
Seminggu kemudian, hari ini tepat dimana acara yang di buat tim osis terselenggara.
Semua sibuk dengan tim masing-masing, atas perintah pak Jarwo tim osis dibagi dua. Tim Arsen dan Tim Azril.
"Anjirr sekali. Gue gak tau mau masak apa." keluh Maudi.
"Astaghfirullah!! Udah hari H dan lu pada kagak tau mau masak apa??" tanya Yoga.
"Lah anjirrr, kenapa kami yang disalahin?! Kan kerja sama satu tim!!" jawab Mira kesal.
"Kalah la kita kalau gini!"
"Tenang guys tenang, ada pak Arsen disini." Asya menunjuk Arsen.
"Lah guaa??"
"Lu tinggal di apartemen kan ya? Pasti bisa masak sendiri, sebab kan makan, makan sendiri. Cuci baju sendiri, tidur pun sendiri"
"Asekkk lanjutt" sahut Arif.
"Lu kata gue nyanyi?!" Arif terkekeh.
"Ini ini sound-nya. Ayook di goyanggg!!"
Irgi mengambil centong nasi sebagai mic-nya. "Masak, masak sendiri."
"Makan, makan sendiri."
"Cuci baju sendiri, tidur pun sendiri."
"Assoyyyyy, tarik masss" ledek Azril dari tim sebelah.
"Emang begoo semua anggota guee" keluh Arsen. Mereka tertawa ngakak.
"Pak Arsen, jadinya kita masak apa??"
"Masak ubi"
"Oke tarek mangg"
"Tanam tanam ubii, tak perlu di baja."
"Orang berbudi, kita berbahasa"
"Semarakkan hari inii! Kita nyanyi ramai-ramai"
"Yoow!!"
"Goyang badan gerak kaki"
"Laungkan lagu damai"
"Asoyyy" Tim lain tertawa melihat tingkah anggota Arsen.
Asya yang menjabat sebagai wakil ikutan tertawa, sedangkan sang ketua menggelengkan kepalanya.
"Woi! C'mon fokusss" Seketika mereka terdiam.
"Mau masak apa jadinya?"
"Masak airr."
"Biar mateng!!!"
"Anjirr gak bisa diajak seriuss lu pada!!"
"Sen, gue cowok. Masa lu mau seriusin gue"
"Anjirrr gak gituuuu!!" Mereka terkekeh lagi.
"Mending masak makanan yang guru guru gak suka" usul Yoga.
"Kenapa gitu?"
"Karena kalau gak suka kan gak dimakan. Jadinya buat kita"
"Manjiwwww, usul Yoga debesss!!"
"Debes dari pantat sapi, keliatan kagak niat dong begee" sahut Asya.
"Baiknya masak ikan aja, di apain terserahlah. Ini gue bawa ikan."
"Gue bawa ayam." sahut Mira.
"Ayamnya di krispiin aja. Oke sipp!"
"Ikannya di apain anjirr?!"
"Gue minta tethering dong yang baikkkkk" Asya membuka ponselnya.
"Gue ngidupin tethering, lu pake aja tuh. Mau buka youtube juga terserah."
"Namanyaa?!!"
"Password?!!"
"Bayar ya. cepek semenit."
"Anjirrr gak betul ni anak" protes Yoga.
"Hurufnya kecil semua"
"Eh beneran bisa dong yahaaa."
"Maksudnya gimana sih??"
"Iq jongkok gak bakal paham."
"Asuu!!"
"Hahahaha"
▫▫▫
"Gaiseu, gue sama Mira mau keluar bentar ya"
__ADS_1
"Gue sendiri gituuu??"
"Bentar lagi Viona datang, lagi pula ada mereka, sya. Percaya sama gue, mereka tu bisa dijadiin babu. Dah ya, bye."
"Stress gue, kenapa bisa sekelompok sama sepupu bajingan begini" Reva terkekeh.
"Udah ya fans, gue sibuk." Reva dan Mira pergi.
"Gue berasa di kepung sama om om pedo" ujar Asya sambil mengiris bawang.
"Gue om pedo yang ganteng kok, sya." ujar Aldo dengan kepedean full.
"Mendadak ingin muntah"
"Fiks, Yoga punya masalah hidup segede upilnya Rafy"
"Anjirrr" Mereka tertawa lagi.
Arsen juga ikut tertawa pelan, perlahan ia berpindah ke samping Asya. Asya menoleh, "lu kenapa?"
