Barbar Generation

Barbar Generation
Demi Asyaa!


__ADS_3

Sorryy telat up gaiss ╥﹏╥


Sebagai penebus, gue lebihin jumlah kata di part ini. Jadi tu banyak bangeettt jumlah katanya. Btw, ntar kalau sanggup gue bonus ')


ㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡㅡ


Beberapa minggu berlalu begitu cepat. Senin pagi ini, senin terakhir dibulan puasa. Beberapa hari lagi lebaran.


Asya dan yang lain sudah selesai ujian, tinggal menunggu surat kelulusan. Mereka ujian bersama kemarin, ujian duluan itu hanya untuk menakut-nakuti mereka.


Dan ternyata berhasill! Mereka kalemm.. cuma beberapa harii:v


Tentang Tara? Dia masih sekolah sampai ujian selesai. Agaknya punya banyak muka, jadi gak punya malu. Hehe.


Kalau Darren? Beliau menghilang dari pantauan Aska. Beberapa kali dicari, tetap tidak ketemu. Mungkin melarikan diri karena tau Aska bukan tandingannya.


08.36, Asya baru bangun dari tidurnya. Ia langsung keluar dari kamar.


"Ajillll, Racksasaaa!!" Tidak ada yang menyaut.


Asya menuju ke kamar mereka berdua, biasanya jam segini kedua saudaranya itu masih tidur. Tapi nyatanya mereka tidak ada di kamar.


"Kok ngilang sikkk?"


Drrttt.. Drttt..


Asya meraih ponselnya.


...biaaawak 𓆌...


📞 "Assalamu'alaikum, cantikkuuu. Baru bangun??" Asya mengangguk.


📞 "Masih ngumpulin nyawaa?" Asya cengengesan.


^^^"Lu dimanaa? Keringetan gitu? Ngegym?"^^^


📞 "Iyaa, mumpung hari minggu kan libur kerja. Jadi bisa bentuk roti sobek buat dipandangin sama kamu besok kalau udah sahh."


^^^"Dihh pedeee amatt!"^^^


^^^Ledek Asya sambil berjalan menuju dapur.^^^


📞 "Hahaha, wajib pedee. Sendirian dirumah??"


^^^"Iyaa, Azril sama Racksa ngilanggg."^^^


📞 "Duhhh, kasyannya yang ditinggallll."


Asya yang tadinya menuju kulkas kembali melihat ponsel yang disandarkan.


^^^"Azrill?"^^^


^^^Kedua makhluk itu melambaikan tangan.^^^


^^^"Ngegym barengg??"^^^


📞 "Iyalahh. Mo buat roti sobek nii, lu mau liat punya gue?" Tanya Racksa.


📞 "Heh heh! Asya harus liat punya gue dulu baru punya lu!" Arsen nyolot.


📞 "Punya sodaranya duluu, baruu punya lu." Balas Racksa ngegas.


📞 "Apa pulakk, mana ada ituu! Lebih bagus punya calon lakinya duluu!" Arsen makin nyolot.


📞 "Apaan lu bedua?! Asya masih bocil, gak boleh liat roti sobek!" Akhirnya, Azril jadi penengah.


📞 "Bener juga siii."


Asya tertawa melihat mereka bertiga.


^^^"Jangan kecapekannn lu betigaa!^^^


^^^Kalau udah kecapekan cari kesempatan lah tuu buat buka duluann."^^^


Ketiga pria itu cengengesan. Asya menghilang dari layar.


Glek.. Glek.. Glek..


📞 "Suara apa itu?" Tanya Racksa curiga.


📞 "Seperti suara orang meneguk minumann." Jawab Arsen.


Mereka bertiga saling pandang kemudian melihat serentak kearah ponsel.


Asya sedang meneguk air mineral dengan santai di depan ponselnya.


^^^"Aahhh.. segarrr."^^^


📞 "HEH KAMPRETT!"


