Barbar Generation

Barbar Generation
Happy bornday Araaa-!!


__ADS_3

06.24, minggu pagi dirumah abu-abu.


"Pstt, psttt!" Mereka melihat Asya. Pagi ini The Bacot Squad mau joging keliling komplek.


"Ntar jadi susurupris?" Tanya Asya.


"Jadii jadiii. Garing gak ya kira-kira?"


"Jangan goreng kering kali biar gak garing."


"Masih pagi ya, Sya. Jangan ngajak baku tumbuk kau!" Asya cengengesan.


"Tolongin gue berdiriii." Arsen menarik Asya.


But, karena kekuatan menarikk Asya menabrak dada Arsen. Arsen tersenyum smirk, ia memeluk Asya.


"Syaa, dinginnn." Keluhnya dengan suara manja. Aihhh meresahkan.


Asyaa terdiam tidak membalas pelukan Arsen. Tapi lama kelamaan Asya memeluk Arsen. Arsen tersenyum senang ketika Asya membalasnya.


Arsen mengeratkan pelukannya dan meletakkan dagu di bahu Asya.


"Gue harap lu bedua gak lupa ada kami disini." Ujar Racksa kesal.


"Kalau cuma berdua mana berani gue peluk Asya."


"Why?"


"Takut khilap." Arsen cengengesan.


"Asya kalem banget gilaa, napas gak tu anak?!"


"Diem, bacot!"


"Agaknya dia kesal acara pelukannya di ganggu." Ledek Haikal, mereka tertawa.


"As– astaghfirullah! Masih pagi wahai humannn!" Asya melepas pelukan dan menoleh. Ada Ara.


"Lalu?"


"Busettt, mantepp sekali epribadii!"


"Lu lama amatt, ngapain ajaa?!" Omel Azril kesal.


"Bunda gue yang susah kasih izinnn. Karena baru kali ini gue lari pagi." Mereka hanya berohria lalu pergi meninggalkan Ara.


Ara mengelus dada, "sabar Ara sabarr." Ia mengejar yang lain.


"Syaa syaa."


"Hmm?"


"Love you!" Bisik Arsen.


"Paan sii." Arsen tertawa melihat muka memerah Asya. Mereka masih berlari saat ini.


"Syaaa."


"Hm??"


"Aku tresno karo koee." Asya tertawa mendengarnya.


"Syaa."


"Hmm?"


"I'm unhappy without you."


"I know."


"Eiyyy, makin meresahkan!"


"Ternyataaa ginii ya kalian kalau lari pagi berduaan?!" Tanya Racksa sinis.


"No noo, ini karena ada kalian ajaa. Mana berani gue kalau gak ada kaliann."


"Bullshit, ngomong gitu mulu lu kamprett." Arsen cengengesan.


"Kalian lari sambil ngomong bakal lebih capek gobeee, diem napaaa." Omel Haikal.


"Garing banget kalau pada diem, loltooo." Jawab Dino.


"Lu beduaa... PENGEN GUE PITES YA PALANYA!" Azril ngamok.


"Apa lagi salah kami beduaa?"


"Tanya sama pohon tu sana, recok ajaa!"


"Sudahi bacot kalyan, mari diam bersama." Ajak Ara.


Seketika hening.


Beberapa menit kemudian.


"SAHOOOORRRRRRR SAHOOOOORRRRRRR!"


"Asya gilak!"


β—•β—•β—•


09.37


Mereka baru saja selesai sarapan pagi dan sekarang berada di ruang keluarga.


"Nonton ke bioskop, yok!" Ajak Yuna.


"Ide baguss. Udah lama gak ke mall," jawab Asya.


"Yang jadi pertanyaann, kita boleh keluar kagak?!" Tanya Azril sambil login.


Haikal, Azril, Dino, Arsen dan Racksa sudah memiringkan ponsel mereka.


"Bolehlah pastii. Uncle Aska bilangkan yang penting izinn," jawab Racksa.


"Ya itu sebelum teror kucing, kalau sekarang?"


"Tanya duluu, siapa tau boleh." Ujar Ara.


