Barbar Generation

Barbar Generation
Renang


__ADS_3

Ting.. Ting...


Drrrrtt.... Drtttttt....


"Astaghfirullah! Masih pagii woilaaaahh" ujar Azril kesal. Ia meraba-raba mencari ponselnya. Setelah ketemu ia langsung mengangkat tanpa melihat namanya.


πŸ“ž "Assalamu'alaikum, Azril"


^^^"Iyaa, waalaikumsalam. Siapa??"^^^


πŸ“ž "Nomor gue lu hapus??" Azril menjauhkan ponselnya kemudian melihat nama yang tertera.


'Adindaa?'


^^^"Ehh, lu din. Sorry, gue gak liat nama tadi"^^^


πŸ“ž "Haha, iya gapapa. Baru bangun?"


^^^"Iya. Ada perlu apaa?"^^^


πŸ“ž "Nggapapa, cuma mau tanya kabar lu"


^^^"Gue baik, lu? Lu dimana? Udah gapernah keliatann"^^^


πŸ“ž "Gue baik juga. Gue di London, bareng Alex"


^^^"Kenapa nelpon gue? Ntar ngamuk tu anak"^^^


πŸ“ž "Dia lagi keluar sama temennya"


^^^"Oooo"^^^


πŸ“ž "Azril"


^^^"Saya??"^^^


πŸ“ž "Gue rindu sama lu"


^^^"Hah? Apa? Gue gak denger, pelan bangett"^^^


πŸ“ž "Gue rind---"


Dugh dugh dugh...


Azril tidak mendengar kelanjutannya karena Asya menggebrak pintu kamarnya.


"Azreeeellll bangun luuu!!!"


"Manusia setengah waras itu ganggu ajaa" gumam Azril.


"Gueee udah bangun!!" teriak Azril.


"Oh, oke" Azril menggelengkan kepalanya. "Fiks gak waras."


Azril kembali ke ponselnya.


^^^"Halo? Din?"^^^


πŸ“ž "Iya, halo"


^^^"Sorry ya tadi, Asya ganggu"^^^


πŸ“ž "Iya gapapa"


^^^"Lu bilang apa tadii?"^^^


πŸ“ž "Gue rind--"


Dugh!! Dugh...


"AZRILLL KELUARRR LUU BURUANNN" teriak Racksa.


"Ya Allah, kenapa manusia manusia ini pada gak warasss?!" gumam Azril lagi.


"AZRUL!!"


"Bancett, nama gua kenapa gantii gantii muluu samsulll?!"


"Dihh kok ngamokk?!" tanya Racksa.


"Wih ah, gak waras betoll!"


^^^"Halo, dinda. Gue matiin yaa, makhluk makhluk ini setengah warass"^^^


πŸ“ž "Haha, iyaa gapapa. Yaudah, salam buat semuanya yaa"


^^^"Oh iya, lu kapan pulang??"^^^


πŸ“ž "Ntar malem, gue pulang duluan"


^^^"Alex nggak ikut berarti? Siapa yang jemput lu ntar?"^^^


πŸ“ž "Nggak tau jugaa"


"ZRIL, LU KAGA KELUAR GUA DOBRAK"


"Astaghfirullah, capek gua dengernya" keluh Azril.


^^^"Din gue tinggal, assalamu'alaikum"^^^


Azril mematikan panggilannya, ia membanting ponselnya ke kasur kemudian keluar.


"Lu pad--" Azril tidak melanjutkan perkataan nya karena rumah tampak sunyi. "Anjirrr kok horor" Azril menuju ruang keluarga.


"Loh, Arsen?"


"Eh hai abang ipar"


"Asya sama Racksa mana?"


"Keluar bentarr, katanya mau beli bubur ayam"


"WOILAHHH, tadi yang teriak mulu di depan kamar gua siapa??" Arsen mengangkat bahunya sedetik tanda tidak tau.


Azril berbalik, "DUAR!!"


"AANJJINGGGG" Racksa dan Asya terkekeh.


"Bangsatt lu bedua yaa?!!"


