Barbar Generation

Barbar Generation
Another party


__ADS_3

Menjelang siang hari ini, setelah periksa tadi, Asya dan Arsen pergi makan di ampera atas kemauan Asya. Asya memilih lauk ayam pop sedangkan Arsen ayam bakar.


Melihat Asya makan sangat lahap membuat Arsen senang, bahkan sangat senang. Karena dengan begitu semua akan sehat dan baik-baik saja.


"Sayang, mau tambah nasii?" tawar Arsen. Asya menggeleng, "Aku dah kenyangg," jawab Asya sembari minum es teh.


Arsen mendekati Asya, mengambil sisa nasi di sudut bibir Asya lalu memakannya. "Kebiasaan kamuuu!"


"Gak masalah juga, abis ni mau kemana?"


"Pulanggg. Mau bobooo."


"Sambil cuddle?" goda Arsen. Asya malah mengangguk dengan senyuman. "Pengen cuddle."


"Okee, aku bayar duluu," Arsen pergi meninggalkan Asya sejenak. Di sela menunggu Arsen, terdengar suara telepon Asya berbunyi. Asya mengangkatnya, panggilan dari Azril.


πŸ“ž "Lu di mana??!"


^^^"Kenapa??"^^^


πŸ“ž "Buruan susul gue ke sini jirr. Alamatnya gue kirim di waa. GPL!"


^^^"Kenapa cokk, ada apaa??"^^^


πŸ“ž "Mommy sakit perut, tapi katanya bukan mau lahiran. Udah cepet dateng!"


Panggilan terputus begitu saja. Setelah dapet alamatnya, Asya menghampiri Arsen. "Udahh???" tanya Asya sedikit panik.


"Iya, udah nih. Ada apa, kok kamu panik?"


"Ayo susul mommyy ke rs! Mommy sakittt." Arsen langsung menggandeng tangan Asya lalu pergi bersama kembali ke mobil.


Arsen mengemudikan mobilnya pelan, namun sedikit laju agar cepat sampai. Jadi tuh pelan tapi agak laju yagesyaaa.


Alamat yang Azril kirim ternyata tidak jauh dari tempat makan mereka sebelumnya. Tidak memakan waktu lama untuk tiba di tempat tujuan. "Lahh, ini yang tadi, kan??"


"Tempat periksa tadii. Udah gakpapa, ayok sayang." Asya malah berlari duluan meninggalkan Arsen. Jujur, kini Arsen panik bukan karena mertuanya, tapi karena melihat Asya lari-lari.


"Sayaanggg, pelan!!" Tidak di dengar. Arsen terus memantau dan mengejar secepat kilat. Sampai tiba di depan ruangan Zia, Asya baru berhenti lari. "Kamu... Astaghfirullahalazim, sayang.."


"Kenapa lari-lari anjay?!"


"Lu tanya kenapa? Ya karena panik lah! Mana momm?" tanya Asya sedikit ngos-ngosan. Azril menunjuk ruangan. "Lahiran, Zril?"


"Bukan, keguguran. Tadi mom jatuh terus pendarahan gitu katanya, but, gue juga gak tau detailnya gimana." Asya seketika menoleh ke Arsen, Arsen hanya diam sambil menghela nafas.


"Kenapa lu berdua? Gak mau sekalian periksa nih?" tanya Naina yang sedari tadi diam. "Udah, tadi udah periksa. Ya gue sama Arsen baru dari sini, belum jauh juga makanya bisa cepet."


"Terus gimana hasilnya?"


"Positif."


"NAH KAN, BENER APA KATA GUE ANJAYY! Wahwaw, gak jadi punya adek tapi otewe punya ponakan nich."


"Lu gak bakal di akui uncle kalau lu ga rich," sahut Arsen tepat sasaran. Seketika Azril menatapnya datar, penuh kekesalan. "Gue tandain lu ya, setan!"


...β—•β—•β—•...


Arsen dan Asya kembali ke apartemen malam hari dan tiba tepat tengah malem. Asya kira mommynya akan sangat terpuruk, ternyata tidak terlalu begitu.


Kesedihan berganti kebahagiaan setelah mendengar kabar Asya sedang mengandung. Aska dan Zia ikut merasa senang karena setidaknya mereka akan mendapatkan cucu sebagai pengganti almarhum.


