
π "Arsen..."
Tut tut!
Panggilan terputus begitu saja.
Aska mencoba menelepon Mikko lagi, tapi tidak kunjung mendapat jawaban. Aska mulai cemas.
Drt.. Drt..
Aska kembali menoleh ponselnya.
"Zafran?"
Aska mengangkatnya.
π "Assalamu'alaikum, uncle. Asya sama Azril kemana ya? Zap telepon gak diangkat."
^^^"Wa'alaikumsalam, Zap. Asya Azril lagi gak pegang ponsel, hpnya dicharger. Kenapa nyariin mereka?"^^^
π "Inii, uncleee. Mau ngasih tau kalau Zap ketemu sama Arsen, Arsen kecelakaann."
^^^"HAH?!"^^^
Mereka auto menatap Aska. Aska yang merasa di tatap keluar ruangan. Tanpa sadar kalau Asya berada di belakangnya mengikuti.
^^^"Omnya Arsen ada disana juga gak, Zap??"^^^
π "Omnya Arsen nyusul di belakang mobil Zap."
^^^"Kamu dimana sekarang??"^^^
π "Zafran di mobil, mo bawa Arsen ke RS terdekat."
^^^"Kamu sharelock biar uncle susul."^^^
π "Oke, uncle."
Aska mematikan telepon.
Semenit setelahnya, alamat yang diminta pun terkirim.
Aska masuk sebentar, "ma, pa, disini dulu ya. Aska ada urusan."
"Daddy mau kemana?"
"Keluar sebentar, sayang. Kamu disini aja ya." Aska mengecup kening Asya lalu beranjak pergi.
Tapi Aska berbalik lagi karena tangannya di tahan Asya. "Arsen kenapa?"
"Daddy gak usah bohong, yaa. Tadi Asya dengerrr!"
"Sayang, anak cantiknya daddy, diem disini dulu yaa. Arsen gapapa, biar daddy urus dulu oke?"
Asya berusaha duduk dan berdiri di samping Aska.
"Asya ikut."
"No, babyy. Kamu disini aja."
"Ma, pa, tahan Asya. Jangan sampe ikutin Aska."
Kedua orang tua Aska langsung memegangi Asya. "Daddyyyy!"
"Daddy balik lagi ntar. Bye, sayang."
Aska pergi sambil berlari.
"AAAA DADDYYY!! DADDYYYYYYYY ASYA IKUTTT!"
"Omaa, opaaa, lepasin Asyaaa. Asya mau ikut sama daddyyy."
"Jangan Asyaa. Asya anak baikkan? Nurut apa kata daddy, yaaa."
Asya menangis.
"Tapi Arsenn... Arsen kenapaa sii??"
Ara dan Naina mendekati Asya. "Bokap lu tadi bilang, Arsen gapapakan. Lu tenang duluu, yaa. Jangan mikir yang nggak-nggak."
"Gue bakal ikutin bokap, tenangin Asya ya."
Racksa menahan tangan Azril, "gue aja."
"Guys, kalian jaga Asya dulu ya." Bisik Racksa pelan, mereka mengangguk.
Racksa menghampiri Asya. "Arsen gapapa, pasti gapapaa. Gue bakal ikut sama Uncle Aska buat mastiin. Lu jangan mikir yang aneh-aneh." Asya mengangguk pelan, Racksa pun pergi menyusul Aska.
Tepat di parkiran, Racksa menemukan Aska.
"Unclee. Racksa ikutt!"
Aska langsung menyuruh Racksa masuk ke mobil. Mereka pun pergi.
"Ada apaa, uncle?"
"Arsen kecelakaan."
"Tadi Asya kenapa bisa tau??"
"Dari awal teleponan, Asya nguping. Pas teleponnya selesai, Asya langsung lari ke brankar."
Aska menghela nafas.
Tanpa aba-aba, Aska melajukan mobilnya lebih cepat. Racksa sebagai penumpang merinding dibuatnya. Tapi Racksa tidak protes, ia diam sambil meremas seat belt.
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di RS yang lain. Aska dan Racksa turun lalu berlari menuju IGD.
