
"Arseeenn"
"Eumm??"
"Gue berat gakk??"
"Nggakk, beratan dosa gue kok" Asya tertawa pelan.
Arsen dan Asya sedang berboncengan mengendarai sepeda. Asya duduk manis di belakang sedangkan Arsen susah payah mengayuh sepedanya agar terus berjalan.
"Capek gak, pak??"
"Gak jugaa sii, sehatt"
"Oh yaa, lu dari apart sampe ke rumah naik sepeda??"
"Yes!"
"Waawww, kok sanggupp?!"
"Demi ketemuu sama lu, semua gue sanggupin"
"Modusnyaaa" Arsen terkekeh.
Beberapa menit kemudian, Arsen berhenti tepat di parkiran taman.
"Rame jugaa ya? Padahal masih setengah empat"
"Cemana gak rame, cuaca adem gini. Gak hujan gak panas" jawab Arsen sambil memarkirkan sepedanya.
"Iyasihh... Jadii sekarang kita ngapain pakk??"
Arsen menunjuk beberapa orang yang lari di sekitaran taman, ia juga menunjuk beberapa orang yang sedang sit up dan push up.
"Wahh"
"Kenapa?? Gak sanggup??" tanya Arsen.
"Dihh selepee, balapan lari kitaaa??"
"Kalau gue menang, apa hadiahnya??"
"Em.. gue yang bawa sepeda ntarr, terus kalau gue yang menang??" tanya Asya balik.
"Gue beliin es krim"
"Oke deall" Asya lari duluan.
"Hehh hehh, licik!!!"
"Bodo amatt, wleee" Asya terus lari, Arsen pun mengejarnya. Ia lari perlahan-lahan.
Sengaja, Arsen gak bakal tega membiarkan Asya membawa sepeda nanti.
"Lima puterannn"
"Isss banyaaakk" Arsen terkekeh pelan mendengar keluhan Asya. Mereka terus berlari salip-salipan.
Sampai di putaran kelima, Asya yang menang. "Asoyyy, gue... menangg" ujar Asya sambil ngos-ngosan.
Arsen memandang Asya sambil tersenyum, "lu curang"
"Curang ndasmuu!!"
Arsen terkekeh, "bentar yaa"
"Mo kemanaa??" tanya Arsen. Asya tidak menjawab, dia pergi membeli air mineral.
"Cuma tinggal satuu, buat lu aja nihh" Asya memberikan air nya pada Arsen.
"Lu aja, lu kecapekan kan"
"Capekan lu, udah nihh" Arsen menerimanya. Ia menenggak sedikit airnya kemudian memberikan pada Asya.
"Gak gue kenain bibir" Asya menerima dan meminumnya.
"Lu bisa push up kagaa?! Pasti gak bisaa" tantang Asya.
"Mau berapa kali hm?? Seratus??"
"Gagaga, sepuluh aja" Arsen mengambil posisi kemudian push up.
Asya iseng duduk di atas punggung Arsen, Arsen tetap push up sampe hitungan ke dua puluh.
"Wahh kereeennn"
"Kerenn kerenn, sampe kapan lu di sonoo?" Asya cengengesan kemudian bangkit. Ia mengulurkan tangannya, Arsen pun berdiri dengan uluran tangan Asya.
"Lu bisa push up??"
"Bisaaaa" Asya mengambil posisi.
"Satuuu.." Asya langsung berdiri.
"Bisa kan gue"
"Ya masa cuma satuuu"
Arsen kembali mengambil posisi, "ayo push up bareng"
"Caranya??" Arsen menunjuk dua cewek yang push up bersamaan.
"Okee ayoo" Mereka berdua sama-sama mengambil posisi.
Di hitungan ke lima Asya nyerah, "capek bunn?" Asya mengangguk cengengesan.
Arsen gantian mengulurkan tangannya, Asya menerima uluran tangan Arsen. Tarikan Arsen yang kuat membuat Asya berdiri di posisi sangat dekat dengan Arsen.
Bahkan, tangan Asya berada di dada Arsen. Mereka bertatapan.
__ADS_1
Cukup lama..
Sampai..
"Duhh, besok gue binsik ngajak cowok laa. Capek liat uwuuu uwuu"
Mereka tersadar mendengar perkataan orang lain, Asya langsung menjauh, mengambil minum dan minum sambil duduk.
"G-gue beli es krim dulu" Asya mengangguk, Arsen pergi membeli es krim.
"Aaaaa... Ya Allah, jantung asyaa kenapa jedag jedug muluu?!" keluh Asya sambil memegangi dadanya.
"Pacarnya ya mbak yang tadi?" tanya pelari tadi.
