
After wedding day.
Asya dan temannya yang lain berada di villa keluarga yang tidak jauh dari tempat acara. Mereka memang disuruh untuk menginap di sana.
"Siapa yang masak pagi ini??"
"Gue aja gimana? Gapapa kan kalau gue yang masak?" tanya Glacia menawarkan diri.
"Kalau lu memang pengen yaa silahkan. Ntar gue, Nai sama Ara juga bakal bantu."
"Okeyy deall."
"Sekarang ayo jogging!" ajak Shaka antusias.
"Jogging? Lu pada aja deh, gue mager!" jawab Asya.
"Ayok, sayaaang. Ndak bole mager-magerr," paksa Arsen mendekati Asya. "Ishh, ndak mauuu."
"Kok ndak mau?"
"Ya ndak mau pokoknya. Aku di villa ajaaa!"
"Ngapain di villa sendirian? Ayok ikut, nanti pas siangnya kita beli samyang," bujuk Arsen terus menerus.
"Samyang?"
"Iyaa, samyang."
"Okayy. Tunggu sebentar yaa!" Asya berlari ke kamar untuk mengganti baju.
Teman-temannya menatap heran Asya yang sedang berlari. "Agaknya dia gampang banget deh kalau di sogok," ujar Dino.
"Gue yakin juga gitu."
"Kasian ntar kalau si bocil di culik karena sogokan permen," sahut Alvin lebay.
Arsen sendiri tertawa melihatnya, "Asya gak sebego itu weh. Lagian dia tu cuma nerima sogokan dari guee," kata Arsen santai.
"Yakin lu begitu?" tanya Shaka heran.
"Yakin seribu persen."
"Woiiiy, ayok!!"
Asya muncul dengan setelan olahraga.
"Lu di sogok samyang langsung mau ya? Kok gampang kali?" tanya Naina mendahului yang lain.
"Au nih. Gue takut lah lu kena culik om-om pedo gegara gampang di sogok," ujar Azril ikutan.
"Kan gak lucu, cill, kalau lu segede gini di culik karena iming-iming permen," sahut Racksa.
"Astaghfirullahalazim! Kenapa pada mikir kesono anjritt? Ini gue mau karena Arsen tu jarang banget ngizinin gue makan samyang!"
"Lagi pula gue udah gedeee yaaa, ga bakal di culikk!" jawab Asya ngegas.
"Lu tu bocill, ga usah ngaku gede," protes Haikal.
"Gue tampol lu ye! Kenapaa di mana-mana gue di anggep bocil sii?!" tanya Asya kesal.
"Ya karena lu macem bocil!" jawab mereka semua kompak. "Kampret emang!"
"Mereka anggep kamu bocil, tapi aku nggak anggep kamu gitu kok."
Asya menatap Arsen.
"Jadi kamu anggep aku apa?"
"Ibunya anak-anak ku."
"ALAH SIA BOYY!! Dahlah ayok lanjut jogging!" mereka langsung keluar meninggalkan Arsen yang sedang cengengesan.
"Baperan ah lu padaaa!" teriak Arsen kuat sambil berlari menyusul.
"Ngapain lu nyusul hah? Bagus lu di villa aja, lu meresahkan banget kalau ikut."
Arsen tetap cengengesan.
"Nggak-nggak."
"Tandai ya, tandai. Di dekat sini ada sungai, semisal Arsen boong kita cemplungkan ke sungai. Deal?"
"DEAL!!"
Arsen terkekeh mendengarnya.
"Gue gak ikutan kan?" tanya Asya dengan senyuman. "Ikut la. Masaa Arsen dibiarin nyemplung sendiri?" ujar Dino memprovokasi.
"Ya gapapa si sendirian. Salah sendiri gak tau tempat," jawab Asya santai.
"Ohh, jadi kamu maunya kita romantisan berdua aja ni? Kalau gitu mah ayok!!"
"NO NO NOO!!"