"Zafrannn. Pak Mikko."
"Pak Aska."
"Unclee Askaa. Racksaa."
"Gimana keadaan Arsen??"
"Masih di tangani sama dokterr."
Aska dan Racksa ngos-ngosan karena berlari tadi.
"Sebenernya apa yang terjadi?" Tanya Aska.
"Arsen korban tabrak lari, di area kafe. Saya belum tau pasti kejadiannya seperti apa, karena saya gak bersama Arsen saat itu." Jawab Mikko.
"Jadi Om Mikko dimana?" Racksa bingung.
"Perjalanan menuju luar kota."
"Teruss? Balik lagi kenapaa? Kok tau Arsen kecelakaan? Kenapa telepon saya tiba-tiba dimatikan?" Tanya Aska bertubi-tubi.
"Pertama, saya balik lagi karena saya telepon Arsen. Gak tau kenapa tadi berinisiatif telepon Arsen, pas di telepon yang ngangkat pelayan kafe. Dia bilang Arsen kecelakaan, jadi saya balik lagi. Untuk telepon sama Pak Aska tadi, saya minta maaf tadi tiba-tiba mati karena baterai saya habis."
"Lantas, kenapa bapak tergagap-gagap?"
"Saya takut liat darah, saya gemetar dan yaa jadi gagap."
Aska menghela nafasnya lagi lalu menoleh ke samping, "Zafran sendiri kenapa bisa di TKP?"
"Zap ke kafe buat beli makanan, gak taunya Arsen tergeletak berlumuran darah. Lumayan banyak uncle darahnya."
"Prediksi Racksa, agak lama ya di bawa ke rs?"
"Iyaa. Ntahlah kenapa gitu, mereka malah sibuk foto video."
"Demi konten." Cibir Aska kesal.
Drrtt... drt..
Aska mengambil ponselnya.
"Sebentar, mau angkat panggilan." Aska benar-benar menjauh kali ini. Papanya yang nelepon.
^^^"Assalamu'alaikum, pa?"^^^
π "Daddyy, ini Asya. Gimana keadaann Arsenn?!"
Aska memejamkan mata.
Haruskah ia beri tahu??
π "Daddyy, come on!! Kasih tau Asya sekarang."
^^^"Arsen.. Arsen kecelakaan."^^^
π "A-apa? D-daddy gak bercanda, kan?"
π "DADDYY! Don't not play around!"
^^^"Daddy serius, sayang."^^^
π "Sharelock! Asya mau kesana, Asya mau ketemu Arsenn sekarang. Cepetan sharelockk."
^^^"Asyaa, jangan sekarang yaa. Nanti daddy bakal^^^
^^^jemput kamu kalau Arsen udah selesai di periksa."^^^
π "Tapi Asya maunya sekaranggg."
^^^"Jangan sekarang, nanti daddy beneran^^^
^^^jemput kamu kok. Nurut dulu ya?"^^^
π "Promise me?"
^^^"I'm promise u, princess."^^^
π "Jangan lama-lamaa!"
^^^"Iya, sayangnya daddy. Udah ya?^^^
^^^Tunggu disitu aja, nanti daddy jemput."^^^
^^^Asya yang sesenggukan berdehem.^^^
^^^"Jangan nangis, nanti cantiknya hilang."^^^
π "Gak ilang kok, masih ada."
^^^Aska tertawa kecil.^^^
^^^"Yaudah ya, tunggu aja. Assalamu'alaikum."^^^
Setelah mendengar jawaban salam, Aska mematikan telepon dan kembali.
__ADS_1
"Telepon dari Asya, uncle?" Aska mengangguk. "Macem jatuh ketimpa tangga. Kemaren Asya, sekarang Arsen." Keluh Aska mellow.
"Asya masih di rawat juga, pak?"
"Masih, dua-duanya masih di rawat."
"Tunggu tunggu. Maksudnya apa?"
Aska baru teringat!! Ada Zafran disanaa!
"Unclee, Asya kenapa?"
Aska diam.
Zafran menghampiri Aska dan menggoyangkan tubuh Aska. "Uncleeee!"