Di RS tadi, Asya banyak diberitahu apa yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan saat hamil. Asya mendengarkan dan menyerap semuanya.


Jujur, Asya merasa sangat waspada, takut anaknya kenapa-kenapa. Tapi bukan cuma Asya, Arsen juga. Bahkan belio yang lebih was-was, takut kehilangan dua-duanya.


"Mikirin apa, sayang? Udah setengah satu, kenapa gak tidur?" tanya Arsen baru selesai mandi. "Gak mikir apa-apa, nungguin kamu aja. Pengen cuddle."


Arsen tersenyum menggoda. "Kamu gak usah pake bajuuuu," pinta Asya begitu melihat Arsen mau memakai bajunya. "Kenapa? Jadi pake celana pendek aja gitu?"


Asya mengangguk. "Mau cuddle, tapi kamunya gak usah pake bajuuu. Bolehkannn?"


Cuaca malam ini cukup dingin, ditambah lagi tadi Arsen baru kelar mandi. Ingin menolak tapi demi istri yang mengandung anaknya akan Arsen turuti. "Boleh kok, bolehh."


Arsen naik ke kasur, Asya memeluknya erat. "Wangiii, Arsen selalu wangiii." Arsen tidak menjawab, ia tersenyum sembari mengelus rambut Asya. "Bobo ya, udah malem."


"Huumm. Besok kamu kuliah atau kerja?" tanya Asya dengan mata terpejam. "Kalau kamu kuliah, aku kuliah."


"Tapi aku mau ikut kamu kerjaaaa." Arsen berpikir sejenak. Tidak akan mudah baginya untuk bekerja kalau Asya sedang dalam mode manja begini.


"Kamu gak mau kuliah aja, sayang?" tanya Arsen santai karena takut menyinggung. "Enggak, males mikir, capek."


"Gak mau main sama temen? Udah jarang juga main sama mereka tuh." Asya menggeleng, "Lagi pengen sama kamuuu. Gak boleh kah ikut ke kantor??"


"Boleh, sayang. Boleh. Tapi kalau bosen jangan ngeluh ya?" Asya mengangguk antusias. Ia mengecup pipi Arsen lalu kembali memeluknya, "Makasii, sayaanggg. I love youuuuu!"


"I love you more, babee."


Keduanya mulai mencoba memejamkan mata. Baru hendak mendapatkan mimpi, Asya bersuara membangunkan Arsen. "Sen, aku takut..."


"Ada aku. Aku selalu ada siap siaga di manapun kamu," jawab Arsen langsung. "Iya tapi sama aja, takutnya tu juga takut kecewain kamu."


"Udah ya, gak usah mikir yang aneh-aneh. Kasian babynyaa." Asya membuka mata untuk menatap Arsen. Arsen mengecup kening Asya sekilas.


"Aku pengen kasih nama babynya, bibyy. Lucu kaann?" kata Arsen mengalihkan topik. "Iyaaa, lucu kek papinyaa," Arsen tertawa.


"Lebih lucu maminya sih ini. Dah ah, ayo bobo." Baru hendak memejamkan mata, suara ponsel mereka mengganggu. Panggilan masuk dari Shaka.


^^^"Tengah malem call ada angin ribut apa kau ni?" tanya Arsen langsung ngegas.^^^


πŸ“ž "Lahhh iyaa, hahaha. Sorry, sorryyy. Gue cuma mo bilang, ini mau balik ke Indonesia. Lu berdua gak lupakan gue mau ngadain bday party di Indo?"


Arsen dan Asya saling tatap dengan mata terbelalak. Mereka berdua lupa bday Shaka! Bahkan mereka belum beli apapun untuk hadiah.


πŸ“ž "Anjirr, lupa ya??"


^^^"Enggak, Caka, engga lupaa. Tenang aja dah luu," sahut Asya mencoba santai.^^^


πŸ“ž "Okee mantapp. Jangan lupa dateng pokoknya ya!!"


^^^"Lu baru sampe ntar langsung party gitu?"^^^


πŸ“ž "Iyaa, biar semangat."