"Salah lu sendiriii, ngapain bertapaa di kamar" omel Racksa.


"Whahh, liat lah kalian ini. Seperti tidak warass"


"Bodo amattt" Mereka menghampiri Arsen.


"Lu kapan disini, sen? Ngapain??"


"Dah dari tadi gue disini. Gak ngapa-ngapain sih sebenernya, gue cuma jaga Asya. Gak mau dia di tarik sama orang lagi"


"Okee bagoss!" sahut Racksa antusias.


"Dihhh dihh, gue merasaa bakal jadi babu kalian. Plislah manusiaa, apa kata tetangga nantii?!" omel Asya.


"Lu sadar kagak? Kita tinggal di lingkungan manusia yang jarang bersosialisasi. Beli bahan makanan, kebanyakan ke supermarket. Para orang tua kerja, anak dititipkan. Pembantu di rumah masing-masing juga jarang keliatan. Kerjanya kayak beberapa kali dalam seminggu, jadi siapa yang mau gibahin?" tanya Azril.


"Kali aja pohon sama rumah rumah ituu"


"Syaa, nyebur ke kolam aja sana lu" suruh Azril.


"Kolam manaaa?? Heh ayo renang!!"


"Nyesel gue bahas kolam" keluh Azril sambil membuat teh di dapur.


"Ayo renang, ayo renang. Asya mau renang! Ayo renang, ayo renang. Asya mau renang!"


"Lu imut banget kek begitu" sahut Arsen yang menatap terus Asya.


"Mon maap, gue emang imutt dari lahir. Dari dalam perut mommy juga gue udah imut"


Kepedean nya berlebihan.

__ADS_1


"Geli gua dengernyaa" keluh Azril sambil membawa teh ke ruang kumpul mereka.


"Btw, kenapa kita gak sekolah?" tanya Racksa.


"Kan sabtuuu" jawab Arsen.


"Oh iya lupa"


"Hiss, ayo renang!" ajak Asya.


"Sya, masih pagi"


"Oh oke"


"Heh heh! Ngambek pula, jangan pergi sendirii lu!"


"Iyeiyeee" jawab Asya santai.


"Lu mau kemanaa?" tanya Arsen.


"Liat drakorr"


"Ikutttt" Asya berbalik sambil menunjukkan kepalan tangannya.


"Mau bonyokk???"


β–ͺβ–ͺβ–ͺβ–ͺ


09.49


"Azrilll, udah jam sepuluh ayokk renang" ajak Asya yang baru keluar dari kamar.


"Anak ini bah, gabisa sabarr" keluh Azril.


"Tadi katanya masi pagii, ini udah gak pagi kali. Nanti kalau siang alasan panas. Kalau sore, lu tidur. Kalau malem, yakali malemm"


"Yaudah besiapp!"


"NAH GITU KEK, kan makin gantenggg" Asya langsung menuju kamarnya, mengganti baju juga membawa baju.


Azril dan Racksa juga ingin melakukan hal yang sama. "Gue mau ikuttt" ujar Arsen ketika Azril dan Racksa hendak berbenah.


"Lu pake baju Azril celana gue" suruh Racksa.


"Lu pake sempakk gue behanya Racksa"


"Heh anjiingg!!" Azril tertawa.


"Ntar gue beli bajuu, ke mall dulu gapapa kan yaa?? Naik mobil gue aja" tawar Arsen.


"Okeeey deal" Racksa dan Azril langsung masuk ke kamar masing-masing.


Tujuh menit kemudian mereka keluar dengan tas di masing-masing pundak.


"Stylist banget lu pada yaa" puji Arsen.


"Coba mirror lu. Lu kerumah aja pake baju cangtipp, gue yakin itu kagak murahh" ujar Racksa. Arsen cengengesan.


"Yaudahh ayoo" Arsen membantu Asya membawa barangnya. Mereka pun berangkat.


"Ini mau renang dimana?" tanya Racksa.


"Sungai aja gimana?" usul Asya.


"Anak siapaaa sihh? Kagak sabarr gua liatnyaa" Asya cengengesan.


