Barbar Generation

Barbar Generation
Horor movie


__ADS_3

Arsen kesiangan hari ini. Ia bangun tepat pukul setengah sembilan pagi. Arsen mengerjapkan matanya sejenak, menoleh ke kanan tapi tidak ada siapa-siapa disebelahnya.


Arsen menghela nafas. "Asyaaa," panggilnya dengan suara berat ciri khas orang bangun tidur. Perlahan mata Arsen juga kembali memejam.


Karena merasa tidak mendengar jawaban apapun dari istrinya, Arsen memaksa membuka mata. Kali ini matanya terbuka lebar, mencari Asya ke seluruh sudut kamar. "Sayangg."


Masih belum ada respon, Arsen bangun. Dirinya berjalan ke kamar mandi, tapi Asya tidak ada di sana. Arsen keluar kamar, mencari ke seluruh bagian apartemen, tapi tetap saja tidak melihat Asya.


Arsen sedikit panik. Ia bergegas keluar apartemen tanpa menyadari kalau dirinya hanya mengenakan boxer. Arsen turun ke lantai satu, tepat di pintu masuk Arsen baru melihat Asya.


Arsen berlari dan memeluknya. "Kemana aja sih kamu?!?" tanya Arsen kesal masih dipelukan Asya. Asya membeku, sedikit terkejut. "Lepas, Sen."


"Ogah."


"Kenapa deh kamuu? Kita lagi di luar kalau kamu lupa. Ini juga kenapa kamu gak pake bajuu?!" tanya Asya gantian marah. "Kok jadi kamu yang marah? Gak cukup yang kemaren nya—"


"Kita lagi di luar, banyak yang liatin kamu karena kamu gak pake baju. Ditambah lagi banyak tanda di lehermu. Ngobrolnya di apartemen aja ayo!" Asya pun menarik Arsen.


Setibanya di dalam apartemen, Asya meletakkan barang-barangnya di dapur kemudian kembali ke hadapan Arsen. Ketika dirinya hendak berbicara, Arsen malah mencium dan mengigit bibir Asya.


Asya mendorong Arsen cukup kuat dan berhasil melepas ciumannya. Arsen menatap Asya. "Kamu kemana tadi? Kenapa gak bilang kalau keluar? Kurang hukumannya semalam? Gak kapok berarti ya?"


"Denger penjelasan aku dulu baru ngomel. Aku cuma ke depan tadi, ke indoshop. Mau bilang ke kamu kan kamunya tidur, nunggu kamu bangun kita gak makan."


"Ya bisa aja bangunin aku kan?"


"Huh. Kamu kenapa jadi posesif banget gini sih? Masa aku gak boleh ini itu?!" Arsen diam, ia merenung sejenak. Menghela nafas panjang lalu langsung pergi ke kamar mandi tanpa sepatah katapun.


Asya paham, Arsen bukan kabur dari masalah tapi mengendalikan dirinya terlebih dahulu agar masalah selesai tanpa amarah.


Di satu sisi Asya yakin dirinya tidak salah, tapi di sisi lainnya Asya tau alasan Arsen posesif karena Arsen mengkhawatirkan dirinya, seperti yang Arsen katakan tadi malam.


Asya mendengus kesal, ia akan mengalah kali ini. Asya masuk ke kamar dan langsung menuju kamar mandi. Untungnya gak di kunci. Asya masuk, melihat Arsen sedang menghadap tembok sambil berdiri di bawah shower.


Fyi, Arsen masih mengenakan boxer.


Asya mendekat dan memeluknya dari belakang. "Aku tau kamu khawatir sama aku, sayang. Tapi jangan gini juga, aku susah gerak kalau kamu larang aku ini itu. Kamu tau sendiri aku bisa berantem, terus kata kamu aku dikelilingi bodyguard kan? Jadi kenapa harus overprotective kamunya?"


"Aku parno, takut," jawab Arsen pelan.


"Hadeh kamu tuh ya. Gak ada yang perlu ditakutin sayang, kamu tau kan aku anak siapa? Lagipula Steven bukan lawan kita, mana bisa senggol. Dan untuk sebelumnya, aku minta maaf karena gak izin dulu ke kamu tadi, aku janji kedepannya bakal pergi setelah dapat izin dari kamu."