📞 "Lu gak puasa??" Asya menggeleng sambil cengengesan.


^^^"Segerr banget ni airr, kek ada manis-manisnyaa."^^^


📞 "Oke fiks! Gue gak pulangg!"


Asya terkekeh melihat Racksa dan Azril menghilang dari layar. Arsen sendiri terus menatap Asya yang tertawa.


📞 "Singa betina menjelma jadi setan."


Asya nyengir, "mau minum?"


📞 "Astaghfirullah, berdosa bangett!"


📞 "Dahlahh, gue matiin."


^^^"Ehhh tungguu."^^^


^^^Arsen menatapnya lagi.^^^


📞 "Kenapaa?"


^^^"Gue belum pamerr es krim."^^^


📞 "Bodo amatt, Syaa! Bodo amaattt!"


Arsen memutus panggilannya.


Asya yang sendirian tertawa geli melihat ekspresi Arsen tadi, "enak juga jadi setan."


Definisi goblougg yang sesungguhnya! ಥ﹏ಥ


◕◕◕


10.39, rumah abu abu.


"ASSALAMU'ALAIKUM GAISSD!" Ara dan Yuna datang membawa sejuta kebacotan. Uwaww.


"Waalaikumsalam." Jawab mereka lesu.


"Apaaan coba? Jam segini udah lesuu, lemah banget jadi jantaann!" Cibir Ara.


"Wop woppp. Mantap, Raa!" Ara mengibaskan rambutnya dengan sombong.


"Baru jam setengah sebelas, udah lesu banget. Payahh," cibir Asya.


"Adeknya kak Ara yang masi tiga taun ajaa kuatt, masih semangat ngajak lari-larian sama Yunaa. Masa abang abang berotot kalahh, cemen bangett."


"Bener tuu!" Ketiga wanita itu bertos ria.


"Omakk, dalaam. Dibanding bandingkan pula kita sama bocill," Dino auto sensi.


"Emang nyatanya gitu, lu pada lemess banget kea gak makan tujuh tahun." Jawab Arsen, hanya dia yang masih fresh sampe sekarang.


"Bukannya bela cowok, parah si Arsen." Arsen cengengesan.


"Daripada, lesu, lemes, kek anak cacingan mending lu login kita mabar." Mereka kompak mengambil ponsel dan memiringkannya.


Sedangkan Yuna, Ara dan Asya menghidupkan televisi dan menonton drama Korea dari situ.


"Dinooo astaghfirullah!! Lu tuu, bukannya liat liatttt!" Omel Haikal.


"Selip dikit, Call! Kan udah dibantu Arsenn."


"Sa saa, bantu guee!"


"Okeee, headshot!!"


"BERISIK GOBLOKK!" Mereka auto diam, tangan mereka masih bergerak dengan lincah.


"Hehh hehh!!" Arsen menutup mata Asya tiba-tiba.


"Seenn, malah sembunyii luu. Parah bangett," keluh Azril.


"Asyaaa nii haa, adegan kisseu malah melotottt. Ara sama Yuna aja tutup mataaa." Arsen melepas tangannya.


Asya nyengir sambil menatap Arsen, "pengen praktek?"


"Matamuiii cokkk!" Arsen tertawa.


"Senn, balikk buruu. Bucin mulu lu, syalandd!"


Arsen kembali ke game nyaa.


"Syaa, gimana tadi kisseu nya??"


Asya mendekat ke Ara, "hott!"


"Astaghfirullah, Asyaaaa!" Asya tertawa. Arsen selalu posesif padanya dalam hal apapun, but, Asya biasa aja selama yang diposesifin Arsen masuk akal.


Drttt... Ddrttt..


"Wehh, kompakk!" Para cowok mengangkat telepon dari orang tua mereka.


Racksa dan Arsen juga di telepon, Zia yang meneleponnya. Zia pakai dua ponsel.


...camerrr cantikk...