^^^"Gak mau lu tunda dulu? Gak capek apa lu dari New York ke Indonesia? Masa gak ada jedanya tar anying."^^^


πŸ“ž "Tenang ajaa dah, santai. Pokoknya dateng aja lu berdua. Kalau gak dateng, apartemen lu gue obrak-abrik!!"


^^^"Iya dah iyaaaa."^^^


πŸ“ž "Okesipp, lanjut tidur dah."

__ADS_1


^^^"Safe flight ya broo!!"^^^


πŸ“ž "Yoii, thanks broo."


Panggilan terputus setelahnya.


Arsen dan Asya auto saling bertatapan. "Kenapa bisa lupa? Kita belum beli hadiah apapun buat Caka," kata Asya menatap Arsen. "Terlalu banyak kesibukan. Jadi mau dibeliin apa belio ini??"


"Aku gak tauu, mas. Bingung jugaa." Keduanya sama-sama mencoba berpikir. "Shaka lagi pengen apa ya??"


"Kalau pengen juga dia pasti beli sendiri, sayang."


"Bener..."


"Hadeuhh." Arsen menyerah. Ia menyamping, memeluk Asya dan meletakkan kepalanya di celah leher Asya. "Arseenn! Jangan bandell donggg."


"Enggak bandel, ini menggoda~~"


"Menggoda gundulmu!" Arsen tertawa. "Mo buat hickeyy boleh yaa?? Nanti malem party lohh?"


"Gak usah ngadi-ngadii!" dumel Asya. "Kenapaaa? Kan biar bagus, ada merah-merahnya di leher kamu."


"Kalau gitu aku juga ya?!"


"Dengan senang hati, sayang. Ayo cepat, beri aku hickeyy!" kata Arsen melepas pelukan dan merentangkan tangan. Sangat pasrah.


"Agak lain kamu memang, heran juga aku liatnya."


...β—•β—•β—•...


"Waktu terus berjalan, sampe siang ini kita masih gak tau mo ngasih apa ke Shakaa," kata Asya yang sedang rebahan di sofa ruangan Arsen. "Aku gak tau dia tu maunya apa, tipenya gimana."


"Tipe apa?" tanya Asya menatap Arsen. "Maksud aku tu tipe hadiah yang dia mau gimanaa gituloh. Lagian belio ini kenapa buat party dadakan!"


"Mas, kita yang lupa bukan dia yang dadakan."


"Oiya, bener."


Keduanya kembali diam. Asya lanjut berpikir sedangkan Arsen lanjut bekerja. Calon papa ini sibuk cari uang.


"Keknya aku tau!"


"Apatuu?"


"Beliin motor aja gimana?" jawab Asya dengan senyuman. "Gimana bisa kasih motor, dipakenya juga kagak, dia aja di New York sana."


"Iya si bener. Kalau sepatu gimana?? Ehh, dia banyak sepatu jugaa. Apaa mau kasih jam tangan aja? Dari brand favoritnya tapi keluaran terbaruu?"


"Pasti udah dibeli sama dia, sayang," sahut Arsen. Asya pasrah. "Hadehh, dahlah. Aku bingung bangettt. Udah setengah hari mikir gak nemu-nemu!"


Arsen berhenti sejenak. "Kasih mobil aja gimana?"


"Mobil apaa??"


"Apa aja gitu? Menurut kamu apa?" tanya Arsen balik. Asya menggeleng, menolak usulan Arsen. "Jangan mobil deh. Mobil belio juga banyak yang gak kepake. Dia anak tunggal kaya raya kalau kamu lupa."


"Buntu aku buntu."


"Tapi, Mas, ini kalau ngasih kita berdua gabung atau nanti dipisah?" tanya Asya lagi. "Tergantung kamu maunya gimana. Mo pisah oke, enggak juga oke. Ini satu aja belum nemu apa, sayang."


"Yang lain pada ngasih apaa?" Asya mengedikkan bahu tanda tidak tau. "Mereka rahasiaan, gedeg juga aku liatnya."


"Apa pula gendut. Gak gendut kamu, sayangg. Cuma agak berisi ajaa, lagian kan lagi ada nyawa lain di perut kamu. Aku tawarin siapa tau kamu lagi laper, pengen makann tapi males bilanggg."


"Hum. Emang laper sii, bukan males bilang tapi males ngunyahh," jawab Asya nyengir. "Aku kunyahin mau?"