"Hah? Nggak kok mbak, temen"
"Cocok padahal, ganteng sama cantik." Asya tersenyum canggung. Mbak mbak itupun pergi.
Asya memegangi dadanya lagi, "beneran cocok?? Ahh.. jangan dengar Asyaaa, nanti kamu sakit hatii karena berharap"
"Ngomong apaaan?" Asya mendongak.
"Hah? Nggakk"
"Boong lu, nih es krim nya. Karena lu suka susu vanilla, gue beliin vanilla"
"Tau darimana gue suka vanilla??"
"Apapun gue tau tentang lu"
"Prettt.. thank u lohh" Arsen mengangguk. Mereka makan es krim bersamaan.
"Tadi kenapa gak jadi futsal??"
"Gak tau noh, abang kelasnya pada sok sibuk"
"Abang kelas banyak yang main futsal?" tanya Asya sambil menatap Arsen.
"Lumayan, kenapa?"
"Gapapa sii, kali aja nyangkut satu"
"Gak gakk, gue udah lelah menghadapi dua musuh. Mana beduit semuaa" Asya menatap Arsen heran.
"Emang kenapa kalau beduit??"
"Mereka bisa beliin lu berbagai macam barang branded, sedangkan gue? Gue apalah"
"Cih.. lu kira gue mata duitan? Harus sogokan gitu?? Harus yang waw gitu? Harus makan di restoran mahal, harus sewa tempat itu buat makan berdua gitu?? Gue malah gak suka yang begituann" ujar Asya sembari memakan es krim nya.
"Kenapa gak suka??"
"Ya gak suka ajaa, lebay banget gitu rasanyaa."
"Jadi, suka yang gimana?"
Arsen tersenyum menatap tulus Asya, "gak salah gue jatuh cinta sama lu"
Asya menatap Arsen sambil tertawa, "moduss terusss" Arsen hanya tersenyum mendengar balasan Asya.
"Ngapaa natap muluuu?!"
"Lu cantik" Arsen mendekat mengelap sudut bibir Asya yang celemotan es krim, ia mengelapnya tidak langsung dari tangan melainkan dengan kain lengan bajunya.
Asya hanya menatap apa yang di lakukan Arsen, jantungnya kembali berdetak cepat. Ntahlah, Asya bingung. Jantungnya berdetak lebih cepat setiap bersama Arsen.
"Andai aja udah sah gue lap langsung dari bibir" Asya tersadar.
"Tampoll juga ni lama lama!!" Arsen tertawa.
"Ya Allah, mbak nya yang digituin gue yang baperr"
"Kapan gue begitu, binsik sama lu terus bosen gue"
"Kalau begitu, besok gak usah binsik"
"Deal! Gue capek liat uwu uwu"
Arsen dan Asya tertawa mendengar gosip dari pelari tadi.
"Hayoloh, gara-gara lu tuh" Arsen malah tetap tertawa.
"Syaa, lu laper gak??"
"Nggak juga sih, kenapa? Lu laper?" Arsen mengangguk ragu.
Mereka melihat sekeliling, "yah udah pada tutup.."
"Gapapa, ntar gue masakin di rumah"
"Serius?" Asya mengangguk.
"Gue nginep boleh gasi??"
"Ngacoo!!"
"Gak boleh??" Melihat wajah Arsen yang menggemaskan, Asya bingung harus jawab apa.
"Tanya yang lain aja ntarr"
"Hahahaa.. gue bercandaa. Ntar gue anterin lu balik, abistu gue pulang ke apartemen. Malemnya gue datang numpang makan"
"Tapi lu lapernya sekarang geblekkk"
"Em.. iya sihh"
"Okee gini ajaa..." Asya melihat sekeliling.
"Apa? Liatin apaan??"
__ADS_1
"Nggak, nginget jalan. Ini deket sama McD, tapi arahnya bukan arah jalan pulang ke rumah. Mauu??"
"Lu temenin??" Asya mengangguk, "ntar gue bayarin."
"Apaan?! Gak usahh, gue aja yang bayar. Yaudah ayooo" Mereka pun pergi dari sana masih dengan mengendarai sepeda.
▫▫▫
"Btw, ini gapapa kita disini masih keringatan? Nggak bau kan ya?" tanya Asya, mereka berdua sudah memesan makanan.
"Nggak masalahh, lagian keringat gue wangi. Keringat lu bau si keknya"
"Hiss, pengen nabok" Arsen tertawa.
"Lu wangi kok, serius gak boong"
"Gue tau gue wangi"
"Dih, jadi kepedeann" Asya cengengesan.
"Ehh, sen. Ada kak Laila sama ketu baskett" Arsen malah mengambil ponselnya di saku, ia mengeluarkannya karena terus bergetar.