^^^"Assalamu'alaikum, tantee, ada apaa?"^^^


📞 "Waalaikumsalam, kepencet."


Panggilan langsung mati. Arsen melihat ke teman prianya.


"Kepencet bisa kompak gitu, ya! KITA JADII KALAHHH COEGG!"


Asya, Ara dan Aryuna terkekeh melihat ekspresi mereka.


"Ah sudahlah, mari log–"

__ADS_1


Tok tok..


"Gue aja yang buk–"


"ASSALAMU'ALAIKUM ANAK ANAKKK!"


"Daddy mommy??" Azril dan Asya kompak.


"Mama papaa??" Haikal dan Dino juga kompak.


"Jawab salam!" Omel Tania.


"Wa'alaikumsalam, mama ngapain disini?" Tanya Dino.


"Maen!" Tania menuju dapur diikuti Zia. Mereka mengambil minuman soda dan meneguknya dengan santai.


"Sayang, kamu pms tapi minum soda. Bagus gitu?" Aska sinis mode on, Zia cengengesan. Ia kembali meletakkannya ke kulkas.


Para manusia barbar generasi muda terus-terusan menatap heran mereka.


"Mama gak puasa?" Tanya Dino.


"Papa mu kerasukin jin tomang tadi, jadinya batal."


"Astaghfirullahalazim, Om Dimassss." Ledek Racksa, Haikal, Azril dan Asya berbarengan.


"Kek gitu aja otaknya lajuu," cibir Aska. Mereka cengengesan.


"Om kok gak sabaran sih? Puasa loh, Om, ingat puasaaa."


"Tadi tu karena minuman om dimasukin obat perangsangg." Eles Dimas.


"Wait, papa gak puasa??" Dimas menatap anaknya. "Oiya? Papa kok gak puasa?"


"Astaghfirullahalazim. Capekk bangett gue punya temen kek beginiii," keluh Ica depresott.


"Gue lupaa, cokkk. Kok minum yaa tadi?" Tanya Dimas masih lemot.


"Buang aja Om Dimas, buangg!" Sahut Haikal ikutan kesal.


"Berdosa kamu, Haikal."


"Oiyaa. Papa gak sengaja nelen air mineral tadi, terus minta buat kopi dan taunya dikasih perangsang obat. Abistu papa pulang dan ya gitu."


"Gak sengaja nelen air tapi minta buat kopi? PANTESAN DINO BEGINII, OMMMM." Asya ikutan depresottt.


Dan dengan santainya Dimas nyengir.


"Buah jauh gak jatuh pohonnya dari."


"Kebalikk, Om Ivaannn. Kebaliiiikkkk," keluh Azril.


"Ohiya, ngelag maaf."


"Pulang dah gue pulangg." Mereka terkekeh melihat Aska dan Zia yang sudah benar-benar depresottt.


Mengcapeek ╥﹏╥


"Huhh, sabarr. Om sama tante mau minum apa?" Tanya Asya.


"Puasa Asyaa! Mau tante tampol kamu?" Asya nyengir.


"Lupa, tan. Soalnya kalau ada tamu sering tawarin minuman dan diterima."


"Iyakah?" Tanya Ivan, Asya mengangguk.


"Dino gitu?" Tanya Tania gantian.


"Iya tantee, sudah pasti. Apalagi Ical, paling laju." Azril yang menjawab.


Ivan dan Ica menatap datar Haikal.


"Astaghfirullah, nggak ma. Sumpah Demi alekk, kagakkk!"


"Ckckck, tak patuttt." Ledek Kusuma Family.


"Hastag, Haikal depresiii" Mereka cengengesan.


"Btw, inii temen kamu yang ultah waktu itu, Sya?" Tanya Aska menunjuk Ara.


"Iya, daddyy."


"Raa, ini mama papanya Icall, mama papanya Dino sama bokap nyokap gue."


"Ahh iya. Saya Ara, Om." Ara mengalami tangan mereka satu persatu.