"Ngaco!!"


"Makan sekarang? Biar aku pesenin."


"Tidak. Sebentar lagi aja, nanti kalau lapar aku lapor." Arsen manggut-manggut. Hening sejenak.


"Setelah aku pikir-pikir, aku mau beliin Shaka PS5 ajalah, kemarin-kemarin pas vcall dia bilang pengen PS5 tapi belum sempet ke beli," ujar Arsen. "Gakk! Mending tu kado dari aku aja, kamu cari yang lain."


"Acik gituuu?"


"Aciklahh!!"


"Okee, itu kado kamu deh. Aku ngasih uang aja kalau gitu ya?" Asya mengangguk setuju. "Deal. Ayok beli PS5, kalau beli di online shop gak bakal sempettt."


"Bentar, aku selesaikan ini dulu baru pergi. Tanggung, sedikit lagi." Asya diam menunggu sambil menonton drama di televisi ruangan Arsen. Sangat santai nyonya bos satu ini.


Merasa sudah bosan, Asya mematikan tontonannya lalu datang menghampiri Arsen. Asya menyelip, kemudian duduk di pangkuan Arsen sambil menghadapnya. Apa yang Arsen duga pun terjadi.


"Aku pengen gigit kamu." Tanpa persetujuan, Asya menggigit leher Arsen. Tapi bukan gigit sampe berdarah kek vampire gitu bukan ygy.


Setelah menggigit, Asya menjauhkan wajahnya dari leher Arsen lalu menatapnya cengengesan. "Sakit?"


"Lah nanyaa?? Kamu nanyeaaa??!" Asya malah terkekeh. Ia kembali memeluk Arsen erat, kembali ke leher Arsen. "Wadaww, ada bekas gigitan akuuu."


Asya mengecup leher Arsen beberapa kali dan berakhir menghisapnya. Pekerjaan Arsen terpaksa tertunda lagi. Dirinya mengerang, menahan diri agar tidak membawa Asya ke ruangan private sekarang.


Syulitt.


Beberapa menit menghisap, Asya melepasnya. Ia cengengesan lagi melihat leher Arsen sedikit memerah. Arsen sendiri masih diam, cukup tertekan menahan diri.


Arsen menghela nafas kemudian menjatuhkan kepalanya di pundak Asya. "Kamu tuu jangan gini... Aku lagi puasaa," bisiknya dengan suara berat.


"Aku gak ada nyuruh kamu buat puasa," jawab Asya santai. "Kamu gak mau ya??" tanya Asya.


"Pertanyaan aneh. Gak tau kamu yang di bawah gimana?" Asya nyengir, "Tauu, hahaha. Dasar lemah iman!!"


"Kamunya yang ngegodaaa."


"Takut kamu tergoda orang lain kalau gini ceritanya."


"Aku gak tegak kalau gak sama kamu."


"Affah iyah kidsss?!"


"Hooh tenannn." Asya tertawa lalu kembali menyandarkan kepalanya. "Kamu lanjut ajalahh. Kapan perginya kalau kamu gak siap-siap."


"Ya kapan siapnya kalau kamu beginii?" Asya menjauhkan kepalanya. "Emangg gak boleh gini?"


"Bukan begitu, Allahu Akbar. Gak usah disiapin ajalah, suruh Adam lanjutkan." Arsen memundurkan kursinya lalu dengan santai menggendong Asya. "Sen, Arsen, ini mau kemana wehh?! Heh, minimal aku diturunin! Maluuu."


"Tumben malu?"


"Aku nyonya bosss. Malu diliatin karyawann kalau begini! Ini mo kemanaaa hehh??"


"Kita ke ruangan Adam sekalian pergi," jawab Arsen sembari mengambil tas Asya. Asya menenggelamkan kepalanya lagi di ceruk leher Arsen. "Aku maluuuu."

__ADS_1


"Sok maluu."


"Hidihhh!"


"Dam, lembur bisa? Lanjut kerjaan saya. Saya ada acara," kata Arsen setibanya di ruangan Adam. "Acara apanih, pak? Btw, masihh siang loh, pak," goda Adam.


"Hahaha. Beda nii, bukan kesitu arahnya. Saya mau beli hadiah buat temen saya ulang tahun, partynya nanti malem. Takut gak sempat karena lumayan jauh."