Ia menolak panggilan dari Alex.
"Bodo amatt gue mah, gak peduli. Daripada liatin Laila bagus liatin lu" jawab Arsen, ia menopang dagu sambil menatap Asya.
"Yainn! Itu tadi siapaa?"
"Alex"
"Mo ngapainn? Lu ada janji? Pertemuan gitu kah?? Oh iyaaa, lu sama bokap lu gimana??"
"Satu satu, cantik. Aku bingung jawab yang manaa" Asya cengengesan.
"Mo ngapain tadikan? Gue si gak tau dia mau apa, bodo amat gak penting"
"Terus tadi janji? Janji apaaan? Janji berantem?"
"Pertemuan? Mana ada, gak bakal ada. Kalau ada juga, gue gak bakal datang"
"Dan tadi, tentang pak Andre? Beliau sering ke apartemen gue si, tapii gak pernah gue peduliin"
"Kenapa gak lu peduliin?" tanya Asya.
"Sya, gue udah bertahun-tahun gak dipeduliin. Ngapain gue perduliin orang yang gak pernah peduli sama gue?"
"Iya juga sihh, tapikan beliau sekarang peduli sama lu. Gue yakin, beliau mau berubah demi lu"
"Gue gak yakin, gak bakal percaya. Sempat nyokapnya Alex tau gue hidup, mungkin gue bakal di bunuh"
"Hah?? Kenapaa??"
"Warisann dari pak Andre itu kebanyakan buat gue, dulu. Karena pak Andre dulu sayaaang banget sama gue. Tapi sekarang gak tau gimana, gue yakinnya sih nggak"
Asya menatap lekat Arsen, "gue terharuu liat lu. Kuat bangett sihh.. kalau gue jadi lu, mungkin gue udah milih hiatus dari bumi" Arsen tertawa kecil.
"Nyokap pernah ngasih pesan, beliau bilang jangan pernah bunuh diri, mabuk-mabukan, dan salah pergaulan. Yang beliau mau, gue bahagia meskipun tanpa ada beliau di sisi gue" Asya tersenyum, ia memegang tangan Arsen.
"Orang baik di sekeliling lu" Arsen memegang kembali tangan Asya.
"Lu mau gak? Gue ajakin ke makam nyokap?"
"Bolehh, apa gak jauh dari sini??"
"Nggak terlalu sih, nanti naik taksi aja" Asya berohria.
"Pengen peluk" lirih Arsen sambil mengelus jari Asya.
"Ehh Arsen??" Asya langsung menarik tangannya.
"Om Mikko? Apa kabar tuan Mikko? Sibuk sekali pastii" Mikko cengengesan.
"Kesandung dimana kamu? Kenapa jadi aneh gitu otaknya?" Asya dan Arsen terkekeh.
"Makan sore??" Arsen mengangguk.
"Belom makan dari siang"
"Kebiasaan emangg"
"Om kemana ajaa?? Jarang main lagi"
"Om gak enak sama kamu setelah cerita tentang mama kamu" Arsen tersenyum sekilas.
"Santai aja om, bokap nyokap Asya baik, pasti gak bakal di bocorin ke media"
"Oh iyaa sampe lupa ada Asya" Asya tersenyum, ia menyalami tangan Mikko.
"Om sendirian?" tanya Asya, Mikko mengangguk.
"Om Mikko ituutu gak laku, syaa" bisik Arsen keras.
Mikko menepuk jidat Arsen, "om itu nunggu kamu sukses dulu... baru om nikah, kalau kamu belom sukses nanti waktu untuk ngurusin kamu terbagi sama keluarga om"
"Waaahhh.. om Mikko debess bangett" puji Asya.
"Kaget juga gue dengernyaa" sahut Arsen. Mereka terkekeh.
Gak lama kemudian pesanan Arsen dan Asya datang, mereka makan duluan. Mikko yang menunggu makanannya datang, memilih bermain game di ponsel.
▪▪▪
Sesuai perkataan Arsen tadi, ia mengajak Asya pergi ke makam almarhumah mamanya setelah makan sore.
Asya tersenyum melihat makam mama Arsen bersih tanpa rumput. Mereka menaburkan bunga bersama, dan juga do'a bersama.
"Assalamu'alaikum ma, Arsen datang lagii. Tapi kali ini gak sendirii, Arsen sama calon mantu mama" Asya menatap heran Arsen, dia hanya menatap tanpa protes.
"Do'ain Arsen dari sana ya ma, semoga aja beneran bisa jadi mantu mama. Oh iya ma, namanya Asya. Cantikkan namanya, ma? Emang cantikk, secantik orangnya.."
__ADS_1