"Lu tanya sanaa." Titah Azril.


"Dihh, kan bapak luu!"


"Yakan lu yang maksaa!"


"Hah?! Kapan gua maksaa, jiingan?!"


"Halahh!" Ara menahan amarahnya, ntah kenapa hari ini Azril dan yang lain begitu sensi padanya.


"Karep lu pada dehh!"


"Daripada lu bedua nyocottt teruss, gue aja yang izin." Arsen pergi menyusul Asya yang sedang minum di dapur.


"Haiii, babyy!"


Asya menoleh, "apaan?"


"Gakk, gue mau nelpon ayah mertuaa."


"Telponlahh."


"Lu aja yang telpon gituu. Gue agak segan kalau nelpon Om Aska."


"Gue yang telpon lu yang ngomong, yaa?!" Arsen mengangguk.


Asya mengambil ponselnya kemudian menghubungi Aska.


...royal daddyy...


^^^"Assalamu'alaikum, daddyy."^^^


πŸ“ž "Wa'alaikumsalam, putri cantiikkuu. Kenapa? Tumben telepon?"


^^^"Hihii, ada yang mau dibicarakan.^^^


^^^Tapi yang bicara bukan Asyaa."^^^


πŸ“ž "Jadi? Siapa? Bicara ajalah, daddy dengar."


Asya memberikan ponselnya.


^^^"Assalamu'alaikum, Om. Ini calon mantuu."^^^


Asya langsung menggeplak lengan Arsen. Arsen tertawa kecil melihat Asya.


πŸ“ž "Wa'alaikumsalam, om tebak Asya salting tuh."


^^^"Haha, iya om."^^^


πŸ“ž "Mau bicarain apaan?"


^^^"Jadi gini om.. emm, kami boleh gak nonton bioskop di mall?"^^^


πŸ“ž "Kapan?"

__ADS_1


^^^"Se.. karang, om."^^^


πŸ“ž "Berapa orang?"


^^^"Arsen, Asya, Azril... delapan orang om."^^^


πŸ“ž "Delapan orang, empat bodyguard. Deal?!"


Arsen menatap Asya, Asya menatap mereka yang sedang menguping.


Asya mengode mereka dengan gerakan tangan. Mereka membalas dengan mengangkat jempol.


^^^"Oke, deal om."^^^


πŸ“ž "Okee. Berangkat tunggu mobil bodyguard datangg, yaaa! Om matiin dulu buat telepon bodyguard, assalamu'alaikum."


^^^"Wa'alaikumsalam, Om."^^^


Aska memutus panggilannya.


"Piw piww. Nonton apa kita gaisss??" Tanya Asya yang senang.


"Horor."


"Sahh!"


Delapan human itu bersiap lalu menunggu didalam mobil. Mereka pakai dua mobil, mobil satu disupir Arsen satunya disupir Azril.


Dua duanya driver berdamage! Apalagi kalau mengemudi pake tangan satu. Beuhhh, dahlaa.


"Eh, itu bodyguard daddyy." Ujar Asya sambil menunjuk mobil hitam yang datang, Arsen dan Asya masih diluar mobil menunggu si mobil hitam.


Mereka berdua berlari menuju pagar depan.


"Pak, coba check, bodyguard daddy bukan?" Tanya Asya.


"Sebentar, non." Penjaga pagar mendekati mobil, ia men-scan nomor dibaju mereka satu persatu kemudian menelusuri didalam aplikasi khusus yang dibuat Aska.


Mereka terdaftar.


Panggilan masuk dihape bodyguard itu. Aska yang menelepon.


Setelah itu ia menghampiri Asya dan Arsen.


"Itu bodyguard Asz, non. Utusan bos Aska."


"Oke, Pak. Makasih, yaa." Asya dan Arsen kembali ke mobil. Bodyguard membukakan pintu untuk mereka.


Dua mobil itupun pergi diikuti satu mobil Asz BG.


"Tadi izin cuma kee bioskop, yaa?" Tanya Dino yang semobil dengan Asya.


"Hooh. Kenapa?"


