
Arsen terbangun di pagi hari. Badannya masih terasa panas, tapi tidak sepanas kemarin. Setiap bangun tidur, orang pertama yang selalu Arsen cari adalah istrinya. Seperti sekarang ini.
"Sayang..." panggil Arsen dengan suara ciri khas bangun tidur. Serak-serak agak berat gimana gitu ya brok. "Asya di mana sih?" tanya Arsen berbicara sendiri.
Dirinya bangun dari tidur lalu berjalan keluar menuju dapur. Ternyata sesuai dugaan, Asya di sana sedang memasak sarapan. Arsen datang dan memeluknya dari belakang. "Ehh.. Heyy?! Arsen, ini di rumah papa, bukan di apart."
"I know, but why? You're my wife."
"Eii, budak iko haa. Malu di liattin ntarr. Kamu kenapa bangun coba? Maksud aku, kenapa bergerak? Badannya masih panas loh ini. Kamu masih pusing? Mau sarapan apa biar aku buatin?" tanya Asya bawel.
"Aku sih maunya kamu."
"Aku serius. Gak mau bercandaa. Ini obat dokternya gak mempan atau gimana ya? Masa kamu belum sembuh, masih panas ajaa."
"Makanya aku kasih tau jangan ngeyel, kan obatnya minum su—" Asya membekap mulut Arsen. "Aku marah kalau kamu gini terus deh. Maluk ih, nanti di denger papaa sama bundaa."
"Santai aja, Asya. Udah dengerin daritadi ini. Tenang, nak, kami maklum kok. Namanya juga anak mudaa," goda papa Arsen yang berada di antara pintu dapur. Asya malu, pipinya merona.
Jahilnya, Arsen malah mengecup leher Asya.
Asya auto menyikut perut Arsen. Terpaksa Arsen melepas pelukan dan menjauh. Ia tertawa sambil sedikit oleng. Kek orang mabok. "Pa, she's so cute, right? Pipinya merah bangett, gemesss!" adu Arsen kepada papanya.
"Hahaha... Iya, Sen."
"Arsenn! Ish. Ikut akuu!" Asya menarik tangan Arsen kencang, sebelum masuk kamar Asya berpamitan.
"Pa, bun, itu udah siap nasi gorengnya. Selamat menikmati yaa, Asya mau ngurus ni anak bandell." Papa dan bunda Arsen yang tertawa mengangguk-angguk.
"Jangan diamuk, Sya. Masih mending Arsen begitu loh, daripada ntar lu kena bantingg," goda Alex gantian. Arsen menatapnya sinis, "Lu kira gue apa banting-banting segala? Gigolo?"
"Anjayy kacau, kacauuuu."
"Lu sarapan duluan sana, Lexx. Gue mo bawa Arsen ke kamar," Alex mengangguk kemudian menyusul mama papanya. Asya dan Arsen pun lanjut ke kamar.
Sesampainya di kamar, Asya mendudukkan Arsen di kasur. "What's wrong with you?!"
"Emang aku ngapain?"
"Wah!! Udah aku bilang kita di rumah papaa, jangan macem-macem dong kamunya. Malu tauu di liatin papa mesra-mesraan gituu." Arsen tertawa kecil, "Kek anak perawan aja kamu, sok malu-malu."
"Diem!"
"Okay, mommy."
"Hehh!!!" Arsen tersenyum, tangannya memegang tangan Asya sambil mencoba rebahan. Asya sedikit tertarik, ia berada di atas Arsen. "Lagian apa salahnya? Kita yang pasangan sah, sayang."
Baru ingin protes lagi, tiba-tiba Arsen mengubah posisi. Kini dirinya yang berada di atas Asya. "Dak usah ngomel mulu. Aku minta morning kiss."
"Akunya gak mau, kamu bandel."
"Sekali nolak satu hickeyy."
"Arsennn! Wahh... Keren. Kamu udah sembuh berarti kalau gini." Arsen malah menjatuhkan kepalanya di ceruk leher Asya. "Belum sembuh, masih panas."
"Tapi udah betingkah banget daritadi, masa belum sembuh?" Arsen menggeleng. "Kiss dulu makanya, baru sembuh."
"Eh gak usah deh, nanti kamu sakit gantian." Asya tidak menjawab, ia mengelus rambut Arsen penuh kasih sayang. "Mam dulu yuk, mau mam apa kamunya?"
"Kenapa jadi soft banget ya inii?"
"Biar kamunya nurut. Kamu dikerasin malah kek bocah tengill!" Arsen cengengesan. "Kamu mau makan apa. Aku mau makan sesuai keinginan kamu," ujar Arsen.
"Aku apa aja mau sih, tapi mau bubur ayam!"