"Aaa, jadi ini cewek yang sering kamuu ceritain ke papaa?" Haikal mengangguk santai.


"Wahh, apeni apenii?" Goda Racksa, Haikal mengedipkan mata.


Ivan mendekat untuk berbisik.


"Apaan bisik-bisik?" Tanya Ica sinis.


"Kepoo bangett."


Plakk!


"Mamammm tu tampolannn!" Ledek Dimas puas. Ivan meringis sambil mengelusi pahanya.


"Papa mu bisikin apa, Kal?"


"Uwuuuuuuuu.." Ara yang malu pura-pura angkat telepon.


"Ara di suruh pul–"


"Raa, bohong dosa. Batal puasa lu, mau?" Ara auto kicep. Mereka terkekeh melihat ekspresi nya.


"Cantiikk yaa, Kall. Mirip sama mama," Ujar Ica.


"Apaan, kagak ada miripnya! Gantengan diaaa." Sahut Tania.


"Cantik buk cantikk, cewek tu cantikkk kenapa jadi gantengg?!" Zia emosi dikit, Tania nyengir tanpa rasa bersalah.


"Iya itu maksud guee, cantikan dia daripada Ica."


"Syirik bet luu! Gara-gara Dino gak laku jadi syirik."


"Apa pulak gak laku? Yang gak laku mah Racksa, tanteee."


"Gue diem, gue kenaa." Mereka tertawa kecil.


"Dino laku? Sama siapa, nak?" Tanya Dimas. Nadanya tuh ngeledek, gak percaya kalau anaknya laku! >_<


"Yunaa, Paa." Jawab Dino pedee pake banget.


"Ini?" Dino mengangguk sambil tersenyum.


"Kok mau dia sama kamu?"


"ASTAGHFIRULLAHALAZIM, DINO PRUSTASII." Dimas terkekeh.


"Banyak banyak istighfar sama baca ayat kursi, yukk." Ajak Azril.


"Kamu kira kami berenam setan?" Tanya Zia, Azril nyengir.


"Sudahi bacot kalian. Mari diam sejenak!" Pak Aska berbicara tegas dan mereka auto tenang.


Satu jam kemudian..


Gagagaaa, gak nyampe sejammm! ಥ‿ಥ


Cuma lima menit mereka hening, Dimas yang tidak tahan diam malah bernyanyi sesukanya.


"Berisikk begooo! Suara lu faalsss," Dimas diam mendengar protesannya Ica.


"Sakit hati guee." Ica cengengesan.


"Para orang tua mengapa kemarii?" Tanya Racksa.


"Kamu jarang ngomong, sekalinya ngomong minta di tampoll!" Ivan kesal.


"Apa salah Racksa, Om?"


"Kami masih mudaa!"


"Kasiann, udah tua ngakunya muda. Malu sama ubann!" Cibir Aska. Ivan kena mentall! ╥‿╥


"Kaa.. baku hantam yok! Lu dari tadi ngajak gelut mulu!!"


"Bini nya yang pms, dia yang ngeselinn." Sahut Dimas.


"Halahh, kena mental banyak bacot."


Auto kalem again.


Nyeseekk, hemm.


"Kok bisa punya temen kek gini sih gue?" Aska tertawa.


"Gak nyangka weii, ternyataa om Aska ganteng kalau ketawa." Ujar Racksa.


"Racksaaaa, jangan rebut daddy gueee dari mommy!!" Racksa mengedipkan mata dua kali lalu mengelus dada.


"Sabarr sabar. Racksa ganteng, sabarr!" Asya nyengir melihatnya.


"Jujur dehh, mommy daddy om Ica tante Ivan–"


"Kebalik dongooo!" Arsen buka suara.


"Oiya. Oke ulang, mommy daddy, om Ivan tante Ica, tante Tania sama om Dimas mau apa kemari?" Tanya Azril.


"Main doangg."