"Yaa, gak bisa kemana-mana lahh."


"Mo kemana emang lu? Paling gak kita keliling di mall, endingnya berhenti dikafe mall."


"Ya emang gitu."


"Terusss maksud lu tadi apa? Jangan ngajak gelut juga deh, pliss!" Dino cengengesan.


"Mungkin maksud bang Dino gini, kak. Kan izinnya cuma ke bioskop terus nanti siap dari bioskop langsung pulang gituu, ga bisa ketempat lainn." Ujar Yuna.


"Unaa terpengengertiann!"


"Bacot lu, modus!" Cibir Arsen sambil mengemudi.


"Iri kali kamu, ibabb!"


"Irii?" Arsen mengangkat genggaman tangannya dengan Asya.


"Jayannn, kagak nampak cokk. Mantep ughaa!" Arsen tersenyum songong.


Memang sedari tadi satu tangan Arsen menggenggam tangan Asya, tangannya yang lain sibuk mengemudi.


"Harus izin lagi, kah? Nggak lah. Daddy pasti ngerti kalau kita gak cuma di bioskop."


"Iyasii. But, LU BEDUA JANGAN GANDENGAN DONG!"


"Loh kok ngegass?! Iri?!" Tanya Arsen songong.


"Asssuw!" Arsen terkekeh.


Beberapa menit diperjalanan, mereka tiba di mall. Bersamaan turun dari mobil, mereka langsung menuju ke bioskop.


Arsen menoleh kearah Asya yang di sebelahnya. Terlihat jelas Asya ketakutan.


"Takut?" Bisik Arsen.


"Takut itu namanyaa!" Asya cengengesan.


Mereka masuk ke bioskop. Asya masih tetap menggenggam tangan Arsen dan Arsen juga melakukan hal yang sama.


Ada dua alasannya.


Yang pertama, Asya ketakutan. Yang kedua, itu isyarat kalau Asya gak mau ditinggal.


Meresahkan sekali bukan? β•₯﹏β•₯


"Lu beduaa bener bener ya, dari tadi dimobill gandengan mulukk!"


"Diem lu, berisik!" Dino menatap kesal Asya. Asya nyengir tanpa rasa bersalah.


Film dimulai.


Arsen tau sedari tadi Asya sudah ketakutan. Asya tu sok-sokan pengen nonton:v


Ketika hantu muncul, Arsen menutup mata Asya. Hantunya pergi, Arsen menarik kembali tangannya.


Bukan cuma mereka berdua yang meresahkan. Azril dan Racksa jugaaa! Duo penakut itu bergabung.


Apa yang terjadi? Ya jelas teriak-teriakkkk!


Dino dan Haikal menatap jengah mereka berdua, agak memalukan orang dua ni:v


Setelah satu setengah jam lebih, film pun selesai. Mereka keluar.


"Gilaa. Siapa yang rekomend film hantu?! Ayok gelut!" Racksa ngamok gaisseu.


"Azril yang ngusulin." Mereka menoleh Azril. Dirinya masih merinding sampai sekarang.


"Baca ayat kursi, Zril!"


"Udah baca Yasin dalam hati guee." Mereka terkekeh.


"Dia yang usulin, dia yang ketakutann." Cibir Dino.


"Diem yaa! Lu pada juga tutup mata tadii!" Azril kesal.


"Ya setidaknya gak recok kayak lu sama Racksa!" Jawab Haikal.


"Dahlahh. Mau minum boba, bye!" Azril dan Racksa pergi duluan sambil gandengan.


"Geli liatnya, anjj." Mereka terkekeh lalu menyusul.


Asya fokus minum boba ketika bobanya tiba. Tangannya? Masih gandengan!


"Lu bedua mau nyebrang?!" Tanya Ara sinis.


"Iri yaa luu?!" Tanya Asya balik, lagi-lagi Ara mengelus dada.


"Bagusan diem deh gue keknya." Mereka pura-pura tidak mendengar.


"Azril?" Azril menoleh.


"Ehh, Nainaa?"


"Apa kabar?"


"Alhamdulillah, baik."