"Janji gak boleh diingkari."


"Iya, sayangg." Asya melepas pelukan kemudian menarik Arsen agar berbalik. "Sekarang aku yang mau marah. Ngapain keluar kamar gak pake baju? Mau pamer abs?"


Arsen mengelus perut sambil cengengesan, "Aku lupa pake baju karena panik nyariin kamu."


"Kek gak bisa nelpon ajaa, heran banget. Besok kalau kamu keluar gak pake baju lagi, aku iket badan kamu pake isolasi!" Arsen tersenyum, ia mendekati Asya dan menarik pinggangnya agar mendekat. "Galak."


"Hadehh. Ini kenapa tarik akuu? Aku tu sebenarnya udah mandi, masa aku harus mandi lagi??"


"Yaa emang kenapa? Gak ada yang larang kamu mandi dua kali sehari ataupun lima kali sehari."


"Ngawur ya. Kita harus hemat, sayang."


"Kamu tu kek punya suami miskin aja. Kalaupun aku gak punya duit kan kamunya banyak," kata Arsen nyengir.


"Matre kamu dik?"


"Realistis sayang."


"Bisanya yang bilang gitu cewek, agak tebalik memang. Udah ah, kamu lanjut mandi ya, aku mau ganti baju aja. Ini mau masak lagi buat makan kita," kata Asya menjauh dari suaminya.


Arsen tersenyum. "Mau mas gantiin bajunya?"


"Meh tak tapok lambe mu?!" Arsen tertawa sembari menatap kepergian Asya. Setelah itu Arsen lanjut mandi dan mengenakan baju yang sudah Asya siapkan tadi sebelum ke dapur.


Di dapur, Asya sedang memotong bahan-bahan masakannya. Asya suka melakukan kegiatan diiringi musik favoritnya. Dan sekarang pun Asya melakukan hal yang sama.


"Ehm," Arsen tiba-tiba bersuara tepat di samping telinga Asya. Lagunya tadi sudah Arsen matikan. Asya mendengus kesal lagi. "Kamu tu gak usah ngagetin gak bisa, sayang?"


"Cuma ehem doang," jawab Arsen ngeles sambil memeluk Asya. Asya berhenti bekerja, baru mulutnya ingin mengomel Arsen bersuara duluan. "Kamu tau gak, kamu kalau lagi masak tu keliatan sexyy bangett."


"Apasii mesumm!"


"Heh. Enak aja ngatain aku mesumm. Aku sumpel nanti bibir kamu pake..." perkataan Arsen menggantung, Asya menoleh ke belakang. "Sumpel pake apa?"


"Bibir aku."


"Tuhkan, emang mesumm banget kamu. Menjauh sanaaa. Huss, minggat!!" Bukannya menjauh Arsen malah gemas dengan istrinya lalu mengecup pipinya berulang-ulang. Hal terfavoritnya. "Aaaaa, Aceeennn!"


"Hngg... Lucunya istrikuuu."


"Kalau kamu gini terus, aku gak siap-siap. Terus kita gak makan-makan, nanti endingnya malah beli di luar," dumel Asya melepas pelukan Arsen. "Gak masalah, ayo makan di luar aja."


"Gak! Gak mauu! Apaan boros bangett. Kamu gak suka masakan aku kah makanya ajak makan ke luar terus?!" Arsen tertawa lalu mengecup sekilas bibir Asya. "Ngga gitu, sayang. Aku suka banget masakan kamu, tapi aku kan gak mau kamu capee."


"Helehh, prett. Dulu paling hemat kamu, sekarang paling boros. Kacau banget emang pria satu ini," kata Asya mengomel sembari kembali melanjutkan kerjaannya.

__ADS_1


Arsen diam di belakang sambil tersenyum. Istrinya kalau sedang bawel terlihat menggemaskan di mata Arsen. Tidak, tidak. Semua hal yang Asya lakukan terlihat menggemaskan di matanya. Bucin banget emang manusia satu itu.