"Kamu diem-diem aja, jangan bilang yang lain."
"Asya kenapa? Azril kenapa?"
"Mereka berdua kena tembak pistol." Zafran menatap serius Aska. "Dimana mereka sekarang?"
"Di RS keluarga. Nanti rencananya Arsen bakal dipindah juga kesana."
Zafran terdiam.
"Jadi itu alasan kenapa mereka berdua gak ada jawab telepon. Terus kenapa uncle gak ada bilang sama kami?!"
"Uncle cuma takut ngerepotin kalian."
"Uncle!! Kita saudaraaa! Ngerepotin darimana?! Tega banget uncle sembunyiin ini semβ"
Perkataan Zafran terhenti karena dokter keluar dari IGD.
"Nanti kita lanjut." Kata Aska, setelahnya mereka menghampiri dokter itu.
"Gimana Arsen, dok?" Tanya Mikko.
"Arsen kekurangan darah, tapi perseβ"
Aska auto maju.
"Ambil darah saya aja."
βββ
15.34, di ruangan Asya dan Azril.
Hanya ada teman-teman Asya disana, oma opanya sudah pulang.
"Tenang, Syaa. Jangan mikir yang kagak-kagak," ujar Alvin.
"Eh, tenang itu lagu yang di Upin Ipin kan?"
Mereka menatap heran Dino, "lagu apaaa?"
"Tenang-tenang ubiii."
"TANAM-TANAM UBI PEAA!" Dino tertawa ngakak, Asya pun ikut tertawa walaupun air matanya menetes.
"Swalow swalowww, jangan tegang kali macem rambut di pomade-in."
Mereka geleng-geleng kepala melihat Dino.
"Agak gak waras dia."
"Btw, gue baru teringat. Keiji mana?" Tanya Alex. "Kei ada urusan ke tempat neneknya," jawab Ara. Alex berohria.
"Gue laper woilah." Keluh Haikal.
"Makan angin aja, gak usah bacot!" Sarkas Azril.
"Dih diwhh, ngajak gelut. Lu udah agak sembuh kan ya, Zril?"
"Kenapa emangnya?"
"Gelut yukk!"
"Kuy lah, kaki gue bisa main ni."
"Diem dah lu bedua. Pusing gue dengernyaa!" Mereka berdua auto diam karena perkataan Shaka.
"Gue laper beneran ini tuuu," rengek Haikal.
"Nih makan." Asya melemparkan buah ke Haikal. Haikal menerimanya dengan senyuman, "thank u cantik." Asya tersenyum tipis, benar-benar tipis.
"Lu jangan nangis lagi, hapus air mata lu." Asya mengusap air matanya. "Gue tu cuma takut Arsen kecelakaan gara-gara gue."
"Gimana pula bisa jadi gara-gara lu?" Tanya Naina bingung.
"Gue minta Arsen buat gak lama-lama. Kalau nyatanya dia ngebut terus jatuh gara-gara yang gue bilang, gimanaa?"
"Sstt! It's not your fault." Kata Azril tegas.
"Belum tentu kejadiannya begituu. Bisa aja hal lain terjadi," ujar Dino.
"Bener kata Dino. Lagian kan dah gue bilang, jangan mikir yang nggak-nggak. Kita tunggu aja jemputan dari Om Aska biar tau jelas apa yang terjadi."
"Okey okeyy."
Hening.
Tok tok!
"Daddy?"
Aska tersenyum dan menghampiri Asya.
"Ayok samperin Arsen." Kata Asya antusias. Aska membalasnya dengan senyuman lalu menggeleng.
"K-kenapa?"
Hawa-hawa mellow tercipta.
"Arsen... masih hidupkan, om?" Tanya Ara deg-degan. Bukan cuma Ara sih, mereka semua juga deg-degan.
Mereka sudah ketar-ketir dari tadi, tapi sampai saat ini Aska belum bersuara sama sekali. "Daddyy, jawabb." Kata Azril gak sabar.
"Dadd, Arsen masih hidupkan? Arsen.. Arsenβ" Aska langsung memeluk Asya. "Daddy, jawab pertanyaan Asyaaaaaa."