"Btw, kalian jadi mau bagi-bagi sedekahh?" Mereka mengangguk.


"Kenapa, Om?" Tanya Arsen.


"Gapaapa. Berapa kotak nasi?"


"Dua ratus lima puluh, dad." Jawab Asya.


"Tapi katanya lima ratuss?"


"Lima ratus sama takjil, Om" Ara gantian menjawab.


"Oke kalau gituu, dua ratus lima puluh bagian gue." Ujar Zia.


"Lahh?"

__ADS_1


"Gue dua sama Askaa."


"Oke, gue ambil seratus dua lima. Sisanya Ivan."


"Deal!"


"Apaan, Pa?" Tanya Dino.


"Kalian bagi takjilnya sekaligus uang, nah uangnya dari kamiii."


"Oooooo, gituuu." Mereka kompak.


"Bagiin dijalann?"


"Ada yang di jalann, ada yang di bagiin naik mobill." Mereka berohria.


"Bagi-bagi yang adill, jangan sampe yang seharusnya dapat malah gak dapatt!"


"Iyaa, Om."


"Eiyaaa, ini thr kaliann." Tania, Ica dan Zia sama sama memberikan satu persatu amplop kecil pada mereka. Semua dapatt sama rata.


"Kiwww, makasiii mahmuddd."


◕◕◕


16.23


"Gue duluann, coyy!" Haikal mengangguk. Arsen pergi bersama dengan Asya.


"Kita bagian stayy, okee?!" Arsen berdehem, ia melajukan mobil ke tkp.


"Senn–"


Tingg..


"Tolongg, bukainnn." Asya mengambil ponsel Arsen dan membukanya.


"Chat dari Alex." Arsen menatap heran Asya.


"Alex? Chat apa dia?"


"Minta ketemu sekarang, di McD biasaa dulu."


"Keburu gak inii kalau kita samperin Alex?" Asya menggelengkan kepala.


"I don't know, whyy?"


"Baless ajaaa, tunggu ntar malem di apart selesai tarawih." Asya menurut, setelah selesai ia meletakkan kembali ponsel Arsen.


"Lu tadi mau bilang apaa?"


"Ngga tauuu, lupaaa." Asya cengengesan.


Arsen yang gemas mencubit pipinya, Asya kesakitan dan memukul tangan Arsen. Arsen melepasnya sambil tertawa.


"Gemoy bangettt bidadariii kuuu."


"Nyehh, moduss."


"Nikah, yukk!"


"Mengada-ngadaaa! Yakin lu mau nikah sama gue, kuat emangg?"


"Why not?"


"I'm petakilan, kurus kek triplekk, suka asal ngomong, suka nyari ributtt, sanggup emangg?"


"Heyy heyy.. kalau gue gak kuat sama sikap sikap luu, gue udah jauhin dari duluu. Gue suka sama lu dalam bentuk apapunn."


Asya menatapnya intens, "moduss kan?!"


Arsen mengelus dada, "give me one challenge, untuk buktiin kalau gue gak pernah moduss masalah ini."


"Emm, okeyy. I give you challenge.. kiss Azril in public."


"Are you crazyy?!"


"Nooo!" Asya tertawa.


"Yang lain lahh."


"Oh gak usahh. Gue bakal buktiin nantii!"


Drrtt.. Drtt...


"Siapaa?" Asya melihat ponsel Arsen.


"Alex."


...Alexx...


📞 "Assalamu'alaikum, sekarang aja gabisa?"


^^^"Wa'alaikumsalam. Gue sibukkk, dongooo!^^^


^^^Mau ngapain sih? Ngajak buka duluann?!"^^^


📞 "Hahaha. Lu ngapain si? Sharelock deh, biar gue yang samperin."


Arsen menyuruh Asya menutup telepon.


"Share lokasi nyaa." Asya mengirimkan alamat itu pada Alex.


"Lu mau ketemuan ya tadii? Mau berantemm?"