"Okei, bubur ayam." Arsen mengambil ponsel, mencoba menelepon anak buahnya untuk disuruh beli bubur ayam. Setelah selesai, Arsen menatap Asya yang sedang memejamkan mata.
Arsen mengecup kening, pipi kanan dan kiri serta bibir Asya. "Mukanya kalau gini keliatan polos banget, tapi kalau udah tengah malem jadi super duper hot. Apalagi kalau mimpin."
"Gak usah mikir yang aneh-aneh. Masih pagi ya ini. Nanti bangun aku juga yang disuruh tidurin." Arsen tertawa. "Apa aku suruh pembantu bunda aja?"
"Sembarangan! Dia punyaku. Cuma aku yang boleh pegang!" kata Asya membuka mata. "Iyaa, okeee. Lagian siapa lagi kalau bukan kamuu."
"Aku kangen deh, apa kabar belio?"
__ADS_1
"Ini kita bahas apa sihh sebenernyaa?"
....・。.・゜✭・...
Pasutri itu sudah selesai makan pagi. Arsen yang masih kurang enak badan disuruh tidur di kamar, sedangkan Asya membantu mertuanya bersih-bersih rumah.
Arsen sudah menyuruh Asya untuk tidak ikut, tapi karena Asya merasa tidak enak, jadi Asya mengabaikan Arsen dan membantu mertuanya.
Arsen bosan di kamar seharian, cuma main game online daritadi. Kini Arsen bangun, ia menuju ke meja yang ada di ruangan. Arsen membuka laptop, mau melihat kondisi kantor.
Di saat membuka laci mencari suatu dokumen, Arsen melihat testpack yang tampak sudah terpakai. Arsen mengambilnya, meletakkan kembali lalu memegangi mukanya dengan kedua tangan.
"Kenapa daritadi Asya diem aja sih?! Daritadi juga bareng gue mulu tapi kenapa gak ada bilang apa-apa?" Arsen menghela nafas panjang. Ia menutup kembali laptopnya kemudian keluar mencari Asya.
Asya berada di dapur, sedang mengelap peralatan dapur. Arsen datang langsung menggendongnya. Spontan, Asya memberontak ingin turun. "Arsen! Apaan sih kamu?! Turuninn! Turunin aku!!"
Arsen diam. Asya sendiri masih berusaha minta turun namun Arsen juga tetap tidak bergeming. Merasa tidak akan berhasil karena tenaga Arsen besar, Asya memilih untuk pasrah.
Tiba di kamar. Arsen meletakkan Asya di kasur, ia berdiri di sebelah kasur sambil berkacak pinggang. Asya duduk menatapnya heran, "Kok jadi kamu yang mau marah? Harusnya aku."
Arsen berjalan ke meja lalu kembali membawa testpack. "Aku yang harus marah. Kenapa nggak ada bilang ke aku soal ini?"
"Itu bukan berita bagus ngapain aku bilang?" Arsen menghela nafas. "Ohh, jadi suamimu ini gak boleh tau berita apapun itu sekalipun berita yang gak bagus? Suamimu ini gak boleh tau gimanapun kondisi istrinya, gitu?"
Asya terdiam sejenak. "Itu beneran bukan berita bagus Arsen, cuma satu garis, negatif."
"Asya. Mau itu negatif ataupun positif, kamu harusnya tetep kasih tau aku. Aku suamimu, aku berhak tau gimanapun kondisi kamu."
"Aku selalu kasih tau kamu apapun, tapi masa kamu gini? Main sembunyi-sembunyi dari aku. Kalau bukan aku yang nemuin testpack itu, kamu tetep gak bakal kasih tau aku, kan?" Asya menunduk, merasa bersalah. "Maaf."
"Aku gak mau kamu sedih sendirian, Sya. Janjinya mau susah seneng sama-sama, tapi kok kamu malah sedih sendiri-sendiri gini?" Asya mendongak, "Aku gak sedih kok."
"Gak usah bohong. Aku tau kamu itu gimana, bukan sehari dua hari kita ketemu. Mata udah berkaca-kaca di bilang gak sedih."
Asya mendekati Arsen lalu memeluknya erat. "Aku takutt, Sen... Takut banget gak bisa kasih kamu keturunan," kata Asya dengan suara berusaha menahan tangis.
Arsen berusaha menenangkan. "Aku udah pernah bilang, kita masih muda, masih banyak waktu. Mungkin Allah belum kasih sekarang karena kamu juga belum siap. Kemarin bilangnya gitu kan, kamu belum siap jadi ibu."
"Iyaa. Tapi aku tetep takutt. Kalau emang aku gak bisa kasih, gimanaa?" Arsen melepas pelukan, mengelus pipi Asya yang terkena tetesan air mata. "Gak boleh ngomong gitu. Udah aku bilang juga sekalipun gak ada, aku gak masalah. Ada kamu aja itu udah lebih dari cukup."