"Kenapa apanya??"
"Keliatan emosi gituu, sensian banget hari ini."
Arsen mengarahkan tangannya, mencoba menyuruh Asya mendekat untuk berbisik. "Mau ngetes jadi cool boy." bisik Arsen.
Asya tertawa ngakak mendengarnya.
"Momen ketika pensiunan buaya kembali berulah"
"Sangat membahayakan" sahut Yoga.
"Syirik lu jones"
Asya menggelengkan kepala, ia kembali mengiris bawangnya.
"Awwh.." mereka menoleh.
Darah mengalir dari jari telunjuk Asya, "syaa lu kenapa?"
"Kenapa gak ati-ati siih, syaa?!"
"Ng-nggak apa apa kok, kegores dikit."
"Kegores dikit jidat lu petak" Arsen langsung pergi mencari P3K.
Setelah menemukannya, Arsen kembali. Ia memegang tangan Asya lalu mengobatinya dengan perlahan-lahan. Tanpa di sadari, Asya terus menatap Arsen.
"Fy, lu tau kan ya? Arsen gak suka darah gitu, anti megang kotak obat dan segala macam. Kali ini kok..."
"Gue juga gak ngerti dan gak paham apa yang salah dengan otak Arsen" jawab Rafy.
"Btw, pacar Arsen sekarang siapa?"
"Gak ada, bener bener gak ada. Biasanya isi watsap dia asrama putri tapi kemaren gue liat gak ada satupun. Cuma satu yang di sematkan. Namanya Lioness"
"Lioness??"
"Itu Asyaa"
"Dari yang gue denger mereka rebutan mau ngantar Asya. Tapi, Asya milih cabut sama Haikal"
"Wahh.. jangan jangan Asya sama Haikal---"
"Just best friends, best friends from childhood."
"Ehh??"
"Dasarr tukang gibah" cibir Arsen.
"Bukan gibah, sen, ini tuh namanya pengumpulan informasi"
"Baacoottt"
"HAI GAISEU AING KAMBEK" Reva, Viona dan Mira datang.
"Eh, Asya lu kenapa??" tanya Viona.
"Gak sengaja pas motong bawang tadi, ke gores dikit. Arsen aja lebay"
Arsen langsung menatapnya datar, "Asya.. lu kaku bangett itu tu namanya Arsen peduli!!"
"Uuuuuuuuwww"
"Jadi horor gue denger kata Arsen peduli" jawab Asya santai.
"Untung sayang kan gue" gumam Arsen menahan amarah.
"Apa, sen??"
"Ada cicak terbang bawa sapu"
"Anjirrr ngacooo!!" Arsen tertawa.
"Lo bawa apaan?"
"Gue bawa jajan, noh ambill" mereka mengambil satu persatu jajannya Mira.
"Eh gess kalian mau gak buat kue brownies gitu? Gue bawa bahannya sih, tapi nanti kita aja yang makan" ajak Mira.
"Nah pinter, buat buruan"
Mereka kembali kerja sama, masih tetap dengan canda tawa yang tak ada hentinya.
"Yoga, tolong dong pecahin telornya" pinta Mira.
Yoga mendekat lalu memecahkan telor itu ke dalam mangkok, selesai memecahkannya Yoga meneteskan jeruk nipis.
"Woi anjirrr jeruk nipis buat apaaaa?!" tanya Reva heran.
"Kan tadi buat ngilangin amis di ikan pake jeruk nipis, jadi gue mau ngilangin amis di telor pake jeruk nipis juga." Dengan tampang polosnya Yoga berbicara.
Mereka tertawa lagi, Asya bahkan terkekeh sampe mengeluarkan sedikit air matanya.
"Apa salah? Bener kan gue?"
__ADS_1
"Nggak gitu juga konsep nya oon" jawab Mira masih sedikit terkekeh.
"Jadi khawatir gue, apa rasa tu brownies?"
☄☄☄
"Ahh akhirnya selesai juga."
"Gak nyangka pula tetangga menang."
"Ketuanya genah gak kek ketua kita" Yoga menatap Arsen.
"Bajingan, gue juga yang disalahin"
"Ketua selalu benar kok"
"Guys, gue kesana bentar."
"Mo kemana?? Lu belum makan brownies nya, sya." ujar Mira.
"Sisain aja, gue gak tenang. Gak ngeliat Tara dari tadi."
Seketika Arsen menghentikan kunyahan-nya, Tara mengingatkan Arsen akan Fauzi. Arsen kesall.