"Marah muluu lu, heran liatnyaa" keluh Asya.


"Yaudah iya gak marah lagi, maap."


"Gue tebak lu bakall bucin akut sama bini lu di masa depan! Jadi suami takut istri" ujar Racksa.


"Bukan gitu, sa. Gue lebih mengalah aja kalau betengkar sama betina, you know lahh betina susah di lawan. Apalagi modelnya kayak Asyaa"


"Bacott" cibir Asya.


"Lu betiga emang gak bisa gitu sehari gak berantem?"


"Nggak, titisan sikopat semua" jawab Asya. Mereka tertawa.


Ting... Ting..


Asya meraih ponselnya di saku celana.


...+628125xxxx...


...online...


Haii, anak nakal


"Nakal darimanaa, gue imut ginii dikata nakal"


"Waras kamu bun?" tanya Azril.


"Ya waras, lu liat nihh" Asya langsung memberikan ponselnya pada Azril.


"Lahh? Sahaaa etaaa?" tanya Racksa.


"Kagak tau, kenapa antusias banget lu?!"


"Kagettt, ada orang chat langsung jujur"


"Racksa titisan setan" Racksa tertawa pelan.


"Gue aja yang bales"


...+628125xxxx...


...online...


^^^siapa?^^^


"Langsung mengetik anjritt, pengangguran nih atu mungkin orang gabut"


"Suudzon" cibir Asya.


Ting..


...+628125xxxx...


...online...


Saya orang yang belum lama ini


ketemu sama kamu, di rumah sakit.


"OALAHHH, om om itu syaa"


"Hahh?! Dapat nomor gue darimanaaa?!"


"Mana gua tauu. Mungkin dia suruh bodyguard ngelacakkk"


"Blokkk!" suruh Asya.


"Tumben? Kenapa?"


"Is, nanti kalau gue jatuh cinta sama tu om-om kan bahayaa"


"Ehh? Jatuh cinta?"


"Tidakkah kau liat? Dia gantenggg, asli Korea lagi. Sebelas duabelas pulaa sama Park Hyung-sik."


"Yakin mau di blokk?" Asya mengangguk. Azril mengebloknya kemudian memberi ponsel ke Asya.


Ting.. Ting..


...+628175xxxx...


...online...


Kok di block?

__ADS_1


Ayo ketemu lagi, kamu kemaren kabur dari saya


^^^no!^^^


^^^cukup satu kali pertemuan aja om,^^^


^^^saya gak mau lebih dari itu.^^^


Setelah satu pertemuan, akan muncul dua tiga atau lebih pertemuan dalam kamus saya


Saya tunggu kamu di kafe yang baru buka


"Huaaaa, gue kudu begimanaa dong?!"


"Apaan ancokk?!" tanya Racksa, Asya memberikan ponselnya lagi.


"Kenapa?" tanya Arsen.


"Om om ituu nyeremin" keluh Asya.


"Namanya siapa, sya??"


"Darren Kim" Azril membuka ponselnya mencari identitas Darren.


"Di sini gak tertulis kalau dia udah nikah, berarti emang belom"


"Nahh, kalau gitu gass ajaa, sya."


"Gas gas pala kau, lu kira gue kompor perlu pake gass?!"


"Astaghfirullah... syaa.." Asya menoleh, melihat Arsen.


"Gue cemburu!"


β–ͺβ–ͺβ–ͺ


"Azrilll, ajarinn cepatt"


"Ha kan, kalau renang tu ya gini. Gue disuruh ngajarin anak ini doangg" keluh Azril.


"Loh, Asya gak bisa renang??" tanya Arsen.


"Sejak kapan ni anak bantet bisa renang?" sahut Racksa.


"Bantet udelmu! Gue bukan kueee yang bantettt" protes Asya.


"Apaaan, di dalem juga masih jinjit tu kaki"


Asya cengengesan, "diem diem aja ngapasiii" Mereka terkekeh melihat Asya.


"Gaya bebek aja ya, sya?"


"Gak betol bah!!"