Mereka menatap Shaka.
"Kok lu yang ngegas anjrott?"
"Belom mahram."
"Jiaakkhhh. Bacot lu!" cibir Arsen kesal.
"Gue lempar ke sungai beneran lu yee!" Arsen nyengirr.
"Kita bikin kesepakatan dulu sebelum jogging. Ntar kalau yang pacaran pada romantisan, suruh masak makanan seharian no catering-catering. Gimana?" tantang Dino.
"Yang masak itu ntar dua-duanya?"
"Iyalaaa, masa cuma satu ajaa."
"Terus masaknya dari pagi ampe malem?"
"Iyeee, one day full."
"Oke. Gue setuju!"
"Setuju!" jawab yang lain kompak, kecuali Haikal yang terdiam. "Lu ngapa ga ngomong, Cal?"
"Ga yakin gue bisa."
Dino menganggukkan kepala, "lu diem si kata gue. Tapi diem-diem menghanyutkan!"
"Anj— mo marah tapi yang lu bilang betul."
"Kampret lu!!"
◕◕◕
Benar kenyataannya, Haikal tidak sanggup.
Sesuai kesepakatan tadi, Haikal dan Ara harus memasak makanan dari pagi hingga malam untuk makan mereka hari ini.
Namun pagi, siang dan sore sudah terlewati dengan makanan-makanan yang masih tergolong mudah dibuat. Malamnya, selepas sholat maghrib berjama'ah mereka berkumpul di ruang keluarga.
"I'm challenge u beduaa!"
"Apalagiiii?" tanya Haikal jengah.
"Belum nge-challenge, udah sensi aje lu!" cibir Glacia.
"Ngeselin lu pada. Pasti mo ngerequest yang kagak-kagak," ujar Haikal kesal.
"Yang iya-iya kok ini. Lagian ndak susahh," sahut Asya dengan senyuman misterius. "Yaudah-yaudah, request apa?" tanya Ara.
"Sayur gulai ayam kampung!" jawab mereka kompak.
"Kan kan. Gue bilang juga apaa, pasti request yang kagak-kagakk. Ini malem ya cugg, maleemmm! Mo nyari ayam kampung dimanee?! Ayam biasa aja deh ya, biar gue ke supermarket sama Ara."
"Tapi tu enaknya ayam kampung, Call," protes Dino.
"Nyari ayam kampung susah, Dinonaraaa. Sekarang tu dah jam tujuhh!" Mereka saling tatap satu sama lain.
"Oke deh okee, ayam biasa ajaa."
"Nahh gitu kek. Ayo ke supermarket, honey," ajak Haikal pada Ara. "Bentarrr, mo ganti baju." Ara beranjak dari duduknya.
"Ngapainn? Pake baju tidur juga udah cakep kamu tuu," puji Haikal dengan senyuman. "Banyak cerita! Nanti aku gini doang kamunya malu."
"Nggaakk. Yakali aku malu punya pacar secantik seimut, selucu kamu."
"Call, mending lu pergi sekarang deh dari pada gue lempar meja," kata Alvin mengiri. Haikal tertawa karena perkataannya.
"Ngiri mulu lu macem di kunci stang."
"Bacott. Buruan sonoo berangkat, gue dah laper!" sahut Azril gak sabar.
"Ehh tungguu! Beliin samyang sekalian donggg," pinta Asya. Arsen auto menatapnya, "mereka mau masak kamu mau makan samyang?"
"Yaa nggak sih."
"Yaudah gak usah di beli sekarang."
"Jadi kapaaan?" tanya Asya sedikit merajuk.
"Besok sama aku," jawab Arsen.
Mereka yang tau tujuan Arsen menunda langsung mengalihkan topik. "Udah sana berangkat lu, Cal!"
"Iya-iyaa. Bawel banget kek emak-emak komplek!" Haikal pun langsung menarik pelan tangan Ara menuju keluar villa.