Ceklek.
Racksa masuk ruangan.
"Arsen gimana, Sa?" Tanya Shaka.
Racksa tidak menjawab, ia malah menunjuk Aska menggunakan dagunya. Bermaksud kalau yang bakal jawab pertanyaan itu adalah Aska.
"Arsen masih hidup, dia berhasil lewatin masa sulitnya." Seketika itu juga Asya mengeratkan pelukan daddy nya.
"Alhamdulillah, Ya Allah. Teruss Arsen dimana sekarang, om?" Tanya Haikal. Aska melepas pelukan terlebih dahulu.
"Di kamar sebelah." Sambil tertatih-tatih, Asya pergi keluar ruangan. Aska membantunya juga untuk berjalan.
"Arsenn...."
"Arsen masih istirahat." Ujar Racksa.
"Arsen gak koma kan, dadd?" Aska menggeleng dengan senyuman. "Kata dokter bentar lagi Arsen bangun."
Asya berdiri di samping brankar Arsen. Ia mengelus rambut Arsen dengan tangan mungilnya lalu sedikit berjinjit untuk mengecup keningnya.
"Sebenernya ada apa, daddy?" Tanya Azril.
"Ceritanya panjang dan masih di selidiki juga. Santai aja, daddy bakal cari pelakunya."
"Arsen di pindah ke kamar Asya aja gimana? Biar gak riweh." Usul Alvin.
"Gak bisa, ntar engap banget."
"Azril udah gapapa kok, dadd. Azril udah bisa pulang juga kan. Biar Arsen aja yang gantiin tempatnya Azril."
Aska menatap Azril.
"Beneran gapapa? Udah sehat kamu??"
"Udahh. Azril gak parah banget, nuna yang parah kan sampe operasinya lama."
"Tapi lu juga di operasi, Zril. Lu beneran udah sehat?" Tanya Asya.
"Gue kayang juga udah bisa, nuna. Santai aja," jawab Azril dengan senyuman.
"Bongak banget bisa kayang."
Azril tertawa kecil.
"Yaudah, ayok kita pindah Arsen ke kamar sebelah."
Mereka memindahkannya bersamaan, sekaligus dengan brankarnya.
Brankar Azril di pindah ke sebelah.
"Woii, gue penyett ini!! Tunggu duluu, astaghfirullah!" Dumel Shaka kesal, mereka tertawa dan mengabaikan Shaka.
"Jahat banget emang titisan setan." Shaka terpaksa berhenti di pintu dan membiarkan mereka yang mendorong.
"Geser lu ah, nyemak!" Cibir Alvin sambil menendang kaki Shaka. Shaka hampir terjatuh, "fckkk u!" Alvin tertawa.
Mereka berhasil berpindah. Kini giliran brankar Azril masuk. Posisi Shaka yang mau keluar malah terdorong lagi ke dalam.
"Dendam apasi lu pada ahh!" Haikal dan Dino yang mendorong nyengir-nyengir.
Ide jail? Pasti ada.
Haikal mengedipkan matanya kearah Dino.
"Ka, susun ni gimana tadi letak brankar nya." Suruh Dino.
"Iyee, ni gue susun."
Shaka sibuk mendorong dan menata letak brankarnya.
Ide jail pun start. Mereka berdua langsung berlari keluar dan mengunci Shaka.
"Hihihihiii~ Shakaa, aku akan memakan muu." Goda Haikal menirukan suara ketawa kuntilanak.
"WADEFAKKK! WOIII. Mana ada kuntilanak makan manusia," jawab Shaka santai namun disertai kepanikan.
"Ini tu kuntilanak jaman now! Huuuu, kudet lu!"
"Sejak kapan juga kuntilanak muncul sore?"
Dino dan Haikal auto kesal.
__ADS_1
"Bacot ah males. Kok gak takut si dia?!" Tanya Dino emosi.
Haikal menggelengkan kepala, "udahlah tinggal aja si Shaka!"
"Oke, yok."
"Bye, Shakaa!!"
"HEHH WOII!"