"Aku tu mau jadiin kamu ratu, sayang," bisik Arsen kembali memeluk. Asya tetap bergerak walaupun sedikit repot. "Kan udah, i'm your queen. Right?"


"Iya, tapi mana ada ratu ngerjain semuanya sendiri. Ratu mah tinggal terima bersih, terima jadii. Gak perlu susah-susah."


"Nggak, nggak. Aku ini ratu, and you're the king. Valid no debat!" jawab Asya tak terbantah. Arsen manyun, walaupun tidak dilihat Asya. "Kenapa gak mau pake pembantu sih, sayang?"


"Bukan mau su'udzon, tapi aku jaga-jaga aja. Kita gak pernah tau kan gimana sifat orang, apalagi bukan orang yang kita kenal betul. Kalau misalnya dia suka sama kamu terus pelet kamu lewat makanan gimana? Dahla, ilang suami aku."


"Oiya, pinter juga istriku. Tapi sebenernya, pelet apapun gak bakal nyantol sama aku, pelet mu lebih kuat soalnya. Pake pelet apa, sayang?"


"Pelet udangg." Arsen terkekeh mendengar jawaban asal-asalannya Asya. Ia mengecup pelipis Asya, "Yaa udah, terserah kamu maunya gimana deh sayang, kalau udah capek bilang aku."


"Cari pembantu?"


"Cari istri baru, biar kamu ada temennya." Asya melepas pelukan Arsen lagi lalu mendorongnya. "Aku tendang burungmu ya?"


"Gak boleh gitulah, nanti yang bikin kamu teriak keenakan kek tadi malem siapa? Ahh, mana teriakannya sexyy banget. Pengen ngulang, ayo ulang lagi."


"Kata aku mending kamu MINGGAT SEKARANG SEBELUM AKU TUSUK PAKE PISOO BIBIRMUU!?" Arsen tertawa lagi.


"Galak amat kamuu, jadi makin sayang."


"Agak laen emang cowok satu ini."


...****◕◕◕****...


"Sayang, aku pengen nonton deh," kata Asya tiba-tiba sambil melihat Arsen yang sedang berkutik dengan laptopnya di meja kerja. Arsen menoleh sekilas lalu kembali bekerja, "Nonton apa? Nonton drama Korea kamu tu kan juga tinggal nonton."


"Nonton bioskop maksud akuu. Aku pengen nonton film horor, kayaknya seru dehh. Soalnya kemarin kan, temen kuliah aku itu cerita-cerita ada film horor baru yang enakk di bioskop."


"Jadi? Mau nonton sekarang?" Asya duduk dan mengangguk antusias. "Mau banget, ayoo. Aku bayarinnn!"


"Gak perlu kamu yang bayarin, aku masih mampu. Mau sekalian beli se-mallnya juga bisa," kata Arsen sombong masih berkutik dengan laptopnya. "Sip sipaling kayaaa, jadi sombong yaaa."


"Maaf ya Allah, cuma bercanda ya Allah..." Asya malah tertawa melihat Arsen barusan.


"Udah siap-siap sana kamunya, setelah itu kita berangkat." Asya tersenyum senang, ia bergerak mencari baju di lemari. Setelah memilih salah satu bajunya, Asya menoleh Arsen.


"Kamu gak mau keluar?"


"Keluar? Ngapain?"


"Aku malu tau, mau ganti baju."


"Ishh, ssstt! Aku tetap maluu laaaa." Arsen mengalihkan pandangan kali ini, menatap Asya. "Aku liatin aja terus kalau gitu, biar gak malu lagi."


"Gak gitu dong. Yaudah gak usah keluar, tapi kamu jangan liat aku yaa?" Arsen berdehem dan berpaling kembali. Ia menyimpan data dan menutup laptopnya.


Setelah itu tanpa aba-aba Arsen menatap istrinya yang sedang kesulitan membuka baju pendeknya. Arsen mendekat dan membantu membukakan. "Aku suruh jangan liatt, malah deket-dekett!" dumel Asya.


"I don't caree."


"Y!"