"Duit? Kunci mobil? Udah kamu bawa?" tanya Ara bingung.
"Udah kok, santai aja kamu." Haikal membuka pintu mobilnya dengan senyuman. Ara masuk dengan santai ke dalam, "terimakasih, pak Haikal."
Haikal menatap kesal lalu menutup pintu. "Gemes banget liatnya, jadi pengen makan," gumam Haikal sembari berjalan ke sisi mobil.
"Pake seat belt nya, Araa."
"Ih bentarr. Lagi liat resepnya di google," jawab Ara terfokus pada ponsel. Haikal yang tak sabar mendekat dan memasangkan seat belt Ara.
"Thank you, baby."
"Hm."
"Kenapa kek gitu banget si ekspresinya?" tanya Ara menatap Haikal.
"Sebenernya nda suka aku tu. Aku cuma mau masakan kamu aku sendiri yang makann," jawab Haikal manja.
"Helehh! Kamu aja sering di masakin cewek lain, masa aku ga boleh masakin orang lain."
"Kapan aku di masakin cewek lain?"
"Lohh? Emang di London kamu gak pernah makan?"
"Yaaa makan."
__ADS_1
"Terus yang masakin siapa? Cewek kan?"
"Iy.. yaa sihh. Tapi kan beda, honeyyy! Masakan kamu tu harusnya always spesial for me."
"Kalau gitu... ur smile harus always for me juga!"
"Kan emang always for u, honeyy."
"Boong banget!" Ara mengambil ponsel dan menunjukkan foto-foto genitnya Haikal di London.
"Itu dari siapaa?!"
"Nda perlu tau dari siapa, yang jelas kamu tukang bongak."
"Pasti Dino kan? Wah parahh. Itu bukan aku, honey," kata Haikal mengelak. "Bukan kamu? Jadi siapa? Lee Min-Ho?"
"Bukan jugaaa. Itu kembaran akuu, bukan aku."
"Yahh ngeless!! Emang dasar tukang boong," ujar Ara kesal.
"Kamu juga suka senyum-senyum pun sama cowok lain."
"HEH, KAPAAN?!"
"Nonton drakor kamu suka senyum-senyum. Terus layar laptop kamu di elus-elus, kadang juga kamu cium pas dibagian cogan."
Ara memukul pelan keningnya, "kan bedaa, BEDAAAAA!"
"Sellooo, ngegas banget dari tadi."
"Bikin emosi sih!"
"Ya tapikan aku bener. Aku aja gak pernah kamu cium, masaa yang pertama kamu cium layar laptop."
Ara menghela nafas panjang, sangat panjang. "Berantem yuk, Kal. Kesel banget aku ni sama kamu," kata Ara menatap sinis Haikal.
"Ya ayok berantam. Tapi di kamar aja gimana?"
Plak!
Plak!
"Aaa.. aduu sakit sayaaangg. Ih, kdrt ini mah namanya," keluh Haikal sambil mengelus lengannya.
"Kdrt pala lu peang."
Haikal cengengesan.
"Dasar mesumm!!"
"Aku nggak mesumm, honeyy, kamu aja yang salah tanggapp. Lagian aku bilangnya di kamar, bukan di ranjang."
"Kamu tuu— aghhh, karepmu!"
Ara keluar mobil meninggalkan Haikal, ia berjalan dari parkiran menuju supermarket. Di dalam mobil Haikal sedang tertawa melihat pacarnya itu kesal.
"Honeeyy, tungguu!" Haikal pun menyusul Ara.
"Gak usah teriak-teriak, Haikaallll!"
"Hehee. Emang kenapaa?"
"Jadi pusat perhatian tauuu."
Haikal melihat sekeliling.
"Oh iya..."
"Mbak, mbak, dia cantik kan? Pacar saya inii," ujar Haikal pada salah satu wanita yang memandanginya.
"Allahu Akbar! Kaalll!"
