
...WOI, BACANYA PAS KELAR BUKA PUASA YAA....
...TAKUT BEDOSAA, EHEHEHE ππ...
...β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’β’...
Cup! Cup! Cup!
"Eunghh... jangan rusuhhh!!" dumel Asya sambil mendorong muka Arsen. Arsen tertawa dan terus melanjutkan kegiatannya mengecup pipi Asya bergantian.
"Arsennn!!"
"Bangun, sayang. Ayo sholat subuh," kata Arsen sabar mengelus rambut Asya. Asya membuka matanya perlahan. Hal yang pertama kali Asya lihat adalah senyum manisnya Arsen.
"Masih ngantuk..."
"Udah setengah enam, sayang. Ayo bangun ah, sholat subuh dulu. Cepet bangun ayooo, nanti aku gigit pipi kamu."
Asya menutupi pipinya dengan tangan. "Gak boleee, sakitt!" Arsen cengengesan. "Makanya ayo bangunnn ayangg."
"Iya kan udah bangunn inii. Kamu wudhu duluan nanti aku nyusul," Arsen mengecup pipi Asya sekali lagi lalu pergi ke kamar mandi. Asya duduk di kasur, mengumpulkan nyawanya sambil bermain ponsel.
"Nanti lagi hpnya, ayo sholat."
"Iyaa-iyaa, mas suamiii." Asya gantian wudhu lalu berdiri dibelakang Arsen menjadi makmum. Mereka berdua pun sholat berjamaah dengan khusyuk.
Selesai sholat, Asya menyalami tangan Arsen. Dan dengan manjanya Arsen menjatuhkan kepala di paha Asya. Asya membiarkannya, ia balas dendam dengan cara mencubit pipi Arsen.
Arsen menarik tangan Asya dan meletakkannya di dada. "Gak boleh bandel tangannya."
"Padahal tangan kamu bandel juga tadii. Btw mau sarapan apa pagi ini, bapak Arsen?" Arsen menyipitkan mata menatap Asya. "Bapak, bapak. Emang kamu kira aku bapakmu??"
"Yaa kan maksudnya bapak CEO Arsen gituuu."
"Dak suka aku gituu. Panggil mas aja, sayang," ujar Arsen senyum menggoda. Asya malah tertawa, "Yang ada geli aku manggil begitu."
"Gak sweet bangett emang kamu."
Asya menarik hidung mancung Arsen. "Yaudah jadinya mau sarapan apa, Mas Arseennn?" Arsen tersenyum salting mendengar panggilan barunya. "Pengen kayang aku kalau gini ceritanyaaa."
"Ngaco bangettt kayang. Udah buruan deh bilang, biar aku masak. Tar kamu telat ke kantor hari iniii," kata Asya kembali ke topik.
"Aku gak ke kantor hari ini."
"Loh kenapaa?"
"Nanti kamu ngambek lagii. Jadi sekarang kamu siap-siap, kita jogging. Sarapannya nanti di luar aja."
"Okeee. Kalau gitu kamu awas dulu dong biar aku siap-siappp." Arsen diam di tempat sambil menunjuk bibirnya. "Apa? Mau ditabok?"
"Diciumm."
"Nggak duluu makasehhh," Asya meletakkan kepala Arsen perlahan di lantai, ia berdiri dan melipat mukenahnya. Setelah itu Asya beranjak ke kamar mandi.
Tapi tiba-tiba sebelum masuk ke kamar mandi, Arsen mendorong Asya pelan ke dinding kemudian langsung menyambar bibirnya. Arsen terlihat sangat pro kalau urusan beginian.
Nafas Asya mulai habis, ia mendorong dada Arsen kuat agar ciumannya terlepas. "Udah! Aku mau mandii."
"Ikut. Mau mandi barengg," jawab Arsen tersenyum lebar. Asya menatapnya jengkel lalu keluar lagi dari kamar mandi. "Oke, aku gak jadi mandi."
...βββ α( Υ α Υ )α βββ...
Asya dan Arsen sudah berada di lapangan sekarang. Banyak juga orang yang berolahraga pagi ini, walaupun bukan hari libur.
Kedua sejoli itu mulai pemanasan lalu lari keliling lapangan sebanyak dua kali dengan tiga kali perhentian. Yang berhenti cuma Asya sih, kalau Arsen tetap lanjut tancap gas tanpa rem.
Melihat Asya terduduk di pinggir lapangan sambil mengiup dari teriknya matahari, Arsen menghampiri. "Kekuatannya habis cuma segitu aja?" tanya Arsen sedikit meledek.
__ADS_1
"Iya deh iyaaa, sementang jago banget larii sombong amatt kamuu," dumel Asya kesal. Arsen tertawa lalu duduk di sebelah Asya. "Aku juga udah lama gak jogging bareng kamu."