"Yaudah gaya apaa?"


"Gaya putri duyung"


"Nggak ada goblokkk, ish.. menguji kesabaran" kata Azril sambil mengelus dada.


"Gaya apa aja la aaah" Azril pun membantu Asya renang gaya dada. Racksa dan Arsen yang di sekitar Asya hanya menganggu.


"Iss, manusia-manusia inii" Racksa dan Arsen bertos ria lalu tertawa.


"Dahlah capekk" ujar Asya ketika tiba di ujung kolam.


"Gue laperrr, mo beli pop mie dulu yee" Asya beranjak keluar.


"Sini aja lu, gue aja yang beli" ujar Arsen.


"Lahh?"


"Udah, diem aja sinii"


"Senn, gue ikutt" pinta Racksa.


"Lu juga, zril?" Azril mengangguk.


"Oke waitt"


"Minum jangan lupaa!!" Arsen mengangkat jempolnya lalu pergi bersama Racksa.


"Lu sini dulu ye"


"Ih, mau kemanaaa?"


"Mau tes gue, bisa gak gaya dada dari sini sampe ujung sana" Asya berohria.


"Tiati, jangan lupa napass" Azril cengengesan kemudian mulai berenang.


Asya yang di pinggiran mencoba untuk tahan nafas dalam air. Tiba-tiba ada sepasang kaki mendekatinya di bawah.


Asya langsung melihat ke atas, "hai cantik. Udah saya tunggu di kafe, kenapa gak datang?"


Bugh!!


Asya menendang perutnya.


"Om om mesum!! Ngapain anda disinii?!" tanya Asya kesal.


Darren tertawa pelan, "saya baru keluar rumah sakit. Kamu sengaja buat saya masuk rumah sakit lagi?" Asya terdiam.


"Saya nungguin kamu, Asya."


"Saya gak mau ketemu anda!" Asya langsung berancang-ancang pergi dengan gaya dada.


Darren menarik kakinya kemudian menyandarkan Asya di pinggir kolam, "saya minta tanggung jawab kamu!"


"Hahh?? Om hamilll?? Saya kan gak hamilin om!"


"Astaga!! Ya kali saya hamil"


"Terus tanggung jawab apaa??"


"Tanggung jawab, karena saya udah jatuh cinta sama kamu"


Asya terpaku, 'makkk kenapa Asya ketemu betulan sama om ommm?!' keluh Asya dalam hati.


"Stress kayaknya, baru aja ketemu" lirih Asya yang di dengar Darren.


"Ehem.. omm mundur dulu" Darren tidak bergerak.


"Om!" Darren pun mundur.


Asya mengubah posisinya, "maaf mengecewakan. Tapi saya sudah mencintai orang lain"


"Siapaa?"


Asya tersenyum smirk, ia melempar air ke arah Darren. "Om om gak boleh kepo!!" Darren menggelengkan kepalanya mendengar jawaban Asya.


"Asyaa, kamu mau saya tunjukin sesuatu?" tawar Darren.


"Om diem deh, daripada saya tampol. Saya dari tadi pindah kenapa diikutin?!" Asya berpisah dari rombongan karena menghindari Darren. Tapi, Darren malah terus mengikutinya.


"Saya gak bisa jauh dari kamu"


"Omm pergi atau saya bacain ayat kursi?!"


"Ayat kursi?"


"Om kayak setan tau gaa?!" Darren tertawa.


"Setan ganteng?"


"Dihhh pedeann!! Om ituu udah tua, umurnya kepala tiga! Sedangkan saya masih kecilll, KTP juga belom punyaa. Jadi cari cewek lain aja, jangan saya. Jangan gombal-gombal ke saya, saya udah kenyang makan gombalan buaya!"


Darren diam tidak merespon, "om kenapa lagii diem ajaa?! Kesurupann?!"


"Nggakk"


"Jadii?!"

__ADS_1


"Saya diem karena saya suka denger suara kamu, suara kamu enak buat di dengar"


Asya menghela nafas, "GAPLOK PAKE SELOP ENAK NIII!"


__ADS_2