βββ
Malam hari pun tiba, Aska masih berada di Asz. Bukan untuk mengurus pekerjaannya melainkan menemukan teka-teki tentang tragedi Arsen.
Tok tok!
"Permisi, boss." Ketua tim a bodyguard Asz datang.
Aska mengalihkan pandangannya, "oh, sudah kembali? Gimana liburannya?" Tanya Aska basa-basi.
"Alhamdulillah, anak istri saya bahagia. Bos, kenapa kemarin gak hubungi saya dan rekan yang lain ketika kejadian nona Asya?"
"Saya pribadi orang yang gak mau di ganggu jam liburannya, jadi saya gak mau ganggu jam liburan kalian."
"Wahh, terimakasih atas pengertiannya." Aska tersenyum sekilas. "Sekarang bisa kembali kerja, kan?"
"Bisa, bos."
"Cari pelaku yang nabrak Arsen."
"Ketua tim b tadi udah cerita di telepon, akan saya cari pelakunya segera."
Aska tersenyum tipis, "jangan kecewakan saya. Oh iya, suruh beberapa anggota mu buat ngajarin anggota baru. Mereka payah, gak ada bakat sama sekali."
Ketua tim tersenyum segan, "maaf, boss. Apa perlu di pecat?"
"Gak usah, latih aja."
"Baik, boss. Kalau begitu saya pergi cari dulu." Aska mengangguk, ketua tim pun pergi.
Aska sendiri kembali menoleh ke arah komputer yang sedang menampilkan rekaman CCTV di TKP.
"Woi, Ka."
Aska menoleh, "apa?"
"Gue nemu ponsel Arsen." Aska langsung mengadahkan tangan. Rafael memberikannya.
"Lu tau password?"
"Password dunia perbucinan gak jauh-jauh dari tanggal lahir doi. And yeah, gue bener."
"Emang bucin to the bone."
Aska tertawa kecil sambil menatap heran ponsel Arsen.
"Ada yang aneh?"
"Sini lu." Rafael mendekat. "Ini ngapa black semua anjirtt?" Tanya Rafael.
"Gak buta kan lu? Ini ada abu-abunya."
"Ya abu-abu black. Ini apa??"
"Mana gua tau! Eh, coba pikir pola kejadiannya, dari CCTV itu handphone Arsen di sakunya. Terus ntah ada apa Arsen ngambil handphonenya di saku, tiba-tiba ada yang datang narik handphonenya di banting ke deket jalan, abistu Arsen ketabrak."
"Jadi maksud lu apa njirr? Gue kagak paham!"
"Ck, bisa aja pelaku ngotak-ngatik handphonenya Arsen dari jauh pake virus. Dan handphonenya itu di jadiin pancingan untuk bikin Arsen ke arah jalan. Pas Arsen ke jalan dia ketabrak karena gak tau ada mobil dan telat balik ke pinggir."
"Bentar, otak gue cerna dulu."
"Bangstt! Lemot banget anjr ah!"
"IQ gue gak setinggi lu peaaa!"
Aska tidak merespon dan kembali melihat CCTV.
"Ini tu agak mirip kejadian Zia dulu gak sih?? Yang koma dua tahun?"
Aska mengangguk, "bedanya Zia lebih parah. Tragedi Arsen gak terlalu parah tapi darah yang keluar banyak."
"Dulu pelaku Zia siapa?"
"Bian njemmm."
"Lahh??"
"Dia gak sengaja katanya sih. Gak tau dah gua, peaa bangett dia tu sumpah. Udah kesel gue nginget mukanya, skip Bian."
"Serah lu deh ah."
"Btw, Keiji mana? Gak ada nampak."
"Dia di luar kota, nemenin neneknya yang lagi di rawat." Aska berohria.
"Kapβ"
Ceklek.
Omongan Aska terhenti karena melihat Luis dan Zai datang bersamaan.
Aska berdiri mendekat.
"Kalian tumβ"
Bugh!
Bugh!
"Aawwhh. Apa maksudnya ini?!" Tanya Aska kesal sambil mengelap darah di sudut bibirnya.
