultas, tapi jalannya searah.


"Jadi diem kenapaa kamu? Angela?"


Arsen tersenyum tipis.


"Gak perlu di pikirin kenapa."


"Yaudah dehh, gak bakal di pikirin. Tapi kalau kepikiran gimana?"


"Nanti ceritanya ya, masuk kelas dulu gih."


Keduanya berhenti tepat di depan kelas Asya.


"Aku tunggu di mobil ntar!" Arsen mengangguk.


"Byyee~"


Asya masuk meninggalkan Arsen.


Tapi baru beberapa langkah Asya di dalam, Arsen tersadar satu hal. Ia menyusul Asya.


"Sayang."


Asya berbalik.


"Kann aku bener, kamu mimisaaann."


Arsen langsung menggendong Asya, "eh lu siapa namanya gue lupa, pokoknya lu. Ntar kalau dosen tanya Asya kenapa, bilang aja Asya izin sakit."


"Arsen kamu apaan sii? Turunin aku dehh, aku tu cuma mimisan."


"Ck, bawel."


"Jangan lupa di sampein. Makasih!"


Arsen pun pergi bersama Asya. Tapi bukan ke UKS, Arsen membawa Asya ke rumah sakit.


Antara lebay sama khawatir Arsen mah.


"Sennn, aku cuma mimisan!!"


"Jadi? Gak mau ke rumah sakit?"


"Ya nggak lahh! Cuma mimisan Arsen, ih lebay banget kamuuu."


Arsen memutar balikkan mobil dan kembali mengemudi, kini malah menuju apartment pribadinya.


"Lah? Ngapain kemariiiii, astaghfirullahalazim!!"


Arsen tidak menjawab perkataan Asya, ia turun dari mobil kemudian membukakan pintu Asya lalu menggendongnya lagi.


"Aku bisa jalan sendiri."


"Diem."


Asya terdiam. Dalam hati dirinya berjanji akan merajuk tujuh hari tujuh malam.


Setibanya di dalam, Arsen merebahkan Asya ke kasur.


"Istirahat. Kamu mimisan karena kecapean," ujar Arsen sembari merapikan selimut Asya.


"Aku gak mauuukk!"


"Istirahat, Asya."


"Gak mau! Aku mau ngampus." Asya berusaha berdiri tapi Arsen kembali merebahkan tubuhnya. Asya auto buang muka dan membelakangi Arsen.


Melihat itu, Arsen mengambil ponsel.


^^^"Halo, assalamu'alaikum, om."^^^


📞 "Wa'alaikumsalam. Kenapa, Sen?"


^^^"Tadi om bilang nikahnya bulan depan kan?^^^


^^^Gimana kalau nikahnya nanti malam aja, om?"^^^


^^^"Asya bandel bangett ini, gak bisa di aturr."^^^


📞 "Hahaha! Emang kalau udah nikah


gampang ngaturnya gitu?"


^^^"Kalau udah nikah kan gampang ngancemnya.^^^

__ADS_1


^^^Gimana om, setuju?"^^^


__ADS_2