"Udah, gak usah nangis lagi. Masih mudaa, masih banyak waktu untuk nyobaa. Kamu siapin diri aja dulu ya, berdoa banyak-banyak sama Allah, terus nanti kita pulang ke apart buat usaha lagi."
Kini Asya gantian melepas pelukan. "P, maksod?!"
Arsen tertawa kemudian mulai memeluk Asya lagi. "Sekali lagi aku bilang ya, kita masih muda, masih banyak waktu untuk mencoba. Ada kamu itu udah lebih dari cukup bagi aku. Gak usah ngedown, gak usah mikir macem-macem, gak usah main sembunyi-sembunyi lagi dari aku. Paham?" Asya mengangguk. "Good girl."
Asya mendongak, tangannya masih memeluk Arsen. Arsen menatap mata Asya sambil tersenyum lalu mengecup kening Asya dan mengelus rambutnya. "Mau liburan?"
Mata Asya berbinar. "Bolehh??"
"Of course, babe. Mau kemanaa?"
"Sydney, Australia!"
....・。.・゜✭・...
Orang kaya selalu bebas melakukan apapun yang mereka mau. Kenapa? Karena mereka punya duit.
Asya dan Arsen kini sedang packing di apartemen, bersiap-siap untuk berangkat ke Sydney. Setelah permintaan Asya tadi, Arsen langsung mengurusnya. Mencari tiket dan segala macam.
Disaat sedang sibuk mempersiapkan barang, ponsel Arsen berbunyi. Arsen berhenti sejenak lalu mengambil ponselnya. Ada panggilan dari sang mertua.
"Assalamu'alaikum nak, daddy dengar katanya kamu mau honeymoon?"
^^^"Wa'alaikumsalam, daddy. Ini lagi siap-siap, hehehe."^^^
"Kok mendadakk? Sempetin ke rumah dulu ya, daddy tunggu."
Belum sempat Arsen menjawab, panggilan sudah terputus. Arsen menatap ponselnya dengan ekspresi datar. "Untung mertua."
"Kenapaa?" tanya Asya tiba-tiba muncul di sebelah Arsen. Arsen mengecup pipi Asya lalu kembali mendekati koper. "Daddy suruh ke rumah bentar."
"Sekarang aja gimana? Satu setengah jam lagi tauu." Arsen berbalik. "Kamunya belum siap-siap?"
__ADS_1
"Okee, otewe siap-siap!" Asya mengambil baju kemudian menggantinya di kamar mandi. Arsen sendiri memasukkan beberapa barang yang lain, dirinya sudah bersiap-siap daritadi.
Selesai berganti, Asya keluar mengenakan hoodie yang sama dengan Arsen. "Aku dah siappp." Arsen tersenyum, "Masyaallah, cantiknyaa istrikuuuu."
"Hihii, sejak kapan istri kamu ini gak cantik, sayang? Udah ah, ayok langsung tempat daddy ajaa." Mereka berjalan bersama menuju mobil. Usai meletakkan koper di bagasi, Arsen masuk ke bagian kemudi.
"Daddy bakal marah apa ya karena telat ngasih tau?" tanya Arsen sedikit panik. "Nggak kayanya, mungkin ada yang mau daddy bicarain sama menantu kesayangannya inii."
Arsen tersenyum meledek. "Menantu kesayangan yagesyakk. Berangkat sekarang kita yaa," Arsen mulai mengemudikan mobil dengan santai.
Sudah hampir setengah perjalanan dengan penuh keheningan, Asya melepas seat beltnya kemudian duduk di pangkuan Arsen. Arsen sedikit terkejut, tiba-tiba aja Asya begitu. "Kamu ngapain, sayangg?"
"Pengen ajaa peluk kamu." Arsen mengelus punggung Asya dengan satu tangan. Posisinya mengemudi sekarang memang sangat sulit, tapi agar cepat sampe Arsen tetap lanjut mengemudi.
Masih berusaha fokus mengemudi, Asya malah mengendus-endus leher Arsen. Titik paling sensitif di tubuh Arsen adalah tepat di lehernya. Arsen sedikit gelisah. "Sayang, kita lagi ngejer waktu, kenapa kamu malah mancing?"
"Nggak tau juga. Pengen aja."
"What's wrong with you babee? Iman aku lemah, ayy, ini waktunya gak tepat." Asya diam, matanya malah berusaha ingin tertutup. "Kamu gak mau balik lagi ke sebelah?"
"Kamu gak suka aku gini?"
"Bukan gitu, sayang. Ini waktunya gak tepat. Kita lagi ngejer waktuu." Bukannya berpindah, Asya tetap disitu dengan posisi yang sama. "Bismillah ya Allah, kuatkan iman hamba..."