"Apasi, honeyy?"
Haikal kembali melihat ke sekeliling. "Mas, mass, dia cantik kan?" tanya Haikal.
"Iya, mas, tapi keliatannya galak. Pacar masnya?" tanya pengunjung itu gantian.
"Iya, mas. Biarpun galak, saya gak bisa nafas kalau gak ada dia."
"Lah kok gitu, mas?"
"Karena seluruh nafas saya ada sama dia."
"ALAH SIAAAA! MODUS MULU LU! Gak usah diladenin lagi ya, mas. Kasian nanti masnya cape," Ara tersenyum tipis lalu pergi meninggalkan mereka berdua.
"Kenapa malah perhatian ke cowo lain sii?! Honeyy, tunggu!"
Kembali ke villa.
"Aku beli samyangnya online aja yaa?" tanya Asya menatap Arsen. "Ndak usah, ayaangg. Besok kita beli berdua di supermarket."
"Besok kapan?"
"Yaaa besok, tengok besok."
"Ah kamu tuu. Kalau samyang aja ditunda terus. Bilangnya besok-besok, tapi gak juga di beliin. Niat beliin ndak sii? Kalau ndak niat aku beli sendiri!" cerocos Asya kesal.
"Kali ini niat. Tapi ndak sekarang," jawab Arsen. Aslinya Arsen gak niat. Asya kalau beli samyang pasti yang paling pedas.
Arsen khawatir, takut Asya kenapa-kenapa. Arsen benar-benar gak mau Asya sakit walaupun itu cuma sakit perut atau sakit kepala.
"Jadi kapaaan?"
"Jangan sampe gue toyor ya kepala lu, Sya. Kan tadi Arsen bilang besok," sahut Azril esmosi.
"Besok siang jam dua. Kalau Arsen gak beliin, gue yang beliin!" ujar Racksa gak peka.
"Okayy. Jam dua yaa, broo!" Racksa berdehem. Arsen sendiri menghela nafas pelan sembari menatap kesal Racksa.
"Oiya, Saa! Kemaren lu bilang mau ngasih tau alasan kalau semua ngumpul. Kita udah ngumpul tau," kata Asya.
"Hm? Alasan apa?"
"Ituu, alasan kenapa lu singlee. Alasan kenapa lu ga pernah deketin cewek," Alvin yang menjawab.
"Oh itu. Gue pernah kok deketin cewek, tapi gak di depan kalian. Dan alasan kenapa gue single... karena males ribet."
"Gue yakin itu bukan jawaban yang sebenernya," kata Naina curiga. "Gue yakinnya juga gitu, pasti ada yang lu sembunyikan dari kita!" sahut Azril menimpali.
"Jujur deh, Sa. Lu tu ketara banget boongnyaaa!" ujar Arsen gregett.
"Gimana ya jawabnya. Gue takut hal-hal yang gak gue inginkan terjadi," clue dari Racksa.
"Langsung to the point aja gitu. Why?"
"Gu—"
"Assalamu'alaikum!!"
Haikal dan Ara sudah kembali.
"Wihh! Cepet banget jirrr."
"Lu ngebut yaa? Pasti lu ngebut! Kasiaan calon istri gue, Kall," kata Alvin memulai keributannya lagi.
"Jangan halu! Mending lu bantu gue deh bawa barang."
"Gak dulu. Udah pw."
"Anjirr emang si Alvin!" Haikal pun menuju dapur membawa barangnya. Ara menyusul.
"Woii, langsung masak aja ni yaa?"
"Yep. Mau di bantu ndakk?" tanya Naina.
"Bole boleeee."
"Gak. Lu pada di sana aja biar gue sama Ara masak berduaan," kata Haikal sinis.
"Gausah sok iya lu mau berduaan. Ara aja keliatan emosi liat lu!" Haikal menatap Ara. Benar kata Shaka, Ara terlihat sedang kesal.