"Ooo, bisa kok, pak. Lemburnya sampe jam berapa, pak?" tanya Adam santai. "Semampu kamu aja, soal gaji aman kok."


"Jiakhh. Oke sip, pak, nanti saya lanjut. Oiya itu si buk boss kenapa, pak?" Arsen menoleh sekilas. "Merajok agaknyaa. Saya tinggal ya, Dam. Jangan lewatkan jam makan siang."


"Aman, pak." Arsen pun pergi dan masuk ke mobil setelah meletakkan Asya dan memakaikan seatbelt milik Asya. Aneh tapi nyata, Asya ketiduran.


Setelah duduk di kursi kemudi, Arsen melihat google maps terlebih dahulu baru berangkat. Ia mengemudi dengan santai, berusaha pelan sebisa mungkin agar tidur istrinya tidak terganggu.


Sayangnya Asya terbangun tepat panggilan masuk dari Ara. Ternyata cumi. Cuma miscall.


"Ganggu kamu tidur aja si Ara Ara," dumel Arsen. Asya menoleh sekilas, "Emang manusia gabut. Aku ketiduran yaa??"


"Iyaa, sayang. Lanjut bobo aja, gakpapa," perintah Arsen lembut. "Gak mau ah, nanti kamu di jalan gak ada temennya.... Di GPS perjalanannya dua jamm, sempet kah?"


"Agak telat ke party juga gak masalah kayanya. Ini harusnya kamu gak ikut aja. Udah mo deket rumah oma, kamu turun aja ya?"


Asya menggeleng, "Tidak mau!"


"Nanti kecapekannn."


"Tidak."


"Ngeyel banget astaghfirullah."


"Ih, maksudnya bukan gitu. Tapi, masa kamu sendiriannn?! Dah bagus sama aku ajaaaa. Lebih enak berdua daripada sendiri, Mas," goda Asya. "Iya, oke. Pinter banget ngerayu."


"Nanti aku pake baju yang mana ya? Couple kah kita?" Arsen mengangguk. "Abis dari sini kita ke apart dulu buat mandi, abistu ke butik sekalian ke tempat tata rias kalau kamu mauu."


"Hihii, okaaiii. Aku nurut paksu sajaa."


"Anak pintar~~"


...β—•β—•β—•...


"Inget ya, mas, kamu mabok aku kunci pintu dan kamu tidur di luar. Gak bakal aku bolehin kamu masuk!" peringatan Asya saat di dalam mobil menuju bday party Shaka. Malam ini mereka membawa supir.


"Gak bakal mabok, lagian mana ada bawa alkohol," jawab Arsen santai. "Loh kita gak tau, kan? Shaka udah gedee, aku yakin dia sering minum-minum juga di sana. Terus ini partynya juga sewa barr, aku yakin pasti adaa."


"Iyaa sayang iyaaa. Kalau ada nanti gak bakal aku minum." Asya mengacungkan jempolnya. "Okey, good, baby."


"Kamu juga jangan asal aja, diinget kamu bawa bayi di perut," Asya menganggukkan kepalanya dengan senyuman manis. Melihat itu, Arsen langsung mengecup bibir Asya.


Asya sedikit terkejut. "Kamu jangan senyum kek gitu ke yang lain! Nanti pada demen pula sama istriku yang paling cantik ini." Asya malah tertawa. "Kalau ada yang demen ya biarin ajaa sii, kan aku punya kamu."


"Oh iyanya?? Kalau yang demen tu, yang deketin tu lebih ganteng dari aku, lebih kaya dari aku, gimana?"


"Emang ada? Oh pasti ada ya. Tapi bodoamat siii, aku ada kamu kokkk, ngapain peduliii." Arsen tertawa salting, "Affah iyh dekkk?!"


"Rill kidsss." Keduanya tertawa bersama. Beberapa menit kemudian, mereka tiba di tempat tujuan. Terlihat lumayan ramai, banyak mobil berjejer.


Asya dan Arsen keluar dari mobil lalu masuk ke dalam baru sambil bergandeng tangan. Shaka langsung menyambut. "Waduuuwww, pasutrii ini akhirnya datang juga yaaaa."