"Gak usah natapin aku terus, Arsen."


"Mubadzir kalau gak diliat."


"Halah. Kamu gak ganti baju? Ganti aja ya, aku cariin yang agak mirip sama bajuku biar kea couplee gitu kitaaa." Asya langsung mencarinya, setelah ketemu diberikan pada Arsen. Arsen memakai tanpa protes.


Kini Arsen melihat istrinya di meja rias, memakai bedak dan make up natural. "Ahh, shitt. Istri gue cakep bangett anjritttt! MasyaAllah, alhamdulillah. Ini gue abis ngapain ya bisa dapet bini secakep inii?!"


"Ahahahaa, lebay!! Lagipula, istrinya Arsen tu emang selalu cantik, yakan?"


"Of course, babee. Kamu udah siapkan? Let's goo!" Asya berdiri dengan senyuman, kemudian menggandeng tangan Arsen dan pergi meninggalkan apartemen.


"Tadi kamu ngurusin kerjaan?" tanya Asya di dalam mobil. Arsen mengangguk sekilas, "Makin susah aku bagi tugas antara kerja atau kuliah. Tapi gak masalah sih, aku masih bisa handle. Yang penting ada kamu ajaa."


"Kumatt deh kumat."


"Seriuss. Btw, kemarin abis ngapain ajaa sampe pulang jam segitu?" Asya manyun, "Kenapa dibahas lagi? Nanti marah kamunya."


"Nggak. Ngapain ajaa? Siapa aja?"


"Ikut party hehee, ya ramee kokk. Banyaakkk orang."


"Party? Ada amer? Minum kamu?" Asya auto menggeleng cepat, "Gak berani lahh. Keknya kalau aku emang mabuk hukumannya bakal lebih parah kann?"


"Minimal gak bisa jalan sih."


"Ampun. Gak lagi. Janji gak lagi."


"Makanya gak usah bandel ya, sayang. Kamu itu tanggung jawab ku sekarang. Segala yang kamu butuhin bisa minta ke aku, kalau mau izin juga harus selalu bilang aku. Aku ini suamimu. Pahamkan?"


"Yes, sirr."


"Good girl. I love you, babee."

__ADS_1


"I love you more, sayang."


Beberapa menit setelahnya, mereka berdua tiba di mall. Usai parkir mobil, keduanya jalan bergandengan masuk ke mall dan langsung menuju bioskop. Di tengah menunggu, Asya melihat ke sekeliling mall.


"Sayang, itu bagus deh kayanyaa," kata Asya sambil menunjuk baju tidur. "Piyama? Untuk apa?"


"Aneh kamu. Ya untuk dipake tidurlahh, apalagi??"


"Kan biasanya gak pake baju. Beli linger*e aja gimana sayang?" Asya menggeleng cepat, "Bisa mampuss aku kena santapan kamu setiap menit." Arsen tertawa.


"Kamu mau piyama, kan? Ayok kita beli," tawar Arsen. Asya menerima uluran tangan Arsen, mereka berdua pun pergi ke salah satu toko. Tapi tiba-tiba tepat di depan toko, Asya berhenti. "Gak jadi deh, keknya enakan tidur gak pake baju sambil peluk kamu."


"Ck, mancing mania mantap."


Asya nyengir. "Beli es krim aja gimana, sayang?" tawarnya merubah topik. "Tidak, nanti kamu fluu."


"Yaudahh, gak jadi beli apa-apa deh. Ayo kita nonton ajaaaa," kata Asya sedikit merajuk. "Minta yang lain, nanti aku kabulin."


"Aku mikir dulu mau apa, nanti kalau udah tau harus dikabulkan yaa!?" Arsen menyipitkan mata lalu tersenyum merayu, "Mau apa, sayang?"


"Pengen liat kamu nonton bioskopnya sambil kayang."


"LAHH?! Ngadi-ngadi ni bocah."


"Nggaklahh. Hukuman gantian, karena gak mau beliin aku es krim! Kalau gak mau kayang nanti aku ngambek sebulan!" Arsen tertawa kecil melihat ekspresi Asya. "Yaudah, beli es krimnya aja. Tapi abis nonton bioskop, deal?"