"Honey, kamu marah?"
"Coba tanya sama mbak-mbak yang kamu senyumin pake dimple smile kamu yang super duper mempesona itu."
Haikal terkekeh.
"Jadi ceritanya jealous?"
"Nggak sih, sorry-sorry aja."
"Ceilaahh. Kalau jealous bilang aja kaleee," sindir Azril.
"DIAM LU!"
"Ampun! Gak Ara, Asya, Naina, sama ajaa. Kalau marah kek singa gak di kasih makan!" Ketiga wanita itu auto menatap Azril.
"Mampusss lu, Zril. Salah lagi kan lu, siap-siap aja di terkam sama singa!" ujar Alex memprovokasi.
"Diem!"
Mereka tertawa.
"Kall, mau gue kasih tau nggak cara bujuk cewek paling ampuh?" tanya Arsen hendak memberi saran.
"Gimana tu caranya?"
"Jadii sebenarnya cewek ngambek tu nggak butuh bujukan yang muji-muji fisik gitu. Lebih baik lu bujuk sambil kasih duit, duit, duit, duit, duit dan yang terakhir lu kasih cincin di jari manis. Pasti ampuh."
"WANJAYYY! Arseeenn pengertian banget siii. Let's get married, Senn!" teriak Ara dari dapur.
"Hehh!! Arsen tu lakik gue ya jirr. Jangan macem-macem lu!"
"Hahahaha! Pawangnya ngamok."
◕◕◕
06.25
"Ayaang, aku ngantuk," keluh Asya pada Arsen di perjalanan. Mereka pulang pagi ini karena ada kelas yang tidak bisa di tunda.
"Tidur aja kamunya. Nanti aku bangunin," kata Arsen sembari mengelus lembut kepala Asya.
"Nanti kalau aku tidur, temen ngobrolnya kamu siapa?"
"Gak ngobrol juga gapapa. Kamu tidur aja dari pada nanti ngantuk di kelas."
"Nggak deh. Aku temenin kamu ngobrol ajaa," ujar Asya sambil menggenggam tangan Arsen.
"Loh kenapa? Tidur aja gapapaa."
"Nggak-nggak, kita ngobrol aja. Tentang apa ya? Oh iya, tentang pesta bang Zap ajaa. Kemaren kak Aisyah cantik banget kan?"
"Iyaa lumayan. Aku jadi bayangin kalau kamu di posisinya kak Aisyah, pasti lebiihh cantik!"
__ADS_1
"Cantikan kak Aisyahh."
Arsen menatap Asya sekilas, "insecure?"
"Iya hehe. Kak Aisyah cantik banget, akhlaknya bagus, lemah lembut, gak kek aku."
Arsen diam sejenak. "Aku gak bakal larang kamu buat insecure si, karena setiap orang pasti punya rasa insecurenya masing-masing. Tapii menurut aku, dari pada kamu insecure lebih baik kamu berusaha untuk memperbaiki diri lagi."
"Sejujurnya mah, aku gak masalah gimana pun kamu. Because whatever is in u, I like it."
Asya tersenyum, ia mendekat ke arah Arsen dan mengecup pipinya tiba-tiba. "I love u!"
"Love u too, cantikkuu. Jangan sering-sering insecure, okay? Kamu tu wanita paling cantik di mata aku."
"He'em. Sebenernya tadi cuma nguji kamu," jawab Asya. "Ngeles bangett, sayaangg. Gak pandai akting kamu tuu."
Asya cengengesan.
"Bimbing aku jadi lebih baik yaa?"
"Pastii. Kita sama-sama belajar aja untuk jadi lebih baik. Okayy?" Asya menganggukkan kepala, Arsen pun tersenyum dan mengelus tangan Asya.
"Jadi, kapan kita nikah?"
"Hahahaha! Langsung bicarain nikah yaa?"
"Yaa kan biar enakk."