"Lagi ke toilet paling, udahlah baik-baik aja pasti"
"Firasat gue gak enak, gue pergi dulu." Arsen menghampiri tim Azril dan Haikal yang berdekatan dengan timnya Tara tadi.
"Lu bedua liat Tara?"
"Eh iyaa, gue gak ada liat Tara tadii" jawab Haikal.
"Kenapa gengs?!" Dino muncul sambil membawa pop corn. Asya mencomotnya begitupun dengan Azril dan Haikal.
"Jawab dulu peak! Kenapa kalyan?"
"Tara mana? Lo liat Tara?"
"Nggak, belum sama sekali malah"
"Jangan-jangan..."
"Mencar ya, keseluruh toilet!" Asya langsung pergi mencari Tara. Bukan hanya Asya, tetapi Dino, Haikal, dan Azril juga mencar untuk mencari Tara.
Asya terus berlari mengelilingi sekolahnya, dia bahkan juga naik ke rooftop. Namun, Tara juga tidak ada di sana.
Asya masuk ke kelasnya. Samar-samar di balik tirai Asya melihat empat orang berdiri. Asya mengatur nafasnya sebentar lalu mendekat.
"Woi!!" mereka mengintip.
"Asyaa"
Asya yakin itu suara Tara, Asya mendekat. Ia menarik kasar Meli dan komplotannya.
Ya! Dugaan mereka benar, Tara di bully.
Asya melihat baju Tara yang koyak dan rambutnya yang berantakan, "lo diapain?!"
Tara diam. Meli menggeser Tara, sedangkan temannya menarik tirai itu sampai semuanya koyak.
"Lo tuh kenapa sih suka banget campurin kegiatan orang lain?!"
Asya menunduk lalu mendongak kembali dengan ekspresi yang tak bisa diutarakan. Suasana yang mencekam membuat Meli sedikit gemetaran.
"Lo sendiri kenapa suka banget ngebully orang?!"
Meli mendekat ke Asya, "ng-nggak.. bukan.. ah, Tara tu pantes di bully! Dia jelek!"
Asya tersenyum smirk, "emang lo cantik?"
Meli terdiam.
"T-Tara itu miskin!"
"Emang lo kaya?"
"Iyalah!!"
"Gue tau, itu pasti harta orang tua lo. Terserah, terserah kalau lo mau pamer harta itu hak lo. Tapi..."
"Lo GAK berhak buat bully orang hanya karena miskin! Lo tau kan omongan adalah doa"
"Gimana kalau sekarang, gue doain lo miskin?"
"Y-ya jangan lah!!"
"S-sya, lo kenapa sih milih anak culun ini?! Gue lebih pantes temenan sama lu!!"
"Mungkin ya mel, Asya juga miskin makanya berteman sama orang miskinn!" Devi --teman sekelas mereka dan juga komplotan Meli-- ikut berbicara.
Asya tertawa sinis, "gue kaya atau miskin bukan urusan lo. Kenapa gue mau temenan sama Tara, karena gue gak pernah mandang orang dari harta."
"Haha, bullshit. Miskin bilang!"
"Gue yakin, lu gak pernah tau tentang kehidupan gue ataupun kehidupan Tara. Tapi gue yakin, lu pada tau kalau Tara punya abang dan abangnya polisi. Mau gue teleponin??"
Asya mengeluarkan ponselnya, dengan cepat Meli merebut ponsel Asya lalu melemparnya keluar jendela. Orang-orang tau sekarang, terjadi konflik di kelas Ipa 1.
Asya menoleh santai ke ponsel mahalnya yang sudah retak di bawah.
"Yah, maaf. Pasti gak sanggup beli lagi" Asya diam, tangannya mengepal.
Meli dengan santainya maju sambil mendorong kuat bahu Asya.
"Jangan sok sok-an jadi pahlawan. Lo bukan lawan gue"
"Tebalik kayaknya" jawab Asya santai.
Meli terus mendorongnya sampai mentok ke jendela, jendela kelas itu tidak terlalu tinggi juga tidak terlalu rendah. Kacanya terbuka lumayan lebar, tidak menutup kemungkinan untuk tidak terjatuh.
"Mel, jangann gitu! Aku takut Asya jatuhh" pinta Tara.
Meli tetap mendorong bahu Asya, "jatoh?"
"Aaaaaaaaaahhhhhh!!!"
__ADS_1