"Gue abis dari rs buat ngecek kesehatan, tanpa sengaja gue liat Asya Azril sama satu temennya. Dan gue liat Azril pake alat bantu di tangan, gue samperin mereka, gue tanya mereka kenapa. Awalnya gak ada yang mau jawab, sampe akhirnya gue ancem mereka mau jawab. Mereka ketembak. Yang buat gue emosi disini, KENAPA LU GAK BILANG?!! ASYA AZRIL PONAKAN GUAAA ASKAA!!"
Aska menelan ludahnya. 'Mampuss gue mampusss, kena amukan mulu. Bentar lagi congean nih gue.' batin Aska pasrah.
"Lu mau bilang apa, bang? Hah? Lu mau bilang gak mau ngerepotin? Lu kira kami siapa? Orang baru? Ah come on! Kita udah berapa tahun kenal tapi kenapa lu malah nganggep kami orang baru yang segan buat lu repotin. BANG, R U CRAZY?!"
"Lu pada tenang dulu bisa? Gue jelasin dulu."
"Jangan buat gue makin emosi ya, Ka."
"Lu emosi? Pukul Rap aja."
Rafael auto melongo.
"Ngapa jadi gue woilah?!"
"Ambil minum buat tamu spesial gue kalau lu gak mau di bogem."
"Minum apa?"
"Es teh pake es krim aja biar dingin."
"Ka, gue gak mau bercanda."
Aska nyengir, "owghey."
"Bang Zean tau ini kan? Zafran juga tau, dia tadi juga nemenin gue cek kesehatan."
"Iya, mereka tau."
"Kok pilih kasih lu? Maksud lu gak ngasih tau gue apaa?"
"Calm down jancokk! Gimana bisa gue jelasin kalau lu pada aja gak bisa tenang?!!"
Di sisi lain, Asya sedang duduk di samping brankar Arsen yang masih tertidur lelap. Sesekali tangannya mengelus rambut Arsen.
"Sya, rebahin badan lu. Lu udah duduk disitu berjam-jam." Titah Azril.
"Iya, ntarr."
"Ntar kapan? Sampe pinggang lu patah?" Tanya Dino sinis. "Nggak sih, sampe makanan datang."
"Awas aja lu gak duduk kalau ntar makanan datang." Asya tersenyum tipis.
Meskipun dari tadi diajak bicara, tatapan Asya tidak lepas dari Arsen. Asya terus menatap Arsen tanpa mengalihkannya.
"Gue tu baper banget liat lu berdua." Kata Ara.
Kini Asya menoleh, "kenapa?"
"Cinta lu bedua gak maen-maen."
"Kemaren, Arsen nunggu lu sendirian. Dia juga duduk disitu sambil natapin lu. Dan sekarang, lu juga ngelakuin hal yang sama ke dia. Bener-bener bikin baper."
"Gue sendiri tu bingung kenapa secinta ini sama dia." Asya tersenyum tipis, "dia pria hebat setelah daddy dan Azril."
"Hwehoiii, assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam, datang juga makanan guee." Kata Dino girang sambil meraih jatahnya.
"Wangi makanan selalu buat perut saya lapar." Ujar Haikal duduk di sebelah Ara.
"Bukannya lu laper mulu kerjaannya?" Haikal nyengir.
"Btw, Ka, lu gak jadi ke Amerika?"
Shaka terdiam sejenak, "jadi tapi gak sekarang. Eh, jadi gak ya? Auk dah pusing gue."
"Gak jelas ah lu."
Asya kembali melihat ke arah Arsen.
"A-Arsen...?"
Mereka menatap Asya. "Kenapa, Sya?"
Karena Asya tidak menjawab, mereka mendekat. Ternyata tangan Arsen bergerak dan perlahan-lahan matanya terbuka.
Mereka semua tersenyum senang.
"Alhamdulillah." Mereka kompak.
"Sen? Akhirnya kamu sadarr." Kata Asya lalu mengecup pipi kanan Arsen.
Arsen malah terlihat kebingungan.
"L-lu siapa?"
"Hahh?"
"Arsen lupa ingatan???"
__ADS_1