"Agak ambigu nih. Enak apa maksudnya?" tanya Asya. Bukannya menjawab, Arsen malah tertawa.
Tanpa terasa mereka berdua tiba di rumah Aska. Asya yang takut telat langsung berlari masuk ke dalam rumah.
"Assalamu'alaikum!!"
"Wa'alaikumsalam, anak dad— KENAPA LARI-LARI, NAKK?!" Asya tidak sempat menjawab.
Aska mengalihkan pandangan ke depan pintu, Arsen masuk dengan tergesa-gesa.
"Arsen! Kamu apain Asyaa?!"
"Hahh? Gak ada, omm."
"Terus itu tadi kenapaa?" Aska mendekat dan menarik kerah baju Arsen. "Kamu sakiti Asya?"
"Ng-nggak, omm."
"Yang bener. Jangan bohong!"
"B-bener, omm."
"Terus kenapa kamu gugup gitu?!!"
"Ya gimana gak gugup, kamu tarik kerah bajunya sambil natap emosi gitu. Kebiasaan banget langsung di gass," sahut Zia tetiba muncul.
"Mbok ya tanya dulu baik-baikk. Ini nggak, langsung su'udzon." Aska melepas tarikannya.
"Asya kenapa, Sen?" tanya Zia mencoba kalem. "Dia ada kelas, tante. Asya takut telatt," jawab Arsen agak gugup.
"Nahh, kann. Su'udzon mulu siii!" kata Zia kesal menatap Aska. "Namanya tekejutt. Lagian gak biasa banget Asya begitu, masa dia langsung lari gak nyapa daddy nya dulu."
"Kalau Asya lagi ada masalah gitu, pasti masuk nyelonong masuk. Ga pake salam."
"Iya-iyaa, aku salah dahh."
"Om minta maaf, Sen, tadi panik."
Arsen tersenyum, "gapapa kok, om. Wajarlah, om takut Asya kenapa-kenapa. Kalau Arsen jadi om malah langsung nonjok aja tadi."
"Hahaha. Emang cocok kamu jadi mantu om."
"Bacrit!" sahut Zia.
"Apasi, iri banget."
Arsen tertawa melihat mereka berdua.
"Mom mom moommmm. Asya pergii dulu, takut telatt." Asya turun dari tangga setelah mengganti baju dan membawa tas.
"Telat juga gapapa. Gak bakal ada yang mau marahin kamu, kalau ada nanti daddy potong kepalanya."
"Hehehe. Abis potong kepalanya, kita bagi dua daddy. Setelah itu kita masak sayur sop! Enak keknyaaa."
"Kenapa jadi begini pikirannya?! Kamu ajarin pasti!" tuduh Zia ke arah Aska. "Kan aku lagi yang kena."
"Dah dah dahh. Mommy daddy nanti dulu tengkarnya. Asya pamittt pergii, assalamu'alaikum!"
"Wa'alaikumsalam. Awas jatuh yaa!"
"Okayyy."
"Arsenn hati-hati bawa mobilnyaa!"
"Siappp om camerr." Arsen tersenyum sekilas lalu menyusul Asya.
Kini mereka berdua kembali berada di mobil. Dengan sedikit kepanikkan, Asya meminta Arsen cepat melajukan mobil.
"Kebut, yaangg!"
"Enak banget ngomongnya. Kalau jatuh gak jadi nikah kita," jawab Arsen.
"Kamu kan pembalap, ya ga bakal jatuh. Eh btw, nanti siap nganter aku, kamu kemana?"
"Kantorr keknya."
"Jangan genit!!"
"Gimana mo genitt coba, sekretaris ku aja berbatang, sayaang." Asya terkekeh.
Perbincangan dengan topik lain terus berlangsung, dan berhenti ketika mereka di tempat tujuan.
Sebelum keluar dari mobil, Asya iseng mengecup pipi Arsen. Tapi nyatanya tidak di pipi, karena ketika Asya hendak mencium Arsen menoleh ke arahnya.