"Telat kah?" tanya Asya. "Enggak, gak telat. Janjinya kan jam tujuh, lu berdua dateng hampir jam delapan. Enggak telat itumah, enggak."


Arsen dan Asya tertawa. "Harap maklum lah, Ka. Suaminya belio ini bos besarr," sahut Alvin datang menyindir. "Kagak usah begituuu, besar kepala ntar lakik gue."


"Hahaha. Nikmati aja makannya ya, nikmati juga partynya," ujar Shaka dengan senyuman. "Amann. Btw, ini kado dari gue buat lu," kata Asya sambil memberikan paper bag untuk Shaka.


"Satu doang nih?"


"Ngarep dapet dua lu?" ledek Arsen. "Anyingg, pelit juga ternyata bos besar inii." Arsen cengengesan, ia mengeluarkan ponselnya dan sedikit mengutak-atik.


"Coba cekk."


Shaka mengambil ponselnya, notifikasi bank pun masuk. "Anjirr bangggg, 25jt?? Wahhh, gue tarik kata-kata gue bilang lu pelit bang," kata Shaka langsung baik.


"Anjirr emang si Shaka. Ehh, gue juga mau dong, Sen," goda Dino mengedipkan mata. "Oke bentar bang." Arsen kembali melihat ke arah ponselnya.


Dua menit setelahnya notifikasi ponsel Dino berbunyi. "Asuww, cuma seratus ribu cokkk. Ehh engga dengg, 10jt. Hehehe. Makasiii bangg."


"Ini partynya Shaka kenapa jadi tempat sedekah cokk?" tanya Alvin julit. "Btw, gue juga mau dong, Sen."


"Samaa ajaaa luuuu saytonnn!" Alvin malah cengengesan. "Ini rekan-rekan bokap lu dateng gitu, Ka? Rame banget keknya gue liat."


"Gue bawa beberapa temen juga dari New York. Kalau rekan kerja bokap mah kagak diajakin. Bokap bilang, kasian orang tua diajak party."


"Anjrittt. Om Sam memang luar biasa!"


"Tapi gak salah juga sihhh."


Mereka lanjut bersenang-senang bersama. Bercanda tawa dan menikmati party dengan gembira. Ada sesi dansa juga ternyata. Semua asik berdansa dengan pasangannya.


Asya dengan Arsen, Azril dengan Naina, Shaka dengan Gracia, Haikal dengan Ara, tersisa Alvin dan Dino yang ngangong-ngangong gak punya pasangan.


"Benci banget gue kalau udah couple couple ginii," kata Alvin kesal sambil menikmati segelas wine di tangannya. "Carii pacar dekk," goda Haikal yang berhenti dansa.


"Bacott ahh. Tapi gue juga pengen dansa sebetulnyaaa," jawab Alvin kesal. "Ekhem, ekhem. Ini ada gue loh, Pin."


"Dino bangsut, gue normal yee sialundd!" Dino senyum, tampangnya sok menggoda. "Gue geli cok!"


Mereka terkekeh bersama.


Alvin mengabaikan mereka dan mencari keberadaan bestinya. "Woii, Asya. Duduk lu sinii, jangan ampe kecapeann," teriak Alvin agar terdengar. Asya menoleh, ia cengengesan lalu mengabaikan Alvin.


Arsen yang sudah capek mengikuti kemana Asya, langsung menggendong Asya dan membawanya ke rombongan. "Aktif banget ni orang, pegel gue." Asya nyengir.


"Asya gak boleh capek-capek? Kenapaa?" tanya Shaka bingung. "Lagi bawa dede bayiii."


"SUMPAHH?! KOK GAK BILANGG?!"


"Kan udah di bilang, barusan."


"Anjirr lu bedua. Parah banget gak mo ceritaa," kata Haikal sok dramatis. "Kumat dah kumat."


"Arsen keren juga btw. Ekhem. Tutor mass~"


"Pertama-tama harus punya istri dulu sih, Din," jawab Arsen meledek. "Langsung kena ulti gue asuu. Aduh kacauuu."


"HAHAHAHA!"


...****************...


...Haii? Akhirnya balik lagi setelah sekian lama kehabisan idee, wkwk. Maaf ya lamaa :')...

__ADS_1


__ADS_2