"Ini temen-temen lu?" Azril mengangguk.


"Halo, gue Naina." Mereka membalas dengan senyuman yang menawan.


"Gue duluan, yaa? Ada urusann." Azril mengangguk lagi. Naina pamit dengan yang lain lalu pergi bersama 'gandengannya'.


"Sahaa?" Tanya Dino kepo.


"Yang rebutan seblak sama gue."


"Ooohh, diaa? Cantikk bangettt!!"


"Emang cantik, banget malah."


"Lu suka, ya?!" Tanya Haikal menggoda, Azril tidak menjawab.


"Tapi tu bawa gandengan tau, cogan pulaaa."


"Jangan diperjelas, Unaaa. Kasian jadi sedboii!" Azril langsung menatap sinis Dino.


"Azril adalah spesies makhluk bumi yang selalu menyukai pacar orang."

__ADS_1


β—•β—•β—•


Menjelang maghrib mereka baru kembali ke rumah.


"Aaaa, capekk!" Keluh Asya.


Cemana gak capek, dari tadi Asya aktifnya luar biasaa! Selepas minum dikafe tadi, mereka ke timezone.


Bosen di timezone, mereka pergi lagi ntah kemana sampe akhirnya memutuskan untuk ke zoo. Cukup lama juga mereka disana. Setelah bosen di zoo?


Mereka nongkrong dikafe lagi. Emang panjang banget kaki merekaa, sekali keluar ntah sampe mana-mana:v


"Gue mau mandi duluu." Racksa masuk ke kamarnya.


"Sa saa, gue ikutt." Pinta Dino.


"Mandi berdua? Kuy!"


"Agak serem liat Racksa sekarangg, batang demen batang." Cibir Haikal blak-blakan.


"Matamuuu! Jek waras aku cokk!" Mereka tertawa kecil.


"Lu gak mandi?" Tanya Arsen pada Asya. Dia hampir memejamkan mata karena terlalu lelah.


Arsen menepuk pelan pipinya, "heyy?!"


"Hmm? Apaann?"


"Mandii."


"Iss ntarann."


Arsen mendekat lalu berbisik, "mandi atau gue mandiin?" Asya langsung bangun dan menuju kamarnya.


"Agaknya bisikan maut," ujar Yuna. Arsen tersenyum smirk.


"Gaisss, lu pada daritadi kenapa sii? Gue dikacangin, di sinisin, ini gak dianggep adaa. Lu pada punya masalah apaan sama guee?!" Tanya Ara kesal, naik pitam diaa.


Tidak ada yang menjawab, satupun.


"Dahlah, gue pulang!"


"Tiati, awas nabrak semut!" Jawab Azril cuek.


"Jangan balek," sahut Dino.


Ara menatap sinis mereka.


"Yoda gak bakal!" Ara langsung pergi.


"Ish, kenapa sii?! Buat salah apaan guee?!?" Dumel Ara dijalan. Sampai di rumah, dia juga diomelin karena gak ngucap salam.


"Assalamu'alaikum, Araa?" Suara papanya terdengar sedikit kekhawatiran karena sampe pukul delapan malam Ara tidak keluar kamar.


"Iya, Pa? Kenapa?"


"Keluar dulu." Ara membuka pintu.


"Happy birthday, sayang!" Papa dan mamanya membawa hadiah dan kue ulang tahun untuknya.


"Eii? Aaaaaa.. Ara kira papa sama bunda lupaaaa." Matanya berkaca-kaca.


"Sebenernya dari tadiii udah mau kasihh, cuma papa muu nihh gak tau kemanaa." Papa nya cengengesan.


"Matiin apinya tanpa ditiup." Ara mengipas-ngipasi sampai apinya mati.


"Makasiii papaa, makasii bundaaa." Ara memeluk keduanya erat. Penguat Ara adalah mereka.


"Ini dua kado dari papa sama bunda, bukanya nanti ajaa. Sekarang ke rumahnya Asyaa, anterin kuee samaa oleh-oleh dari papaa."


"Ishh, Ara males laa. Mereka musuhi Araaa!"