"Wahh. Mulai genit yaa sekarang?" tanya Arsen menggoda.
"A-apaan sii? Udah ahh! Kamu nanti hati-hati, byeee~"
"Iyaaa. Nanti aku jemput ya," kata Arsen agak teriak.
"Okayyy."
"Semangattt! I love uuuu."
◕◕◕
Asya sudah pulang, saat ini ia sedang menunggu Alvin dan temannya yang lain di kafe depan kampus. Katanya mau nongki bareng.
"Eh, kalian tau ga si? Itu cewek jaraaangg banget masukk, tapi nilainya bagus terus."
Asya mencium bau-bau gosip di meja sebelah. Asya yakin seratus persen, mereka sedang menggosip tentang dirinya.
"Yaa bisa aja dia memang pintarr."
"Tapi gue gak yakin si. Bisa juga kann dia nyogok dosen? Oh iya gue baru ingat, bu Aisyah kan kakak iparnya."
"Sstt! Nanti dia dengar, lagian lu belum tentu tau kehidupan dia gimana."
"Tapi gue yakin seratus persen dehh pasti nyogok. Ehh, atau jangan-jangan dia simpenan dosenn makanya nilainya tinggi terus?"
Bruk!!
Seisi kafe langsung menoleh ke arah Asya.
"Wahh.. gue sabar banget dari tadi denger omongan lu yang gak berpendidikan itu."
"Jaga omongan lu!" tanya mahasiswi penggosip tadi.
"HARUSNYA GUE YANG BILANG GITU! Huh... lagian gue bener, mulut lu gak BERPENDIDIKAN! Udah mulutnya gak berpendidikan, pemikirannya dangkal pula."
Mereka terdiam.
Asya sendiri berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri meja mereka.
"Bukan mau sombong, tapi cuma mo kasih tau. Dari gue lahir juga gue udah pinter coy. Bahkan dalam kandungan gue udah pinter karena mak bapak gue pinter dan berpendidikan."
"Gue tebak deh, lu ngomong kek tadi pasti karena lu iri, lu masuk kelas tiap hari tapi nilainya burik. Yakan? HAHAHAHAHAHAHAHA!"
"B-bacot lu!"
"Yahh, pasti lu bingung mau jawab apalagi selain bacot," kata Asya sambil duduk di kursi depannya.
"Next time kalau gosip jangan di dekat gue gini, kan gue bisa denger. Oh yaa, luu.. lu yang bilang gue memang pinter sini nomor rekening lu biar gue transfer uang."
"Serius?" tanya-nya kaget.
Asya menganggukkan kepala dengan senyuman. "Kirim aja nomor rekeningnya dari instagram gue ya! Gue mo pergi dulu. Eneggg banget gue disini," Asya senyum sekali lagi lalu pergi dari kafe setelah membayar.
Di jalan, Asya bertemu dengan temannya.
"Kok balik jirrr?"
"Lu lamaa."
"Pasti lu ribut kan?" tanya Azril.
"Lah? Peramal?"
"Kerasa emosiinya. Ribut sama siapa?"
"Ntarr dahh gue cerita. Kita cari tempat aja dulu," ajak Asya. Mereka pun berjalan menuju rumah makan sebelah kafe.
"Btw, Arsen kemanaa? Kok belum jemput?" tanya Naina.
"Ntah niii. Gue chat belum di balas."
Drtt... drtt...
Tiba-tiba ponselnya Shaka berbunyi.
"Saha?" tanya Haikal.
"Unknown."
📞 "Halo. Assalamu'alaikum?"
^^^"Wa'alaikumsalam.^^^
^^^Dengan siapa, di mana?"^^^
📞 "....."
^^^"Iyaa benarr, saya temannya Arsen Shafwan.^^^
^^^Anda siapa ya?"^^^
📞 "......"
__ADS_1
^^^"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un."^^^