"Tapi kan sering jogging jugaa."
"With you or without you rasanya beda, lebih enak with you." Asya mendorong muka Arsen. "Modus nian, yakin aku ni kalau pulang nanti pasti banyak maunya kamu."
Arsen tertawa lagi, "Su'udzon amat sama suami."
"Lah iya, gak bolehh woi. Maaf ya, mas suamikuu tercintaaaaahhhh..." Arsen mengecup pipi Asya sekilas kemudian berdiri. "Ayo lanjut lari," ajak Arsen bersemangat.
"Udah ya? Tadi udah dua putaran kok." Asya mengalihkan pandangan dari Arsen dan melihat yang lain. "Dua apaan, berhenti mulu gitu. Ayok, sayang, biar sehatt."
"Aku challenge aja deh kamu ya, kalau kamu berhasil keliling lapangan tiga kali dengan batas perhentian satu atau dua kali, aku kasih kamu hadiah."
"Hadiah apa?" tanya Asya kini kembali menatap Arsen. "Ya masa hadiahnya aku bocorin. Deal dulu gak nih??" Asya menatap tajam Arsen. "Bener dapat kan nii?"
"Iyaa, sayangg. Deal gakk?"
"Okay, deal!" Asya menerima uluran tangan Arsen lalu mempersiapkan dirinya. Begitu Arsen suruh mulai, Asya langsung mulai berlari. Arsen pun mengikutinya di belakang dari jarak yang cukup jauh.
"Semangat, Asyaa, semangatt. Gak boleh patah semangat. Ih tapi capek," keluh Asya yang di dengar Arsen. "Kalau kamu ngoceh sepanjang lari, nanti bakal semakin capekkk."
Asya diam dan melanjutkan lari kencang sekuat tenaga. Sampai akhirnya mereka tiba di tempat awal challenge. Asya duduk meluruskan kaki sembari menetralkan napas.
"Udah tiga putaran, apa hadiahnya?" Arsen tersenyum kemudian mengelus rambut Asya, "Makan dulu ayok. Nanti hadiahnya nyusul."
"Gak aneh-aneh kan ini hadiahnyaaa?" Arsen menggelengkan kepala. Asya kembali berdiri setelah napasnya sudah stabil. Ia berjalan mencari tempat makanan dan Arsen juga ikut berjalan di sampingnya.
"Hadiah apa sii? Penasaran akuu," keluh Asya setelah memesan makanan. "Nanti dulu ya, sayang, sebentar. Aku ngurus orang kantor dulu," jawab Arsen sambil bermain ponsel.
Asya diam dan memikirkan hadiahnya. Sampai makanan datang Asya masih memikirkannya. Arsen juga masih memainkan ponsel tanpa bicara sedikit pun.
"Aku gak mau ngomong ini sebenernya. Tapi gerah pengen ngomong. Kamu selingkuh yaa?!"
Arsen terkejut menatap Asya. "Ngaco. Selingkuh sama siapa, sayang? Mana ada selingkuh."
"Adaa! Kamu selingkuh sama ponsel sialan ituu."
"Hm."
"Aku chat om Mike deh kalau gitu, bilang jangan ganggu kitaa!" Arsen tersenyum meledek lalu meletakkan ponselnya. "Oke, gak main handphone lagi. Kamu ngajak ngomong apa tadi pas aku lagi main handphone?"
"Hadiah aku apa?"
"Gak sabar ya?" Asya mengangguk antusias. Melihat nasi goreng dipiring Asya sudah habis, Arsen memberikan sedikit sisa nasinya. "Mau abisin nasi aku dak, sayang?"
Asya mengambilnya dan langsung mengunyah tanpa pikir panjang. Arsen melihatnya sambil tersenyum meledek.
"Dah abis dua piring. Sekarang, hadiah aku mana?" Arsen kembali mengambil ponsel, ia menghubungi seseorang.
"Di warung sarapan pagi, sebelah kiri." Arsen mematikannya setelah mengatakan itu lalu pergi membayar nasi goreng.
Asya semakin penasaran dibuatnya!
Lima menit setelah Arsen menelepon seseorang, muncul suara kereta baru datang. Arsen menarik Asya keluar warung. "Ini hadiah kamu."
Mulut Asya menganga karena terkejut. Dirinya auto memeluk Arsen karena kesenangan. "Aaaaa! Akhirnyaa impian aku naik CRF keturutannnn," kata Asya heboh.
"Suka hadiahnya?"
"Really like it! Thank you, my husband."
Asya mengecup pipi Arsen sekilas kemudian menaiki CRF barunya. Arsen tersenyum senang melihat Asya sangat senang. "Boleh bawa kuliah?"
"Gak boleh kalau tanpa aku."
"Jadi harus sama kamu?"
__ADS_1
"Of course, baby. Kamu gak boleh bawa sendiri, kecuali aku ikut jadi penumpang."