"DEAL!! Oke, let's go to watching movie."


"Dasar bocil."


...◕◕◕...


Keduanya sedang menikmati ice cream di mobil karena tokonya ramai. Mereka parkir tepat di parkiran toko ice cream. Asya yang masih menikmati ice cream mencoba melihat sekeliling.


"Ih? Aaaaa!!!!" Asya langsung berpindah ke samping, memeluk erat Arsen yang sedang diam karena kebingungan. "Kamu ngapain, sayang??"


"Aku takutt.. itu ada rambutt di bawah situuu... " Arsen menggelengkan kepalanya. Asya jadi sedikit parnoan perkara nonton film horor tadi. "Pegang es aku, biar aku liat dulu."


"Gak mau, aku gak mau turun!"


"Gak ada yang suruh kamu turun. Pegangin es krimnya terus peluk aku." Asya menurut, ia memegang es krim sambil mengalungkan tangannya di leher Arsen.


Arsen menghidupkan flashlight lalu melihat ke bawah. Tidak ada rambut sama sekali, tapi terlihat sesuatu yang gerak-gerak. Arsen berusaha mendekat untuk melihat dengan jelas apa yang bersembunyi.


Arsen pun mengambil ponsel dan menyorotnya. Ternyata seekor tikus berwarna hitam. "Itu cuma tikus, sayang. Tapi kok ada tikus di mobil yaa??"


"Hmm, apakah dia menyelinap?"


"Aku juga tidak tahu, sayang."


"Kenapa jadi formal yaa?" Arsen malah cengengesan. Ia mengangkat Asya untuk bergeser agar bisa mengeluarkan tikusnya, tapi Asya sendiri enggan bergeser. "Sayang?"


"Gak mau pindah."


"Bentar aja, bentar." Asya menggeleng sambil tetap di posisinya. Arsen menghela nafas, ia mencari cara agar bisa mengusir tikus itu.


Oke, sekarang Arsen dapat ide. "Pegangan yang kuat," titah Arsen. Asya mengeratkan pegangannya, Arsen pun membuka pintu dan berputar ke pintu sebelah. "Kampret, malukk diliatin!"


"Siapa suruh dak mau turun?" Arsen membuka pintu di sisi satunya, lalu mengeluarkan tikus itu. Setelahnya ia kembali ke kursi pengemudi dengan tetap menggendong Asya. "Dah siap, mana es krim aku sayang?"


"Iniii." Asya beranjak pindah, tapi sekarang Arsen yang nahan. "Heh?"


"Udah pw, gini aja dulu sampe pulang."


"Ngadi-ngadi. Nanti bangun aku yang disalahin," dumel Asya lanjut makan ice cream. "Lah ya memang kamu yang salah, ini aja udah bangun."


"Baperan huuu." Candaan mereka terhenti karena panggilan masuk dari ponsel Arsen. Singkatnya, ada suatu data yang perlu Arsen cek ke kantor atas suruhan papanya.


"Kamu pulang aja ya? Aku anterin pulang."


"Dih? Ngadi-ngadi. Gak berani aku sendirian," keluh Asya dengan muka was-was. "Takut apa?? Kamu rajin sholat kok, yang ada setan takut sama kamu."


"Heleh, pokoknya aku gak mau ditinggal."


"Jadi mau ikut?"


"Iyalah."


"Tu lah kannn, sok-sokan nonton horor jadi penakut banget kek gini kan? Cemen banget emang," ledek Arsen mulai mengendarai mobil. Ia sudah selesai dengan ice creamnya.


"Tapikan seru."


"Seru, seru apaan. Eh apa sebenernya ini cuma modusnya kamu aja, sayang, biar bisa nempel sama aku terus?"


"Hadeehhh. Aku tau percaya diri itu bagus, tapi kamu kepedeeaaaannn! Ih untung suamiku, atau jangan-jangan bukan suamiku?"


"Iya bukan, aku hantu. Hihihihiihiiii."


"Arsenn! Ah gak lucuuu."

__ADS_1


__ADS_2