Tak terasa, mereka akhirnya tiba di rumah besar Aska. Karena Asya masih tidak ingin turun dan jalan sendiri, Arsen pun menggendongnya sampai ke dalam rumah.
"Lhoh, kenapaa tu anakk?" tanya Zia keheranan. "Arsen gak tau, mom. Tiba-tiba jadi manja banget dia dari di mobil tadi."
Asya nyengir. "Arsen wangi bangeettt, jadi Asya pengen peluk terusss," jawabnya nyengir. "Yaudah turun dulu, nanti lagi. Ada mommy daddy di sini," kata Arsen berbisik. Asya turun dan duduk di sebelah Arsen.
"Anak kita bukan sih dia?" Aska baru bersuara. Zia mendekatinya pura-pura berbisik. "Keknya bukan."
"Momm, Asya denger."
"Abisnya anehh. Lagi ngisi kamu makanya tiba-tiba manja banget gitu?" Asya terdiam. Melihat komuk Asya yang berubah, Arsen langsung sigap mengalihkan. "Ehm. Jadi kenapa, daddy?"
"Katanya kamu sakit seharian? Kok ini sekarang mendadak mau ke Sydney? Kerjaan kamu sama tawanan kamu gimana?"
"Semalem Arsen memang sakit, daddy. Tapi dah sembuh kok sekarang. Kalau masalah tawanan sama kerjaan Arsen kasih ke om Mike." Aska berohria, "Terus kok mendadak ke Sydney?"
"Lagi pengen refreshing aja gitu, daddyy. Lagian kan kemarin-kemarin gak ada tuh honeymoonnya. Biar yang udah-udah gak terulang, jadi Arsen mau ngajak Asya liburan." Aska dan Zia berohria.
"Nanti kalau Mike sibuk banget sama perusahaannya bilang suruh kabarin daddy. Anggota kita banyak bisa bantu, daddy bisa, ongkel kalian bisa, Zap juga bisa. Pokoknya banyak dah. Jadi gak usah mikirin di sini, fokus sama liburannya."
"Okeshapp, daddy."
"Asya bisa ke mobil duluan sana, daddy sama Arsen mau bicara." Asya menoleh ke arah daddynya, "Asya gak boleh denger gituuu?"
"Masalah kerjaan, masih mau denger?"
"Kerjaan apa Stevan?!"
"Asya..." panggil Arsen dengan suara pelan, bermaksud mengingatkan istrinya. "Maaf, daddyy. Yaudah Asya ke dapur aja dulu, nyari sesuatu yang bisa Asya kunyah." Asya langsung pergi tanpa persetujuan.
Persetujuan juga buat apa, dirinya anggota penting di rumah itu. Walau jarang ke rumah. Melihat Asya sedang menikmati cokelat, Aska menatap serius Arsen.
"Apa masalahnya lagi? Kamu bisa kasih tau kalau mau, nggak juga gakpapa." Arsen berpikir sejenak. Ingin dirahasiakan tapi mertuanya sudah bertanya langsung. "Jadi tadi Asya nyoba testpack, karena telat katanya. Tapi hasilnya negatif, cuma ada satu garis."
"Serius?" tanya Zia. Arsen mengangguk, "Makanya Arsen ajak pergi biar gak kepikiran beratt dia."
"Baguslah, udah bagus itu rencana kamu. Bersyukur mantuku Arsen. Nanti kalau kurang duit, daddy ada yaa." Arsen tertawa, "Aman, daddyy. Santai aja."
"Kamu tu nawarin duit sama konglomerat. Ada-ada ajaa," sahut Zia. Aska cengengesan, "Barangkali mau gitu kan setidaknya bantu dikit-dikit, yekan, Sen?"
Arsen mengangguk-angguk. "Tapi daddy tenang aja, duit Arsen ada kok. Lumayan buanyak."
"Kataku juga apa, sayang. Konglomerat menantu kita niii," kata Zia. Arsen malah tertawa lagi. "Aamiin, aamiin. Semoga jadi beneran, mom."
"Aamiin. Tapi menurut mommy, Asya emang kek lagi isi gitu tau." Arsen melihat ke arah Asya yang sedang memakan cokelat. "Menurut kamu sendiri gimana, Sen?" tanya Aska.
"Gak tau juga, daddy. Hasil testpack cuma satu garis, Arsen gak mau nyuruh Asya periksa lagi karena takutnya bisa nyakitin hatinya Asya. Dikira Arsen maksa dan ngebet banget gitu."
"Bener sih, daddy setuju sama kamu. Yaudahlah ya, lagian masih muda juga kan kalian." Arsen mengangguk dengan senyuman, "Ini ke Sydney sekalian mau buat lagi kok, dad."
__ADS_1
"Anjayyy, keren juga pak Arsen." Arsen dan Aska tertawa bersama. "Gak mertua, gak menantu, samaaa aja."