"Lahhh?! Kenapa harus begituu?"
"Karena.... Takut kamunya kenapa-kenapa nanti. Kalau sama aku kan kenapa-kenapanya barengan."
"Sepelein aku ya? Ayok naik, aku bawa sampe ke apart!" Arsen tersenyum miring lalu duduk di belakang Asya. Pria yang menjadi bodyguardnya itu setia berdiri di samping Arsen.
"Makasih ya udah bawain motornya, kang. Nanti akang pulang pake matic saya aja, tadi diparkiran."
"Oke, pak."
Arsen menepuk pundak bodyguardnya kemudian menyuruh Asya menjalankan motor. Asya mengendarai motor barunya dengan kecepatan sedang. Sedangkan Arsen duduk diam di belakang sambil memeluk Asya.
"Jago juga istriku..."
"APAA? BELI SEBLAK?"
"Hahaha! Kepengen seblak bilangg."
Asya tertawa di depan. Ia menikmati perjalanannya dengan Arsen. Sampai akhirnya beberapa menit terlewati, mereka sudah tiba di apartment.
"Cool bener istrikuu," goda Arsen setelah turun. Dengan tampang songongnya Asya berkacak pinggang. "Asya gitulohh!"
"Yaudah, ayo mssukk."
Mereka berdua jalan bersama sambil bergandengan tangan. Sepanjang jalan Asya tersenyum gembira karena hal yang sangat diidamkannya terkabul.
"Assalamu'alaikum," Asya dan Arsen kompak masuk ke dalam apartemen. Arsen duduk di sofa dan Asya menuju ke dapur. "Mau ngeteh, mas?"
"HAH? ULANGI."
"Mau ngeteh nggak, Mas Arsen?"
Pria itu tidak bisa menahan senyumnya. Perkara dipanggil 'mas', Arsen salting tak tertolong. "Sini deh kamu," kata Arsen tiba-tiba datar. Asya berdiri tepat di hadapannya.
"Gak salah dong panggil mas? Kan kamu emang sedikit lebih tua dari aku." Arsen tak menjawab tapi menarik tangan Asya. Asya terjatuh tepat dipangkuannya.
"Tau gitu aku beliin kamu CRF dari kemaren-kemaren, Yang." Asya tertawa. Dalam posisi ini, ia tidak berontak sama sekali. Asya malah meletakkan kedua tangannya di leher Arsen.
"Ehhh.. tapi emang tadi pagi aku suruh kamu panggil mas sih ya, berarti bukan inisiatif kamu ini mah."
"Inisiatif dong ini. Kan kamu gak ada nyuruh lagii," jawab Asya sembari menata rambut Arsen. Arsen tersenyum meledek. "Iyain deh, iyain. Mandi deh kamu sekarang."
"Kenapaa? Bau bangett kah aku?" Arsen menggelengkan kepala. "Kamu pilih mandi dulu atau bikin list dulu?"
"List? For what?"
"List tempat yang mau kamu kunjungi. Dalam atau luar negeri terserah. Nanti tiap weekend atau tiap aku malas kerja, kita datangin tempat itu. Tapi khusus bagian luar negeri, kita tunggu akhir bulan. Setuju?"
"Kenapa harus akhir bulan? Orang akhir bulan gak ada duit, masa kita jalan-jalann?"
"Kalau awal bulan gak bisa, sayang. Segala macam hal kesibukan dimulai awal bulan. Lagian gak ada yang larang juga kan, jalan-jalan di akhir bulan?" Asya cengengesan lalu mengangguk. "Gak ada hehe."
"Jadi mau mandi dulu atau list dulu, sayang?"
"List. Biar kamu aja yang mandi duluan."
Arsen mengangguk setuju. Ia mengendus-endus leher Asya terlebih dahulu sebelum masuk ke kamar mandi. Asya sendiri sedang merasa kegelian.
"Stop it, honey. Aku bau keringat!" keluh Asya menjauhkan kepala Arsen. Arsen nyengir menatap Asya, "Tidak ada bau sedikitpun dari tubuhmu, baby."
"Sepertinya ada yang bermasalah dengan indra penciumanmu." Arsen masih nyengir, "Tanganmu sudah berada dileherku, sayang. Bagaimana kalau kita bermain-main sebentar?"
Asya menyipitkan mata dan tanpa aba-aba mengecup bibir Arsen lalu berdiri. "Sudahi pikiran kotormu, mandi sana. Aku mau buat list yang panjang agar duitmu dapat aku habiskan."
"Aku senang dengan ambisi kamu yang satu ini. Cepat tulis list nya, aku gak sabar untuk menghabiskan uang bersama wanita yang aku cintai."
__ADS_1
"Aku masih gadis btw."
"Oke, gadis yang aku cintai."