"Nggak. Lu mau tau satu hal?" Asya menatap serius Arsen.


Tanpa disadari mereka sampai di tkp. Asya buru-buru keluar untuk mendekati Arsen.


"Satu hal itu apaa?"


Arsen menatap Asya, ia mengelus lembut rambutnya Asya.


"Nanti sambung lagi."


"WAHAIII KAUM MERESAHKAN. BERHENTI LAH MERESAHKAANN!" Mereka berdua terkekeh.


Bersamaan, Asya dan Arsen bantu membagikannya kepada setiap orang yang lewat. Mereka bagi-bagi sedekah di area pedesaan.


"Lebaran tiba lebaran tiba.. tiba tiba lebarann."


"Diem, suara lu falss!"


Dino kena mental:'


"Yang namanya Ica kalau ngomong emang suka nyelekit ya. Ica maknya Haikal juga begituuu tuh tadii!" Ara tertawa.


"Dinso mental brikdensss." Mereka terkekeh.


Satu setengah jam kemudian.


"Oiii, Senn!" Arsen menoleh, Alex datang seorang diri.


Yang lain menatap heran Alex dan Arsen. Sejak kapan mereka dekat?


"Ntaran aja kalau mau bacot, gue sibukk!"


"Dihh."


Arsen melihat kearah Asya yang terlihat happy. Matanya menajam ketika melihat sesuatu di celana Asya.


"Lex, ntar lu ke apart gue aja. Siap sholat tarawih!"


Arsen melepaskan jaket kemudian pergi menghampiri Asya. Ia mengikat lengan jaketnya ke pinggang Asya.


Asya menatap heran Arsen. Arsen berdiri kemudian berbisik, "ehm.. ayok gue anterin balik." Arsen mengode.


Demi apapun, Asya malu banget sekarang!!


"Kuyy," Arsen menggandeng tangan Asya. Mengajaknya masuk ke mobil.


"Woii, cokk! Gue balik duluann!" Mereka mengangkat jempol, Arsen pun pergi bersama Asya.


"Sen, ntar mobil lu..."


"Dah diem! Mobilnya bisa di cuciii." Asya terdiam, ia memalingkan wajahnya.


"Maluu?"


"Diemm!"


"Baru kali inii singa betina gue maluu."


"Diemmm ishh!" Arsen tertawa geli.


Arsen yakin, saat ini Asya merasa kalau ekspresi wajahnya menakutkan karena sedang marah. Tapi nyatanya bagi sii bucinnn akut, itu menggemaskann!


Sembari mengemudi, sesekali Arsen memperhatikan Asya. Asya sedang memegangi perutnya.


"Sakitt??" Asya tidak menjawab.


"Mau ke dokterr?" Asya menggeleng sebagai jawaban.


"Ahh shitt! Gue lupaaa."


"Lupa apaa?"


"Itunya habis.."


Arsen mengedipkan mata layaknya orang dongo. Si bucin itu paham gaiss!


"Ehm.. oke, itu supermarket." Arsen membelokkan mobilnya.


"Emm, lu pake yang mana?" Asya menatap Arsen heran. Asya benar-benar maluuuu!


"G-gue aja yang bel–"


"Mau jadi pusat perhatian? Gue aja yang beli." Asya benar-benar maluuuu mengatakan ini!


"Yaudahh, ntar sampe sana gue vidcall."


"Hp gue sama Araa." Arsen mengambil ponsel kerjanya.


"Lu pake hp guee, ntar gue vidcall dari sini. Oke?" Asya mengangguk kaku, Arsen pun pergi sambil membawa ponsel kerjanya.


"Aaahhh, demi apapun gue maluuuuuuu!" Teriak Asya di mobil Arsen.


Di dalam supermarket, Arsen menuju tempat yang ia cari. Tatapan mata kebanyakan orang menuju padanya.

__ADS_1


"Gapapa, Senn, gapapa. Demi Asyaa!"


__ADS_2