"Manaa pulaa. Cepet sana antarr, anak papa yang cantik gak boleh su'udzon."


"Yaudah, mana sinii bund?" Bundanya menunjuk dapur, Ara mengambil kemudian membawanya menuju rumah abu-abu.


"Eii? Gelap??" Setelah melewati bodyguard, Ara menekan bell.


"MBAKK BUKAIN PINTUU."


"Eiii? Suara siapa?" Pintu terbuka tiba-tiba.


Ara masuk perlahan-lahan. Ia berusaha tenang kemudian berjalan menuju dapur untuk meletakkan itu.


Ketika dia berbalik.


"RAWRR!"


"AAAAAAA!"


"Hahahahahaa. HAPPY BORNDAY ARAAA!"


Ara membuka matanya perlahan, "k-kalian?"


Haikal jongkok, ia mengulurkan tangannya. Ara menerimanya, ia pun berdiri.


"Happy bornday, Araaa. Happy bornday, Araaaa. Happy bornday, happy bornday, happy bornday Araaaa!!"


Mata Ara berkaca-kaca lagi.


"Aaaa, terharuuu."


"Lebayy lu, nyet!" Cibir Azril.


"Berisik lu, jelek!" Azril mengelus dada.


"Ga bole pake tiup lilin jadi lilinnya tunggu sampai abis aja yaaa." Ujar Yuna.


"Ntar kena kue nya, Unaa begooo." Racksa emosi, Yuna cengengesan.


"Matiin kek pake apa gituu." Suruh Asya.


"Btw, gue pegel." Keluh Dino, mereka tertawa termasuk Ara.


Lampu tiba-tiba hidup ketika apinya mati. Api mati karena ditatap Asya. Heh, ya nggaklah! Api mati karena kipas angin.


"Apinya takut sama mata gede." Ujar Azril.


"HEHH!" Azril cengengesan.


"Nih buat lu, bawa balikk." Suruh Arsen sambil memberikan hadiah cukup besar untuk Ara.


"Ini dari kami semuaaa untuk lu."


"Gue buka disini, yaa?" Mereka mengangguk. Ara membawanya menuju ruang keluarga.


"WAAHHH!"


Mau tau isinya apa? Lanjut chapter berikutnya wkwkwkwkwk. Ketawa jahat nih gueee:^


Nggak kok gaiss, lanjutt ni.


"Gilaaa anjirrrr, ini beneran buat gue semuaa?!" Mereka mengangguk.


Ara mengeluarkannya satu persatu isinya ada bola volly, sepatu volly, dua pasang pelindung lutut dan siku. Sama ada satu kotak lagi masih terbungkus.


"Ini bola sama sepatu gue yakin gak murah dan ini bukan yang kw." Mereka cengengesan.


"Kita kasih itu karena tau lu demen banget sama volly. Setidaknya lebih berguna dan bisa dikenang lama kann." Ujar Asya.


"Aaaaa, thank you!!" Ara memeluk Asya dan Yuna.


"Terus ini kotak apalagi?"


"Bukaa lahh."


Ara melongo melihat isinya.


Isinyaa? SEPAKET SKINCARE!!


"Ini..."


"Bonusss."


"Wahh, gilaaa gilaa. Aaa ini banyak banget! Kita baru kenaall." Ara makin terharuu, hiks hikss.


"Lebay!" Ara menatap garang Azril.


"Andd.. ini dari gue, khusus." Haikal memberikan kotak ukuran sedang.


"Kalung?" Haikal mengangguk, ia mengambilnya kemudian memasangkan ke Ara.


"I love you."


γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘γ…‘


Haikal POV


Gak jadian! Cuma temenn!


Tunggu tanggal nikah aja! Ntar gue undang!!


Btw, yang ngucapin pibesdey ke Ara gue doainnn DAPAT THR BANYAK. Aamiin. Doa bener ni guee.

__ADS_1


Makasih yang ngucapin. Oke sama-sama.


Icall sayang kaliannn, lop sekeboonn-!β™‘β™‘


__ADS_2